Hello Mr. Wu! (Chapter 5)

hmw5

Title: Hello Mr. Wu! Part 5

Sub-Title: Mental Break Down

Cast:

Song Yeon Ah

EXO M Kris

& other EXO members.

Author: @rollingkris

Genre: Romance, Angst.

*

“Yeon Ah, kita jadian saja. Bagaimana?”

Yeon Ah membeku di tempatnya setelah Kris secara blak-blak-an menembaknya.Ia hanya menatap kosong ke arah lantai. Ia tidak ingin menyetujui ajakan Kris, karena semua yang terjadi di antara mereka berdua sangatlah tidak logis. Pertama, mereka baru mengenal satu sama lain selama 5 hari. Dan itu juga tidak sepenuhnya, karena bahkan Yeon Ah tidak tahu siapa dirinya. Kedua, Kris memiliki tunangan, tidak sepantasnya kan Kris berkencan dengannya? Ketiga, Yeon Ah tidak menyukai Kris.Atau tidak ingin menyukai Kris.Keempat, saat ini pria itu sedang mabuk, mungkin saja dia sedang tidak sadar saat mengatakan sesuatu.Empat alasan yang membuat Yeon Ah bisa menolaknya.Tapi entah kenapa, dia tidak ingin menolak Kris.

“Yeon Ah..” terdengar seretan kaki Kris mendekati Yeon Ah dan tiba-tiba, ia memeluk Yeon Ah dari belakang. Gadis itu terhenyak saat ia dipeluk dengan erat oleh Kris, seakan pria itu berpegang hanya padanya. Nafas Kris yang hangat terasa di tengkuk dan telinga Yeon Ah, membuat wajah gadis itu memerah.

“Kau… menyukaiku tidak?” tanya Kris perlahan-lahan, suaranya begitu serak dan dalam.

Yeon Ah semakin terhanyut dalam pelukan Kris, tapi ia terlalu benci merasa tidak berdaya seperti itu. Yeon Ah melepaskan tangan Kris dari bahunya dan ia meletakkan telapak tangannya di dada Kris agar pria itu menjaga jarak darinya.

“Kris..aku tidak bisa…” ujar Yeon Ah. Dia menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku…” Yeon Ah ingin pergi.

Tapi sebelum Yeon Ah bahkan sempat membalik tubuhnya, Kris tiba-tiba ambruk, kepalanya bersandar di bahu Yeon Ah.Beruntung gadis itu cukup kuat untuk menopang tubuh besarnya.

“Aigoo Kris!!!” bentak gadis itu, tapi Kris sudah pulas tertidur.Bau alkohol yang menusuk menguar dari bibirnya.Yeon Ah hanya bisa menghela nafas.

*

Besoknya, Yeon Ah bangun pagi seperti biasa.Maksimal pukul 6 dia sudah berdiri dari tempat tidurnya.Setelah menyelesaikan urusan pagi seperti cuci muka dan buang air kecil, Yeon Ah berjalan menuju dapur untuk mencari makanan. Dia mengambil dua buah telur, memasaknya menjadi dua telur mata sapi yang sederhana, lalu ia menyajikannya bersama dengan dua gelas susu. Satu porsi untuknya sendiri dan satu porsi untuk Kris ketika dia sudah bangun nanti. Yeon Ah menghabiskan sarapannya dengan tenang kemudian ia pun pergi ke kamar Kris, hendak membangunkan pria itu.

Yeon Ah tidak mengetuk terlebih dahulu karena ia tahu Kris tidak pernah mengunci pintunya seheboh apapun dia melarang Yeon Ah masuk. Pandangan Yeon Ah sudah mengarah ke tempat tidur Kris yang majestic itu, tapi Yeon Ah tidak menemukan Kris disana.Yeon Ah membeku di tempatnya karena terkejut atas hilangnya Kris.Gadis itu mulai mencari-cari ke seluruh penjuru rumah dengan kalap, dia khawatir. Jangan-jangan Kris mabuk lagi dan pergi keluar rumah dan…

Yeon Ah mulai panik saat ia menggeledah kamar Kris untuk yang kedua kalinya -namun kemudian terdiam. Ternyata pria itu ada di pojok ruangan, yang tidak kelihatan oleh Yeon Ah.Dia sedang sibuk mengetik dan tampak kacau.Rambutnya acak-acakan, kausnya basah oleh keringat.Matanya juga berapi-api memandangi layar komputer.Yeon Ah sendiri sangat syok melihatnya. Jangan-jangan dia belum tidur sampai sekarang!

“Kris kau belum tidur??”

Kris menoleh dengan kecepatan 1cm / 50 sekon – yang berarti sangat lama. Wajahnya sangat mengerikan saat itu, ia tampak lebih pucat, matanya menyipit dan berwarna merah dengan kantung mata yang besar, sangat mirip Tao tapi versi pirangnya.

“KRIS KAU TIDAK TIDUR!” pekik Yeon Ah sementara Kris hanya menggaruk pipinya lalu mendesah malas.Ia mengunyah entah apa, mungkin ludahnya sendiri, hingga akhirnya ia menjawab,

“Bagaimana aku bisa tidur kalau kau menolakku?” lalu Kris lanjut mengetik, membiarkan Yeon Ah terombang-ambing hanya dalam beberapa detik saja.

Eh? Apa? Dia bilang apa tadi?? Berarti..kemarin dia sadar dong saat dia bilang ingin jadian denganku! Batin Yeon Ah.

“K-kau..kok kau tau? Bukannya kemarin mabuk berat??”Yeon Ah mulai tergagap-gagap menghadapi pria itu.

“Aku mabuk, tapi aku masih sadar apa yang aku katakan tahu.” ujar Kris tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer.

“Ja-jadi kau serius?”

“Serius atau pun tidak serius, mabuk atau pun tidak mabuk, kau akan tetap menolakku kan? Aku tahu kok.”

“A-aniyo!”

Suara ketikan jari Kris di keyboard seketika berhenti.Kemudian matanya melirik Yeon Ah yang masih berdiri di ujung pintu itu.

“Katakan padaku yang jelas,”

“Apa?”

“Perihal perasaanmu padaku.Apa kau menyukaiku juga? Atau aku bertepuk sebelah tangan denganmu?”

Yeon Ah membesarkan matanya karena bingung mau menjawab apa. Dia, gengsi.Sekaligus tertohok.Jadi pria itu sudah lama memendam perasaannya padanya?

“Uhm..itu.. itu.. aku.. kadang mengagumimu.. aku tidak tahu.. t-tapi-“

“Kita pacaran?”

“Ngg-nggh..aku..”

“Eish.Sudahlah.Aku tau aku memang bertepuk sebelah tangan!” Kris hampir berbalik lagi untuk mengetik hingga Yeon Ah dengan spontan memekik, “Iya ayo pacaran!!”

*

Kris menyantap sarapannya dalam diam, begitu juga Yeon Ah. Rasa-rasanya yang dilakukan gadis itu hanya minum air putih selama jam sarapan itu, ia ingin melegakkan tenggorokannya yang kering. Saat itu, harus diakui bahwa mereka berdua menjadi canggung.Dua-duanya terlalu gugup bahkan hanya untuk sekedar menatap wajah masing-masing.Tidak ada pergerakan yang spesial, atau yang romantis dari pasangan baru 10 menit itu. Hingga akhirnya Kris sadar bahwa dia hampir terlambat untuk bertemu dengan seseorang, ia pun bangkit berdiri dari kursi makannya.

“Aku kerja dulu.” ujarnya datar, tegas, dan tanpa perasaan berlebih.Ia masih tidak sanggup melihat wajah pacarnya.

“Ngg.. hati-hati di jalan.” balas gadis itu tak kalah datar. Kemudian tanpa memandang Kris pula, ia langsung membereskan meja makan. Kris memperhatikan tingkah lucu Yeon Ah untuk sementara, ia sempat terkekeh, tapi akhirnya ia pergi setelah mengucapkan selamat tinggal yang parah canggungnya.

*

“Kenapa anak itu tiba-tiba jadi pemalu begitu sih?Apa dia belum pernah pacaran?? Ah. Tapi aku juga.”Kris bicara sendiri di dalam mobilnya yang sedang melaju menuju sebuah kafe di daerah perbelanjaan Dongdaemun. Sebenarnya pagi itu Detektif Jong In mengirimkan SMS padanya untuk bertemu, sepertinya ia telah menemukan berbagai penemuan baru soal Song Yeon Ah.

Kim Jong In sedang menyesap teh hijaunya ketika Wu Fan datang dan langsung duduk di seberang pria berpakaian hitam-hitam itu. Jong In pun meletakan cangkir tehnya dan memberikan salam yang sopan pada Wu Fan.

“Ada perkembangan apa tentang Yeon Ah, detektif Jong In?”Kris memulai pembicaraan langsung pada topiknya.

“Baik.Kemarin aku baru menyelidiki tentang kampusnya, dan tebak apa yang kudapatkan.” Jong In menyerahkan sebuah map tipis pada Kris, yang langsung dibuka karena tidak sabar.

Di dalam map tersebut ada sebuah foto besar yang menunjukkan wajah seorang laki-laki muda dalam balutan seragam SMA-nya. Sepertinya diambil di hari kelulusannya.

Wajah laki-laki itu agak mirip dengan wajah Yeon Ah, kecuali matanya yang kaku dan sengit.Kris membalik halamannya dan sekarang tampaklah laki-laki mungil itu di sebelah Yeon Ah.Kris mengerutkan dahinya.

“Oke, siapa laki-laki ini?”Kris melirik Jong In.

“Kakak laki-laki Yeon Ah, Xi Luhan.”

Kris terhenyak sesaat sambil ia bolak-balik melihat dua foto itu lagi. Foto itu sukses membuat Kris kaget.

“Xi Luhan juga sempat bersekolah di kampus yang sama dengan Yeon Ah, dan dia adalah kakak tiri Yeon Ah dari ibu tirinya.Keluarga kandung Yeon Ah hanya tersisa ayahnya, karena ibu kandung Yeon Ah sudah meninggal juga.”

Kris masih tidak mengerti dengan penjelasan Jong In, ia bertanya lagi

“Jelaskan kenapa wajah mereka mirip.”

“Ayah Yeon Ah menikah terlebih dahulu dengan ibu Luhan dan akhirnya memiliki satu anak laki-laki. Lalu ayah Yeon Ah bercerai dengan ibu Luhan karena ibunya berselingkuh dengan pria lain. Akhirnya ayah Yeon Ah menikah lagi dengan ibu Yeon Ah kemudian lahirlah anak perempuan mereka.”

Kris menutup map itu lalu ia mengurut keningnya. Ia agak pusing dengan hubungan keluarga Yeon Ah ini, tapi lalu ia penasaran dengan Xi Luhan.

“Terus?Apa kau berhasil menghubungi Luhan??”

“Hmm.. sayangnya, tidak. Xi Luhan tidak pernah menamatkan kuliahnya. Dia pergi dari Jepang di masa kuliah ke Amerika, entah karena alasan apa. Dan sejak itu tidak ada yang tahu lagi Luhan ada dimana atau pun apa yang dia kerjakan.”

“Aneh sekali..”Kris menyesap tehnya yang mulai dingin.

“Terima kasih banyak Jong In.” ujar Kris akhirnya setelah tehnya habis.Ia pun mengambil sebuah amplop panjang yang tebal berisi jutaan won dari balik jasnya dan menyerahkannya pada detektif muda itu.

“Selamat bekerja lagi”

Kris kembali ke kantornya seusai jam makan siang dan menemukan Suho masih menyantap bekalnya di meja kerjanya.

“Ey, Suho.” Kris menyapanya sambil duduk di meja Suho tepat di samping tempat Suho makan.Pria yang lebih tua itu hampir tersedak karenanya.

“Yak, jangan mengagetkanku!”

“Haha iya iya, kau kan sudah ringkih di usiamu yang-“

“Kau mau bilang apa??” Suho mengacungkan sendoknya yang masih ada bekas-bekas saus asam manis dari bekalnya.

“Jangan sampai kemeja desainermu itu kena saus!” Suho mengancam Kris dengan sendoknya itu dan bocah pirang itu pun langsung berdiri menjauhi Suho.

“Aih HYUNG!”

dan mereka berdua pun tertawa bersama-sama.

“Sini, duduk lagi..”Suho -dengan senyum kebapak-annya- menepuk mejanya yang tentu saja langsung diduduki Kris dengan semangat.

“Hmm… Aku punya sesuatu..” ujar Suho yang sudah berhenti makan.

“Apa?”

Suho menarik salah satu lacinya kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari dalam.Ia menyerahkannya pada Kris.

“Apa ini..”

“Buka saja.”

Kris menyipitkan matanya pada Suho lalu pada amplop itu, tapi karena dia sangat penasaran, ia membukanya dengan tidak sabar. Kris menggenggam dua tiket.

“Ap-“

“Kau lelah, aku tahu, Kris.Makanya kau harus berlibur.Itu tiket untuk pulang ke Amerika, waktunya hanya seminggu.”

Kris termenung menatap dua lembar tiket itu. Dia akan pulang ke Amerika. Berarti dia akan pergi ke makam orang tuanya dan itu akan mengembalikan trauma di dalam dirinya.

“Tapi kenapa dua tiket? Kau akan ikut bersamaku kan, hyung??”

“Tidak.”Suho menggeser salah satu tiket dari tangan Kris.

“Itu untuk Ye Seol.”

Kali ini Kris membeku di tempatnya.Dia memandang Suho tidak percaya.

“Kupikir akan lebih baik kalau kau berlibur, bersantai, sekaligus menyembuhkan luka di hatimu dan menembalikan dirimu yang periang itu bersama orang yang kau cintai.” Suho tersenyum manis, tapi wajah Kris masam.

“Tapi aku tida-“

“Jangan membohongi dirimu sendiri, Kris, aku tahu kau mencintainya.”

Tidak, hyung, kau tidak tahu apa-apa tentangku.

*

“Kau mau ke Amerika bersamaku tidak?”

Kris takut-takut memandangi gadis yang duduk di lantai, sedang menonton tv. Gadis itu menengok ke arah Kris, rasa heran terpancar jelas di matanya.Dan dia tidak menjawab, karena bingung.

“Kalau kau setuju, dua hari lagi kita akan pergi ke Amerika.” ujar Kris kemudian.Gadis itu masih diam.

“Oh ayolah Song Yeon Ah, pergilah denganku..Ya?Ya?”Kris menggigit bibirnya hanya untuk anggukan dari Yeon Ah.

“Buat apa?Dan kenapa kau panik begitu?” ujar Yeon Ah akhirnya, dengan raut datar yang paling datar, membuat Kris bahkan semakin gugup.Aneh, padahal dia biasanya arogan dan dingin hingga semua orang mau-mau saja menurutinya, tapi entah kenapa hanya pada Yeon Ah dia begini grogi.Apa itu semua karena lagi-lagi soal status mereka yang bahkan tidak tampak nyata?

“Yah.. Sekretarisku membelikanku dua tiket ke Amerika, dan tentu saja aku harus mengajakmu, kau kan pacarku. Aku akan mengajakmu melihat kampung halamanku! Ya?Ya?”

Yeon Ah termenung sebentar, tapi lalu ia menjawab,

“Baiklah.”

“Yes! Kau benar-benar penyelamatku, Yeon Ah!!”Kris bangun dari duduknya lalu berlari ke kamarnya seperti anak kecil.

“Ih, dia kenapa sih.Akhir-akhir ini jadi tidak berkelas begitu.” gumam Yeon Ah heran.

Besok hari Minggu, dan karena itu adalah hari sebelum keberangkatan Kris dan Yeon Ah ke Amerika, Kris mengambil cuti.Ia berencana mengajak Yeon Ah untuk membeli beberapa perlengkapan ke Amerika.

“Kau mau koper warna apa?” Kris berjalan di depan Yeon Ah, melihat deretan koper-koper di toko baju yang waktu itu mereka datangi.

Yeon Ah juga melihat-lihat, tapi semua koper itu mahal.Maka Yeon Ah menunjuk koper kecil berwarna hijau yang warnanya sudah agak pudar karena terlalu lama disimpan. Di samping koper itu ada tulisan: Diskon 50%.

“Kau..Yakin mau yang itu?”Kris memasang wajah jibis, alias jijik abis ke arah koper itu.

“Pasti karena murah kan? Aish. Pilih yang lain!” Kris menarik tangan Yeon Ah agar gadis itu menjauhi koper jelek tadi.Tangan hangat ini lagi, pikir Yeon Ah.Mereka berpegangan tangan lagi.

Sudah seperti pasangan yang serasi, mereka mengelilingi area koper itu sambil berpegangan tangan.Semua orang yang melihat mereka berdua tampak kagum dengan betapa cocoknya mereka berdua.Tampan dan cantik, wajahnya mirip, dan terlihat saling mencintai.Yeon Ah tidak sadar bahwa jantungnya berdegup sangat kencang saat itu. Yang ia pikirkan hanya, tangan Kris yang menggenggam tangannya dengan lembut.

“Nah!Yang ini!”Kris tiba-tiba memekik sambil tangannya menunjuk ke arah koper merah yang besar dan tampak elegan. Memang sih, Kris kan punya selera fashion yang sangat bagus, tidak heran kalau barang-barang pilihannya unik dan cantik. Yeon Ah ingin setuju, tapi ketika ia melirik ke arah label harganya, dia pun langsung meneguk ludahnya.

“Bagus kan??” tanya Kris.

“Ya.. Tapi ini ma-“

“Oke, aku mau yang ini.”Kris bicara pada salah seorang pelayan toko itu yang kemudian langsung mengambilkan koper yang masih baru.

“Kris, kau benar-benar gila!Itu kan mahal!”

“Tapi kau suka kan? Dan kau akan sangat tampak seperti tuan puteri kalau pakai barang-barang yang bagus, jadi jangan minder.”

Atau kau memang seharusnya adalah tuan puteri, pikir Kris dalam hati. Pria itu menyembunyikan senyumnya setelah ia melihat wajah cantik Yeon Ah yang tampak kebingungan.

Seorang pelayan membawakan koper merah tersebut kepada Yeon Ah.Gadis itu terlihat sangat senang sekaligus tidak enak hati melihat kopernya.Matanya berbinar-binar dan wajahnya berseri-seri.Ia menoleh pada Kris lalu ia tersenyum. Cantik sekali, membuat Kris sedikit buram dan hanya bisa mendengar detak jantungnya.

Dan kau akan hidup bahagia denganku, tuan puteri. Hiduplah bersamaku.

Kris tidak berhenti memandangi Yeon Ah saat sedang menyantap makan malamnya.Gadis itu makan dengan rapi sekali, bersih, dan penuh etiket.Semua orang yang melihatnya pun pasti tahu kalau gadis ini dibesarkan di keluarga yang beradab.Kris pun teringat soal ucapan detektif Jong In padanya tadi pagi.Tentang kakak laki-laki Yeon Ah. Sebenarnya Kris ingin sekali memberi tahu Yeon Ah, tapi ia takut. Jikalau Yeon Ah mengetahui masa lalunya, mungkin saja gadis itu akan pergi meninggalkannya. Selama ini hanya ketakutan itu yang mencegahnya untuk memberi tahukan segala informasi masa lalu Yeon Ah.

Kris menggenggam tangan Yeon Ah lagi saat mereka berjalan menuju ke flat Kris. Menggenggam tangan Yeon Ah seakan tidak mau kehilangannya. Seakan mereka akan dipisahkan. Yeon Ah melirik ke arah Kris dari samping, kekasihnya.Pria itu memang tampan dan tinggi, dan memiliki masalah dengan tingkah lakunya.Dia sombong, sembrono, dan frontal.Tapi dia memiliki hati yang baik.Walaupun itu semua tertutupi oleh pikirannya yang dingin dan gelap, oleh masa lalunya yang kelam.

Yeon Ah menundukkan wajahnya, pipinya memanas dan semburat merah muncul karena Kris dan segala tingkah lakunya pada Yeon Ah saat itu.

Klik!

Kris membuka pintu apartemennya, dan Yeon Ah mengikutinya masuk ke dalam.

“Oppa!Kau sudah pulang??”

Kris terhenti seketika, begitu juga denganmu. Sulit menggambarkam bagaimana reaksi Kris saat itu, ketika ia melihat Ahn Ye Seol duduk di sofanya, dengan elegannya memegang tiket yang memang seharusnya miliknya itu. Kris menyipitkan matanya pada gadis itu, seiring ia berlari ke arah Kris dan menerjangnya, tiba-tiba memeluk Kris dengan bahagia. Kris membeku, apalagi Yeon Ah.Tapi Kris bersikeras untuk tetap menggenggam tangan Yeon Ah.Situasi yang aneh.

Hingga Yeon Ah melihat tiket yang dipegang Ye Seol dengan seksama.Nama yang tertera disitu bukan namanya.Itu bukan miliknya.Tiket yang lupa dibuang oleh Kris.Yeon Ah seakan ditabrak oleh truk, hatinya seakan ditusuk.

“Oppa, aku sudah dengar dari Suho oppa kalau kau mengajakku ke Amerika!Oppa gomawo!!”

Yeon Ah semakin sakit.Dia melepaskan tangannya dari Kris dengan paksa kemudian berjalan secepat mungkin ke kamarnya.Ia mengambil pakaian-pakaiannya, mengepaknya ke dalam tas, lalu membanting pintu kamarnya. Di luar, pelukan Kris dan Ye Seol sudah lepas.Kris memandang penasaran pada Yeon Ah.

“Mau kemana kau?!” ujar Kris, nyaris memekik.

“Chanyeol.” dan Yeon Ah pun meninggalkan Kris yang masih terbengong-bengong.

TOK TOK TOK!!

“YEE JAMKAMANNYO!”

Yeon Ah menyandarkan keningnya di pintu apartemen Chanyeol yang bersebrangan dengan flat milik Kris.Gadis itu sudah tidak kuat, air matanya mengalir menuruni pipinya dan jatuh ke lantai.Wajahnya merah karena menahan perasaan kacaunya yang meluap.

Klik!

“Ya, ada apa?” Chanyeol sudah membuka pintu dan terdengar suara riangnya seperti biasa. Tapi senyumannya seketika menghilang ketika ia melihat Yeon Ah berdiri di depan pintunya. Dengan tas di tangannya, wajah berantakan, dan menangis. Chanyeol paling sensitif kalau melihat orang menangis.Ia tidak suka ada yang merasa sedih atau murung.

“N-noona?Ada apa??”

“Chanyeol..hiks.. bolehkah aku hiks.. menginap disini sehari?” Yeon Ah mengangkat wajahnya untuk melihat Chanyeol. Sesaat, Chanyeol hanya blank dan wajahnya tampak ragu, tetapi ia pun langsung bertindak cepat.

“Eo masuklah!”

Chanyeol membawa Yeon Ah untuk duduk di sofanya, dan sebagai laki-laki yang sopan ia membawakan tas Yeon Ah yang kemudian diletakannya di dalam kamar tamu. Apartemen Chanyeol tentu saja tidak jauh berbeda dengan apartemen Kris, lokasi kamarnya maupun tata letak perabotannya.Kecuali kenyataan kalau milik Chanyeol lebih acak-acakan dibandingkan Kris yang memang rapi dan teratur.Chanyeol masih bocah ingusan yang mencoba hidup sendiri dan menjauhi kekayaan keluarganya.

“Noona, anggaplah ini rumahmu sendiri, oke?”Chanyeol memberikan sekotak tissue pada Yeon Ah.

“Terima kasih, Chanyeol…”

“Jadi… sekarang bisakah kau menceritakan padaku kenapa kau keluar dari rumah Kris?”

Yeon Ah membuang ingusnya dulu, lalu ia pun mulai menceritakan kejadian tadi.

“… Jadi aku bertengkar dengannya..”

Chanyeol mengerutkan dahinya pada cerita Yeon Ah.Ada yang janggal.

“Noona, kau bercerita seakan kau dan Kris bukan saudara. Seakan kau cemburu pada gadis itu..” tanggap Chanyeol dan Yeon Ah tertegun.

Ia lupa kalau Kris berbohong tentang hubungan mereka berdua. Mereka harusnya adalah saudara kandung. Yeon Ah mendengus, bahkan mereka bukan saudara!

“Atau mungkin kau cemburu karena Kris lebih peduli dengan gadisnya daripada dengan saudaranya sendiri? Hmm..oke. Tapi noona kau tau?”Chanyeol menatap lurus ke arah mata Yeon Ah yang merah.

“Kris mungkin mencintai gadisnya, karena itu memang gadis yang akan dia nikahi, tapi baginya kau pasti adalah segalanya.Ia tidak punya siapa-siapa lagi yang berhubungan darah dengannya di dunia ini. Jadi dia akan terus mempedulikanmu, menyayangimu, dan menjagamu. Percayalah..”Chanyeol nyengir, menampakkan deretan gigi putihnya.

Tapi Yeon Ah hanya mengumpat di dalam hatinya, demi tuhan Chanyeol, dia bukan siapa-siapa untuk Kris!

“Noona kau lapar?”

“Aniyo.. Aku hanya..lelah..” Yeon Ah menyandarkan dirinya ke sofa Chanyeol.

“Kalau begitu, tidurlah noona..”Lalu Chanyeol pun kabur ke kamarnya.

*

Women Compulsive Disorder, adalah penyakit mental yang diderita Park Chanyeol. Penyakit itu menyebabkan Chanyeol takut dengan wanita.Takut menyentuh, takut berhubungan dan takut berduaan dengan wanita.Dia bisa saja mengobrol, tapi lebih dari itu?Jangan harap.

Park Chanyeol, adalah anak tunggal dari keluarga besar Park yang berpusat di Seoul. Keluarga Park adalah pemilik 2/3 Pulau Jeju dan menguasai seluruh pusat perbelanjaan di Gangnam-gu dan Dongdaemun.Ayah Chanyeol adalah seorang jenderal yang sangat ditakuti – yang juga telah meninggal saat melakukan tugasnya.Sepeninggal ayahnya, Chanyeol kini dijaga ketat oleh kepolisian sesuai wasiat ayahnya.Karena sejak kecil Chanyeol sering dibully oleh teman-temannya. Ibu Chanyeol juga adalah pemegang saham perusahaan-perusahaan besar di Eropa dan Dubai, ia juga telah membuka banyak restoran cepat saji di seluruh dunia. Park Chanyeol?Dia hanya perlu melanjutkan semua kerja keras keluarganya.

Tapi sayangnya, setelah semua yang terjadi pada hidup Chanyeol, tidak ada satu pun temannya yang mau bermain dengannya lagi. Pertama, ia diawasi 24 jam oleh kepolisian sehingga seorang pun tidak ada yang berani-berani mendekatinya. Kedua, ibu Chanyeol adalah orang yang sangat galak dan menakutkan. Tegas dan bisa melakukan apa saja. Lagi-lagi teman-teman Chanyeol malah jadi takut dengannya.Ketiga, Chanyeol dinilai terlalu berlebihan di segala situasi sehingga kebanyakan orang menggapnya freak.Ada sih cewek-cewek yang tertarik padanya, tapi Chanyeol takut berhubungan dengan wanita karena penyakitnya itu.Hanya satu wanita yang bisa dekat dengan Chanyeol, siapa lagi kalau bukan ibunya sendiri. Makanya hingga saat ini ia sendirian di balik timbunan hartanya, di balik pelindungan semua orang. Ia kesepian. Oleh sebab itu pula ia selalu ingin dekat-dekat dengan Kris, bahkan selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Karena ia ingin berteman dengan Kris. Tapi sayang, lagi-lagi Kris juga menggapnya orang aneh sehingga Kris ikut menjauhinya. Mungkin lain halnya kalau ia tahu penyakit Chanyeol.

Sekarang, Chanyeol bingung dengan apa yang bisa ia lakukan pada Yeon Ah. Dia tahu gadis itu sedang sedih sekali, tapi ia tidak bisa membantu karena dia terlalu ngeri dengan status kewanitaannya itu. Jadi sekarang dia hanya berdiam di kamarnya sendiri sementara Yeon Ah ada di ruang makan, entah apa yang sedang ia renungkan. Namun akhirnya, karena tidak enak hati tidak menemani Yeon Ah, Chanyeol pun keluar dari kamarnya dan duduk di seberang Yeon Ah yang berjarak lumayan jauh.Gadis itu sedang melamun sambil menumpukan dagunya di atas telapak tangannya. Beberapa kali ia menghela nafasnya.

“Kau tau kalau melamun itu tidak baik?”Chanyeol memulai pembicaraan.Tapi Yeon Ah hanya menatapnya.Begitu juga dengan Chanyeol.

1 detik.. 2 detik..10 detik.Mereka berdua terus bertatapan. Hingga kedua alis Chanyeol harus saling bertautan karena ia bingung.

Bukankah ini kali pertama baginya untuk bisa menatap seorang wanita lebih dari 3 detik?Dan wajahnya kering kering saja, tidak ada keringat dingin yang jatuh seperti biasa.Dia tidak mengigit bibirnya, tidak menggigiti kukunya, tidak meremas ujung bajunya.Layaknya manusia biasa, hanya jantungnya saja yang berdetak sedetik lebih cepat. Kemudian Chanyeol pun sadar akan satu hal.

“Noona..”

“Ngg?”

“Maukah kau membantuku menyembuhkan penyakitku?”

“Hah?” Yeon Ah mengkerutkan dahinya.

“Penyakit apa memang?”

“Aku takut denganmu.”

“Eh?”

“Maksudku sejenismu..”Chanyeol berdiri dan berjalan hingga ke samping tempat dudukmu, membuatmu agak bergeser menjauh dari Chanyeol.

“Noona, aku takut dengan wanita.. Aku menderita fobia perempuan..”Chanyeol menunduk untuk menghindari tatapan Yeon Ah yang tampak ketakutan.

Kemudian Chanyeol mengangkat tangannya yang besar ke hadapan Yeon Ah.

“Pegang tanganku, noona..”

*

Kris POV

Kris menyandarkan tubuhnya di depan apartemennya. Tangannya masuk ke dalam kantung celana panjang hitamnya sambil matanya yang gelap memandangi apartemen Chanyeol. Berbagai pertentangan batin ia hadapi saat itu. Ketika ia menjadi seorang pengecut, yang hanya untuk mengetuk pintu orang saja tidak bisa. Yang hanya untuk membuktikan bahwa ia telah membeli tiket untuk kekasihnya saja tidak bisa. Kris merasa hatinya sakit.Ia marah, tapi dia tidak tahu dia harus marah pada siapa. Kris mengeluarkan tangannya yang menggenggam secarik kertas dengan nama Yeon Ah itu dari kantungnya, lagi-lagi hanya dipandangi. Tapi ketika jiwa pengecutnya meyakinkan dia bahwa ia tidak akan bisa bersama dengan Song Yeon Ah, ia pun segera meremas-remas kertas itu, lalu membuangnya begitu saja.

Diliriknya sekali lagi apartemen Park Chanyeol, tapi lalu ia masuk lagi ke apartemennya sendiri untuk menjadi manusia terbodoh yang dipenuhi oleh penyesalan.

*

Yeon Ah POV

Yeon Ah meletakkan telapak tangannya di atas tangan Chanyeol sesuai permintaan bocah itu.Dan mereka kembali saling bertatapan.Tapi tidak terjadi apa-apa yang berarti.Chanyeol luar biasa heran.

“Sebelumnya aku tidak bisa menyentuh wanita, aku pasti akan langsung menjerit kabur.. Tapi ini aneh..”Chanyeol mengeratkan pegangan tangannya di tanganmu sambil menatap Yeon Ah dalam-dalam.

“Aku tidak takut denganmu… Aku merasa nyaman..”

Yeon Ah hanya bisa bungkam, ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan sekarang. Hatinya kosong sehingga ia juga sedang tidak ada hati untuk menghibur seseorang.

Hingga tiba-tiba Chanyeol melepaskan pegangan tangannya kemudian sambil memandang kedua mata Yeon Ah lurus-lurus, dia bilang:

“Noona, sembuhkan aku ya..”

Besok.

Kris masih duduk di sofa ruang tamunya, ia tidak tidur semalaman karena sibuk memikirkan banyak hal. Dan tentu saja terutama gadis itu, yang sudah tidak tinggal bersamanya lagi.Kris meremas ujung kemeja putihnya dengan putus asa.Dia terlalu kacau saat itu.Di sebelahnya bersandar sebuah koper hitam besar, miliknya.Di seberangnya, ada koper merah – yang seharusnya milik Song Yeon Ah.Kris hanya memandanginya nanar, tak mampu bertindak apa-apa.

3 jam lagi pesawatnya berangkat. Dia akan pulang ke rumahnya, bersama Ahn Ye Seol. Dia tidak suka pada gadis itu, sama sekali tidak suka. Yang dia inginkan adalah pergi bersama Song Yeon Ah, orang yang sudah mengisi otaknya berapa hari ini.Tapi karena Ye Seol sialan itu Yeon Ah pergi darinya.Ia menginginkan gadis itu, tapi ia takut gadis itu tidak menyukainya.

Atau memang Yeon Ah tidak pernah menyukai Kris?Tadi pagi itu bukanlah apa-apa untuk Yeon Ah?Kris benar-benar bertepuk sebelah tangan? Kris menghela nafasnya yang berat lalu ia berdiri dari sofanya, menarik kopernya dan pergi ke rumah Ye Seol untuk menjemputnya.

“Wu Fan oppa!” Ye Seol langsung memeluk Kris begitu ia melihatnya. Kris tidak membalas pelukannya dan hanya berdiri canggung karena orang tua Ye Seol ada di depan rumahnya.

“Ye Seol, lepaskan.Kita harus cepat kalau tidak mau ketinggalan pesawat.”

“Oh..oke!” Ye Seol dengan riang menaruh koper pinknya ke bagasi dan segera naik ke dalam mobil Kris.Kris memberikan bungkukkan singkat yang tidak ikhlas dan akhirnya menyetir menuju ke bandara Incheon.

“Rumahmu ada di bagian mana Amerika, Wu Fan oppa??” tanya Ye Seol dalam pesawat yang sudah lepas landas.

“New York.” Kris menjawab ketus.Dia tidak tertarik untuk ikut campur dalam pembicaraan dengan Ye Seol.Palingan dia hanya membahas teman kayanya yang tinggal di New York.

“Aku punya kenalan juga lho oppa, dia pemilik butik terkenal..”

Benar kan? Kris langsung mendesah panjang sambil memalingkan mukanya dari Ye Seol. Matanya hanya tertuju pada layar tv yang sedang memutar The Bourne Ultimatum. Dia sudah menonton film itu lebih dari 5 kali, tapi dia terpaksa menonton lagi.Daripada mendengar celotehan cewek berisik itu?

*

Yeon Ah POV

“Hari ini dia berangkat ke Amerika..”Yeon Ah bergumam sambil melamun di jendela.Sebelahnya Chanyeol sedang bermain Guitar Hero.

“Kau sudah mulai merindukannya kan??” tanya Chanyeol susah payah. Matanya tidak lepas dari televisi dan tangannya tetap bergerak pada instrumennya.

“Tidak juga.Aku cuma sedang kepikiran.” dalih Yeon Ah.Lagi-lagi semuanya hanya tipuan besar.

“Tidak baik membohongi diri sendiri.” gumam Chanyeol, namun cukup jelas terdengar oleh Yeon Ah.

“Aku tidak menipu.. 5 hari tidak cukup untukku hingga bisa menganggapnya..saudara.”

Your POV

Chanyeol menghentikan permainannya lalu balik menghadapmu dengan wajah gemas.

“Lalu kau butuh berapa hari lagi?” tanyanya.Kamu tidak menjawabnya.Hanya meletakkan kepalamu di lenganmu lagi.Terdengar olehmu Chanyeol menarik kursi dan duduk- jauh darimu.Kamu menghembuskan nafas beratmu sambil menahan air matamu.

“Kalau aku mencintainya..bagaimana?”

Hening. Cukup lama hingga kamu penasaran akan reaksi Chanyeol, kamu menoleh ke kanan. Pemuda itu malah sedang termenung.

“Yeol?”

“Ini bukan brother complex.Aku tau kalau dari awal kalian bukan saudara!”

“Eh?”

“Iya.Biarpun kalian mirip, tapi siapa pun tau kalau Kris tidak mungkin memiliki saudara lagi.Aku tidak pernah percaya sejak aku mendengar cerita Kris hyung, aku hanya berusaha menjejalkan kebohongan kalian ke otakku. Benar kan?? Kalian bukan saudara kan??” Chanyeol menarik nafas setelah bicara panjang lebar tanpa jeda.Mata bulatnya memandangmu tajam tanpa keramahannya yang biasa. Akhirnya kamu tidak punya jalan lain selain mengaku.

“Aku… memang bukan saudaranya.Aku bukan siapa-siapanya.”Kamu membuang muka dari Chanyeol dan pria itu mendesah.

“Lalu kalian tinggal bersama..Dan akhirnya kau menyukainya?Fantastis.”Chanyeol entah kenapa bernada ketus dan kembali ke permainan Guitar Hero-nya.Kamu sendiri harus merutuki kebodohanmu.

“Sekarang aku harus bagaimana, Chanyeol? Aku menyukainya.. Tapi aku tidak boleh menyukainya, dia sudah memiliki tunangan..Aku tidak bisa menahan perasaanku, apa kau tahu rasanya?”

Chanyeol tidak menoleh dari layar televisi.

“Kalau begitu carilah pria lain.”

Pria lain…

Yeon Ah termenung. Sejenak pikirannya seakan dibawa ke tempat lain. Kilasan-kilasan memori yang tidak ia ingat, tapi ia yakin pernah terjadi.

Saat itu sangat cerah, dan seorang pria sedang memelukmu dengan erat.Bibir tipisnya yang merah menampakkan senyum tampan yang sangat kau cintai.Tubuh mungilmu dilahap oleh tubuhnya yang hangat dan gagah.Rambut cokelat mudanya yang halus mengikuti arah angin musim semi.Kamu menelusupkan jemarimu di rambutnya lalu mengelusnya dengan lembut. Pria itu semakin bahagia, ia pun mengangkat tubuhmu lalu ia mencium bibirmu dengan penuh perasaan.

Seketika pucatlah wajah Yeon Ah.Ia baru saja mengingat seseorang dari masa lalunya. Pacarnya kah?

*

Author POV

Pesawat Korean Air yang ditumpangi Kris dan Ye Seol sudah hampir sampai ke New York, dan tampaknya Ye Seol sangat bersemangat karena hal ini.Ia terus menerus melongok ke arah jendela sementara Kris harus memutar bola matanya setelah melihat reaksinya yang berlebihan itu.

“Oppa, oppa, aku tidak percaya akhirnya kita ada di New York! Berdua saja! Apakah ini mimpi??” gadis itu menatap Kris dengan mata berbinar.Soft lens biru tuanya bahkan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.Kris tidak sanggup marah lagi pada gadis yang lebih muda itu.Ia tidak mampu setelah ia melihat senyum polosnya.

“Bersenang-senanglah kalau begitu.” jawab Kris akhirnya.Tidak ketus, walaupun tidak ramah juga.Datar.

“Ah oppa… aku sangat mencintaimu!”Ye Seol tertawa hingga matanya menghilang.Kris hanya bisa menghela nafasnya.

Kenapa gadis menyebalkan ini berubah menjadi gadis lugu yang manis? batinnya.

“I-ini… rumahmu?”Ye Seol memandang tidak percaya ke arah rumah mewah yang luasnya berhektar-hektar itu.Biarpun sudah tidak terawat lagi sejak ditinggalkan Kris, tapi kecantikannya tetap tidak hilang.Saat itu sudah malam, dan bulan sedikit banyak menerangi rumah itu.

Kris menyalakan semua lampu rumahnya, lalu meletakkan kopernya di kamar yang ada di lantai dua.Ye Seol mengikutinya dari belakang.

“Kenapa mengikutiku?” tanya Kris dengan tatapan tajam.

“Aku tidak tahu dimana kamarku..Kita sekamar saja ya??”

Kris tersedak ludahnya sendiri.

“Andwae andwae! Kamarmu yang itu! Aku yang itu!”Kris menunjuk sebuah kamar kosong di seberang kamarnya yang biasa. Ye Seol mengerucutkan bibirnya, tapi ia menurut saja pada Kris. Segera ia masuk ke kamar itu untuk meletakkan kopernya dan beres-beres.

Kris juga masuk ke kamarnya. Ruangan gelap tempat ia bertumbuh dan menyendiri selama 2 tahun sejak kematian orang tuanya. Teringat olehnya saat Suho memberikannya makanan, tapi ia lempar begitu saja ke lantai. Betapa kurus keringnya ia karena enggan makan selama berhari-hari. Betapa menyesalnya ia karena sudah menyakiti hati Suho. Kris merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memandangi langit-langit kamarnya yang dilukisi awan-awan cerah oleh ibunya. Kemudian ia melihat ke arah mobil-mobilan yang pernah ia rakit bersama ayahnya. Segores senyum pahit muncul di wajah Kris yang sekaku porselen.

Betapa dia merindukan orang tuanya.

“Apa kalian melihatku pulang, mama, papa?” tanya Kris.

“Dan apakah kalian tahu siapa yang aku temukan di jalanan? Gadis yang sembarangan tapi cantik sekali..”Kris menurunkan sedikit kelopak matanya, menampilkan tatapan yang teduh. Senyumannya masih tampak, pertanda ia sedang mengingat Yeon Ah.

“Tapi dia marah dan pergi dariku.. Kalian tahu kan? Apa dia mau kembali padaku? Bisakah kalian mengajaknya kembali lagi padaku?”

Klik!

Pintu kamar Kris tiba-tiba terbuka dan muncullah wajah Ye Seol, tanpa make up berlebihannya.

“Kris oppa?Kau sedang bicara dengan siapa?”

Kris yang kaget langsung duduk di tempat tidurnya.Ia berdeham.

“Pada orang tuaku..” Kris mendengus, “..aneh ya?” tanyanya pada gadis itu. Ye Seol tidak menjawab, ia malah berjalan mendekati Kris, duduk di sebelah calon suaminya.

“Tidak kok. Aku sudah mendengar tentang orang tuamu, oppa.. Aku turut berduka..” ujar Ye Seol, wajahnya tampak tulus. Kris melirik gadis itu selama beberapa detik, hanya ingin melihat wajahnya. Untuk sesaat ia merasa akal sehatnya goyah, bahkan saat Ye Seol memegang tangannya.

“Oppa..”Ye Seol menyentuh pipi Kris dengan telapak tangannya.

To Be Continued.

a/n: ini ga banget. Part ini menjijikan banget. (?) hahahaha terlepas dari kegalauan gue sendiri yang masih ga tau mau rilis FF dimana, akhirnya gue mempertaruhkan kebahagiaan gue dengan mengirim FF gue ke EXO FF lagi. Mempertaruhkan kebahagiaan?Emang kenapa?

Soalnya kalo kirim FF ke exo ff ngantrinya lama biar bisa dipublish. Hahahahahahaha /dibunuh admin/

Tapi selebihnya gue juga ga tau ya mau rilis part 6 dimana, lu tau kan gue anaknya ababil ga tau diri. Mungkin aja nanti malah gue rilis di facebook. /readers: APA? MAU PROMOSI FACEBOOK JUGA??/

Oke karena gue belom nulis part 6, udah setengah jalan sih, lebih baik anda sekalian segera menulis komen juga supaya gue tambah cepet bikin ceritanya. /DOR DOR DOR

Sekali lagi makasih banget min yang udah rilis FF gue, readers yang kemaren-kemaren udah komen, sampe hampir dibacok gue. (?) Dan yang udah like juga! T^T terus gue kan kepoin twitter, jadi gue banyak nemu komen-komen mengguggah girang lewat akun twitter. Hahahahahahhhhhh

Akhir kata, kalo jatoh ke bawah, jangan ngegeliding.

SEEYA!

Sneak Peak Part 6!

Kemunculan seseorang dari masa lalu Yeon Ah! Siapakah dia??Hidup Yeon Ah pun mulai berguncang, apalagi setelah ia melihat undangan pernikahan Kris dan Ahn Ye Seol! Penyakit Chanyeol sembuh dan dia berniat menculik Yeon Ah dari Kris! Nantikan part berikutnya~~

*ngapain ya gue pake tanda seru banyak-banyak. Sok iklan banget sih lo*

85 pemikiran pada “Hello Mr. Wu! (Chapter 5)

  1. aduuuuuh maap ya buat yang udah menanti!! sebenernya teh eke udah kirim ke email exoff dari tahun lalu malah, tapi eke baru liat kalau ternyata emainya dihack, jadi baru aja eke kirim lagi ke email yang baru itu 2 bulan yang lalu lah.. lama yah? iya nih author juga sebenernya udah pengen cepet2 nyuguhin HMW yang baru ke kalian, tapi ga tau deh apa miminnya kelewat email dari eke huaaaaa berdoa aja semoga bisa dirilis cepet ya sayang2ku semua… emuahh :**

  2. Woah, pengen gua kutuk (?) tuh si Ye Seol Dafuq–”

    Di publish secepatnya dong thor FF nya, sumpeh daebakk banget (T▼T)
    Pokoknya kalo gua sampe ga lulus cuman gara” galau waiting (?) next chapternya, Author orang pertama yg bkal gua yadongin (?) -NN-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s