Fallen (Chapter 4 Part B)

Tittle    : Fallen | Part 4b: Tugas Di Pekuburan

Author : Park Ji-Eun

Main Cast :    •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :     •    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Choi Jin Hee (OC)

•    Roland Sparks (OC)

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy, Western-Life

Sumber : FALLEN karya Lauren Kate

Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang,

itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar

daripada orang yang tak bisa makan.

Kita harus saling merasakan hal itu.

― Bunda Teresa

CHAPTER 4B:

TUGAS DI PEKUBURAN

                “Gosok-sok-gosok,” sahut Amber, nyaris bersenndung. “Aku suka berpura-pura sedang memandikan mereka.” Dengan kata-kata itu, ia memanjat si malaikat raksasa, mengayunkan kaki di lengan patung yang menangkis kilat, seakan patung itu pohon ek kokoh yang bisa dipanjat.

Karena ngeri dikira mencari masalah lagi dengan Ms. Park, Gi Eun mulai menggaru bagian dasar patung. Ia mencoba menyingkirkan tumpukan daun basah yang seperti tak ada habisnya.

Tiga menit kemudian, lengannya serasa hampir copot. Jelas ia tidak mengenakan pakaian yang cocok untuk pekerjaan kasar berlumpur ini. Gi Eun belum pernah di hokum selama di Dover, tapi yang ia dengar, hukumannya berupa mengisi selembar kertas dengan tulisan “Aku tidak akan mencontek dari Internet” beberapa ratus kali.

Ini biadab. Terutama karena yang ia lakukan hanyalah tak sengaja menabrak Jin Hee di kantin. Ia berusaha tidak terburu-buru menarik kesimpulan buruk, tapi membersihkan lumpur dari makam orang-orang yang meninggal lebih dari seabad lalu? Gi Eun benar-benar membenci hidupnya saat ini.

Lalu seberkas cahaya matahari akhirnya menembus pepohonan, dan tiba-tiba saja ada warna di pekuburan. Dalam sekejap Gi Eun merasa lebih ringan. Ia bisa memandang lebih dari tiga meter di hadapannya. Ia bisa melihat Luhan… bekerja berdampingan dengan Jin Hee.

Hati Gi Eun menciut. Perasaan ringannya lenyap.

Gi Eun menatap Amber, yang meliriknya dengan enuh simpati tapi tetap meneruskan pekerjaannya.

“Hei,” Gi Eun berbisik keras.

Amber menempekan satu jari di bibir tapi mengisyaratkan Gi Eun untuk memanjat ke sebelahnya.

Dengan gerakan yang jauh kalah sigap dan tangkas, Gi Eun menyambar lengan patung dan mengayunkan tubuh ke atasnya. Begitu yakin tak akan jatuh ke tanah, ia berbisik, “Jadi… Luhan berteman dengan Jin Hee?”

Amber mendengus. “Tidak mungkin, mereka benar-benar saling membenci,” ia berkata cepat, lalu terdiam. “Kenapa kau bertanya?”

Gi Eun menunjuk kea rah mereka berdua, yang tidak melakukan pekerjaan apapun untuk membersihkan semak-semak dari makam. Mereka berdiri berdekatan, bersandar pada garu dan mengobrolkan sesuatu yang Gi Eun harap bisa didengarnya. “Menurutku, mereka kelihatannya berteman.”

“Ini hukuman,” Amber berkata datar. “Kau harus berpasangan. Apa kau piker Roland dan Chester si Pengganggu berteman?” Ia menunjuk kea rah Roland dan Kris. Mereka kelihatannya berdebat tentang cara terbaik membagi tugas mereka untuk membersihkan patung sepasang kekasih itu. “Sobat pada masa hukuman tidaksama dengan sobat dalam kehidupan nyata.”

Amber menoleh kembali pada Gi Eun, yang bisa merasa ekspresi wajahnya berubah kecewa, walaupun ia berusaha kelihatan tidak terpengaruh.

“Dengar, Gi Eun, aku tidak bermaksud…” Suaranya menghilang. “Oke, di samping kenyataan bahwa kau membuatku kehilangan waktu dua puluh menit yang berguna pagi ini, aku tidak punya masalah denganmu. Malah, kurasa kau cukup menarik. Semacam angin segar. Aku tidak tahu apa yang kau harapkan dari persahabatan di Sword & Cross ini. Tapi biarkan aku jadi orang pertama yang memberitahumu, persahabatan di sini tidak semudah itu. Orang-orang berada di sini karena punya masalah besar. Maksudku, benar-benar besar. Mengerti?”

Gi Eun mengangkat bahu, merasa malu. “Aku hanya bertanya.”

Amber mencibir. “Apakah kau selalu sedefensif ini? Apa sih yang kau lakukan sampai masuk ke sini?”

Gi Eun tidak ingin membicarakannya. Mungkin Amber benar, ia tidak akan lebih baik kalau tak berusaha mencari teman. Ia melompat turun dan kembali menghajar lumut di dasar patung.

Sayangnya,  Amber penasaran. Ia juga melompat turun, dan menekankan garunya ke atas garu Gi Eun untuk menahannya.

“Ooh, ceritakan padaku, ceritakan padaku, ceritakan padaku,” ia merengek.

Wajah Amber begitu dekat dengan wajah Gi Eun. Mengingatkan Gi Eun pada kejadian kemarin, saat ia membungkuk di atas tubuh Amber setelah gadis itu kejang-kejang. Mereka sempat merasa dekat, bukan? Dan ada bagian diri Gi Eun yang ingin sekali membicarakan masalah ini dengan seseorang. Ia mengalami musim panas yang panjang dan tegang bersama orangtuanya. Ia menghela napas, menempelkan dahi ke gagang garu.

Mulutnya masam karena perasaan gugup, tapi ia tidak bisa menelannya. Kali terakhir ia menceritakannya dengan terperinci karena ada perintah pengadilan. Ia bisa saja segera melupakannya, tapi semakin lama Amber memandangnya, kata-kata itu semakin jelas dalam benaknya, dan semakin ingin diucapkannya.

“Pada suatu malam aku bersama seorang teman,” ia mulai menjelaskan, menarik napas panjang dan dalam. “Dan sesuatu yang mengerikan terjadi.” Ia memjamkan mata, berdoa ingatan  saat itu tidak muncul di balik kelopak matanya. “Terjadi kebakaran. Aku berhasil keluar… dan pria itu tidak.”

Amber menguap, tidak sengeri Gi Eun dengan cerita itu.

“Lalu,” Gi Eun melanjutkan, “setelah kejadian itu, aku tidak bisa mengingat rinciannya, bagaimana kejadiannya. Yang bisa kuingat—setidaknya, yang kuceritakan pada hakim—kurasa mereka mengira aku sudah gila.” Ia mencoba tersenyum, tapi rasanya seperti dipaksa.

Yang mengejutkan Gi Eun, Amber meremas bahunya. Dan sesaat wajah Amber terlihat begitu tulus. Lalu ekspresinya kembali mengejek.

“Kita semua sangatdisalahartikan, bukan?” Amber menusuk perut Gi Eun dengan jari. “Tahu tidak, aku dan Roland baru saja membicarakan bahwa kami tidak punya teman pyromaniac. Dan semua orang tahu kau membutuhkan pyro handal untuk melakukan kejailan sekolah anak nakal yang seru.” Amber mulai berencana. “Roland pikir mungkin anak baru yang satu itu, Chanyeol, tapi aku lebih memilihmu. Kita semua harus bekerja sama kapan-kapan.”

Gi Eun menelan ludah dengan susah payah. Ia bukan pyro. Tapi ia sudah bosan membicarakan masa lalunya; ia bahkan tidak punya niat membela diri.

“Ooh, tunggu sampai Roland mendengar ini,” kata Amber, melempar garunya. “Kau seperti mimpi kami yang jadi kenyataan.”

Gi Eun membuka mulut untuk memprotes, tapi Amber sudah melesat pergi. Sempurna, piker Gi Eun, sambil mendengarkan suara sepatu Amber menginjak lumpur. Kini hanya tinggal menunggu waktu sebelum berita ini menyebar ke seluruh pekuburan hingga ke telinga Luhan.

Sendiri lagi, ia mendongak kea rah patung. Walaupun ia sudah membersihkan setumpuk tinggi lumut dan rumput basah, malaikat itu kelihatan lebih kotor daripada sebelumnya. Tugas ini kelihatannya tidak berguna. Lagi pula ia tidak yakin ada orang yang pernah mengunjungi tempat ini. Ia juga tidak yakin para terhukum lain masih bekerja.

Secara tidak sengaja pandangan matanya jatuh pada Luhan, yang bekerja. Pria itu dengan tekun menggosokkan sikat kawat untuk membersihkan jamur dari permukaan prasasti perunggu makam. Ia bahkan menggulung lengan baju hangatnya, dan Gi Eun bisa melihat ototnya yang menegang saat ia bekerja. Gi Eun menghela napas, dan—tidak bisa menahan diri—menumpukan siku pada malaikat batu untuk memperhatikan Luhan.

Sejak dulu ia memang pekerja keras.

Gi Eun cepat-cepat menggeleng. Dari mana datangnya pikiran itu? Ia sama sekali tidak tahu apa artinya. Tetapi, ia yang memikirkannya. Itu seperti istilah yang kadang muncul dalam benaknya sebelum ia terlelap. Celoteh tidak masuk akan yang tak bisa dihubungkandengan apapun di luar mimpi-mimpinya. Tapi ia kan sepenuhnya terjaga sekarang.

“Sebaiknya kau jauhi dia,” kata suara dingin di belakangnya.

Gi Eun berbalik cepat dan melihat Jin Hee, sikap tubuhnya sama dengan kemarin: kedua tangan dipinggang, hidung yang ditindik mendengus marah. Sunny pernah berkata bahwa keputusan mengejutkan Sword & Cross yang memperbolehkan tindik wajah berasal dari keengganan Kepala Sekolah menyingkirkan anting berlian di telinganya.

“Siapa?” ia bertanya pada Jin Hee, menyadari dirinya terdengar bodoh.

Jin Hee memutar mata. “Percayalah padaku jika aku memberitahumu bahwa jatuh cinta pada Luhan adalah ide yang sangat, sangat buruk.”

Sebelum Gi Eun menjawab. Jin Hee sudah pergi. Tapi Luhan—seakan mendengar namanya disebut—menatap tepat kea rah Gi Eun. Lalu berjalan tepat kea rah Gi Eun.

Gi Eun tahu matahari telah lenyap di balik awan. Jika mampu melepaskan pandangat dari tatapan pria itu, ia bisa mendongak dan melihatnya sendiri. Tapi ia tidak bisa mendongak, ia tidak sanggup membuang muka, dan entah kenapa, ia harus menyipitkan mata untuk menatap pria itu. Seakan Luhan mengeluarkan cahayanya sendiri, seolah pria tersebut membutakan matanya. Deringan kosong memenuhi telinganya, dan kedua lututnya mulai gemetar.

Ia ingin memungut garu dan berpura-pura tidak melihat pria itu menghampirinya. Tapi sudah terlambat untuk bersikap tak peduli.

“Apa kata Jin Hee padamu?” Luhan bertanya.

“Ehm,” Gi Eun, mencoba, memutar otak untuk mencari kebohongan yang masuk akal. Tidak menemukan apapun. Ia mengertakkan buku-buku jari.

Luhan menangkupkan tangan di atas tangan Gi Eun. “Aku benci jika kau melakukannya.”

Gi Eun reflex menarik tangan. Sentuhan tangan Luhan pada tangannya hanya sekejap, tapi ia merasakan wajahnya merona. Pasti maksud Luhan siapa pun yang mengertakkan buku jari membuatnya kesal, bukan? Karena dengan mengatakan ia benci ketika Gi Eun melakukannya, menunjukkan pria itu pernah melihatnya melakukan itu. Dan itu tidak mungkin. Luhan kan nyaris tidak mengenal dirinya.

Lalu kenapa ini terasa seperti pertengkaran yang pernah mereka lakukan?

“Jin Hee menyuruhku menjauhimu,” akhirnya Gi Eun menjawab.

Luhan memiringkan kepala, seperti menimbang-nimbang. “Rasanya ia benar.”

Gi Eun bergidik. Sebentuk bayangan melayang di atas mereka, cukup lama menyelubungi wajah patung malaikat sehingga membuat Gi Eun khawatir. Ia memejamkan mata dan mencoba bernapas, berdoa semoga Luhan tidak menyadari ada yang aneh.

Tapi rasa pank menguasai dirinya. Ia ingin lari. Ia tidak bisa lari. Bagaimana jika ia tersesat di dalam pekuburan?

Luhan mengikuti arah pandangannya ke langit. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Jadi apa kau akan melakukannya?” Luhan bertanya, sambil melipat tangan di depan dada, menantang.

“Apa?” kata Gi Eun. Lari?

Luhan maju selangkah mendekati Gi Eun. Kini Luhan hanya berjarak kurang dari tiga puluh sentimeter dari Gi Eun. Gi Eun menahan napas. Ia menjaga jarak agar tubuhnya tidak bergerak. Ia menunggu.

“Apa kau akan menjauh dariku?”

Kedengarannya nyaris seperti Luhan menggodanya.

Tapi Gi Eun benar-benar tidak mengerti. Kedua alisnya basah oleh keringat, dan ia menekan pelipis dengan dua jari, mencoba menguasai diri kembali, mencoba tersadar dari pengaruh pria itu. Ia benar-benar tidak siap untuk balas menggoda. Jika pria itu memang menggodanya.

Gi Eun mundur saru langkah. “Kurasa begitu.”

“Aku tidak mendengarmu,” Luhan berbisik, mengangkat satu alis dan mengambil satu langkah lebih dekat.

Gi Eun mundur lagi, kali ini lebih jauh. Ia menabrak dasar patung, dan bisa meraskan kaki patung malaikat yang kasar menorah punggungnya. Bayangan kedua yang lebih gelap dan dingin melesat di atas mereka. Ia berani bersumpah Luhan ikut bergidik bersama dirinya.

Kemudian erangan dalam sesuatu yang berat mengejutkan mereka. Gi Eun tersentak saat puncak marmer merunduk kea rah mereka, seperti batang pohon yang berayun tertiup angin. Sesaat patung itu kelihatan seperti mengambang di udara.

Gi Eun dan Luhan berdiri menatap patung malaikat itu. Keduanya tahu patung itu kaan tumbang. Kepala patung malaikat tersebut menunduk perlahan kea rah mereka, seakan berdoa—lalu patung itu mulai meluncur cepat ke bawah. Gi Eun merasa Luhan seketika memeluk pinggangnya denagn erat, seakan pria itu tahu persis bentuk tubuh Gi Eun. Tangannya yang lain menutupi kepala Gi Eun dan mendorongnya ke bawah tepat ketika patung itu terguling ke atas mereka. Tepat ke tempat mereka berdiri. Patung tersebut mendarat dengan suara berderak yang amat nyaring—bagian kepala melesak ke dalam lumpur, sementara bagian kakinya masih melekat pada alas, membentuk rongga segi tiga di bawah, tempat Luhan dan Gi Eun berjongkok.

Mereka terengah-engah, hidung dekat dengan hidung, mata Luhan memancarkan ketakutan. Antara tubuh mereka dan patung itu, hanya ada jarak beberapa sentimeter.

“Gi Eun?” Luhan berbisik.

Yang bisa di lakukan Gi Eun hanya mengangguk.

Kedua mata Luhan menyipit. “Apa yang kaulihat tadi?”

Lalu muncul tangan dan Gi Eun merasakan tubuhnya ditarik dari rongga di bawah patung. Ia merasa punggungnya tergores lalu ada udara segar. Ia melihat cahaya pergi lagi. Murid-murid yang dalam hukuman berdiri ternganga, kecuali Ms. Park, yang menatap marah, dan Kris, yang membantu Gi Eun berdiri.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Kris, memperhatikan seluruh tubuh Gi Eun untuk mencari luka torehan dan memar lalu menepiskan tanah dari bahu Gi Eun. “Aku melihat patung itu jatuh dan aku berlari ke sini untuk mencoba menghentikannya, tapi patung itu sudah… kau pasti ketakutan sekali.”

Gi Eun tidak bereaksi. Ketakutan hanya sebagian kecil dari yang ia rasakan.

Luhan, sudah berbalik lagi, bahkan tidak menoleh ke belakang untuk melihat apakah Gi Eun baik-baik saja atau tidak. Ia hanya berjalan menjauh.

Mulut Gi Eun ternganga ketika melihat pria itu melangkah pergi, ketika ia menyaksikan semua orang kelihatannya tidak peduli bahwa pria itu pergi begitu saja.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Ms. Park.

“Aku tidak tahu. Satu menit, kami berdiri disana”—Gi Eun melirik Ms. Park—“ehm, sambil bekerja. Kemudian yang aku tahu, patung itu jatuh begitu saja.”

Sang Albatross membungkuk untuk memeriksa patung malaikat yang hancur. Bagian kepalanya patah tepat di tengan. Ia mulai menggumamkan sesuatu tentang kekuatan alam dan batu-batu kuno.

Tapi suara di dekat telinga Gi Eun yang tetap terngiang, bahkan setelah semua kembali bekerja. Jin Hee yang berbicara, hanya beberapa sentimeter di belakang bahunya, berbisik, “Kelihatannya ada yang harus mulai mendengarkan ketika aku memberikan saran.”

To Be Continue

Buat yang udah baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

Iklan

15 pemikiran pada “Fallen (Chapter 4 Part B)

  1. makin seru..

    akhir nya Luhan ‘ngobrol’ juga dgn Gi Eun, adegan nya juga rada gimana~ gitu

    jadi nanti Gi Eun dgn siapa nih??
    Kris ato Luhan??
    ato malah sama Amber???
    hahaha, yg penting lanjutan nya dulu deh thor,
    cepet publish yak, panjangin lagi donk~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s