The Dreams that Coming True (Chapter 5)

The Dreams that Coming True (Chap. 5)

Author: OSH98

Genre: Fantasy, Adventure

Cast: Park Hyemin (OC/YOU), EXO member

Rating: G

Length: Chaptered

Disclaimer: I hope I own everyone in this fic, but I think that’s too greedy xD. So I just own the original character and the fic. Actually I was inspired by ‘Adventure of Sharkboy and Lavagirl’s plot, but I’ve develop it.

A/N: Sekali lagi terima kasih ^^ Komentar, saran dan kritik yang udah kalian berikan bener-bener nyemangatin saya buat lanjutin ff ini. Dan mianhae, karena laptop saya sempet rusak dan berbagai macam ujian yang harus saya hadapi (?) cerita ini jadi sedikit tertunda ;_; Mungkin banyak yang udah lupa sama cerita ini, tapi ya sudahlah. Perlu diingat kalau saya menerima segala macam komentar, kritik, saran maupun bash dengan senang hati. Karena saya gak bakal nganggep ‘bash’ itu sebagai kata-kata yang menjatuhkan saya, tapi membangkitkan saya. So, don’t feel bridled to say any words!

GOMAWO AND HAPPY READING~

Chap 1 Chap 2 Chap 3 Chap 4

The dreams that coming true (Chap 5) © OSH98 2012. Alright Reserved.

Sometimes some dreams are too strong and they become real.

Adventure of Sharkboy and Lavagirl –

hyeee

-***-

Hyemin menutup matanya karena terlalu pusing dengan sapaan serentak mereka. Bagaimana bisa ia menangkap semua sapaan itu secara bersamaan? Dasar orang-orang aneh.

Tapi ia membuka matanya ketika mendengar suara dan gaya bicara yang sangat ia kenal. Suara yang terdengar bagaikan harmoni di telinganya walaupun pada kenyataannya suara tersebut sangatlah datar.

“Hyemin-ssi. Kita bertemu lagi.”

Ya, suara itu. Suara Oh Sehun di mimpinya.

-***-

“Kenapa.. kalian bisa ada di sini?” tanya Hyemin bingung, suaranya sedikit bergetar.

“Memangnya tidak boleh?” tanya Chanyeol balik seraya memberikan smirknya ke arah Hyemin. Gadis itu membalasnya dengan delikan.

“Aish yak! Aku serius!” jerit Hyemin frustasi. Ia merasa kalau hidupnya makin hari makin aneh saja.

“Dan lagi, kenapa mereka semua tidak bergerak? Aish, aku tidak mengerti!” lanjutnya, dengan nada yang lebih frustasi.

“Ssh.. Tenang Hyemin-ssi. Chanyeol itu tidak usah ditanggapi. Kami disini karena kami membutuhkan bantuanmu,” tukas lelaki yang mirip dengan Junmyeon—Suho.

“Hah? Bantuan? Bantuan apa?” tanya Hyemin bingung. Ia berani bersumpah demi apapun kalau ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang.

“Jadi begini, sedang terjadi kerusuhan di dunia asal kami, EXOSTER. Di dunia kami, terdapat dua jenis bangsa. Yaitu bangsa EX-EAST dan EX-WEST. Zaman dahulu sekali, kedua bangsa ini pernah berperang, tetapi karena kehadiran gadis peramal yang entah darimana asalnya, peperangan tersebut berhasil dihentikan. Kedua bangsa tersebut juga kembali memulai kerjasama yang dapat dibilang sangat baik. Namun, satu milenium setelahnya, ada seorang peramal tua dari bangsa EX-EAST yang mengatakan kalau akan kembali terjadi peperangan di antara kedua bangsa tersebut. Tapi di saat itu tidak terlalu banyak orang yang percaya akan kata-kata peramal tersebut dan memilih melupakannya. Sampai akhirnya kira-kira dua setengah tahun yang lalu, pangeran dari bangsa EX-EAST membunuh putri kerajaan bangsa EX-WEST. Keluarga kerajaan EX-WEST yang tidak terima akan hal tersebut, menyatakan perang dengan bangsa EX-EAST, dan peperangan itu masih berlanjut sampai saat ini,” jelas Jun dalam mimpiku—Suho panjang lebar.

“Terus apa yang bisa kubantu? Aku bukan seorang manusia dari dunia kalian, itu juga bukan urusanku,” tanya Hyemin bingung.

“Tentu saja—“

“Tuh kan hyung, dia itu memang tidak bisa membantu. Untuk apa kita datang dan meminta bantuan kepadanya?” cibir Chanyeol kesal. Tapi kali ini Hyemin tidak menghiraukannya.

“Sst, diam Chanyeol. Tentu saja kau sangat membantu. Kau memang bukan bagian dari dunia kami, tapi semuanya bergantung padamu,” terang Suho lagi setelah sempat terpotong oleh cibiran Chanyeol.

“Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak punya kekuatan seperti kalian,” ujar Hyemin realistis. Bagaimana mungkin aku bisa menolong mereka? Aneh sekali, pikir Hyemin.

“Tadi kan kau dengar kalau ada seorang gadis peramal yang tiba-tiba muncul dan berhasil mendamaikan kembali kedua bangsa tersebut. Kaulah gadis tersebut,” celetuk Kris tiba-tiba. Membuat Hyemin membelalakkan matanya.

“Aku? Mana mungkin. Dari mana kalian tahu kalau gadis itu adalah aku?” tanya Hyemin tidak percaya. Aku bermimpi terlalu dalam, batinnya lagi.

“Tentu saja kami tahu. Kau pikir bagaimana kau bisa memimpikan kami setiap malam? Tentu saja karena kami yang sengaja masuk ke mimpimu,” jawab Sehun kali ini. Nada bicaranya yang dingin dan tegas berhasi membuat Hyemin tersentak.

“Tapi.. kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain?”

“Ah kau banyak tanya. Ya itu karena memang sudah takdirmu, bodoh,” jawab Chanyeol asal. Hyemin memelototinya kali ini.

“Yah kau tiang listrik! Jaga bicaramu!” sahut Hyemin tidak terima. Suho menahan tubuhnya yang hampir berlari menghampiri Chanyeol untuk menjambak rambut keritingnya.

“Jangan hiraukan dia Hyemin-ssi, dia ini hanya sedikit nakal. Tentu saja harus Hyemin-ssi karena Hyemin-ssi merupakan keturunan suci,” ujar Baekhyun seraya menepuk pundak Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya dan duduk di samping pria keriting itu.

“Keturunan suci? Apa itu?”

“Keturunan gadis peramal itu. Hanya keturunan suci yang bisa mendamaikan peperangan ini,” terang Lay seraya tersenyum ke arah Hyemin, memperlihatkan dimple di pipinya.

“Hah? Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Ikut saja dan kau akan tahu,” jawab Tao dan seketika mereka pun ber-teleport.

-***-

EXOSTER — EXO PLANET

Kini Hyemin dan kedua belas lelaki tampan itu tiba di sebuah rumah tua yang Suho sebut sebagai ‘markas’ mereka. Dari luar rumah itu memang tampak tua dan tidak layak untuk ditinggali, tetapi ruang bawah tanahnya berkata lain. Di bawah tanah itu terdapat sebuah ruangan seukuran lapangan bola yang terbagi menjadi lima belas ruangan. Ruangan utama yang berukuran lebih besar dari yang lainnya itu adalah tempat dimana mereka berdiri sekarang. Ruangan itu sama saja dengan ruang keluarga biasa. Terdapat peralatan elektronik seperti televisi tipis super lebar—yang tidak Hyemin ketahui berapa inci lebarnya, home theater super besar, dan beberapa barang aneh yang tidak Hyemin ketahui apa namanya. Di ruangan tersebut juga terdapat sebuah sofa multifungsi yang sangat panjang dan lebar—tidak heran mengingat jumlah mereka yang banyak, dan sebuah meja yang juga tidak kalah panjang. Beberapa peralatan musik yang sedikit berbeda dengan biasanya juga terdapat di pojok ruangan itu.

“Kagum, huh?” Sebuah suara berat muncul dari arah belakang Hyemin, membuat gadis itu tersentak dan sadar dari observasinya. Chanyeol.

“Kau lagi,” ujar Hyemin disertai dengan ekspresi bosannya. “Tidak bisakah kau mencari orang lain untuk dipermainkan?” sambungnya, masih dengan wajah bosan.

Mendengar perkataan Hyemin, sontak Chanyeol mengerutkan dahinya. “Dipermainkan? Apa maksudmu?”

“Apa kau tidak sadar kalau sikapmu itu membuat orang-orang merasa dipermainkan? Kau ini bodoh atau apa?”

“Memangnya aku melakukan apa, hah?”

“Geumanhae.” Sebuah suara yang juga terdengar berat kembali menyahut, bermaksud menghentikan aksi pertengkaran kedua makhluk tersebut.

“Kris ge,” ujar Chanyeol setelah mendapati seorang pria yang lebih tinggi darinya itu baru saja menyahut, hendak memberhentikannya. Sedangkan Hyemin, ia hanya terdiam.

“Bisakah kalian tidak bertengkar sekali saja? Lihat, aku mulai lapar,” celetuk Xiumin seraya mengelus perutnya. Hyemin tersenyum kecil.

“Dimana dapurnya? Aku bisa membuatkanmu makanan kecil,” ujar Hyemi seraya tersenyum.

-***-

Ruangan itu terletak di bagian paling belakang, bercat belang hitam-putih. Sekilas tidak tampak seperti dapur, karena terdapat berbagai macam peralatan elektronik yang jauh lebih aneh dari yang ada di ruang depan. Namun bila diperhatikan lebih lanjut, peralatan-peralaan tersebut kurang lebih sama dengan peralatan dapur biasa. Bedanya hanya mereka lebih terkesan gothic dan berbentuk aneh.

“Ini mixer?” tanya Hyemin dan Xiumin hanya mengangguk mengiyakan.

Hyemin kembali menatap benda kecil itu. Bagian bawahnya memang menyerupai mixer pada umumnya, tapi bagian atasnya? Banyak tombol-tombol aneh dan gagangnya sangat tipis. Tidak ada kepala yang besar, hanya ada ujungnya yang kecil yang dibuat untuk mengaduk adonan.

Seakan bisa membaca pikiran Hyemin, Xiumin menjelaskan fungsi benda itu. “Tombol-tombol itu berbeda fungsi. Ada yang untuk mempercepat laju mixer, ada yang untuk menambah pengaduk, dan masih banyak yang lainnya. Kau tidak memerlukan listrik karena ada baterai tipis di dalamnya. Kau juga tidak perlu memegangnya ketika sedang mengoperasikan mixer.”

“Hei, kau bukan Luhan ‘kan?” tanya Hyemin dan Xiumin tertawa. Ia baru saja menyadari kalau Hyemin mengiranya sedang membaca pikirannya.

Namun tetap saja Hyemin terbelalak setelah mendengar penjelasan XIumin dan kembali menatap benda itu. Sebegitu canggihnya?

“Nah. Sekarang kau mau membuatkan aku apa? Cepatlah, aku sudah lapar,” ujar Xiumin dengan nada memelas dan wajah baozinya. Hyemin hanya tertawa.

“Sabar yah, aku akan membuatkanmu makanan setelah mengetahui fungsi benda-benda aneh di sini,” tukas Hyemin membuat Xiumin mengerucutkan bibirnya.

“Kalau yang ini apa?” tanya Hyemin lagi, seraya menunjuk benda berbentuk kotak kecil dan tipis. Di badan benda itu terdapat beberapa tombol dan benda itu ada beberapa buah di dalam ruangan ini.

“Itu kompor,” jawab Xiumin, berhasil mengundang respon yang berlebihan dari Hyemin.

“KOMPOR? BENDA SEKECIL INI KOMPOR?” tanya Hyemin tidak percaya, matanya hampir keluar. Xiumin hanya kembali mengangguk.

“Omona, kenapa bisa ada dunia secanggih ini? Kompor aja tipis betul,” ujar Hyemin, masih penuh dengan ketidakpercayaan.

“Tentu saja ada. Hanya saja kalian tidak bisa menemukan kami karena kami berada di dimensi yang berbeda dengan kalian,” sahut seseorang yang tiba-tiba masuk ke dapur. D.O.

“Nah, kebetulan ada D.O. Kau belajar sama dia saja ya Hye, dia juru masak kelompok kami. Aku mau nonton TV dulu, bye~” ujar Xiumin seraya beranjak keluar dari dapur. Hyemin menatap D.O. dari atas ke bawah, tidak percaya lelaki berkekuatan ekstra itu adalah juru masak sekelompok pria tampan ini.

“Nah Hyemin-ssi, apa ada yang bisa kubantu?”

-***-

D.O. melepas blue apronnya dan beranjak keluar dapur, di tangannya terdapat sebuah nampan dengan tujuh porsi spaghetti. Di belakangnya, Hyemin tengah berjalan seraya membawa sebuah nampan berisi enam porsi spaghetti. Total tiga belas spaghetti.

“Hore~ Makan!” jerit Xiumin seraya berlari ke arah meja makan.

“Hyung ini yang ada di pikirannya hanya makanan,” ujar Chen yang berjalan di belakangnya. Xiumin tidak menghiraukannya dan segera duduk di salah satu kursi.

Satu per satu member EXO—begitu mereka menyebut diri mereka- beranjak dari tempat asal mereka menuju meja makan. Ketika semua orang sudah duduk, Hyemin masih berdiri kebingungan. Kursi di ruang makan ini hanya ada dua belas, dia mau duduk di mana?

“Oy, Hyemin,” panggil seseorang yang terdengar familiar bagi Hyemin. Ia tahu siapa yang memanggilnya, dan merasa malas untuk menoleh. Tapi tetap saja ia menoleh. Ia tidak mau dianggap tidak sopan di rumah orang.

“Mwo?”

“Duduk di sini,” ujar seseorang yang ternyata Chanyeol itu seraya menunjuk kursi yang baru saja ia letakkan. Hyemin melangkah ke arah kursi itu, kemudian duduk. Sebelum Chanyeol kembali ke kursi makannya, Hyemin menggumamkan sebuah kata.

“Ehm. Gomawo.”

Tanpa Hyemin atau siapapun sadari, kedua sudut bibir Chanyeol tertarik setelah mendengar sebuah kata dari Hyemin.

-***-

Makan malam selesai. Satu per satu member EXO kembali mengerjakan aktivitas mereka. Ada yang menonton TV, tidur di kamar, bermain kartu, mengobrol, dan lain-lain. Kecuali D.O. yang kini sedang mencuci piring bersama Hyemin sekarang.

“Ehm, D.O,” panggil Hyemin di sela kegiatannya membilas piring. Mendengar namanya dipanggil, lelaki itu menoleh ke arah Hyemin.

“Ada apa?” tanyanya.

“Eh.. itu. Aku masih bingung kenapa aku ada disini. Kalian tidak tampak seperti sedang berperang,” ujar Hyemin akhirnya. D.O hanya mengangguk paham.

“Hahaha, Hyemin-ssi, kau tidak tahu situasi di luar. Lagipula, markas ini dilindungi oleh semacam kubah tak terlihat, sehingga tidak ada orang selain kami dan kau yang bisa masuk.”

“Oh, begitu. Lalu bagaimana dengan kalian? Kalian bagian dari bangsa EX-EAST atau EX-WEST?”

Mendengar pertanyaan Hyemin, D.O. seakan tengah berpikir sejenak. Selang beberapa detik kemudian ia menjawab pertanyaan Hyemin.

“Bisa dibilang.. kami termasuk keduanya, tapi juga bukan keduanya,” jawab D.O., menambah kebingungan Hyemin.

“Maksudku begini. Kami terlahir di tempat yang berbeda. Ada yan terlahir sebagai bagian dari bangsa EX-EAST, ada yang terlahir sebagai rakyat bangsa EX-WEST, adapula yang terlahir sebagai bagian dari EX-CENTER. Tapi sekarang ini kami bukan merupakan bagian dari keduanya.”

“Kami adalah grup gabungan yang dibentuk oleh lembaga permiliteran bangsa EX-CENTER. Setiap grup gabungan yang dibuat oleh bangsa EX-CENTER tidak terikat bangsa apapun, bahkan EX-CENTER sekalipun,” lanjut D.O memperjelas keterangannya tadi. Hyemin mengangguk mengerti.

“Ah, lalu—“

“Mian, Hyemin-ssi. Bukannya aku tidak mau menjawab pertanyaanmu, tapi tampaknya akan lebih jelas jika kita membicarakan ini dengan para member nanti. Suho hyung pasti punya penjelasan yang lebih tepat,” potong D.O. membuat Hyemin kembali mengangguk dan melanjutkan aktivitas menucucinya.

Huft, Hyemin tidak menyangka kalau di kehidupan remajanya ada yang seperti ini.

-***-

Kini para member EXO ditambah Hyemin sedang duduk melingkar di ruang utama. Suho tampak sedang membuka ‘acara’ yang akan mereka lakukan malam itu.

“Jadi, tujuanku mengumpulkan kalian semua hari ini adalah untuk mengenalkan dunia kita kepada Hyemin dan untuk memberikan penjelasan tentang strategi kita,” jelas Suho. Semua member tampak mengangguk.

“Jadi, Hyemin, ada yang ingin kau tanyakan? Kudengar tadi kau sudah bertanya beberapa hal kepada D.O.,” ujar Suho lagi.

“Ehm begini. Aku masih sedikit bingung dengan keadaan di sini. Apakah bangsa EX-CENTER pemegang kuasa pemerintahan di dunia ini? Lalu kenapa bangsa EX-CENTER tidak ikut berperang? Ada berapa bangsa sebenarnya di dunia ini?” tanya Hyemin sekaligus. Rasa penasarannya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi rupanya.

“Pertanyaan cerdas. Bangsa EX-CENTER memang pemegang kuasa pemerintahan atas dunia ini. Keturunan bangsa EX-CENTER tidak banyak. Tapi sekali kau terlahir sebagai bagian dari bangsa itu, kau adalah orang yang terpilih, karena orang-orang dari bangsa EX-CENTER adalah orang-orang yang bertindak dengan pikiran, bukan dengan omongan atau kekerasan. Rata-rata mereka adalah orang yang berintelijensi tinggi dan tidak terlalu terbuka. Maka itu bangsa tersebut yang memegang alih pemerintahan dunia,” terang Suho.

“Soal kenapa bangsa EX-CENTER tidak ikut berperang itu karena seperti yang Suho hyung bilang tadi, mereka bertindak dengan pikiran. Sebenarnya peran mereka adalah melerai segala kerusuhan di dunia ini. Maka itu kami dibentuk,” lanjut Baekhyun seraya tersenyum ke arah Hyemin. Hyemin membalas senyumannya dengan senyum bingung.

“Di dunia ini ada empat bangsa utama. Yaitu EX-EAST, EX-WEST, EX-CENTER dan Upperhigh. Yang lainnya hanya bangsa tambahan. Biasanya anggota bangsa-bangsa sampingan itu melarikan diri dari bangsa asal mereka dan membuat koloni kecil,” tambah Kris menjawab segala pertanyaan Hyemin. Hyemin mengangguk mengerti, tapi masih ada yang membuatnya bingung.

“Bangsa Upperhigh itu apa?”

“Bangsa yang kedudukannya lebih tinggi dibanding bangsa manapun—tak terkecuali bangsa EX-CENTER. Jika bangsa EX-CENTER adalah pemegang alih pemerintahan, Upperhigh adalah pemegang alih dunia. Orang-orang dengan intelijensi super dapat kau temui di sana. Mereka adalah orang-orang jenius yang cinta kedamaian dan keharmonisan. Tempat tinggal mereka juga spesial, di atas awan,” jawab Kai kali ini, berhasil membuat Hyemin membelalakkan matanya.

Lantas mereka ini berasal dari bangsa mana saja?

“Kami berasal dari banyak bangsa, seperti yang tadi D.O. beritahu kepadamu. Chanyeol, Baekhyun, Kai, D.O dan Suho berasal dari EX-EAST. Xiumin, Lay, Tao, dan Chen berasal dari bangsa EX-WEST. Aku dan Kris berasal dari EX-CENTER dan Sehun berasal dari Upperhigh,” terang Luhan tiba-tiba. Hyemin menatapnya dan ia melambangkan tanda ‘peace’ dengan jari tengah dan telunjuk kanannya.

“Eh.. mian tadi aku membaca pikiranmu,” tambah Luhan lagi. Hyemin hanya mengangguk dan kini ia mengalihkan pandangannya ke arah Sehun yang setengah mengantuk. Ia berani bertaruh kalau lelaki itu tidak memperhatikan pembicaraan ini sedaritadi.

“Kau tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Ia mendengar semua percakapan kita sedari tadi,” bisik Luhan yang duduk di sebelah Hyemin. Ia baru saja membaca pikiran Hyemin lagi.

“Hah? Setengah tidur begitu?”

“You’ll never know what’s on Upperhighers mind. Aku yang sudah bersahabat dengannya sejak kecil saja terkadang tidak bisa membaca ekspresinya.”

Upperhigher? Intelijensi tinggi? Apa Oh Sehun memang ditakdirkan untuk menjadi pintar? Bahkan di dunia-yang-hampir-seperti-mimpiku ini?

-***-

“Selamat tidur semua.” Satu per satu member EXO sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, meninggalkan Hyemin yang masih kebingungan.

Ya, setelah kursi, sekarang kamar.

Masalah kursi makan memang bisa diatasi. Tapi kamar tidur? Hh, lebih baik aku tidur di sofa itu saja, pikir Hyemin.

Hyemin menjatuhkan tubuhnya di sofa lebar nan empuk itu, dan tidak lama kemudian ia sudah jatuh tidur. Tanpa siapapun sadari, seseorang keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah Hyemin. Setelah memastikan kalau Hyemin sudah tertidur pulas, ia mengangkat tubuh wanita itu dan meletakannya di kamar miliknya kemudian tidur di sofa.

Selamat tidur, Hyemin, bisiknya kemudian menutup matanya perlahan.

-***-

Akhirnya selesai juga chapter 5. Maaf sudah menunggu lama ;_; Laptop saya sempet rusak jadi gabisa ngelanjutin ff ini. Ide juga sempet stuck tapi untung aja ketemu jalan keluar (?). Nah, dikarenakan author yang kelamaan update, author kasih preview chapter 6 sebagai bonus. Enjoy~ ^^

PREVIEW CHAP. 6

Di mana ini? Bukannya tadi malam aku tidur di sofa?

Kamar itu sangat rapi untuk ukuran lelaki. Bahkan Hyemin mengakui kalau kamar ini lebih rapih daripada kamarnya di rumah.

CKLEK. Tiba-tiba pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu terbuka, menampilkan sesosok lelaki tinggi bertubuh atletis yang hanya menggunakan handuk sebagai penutup bagian bawah tubuhnya.

~

“Katanya Upperhigher cinta damai, tapi kenapa kau ikut bergabung dalam grup ini? Bukannya tugas kalian adalah untuk memerangi peperangan?”

“Memang kami cinta damai. Lalu kalau terjadi peperangan, apa yang harus dilakukan agar keadaan kembali tenang?”

“Ya dengan menghentikan peperangan.”

“Nah. Lalu kau pikir apa yang sedang aku lakukan sekarang? Ingatlah, diam dan duduk manis tidak akan pernah merubah keadaan.”

~

“Kenapa kau tidak pernah bersikap baik terhadapku, sih?! Memangnya apa salahku?!”

Ia terdiam, tidak menjawab. Tidak tampak raut bersalah di wajahnya.

“Sudahlah. Kalau memang aku tidak pernah dibutuhkan, untuk apa aku disini?! Lebih baik aku pulang ke tempat asalku!”

“Jangan seenaknya bicara, ya! Kau tidak boleh pergi dari sini! Kau tidak tahu kalau dunia ini ada di tanganmu?!”

“Tapi tadi kau sendiri yang bilang kalau aku ini tidak berguna, jadi apa artinya aku disini?!”

~

Gimana previewnya? Makin penasaran gak? :9 Yaudah, akhir kata, RCL bila sempat! Kalo gak sempat, besok aja (?) Annyeong~

 

24 pemikiran pada “The Dreams that Coming True (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s