Exotics And Their Stories (Chapter 2)

POSTER!

Title: Exotics And Their Stories (Part 2)

Author: baekhug12 / @sarahmnabila

Genre: Fantasy, Romance (Comedy-nya dihilangkan-_-)

Cast:

  • Choi Seolhwa (OC)
  • All EXO Members
  • SNSD’s Taeyeon as Alexis
  • f(x)’s Krystal
  • f(x)’s Sulli
  • …and more to come

Rating: PG ._.

Length: Chaptered

______________________________________________________________________________

EXOPLANET

Krystal menghirup udara sebanyak-banyaknya, membiarkan aroma segar yang dihasilkan oleh pepohonan masuk ke paru-parunya. Black Pearl tetap terlihat sama ketika terakhir kali ia melihatnya, namun kali ini seberkas cahaya hijau yang menyilaukan¾entah berasal dari mana¾menerangi danau berwarna hitam pekat itu.

Krystal melepas sepatunya untuk memudahkannya berjalan di atas butiran pasir putih. Ia kemudian duduk di tepi danau, membiarkan telapak kakinya menyentuh air yang dingin. Samar-samar terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Krystal tidak menghiraukannya, ia sibuk menghirup udara sebanyak mungkin hingga paru-parunya penuh. Udara sejuk yang tak akan pernah ditemuinya di Bumi.

Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundaknya. Krystal menghela napas. “Usaha yang bagus, Sehun.”

Sehun terkekeh seraya mengambil tempat duduk di sebelah Krystal. “Tidak ada gunanya berusaha mengagetkan Krystal Wu. Benar, ‘kan?”

“Kau tahu itu.” Sehun mencibir sebelum akhirnya kembali pada ekspresi datarnya seperti biasa. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Pyrokinesis sudah ditemukan?”

Sehun memutar kedua bola matanya. “Kau membosankan. Setidaknya berpura-puralah tidak tahu.”

“Baiklah, terserah kau saja.”

“Aku tidak tahu lagi bagaimana cara membangunkan Kai. Kau tahu, ‘kan, mereka mempunyai cara masing-masing untuk mengingatnya? Adelfós Luhan… ia hanya melihatku dan ia langsung ingat begitu saja.”

“Apa kau ingat? Sebelum kita datang ke Bumi, kau selalu bertanya padaku tentang Luhan, ‘Kalau kita bertemu lagi, kalau kita dekat kembali, akankah… perasaan lama yang pernah kita miliki kembali lagi?’.”

“Aku tidak akan pernah lupa saat setelah itu kau tertawa terbahak-bahak selama dua jam nonstop.” Krystal tersenyum seraya memukul pelan pundak Sehun.

Adelfós Baekhyun… aku menemuinya dalam mimpi satu kali dan ia langsung ingat begitu saja. Dan Adelfós Chanyeol… hanya dengan melihat foto kami, ia langsung ingat begitu saja.”

“Mereka semua benar-benar tidak terduga.” Sehun mengangguk setuju. Pandangannya menerawang.

“Dan tanpa kau sadari, salah seorang dari sebelas penjaga itu telah mengingat dengan sendirinya setelah ia membaca legenda EXOPLANET. Dan saat ini… ia sedang mencarimu.”

Mata Sehun membulat sempurna. “Benarkah?! Siapa?”

Krystal menggeleng, menolak untuk memberikan petunjuk apapun pada namja berkulit putih pucat itu. “Seperti yang kau bilang, bukankah membosankan jika kita mengetahui segalanya? Aku sudah melakukannya, Sehun. Aku berpura-pura tidak tahu.”

“Usaha yang bagus, Krys.” Krystal tersenyum simpul kemudian bangkit dari duduknya, meregangkan ototnya sejenak dan menoleh pada Sehun.

“Aku ingin jalan-jalan sebentar. Kai… aku akan membantumu membangunkannya. Kau fokuskan diri pada penjaga lain yang belum ditemukan, dan terutama… putri vasílissa. Ya, aku berubah pikiran. Putri vasílissa saat ini sangat dekat dengan salah satu penjaga. Manfaatkan kesempatan itu.”

Sehun tersenyum. “Terima kasih untuk semuanya.”

Krystal mengangguk seraya mencubit kedua pipi Sehun dengan gemas. “Kau terlihat kurang sehat akhir-akhir ini. Walaupun aku tahu kau sedang dalam misi untuk menyelamatkan Pohon Kehidupan, kau tetap tidak boleh meninggalkan makan siang. Katalavaínete?”

“Hm.” Jawab Sehun seadanya seraya melambaikan tangan acuh tak acuh.

Sepeninggal Krystal, Sehun membaringkan tubuhnya di atas pasir putih nan empuk. Ia menghembuskan napas panjang, kemudian memejamkan mata.

“Gadis itu selalu saja membuatku penasaran.”

***

Krystal berjalan menyusuri jalan setapak yang dihiasi oleh lilin-lilin kecil sebagai penerangan. Ia mendengus. Semakin lama tempat ini semakin aneh.

Krystal menendang gerbang raksasa di hadapannya, membukanya dengan paksa. Ia menghela napas kemudian melangkah melewati gerbang berlapiskan emas tersebut. Kalau bukan karena perintah, ia tidak akan datang ke istana. Ia tidak pernah menyukai tempat itu. Entah mengapa, istana selalu tampak berlebihan di matanya. Gerbang berlapiskan emas? Oh, please.

Krystal kembali menendang pintu masuk istana yang tak kalah besar dengan gerbangnya. Kali ini ia butuh tenaga lebih karena pintu itu terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi yang sangat kuat. Krystal kembali mendengus sebelum akhirnya berhasil membuka pintu tersebut.

Tanpa diperintah, ia melepas kedua sepatunya dan berjalan dengan kaki telanjang seolah takut mengotori lantai istana yang berlapiskan marmer mengkilat. Krystal mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sekadar memastikan jika ada sesuatu yang baru di tempat ini selama ia berada di Bumi.

Sesuai dugaan, relief-relief kuno yang awalnya terpajang di segala penjuru dinding, kini tergantikan oleh ribuan berlian The Sancy  berwarna kuning pucat yang konon tak ternilai harganya. Tak hanya itu, di langit-langitnya tergantung lampu kristal raksasa. Krystal kembali berdengus untuk kesekian kalinya. Mungkin ia harus menyipitkan mata akibat pantulan sinar berlian yang menyilaukan ini.

Yang paling disukainya di gedung terlalu mewah ini hanyalah sofa panjang berwarna coklat tua yang terbuat dari bulu domba yang super empuk, belum lagi letaknya berseberangan dengan perapian dan jendela besar yang menyajikan pemandangan indah distrik Terra yang hijau dan distrik Lunar yang bercahaya. Tidak hanya itu, tak jauh dari sana terdapat pintu kaca menuju patio yang menyajikan pemandangan Luhan jika ia sedang melukis di sana. Tempat paling nyaman untuk bersantai atau sekadar cuci mata.

Sebelum hawa nafsunya membawanya pada sofa tersebut, Krystal dengan segera memaksa kedua kakinya menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet merah. Tidak ada yang istimewa di sana, hanya relief-relief kuno yang sebelumnya terpajang di dinding ruang utama dipindahkan ke sini.

Krystal menghembuskan napas panjang ketika ia berhadapan dengan pintu masuk menuju ruang pribadi milik Vasílissa Alexis. Entahlah…

Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Rupanya seorang ypi̱rétria berkebangsaan Telekinesis, jelas saja ia mengetahui jika ada seseorang di balik pintu.

Kalo̱sórisma. Vasílissa sudah menunggu.” Krystal hanya mengangguk canggung dan memasuki ruangan yang serba tertutup itu. Di sana sudah menunggu seorang wanita berambut keriting kecoklatan dengan mahkota berlian tersemat di kepalanya. Matanya berwarna hazel dan bibirnya dipoles lipstick merah darah. Ia tampak tersenyum samar.

Krystal membungkuk singkat pada ratu EXOPLANET itu dengan setengah hati. “Ada apa memanggil hamba kembari, Mama?”

“Kau menendang pintu lagi untuk membukanya, hm?” Krystal meringis pelan. I didn’t expect this, old lad-oops.

“Hamba tidak akan melakukannya lagi.”

Alexis menghela napas, kemudian mengalihkan pandangan pada bola kristal berwarna hitam yang berada di sudut ruangan. “Terserah kau saja.”

“Bukankah aku menyuruhmu menemani Sehun dan membantunya mencari kesebelas penjaga lainnya? Mengapa kau merahasiakan keberadaan mereka? Kau tahu hal itu sangat memakan waktu, bukan? Kalau daun Pohon Kehidupan yang terakhir gugur, maka dunia beserta isinya akan hancur, Krystal Wu. Kau tahu itu. Tunjukkan padanya, Chara.”

Dengan satu jentikan jari dari sang ypi̱rétria, bola kristal itu melayang di udara mendekati Krystal. Ia mau tak mau memandang bola kristal itu, memperhatikan dengan seksama gambar apa yang akan tertera di sana.

Sesuai dugaan, Pohon Kehidupan.

Di gambar itu Pohon Kehidupan tampak utuh seperti dahulu. Namun tiba-tiba, aura hitam muncul mengelilinginya. Satu-persatu daunnya mulai berguguran. Perlahan, pohon itu terbelah dua… dan hilang dengan sendirinya.

Beberapa saat kemudian, bola kristal itu berganti menjadi gambar matahari. Lama-kelamaan matahari itu membesar dan berubah warna menjadi merah pekat. Kemudian dia menyusut, dan berubah menjadi putih. Dan secara perlahan, cahayanya memudar dan bola kristal itu kembali menghitam.

“Perlahan-lahan, seiring dengan daun Pohon Kehidupan yang mulai berguguran, matahari akan membengkak dan lambat laun menjadi jauh lebih besar lagi. Warnanya yang semula kuning berubah menjadi merah. Bumi akan menjadi sangat panas. Es di kutub mencair, pohon-pohon dan tumbuhan layu, dan hewan-hewan mati kelaparan. Tanpa sumber makanan, oksigen… apa menurutmu manusia dapat bertahan?” Alexis menatap tajam ke arah anak didiknya itu. Krystal menunduk memandang lantai marmer di bawah kakinya. Kedua tangannya terkepal kuat.

“Tidak,” lanjutnya. “Lalu matahari akan mulai menyusut hingga besarnya sama dengan Bumi. Warnanya perlahan berubah menjadi putih. Lambat laun cahayanya akan pudar. Pada tanggal 20 Mei 2012 sesuai waktu Bumi akan terjadi gerhana matahari cincin yang terakhir. Pada saat itu, matahari akan menghabiskan sisa tenaganya… dan padam.”

“…”

“Bayangkan jika Bumi gelap dan dingin… tersesat di tengah kegelapan, nyaris tanpa batas ruang angkasa. Bisakah kehidupan berkembang, dan bertahan…?”

“…”

“Tidak. Namun pada akhirnya… Bumi hanya akan merupakan bola batu dan es yang tidak mengandung kehidupan¾dingin, gelap, dan bisu.”

PRANG!!

Krystal terperanjat ketika dilihatnya bola kristal hitam itu kini telah pecah berkeping-keping. Dengan pandangan horor, ia memperhatikan Chara yang dengan cekatan merobek ujung kemejanya dan membalut telapak tangan Alexis yang bercucuran darah.

Mama… apa yang baru saja Anda lakukan?”

Alexis tak merespon pertanyaan itu, ia tetap memandang tajam ke arah Krystal.

Mama…”

“Kau mungkin berpikir aku terlalu berlebihan, bukan? Mengapa aku mementingkan keselamatan Pohon Kehidupan ketika pohon tua itu sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap EXOPLANET?”

Krystal tersenyum sinis. “Aku tahu.”

“Aku tahu. Namun ada satu hal yang kubingungkan… mengapa kau peduli ketika kau yang telah membuat segala kekacauan ini?”

Rahangnya mengeras. Napasnya berubah tak beraturan dan kedua tangannya semakin terkepal kuat.

“Apa yang kau bicarakan, Krystal Wu?!”

“Aku lelah. Selama ini aku mengunci mulutku karena jika aku membeberkan semua rahasia ini, exotics akan kembali kehilangan harapan mereka!”

“…”

“Selama ini semua orang mencariku, dan selama ini aku bersembunyi, mengganti namaku, membuang semua identitas lamaku. Mereka semua mengenalku sebagai Krystal Wu, adik kandung dari Kris Wu, berkebangsaan Telekinesis. Kau tahu? Aku merasa sangat berdosa telah membohongi mereka. Bahkan aku tidak memberi tahu Sehun. Roh jahat itu… dimana kedua bagian Pohon Kehidupan disembunyikan… mengapa sebelas penjaga lainnya terlempar ke Bumi… Korea… Mandarin… putrimu…  aku tahu segala tentangmu, Kim Taeyeon.”

Alexis mengerjap. Kemudian dengan paksa ia menarik lengan jaket Krystal, berusaha mencari petunjuk. Biasanya simbol selalu berada di mata, leher, lengan, atau…

Pandangannya jatuh pada tato bulan sabit berwarna perak yang terdapat di kaki Krystal. Tenggorokannya tercekat, ia mundur selangkah. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya yang bergetar hebat, berusaha meredam ketakutannya ketika bertatapan dengan mata biru laut itu.

“Kau… tidak mungkin… kau¾clairvoyance…?”

***

Sulli kembali menendang kaleng bekas minuman yang menghalangi jalannya. Sejenak ia heran mengapa ada banyak kaleng bekas di sini.

Ya, Oppa! Sebenarnya kita mau ke mana?!” tanyanya dengan tampang bosan yang seumur hidup akan Lay ingat selalu.

“Kita akan ke Seoul, sayang.” Lay menyambut ekspresi itu dengan senyum menawan terkembang di wajahnya. Dengan tidak berperasaan¾lagi¾Sulli memukul kepala Lay.

“Kau pikir jarak dari Busan ke Seoul itu berapa?! Seenaknya saja jalan kaki. Oh, ya, aku baru ingat kau orang Cina. Jadi jangan coba-coba bertingkah seolah kau tahu segala hal tentang Korea!”

Lay meringis untuk kesekian kalinya. “Kita dalam perjalanan menuju stasiun kereta terdekat! Aku tidak sebodoh itu.”

Sulli meniup poninya yang sudah mulai memanjang. “Keurae, keurae, arasseo.”

***

Sulli memandang ke arah jendela, memperhatikan pemandangan indah di luar sana. Sia-sia saja ia bertengkar dengan Lay memperebutkan kursi dekat jendela jika ia tidak memanfaatkannya.

Oppa, memangnya apa yang akan kau lakukan di Seoul nanti?” Lay menoleh heran. Tidak biasanya Sulli banyak bertanya seperti ini.

“Bukankah aku sudah bilang? Aku ingin mencari seseorang di sana. Kau tidak keberatan menemaniku, ‘kan?” Sulli menggeleng. “Tidak. Tapi mungkin aku tidak akan sepenuhnya menemani.”

“Maksudmu?”

“Boleh aku mampir ke tempat temanku? Choi Seolhwa. Kau tahu dia? Appa-nya sangat tampan.” pandangan Sulli menerawang, bayangan-bayangan berkelebat di pikirannya membuatnya tersenyum konyol. Lay menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

“Kau seperti bukan Sulli yang aku kenal.” Sulli menghela napas sejenak, kemudian menoleh pada Lay. “Pada akhirnya semua orang akan berubah, Oppa.”

“Kau lihat di televisi? Kejahatan semakin marak terjadi. Bukankah tidak baik aku hanya mengikuti dan ternyata mereka menjerumuskan aku kepada hal-hal yang berbahaya?”

Lay tersenyum seraya mengacak rambut Sulli. Yang bersangkutan hanya memberengut kesal seraya membenahi rambutnya.

Uri Sulli sudah dewasa rupanya.”

Keureom!”

Mereka berdua tertawa, hingga tanpa disadari kereta itu sudah sampai pada tujuannya.

Mwo? Cepat sekali!” Sulli mengerjap heran. Seingatnya ia baru saja naik, bertengkar sebentar dengan Lay, mendaratkan pantatnya di kursi, kemudian berbicara dengan Lay dan tertawa.

Lay mengangkat ransel Sulli kemudian menyampirkannya di pundak yeoja itu. Setelah menyampirkan ranselnya sendiri, ia menarik lengan Sulli dengan lembut.

Kaja, Sulli-ya.”

Oppa, kau tidak merasa aneh, eo? Sepertinya kita baru beberapa menit di kereta.” tanya Sulli. Lay melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, kemudian menggeleng. “Aninde. Sekarang sudah pukul enam. Bukankah kita berangkat pukul dua belas? Mungkin hanya perasaanmu saja. Kaja.”

Lay kembali menarik lengan Sulli dan menuntunnya turun dari gerbong kereta. Tiba-tiba, seorang namja lewat begitu saja di hadapannya membuat ia jatuh terjerembab.

Oppa!” seru Sulli panik. Ia dengan segera menarik kaus namja yang menabrak Lay tadi.

“Kau, jangan coba-coba kabur! Tanggung jawab!” serunya. Namja itu memutar badannya takut, kemudian membungkuk sembilan puluh derajat.

Jo…songamnida.” dalam hati Sulli tertawa geli. Kalimat terlucu yang pernah ia dengar. Foreigner, huh?

Merasa tidak enak terhadap orang asing, Sulli melepas genggaman tangannya dari kaus namja itu. “Eh… gwaenchanayo. Aku tidak bermaksud¾aigoojoesonghamnida.” Sulli sengaja menekankan kalimatnya pada kata ‘jeosonghamnida’, secara tidak langsung mengisyaratkan namja itu atas pronunciation-nya yang sedikit berantakan. Namja itu hanya tersenyum canggung, dan Sulli yakin namja itu sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan.

Lay perlahan berdiri seraya menyentuh kepalanya. “Tidak apa-apa, Sulli-ya. Ia tidak seng¾”

Entah sudah keberapa kalinya ia menggantungkan kalimatnya di udara¾salah satu hal yang membuat Sulli jengkel padanya. Matanya membulat sempurna ketika melihat rupa dari namja yang telah menabraknya itu.

Dia…

“Tao…?”

***

Seorang namja paruh baya tampak sibuk berkutat dengan berkas-berkas perusahaan di hadapannya. Namja itu membetulkan kacamatanya sejenak, kemudian mendongak ketika samar-samar terdengar suara ketukan pintu. Ia tersenyum kecil. “Masuklah, sayang.”

Perlahan, pintu itu terbuka. Muncul seorang yeoja berambut gelap memakai kaus kebesaran dan celana training. Namja itu menunjuk kursi kosong di hadapannya. “Duduklah. Ada perlu apa?”

Yeoja itu menurut dan mengambil tepat duduk tepat di hadapannya namja itu. Kedua kakinya bergerak tidak tenang.

Namja itu memusatkan perhatian pada anak gadisnya itu. Tidak biasanya ia datang ke ruangannya malam-malam begini.

Wae?”

“Apa kau… percaya pada legenda?”

Namja itu terdiam.

“Hmm… tergantung. Jika legenda itu dapat diterima oleh logika… mungkin aku akan percaya.”

“Tapi… kukira tidak ada legenda yang dapat diterima oleh logika.”

“Kau mengerti maksudku, ‘kan?”

Namja itu mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung telunjuknya, menunjukkan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan mereka.

“Lalu… bagaimana jika suatu hari, Appa diceritakan sebuah legenda yang sangat tidak masuk akal… namun dengan bukti yang jelas. Apa Appa akan percaya?” namja itu menghela napas. Pandangannya menerawang ke arah sebuah pigura yang tergantung di atas rak besar berisikan buku-buku. Seorang yeoja berambut keriting kecoklatan sedang tersenyum di sana.

“Pada akhirnya kita harus percaya.”

Yeoja itu mengangguk paham. Ia beranjak dari tempat duduknya. “Baiklah. Itu saja. Maaf mengganggumu, Appa.” ujarnya canggung. Namja itu hanya mengangguk singkat.

“Seolhwa-ya.”

Seolhwa memutar badannya. “Eo?”

“Kurasa sudah saatnya aku memberitahumu.” namja itu ikut beranjak dari tempat duduknya, menghampiri rak besar berisikan buku dan mengambil sebuah buku tebal bersampul hitam. Ia meletakkan buku tersebut di atas meja, kemudian mengisyaratkan Seolhwa untuk duduk kembali.

Ia meniup debu-debu yang menempel di sampul buku tersebut, kemudian membukanya perlahan. Kertasnya sudah menguning dimakan tahun. Seolhwa memandang intens Appa-nya yang balas menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Siap menerima yang terburuk.

“Kau tahu alasan mengapa aku selalu menyembunyikan identitas ibumu?”

Seolhwa memejamkan matanya. Lidahnya mendadak kelu.

“Mungkin ini sangat tidak masuk akal. Aku tidak memaksamu untuk percaya, karena aku tidak memiliki bukti apapun. Ibumu telah memusnahkan semuanya.”

“…”

“Legenda EXOPLANET. Apa kau tahu?”

Seorang wanita berkebangsaan api (Pyrokinesis) yang tegas, berwibawa, bijaksana, ahli dalam menyusun strategi perang, dan sangat menjunjung tinggi keadilan. Namanya Alexis. Para exotic akhirnya menobatkan Alexis sebagai vasílissa, pemimpin pertama EXO.

Sehun kembali dikejutkan oleh berita bahwa Vasílissa Alexis pernah mengunjungi Bumi… dan berhubungan dengan manusia di sana.

…membawa putri Alexis dan sebelas penjaga lainnya ke EXO.

…putri Alexis.

…putri Alexis.

PUTRI ALEXIS.

Seolhwa mengerjap. Kalimat-kalimat itu terngiang di kepalanya. Ia meraba kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.

Ara.”

Alis namja itu terangkat. “Mwo?”

“Aku tahu, Appa. Aku tahu segala tentang legenda itu.”

Namja itu kembali terdiam.

“Alexis.” mata namja itu membulat sempurna. Seolhwa menghela napas berat. Melihat perubahan ekspresi Appa-nya itu, ia sudah yakin akan satu hal.

“Aku adalah putrinya…?”

-TBC-

Keterangan:

*adelfós: kakak laki-laki

*vasílissa: ratu

*katalavaínete: apa kau mengerti

*ypi̱rétria: pelayan

*kalo̱sórisma: selamat datang

*mama: yang mulia

*oppa: panggilan dari perempuan buat laki-laki yang lebih tua

*uri: aduh susah jelasinnya T_T tapi pastinya udah pada ngerti lah ya._.

*keureom: tentu saja

*mwo: apa

*kaja: ayo kita pergi

*eo: susah jelasinnya juga T_T intinya dia sebagai pengganti “ne”, tapi lebih informal. Ini saya kutip dari k-drama-_- jadi artinya “ya” atau “apa?” ._.

*aninde: tidak

*joesonghamnida: aku minta maaf¾dalam bentuk lebih formal

*ara: aku tahu

A/N: Part 2 😀 ada beberapa kalimat yang saya kutip dari buku ensiklopedia antariksa(-_-), jadi kalau ada yang merasa familiar, ya… ya gitudeh(?). Karena berhubung saya masih amatiran, jadi mohon kritik dan sarannya :’) Tak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya yang sudah menyempatkan diri membaca bahkan dengan baik hati meninggalkan jejak :’) saranghamnida reader-nim ❤

 

14 pemikiran pada “Exotics And Their Stories (Chapter 2)

  1. Seru thooor~~
    Ga sabar nunggu kelanjutannyaaaa!
    Oh iya, sekedar saran, kalau bisa keterangan arti kata-kata asingnya jangan disimpen dibawah cerita .
    Kalo bisa disamping kata-katanya terus pake tanda kurung biar lebih gampang tau artinya . (Ngerti maksudku ga thor? ._.)
    Itu cuma sekedar saran yaa thor 😀
    Next Chapternya cepet ya thor~

  2. Sumpah demi apa deh thorr…
    Aku sndri gk ngrt knpa bsa deg-deg’an bca ff mu ini, srsa ikut b’imjin aza gtu*alah bhsa reader gaje*…smpah ne DAAAAEBAAKKK lh, aku gk sbar nggu chapt slnjtna thorr…

  3. sebenernya krystal itu siapa thor? aduh banyak bikin penasaran kayaknya part ini
    trus kenapa kai gak bisa sadar-sadar padahal yang lain udah sadar?
    nanti baekhyun bakal sadar gak thor kalo seolhwa itu putrinya alexis?

    aih ditunggu part selanjutnya ya thor 😀

  4. wahhh~ authorr ny pasti pinter nih kkk abis ny ff ny keren bngt sih jarang” nemu yg kyak gni hehe aku suka thor ^^ lnjut ny jgn lma” yahh hwaiting *-*)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s