Let Me Capture! (Chapter 2)

Author : Queeney (@HyukiYeobo)

Title : Let Me Capture!

Cast :

Baekhyun, Kris, Luhan, Lay

Park Hyun Jae (OC), Shin Hyeon Mi (OC), Cho Eun Ki (OC), Kim Ae Yoon (OC)

Other EXO & SJ members

Genre : Romance, Friendship

Length : Chapter

Disclaimer : Judul, cerita, diksi, alur, dan penokohan adalah hasil imajinasi saya! juga tambahan sedikit ide dan inspirasi dari salah-dua komikus favorite saya, Maki Minami dan Hiro Fujiwara.

A/N : ^^annyeong yorobeun! Info sedikit nih, bagi kamu yang seneng nulis dan ingin menjadi author tetap di WP khusus ff exo, untuk saat ini http://exofanfict.wordpress.com buka lowongan bagi siapa saja yang berminat, karena WP tersebut masih sangat baru. So, yang ingin mendaftar langsung cek kesana aja ya J gomapta!

Do not copy-paste without my permission! Thanks and enjoyed~^^

Chapter 2 © Queeney

 let me capture

Suara detak jam dinding di ruangan berukuran 4×5 meter itu terdengar memantul diseluruh dinding, menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan yang hanya ada 2 orang di dalamnya tersebut. Sebenarnya suasana yang cukup mencekam ini terjadi bukan karena tanpa alasan. Cho Eunki, yeoja dengan rambut panjang yang lurus dan hitam legam, adalah salah satu alasan utama yang menyebabkan suasana tidak enak ini. Wajahnya terlihat cemberut, menampakan kekesalan yang sangat jelas dengan apapun keputusan yang baru saja di dapat dalam ruang rapat yang kedap suara tersebut.

“Eunki-ah, kau jangan berwajah seperti itu, semua ini adalah kesempatan bagus untukmu bukan?” ujar seorang namja yang berada tepat dihadapan Eunki. Namja itu memiliki paras yang tampan dan pembawaan yang meski terlihat sedikit kaku, tetapi tampak berkarisma. “Kesempatan bagus untuk tulisanku, ya, tapi tidak untuk diriku oppa! Kau  ini gila atau apa? Kenapa bisa memberikan naskahku begitu saja pada Shindong appa tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” protes Eunki menanggapi ucapan kakak laki-lakinya itu. “Kalau aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah maju Eunki-ah! Kau sangat berbakat, dan aku tahu itu! ini kesempatan yang sangat bagus untuk memantapkan jalan karirmu di masa depan” namja berambut cokelat gelap itu berucap lagi, berusaha meyakinkan dongsaengnya yang kurang percaya diri itu. Eunki menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tahu apa tujuan Kyuhyun, oppanya, melakukan hal ini. Tapi, konsekuensi yang diberikan Shindong, appa angkatnya, saat pembicaraan serius mereka tadi sungguh meruntuhkan semangatnya.

[Flashback]

“Jadi, appa akan menjelaskan kenapa judul dari naskah yang aku buat kebetulan sekali sama dengan drama terbaru yang akan appa garap?” Eunki memulai percakapan yang hanya terdiri dari 3 orang itu, Ia, Kyuhyun dan Shindong.

Shindong tampak menautkan jari-jarinya satu sama lain tepat di depan wajahnya. Pandangan namja itu mengarah pada satu-satunya putri angkatnya yang sudah Ia anggap sebagai putri kandungnya tersebut. “Berniat memberitahu appa kenapa kau menyembunyikan bakat menulismu itu?” tanpa diduga Shindong balik bertanya pada Eunki, tidak menjawab terlebih dahulu pertanyaan darinya.

Eunki gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu dari appanya yang adalah seorang produser terkenal, sekaligus menjabat GM di rumah produksi ternama, SJ Entertainment. “Itu… aku… a… appa belum menjawab pertanyaanku” ucap Eunki akhirnya, memberanikan diri membalas tatapan appanya, alih-alih menunduk diam. “Baiklah, appa akan menjelaskannya, tetapi kau juga berhutang penjelasan pada appa setelahnya Eunki-ah” tanggap Shindong memulai. Eunki bergeser sedikit di bangkunya, gelisah dan mulai mencoba merangkai kata-kata penjelasan dalam kepalanya.

“Nah, judul drama yang akan appa produseri itu bukan kebetulan sama dengan naskahmu, tetapi memang diambil dari judul asli naskah penulisnya yang akan menandatangani kontrak sebagai penulis naskah drama ini, dan itu kau, Eunki-ah. Tidak, jangan membantah dulu! Dengarkan ucapan appa sampai selesai baru kau boleh mengucapkan sesuatu” ujar Shindong memutuskan sebentar penjelasannya saat Eunki hendak menanggapi. “Berterimakasihlah pada oppamu ini yang sudah memperlihatkan kepada appa naskah yang kau buat. Waktu appa membacanya, appa langsung yakin bahwa jika naskah itu direalisasikan dalam sebuah drama asli, pasti akan menjadi karya yang hebat. Maka dari itu, appa memutuskan untuk melakukannya, memberikan kesempatan yang sering appa berikan pada penulis naskah berbakat diluar sana, untuk putri appa sendiri. Melihat tulisanmu yang terstruktur dan mengalir, appa bisa menebak bahwa kau melakukannya dengan instingmu bukan? Kau melakukannya karena menyenangi pekerjaan itu. jadi, appa pikir kenapa tidak? Appa harus minta maaf padamu, tentu, karena sudah memperlihatkan naskahmu pada seluruh pejabat SJ Entertainment tanpa meminta persetujuan darimu terlebih dahulu, dan juga appa telah melakukan konfrensi pers dan promosi. Untuk itu semua appa benar-benar minta maaf Eunki-ah, tapi kau tahu sendiri bukan, appa tidak akan melakukan hal ini jika itu merugikanmu dear… nah, sekarang tinggal kau yang harus menjelaskan kenapa kau tidak terbuka pada appa masalah ini? begitupun pada Kyuhyun yang jelas-jelas selama ini selalu mendukung apapun yang ingin kau lakukan” Shindong mengakhiri ucapannya seraya melepaskan tautan jarinya dan kini ganti melipat tangannya di depan dada, tampak menunggu tanggapan dan penjelasan dari Eunki. Ia memandang yeoja itu dengan pandangan kebapakan yang kentara, sehingga membuat rasa gugup Eunki berkurang.

“Hmm… itu… aku… sebenarnya dari dulu aku sudah tertarik dengan dunia menulis. Yah, naskah yang appa baca itu, aku buat berdasarkan pengalamanku dan orang-orang disekitarku, mungkin… karena itu jadi terlihat sedikit menarik…” ucapan Eunki terhenti karena Kyuhyun tiba-tiba menanggapi, “bukan sedikit, tapi sangat!” ucapnya.

Eunki mengangguk perlahan, tidak berniat mendebat meski Ia merasa ucapan Kyuhyun berlebihan. “Aku tidak berani memberitahu appa dan kyuhyun oppa karena aku takut kalian tidak menyukai tulisanku. Aku takut appa yang mempunyai mata yang sangat jeli dan selera yang tinggi, menganggap tulisanku seperti tulisan anak SMU lainnya yang masih labil. Aku takut dengan pendapat appa, karena apapun itu, pasti akan mempengaruhi kesenanganku dalam menulis. Maafkan aku appa, kyuhyun oppa, karena aku tidak cukup berani untuk meminta masukan dari kalian berdua” ujar Eunki akhirnya. Ia menunduk dalam-dalam, memperhatikan kuku-kuku jarinya dengan gelisah.

Shindong dan Kyuhyun menghela nafas perlahan, kemudian tersenyum penuh arti. “Yah, kalau begitu ketakutanmu tidak terjadi ‘kan? Appa sangat menyukai tulisanmu dear, dan appa harap kau tetap mengasah kemampuan itu. Nah, sekarang setelah semua jelas, berarti appa bisa segera mendapatkan tanda-tanganmu di kontrak kerja?” Eunki mengangkat kepalanya seketika saat Shindong menyelesaikan ucapannya yang menurut Eunki sangat sangat berharga untuknya itu. Ia tersenyum lebar, membalas cengiran Kyuhyun sebentar sebelum kembali lagi menatap Shindong.

“Tapi dear, ada satu syarat untuk hal ini” lanjut Shindong lagi. Senyuman Eunki hilang seketika, Ia takut syarat yang diajukan Shindong tidak  bisa Ia penuhi. “Jangan cemas, syaratnya tidak sulit Eunki-ah. Dari naskahmu itu, aku bisa menebak dengan pasti bahwa ada satu karakter tokoh yang benar-benar kau tulis dengan memandang ke dalam dirimu sendiri bukan? Nah, syaratnya, kau akan ikut andil dalam drama itu dan memerankan dirimu sendiri, konsekuensi yang cukup adil bukan?” Shindong terkekeh pelan, sementara Eunki tiba-tiba berubah seperti patung, tubuhnya kaku dan matanya terbelalak tidak percaya pada apa yang Shindong ajukan sebagai syarat. Tidak mungkin Ia akan bermain dalam sebuah drama! Ia phobia kamera! Apa yang sebenarnya dipirkan oleh appanya tersebut?.

[Flashback End]

Oppa… bagaimana mungkin aku berakting di depan kamera sementara kakiku terus bergetar dan tanganku berkeringat saat dihadapkan dengan benda itu?” Eunki menghempaskan punggungnya dengan keras ke sandaran kursi. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutnya frustasi sementara kakinya mengehentak-hentak keras lantai marmer ruang rapat kantor utama SJ Entertainment itu. Kyuhyun menatap prihatin satu-satunya keluarga kandungnya itu, “Kau hanya butuh latihan Eunki-ah, itu saja… jangan sampai hal ini merusak kesempatan pertamamu untuk menjadi salah satu penulis naskah drama termuda” ucap Kyuhyun berusaha memberi semangat.

Eunki mengarahkan kepalanya yang tetap berada pada senderan kursi tersebut ke arah Kyuhyun, menatapnya kemudian kembali mendesah pelan, “Yah… dan kesalahan aku pribadi kenapa bersedia menandatangi kontrak sialan itu tadi. Astaga! aku tidak tahu kalau appa ternyata selicik itu. ck, aku merasa tertipu” ucapnya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kyuhyun hanya terkekeh pelan sebelum berucap, “Aku rasa kau harus kembali ke sekolah sekarang dear, sebelum kau terlambat jam pelajaran kedua, atau malah jam istirahat pertama. Dan satu lagi, ‘kan ada Baekhyun yang juga akan ambil andil dalam drama ini, jadi kau bisa minta bantuannya untuk mengatasi phobia kameramu itu dongsaengku yang cantik” Kyuhyun mencubit pelan hidung Eunki, kemudian beranjak lebih dahulu meninggalkan ruangan tersebut, menuju ruangannya yang terletak satu tingkat di atas mereka.

——-ooo——-

Baekhyun tidak sepenuhnya memperhatikan guru bahasa Inggris yang tengah berkoar-koar di hadapannya, malah sebenarnya Ia tidak memperhatikan sama sekali pelajaran tersebut. Kepalanya bertopang dagu dan mengarah keluar jendela, pandangannya menerawang menelusuri lapangan sekolah yang luas yang terletak persis di depan kelasnya. Cukup lama Ia berada dalam posisi tersebut sampai sesuatu mengusiknya, Ia melihat seorang yeoja yang memakai seragam berwarna sama dengan miliknya, melangkah gontai melewati lapangan yang sepi. Jika Baekhyun tidak salah tebak, tampaknya baru saja terjadi sesuatu pada sepupunya itu. Baekhyun merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan iphone-nya dan segera mengetikan sebuah pesan singkat dan menekan tombol ‘send’.

Eunki merasakan getaran hebat dari saku roknya. Segera Ia merogohnya dan mengeluarkan handphonenya yang layarnya sekarang tengah berkelap-kelip menandakan ada sebuah pesan masuk. “Waegeure? Something  wrong?” pesan itu berbunyi. Segaris senyum tipis muncul di wajah Eunki, itu adalah pesan dari sepupu yang paling dekat dengannya, Baekhyun. Eunki mengetik balasan pesan tersebut dengan cepat seraya memutar jalannya ke sisi kanan, bukannya ke sisi kiri yang mengarah ke kelasnya.

Sementara Eunki terus berjalan sembari tersenyum kecil, Baekhyun segera membuka pesan yang diterima handphonenya saat getar pertama dirasakan tangannya yang masih memegang benda tersebut. “Wanna join me? I need someone…”  Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung saat membaca balasan pesan tersebut.

Baekhyun dan Eunki sangat dekat sekali, layaknya anak kembar yang tidak pernah berpisah. Mereka berdua selalu masuk ke sekolah yang sama, bahkan tak jarang berada di satu kelas yang sama pula. Seperti tahun ini, saat masuk Kirin Art Senior High School dan menjalani tes, mereka berdua di tempatkan pada kelas S.A. Mengamati sms dari Eunki, Baekhyun tahu kalau Ia harus segera ke tempat yeoja itu, dan tentu saja Ia tahu harus mencarinya dimana. Baekhyun berdiri dari bangkunya setelah memasukan kembali handphone-nya ke dalam saku celananya. Ia menyampirkan tas sandangnya ke pundak, Ia tidak mau bolak-balik untuk kembali ke kelas hanya untuk mengambil tas karena sebentar lagi bel istirahat pertama akan berbunyi, yang berarti saatnya Ia pindah kelas.

“Rrr… mam! I’m very sorry to interrupt you, but there is something wrong with Eunki and she ask me to come. Can I skip the class?” ujar Baekhyun menjelaskan pada guru bahasa Inggrisnya tersebut. Sesaat mendapat anggukan setuju, Baekhyun segera menunduk memberi hormat kemudian berjalan meinggalkan kelas dengan senyum puas.

Well done my dear... kau membuatku meninggalkan jam pelajaran hanya karena mencemaskan wajah lesumu itu” Eunki mengalihkan pandangannya ke arah belakang saat mendapati suara Baekhyun menghampiri pendengarannnya. Ia terkekeh, kemudian tampak menepuk pelan bangku taman di sebelahnya. Baekhyun berjalan menghampiri Eunki lebih dekat kemudian duduk persis disampingnya.

“Jadi… ada apa?” tanya Baekhyun segera, memerhatikan perubahan mimik Eunki dengan seksama. Eunki menghela nafas perlahan, “Gomawo sudah datang Mr.Byun, aku terharu” ucapnya mencoba mencairkan sedikit moodnya. Baekhyun tertawa kecil, Ia sadar betul bahwa ada hal yang sedang mengganggu sepupunya tersebut. “Ini mengenai drama yang akan kau bintangi itu” ujar Eunki memulai, Baekhyun mengangguk kecil, mendorong yeoja itu melanjutkan ucapannya. “Appa memintaku untuk ikut mengambil peran” jelas Eunki yang seketika membuat mata Baekhyun membulat, “Lalu kau terima? Tapi bukannya kau…” Baekhyun tidak menyelesaikan ucapannya, melainkan membuat gerakan aneh membentuk sebuah kamera kemudian menggetarkan tangannya setelahnya. Eunki tertawa kecil melihat tingkah Baekhyun yang menurutnya konyol itu. tampaknya Baekhyun tidak bisa menyelesaikan ucapannya, karena namja itu sedikit syok.

Mengenal Eunki -yang notabane adalah anak dari adik ibunya- sedari kecil membuat Baekhyun tahu dengan pasti apa yang disukai yeoja itu dan apa yang tidak disukainya. Termasuk phobia Eunki pada kamera. Sangat tidak mungkin jika Eunki disuruh berperan di depan kamera, sedangkan yeoja itu tanpa aba-aba akan langsung berkeringat dingin dan gemetar jika dihadapkan dengan benda tersebut. Sesimpel itu saja Ia tidak bisa, bagaimana mungkin Ia akan berakting? Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, seketika saja merasa pusing.

“Aku terpaksa menerimannya Baekhyun-ah, appa menggunakan sesuatu yang, yah… berpengaruh besar padaku sehingga aku menandatangani kontrak bermain di drama itu” jelas Eunki lagi tanpa mengungkit masalah naskah drama yang sebenarnya adalah buatan dirinya. Belum ada satupun yang mengetahui hal ini selain appa dan oppanya, bahkan tidak pula pihak SJ Entertainment, karena Eunki memakai nama-pena nya ketika menuliskan keterangan di kolom penulis naskah. Sebenarnya Ia merasa tidak enak pada Baekhyun karena menghindari menceritakan bagian ini, tapi ntah kenapa Ia merasa belum saatnya Ia memberitahu Baekhyun bahwa Ia lah orang dibalik layar yang akan berpengaruh besar dalam suksesnya drama tersebut.

“Kenapa kau langsung menandatanganinya begitu? kau sadar ‘kan bahwa kau akan kesulitan melakukannya? Memangnya apa yang telah dilakukan Shindong seongsanim?” tanya Baekhyun. Ia tidak terbiasa memanggil Shindong yang memang sudah dikenalnya sejak berusia 10 tahun itu dengan sebutan ajjushi, karena Shindong lebih sering berkorespondensi dengannya dalam hubungan kerja, alih-alih paman dengan keponakan walaupun bukan saudara kandung. “Masalah itu, aku tidak bisa menjelaskannya padamu, tapi bukan karena aku tidak mau! Hanya saja…” ucapan Eunki terputus, Ia tidak menemukan kata yang cocok untuk menguatkan alasanya. Kening Baekhyun mengernyit, “Pribadi?” ujar Baekhyun menebak. Eunki segera menganggukkan kepalanya, menerima bantuan dari persepsi Baekhyun tersebut, “Ne~ sedikit pribadi” lanjutnya menambahkan.

Geure… lalu bagaimana? Apa phobia-mu pada kamera sudah ada kemajuan? Kau sudah berlatih?” Baekhyun mengalihkan sedikit pembicaraan walaupun masih seputar masalah yang mereka bahas, tetapi setidaknya Eunki lega karena tidak harus berbohong lebih lanjut pada Baekhyun. “Itu dia masalahnya, phobia-ku pada benda itu benar-benar parah! Aku tidak bisa berlatih sendiri Baekhyun-ah… kau mau kan membantuku mengatasinya?” ucap Eunki menatap Baekhyun dengan pandangan memohon. Inilah tujuannya kenapa Ia memanggil namja itu kemari.

Bunyi bel istirahat pertama terdengar di seluruh areal sekolah, termasuk taman tempat Baekhyun dan Eunki berada. Keduanya, menoleh sekilas ke belakang dan melihat murid-murid yang mulai keluar dari kelas dan memadati koridor. “Jadi, bagaimana? Kau mau ‘kan membantuku? Jebal…” cetus Eunki lagi setelah keduanya kembali menatap satu sama lain. Eunki menggabungkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya dan tersenyum kecut. Baekhyun menghela nafas dibuatnya, tangannya terangkat dan perlahan mengacak rambut belakangnya gusar, “Oke, aku akan bantu…” ucapnya akhirnya. Eunki terpekik senang, “KYAA! Gomawo… gomawo… gomawo… Byunbaek! Nan cheonmal gomawo!” ujarnya sembari mengepalkan tangannya di udara, membuat Baekhyun terkekeh.

“Ayo ke kelas, kita taruh tas kita dulu sebelum ke kafe” Baekhyun berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Eunki. Mereka berjalan bersisian menuju sisi lain gedung belajar, lebih tepatnya menuju sebuah gedung yang sama sekali berbeda dengan gedung yang mereka tempati sekarang. Kelas S.A mempunyai gedung sendiri karena orang lain diluar S.A tidak berbagi kelas alau peralatan yang sama dengan mereka kecuali kafe super besar yang memang hanya ada satu di sekolah tersebut.

——-ooo——-

“Hari ini sudah masuk minggu ke-2 kita menjadi murid Kirin, tapi kenapa yeoja bernama Kim Aeyoon itu belum juga masuk ya?” Hyeonmi berbicara pada Hyunjae sambil tubuhnya menghadap yeoja itu. Hyunjae mengangkat bahu dan tangannya bersamaan, “Ntah lah, aku juga tidak tahu. Tapi omong-omong, bukankah seharusnya kita menjenguknya? Kalau memang dia sakit, aku rasa dia dalam keadaan yang cukup parah” ujarnya diikuti anggukan Hyeonmi.

Mereka berdua saat ini sudah berada di dalam kelas berlabel “A” yang berarti Attitude, salah satu ruang belajar mereka di gedung S.A yang digunakan saat mereka belajar gabungan. Murid tingkat pertama, seperti Hyunjae, Hyeonmi, Baekhyun, Eunki, Lay, dan Aeyoon –yang sampai saat ini belum juga menghadiri kelas- akan belajar bersama dalam satu kelas dengan murid tingkat kedua, Kris dan Luhan.

“Hei! Sedang bicara apa?” celetuk seseorang tiba-tiba ditengah percakapan Hyunjae dan Hyeonmi. Keduanya beralih menatap kearah pintu dan mendapati Luhan, seorang murid pertukaran pelajar –yang anehnya adalah anak kandung dari kepala sekolah Kirin Art- dari Beijing yang baru saja bergabung di kelas mereka minggu lalu. Hyunjae dan Hyeonmi tersenyum seketika, mereka berdua sudah menetapkan bahwa Luhan adalah namja dengan pribadi yang menyenangkan. “Kami sedang membicarakan tentang Kim Aeyoon, teman sekelas kita yang belum juga menampakkan batang hidungnya itu” Hyunjae menjelaskan, sementara Hyeonmi hanya mengangguk kecil, tampak cool sebagaimana orang-orang mengenalnya.

“Ah, mengenai itu aku dan Hangeng seongsanim juga baru saja membahasnya” ucap Luhan yang membuat kedua yeoja dihadapannya itu melihatnya dengan wajah tertarik. “Benarkah? Membahas apa Luhan-ssi? Tapi sebelumnya, kalau kami tidak salah, bukankah Hangeng seongsanim itu adalah appamu?” tanya Hyunjae heran dan sekilas bertukar pandang dengan Hyeonmi yang duduk persis dihadapannya. Luhan tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Bukan berarti aku harus memanggilnya dengan sebutan appa disekolah ‘kan?” tanggapnya ringan membuat Hyunjae dan Hyeonmi kembali tersenyum.

“Jadi, apa hasil pembahasannya?” tanya Hyeonmi penasaran meski tidak terlihat pada mimik wajahnya. Luhan mendeham pelan dengan lagak sok penting. Hyunjae terkekeh geli dibuatnya, Ia makin lama semakin merasa dekat dengan namja menyenangkan di depannya itu. “Kita akan berkunjung ke rumahnya hari rabu” jelas Luhan dengan senyum terbaiknya. “Jinja?” tanya Hyunjae memastikan, sebagai jawabannya Luhan mengangguk ringan. “Baguslah, aku tidak sabar untuk berkenalan dengannya” tanggap Hyunjae atas jawaban Luhan sementara Hyeonmi tersenyum kecil.

Tak lama, Hyunjae dan Luhan segera saja terlibat dalam pembicaraan seru yang beberapa kali sempat mengundang tawa lebar Hyeonmi yang hampir tidak pernah diperlihatkannya pada orang lain itu, melihat ini Luhan sempat tertegun sebelum akhirnya ikut tertawa juga. Mereka masih sibuk bercengkrama dalam pembicaraan yang benar-benar sangat menyenangkan untuk kali pertama sejak mereka masuk ke kelas tersebut, ketika Bakhyun dan Eunki telah sampai di depan pintu kelas yang terbuka lebar. Eunki memandang heran dengan atmosfir ruangan yang tampak sangat bersahabat itu, sedangkan Baekhyun, tatapannya menajam seiring dihadapannya kini dengan jelas terlihat Hyunjae sedang tertawa terpingkal-pingkal dengan memukuli pelan lengan Luhan, ntah apa yang telah diceritakan namja itu.

“Hmm… hmm…” deham Baekhyun yang memang sengaja diperkeras. Hyunjae, Hyeonmi, dan Luhan segera saja berhenti tertawa dan melihat ke arah Baekhyun dan Eunki. “Eoh! Baekhyun-ah, Eunki-ya! Apa kabar? Weekend kalian menyenangkan?” Luhan menyapa kedua pendatang baru itu dengan senyum lebar. Eunki balas tersenyum, “Lumayan, kau sendiri bagaimana oppa?” tanyanya balik yang dijawab Luhan dengan ke dua jempolnya teracung.

“Aku cukup menyenangkan karena mendapat hiburan menarik sabtu lalu” ucap Baekhyun menjawab pertanyaan Luhan, tapi anehnya namja itu menatap pada Hyunjae, seakan ingin mengingatkan yeoja itu tentang pertemuan mereka di theater sekolah sabtu lalu. Hyunjae mendengus dan kemudian melengos, kentara sekali enggan membalas ucapan Baekhyun. “Hei… hei… ini masih pagi, tidak boleh ada adu argumen” cetus Luhan sebelum Baekhyun kembali berbicara, atau lebih tepatnya memancing emosi Hyunjae. Eunki menatap Baekhyun sembari mengangguk kecil, setuju dengan ucapan Luhan.

Bahu Baekhyun bergidik pelan seolah tidak peduli. Ia berjalan menuju bangkunya kemudian menaruh tas sandangnya sedikit keras sehingga mengeluarkan bunyi teredam akibat buku yang ada di dalam tasnya beradu dengan meja. Baekhyun duduk sembari memandang belakang kepala Hyunjae dengan tajam, Ia dapat melakukan ini karena tempat duduknya persis di belakang Hyunjae. “Kita tidak jadi ke cafe?” celetuk Eunki dari sebelah Baekhyun, yeoja itu sudah menaruh tasnya juga. Baekhyun mengangkat bahunya seolah tidak peduli, “Aku tidak lapar, kau pergi sendiri saja tidak apa-apa ‘kan Eunki-ah?” ucap Baekhyun sembari mengalihkan pandangannya kepada Eunki yang menatapnya aneh. “Kau yakin?” tanyanya lagi, masih dengan mata yang menyipit seolah menilai. Baekhyun mengangguk tegas sambil memperlihatkan senyumnya meski terlihat seperti terpaksa. “Ya sudah, aku juga tidak lapar sebenarnya” tanggap Eunki kemudian berjalan kembali ke bangkunya.

Keheningan yang sangat tiba-tiba di kelas itu menjadikan suasana sedikit mencekam. Tak ada yang mendekati Hyunjae, tapi dia merasakan sebuah tatapan mata berpusat kepadanya, seolah-olah tatapan itu mendesaknya masuk ke tanah, dan dia takut sewaktu-waktu jari atau kelopak matanya bergerak mengarah ke arah belakangnya.

Sebuah dering handphone terdengar cukup keras menyelimuti kelas yang hening, suara itu berasal dari benda di saku Baekhyun. Ia merogoh saku celananya kemudian segera menekan tombol dial saat melihat nama Kangin hyung; menejernya, tertera di layar. “Yeboseyo! Ada apa hyung?” tanya Baekhyun singkat dengan suara yang sedikit malas-malasan. “Kau di kelas Baekhyun-ah? Apa ada Hyunjae, Eunki, dan Luhan-ssi juga disana?” Kangin balik bertanya pada Baekhyun. Namja itu mengernyitkan keningnya, “Ne~ mereka bertiga ada disini, memangnya kenapa hyung?” ujar Baekhyun sembari memperhatian satu-persatu orang yang tengah mereka bicarakan. “Aku sekarang sudah berada di aula pertemuan bersama Shindong seongsanim, cepatlah kemari bersama yang lainnya, ada beberapa hal yang harus dibicarakan” jelas Kangin dalam satu tarikan nafas. Baekhyun menganggukan kepalanya tanda mengerti, tapi sesaat kemudian segera tersadar bahwa Kangin tidak bisa melihat anggukannya, maka Ia mengucapkan “Ya” dan segera memutuskan sambungan telepon.

“Eunki-ah, Luhan hyung, kita disuruh ke ruangan pertemuan sekarang” Baekhyun berdiri meninggalkan bangkunya dan berjalan mendekati Luhan yang duduk dibangku sebelah kirinya. Luhan menampakan ekspresi bertanya, tapi hanya diam begitu Baekhyun menggeleng pelan dan menggidikan bahunya. Sementara itu, Eunki yang tadi namanya juga sempat dipanggil Baekhhyun sudah terlebih dulu berjalan, dan kini terlihat menunggu Baekhyun dan Luhan di depan pintu kelas.

Hyunjae dan Hyeonmi bertukar pandang, seperti sedang berbicara melalui pikiran masing-masing. “Kau juga Miss. Bossy” ucapan Baekhyun tepat di telinga kiri Hyunjae yang seketika mengagetkannya. Ia beralih begitu cepat sebelum Baekhyun sempat menarik kepalanya menjauh, sehingga kini wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja. Baekhyun terbelalak kaget dengan posisi mereka berdua yang sama sekali tidak di duganya. Tubuh namja itu tidak bergerak sesenti pun, jelas ini membuat 3 orang lain di dalam ruangan tersebut bertukar pandang dalam diam.

Jika kau sadar Baekhyun-ah, bibir cherry itu hanya berjarak beberapa centi saja dari bibirmu… jika kau maju sedikit saja… ah! Tidak! Tidak! Apa yang aku pikirkan? Demi seluruh daging di dunia, dia itu dongsaengnya D.O! dia itu terlarang bodoh!” detik berlalu dalam keheningan yang aneh sementara Baekhyun sibuk berkutat dengan pikiran liarnya. Hyunjae lah yang akhirnya pertama kali tersadar, Ia memundarkan wajahnya dengan segera, “Apa-apaan wajah pervert kau itu Bacon?” cetus Hyunjae seraya bangkit berdiri. Ia menggandeng tangan Hyeonmi, ikut membuat yeoja itu berdiri. “Eoh? Aku kenapa di tarik Hyun? Aku kan tidak dipanggil” ujar Hyeonmi berusaha melepaskan tangannya karena kini Hyunjae berjalan di depannya dengan menyeret-nyeret tanan kanannya. “Pokoknya kau juga harus ikut” tanggap Hyunjae pelan dan tegas. Hyeonmi hanya bisa mendesah dibuatnya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Sedangkan Baekhyun kini yang sudah sepenuhnya sadar dan beberapa kali sudah mengutuk dirinya sendiri, melangkah dengan sedikit kaku mengikuti Eunki dan Luhan yang berjalan tepat di belakang Hyunjae dan Hyeonmi.

——-ooo——-

“Kalian terlambat 5 menit Kids!” suara Shindong yang tengah duduk dengan santai di bangku yang tepat berada di ujung-tengah meja meeting tersebut, menyambut pendengaran lima orang yang baru saja bergabung di dalam ruangan itu. “Jeosonghamnida seongsanim” ujar Baekhyun mewakili yang lainnya. Mereka semua berjalan ke tempat duduk yang masih kosong tanpa dipersilahkan terlebih dahulu. “Ya… ya… aku tidak marah Baekhyun-ah! Nah, kau duduk lah juga” balas Shindong sembari mengibas-ngibaskan tangannya ringan. Baekhyun melihat di dalam ruangan itu sudah ada Kangin, Kris, dan juga Lay, yang adalah teman sekelasnya juga di S.A. Lay mengangguk dan melempar smirk khasnya singkat membalas sapaan kecil Baekhyun.

Shindong PD-nim mendeham sekilas sebelum kemudian membuka meeting hari itu. Namja paruh baya tersebut tersenyum kecil pada Hyeonmi sebelum kembali melanjutkan pidatonya, tampaknya Ia setuju-setuju saja atas kelancangan Hyunjae membawa orang yang notabane diluar keperluan itu mengikuti rapat. Hyunjae menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal, mendapati tanggapan Shindong atas perbuatannya tersebut. Sementara Hyeonmi hanya balas tersenyum kecil.

“Baiklah, berikutnya mengenai Cast yang akan mengambil peran besar dalam drama ini. nah, aku lihat kalian semua sudah saling kenal rupanya! Bagus sekali, ini akan jadi lebih gampang untuk membangun chemistry bukan?” ucapan Shindong terhenti. Ia memperhatikan calon anak didiknya tersebut dengan seksama, dan terhenti cukup lama saat menatap Baekhyun dan Hyunjae, membuat keduanya sedikit salah tingkah. “Hyunjae-ah, aku menerima pesanmu tadi malam, dan aku pikir ide yang kau berikan itu boleh juga, apa kalian sudah membicarakannya?” Shindong kini hanya berucap pada Hyunjae seraya melirik sedikit ke arah Hyeonmi. Semua mata bergantian memandang antara Hyunjae dan Shindong, tidak paham dengan yang mereka berdua bicarakan. Sementara Hyunjae kini tampak seolah disadarkan akan sesuatu yang penting yang telah Ia lupakan begitu saja. Ia mengelus tengkuknya gugup, tidak berani menatap Shindong maupun melirik Hyeonmi yang duduk disebelahnya.

“Hyunie-ya, maksud Shindong seongsanim apa? Apa yang seharusnya sudah kita bicarakan?” pertanyaan Hyeonmi seolah semakin menyudutkan Hyunjae yang kini tengah mengumpat pada dirinya sendiri yang sangat pelupa itu. Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya, tersenyum kecut ke arah Shindong yang menaikan sebelah alisnya sebagai tatapan meminta penjelasan. “Hmm… aku lupa mengatakan pada Hyeonmi apa yang aku bicarakan denganmu tadi malam seongsanim”ucap Hyunjae akhirnya menjelaskan. Shindong menghela nafas sesaat sebelum kemudian terkekeh pelan, “Yah… baiklah, kalau begitu biar aku saja yang menjelaskan. Hyeonmi-ah, kau tentunya tahu bagaimana penolakan Hyunjae untuk bermain dalam drama ini bukan? Nah, ada beberapa hal yang telah kami bicarakan sekaligus kami sepakati. Singkatnya, tadi malam Hyunjae mengirim sebuah pesan padaku yang berisi tentang dirimu. Ia ingin kau ambil bagian dalam drama ini. jadi, bagaimana menurutmu?” Shindong menghentikan penjelasannya dengan tatapan terarah lurus pada Hyeonmi. Sedangkan yang ditatap malah tidak membalas sama sekali, Hyeonmi mengalihkan kepalanya pada Hyunjae yang kini benar-benar menunduk dalam dan hanya memperhatikan satu objek yang tiba-tiba menarik perhatinnya, kuku jarinya.

YA! PARK HYUNJAE!” sebuah teriakan geram lolos dari bibir Hyeonmi, membuat semua orang yang berada dalam ruangan tersebut menatapnya terkejut. Tampaknya yeoja itu lupa Ia sedang berada di tengah orang-orang yang masih termasuk baru dalam list orang-orang yang dikenalnya. “Mianhae Hyeon… kau jangan marah ya… hehe” tanggap Hyunjae tertawa salah tingkah. Ia mengalihkan tatapannya pada Shindong, meminta bantuan namja paruh baya itu.

“Sebenarnya aku sudah bertanya tentang jadwal modelingmu pada menejermu Hyeonmi-ah, dan sepertinya kau cukup senggang untuk beberapa bulan ke depan. Nah, bagaimana? Ayolah… aku yakin Hyunjae hanya bermaksud baik untuk kelangsungan karirmu. Jika kau setuju bermain dalam drama ini, kita akan membicarakan tentang kontrak setelah membahas beberapa hal inti yang menjadi alasan utamaku datang kesini” ucap Shindong mengambil alih keadaan. Bagaimanapun, Ia tidak mau tujuannya datang ke tempat itu berjalan tidak lancar seperti yang Ia harapkan.

Hyeonmi terdiam sejenak, meskipun tatapan tajamnya masih belum Ia lepaskan dari wajah Hyunjae yang benar-benar terlihat gelisah dan salah tingkah. Mau tidak mau, Ia memikirkan sahabat yang duduk di sampingnya itu, jika Shindong PD-nim menyanggupi permintaan Hyunjae tanpa syarat, pastilah itu karena Hyunjae melakukan sesuatu, dan tidak tahu kenapa feeling Hyeonmi merasa bahwa apapun yang Hyunjae katakan pada Shindong sebagai ganti persetujuannya untuk bermain drama adalah berhubungan dengan Hyeonmi.

“Baiklah… tapi, aku tidak mau peran yang sama sekali berbeda dari sifat asliku… bisakah?” Hyeonmi berucap pelan setelah beberapa kali menghela nafas. Shindong tampak puas dengan hasil yang dicapainya, well… syarat yang diajukan Hyunjae ternyata sangat membantu untuk kelangsungan suksesnya drama yang akan di produserinya tersebut. “Bagus… bagus… percayalah, aku tidak akan memberikan peran yang aneh-aneh padamu Hyeonmi-ah, dan… ah, selamat bergabung kalau begitu dear” tanggap Shindong sembari tersenyum cerah yang dibalas Hyeonmi dengan anggukan sopan. Hyunjae juga memberi Hyeonmi senyum cerah, tapi hanya sedetik karena tatapan tajam Hyeonmi yang membalasnya membuat yeoja itu sadar bahwa pembicaraan mereka belum selesai sampai disitu.

“Masuk pada pembahasan inti. Sebelumnya aku sudah meminta persetujuan pada sekolah mengenai hal ini, dan sekolah rupanya sangat mendukung kegiatan-kegiatan murid istimewanya yang berada di hadapanku ini, sehingga izin dengan mudah langsung kami dapatkan. Selama satu minggu ke depan, kalian akan menjalani Motivation Training untuk mendalami karakter dan memperoleh chemistry yanglebih baik” penjelasan singkat Shindong yang tanpa bertele-tele, seketika menuai protes keras dari beberapa pihak yang duduk dalam ruangan tersebut. “MT? Tapi… seongsanim, aku ada beberapa schedule pemotretan minggu depan” ujar Lay yang sedari tadi hanya mengawasi segala hal yang terjadi dalam ruangan tersebut. Semua kini memandangnya, dan beberapa mengangguk setuju dengan bantahan Lay. “Beruntungnya Lay, dan untuk kalian semua juga, aku telah mengurus mengenai seluruh schedule kalian minggu depan dan mendapat persetujuan untuk melakukan MT, dan kalau kalian belum tahu, di dalam kontrak kalian juga tertulis mengenai MT yang akan diadakan ini” Shindong mengakhiri ucapannya sembari bersender santai pada senderan bangkunya yang empuk dan nyaman. Ia menatap satu-persatu wajah-wajah geram sekaligus syok dihadapannya tersebut dengan seringaian lebar, tampak puas dengan otaknya yang brilian.

“Jadi intinya adalah kami hanya harus datang dan mengikuti MT begitu? rapat ini bukan untuk mendengar persetujuan dari kami ya… benar-benar seperti apa yang publik ketahui tentang produser Shin Donghae yang terkenal. Jujur saja, aku mengagumi gerak cepat yang kau lakukan seongsanim” dengan santai Luhan mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Ia sempat mendapat sedikit lirikan memperingatkan dari Hyeonmi, tapi hanya di tanggapinya dengan gidikan ringan. Dilain sisi, Shindong PD-nim tampaknya tidak terlalu terusik dengan tanggapan Luhan, Ia masih menampilkan senyum puas dan bergiliran menatap satu-satu persatu pada calon bintang drama garapannya yang baru.

“Kalau boleh tahu, apa kira-kira yang akan kami lakukan saat MTitu seongsanim?” tanya Kris kali ini mendahului yang lain yang tampak akan mulai kembali menyuarakan protes dengan apa yang telah dilakukan Shindong. “Wah, kalau untuk pertanyaan yang satu ini, aku hanya dapat mengatakan bahwa kalian akan berkumpul hari minggu besok di depan kantor utama SJ Entertainment lengkap dengan barang-barang yang akan kalian butuhkan untuk tinggal jauh dari Seoul selama 1 minggu penuh” semua mata seketika melebar mendengar penuturan akhir dari Shindong tersebut. Mereka tidak berani membayangkan apa yang tengah direncanakan namja paruh baya yang rupanya sangat licik itu.

—ooo—

To Be Continue…

Mohon masukan dan komentarnya ya J

 gomawo~

 

3 pemikiran pada “Let Me Capture! (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s