Perhaps Love

Title : Perhaps Love

Main Cast : HunHan, other…

Author : PH

Length : Oneshoot

Genre : Life, Romance, Yaoi

Rating : PG 16

Disc : Cast belong to God, Family and SM. Entertainment… This fanfic is inspired By HunHan couple… HunHan is Real! Jjang… Fighting…! Kekekeke… Annyeong readers… pertama terimakasih sama Tuhan, FF ini boleh di post, kedua, makasih ama admin disini… #Peluk boleh post.. Jjang…! Selamat menikmati #Lempar martabak.

 

Nowplaying…

EXO-K – WHAT IS LOVE

Teen Top – To You

PL 1

Because You

Show the way to Love…

Saranghe..

Nae Luhan…

 

All Sehun Pov’s

“Perkenalkan, dia Luhan… Ayo salam Sehun!” Umma menyuruhku berdiri menyambut keluarga baru.

 

Keluarga ne? Terdengar lucu.

 

“Annyeong… Chonun… Luhan,” Ujarnya singkat. Entah kalimatnya berantakan atau memang dia yang pemalu. Kutatap wajah sendu miliknya. Manis, lembut, tapi juga rapuh…

 

“Sehun… Oh Sehun,” Ucapku singkat. Dia mengangguk, kemudian menyunggingkan senyum polosnya.

 

Terlalu tulus untuk dikatakan bodoh…

Namun terlalu semu untuk dikatakan Cinta…

 

Desiran darahku terasa memuncak saat dia menjabat hangat tanganku. Manik mata yang teduh serta tangannya yang halus dan bersahabat seakan mengajariku untuk mengenalnya.

 

“Kau akan tinggal disini ne?” Tanyaku singkat.

 

Namja yang serupa dengan yeoja itu mengangguk. Aku turut mengangguk. Entah apa yang diperbuat umma kali ini. Biasanya dia akan memenangkan lotre atau semacamnya agar bisa bercinta dengan namja yang begitu tampan. Tapi yang satu ini? Dimana sisi maskulinnya? Dimana ciri khas namja yang penuh sejuta rayuan? Tak kudapati raut wajah yang begitu bernafsu atau sekedar ingin memuaskan hasrat.

 

Dia…

Berbeda…

 

“Jadi… Kau siapa umma-ku?”

 

“Aku?” Tanyanya agak bingung.

 

“Ya, tentu. Siapa lagi heh?” Ucapku jengah.

 

“Aku diajak umma-mu tadi pagi. Hyung-ku meninggal sore kemarin dan umma-mu katanya adalah kekasih hyung-ku. jadi dia memintaku tinggal.” Ucapnya dengan nada yang tak kumengerti.

 

Kutatap sekali lagi dirinya keseluruhan.

Tubuh jenjang dan gemulai

Pandangan rapuh turut berduka.

Benar. Sepertinya dia tidak berdusta.

 

“Kau bukan orang Korea?”

 

“Ya, aku bahkan baru saja tiba dari bandara tadi pagi,” Ungkapnya.

 

“Tapi bahasamu lumayan fasih,” Pujiku.

 

“Terimakasih,”

 

“Cheonma… Welcome home… Oh Luhan,”

 

-Perhaps Love-

 

“Dapat darimana anak itu?”

 

Umma menatapku kaget, kemudian tersenyum di depan cermin riasnya. Memulas bibirnya dengan pewarna merah mawar yang menggoda.

 

“Kau penasaran ya? Dia cantik bukan? Kau mau?” Cerocos yeoja yang menjabat sebagai umma-ku.

 

“Aku tidak bercanda,” Sanggahku. Duduk di tepian ranjangnya.

 

“Dia adik dari kekasih yang paling kucintai. Lelaki itu meniggal karena sakit. Dia sudah berkorban banyak untukku. Hah… Cintanya sangat manis. Tapi tidak selemah anak itu. Dia menitipkan anak itu… Sudah… Kau terima saja, dia cukup manis bukan?”

 

Aku tersenyum pahit.

Berkorban banyak katanya…

Lalu appa? Dimana letak seorang suami yang dulu sempat menemani hidupnya?

 

“Oh… Kurasa appa juga sudah berkorban banyak,”

 

“Itu berbeda Oh Sehunku sayang…” Suara umma terdengar berat.

 

“Appa-mu adalah belahan hati umma. Sampai Tuhan memanggilnya terlalu cepat.” Sanggah umma lagi.

 

Yeoja di depanku kembali sibuk memulas pewarna wajahnya. Memancarkan senyum menggoda dibalik wajahnya yang tidak sedikit pun menua. Yeoja tegar ini… Entah apa yang dicarinya? Bukankah keluarga Oh sudah meninggalkan banyak harta? Mengapa dia sibuk berkutat diluar sana? Mengapa dia tak pernah sedikit pun mengusik hidupku sebagai anaknya.

 

“Lalu? Mengapa kau terbang bebas diluar sana?”

 

“Pilihan hati,” Senyumnya.

 

“Maksudmu?” Tanyaku tak mengerti.

 

“Kau belum mengerti Sehun. Ada saatnya kau mengerti. Umma hanya sedang berusaha menemukan namja lain yang bisa menjadi pendamping hidup. Selepas kepergian appa-mu tentunya.”

 

“Dengan berjuta namja diluar sana?!” Dengusku kesal.

 

“Aku sedang memilih. Bersabarlah… Kau cerewet sekali! Urusi saja hyung-mu itu… Lumayan bukan?!” Bentak umma setengah bercanda.

 

Selalu seperti ini.

Saat aku berusaha menarik masa lalu umma…

Dia dengan santainya membuang memori keluarga

Bergulat dengan dunia cintanya

 

“Kau sedang apa?” Aku mendapatinya berdiri di dapur sibuk dengan apron-nya. Nampak berkuasa ne?

 

“Aku masak?” Dia terlihat bingung sendiri. Aneh…

 

“Oh… Silahkan… Anggap saja rumah sendiri,” Ucapku berbasa – basi. Ya ampun Sehun! Ada apa dengan dirimu eh? Lihat?! Kau bahkan bisa berbuat manis pada anak yang baru kau kenal seminggu.

 

“Nde… Tapi aku juga masak untukmu. Duduklah…” Pintanya ramah. Dengan bodohnya aku terduduk.

 

“Tada…” Sontaknya gembira.

 

Tersaji di depanku, makanan ala chinnese dari tofu, dim sum dan segala sayuran hijau khas negara bambu itu.

 

“Wae? Kau tidak suka ya?” Tanyanya? Aku menggeleng cepat, nampak seperti namja bodoh yang dilanda cinta.

 

“Aku belum pernah makan masakan rumah.” Tuturku.

 

“Kalau begitu kau akan sering makan itu sekarang… Aku suka masak.” Senyumnya.

 

Senyuman itu menghantam ragaku. Menembus tebalnya dinding penutup hatiku, membuka sebuah gerbang baru dimana kurasa aku bisa tersenyum sebahagia senyummu.

 

“Gomawo…”

 

“Kau tersenyum,” Ucapnya disela – sela kami makan.

 

“Benarkah?” Tanyaku.

 

“Tentu! Sangat manis…”

 

Satu lagi lekukan bibirku menyunggingkan senyuman… Pertama kalinya ada orang lain yang berusaha mengertiku.

 

-Perhaps Love-

 

“Aku satu sekolah denganmu Sehun…” Bisiknya di tengah sarapan pagi. Berbisik? Ah… Iya, hari ini teman kencan umma datang. Entah siapa namanya… Aku lupa.

 

“Bukannya, kau lebih tua dariku?” Ucapku

 

“Nde, tapi karena aku pindahan, aku mengulang dari awal. Eh.. kalau begitu kau harus memanggilku hyung nde?” Ucapnya senang.

 

“Shiro! Kita kan sekelas…” Aku kembali tersenyum. Luhan menatapku kesal.

 

Hidupku terasa mudah seiring berjalannya waktu

Mengalir dengan indah walau tak kunjung kumengerti

Senyuman itu memupuk kehangatan,

Menambahkan benih lain dalam hidupku

Benih cinta…

Mungkinkah ini cinta?

 

“Kau tidak bisa menulisnya?”

 

Dia mengangguk malu. Kemudian aku menuliskan beberapa huruf hangeul di dalam buku latihannya. Menjadi guru privatenya setelah pulang sekolah.

 

“Sehun…” Ucapnya tiba – tiba.

 

“Nde?”

 

“Boleh aku bertanya?”

 

“Tentu, wae?”

 

“Umma… Sebenarnya siapa kekasihnya? Mengapa umma selalu berganti pasangan?”

 

“Ah… itu…” Aku menatapnya sendu. Ingin rasanya aku membungkam masalah ini.

 

“Mianhe… Tak perlu dilanjutkan bila kau tak bisa.”

 

“Bukan seperti itu.” Bisikku.

 

Aku merebahkan kepalaku di bahu sempitnya. Membiarkan Luhan membelaiku sayang dengan perhatian tulusnya.

 

“Appa meninggal tanpa sebab yang jelas, mungkin dia trauma. Tapi sekarang… umma sedang memilih.”

 

“Memilih?”

 

“Nde, memilih pasangan hidup barunya,”

 

“Selama itukah?”

 

“Aku tidak tahu, mungkin memang umma hanya bermain – main. Bahkan dia melupakan kita. Ingat?”

 

Luhan tersenyum. Menatapku lembut dalam kehangatannya.

 

“Itu tandanya dia sangat mencintai appa-mu.”

 

“Nde?”

 

“Ketika dia berusaha terus menerus mencari pasangan lain, terus berganti, tandanya dia tak menemukan yang seperti appa-mu. Dia sangat mencintai appa-mu Sehun…” Terkanya.

 

Aku terdiam. Sebegitu lembutkah hati umma? Tak pernah kumengerti. Ada apa dengannya? Mengapa dia seakan mengerti arti cinta? Mengapa dia seakan membenarkan yang salah. Dan tak membiarkan siapapun salah?

 

“Lalu kau?”

 

“Aku?”

 

“Nde… Ceritakan tentang dirimu.”

 

“Ah…” Bisiknya malu.

 

“Tak ada yang menarik. Aku hanya hidup bersama hyung-ku dari kecil. Hyung-ku bekerja mati – matian menghidupiku. Yang kudengar dia bekerja di bar. Aku sangat menyayanginya. Tapi Tuhan lebih sayang padanya sehingga mengambilnya.”

 

“Kau tidak malu?”

 

“Malu? Apa karena dia bekerja di bar?” Tanyanya bingung. Aku mengangguk.

 

“Tidak… Dia namja yang baik. Dia hanya tak sempat menamatkan sekolahnya sampai harus bekerja seperti itu untuk menghasilkan uang,” Balasnya.

 

“Kau menyayanginya?”

 

“Sangat.” Singkatnya. Kami terdiam. Dan kurasakan tangan itu mengendur. Kudapati bulir air mengalir deras dari pelupuk matanya.

 

“Ssssttt…” Aku memeluknya.

 

“Aku sangat sedih kehilangannya. Aku takut akan hidupku sendiri.”

 

“Kau tak perlu takut. Ada aku disini… Aku akan menjagamu. Aku menyayangimu.”

 

Deg.

Deg..

Deg…

 

Ungkapan ini…

Mungkinkah terlontar dari mulut manisku?

Meluncur dari bibir dinginku yang kini berusaha menyapu bibirnya.

 

Luhan seakan menolak di awal ketika kukecup manis bibirnya. Menyapu tetesan kepedihannya. Sampai dia mengalungkan tangannya padaku.

 

“Sehun…” Bisiknya.

 

“Aku rasa… Mungkin ini cinta Luhan…”

 

“Secepat itukah?”

 

“BBBBRRRAAAAAKKKK…… Seeehhhhhuuuunnnn…!” Teriakan itu.

 

“Umma…” Bisik Luhan.

 

Kami segera turun kelantai bawah dan mendapati umma tergeletak dengan nafas yang nyaris berhenti.

 

“Telefon ambulance secepatnya.” Titahku. Melempar flip ponsel pada Luhan. Aku keluar mengejar suara deru motor diluar sana.

 

Namja itu namja yang sama yang kulihat saat dia menemani umma ketika sarapan. Dia melajukan motornya cepat berusaha kabur. Aku memutar kemudi mobilku dan memotong jalan yang ada. Menyergapnya di ujung jalan.

 

“Kau tak bisa lari kemana pun Mr. Wu!” Makiku.

 

“Ah… Kau anak yeoja manis itu ya? Cih… Terimakasih ya, uang-nya lumayan banyak. Kau pasti hidup makmur!” Kekehnya. Bau alkohol kurasa dia mabuk.

 

“Sial!” Makiku kesal, aku berjalan maju bersiap memukulnya. Dia lebih tinggi dariku, tatapannya terlihat marah saat aku bersiap memukulnya.

 

“Anak kecil! Jangan coba – coba!” Teriaknya marah. Dia memukul kesegala arah. Aku berusaha menghindar..

 

“Bugh…” Aish! Darah segar mengalir dari bibirku. Aku segera membalasnya.

 

Dia mengelak. Aku dipojokan di depan mobilku sendiri.

 

“Kau dan yeoja itu sama… berpura – pura tegar namun tak lebih dari pengecut yang rapuh! Cih…!” Dia bersiap menghantamku. Aku terkesiap…

 

“Dooorrr…..!!!”

 

“Bruk…” Dia rubuh tepat di depanku.

 

“Tak seorang pun kubiarkan mengatai keluargaku seperti itu!” Teriaknya marah. Namja itu…

 

Luhan…

 

-Perhaps Love-

 

Namanya Wu Fan, dia adalah pengedar narkoba kelas atas yang berkeliaran di Korea berusaha mencari transaksi sebanyak – banyaknya. Dan hyung Luhan adalah polisi yang mengejarnya. Berpura – pura menjadi bartender demi mengetahui lebih lanjut. Namun Luhan???

 

“Mengapa kau berdusta padaku?”

 

“Umma sedang tertidur Sehun. Nanti kebangun.”

 

“Luhan… Jawab aku.”

 

“Aku tak berbohong. Pekerjaannya memang bartender. Namun itu hanya selingan. Hyung-ku meninggal karenanya, untuk itu, aku berhak membalas dendam. Terimakasih pada umma-mu yang mau menampungku.” Ungkap Luhan. Nada bicaranya terkesan tegas namun tetap lembut.

 

“Lalu?”

 

“Hmm?” Tanya tak mengerti.

 

“Kau sudah selesai dengan tugasmu, apa kau akan pergi?”

 

“Kau mengusirku? Katanya kau menyayangiku Sehun?” Tanya Luhan sembari menatapku teduh. Tatapan tulus itu seakan berharap dan memohon.

 

Aku memalingkan wajahku, malu mengakui-nya bahwa aku sangat berharap dia tinggal selamanya disampingku.

 

“Aku tidak akan pergi.” Lanjutnya.

 

“Ummamu memintaku tinggal.”

 

“Umma tahu hal ini?”

 

“Tidak. Jangan diberitahu ne?”

 

“Nde…”

 

“Gomawo, aku menyayangimu Sehun.” Ucapnya.

 

Aku menatapnya detik itu juga. Saat yang paling membahagiakan. Tak menyangka dia berkata sesuatu yang membuatku akan melayang.

 

Mungkinkah ini cinta?

Dan kuyakini

Cinta…

 

 

 

End…

Celingak – celinguk..

Deep bow… kalo salah ketik, cerita aneh.. dsb.. buahahaha.. RCL… Gomawo Gomawo…

21 pemikiran pada “Perhaps Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s