[XiuMin’s Side] Genocide :: You Make My Heart Freeze.

[XiuMin’s Side] Genocide :: You Make My Heart Freeze.

Author : @ridhoach

Main Cast :

Kim Min Seok a.k.a XiuMin

Support Cast :

–          Kim Jong Hyun (SHINee)

–          Jung Dae Hyun (B.A.P)

–          Kim Soo Ra (OC)

Genre : Friendship, Family, Crime, Tragedy, Fantasy

 

[XiuMin’s Side] Genocide ~ You Make My Heart Freeze

—–

Es itu dingin, aku tau.

Dingin itu sepi, aku tau.

Di dalam kedinginan itu hanya ada kehampaan dan kekosongan, aku tau.

Tapi, entah mengapa aku merasakan kehangatan dari sebuah ikatan keluarga justru di dalam kedinginan es itu.

Aku merasakan apa itu arti kehidupan justru dengan berada di tengah – tengah kedinginan es itu.

Es itu dingin, tapi aku bisa hidup di sana.

Dingin itu sepi, tapi kesepian itu memberikanku kehangatan.

Di dalam kedinginan itu hanya ada kehampaan dan kekosongan, tapi disana justru aku menemukan apa itu arti keluarga.

—–

Xiu Min’s POV

 

“Ah, eomma aku pergi dulu.Annyeong haseo”, ujarku pada eommaku, Kim Soo Ra, yang berada di ruang makan.

“Ne?Bekerjalah dengan benar XiuMin.Pulanglah tepat waktu. Arra?”, ujar eommaku.

“Arraseo, eomma”.

 

Namaku Kim Min Seok. Namun, semenjak aku kecil aku lebih sering dipanggil dengan XiuMin. Malam ini aku akan pergi ke kota untuk bekerja sebagai seorang supir taxi. Pekerjaan yang sangat rendah sebenarnya.Tapi, hanya dengan ini aku bisa meringankan beban hidup yang ditanggung oleh eommaku sendirian. Sebagai seorang yang bahkan tidak lulus dari Sekolah Menengah atas, sangat susah bagiku untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar.Masa SMAku hanya berlangsung selama 2 tahun.Aku putus sekolah pada saat kenaikan kelas 3.Eommaku tidak sanggup lagi untuk membiayaiku. Walaupun begitu, tidak pernah sekalipun aku menyalahkan eomma akan keadaanku dan keadaan keluarga kami yang berada di garis kemiskinan. Aku percaya ini adalah hidup kami dan kami yakin suatu saat nanti tuhan telah menentukan rencana yang indah untuk kami.

 

“XiuMin-hyung! Palli! Kita sudah akan ketinggalan bis!”, ujar sahabatku, DaeHyun-ah.

“Jinjja?! Palli! Kajja DaeHyun-ah”, ujarku seraya berlari meninggalkan DaeHyun.

“Ya!Kenapa kau malah meninggalkanku hyung? Kamu yang terlambat, kenapa kamu yang meninggalkanku?”, tanya DaeHyun dengan wajah kesal.

“Ah, mianhe. Kajja!”, ujarku seraya merangkul pundak DaeHyun-ah.

 

Jung Dae Hyun atau lebih sering ku sapa dengan DaeHyun adalah satu – satunya sahabat yang aku miliki di lingkungan tempat aku tinggal. Pembawaannya yang tenang sangat cocok dengan pembawaanku yang juga sama tenangnya dengan dia. Umurnya lebih muda 2 tahun dariku. Tapi, kami memiliki latar belakang yang tidak jauh berbeda.DaeHyun berhenti sekolah tepat 1 bulan sebelum ujian kelulusannya. Ayah dan ibunya sudah tiada. Saat ini dia tinggal sendiri tepat di sebelah rumahku.

 

—–

            “Ah, jadi seperti ini pemandangan kota di saat malam hari? Indah sekali hyung”, ujar DaeHyun saat kami turun dari bis.

“Ne. Apa kau belum pernah melihatnya DaeHyun-ah?”,tanyaku.

“Ah, kau kan tau sendiri hyung. Ini adalah kali pertamaku pergi ke kota. Selama ini aku hanya bekeliaran di desa itu saja”, ujarnya.

“Ah, aku lupa DaeHyun-ah.Kajja, kita harus pergi ke tempat kita bekerja. Kau tidak mau terlambat di hari pertamamu bekerja bukan, DaeHyun-ah?”, kataku.

“Ne”.

 

Aku dan DaeHyun pun berjalan menuju sebuah bangunan berlantai 2 dengan halaman parkiran yang sangat luas. Terdapat sekitar 20 mobil taxi yang berjejer dengan rapi di sana. Semuanya berwarna sama, kuning cerah dengan sedikit corak orange pada bagian pintunya.Sudah 7 bulan aku menjalani pekerjaanku sebagai seorang supir taxi. Dan sudah 1 bulan ini aku selalu mendapatkan shift malam. Dimulai pukul 6 senja dan berakhir pada pukul 12 malam.Sedangkan ini adalah kali pertama untuk DaeHyun bekerja bersamaku.Sebelumnya dia bekerja sebagai seorang buruh kasar di desa tempat kami tinggal.

 

Bangunan berlantai 2 yang dicat biru itu seolah – olah menyambut kami dan menyuruh kami untuk memasukinya.Sebuah bangunan yang cukup tua sebenarnya, tapi masih bisa dibilang layak untuk ditempati. Perusahaan taxi ini dikelola oleh sebuah keluarga yang sangat terkenal dan memiliki andil besar dalam dunia perbisnisan di Korea, keluarga Kim. Yah, walaupun aku juga bermarga Kim, tapi aku bukan satu kasta dengan mereka, aku adalah marga yang berkasta rendah.Berbeda jauh dengan mereka.Saat ini perusahaan ini dipimpin oleh anak tunggal dari kepala keluarga Kim, Kim Jong Hyun.Seorang yang berwibawa dan sangat disegani oleh kami, para anak buahnya.

 

“Ah, annyeong haseyo Tuan Kim”, ujar salah satu suara di belakang tempatku berdiri. Sepertinya bos kami juga baru datang, sama seperti kami.

“Ah, annyeong semua”, ujar JongHyun-ssi.

“Ada apa JongHyun-ssi turun dan menghampiri kami di sini? Apa ada masalah?”, tanyaku.

“Ah, aku hanya ingin bertanya pada kalian semua.Apa ada yang mengetahui jalan menuju perbatasan Korea Utara? Aku sangat berterima kasih jika ada yang mengetahuinya dan bersedia mengantarkanku ke sana”, ujar JongHyun-ssi berwibawa.

“Ah, aku dan DaeHyun-ah tau tuan. Kebetulan kami tinggal di desa yang ada di dekat perbatasan Korea Utara tuan”, ujarku.

“Jinjja?!! Kalau begitu apa kau atau DaeHyun-ssi mau mengantarkanku ke sana?”, tanya JongHyun-ssi.

“Aku pikir DaeHyun-ah mau mengantarkanmu tuan. Ini akan menjadi pengalaman kerja pertamanya yang menyenangkan. Benar kan, DaeHyun-ah?”, tanyaku.

“Eh? Aku? Ah, aku bersedia tuan Kim”, ujar DaeHyun.

“Ngomong – ngomong anda ada urusan apa di sana JongHyun-ssi?”, tanyaku.

“Ah, hanya mengurus sedikit keperluan bisnisku saja XiuMin-ssi”, ujarnya.

“Kalau begitu, anda mau berangkat sekarang tuan Kim?”, tanya DaeHyun-ah.

“Ne. Kau tunggu di depan. Aku akan mengambil beberapa barang di ruanganku terlebih dulu”, katanya seraya berjalan masuk ke dalam kantor.

 

Urusan bisnis?Di pelosok desa terpencil seperti itu? Bisnis seperti apa yang akan dilakukan JongHyun-ssi? Bertubi – tubi pertanyaan berdatangan dan bergelayut di dalam otakku. Aku merasakan kejanggalan akan keinginan dari JongHyun-ssi. Entah apa itu. Tapi, aku merasakan sedikit firasat buruk.

 

END of Xiu Min’s POV

 

—–

Dae Hyun’s POV

 

Aku menyalakan taxi yang ku bawa perlahan.Aku meyesuaikan letak kaca yang berada di depanku, sesuatu yang telah menjadi kebiasaanku dalam menyetir.Aku melihat bayangan sosok JongHyun-ssi terpantul pada kaca itu.Dia duduk dengan tenang dan diam. Aku melajukan taxi dengan kecepatan normal.Aku memiliki sedikit fobia jika harus menyetir dengan kecepatan yang melebihi ambang kenormalan.Untuk itu aku memutuskan mennjalankan mobil dengan pelan dan tenang.

 

Pelosok jalan yang aku lalui semakin lama semakin sunyi.Semakin mendekati daerah yang aku tuju, rumah – rumah penduduk semakin berkurang.Dan saat ini aku hanya bisa menemukan satu rumah penduduk setiap 1 kilo meter perjalanan.Itu sangat biasa, daerah perbatasan memang sangat sunyi. Begitupun dengan desa yang akan aku tuju. Daerahnya masih tradisional dan belum tersentuh dengan kecanggihan teknologi modern.

 

25 menit perjalanan aku dan JongHyun-ssi habiskan dengan berdiam diri, fokus dengan aktivitas kami masing – masing.Aku fokus menyetir dan JongHyun-ssi sibuk berkutat dengan laptopnya.Jarinya sedari tadi belum pernah pindah dari keyboard laptopnya, terus mengetikkan kata – kata. Sepertinya ia sedang menulis sebuah laporan. Sesuai arahnya, kami masih harus menempuh sekitar 30 menit perjalanan lagi agar sampai di daerah yang kami tuju.

 

“Ahh, JongHyun-ssi, keperluan bisnis apa yang ingin anda urus disana?”, tanyaku memecah keheningan diantaraku dan JongHyun-ssi.

“Aku hendak melakukan percobaan salah satu produk baru dari perusahaan keluargaku”, ujarnya sambil tetap mempelototi layar laptopnya.

“Produk? Produk apa JongHyun-ssi?”, tanyaku berusaha untuk ramah.

“Tidak usah banyak tanya DaeHyun. Aku tak suka.Teruskan saja menyetir. Kau tak mau aku pecat, kan?”, ujar JongHyun-ssi datar dan dingin.

 

Aku kembali memfokuskan diriku untuk menyetir.Suara datar dari JongHyun-ssi tadi membuatku sedikit takut dan gemetar.Aku memutuskan untuk tidak berbicara lagi dan tidak mengganggunya.Aku takut.

 

END of Dae Hyun’s POV

 

—–

Author’s POV

 

Suasana sudah sangat mencekam malam itu.Bunyi burung hantu terdengar sangat nyaring, saling bersahutan dengan bunyi jangkrik.Semakin menimbulkan kesan keheningan pada daerah itu.sebuah mobil sedan berhenti pada pintu masuk desa. Dari dalamnya turun 2 orang namja.Yang satu berambut blond bernama DaeHyun dan yang satu lagi namja berwajah dingin bernama JongHyun.Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di hadapan mereka.

 

Sebuah bangunan putih yang cukup besar menjadi tujuan perjalanan kecil dari DaeHyun dan JongHyun.Pada gerbang bangunan itu terdapat sebuah papan yang bertuliskan ‘Pusat Penelitian Senjata Korea Selatan’.Di sekeliling bangunan itu, banyak sekali orang – orang berpakaian militer berjalan mengelilingi bangunan putih itu.

 

JongHyun membuka pintu besar bangunan putih itu.Pemandangan di dalamnya sangat menakjubkan.Banyak sekali mesin dan berbagai macam cairan tersusun dengan rapi memenuhi ruangan yang cukup besar itu. Selain itu, di sekitar mesin – mesin itu berdiri banyak sekali orang yang memakai baju yang sama, sebuah jas berwarna putih dan celana kain berwarna hitam. Yeoja ataupun namja semuanya tampak mirip. Mereka semua juga sama – sama memakai sebuah kacamata silinder bergagang hitam yang cukup tebal. Mereka semua terlihat sangat jenius.

 

Para orang – orang jenius itu tampak sedang mengutak – atik cairan – cairan yang berada di dalam tabung – tabung kimia.Mereka mencampurkan beberapa cairan lalu menuliskan reaksi yang dihasilkan oleh cairan – cairan itu.Beberapa ada yang berhasil, beberapa ada juga yang gagal.Tempat itu sangat dipenuhi dengan berbagai macam bau zat – zat kimia yang sangat asing dan berbahaya untuk manusia.

 

“Hei, kamu! Mana produk baru itu?”, tanya JongHyun pada seorang namja yang terlihat sedikit berumur dengan rambut yang mulai memutih sebagian.

“Ah, tuan Kim, apa maksud anda APTX 4869?”, namja paruh baya itu balik bertanya.

“Ne. Dimana Apotoxin 4869 yang ku minta? Apakah sudah jadi?”, tanya JongHyun.

“Ah, sudah jadi tuan. Sekarang obat itu sedang berada di lemari penyimpanan”, jawab namja paruh baya itu merendah.

“Baiklah, antarkan aku ke sana”, suruh JongHyun.

“Baiklah tuan”.

“DaeHyun, kau tunggu sini! Jangan mengikutiku!”, ujar JongHyun sedikit membentak.

“Baiklah JongHyun-ssi”.

 

—–

            JongHyun berjalan menuruni sebuah tangga menuju sebuah ruangan bawah tanah dari gedung penilitian itu.Di belakangnya beberapa orang jenius sedang mengikutinya.Mengawalnya untuk sampai ke tempat yang ingin JongHyun kunjungi, ruang penyimpanan APTX 4869.

 

Apotoxin 4869 atau yang lebih sering disingkat dengan APTX 4869 adalah sebuah obat yang sedang dikembangkan di gedung penelitian itu.Obat berbahaya permintaan dari bos mereka, JongHyun.Obat itu terbuat dari berbagai macam zat – zat kimia berbahaya yang telah dicampurkan dan direaksikan sedemikian rupa sehingga menciptakan sebuah produk yang sempurna, APTX 4869.APTX 4869 adalah obat yang dapat menimbulkan sebuah ledakan gas racun dengan radius sejauh 10 kilo meter apabila bereaksi dengan air dan udara.Obat yang sangat berbahaya apabila dipegang oleh sembarang orang.Meskipun begitu, JongHyun tetap memaksakan para ilmuwan di gedung itu untuk membuatkannya APTX 4869 untuk urusan bisnisnya. Dia berniat untuk menjual obat itu kepada beberapa Negara yang sedang konflik, seperti Korea Utara, Korea Selatan dan Jepang, untuk mendapatkan keuntungan besar. Selama obat itu bisa menghasilkan uang, JongHyun tak pernah memikirkan betapa berbahayanya APTX 4869 bagi manusia.

 

Dan sekarang, obat itu berhasil dikembangkan oleh para ilmuwan atas desakan dari JongHyun. JongHyun mengancam siapa saja ilmuwan yang tidak mau mengerjakan proyek itu ataupun yang membocorkannya akan dia bunuh dengan tangannya sendiri. Sangat sadis memang. Tapi itulah cara JongHyun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Licik dan kejam sudah biasa ia lakukan.

 

“Silahkan tuan, ini obat yang tuan inginkan”, ujar seorang ilmuwan seraya menyerahkan sebuah obat berbentuk bola berdiameter7 centimeter kepada JongHyun.

“Ini?Aku tak menyangka kalau bentuknya sekecil ini”, ujar JongHyun.

“Itulah satu – satunya formula yang berhasil tuan. Kami tak bisa menciptakan APTX 4869 dengan ukuran lebih besar dari pada itu. Maafkan kami tuan”, ujar ilmuwan itu sedikit ketakutan.

“Ah, tak apa. Aku juga sudah puas dengan ini. Apakah ini sudah pernah dicoba?”, tanya JongHyun.

“Dicoba? Maksud tuan?”.

“Apa kalian sudah pernah mencoba untuk meledakkan benda ini?”, tanya JongHyun dingin.

“Belum tuan! Lagipula, untuk apa dicoba tuan? Obat itu sudah pasti akan berhasil. Kami yakin!”.

“Apakah kalian berani menjamin obat ini bisa membunuh banyak orang?! Apa kalian bisa menjaminnya, huh?!!!”, bentak JongHyun.

“Kami tidak tau tuan”.

“Baiklah, kalau begitu biar malamini aku mencobanya”.

“Jangan tuan!Kami mohon jangan”.

“Kalian berani melarangku? Kalian mau mati, huh?!!”.

“Tidak tuan, maafkan kami”.

 

—–

            JongHyun berjalan menghampiri DaeHyun yang duduk di sebuah kursi tunggu di dekat pintu masuk gedung penelitian itu.

“Desa tempat tinggalmu berapa kilo meter dari sini DaeHyun?”, tanya JongHyun tiba – tiba.

“Sekitar 15 kilo meter tuan. Ada apa?”, tanya DaeHyun kembali.

“Antarkan aku ke sana.Aku ada perlu”, ujar JongHyun datar.

“Keperluan apa tuan? Kenapa di desaku?”, tanya DaeHyun.

“Jangan banyak tanya! Kau hanya perlu mengantarkanku dan 2 orang ini. Arra?”, ujar JongHyun dengan tatapan dingin kepada DaeHyun.

“Ah… baiklah tuan”.

 

“Kalian persiapkan ‘itu’.DaeHyun, kau tunggu di mobil”, titah JongHyun.

“Baik tuan”, ujar DaeHyun dan 2 orang ilmuwan secara berasamaan.

DaeHyun pun keluar dari bangunan itu dan menuju mobilnya yang diparkir jauh diluar gerbang gedung penelitian itu. Sedangkan 2 orang ilmuuwan itu bersama JongHyun mempersiapkan obat yang akan mereka uji cobakan malam itu, APTX 4869.

 

—–

Xiu Min’s POV

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lebih 14 menit.Tapi, aku belum melihat kedatangan DaeHyun sejak tadi. Seharusnya dia sudah ada di kantor kami sejak 14 menit lalu, sesuai jam berakhirnya shift malam kami. Tapi, sampai saat ini aku tak kunjung melihatnya.JongHyun-ssi juga tidak aku lihat keberadaannya. Biasanya saat habisnya waktu shift malam, JongHyun-ssi akan menyambut kami di kantornya. Sekedar menyambut kami, mencoba ramah dengan anak buahnya.Tapi, malam ini dia tidak ada. Sepertinya urusan yang ia urus di suatu desa di perbatasan Korea itu belum usai.

 

Urusan bisnis di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan?Kenapa aku agak janggal mendengar hal itu? Kenapa seorang pebisnis yang unggul bisa mempunyai urusan bisnis di desa yang berada jauh dari pusat kota itu? Urusan bisnis apa sebenarnya? Sedari tadi banyak sekali pertanyaan yang memenuhi otakku. Aku terus berpikir tentang urusan apa yang sedang dilakukan JongHyun-ssi disana. Aku juga sangat mencemaskan keadaan sahabatku, DaeHyun-ah.

 

Aku berjalan masuk menuju gedung tempatku bekerja.Aku menuju ruang loker.Aku hendak mengganti bajuku dan mengemasi barang – barangku.Aku berniat untuk menunggu DaeHyun dan pulang kembali kembali ke desa bersama. Aku takut kalau ia ku tinggal akan tersesat dan tak bisa kembali.

 

            “Sebuah ledakan besar terjadi di sebuah desa di dekat perbatasan antar Korea Utara dan Korea Selatan. Menuruttim penyelidik, ledakan besar itu berasal dari reaksi antara zat – zat kimia berbahaya dengan udara dan air di daerah itu. Sampai saat ini belum dapat diketahui berasal dari manakah zat – zat berbahaya itu.Tidak ada yang selamat dalam peristiwa naas ini.Bahkan, dalam radius kurang lebih 10 kilo meter dari TKP, semua tumbuhan yang ada ikut layu terkena efek dari ledakan tersebut”.

Sayup – sayup aku mendengar tayangan berita yang sedang ditonton oleh rekan kerjaku di televisi itu.Aku tersentak, lalu berhenti mendengarkannya lebih cermat.Ledakan besar?Di dekat perbatan Korea Utara dan Korea Selatan?? Omo! DaeHyun-ah!! Aku segera berlari kembali keluar dari gedung itu dan menuju mobil taxi yang tadi aku parkir diluar.Aku langsung menyalakan mobil itu dan menancap gas yang dalam.Aku bergegas menuju desa tempat tinggalku berada. Karena, sesuai apa yang aku lihat di siaran berita tadi, itu adalah pemandangan dari desa tempatku tinggal selama ini.

 

Tidak ada yang selamat dari kejadian itu?Eommaku?DaeHyun-ah?Tuhan, tolong jangan ambil mereka.Tanpa terasa air mataku menetes sedikit demi sedikit dari kedua ujung retina mataku.Aku menangis, membayangkan keadaan eomma dan sahabatku, DaeHyun.Aku tak ingin mereka kenapa – kenapa.

 

—–

            Benar juga yang diberitakan oleh penyiar berita tadi, semua pohon – pohon yang berada dalam radius 10 kilo meter dari desa tempatku tinggal semuanya menjadi layu.Bahkan ada yang mati. Hutan yang dulunya lebat kini berubah menjadi seperti sebuah daerah padang apsir dengan keadaan yang sangat tandus. Tanah – tanahnya menjadi retak dan kering.Aku dapat melihat desa tempatku tinggal bahkan dalam jarak 5 km dari desa itu sendiri.

 

Aku sampai lebih cepat 15 menit dari waktu yang biasa aku tempuh dengan bus untuk sampai ke desa ini. Aku terlalu khawatir, diburu oleh ketakutan akan kematian eommaku dan sahabatku. Aku melihat banyak sekali orang berkeliaran di desa itu. Ada polisi, dokter, petugas pemadam kebaran dan juga tim SAR. Bahkan, keramaiannya melebihi keadaan desa saat hari – hari biasa.

“Permisi agashi, dimana jasad para korban diletakkan? Aku mau melihatnya!”, ujarku saat aku bertemu dengan salah satu dokter wanita yang ada di sana.

“Ah, maaf.Anda siapa? Keluarga dari korban?”, tanya dokter itu.

“Aku penghuni desa ini.Keluarga saya tinggal di sini.Izinkan aku melihatnya agasshi.Jaebal”, ujarku memohon pada dokter itu.

“Baiklah, ikuti saya.Tempatnya ada ditenda hijau disana”.Ujar dokter itu seraya menunjuk sebuah tenda besar berwarna hijau di tengah – tengah lapangan desa.

 

Begitu sampai, aku segera masuk dan membuka satu persatu kantong jenazah itu.semuanya sama, wajah  para jenazah itu pucat. Mata mereka manghitam dan dari hidung mereka mengalir sebuah garis darah yang berwarna hitam.Kondisi mereka sangat mengenaskan.Aku mengecek satu persatu kantong jenazah itu.Berharap tak menemukan wajah dari eomma dan DaeHyun diantara para jenazah itu.

 

Akhirnya aku sampai pada sebuah kantung jenazah yang diberi nomor 21.Aku buka perlahan. Dari dalamnya aku melihat sesosok yeoja yang berwajah sama dengan wajah jenazah yang lain, pucat dan mengenaskan. Wajah itu, wajah eommaku.Aku terduduk lesu.Aku tatap lekat wajah jenazah itu.Berharap wajahnya berubah, bukan wajah eommaku.Aku tampar mukaku, berharap ini mimpi.Tapi, tidak ada yang berubah.Ini semua nyata.Tidak ada yang semu.

 

“Eomma, bangun eomma! Ini aku XiuMin! Aku tidak pulang telat eomma!! Bangun eomma!!”, aku gocang tubuh eomma yang terbaring lemah, tak bernyawa. Aku peluk tubuh itu.Dingin.Tubuhnya sangat dingin.Tapi, entah kenapa aku justru merasakan kehangatan dari dinginnya tubuh eommaku itu.

“Bangun eomma, ini aku”, ujarku berulang – ulang.

Aku menangis sangat hebat.Semuanya sangat menyakitkan untukku.Wajah itu, semakin mengiris dalam hatiku.Air mataku semakin banyak berjatuhan.

 

Tangisanku semakin hebat.Air mataku semakin banyak berjatuhan.Seirama dengan semakin eratnya pelukanku pada tubuh dingin eommaku.Aku larut dalam tangis selama 10 menit, sebelum akhirnya aku tersadar.Aku tersentak dan beralih ke kantung jenazah di sebelah eommaku.Aku membukanya lagi, memastikan isinya.Aku sampai pada kantung jenazah terakhir.Pada kantungnya tertulis angka 54.Aku buka kantung itu.Dari dalamnya aku melihat wajah tak berdaya dari sahabatku, DaeHyun.Wajahnya lebih pucat.Darah yang keluar lebih banyak.Dia masih mengenakan seragam kerjanya yang berwarna biru cerah.

 

“Argh!!!!!”, aku berteriak dengan keras.

Entah kenapa aku tak bisa menangisi kematiannya, kematian DaeHyun.Aku hanya bisa berteriak, memaki semuanya, meluapkan semua kesedihan yang ada dengan meluapkan semua emosiku.Aku marah, aku sedih dan aku terluka.Aku hanya bisa berteriak.Kepalaku panas, aku sangat emosi.

 

Aku segera mengambil hand phoneku. Mencari kontak dari bosku, JongHyun-ssi.Aku curiga semua yang terjadi di sini berhubungan dengan urusan JongHyun-ssi tadi dengan DaeHyun-ah.

“Yeoboseyeo! JongHyun-ssi! Kau sedang ada dimana?”, teriakku begitu panggilanku direspon oleh JongHyun-ssi.

“Aku sedang di kantor. Wae?”, tanyanya datar.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan DaeHyun-ah, JongHyun-ssi? Kenapa kau tidak ada disini?”, tanyaku.

“Dia mati bukan? Apa kau terlalu bodoh sehingga tak bisa mengetahuinya, XiuMin?”, ujarnya dingin.

“Kenapa… kenapa kau bisa mengetahuinya?”.

“Kau pikir aku ada dimana tadi?Aku ada disamping namja polos itu.Aku menyaksikan kematiannya”, ujarnya dingin seraya memutuskan hubungan telepon diantaraku dan dia.

 

Aku tersentak.Aku segera menyambar kunci mobilku.Aku menancap gas sedalam mungkin. Berharap untuk cepat sampai ke tempat dimana JongHyun-ssi berada, kantor. Aku ingin mempertanyakan keadaan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Kenapa dia mengetahui kematian DaeHyun-ah?Kenapa dia bisa berada di sebelah DaeHyun saat itu?Kenapa dia tidak terpengaruh radiasi gas kimia itu?Kenapa dia tidak menolong DaeHyun?Apa maksud semua ini? Apa dia ada andil dalam semuanya?

 

—–

 

Aku bergegas masuk ke dalam halaman parkirkantor tempatku bekerja. Aku melihat ada satu, dua mobil yang berbeda dari biasanya yang terparkir rapi diantara deretan taxi yang ada disana.Mobil siapa itu?Apakah mobil milik klien dari JongHyun-ssi?Kenapa mereka berurusan bisnis pada tengah malam begini? Urusan bisnis macam apa?

 

Aku percepat langkah kakiku, menaiki tangga menuju lantai dua.Menuju sebuah ruangan dengan pintu berwarna merah yang terletak di ujung kanan lantai itu, ruangan JongHyun-ssi.Aku melihat lampunya menyala, terdengar kegaduhan dari dalamnya.Aku juga bisa melihat beberapa siluet orang dari kaca ruangan itu. Ada 7 siluet orang yang bisa aku lihat di sana.

 

“Ah, terima kasih karena ahjussi – ahjussi semua berkenan hadir malam ini di sini.Ini adalah benda yang aku janjikan”, ujar sebuah suara yang aku dengar dari balik pintu ruangan itu, suara JongHyun-ssi.

“Apakah ini benda yang sama dengan benda yang telah meledakkan desa di perbatasan itu?”, tanya salah satu suara berat yang ada di sana.

“Kau pikir aku berani berbohong padamu ahjussi?Aku belum mau mati percuma. Ini bendanya, kalian mau membelinya atau tidak?”.

“Tentu saja kami mau.Ini uangnya sesuai yang telah kita sepakati sebelumnya”.

“JongHyun ahjussi, apa tidak apa – apa kau meledakkan benda itu di desa yang ada di perbatasan sana? Sekarang hal itu sudah menyebar, apa kau tak takut ketahuan?”, tanya suara lain di salam sana.

“Takut? Untuk apa aku takut? Toh, yang aku ledakkan hanya sebuah desa yang tidak penting.Di desa itu tidak ada sesuatu yang bisa menghasilkan uang, aku lebih memilih untuk meledakkannya.Karena itu lebih baik”, ujar JongHyun-ssi datar.

 

Brakk! Prang!

Aku menendang pintu merah itu sekuat tenaga.Setelahnya, aku meninju kaca yang berada di sebelahnya.Tanganku berdarah.Aku sangat emosi mendengar argumen terakhir yang dikeluarkan oleh JongHyun-ssi.Hal itu membuat kepalaku penuh dengan emosi yang sangat besar.

“Apa – apaan maksudmu JongHyun! Bajingan kau!”, umpatku.

“Ah, rupanya kau XiuMin. Apa kau disini untuk membalaskan dendam dari eommamu atau dendam dari sahabatmu yang polos itu?”, tanya JongHyun dingin.

“Bajingan kau, matilah kau dasar bajingan!”, ujarku seraya berlari sambil mengarahkan kepalan tanganku pada JongHyun.

 

Dorr!!

Aku terjatuh.Desingan timah panas menembus bahu kiriku.Banyak darah yang bermuncratan.Aku menggenggam bahuku, sangat sakit.Aku melihat salah satu namja yang berpakaian milter disitu tengah menodongkan ujung pistolnya ke arahku.

“Tahan ahjussi, jangan membunuh namja ini terlalu cepat.Aku belum puas melihat dia menderita”, ujar JongHyun dengan seringaian dingin.

“Baiklah JongHyun-ssi”, ujar namja berpakaian militer itu.

“Lihatlah XiuMin-ssi. Kau bahkan tak bisa menyentuhku. Bagaimana mungkin kau mau membunuhku?”, ujar JongHyun disertai tawa kecilnya yang terdengar sangat dingin.

“Aku akan melakukan apapun JongHyun.Asalkan kau bisa mati. Apapun akan ku lakukan brengsek!”, umpatku.

“Benarkah? Kalau bisa, buktikan padaku kalau kau memang benar – benar bisa membunuhku?”,ujarnya.

“Aku akan membunuhmu, cih!!”, ujarku seraya meludahi wajah brengsek milik JongHyun.

“Kau! Brengsek kau!! Bunuh namja bajingan ini!! Tembak tepat dikepalanya!! Aku ingin kepala tak berotaknya ini hancur! Aku ingin melihat namja rendahan ini mati!!”, umpat JongHyun penuh emosi.

 

Namja yang memegang pistol itu pun berjalan maju ke hadapanku.Dia mengarahkan dan menempelkan ujung pistol miliknya tepat di tengah dahiku.Jari telunjuknya sudah siap menarik pelatuk pistol itu. Keringat dingin bercucran dari dahi dan seluruh pori – pori tubuhku. Aku merasakan dingin yang teramat sangat dari dalam tubuhku.Bukan, ini bukan perasaan takut.Ini lebih seperti ada sebuah kekuatan yang meluap – luap dari dalam tubuhku.Semakin lama, sensasinya semakin dingin dan kekuatan itu semakin besar. Aku merasakan seperti ada sebuah bom yang akan meledak dari dalam tubuhku sendiri.

 

“Uarrrggghh!!!”, teriakku saat sensasi dingin itu semakin memenuhi diriku.

Kekuatan itu aku biarkan keluar, meledak diluar tubuhku.Aku membuka mataku yang sempat tertutup.Aku melihat tubuh namja yang memegang pistol itusedikit demi sedikit membeku.Dimulai dari pistol itu dan berakhir pada kepala serta kedua kakinya.Seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh selapis es yang cukup tebal.Aku bisa melihat matanya berhenti bergerak.Aku juga bisa mendengar jantungnya berhenti berdetak, tepat saat semua es menutupi tubuhnya.

 

“Kau! Apa – apaan ini?”, ujar JongHyun terlihat sedikit panik.

“Ah, ini adalah caraku untuk membunuhmu. Bukannya kau yang memintaku untuk membunuhmu?”, jawabku seraya berdiri. Aku tak kesakitan lagi.

“Kau!! Dasar monster bedebah kau!! Kalian, bunuh bajingan ini!!”, titah JongHyun pada namja lain yang ada disana.

 

Aku melihat ketiga namja militer yang tersisa mengambil pistol yang tersarung di belakang pinggang mereka.Ketiga pistol itu mereka arahkan tepat padaku.Sesaat aku merasakan sensasi dingin seperti tadi.Aku juga merasakan sebuah kekuatan besar yang meluap – lupa kembali dari dalam tubuhku.Bahkan tekanan dan dorongan kekuatan itu lebih besar daripada sebelumnya.Rasa dingin itu pun bahkan lebih dingin daripada sebelumnya.Aku bisa melihat tanganku terbungkus oleh selapis es tipis akibat efek sensasi dingin itu.

“Arrrgggghhhhhh!!!!!!!”, aku berteriak dengan sangat kencang akibat tekanan kekuatan yang meluap dari dalam tubuhku ini.

 

Seketika, seluruh ruangan itu pun berubah menjadi beku.Radiasi itu dimulai dari lantai tempatku berpijak.Ketiga namja militer dan 2 orang namja yang berpakaian ilmuwan itu pun ikut membeku.Bahkan, lapisan esnya lebih tebal dan keras daripada es yang tadi.Aku melihat JongHyun tak ikut membeku seutuhnya.Dia hanya membeku sampai sebatas lutunya saja.Mukanya terlihat pucat pasi. Tapaknya ia ketakutan. Aku berjalan mendekat menghampirinya.Aku meregangkan jari – jari tanganku, seketika jari – jariku terbungkus oleh selapis es yang tajam dan cukup tebal.

“Kau, berhenti! Jangan dekati aku bajingan!!”, teriak JongHyun ketakutan.

 

Aku luruskan tangan kananku.Bentuknya mirip dengan sebuah tombak es yang lancip.Aku ambil ancang – ancang. Dan, jlep! Tangan kananku berhasil menembus dada bajingan itu, JongHyun.Darahnya berhamburan keluar, membasahi tangan, badan serta wajahku, begitu juga dengan tubuh JongHyun. Belum puas dengan hal itu, aku masukkan lagi tangan kiriku pada lubang yang sama pada dada JongHyun. Aku berdiam sebentar, berkonsentrasi.Seketika, tubuh JongHyun membeku.Aku menghempaskan kedua tanganku.Tubuh es JongHyun terbelah dua lalu pecah membentur lantai yang berlapis es.

“Kau pantas mendapatkan itu bajingan!! Pergilah kau ke neraka!! Ratapilah perbuatanmu yang telah merebut eomma dan sahabatku disana, dasar bajingan!!”, ujarku dingin apda tumpukan tubuh JongHyun yang berserakan di lantai.

 

—–

            Aku memasuki tenda hijau tempat jenazah itu kembali.Aku mencari kantung jenazah bernomor 21 dan 54.Aku mengangkutnya sekaligus dan membawanya pergi dari situ.Aku membawanya menuju sebuah gua kecil yang berada jauh dari desa tempatku tinggal selama ini.Gua itu gelap dan dingin.Aku telah membuat semua yang ada di gua itu menjadi es.

 

Aku mengangkat tubuh eommaku dan mencoba mendirikannya.Aku menyelimuti tubuhnya dengan es, sehingga terbentuk sebuah balok es yang cukp besar berdiri menyelimuti eommaku. Aku juga melakukan hal yang sama dengan tubuh DaeHyun. Saat ini, di gua ini, hanya ada aku, serta kedua bongkahan es yang berisi keluargaku, eomma dan DaeHyun.

“Sekarang kalian sudah tenang.Temani aku di dalam kesepian ini eomma, DaeHyun. Asalkan ada kalian disini, aku tak akan merasakan kedinginan dan kesepian. Yang akanaku rasakan nanti justru kehangatan kasih sayang kalian, keluargaku. Temani aku, aku tak bisahidup tanpa kalian”, ujarku lirih pada kedua bongkahan es itu. Air mataku perlahan menetes, menemaniku menghabiskan malam yang sangat panjang ini, menuju pagi yang baru di dalam hidupku esok.

 

 

-FIN-

54 pemikiran pada “[XiuMin’s Side] Genocide :: You Make My Heart Freeze.

  1. uwaaa !! Jonghyun oppa, teganya kau !! ku bunuh kau !! #eh? Keren !! ini lebih kerasa feel.a .. Lanjuutin, thor !! Kapan nih bagian Tao ama Sehun ?? Kok blom muncul2 sih ?? ^^ xoxo

  2. yeeeeeeeeeyyyyyyyy akhirnya baca yg xiumin oppa…(my bias) kok sedih semua sich…
    gak ada yg happy ending ya oppa????? keep writing!!!FIGHTING!!
    tapi aku suka kekuatannya xiumin oppa…
    yuk bikin teh es…*tarik tangan xiumin oppa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s