Love Sign (Chapter 7 Part A)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Fufufu drama time 😉 Nah, disini saya buat part 7 menjadi dua bagian. Dikarenakan halaman yang terlalu banyak—pastinya ngebosenin karena halamannya banyak—jadi saya putuskan untuk membaginya menjadi dua bagian; part 7A dan 7B. Fyi, sebenarnya ini juga udah banyak, lho. Bahkan udah diedit dan udah menghapus beberapa perkataan yang kiranya nggak penting (?)

Ah iya, maaf kalau part ini ngebosenin, kepanjangan, atau nggak seru sama sekali *bow

Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Oh iya, disini anggap aja Sehun dan Kai masih berumur 17 tahun, ya ^^

Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

l-a-poster

_____________________

Sehun melangkahkan kakinya gontai. Langkahnya membawa tubuh kurusnya itu kesebuah lorong apartemen—iya, apartemennya yang sudah ia tempati selama hampir dua tahun itu agak terlihat asing dimatanya. Sesekali melirik kearah kanan dan kirinya, tak ia temukan suatu keganjalan. Tapi…

“Oh.” Sehun ber-oh ria. Ia mempercepat langkahnya begitu juga tatapan matanya yang makin menajam tatkala menemukan sesuatu tepat didepan pintu apartemennya. Sebuah kertas tepat tertempel dan tersebar didepan pintunya; ia mengambilnya lalu berkata, “Cih, bisa-bisanya membuat apartemenku berantakan.”

Sehun, lalu mengambil kertas-kertas yang berserakan—begitu juga yang menempel dipintunya—kedalam tempat sampah. Tsk, ia mendesis. Menatap hampa tempat sampah yang terisi penuh oleh kertas-kertas yang menurutnya tak berguna itu. Tak mau peduli lagi, pemuda itu sekarang merogoh saku dan mengambil sebuah kunci. Ia masukan kunci itu keslop pintu apartemennya dan langsung masuk kedalam.

“Aku pulang.”

Tentu saja tak ada jawaban. Tak ada siapapun didalam, kecuali dirinya sendiri.

Setelah meletakkan sepatunya, Sehun beranjak untuk duduk disofa. Mengeluarkan isi dari paperbag yang berisikan sejumlah buku dan makanan. Diambilnya dengan perlahan satu buku per-satu bukunya, kemudian ia letakkan disampinya. Tangannya beralih lagi mengambil makanan yang berada dipaperbag tersebut; sebuah set kimbap yang masih hangat.

Inilah dimana ia harus merasakan pahitnya hidup sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Meskipun pamannya sering memberikannya uang bulanan yang cukup besar, Sehun hanya berani untuk mengambilnya sebagian dan sisanya ia tabung. Sehun yakin, dalam uang-uang tersebut pasti ada unsur dari orang itu. Yah, pemuda satu ini paling tidak mau disangkut-pautkan dengan orang yang ia sebut-sebut sedari tadi dalam hatinya.

Kruyuk

Kali ini ia membuang pikirannya. Mencoba fokus dan menerima terhadap makanan yang sedang ia genggam itu. Perut yang tak bisa diajak kompromi juga menjadi factor utama untuk Sehun menerima satu set kimbap tersebut.

Dilahapnya satu per-satu kimbap itu dengan santai. Ia tahu ia lapar namun tak ingin memakannya secara terburu-buru dan terbutakan oleh rasa laparnya. Sehun, adalah pribadi yang lebih suka menikmati—pengecualian jika sedang terburu-buru—makanannya.

“Apa ini?” matanya menatap nanar buku dengan sampul kemerahan serta sebuah gambar perempuan disana. Buku berjudul “To Kill a Mockingbird” membuat dahi Sehun mengkerut tipis. Ia bergumam pelan, “Sepertinya aku pernah membaca ini…”

Perlahan, tangannya membuka plastik tipis dari buku tersebut dan mulai membacanya.

***

 “Aku pu…” ucapan Yoojun terhenti tatkala melihat tatapan serius dari kedua orang tuanya dan Taejun yang sedang berkumpul diruang tengah. Membuat Yoojun mau tak mau merasa sedikit bingung dan juga takut, kalau-kalau semua ini menyangkut dirinya. Atau masalah beberapa hari yang lalu.

Taejun, lagi-lagi membantu adik perempuannya. Memberikan segala bentuk petunjuk untuk membuat Yoojun mengerti keadaan. Namun entah mengapa Yoojun tak tanggap, tak mengerti arti pandangan dan gerakan kepala Taejun—hingga akhirnya Taejun berkata, “Duduklah disampingku, Yoojun-ah.”

Yoojun lantas mengangguk dan cepat-cepat duduk disamping kakaknya. Sempat tertohok juga dengan panggilan Taejun yang berubah dan men-dingin.

“Jadi, kami akan kembali ke Paris malam ini,” ujar ayah sesekali tersenyum, menatap Yoojun dan Taejun bersamaan. Kerutan-kerutan halus yang menghiasi sudut matanya tak mengurangi ketampanan dari pria paruh baya tersebut. Kemudian melanjutkan, “Maaf Yoojun-ah, aku minta maaf sekali. Minta maaf atas sepuluh tahunnya tidak berperan sebagai ayahmu seutuhnya. Tapi ingatlah Yoojun, sampai kapanpun aku ayahmu dan aku menyayangimu. Kalian berdua anak-anak kebangganku.”

Air mata mengalir perlahan dari mata Yoojun. Tangisnya benar-benar pecah saat ayahnya bangkit dari duduknya dan memeluknya erat. Pelukan seorang ayah yang sepuluh tahun lalu sangat ia rindukan. Kehangatan dan kasih sayang ayah yang sering diperlihatkan oleh teman-teman sebayanya, yang dengan secara tak langsung membuat hati Yoojun perih kala melihatnya. Inilah yang Yoojun rindukan. Inilah yang Yoojun inginkan.

Selama sepuluh tahun.

Appa…” isak Yoojun. Kilatan kelamnya berputar dalam kepalanya.

Tanpa Yoojun tahu, sang ayah juga merasakan hal yang sama dengannya. Rasa pedih melihat anaknya yang menangis—terlebih karena dirinya sendiri—dengan matanya sendiri makin membuat pria paruh baya itu pedih, ingin sekali memeluk anaknya lebih lama lagi.

“Yoojun-ah…”

Suara khasnya membuat Yoojun mendongak. Ia kemudian melepaskan pelukan ayahnya dan menatap wanita paruh baya yang juga sedang menatapnya, namun dengan air mata. Tubuhnya beranjak, bergantian memeluk anak perempuan satu-satunya. Deru air mata wanita itu juga makin menjadi seketika merasakan kehangatan yang terpancar. Inilah, inilah yang selama ini juga dirindukan oleh wanita itu. Menjadi seorang Ibu.

“Maafkan aku, Yoojun-ah. Aku bukan ibu yang terbaik untuk anak-anakku…”

Yoojun mempererat pelukannya, ia terisak, “Maafkan aku juga, Eomma. A-aku sudah keterlaluan.”

“Kau boleh tinggal disini, di Korea. Aku takkan memaksamu untuk ikut denganku. Maafkan Eomma, Yoojun-ah…”

Setelah semua itu berlangsung, keadaan rumah mereka menjadi lebih baik; yang dalam artian tidak sekaku ataupun setegang seperti awal mulanya orang tua mereka datang. Yoojun sudah mulai mengobrol dengan ibunya. Begitu pula Taejun yang sedang bercengkrama dengan ayahnya sembari menunggu mobil yang datang untuk menjemput orang tuanya ke Bandara.

Tawa yang terlihat bukanlah tawa paksaan maupun tawa yang sekedar tertawa, namun tawa tersebut adalah sebuah kebahagian. Kebahagiaan yang sudah selama itu mereka rindukan.

“Taejun-ah,”

Taejun mendongak, “Ya, Ayah?”

“Kau kakak yang baik. Aku bangga padamu, Park Taejun,” ucap ayah sambil menepuk-nepuk pundak Taejun. Senyum terulas dibibir pria tersebut. Begitu pula eye smile yang terbentuk ditambah kerutan-kerutan halus membuat Taejun makin tak bisa berhenti merasa ingin tersenyum. Tersenyum lega.

Lama sekali ia tidak dibangga-banggakan. Lama sekali sudah tak mendengar dipanggil sebagai seorang anak. Tidak mendengar hal-hal yang menyangkut itu, terkadang membuatnya merasa kalau ia masih seorang bocah ingusan berumur 18 tahun. Yah, waktu itu, sekarang tidak—ia sudah sepenuhnya merasa dewasa, merasa mapan, dan merasa berhasil. Tentu saja, bukankah semua orang memiliki peran masing-masing? Taejun, kini dia sudah dewasa, sudah memasuki umur yang matang.

Senyum dibibir Taejun mengekspresikan semua yang ia rasakan kali ini.

Tiba-tiba suara mesin diluar rumah mereka membuat semua menoleh cepat kearah jendela. Dari jendela tersebut, terpatri jelas dua buah mobil sedan berwarna hitam yang berhenti didepan rumah. Dengan lampu mobil yang masih menyala; semua itu meyakinkan mereka bahwa itulah mobil yang menjemput ayah dan ibu ke Bandara. Sontak, sang ayah bangun dan segera berjalan keruang tamu.

“Kalian harus pergi ke Paris, disana indah sekali!” seru Ibu seraya menarik koper dan mengambil tasnya. Berjalan mendekat kearah suaminya yang sudah nampak rapi dengan balutan jas cokelat.

Ayah menghela napasnya, “Kami… akan sangat merindukan kalian.”

Yoojun dan Taejun mengangguk—menandakan bahwa mereka merasakan hal yang sama. Disambut oleh senyuman dari sang ayah, mereka lalu berjalan keluar rumah, menghampiri mobil sedan berwarna hitam tersebut. Lagi-lagi beberapa orang berjas hitam dengan kacamata hitam mengelilingi mobil sedan tersebut. Ada beberapa orang didalam mobil sebelumnya, namun setelah melihat pasangan suami-istri tersebut, orang-orang itu langsung keluar dari mobil.

Pagar ini rumah ini menjadikan batas untuk mereka. Taejun dan Yoojun tidak mungkin pergi ke Bandara—mengingat besok Yoojun harus sekolah dan Taejun pun harus bekerja—karena hari yang menjelang malam. Mereka berdua cukup mengantarkannya disini.

Yah, dirumah ini.

“Jaga adikmu baik-baik Taejun-ah. Jaga diri kalian,” ujar sang ayah.

Ne!”

Sekarang giliran ibu yang berbicara. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat kearah Yoojun dan memeluknya. Senyum serta helaan napasnya mengiringi langkahnya tersebut, namun tergantikan oleh kehangatan kasih sayang darinya. Melangkah lagi kearah anak laki satu-satunya. Memeluknya lalu menepuk-nepuk bahunya. Kemudian berkata, “Kami akan sering-sering mengunjungi kalian.”

Ibu Yoojun mulai masuk kedalam mobil, begitu pula dengan sang ayah yang terlebih dulu tersenyum kepada anak-anaknya. Begitu juga orang-orang berjas hitam, mereka mulai masuk kedalam mobil yang lain.

Mobil itu berputar arah, mesin serta lampunya menyala. Entah mengapa saat mesinnya menyala, Yoojun merasakan sebuah perasaan yang sudah lama tak ia rasakan.

Yah, kehilangan.

Gaseyo!!!” teriak Yoojun tatkala mobil-mobil tersebut melaju, menjauh dari rumahnya.

Esok paginya…

“Yoo-gom, bangun atau kau akan terlambat hari ini!” suara Taejun menggelegar seperti biasanya. Membuka kasar jendela yang tertutupi gorden berwarna pastel; sekarang matahari menyinari kamar Yoojun beserta pemiliknya, membuat Yoojun terganggu. Akhirnya gadis itupun bangun dengan erangan.

Yoojun bangun, mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, “Kau terlalu berisik, Taejun.”

Raut wajahnya berubah menyesal, namun sepersekian detik kemudian ia menyeringai. Menatap adiknya dengan tatapan ayo-bangun-atau-kau-terlambat.

NE!!!”

Taejun mendesah pelan ketika melihat adiknya berlari melenggang keluar kamar. Hatinya terasa lega setelah kejadian semalam. Dimana baru saat itu ia melihat ibunya tengah menangis sambil memeluk adiknya. Ia—oh ayolah, kadang sebagai anak dia juga ingin mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun jika ditilik-tilik lagi, ternyata ia juga sadar bahwa adiknya lebih membutuhkan itu semua ketimbang dirinya sendiri.

Teringat lagi saat ayahnya juga sempat mengacak-ngacak rambutnya seraya mengatakan, “Kau kakak yang baik. Aku bangga padamu, Park Taejun, anakku.”

Betapa bahagianya Taejun kala itu. Ia merasa seakan ia berhasil.

Ya, dia berhasil memainkan perannya sebagai kakak bagi Park Yoojun.

“Oh ya ampun! Taejun kau kenapa masih berada dikamarku?!” pekik Yoojun dengan matanya yang membulat. Tubuhnya masih dibalut dengan handu Sekarang Taejun malah salah tingkah; dengan cepat memegang selimut Yoojun dan pura-pura sedang merapikannya. Yoojun mengulum bibirnya, “Nanti saja kalau mau beres-beres, aku sedang bergegas.”

“Ja-jangan lupa sarapan dan khusus untuk hari ini kau akan kuantar, jadi cepatlah,” papar Taejun seraya menutup pintu kamar Yoojun perlahan. Kaki jenjangnya membawa tubuh kurus itu ke Halaman rumah. Segera menghampiri alat transportasi yang Taejun bangga-banggakan itu. Ya, tentu saja, mobil yang ia beli dengan uangnya sendiri.

Sedangkan Yoojun masih dalam pikirannya. Bingung terhadap perubahan kakaknya sejak kemarin malam. Oh iya, Yoojun memekik dalam hati. Baru saja ia mengingat kalau orang tuanya sudah kembali ke Paris. Sudah tak lagi berada disini—lalu mengambil kesimpulan bahwa hal-hal itulah yang membuat perubahan pada sikap Taejun.

Yoojun menyelesaikan semuanya dalam on time. Segera lagi ia berjalan menuruni anak pertangga dengan gesit dan sampai dilantai bawah. Matanya menangkan sepiring roti dengan segelas susu diatas meja makan kayu merah itu. Yoojun, lalu berjalan kearah sana dan dengan cepat menyambar segelas susu.

“Ah, enaknya…” erangnya setelah meneguk segelas susu itu dalam sekali tegukan. Meletakkannya kembali dan segera berjalan cepat menuju pintu.

Yoojun memang harus bergegas.

***

Kai berjalan lurus di Koridor; menuju kantin. Sesekali membungkuk atau menyapa teman-teman yang lewat disekitarnya. Namun hari ini agak berbeda dari biasanya, banyak dari mereka melihat Kai sambil berbisik—yang entah maksudnya apa—lalu berlalu begitu saja. Kening Kai mengkerut setelah benar-benar merasa semua keanehan itu. Tapi tanpa mau memikirkannya lebih lanjut, ia terus berjalan, menghiraukan.

DRRRT!

Ponselnya bergetar didalam saku celananya, membuat Kai otomatis menghentikan langkah kaki dan merogoh saku celananya. Ponsel itu kini telah berada digenggaman tangannya. Terpampang jelas notifikasi pesan masuk dilayar ponsel tersebut. Kai, lalu membaca pesan tersebut.

From: Sehun

HALL SEKOLAH. SEKARANG!

Mengerti maksud pesan tersebut, Kai langsung memutar balik dan setengah berlari menuju Hall Sekolah yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Terkadang masih mencuat dipikirannya berbagai macam pertanyaan untuk hal ini. Terlebih Hall sekolah adalah tempat yang strategis karena rata-rata murid kelas khusus akan melewatinya jika ingin menuju ke Kelas mereka masing-masing. Selain itu, Hall Sekolah juga membunyai sebuah LCD yang berguna untuk menyebarkan informasi—shit.

Oh lihatlah, tidak mungkin!”

Ya Ampun!”

Tak bisa dipercaya!”

Kai masih bergeming hingga ia berjalan perlahan mendekati kerubungan murid-murid berbagai gender tersebut. “Minggirlah,” ucap Kai akhirnya, membuat kerubungan murid-murid itu dengan cepat mengubah posisi mereka; membuat sebuah jalan setapak dengan Kai diujungnya. Kakinya melangkah, matanya menatap layar LCD tersebut dengan saksama. Terpampang jelas wajah Yoojun dengan tanda silang berwarna merah serta sebuah kalimat dibawahnya;

Murid kelas reguler yang telah berani mendekati salah satu
orang paling berpengaruh dikelas khusus. Gadis ini benar-benar jalang!

“Apa-apaan berita ini?” gumam Kai. Tangan kanannya terkepal, hendak memukul layar LCD itu kalau saja Sehun tak menepuk bahunya. Kai sontak menoleh, mendesis kesal setelah mengetahui siapa yang telah menepuk bahunya itu.

Sehun dengan wajah santainya hanya berkata, “Lebih baik kau pergi kepusat informasi—siapa tahu pelakunya masih berada disana.”

Kai mengangguk, mengerti. Kakinya langsung beranjak dari posisi bahkan sebelum otaknya memerintah. Dalam hati ia masih menebak-nebak siapa yang telah berani melakukan perbuatan seperti ini. Meskipun sudah ada beberapa opsi dikepalanya, Kai masih harus memastikan. Dan kini, ia sepenuhnya berlari.

Sedangkan Yoojun masih berada diarea lapangan basket. Masih berkutat dengan bola basket yang berwarna merah keoren-orenan itu. Sesekali menganguk mendengar perintah guru olahraga—yang masih ingin ia kutuk menjadi bola basket—dengan santai. Yoojun, lalu melakukan apa-apa saja yang gurunya katakan hingga gadis itu berhasil memasukan bola basket kedalam ring. Saat berhasil melakukannya, dengan polosnya ia bertepuk tangan. Sendirian.

“Tetap saja aku benci pengambilan nilai,” paparnya seraya berjalan berlalu dari ring basket. Kakinya melangkah pasti, berjalan menuju Hyesung yang sedang berada dipinggir lapangan. “Oh, lihatlah, guru itu benar-benar keras!”

“Kau bukannya benci pengambilan nilai, tapi kau benci olahraga,” balas Hyesung setelah melihat temannya menggerutu tak karuan. Gadis itu lalu meneguk sebotol air mineral yang disediakan selama perjalanan olahraga—hingga air dibotol itu tinggal setengahnya. Hyesung sendiri sudah menyelesaikan pengambilan nilai sedari tadi. Tak butuh waktu lama dan pengulangan baginya; Ia, Hyesung sudah bisa memasukan bola besar tersebut kedalam ring.

Sesuatu terbesit dipikirannya—membuat Hyesung cepat-cepat menoleh ke arah Yoojun untuk yang kedua kalinya. Hyesung, lalu bertanya, “Oh ya, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Apa? Memang apa yang ingin kubicarakan?”

Hyesung mendesah. Tak mungkin temannya ini sebegitu pelupanya hingga melupakan apa yang telah ia katakan tadi pagi dikelas matematika. Jelas sekali terdengar ditelinga Hyesung bahwa Yoojun berkata akan memberitahunya sebuah hal dengan senyuman-senyuman creepy menghiasi semua perkataannya. Sepersekian detik kemudian Hyesung melayangkan death glare pada Yoojun—membuat Yoojun tertohok seketika.

“O-oh, aku ingat!” pekik Yoojun setengah melirik Hyesung dengan takut. “Janji tidak berteriak saat aku mengatakan hal ini?”

“Kau pernah mendengarku berteriak?”

“Tidak—ah, baiklah langsung kukatakan saja. Hyesung-ie, Kai… Kai…”

Hyesung menunggu.

“Kai menciumku.”

Botol yang Hyesung genggam kini sudah terjatuh, berguling entah kemana. Harusnya kalau Hyesung seorang yang feminim, mungkin ia sudah berteriak dan meloncat-loncat entah kemana. Terbesit juga dipikirannya untuk melakukan hal tersebut. Tapi masih kemungkinan, bukan akan melakukannya.

“Bagus, berarti hubungan kalian berkembang,” ucapnya mencoba santai. Hyesung beranjak dari duduknya, bermaksud kembali kekelas setelah pergi ke Ruang ganti tentunya. “Ia sudah meresmikan hubungan kalian, kan?”

“Justru aku sedikit ragu tentang hal itu, Hyesung-ie.” Yoojun mendesah.

Well, mungkin memang belum tapi akan—Who knows?”

“Yah, mungkin.”

“Oh, Ayolah Yoojun-ah, ini pertama kalinya dalam beberapa tahun kita berteman aku melihatmu ragu seperti ini. Apa jangan-jangan kau juga ragu untuk mengganti baju olahraga yang berlumuran keringat itu?” Hyesung menutup mulut beserta hidungnya, berpura-pura seakan baju Yoojun benar-benar bau.

Yoojun mengulum bibirnya kesal, lalu tertawa. Mengejar Hyesung yang sudah berjalan agak jauh darinya.

Yah, mungkin. Batinnya.

Tepat setelah keluar dari area lapangan basket, banyak orang menatapi Yoojun dengan tatapan aneh. Apalagi mereka juga berbisik-bisik seraya melihat Yoojun. Gadis yang menjadi objek penglihatan itu malah tak sadar, tak menghiraukan mereka yang masih belum diketahui maksudnya apa.

Ommo, lihat itu! Anak-anak kelas khusus!”

Wah, aku belum pernah melihat mereka!”

Yoojun beserta Hyesung sontak menoleh. Mata mereka menangkap empat orang gadis dengan bling-bling (kalau dilihat dengan efek kamera) disekitar tubuh mereka. Hyesung tahu, pakaian dan apapun yang dipakai ditubuh mereka semuanya merk kelas atas. Begitupula Yoojun yang tahu kalau mereka semua gadis-gadis yang gemar memakai gelang—ditangan mereka ada begitu banyak gelang—ditangan kiri mereka.

Karena merasa tak ada hubungannya, kedua gadis itu pun melanjutkan langkah mereka menuju ruang ganti. Namun satu teriakan dari keempat gadis ‘kelas khusus’ itu membuat Yoojun dan Hyesung sontak menghentikan langkahnya.

“Oh, jadi ini yang namanya Park Yoojun itu?” ucap gadis dengan bandana berwarna merah menyala dirambutnya.

“Bahkan ia sama sekali tidak cantik!” giliran gadis dengan tubuh sedikit berisi yang berkata.

“Kau terlihat seperti anak umur dua belas tahun—lihat gayamu, benar-benar kekanak-kanakan. Twintail?”

Yoojun mengernyit mendengar ketiga gadis itu memaparkan pendapat mereka tentang dirinya. Hingga akhirnya pandangannya beralih ke gadis yang berada ditengah, berambut cokelat panjang dengan mata memicing. Dia belum mengatakan sepatah katapun.

“Lebih baik kau ikut dengan kami karena kami punya urusan denganmu,” ujar gadis dengan rambut cokelat itu. Ia melangkah maju hendak meraih—atau menarik—tangan Yoojun, namun Hyesung lebih dulu menariknya.

Hyesung mendesis. Matanya menatap tanda pengenal yang tersemat pada jas almamater gadis tersebut. Tanda bintang, tentu saja. Batinnya dalam hati. Hyesung, lalu menatap lagi gadis itu dengan tatapan ter-sinis dengan sesekali mendesis. Lagi. “Han Sooyeon? Hei, aku tak melihat bahwa Yoojun punya urusan denganmu.”

“Mungkin karena kelasmu tak punya Hall seperti kelas kami, makanya kau tidak tahu bahwa sebenarnya Yoojun mempunyai urusan dengan kami. Minggir,” jelas gadis bernama Han Sooyeon itu. Dengan cepat ia menarik lengan Yoojun dan membawanya bersama teman-temannya. Disana Hyesung masih bergeming.

Bagaimanapun, ia tahu bahwa Yoojun tak akan baik-baik saja.

Langkah mereka berhenti disebuah tempat yang tak asing bagi Yoojun. Sebuah pintu? Tangga? Beserta peralatan kebersihan? Tak lain dan tak bukan, ini adalah ruangan menuju atap kelas reguler. Yoojun masih tidak mengerti dengan urusan yang mereka maksud. Apalagi tentang Hall sekolah itu. Entahlah, Yoojun mungkin akan mengetahuinya seiring keempat gadis itu berkata.

“Apa kau buta? Tuli?”

Dahi Yoojun mengernyit, “Ne?”

Keobwa, gadis ini pura-pura tidak tahu!”

“Kau, apa kau tidak tahu bahwa kelas reguler tidak boleh bersosialisasi ataupun berhubungan dengan kelas khusus, hah?!”

Gadis bernama Sooyeon itu mengangguk, menyeringai, “Sudah dengar sendiri? Sekarang semua murid kelas khusus dan sebagian kelas reguler sudah mengetahui hubunganmu dengan Kai—orang yang seharusnya menjadi milikku!”

“Se-semuanya sudah tahu?” ucapan Yoojun tergagap. Tenggorokannya tercekat saat mendengar satu persatu kata yang dilontarkan oleh Sooyeon. Begitu juga dengan tambahan-tambahan dari ketiga teman Sooyeon. Yoojun merasa takut. Matanya menatap keempat gadis itu takut, hingga pandangannya menurun.

Hening.

Langkah kaki terdengar jelas ditelinga Yoojun. Lalu tawa dari gadis-gadis dihadapannya membuat pandangan Yoojun menaik lagi, mendongak.

“Hmm, bagaimana kalau kita bicara diatap?” suara Sooyeon melembut. Entah maksudnya apa.

“—benar! Mengingat kita mempunyai privasi.”

Gelagat-gelagat aneh hampir saja membuat Yoojun melontarkan pernyataan tidak pada mereka. Namun, untungnya Yoojun sadar—dengan bodohnya ia mengangguk.

Well, Kau jalan duluan! Karena ini lingkungan kelas reguler dan kau murid reguler. Ayo jalan!” teriak Sooyeon. Lagi-lagi nadanya berubah; mengeras untuk kali ini.

Yoojun mengangguk lemas. Perlahan kakinya melangkah, menaiki tangga perlahan dan yah, menoleh kebelakang dengan sedikit ragu. Didapatinya pandangan sinis dari keempat gadis tersebut—terlebih dari Sooyeon—tersebut dan kemudian melangkah lagi. Gerakannya melambat namun tetap beranjak.

“Kami dibelakangmu, Park Yoojun.” terkekeh.

Napasnya terhembus berat. Kentara sekali kerutan-kerutan didahi Yoojun. Ia tahu gadis-gadis itu merencanakan sesuatu. Sesuatu yang buruk padanya. Apa mereka akan mendorongku dari atap? Yoojun bertanya-tanya dalam hati. Kepalanya perlahan menoleh kebelakang, menatap takut, “Kalian… apa kalian akan mendorongku dari atap?”

“Kalau kau meminta, aku bisa saja melakukannya dengan senang hati. Tapi tidak,” jawab Sooyeon disambut dengan anggukan dari ketiga gadis lain.

Melangkah lagi.

Kali ini Yoojun sudah mencapai pintu atap. Tangannya lantas membuka pintu atap dengan kunci yang sudah tersangkut dipintu tersebut. Setelah berhasil terbuka, gadis itu melangkahkan kakinya lagi keatas dan sampailah ia diatap. Gadis itu melangkahkan lagi kakinya hingga berada tak terlalu dekat dari pintu; bermaksud untuk memberikan celah untuk keempat gadis tersebut. Setelah itu semua, Yoojun refleks menoleh kebelakang. Dimana seharusnya keempat gadis tersebut berada dibelakangnya dan tentu saja dengan pintu yang terbuka—kini hanyalah terdapat pintu yang hampir tertutup hingga…

BLAM!

Benar-benar tertutup.

Yoojun sontak memukul-mukul pintu dan memutar-mutar knop pintunya namun nihil, pintu tersebut tak terbuka. Tawa terdengar jelas ditelinganya, begitu juga suara kunci yang—

“Buka pintunya kumohon!” ronta Yoojun tatkala mengetahui bahwa mereka mengunci pintu atap tersebut.

“Dasar tak punya malu! Kau wanita jalang!” teriak Sooyeon dari balik pintu. Lagi-lagi disusul dengan hinaan yang serupa dari teman-temannya. Ia tertawa kemudian melanjutkan, “Stratamu dengan kami tak akan pernah sama! Kau dan Kim Jong In tak akan pernah bisa bersama, camkan itu!”

Siapapun, tolong aku, batin Yoojun. Air matanya tengah mengalir deras, tak kuasa menahan ucapan-ucapan kasar yang terlontar dari gadis-gadis yang tengah menghinanya habis-habisan. Membuat pola pikir Yoojun yang tadinya secerah pagi yang menyambutnya, menjadi muram… semuram gelapnya malam.

Dibalik pintu itu ia menangis.

“Oh, kau menangis? What a crybaby, Park Yoojun!” sahutan terdengar lagi.

Yoojun terisak, “Ku-kumohon… tolong buka pintunya…”

Gadis-gadis itu malah tertawa, tak menghiraukan pintaan Yoojun untuk membuka pintunya. Yoojun terkesiap, seketika mendengarkan suara kunci yang terlepas dari slot pintu. Panik, gadis itu segera memukul-mukul lagi pintunya. Ia meronta lagi.

“Selamat bersenang-senang disana, Park Yoojun!” teriak mereka secara bersaaan. Lalu terdengar lagi langkah kaki yang menjauh, semakin menjauh hingga tak terdengar lagi suara dari langkah kaki tersebut.  Yoojun semakin panik. Ia kerap memukul-mukul pintunya, memutar-mutar knop pintunya namun nihil, tak ada respon apapun. Kalau saja ia tidak ikut dengan keempat gadis itu, pasti ia sudah merasakan enaknya jajanan di Kantin. Yah, setelah pelajaran olahraga berlangsung, istirahatlah yang akan menyambutnya—yang juga berarti dimulainya pelajaran bagi kelas khusus.

1 Jam…

1 Jam 30 menit…

2 Jam…

Istirahat sudah sedari tadi berlangsung dan yeah, tentu saja sudah digantikan oleh pelajaran selanjutnya. Yoojun refleks merogoh saku roknya, namun ia teringat, ponselnya yang rusak karena terkena hujan sewaktu ia hujan-hujanan itu membuatnya mau tak mau meninggalkan ponselnya dirumah. Jelas, dengan keadaan seperti ini ia tidak dapat menghubungi Hyesung.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?”

Suara pemuda itu membuat Yoojun mendongak. Matanya melebar ketika melihat tatapan datar beserta poker-face yang ditampilkan Sehun padanya. Yah, suara pemuda itu adalah milik Sehun. Gadis berambut hitam itu terkesiap, segera bangun dari duduknya dan membersihkan bekas-bekas air mata dari pipinya.

“Sehun-ssi, apa kau punya kunci pintu atap ini?” tanya balik Yoojun tanpa menjawab pertanyaan Sehun yang sebelumnya.

Sehun lantas merogoh saku celananya, mengambil sebuah kunci keperakan dengan tali dan bandul ber-inisial S. Bentuk kunci tersebut kecil dan simpel. Kemudian ia bertanya, “Maksudnya ini?”

Yoojun seketika menghela napas lega. Ditatapnya lekat-lekat kunci yang berada ditangan Sehun itu dan ia tatap juga slot pintu atap. Sama! Pekik Yoojun dalam hati. Betapa leganya perasaannya kali ini—gadis itu menghela napasnya lagi, tersenyum cerah.

“Uh… Err, aku terkunci diatap ini jadi aku tak bisa kemana-mana—dan well, aku tak senekat itu untuk menerobos keatap kelas khusus. Itu sebabnya mengapa aku bisa disini dan itu juga menjawab pertanyaanmu yang tadi,” jelas Yoojun panjang lebar.

“Lalu kau pikir aku akan membantumu?” Sehun lagi-lagi membuat pernyataan diluar nalar Yoojun—otomatis Yoojun menganga, mendengar pertanyaan tersebut membuatnya tak dapat berkata apa-apa. “Apa untunya bagiku kalau membantumu? Tidak a—”

“Ada!” potong Yoojun.

“Kau—”

“A-akan kutraktir Vanilla Latte!”

No.”

Yoojun mendesah, “Oh, apapun yang penting aku bisa pergi kekelasku!”

“Apapun?” Sehun menyeringai.

“A-apapun yang masuk akal!”

Sehun menyeringai lagi. Terpatri jelas beberapa opsi untuk penawaran yang satu ini. Suatu kebanggan untuk Sehun jika ia meminta Yoojun untuk melakukan apa-apa saja yang terdapat diopsinya. Tapi, Sehun jelas mempunyai rencana tersendiri. Rencana yang sudah tercancang ‘intinya’ semenjak Yoojun menawarkan Vanilla Latte tadi. Rencana yang didalamnya tak terdapat sama sekali satu dari beberapa opsinya. Ya, Sehun akan melakukannya.

Sehun mendekatkan dirinya pada Yoojun, dan berbisik, “Kalau begitu…”

***

Hyesung tengah melirik jam tangan yang melingkar kokoh dipergelangan tangannya. Jarum pendek berwarna merah yang bergerak itu menandakan sudah dua jam Yoojun pergi semenjak mereka berdua berada diluar lapangan basket. Yang berarti juga sudah dua jam Yoojun tak bersamanya; tidak menikmati istirahat pun melewati kelas yang sedang berlangsung sekarang ini.

Engsel pintu berbunyi, pintu terdorong. Disanalah Yoojun masuk dengan penampilan yang cukup berantakan; masih memakai baju olahraga.

“Maaf Ssaem, sa-saya sedang kurang fit… jadi setelah olahraga saya pergi ke UKS,” ucapnya tergesa-gesa.

Hyesung mendongak cepat setelah mendengar suara sahabatnya itu. Dilihatnya Yoojun dengan mata yang agak sembab, tangan yang kemerahan dan rambut ponytailnya yang agak berantakan. Dahinya mengerut—ada sesuatu yang terjadi pada Yoojun dan Hyesung harus mengetahuinya. Apa mungkin…

“Yoojun Haksaeng, lebih baik kamu kembali ke UKS; kamu nampak sakit,” ucap guru lelaki tersebut iba. “Oh iya, tolong diantar ke UKS.”

“…saya yang akan mengantarnya, Ssaem!” seru Hyesung refleks.

“Baiklah, jaga diri kalian.”

Hyesung membopong Yoojun, meletakkan lengan Yoojun dipundaknya lalu berjalan keluar kelas. Hingga kiranya agak jauh, barulah Hyesung melepaskan lengan Yoojun dari pundaknya. Gadis berperawakan tinggi itu menatapi Yoojun lekat. Seketika tatapannya berubah sinis, menurun.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Hyesung sarkastik.

Yoojun terperanjat, namun memilih untuk tak menjawab. Gadis itu diam seribu bahasa meskipun telah berkali-kali ditanyakan oleh Hyesung; ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Yoojun. Sarat wajahnya yang tak bisa didefinisikan dengan perkataan itu makin membuat Hyesung ingin tahu.

Mereka akhirnya sampai di UKS. Disambut oleh seorang dokter jaga dan petugas UKS, Hyesung dan Yoojun masuk kedalamnya. Yoojun memang tidak sakit, namun penampilannya mengarah seperti orang yang sedang sakit—mereka senang, setidaknya tak harus berpura-pura sakit dengan wajah memelas. Tidak, terlebih tidak bagi Hyesung. Dan setelah mengatakan alasan mereka pergi ke UKS, dokter beserta petugas UKS itupun meninggalkan UKS—karena tak ada kepentingan lagi—tentu setelah memberikan amanat pada Hyesung untuk menjaga UKS sekaligus temannya.

Yoojun berbaring, menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat. Dipikirannya banyak sekali hal-hal yang harus dipertimbangkan. Yah, sesuatu yang memang sudah ditetapkan tapi belum ia pertimbangkan.

“Jadi, aku terkunci di Atap, Hyesung-ie…” ucap Yoojun tiba-tiba. Membuat Hyesung dengan segera menoleh kearahnya. “…aku mengikuti semua yang mereka perintahkan padaku. Lalu semua ucapan-ucapan yang mereka lontarkan padaku setelah sukses mengunciku di Atap sekolah itu masih jelas sekali terngiang, ditelingaku.”

“Lalu bagaimana bisa kau keluar dari Atap?” tanya Hyesung to the point.

“Ah kalau itu, aku dibantu oleh seseorang.”

“Seseorang?”

“Oh Sehun. Namanya Oh Sehun. Murid kelas khusus atau singkatnya, dia teman dekatnya Kai,” jelas Yoojun sambil bangkit dari tidurnya, duduk bersandar. Aroma terapi yang berasal dari pengharum ruangan itu membuat keadaan makin terasa sepi. Yah, kalau saja UKS berada didekat area lapangan, sudah pasti akan terasa ramai.

Kini giliran Hyesung yang diam. Berpikir sejenak, namun terkadang ia sendiri bingung dengan apa yang harus ia pikirkan. Nama yang dilontarkan Yoojun tadi serasa tidak asing, serasa familier, serasa… pernah melihatnya.

Oh, Hyesung ber-oh ria dalam hati.

“Ya ampun, Hyesung-ie! Aku benci sekali dengannya!” seruan yang berasal dari Yoojun membuat gadis berambut hitam panjang itu sontak terperanjat—hampir melompat kalau saja Yoojun berseru dengan volume lebih kencang. Mungkin. “Aku saat itu sedang panik. Melihatnya datang dan ia juga mempunyai kunci atap kelas reguler membuatku makin panik hingga aku melontarkan perkataan-perkataan diluar akal sehat; Aku menawarkannya apapun asal aku bisa keluar dari Atap.”

Alis Hyesung bertaut setelah mendengar ucapan Yoojun barusan. Bertanya-tanya lagi dalam hati meskipun awalnya ia sempat tak peduli. Ini karena menyangkut apapun yang berarti, mempunyai banyak kemungkinan.

“Sekarang aku benar-benar mengakui kalau kau itu bodoh,” ujar Hyesung dengan wajah datar seperti biasa.

Yoojun jelas mengulum bibirnya kesal. Sedikit meng-iyakan kelakuannya tadi pada Sehun. Iya, dia tahu dia bodoh. Tapi sepenuhnya menyalahkan keadaan yang mendesaknya mengeluarkan kata-kata itu. She’s blurt out.

“Dan dia meminta?” tiba-tiba Hyesung bertanya.

“Kencan denganku.”

Hyesung tertawa—hingga sadar perkataan Yoojun barusan. Matanya setengah melebar, mulutnya terbuka. Tidak, ini tidak baik.

“HAH?!”

TBC

Iklan

19 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 7 Part A)

  1. Sehun sama Kai bias gue di EXO tapi disini gue lebih suka Yoojun sama Kai soalnya kalo baca bagian mereka bikin greget (?) terus kalo sama Sehun juga suka sih soalnya bikin gemes (?) bingung nih gak bisa FF-nya! Hohohoho.. Apalagi nih rencanya Sehun?? Penasaran! Ayo lanjutkan!

  2. Sehun sama Kai bias gue di EXO tapi disini gue lebih suka Yoojun sama Kai soalnya kalo baca bagian mereka bikin greget (?) terus kalo sama Sehun juga suka sih soalnya bikin gemes (?) bingung nih gak bisa nebak FF-nya! Hohohoho.. Apalagi nih rencanya Sehun?? Penasaran! Ayo lanjutkan!

  3. hoho, don’t worry thor, aku justru suka sama cerita yang panjang, lebih puas bacanya 😉
    kalo yoojun ga mau, aku siap kok *tadangin tangan *digaplok hyesung xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s