Happy Birthday, Kris!

hb-kris-by-zolakharisa

Title: Happy Birthday, Kris!

Authoe: Zola Kharisa

Main Cast:

–          Shin Su Jin (OC)

–          Wu Yi Fan (Kris)

–          Kim Joon-Myun (Suho)

Support Cast:

–          Huang Zi Tao (Tao)

Genre: Romance

Length: Vignette

Rating: PG-15

Summary: Happy Birthday! Dan berbagai ungkapan lainnya seharusnya bisa gadis itu realisasikan dengan baik. Namun, nyatanya tidak semua orang berpikir bahwa dua kata itu akan memberi kebahagiaan bagi orang lain. Su Jin melantunkan doanya sepanjang jalan. Andaikata ia tak mampu mengubah apa pun, ia harap takdir akan berpihak padanya. Ia baru saja kembali ke Korea, mengapa kabar yang diterimanya harus berbanding terbalik dengan hangatnya musim panas negeri itu?

***

Su Jin memasuki ruang apartemen Kris dengan napas memburu. Sejak menerima telepon dari Tao yang mengatakan bahwa Kris memecahkan nyaris seluruh guci di apartemennya, ia langsung melesat pergi—tanpa menghiraukan telapak kakinya yang tak berbalut apa pun. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang dilaluinya. Yang ada di benaknya sekarang hanya satu; Kris.

Gadis itu memandang miris sekeliling tempatnya berpijak. Benar apa yang dikatakan Tao bahwa banyak pecahan kaca dan keramik yang berserakan di lantai. Dengan kaki telanjang itu, Su Jin melangkah dengan hati-hati. Air matanya tiba-tiba merebak.

“Kris?” panggil Su Jin lirih. Namun ia tak mendapat satu pun sahutan. Ruang apartemen itu tampak kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Dengan gontai, Su Jin melangkah ke arah pintu bercat abu-abu tua. Kamar Kris.

“Kris?” panggilnya sekali lagi. Ia mengedarkan pandangan ke sepenjuru ruang kamar berdominasi cat hitam dan putih. Tiba-tiba ia menghela napas. Tidak ada ada tanda-tanda keberadaan Kris di sana, dan mirisnya ruang kamar itu sama berantakannya dengan ruang tamu. Hanya ada beberapa barang yang tampaknya masih selamat di kamar itu.

Su Jin keluar dari kamar Kris dan beralih menuju balkon. Matanya sembab. Ia baru saja hendak merogoh saku mantelnya saat kakinya merasa menginjak sesuatu. Sebuah kertas.

Su Jin membuka hati-hati lipatan kertas yang sepertinya terlihat baru dilipat. Matanya sempat melirik tulisan ‘Kris’ di lipatan pertama kertas itu.

Lalu beberapa saat setelahnya, gadis itu tertegun.

Ia baru saja akan menutup bibirnya ketika mendengar suara pintu berdebam keras. Otaknya mendadak kosong. Sulit mencerna informasi yang baru saja diterimanya, juga wajah seseorang dengan raut khawatirnya kini sudah berada di sampingnya. Tanpa aba-aba lagi, orang itu memeluk Su Jin seiring dengan air mata gadis itu yang perlahan turun. Semakin mengucur deras, hingga terdengar isakan.

“Tao-ya, apa yang harus kulakukan?”

Tao mengusap punggung Su Jin pelan, seolah menenangkan. Meskipun pria itu juga sama bingungnya dengan kondisi yang kali pertama dialaminya.

“Kau sudah membacanya? Surat dari Suho?”

Su Jin mengangguk. Perlahan, ia mencoba melepas pelukan Tao. “Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Kris… dia dimana sekarang?”

Tao menghela napas. “Kris sedang bersama Suho sekarang.”

Mata hazel Su Jin membeliak, “K-kau—“

“Aku tidak bercanda,” sergah Tao. “Suho yang mengatakannya padaku setengah jam yang lalu bahwa ia sedang bersama dengan Kris. Di—“

“Studio Suho?” sela Su Jin, ia mendengus takut.

“Kau mau bagaimana sekarang? Pergi ke studio itu atau kembali ke rumahmu tanpa mengetahui kabar apa pun dari Kris?”

Su Jin menggeleng, “Itu tidak akan pernah terjadi, Tao. Ini hari ulang tahun Kris. Seharusnya ia bahagia, bukan…”

Belum sempat Su Jin menyelesaikan ucapannya, Tao sudah menarik tangannya keluar dari apartemen Kris. Gadis itu menggigit bibir bawahnya cemas. Andaikata ia bisa terbang, mungkin ia sudah akan sampai ke tempat tujuannya dengan cepat. Tidak seperti ini. Ia harus menunggu Tao mengantarnya ke mobilnya, lalu mengendarainya di tengah padatnya jalan raya Seoul. Bukankah itu artinya ia harus bersabar lebih lama lagi?

Sayangnya, cemas dan khawatir seolah memburunya. Ia takut terjadi apa-apa pada Kris, juga Suho. Dua orang yang sama-sama ia sayangi. Seketika, ia kembali mengingat isi surat yang ditemukannya di dalam apartemen Kris.

Untuk Kris,

Aku harap kau tidak akan melakukan hal konyol jika aku memberitahu rahasiaku selama ini. Baiklah, aku mencintai Shin Su Jin, gadismu yang baru saja kembali ke Korea beberapa jam yang lalu. Kalau kau ingin berbicara padaku, kutunggu kau di studioku di daerah Gangnam. Lebih cepat, akan lebih baik daripada kau menghancurkan isi apartemenmu, Wu Yi Fan.

Kim Joon Myun.

***

Suara gesekan dedaunan di sepanjang jalan setapak yang dilalui Su Jin seolah menyuarakan isi hatinya; gelisah. Pangkal tenggorokannya seakan tercekat ketika mendapati mobil Kris sudah terparkir manis di depan studio Suho. Su Jin menautkan kedua jemarinya, sembari bibirnya bergerak tanpa suara seakan melantunkan doa.

Sedikit perasaan gelisahnya berangsur menghilang tatkala tatapannya terfokus pada sebuah bangunan tidak terlalu besar di hadapannya. Dengan dominasi cat berwarna putih gading, aksen jendela tanpa tirai, dan atap yang tampak menjulang tinggi membuat Su Jin merasakan nyaman untuk sejenak. Ia merasa begitu rileks memandang studio yang lebih terlihat seperti rumah mini itu. Tanpa ia sadari, sesaat ia lupa apa tujuan awalnya datang ke sana.

Tao memegang bahu Su Jin pelan, berusaha untuk membuat gadis yang sudah dianggap sebagai saudaranya itu agar tersadar dari lamunannya. Sukses, gadis itu terenyak.

“Kau sudah melamun cukup lama, Su Jin-ah. Kapan kita akan masuk?”

Su Jin merasa panik. “Maaf. Bisakah sekarang kita masuk? Kau tahu password apa yang digunakan Suho di sini?”

Tao melenggang melewati Su Jin tanpa menjawab pertanyaannya. Dengan cekatan ia menekan beberapa digit angka yang sudah dihafalnya di luar kepala ketika sampai di depan pintu. “Kau memang bodoh atau pura-pura lupa? Kau tidak mungkin melupakan siapa orang yang telah seenaknya mengganti password studio ini dengan tanggal lahirnya, kan?”

Su Jin mendengus, sekaligus merasa malu. Ia masih ingat kali terakhirnya ke sini—sekitar satu setengah tahun yang lalu—ia berebut dengan Kris untuk mengerjai Suho dengan mengganti password studio itu. Saat itu, mereka ingin menggunakan tanggal lahir masing-masing sebagai pengganti password Suho yang lama; nomor ponselnya. Namun karena tidak ada satu pun yang mau mengalah, akhirnya Kris menyerah. Ia membiarkan Su Jin mengganti password itu sesukanya. Mengingat itu, Su Jin tersenyum. Betapa memalukannya momen itu.

Su Jin melangkahkan kakinya memasuki ruangan dengan warna merah maroon tua yang nyaris mengambil alih seluruh warna dinding di dalam studio itu. “Di mana Suho dan Kris?”

“Mungkin di taman belakang,” kata Tao sambil mengedikkan bahu.

Jantung Su Jin mendadak berpacu cepat. Ia hampir frustasi untuk menemukan cara agar jantungnya tidak memompa secara gila seperti itu. Kepalanya diserbu oleh berbagai pertanyaan. Benaknya didekap oleh gelisah dan khawatir. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Tidak ada satu pun yang terluka, kan?

Memorinya kembali terbayang tentang beberapa jam yang lalu. Saat ia baru saja menginjakkan kaki pada hangatnya musim panas Korea, ketika ia baru saja hendak menaruh koper di dalam apartemennya, saat ia baru ingin melepas mantelnya, dering telepon menyeruak dari ponsel dalam sakunya. Ia masih ingat betul bagaimana wajah paniknya saat ia sempat melirik cermin di dalam kamarnya ketika suara Tao di seberang sana nyaris membuat saraf pendengarannya beku.

Ia baru saja kembali ke Korea setelah menamatkan sisa tahun terakhir kuliahnya di Inggris. Belum ada lima jam ia kembali, sebuah kabar buruk sudah menyambutnya dengan manis. Seharusnya, detik ini, ia bisa menghabiskan sepanjang hari dengan Kris di hari ulang tahunnya. Bukan dengan rasa cemas yang berlebih seperti ini.

Saat sadar, ia melihat Tao tengah membuka pintu kayu hitam yang menjadi akses menuju halaman belakang. Tempat di mana dulu ia, Kris, dan Suho sering menghabiskan waktu bersama. Sepulang dari jam kuliah, atau sekadar mendengarkan Kris bernyanyi dan Suho memainkan biola di waktu senggang. Seketika rasa rindu menelisiknya.

“Tao, tunggu!” seru Su Jin sambil berlari kecil ketika ia tertinggal cukup jauh di belakang. Namun sayangnya, sepertinya Tao tidak mendengar karena ia sudah menghilang di balik pintu.

Dengan napas cukup tersengal-sengal, Su Jin meraih kenop pintu dan mendorongnya. Batinnya tak lagi mengelakkan apapun yang akan dilihatnya nanti. Jika saja satu di antara mereka ada yang terluka, atau terjadi perdebatan sengit lagi, ia akan mencoba melerainya. Persahabatan kedua pria itu tidak boleh terpisah hanya karena masalah sepihak, bukan? Atau seharusnya Su Jin merasa bersalah karena semua ini terjadi karenanya? Karena Suho mencintainya yang jelas-jelas sudah memiliki Kris?

Tiba-tiba ia sedikit menyesal karena telah mencintai Kris, dan menerima pernyataan pria itu dulu. Membiarkan persahabatan mereka tak lagi seperti di awal.

“Tao?” bisiknya mengambang tatkala melihat Tao tersenyum ke arahnya. Telunjuk pria itu mengayun seiring bola mata Su Jin yang ikut bergerak, kemudian membeliak.

“Kris?”

***

Seharusnya sudah sejak awal gadis itu memperkirakan kemungkinan ini akan terjadi. Kemungkinan terburuk. Semestinya sekarang ia memeluk pria dengan rambut pirang di hadapannya sembari tersenyum senang karena mendapati tak ada satu pun luka yang ditemuinya. Berarti kecemasannya berkurang, bukan?

Kris menatap Su Jin lama. Sedari tadi posisinya tidak berubah, ia tetap duduk berhadapan dengan gadis itu sambil memandangnya tanpa bosan. Ia perlu melampiaskan seluruh rasa rindunya pada wajah gadis itu sekarang, setelah sekian lamanya berpisah tanpa bertatap muka. Satu tahun bukan waktu yang singkat, kan? Dan siapa juga kaum adam yang akan merasa bosan menatap rupa cantik seperti di hadapannya sekarang? Apalagi sudah setahun lamanya tak melihat rupa cantik yang dirindukannya itu.

Su Jin yang jengah pun akhirnya mengalihkan pandang pada Kris, bersiap melontarkan protes saat suaranya seakan tercekat. Pria itu tengah memandangnya sambil mengulas senyum favorit Su Jin. Bagaimana bisa ia memprotes?

Su Jin mengambil napas dalam-dalam, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Mengapa halaman belakang studio ini nampak penuh dengan berbagai atribut? Dan di mana Suho?”

“Sederhana. Hanya ingin menyambut kedatanganmu.”

Mwo?” Su Jin merasa telinganya sekilas tuli. “Maksudnya?”

Kris beranjak dari duduknya. Ia mengitari meja panjang yang memisahkannya dengan Su Jin. Pria itu meraih lengan Su Jin untuk ikut berdiri. “Apa yang mau kau lakukan?”

Su Jin nyaris mencelos saat pria itu menarik pinggangnya, dan memberi kecupan lembut di dahinya, lama. Seolah menyalurkan perasaan terpendamnya selama setahun ini.

“Kau tahu betapa sulitnya aku mengerjakan seluruh tugas Choi seonsaengnim tanpa dirimu?”

Su Jin tertawa kecil, matanya terasa memanas. Ia mengalungkan lengannya pada punggung Kris, erat. “Apa kau tidak punya pengungkapan lain untuk menyambutku?”

Kris mengeratkan pelukannya pada pinggang Su Jin. “I miss you. Really. Do you have any other disclosure?

Su Jin terkikik, dengan cepat ia melepas pelukannya dan berjinjit kecil, mengecup singkat ujung hidung Kris. “That’s my reply.

Suara tawa renyah di ujung pendengaran mereka berdua sontak membuat kejut. Suho berjalan dengan Tao sembari memasang ekspresi menggoda. “Kalian tidak ingat sedang berada di tempat siapa?”

“Suho?” gumam Su Jin pelan. Ia beralih memandang Kris, lalu kembali lagi pada Suho. Begitu seterusnya sampai suaranya akhirnya muncul.

“Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah kalian—“

“Melakukan pertengkaran hingga berkelahi?” tebak Suho. “Jin-ah, kau tak bermaksud membuatku sakit perut karena terlalu banyak tertawa, bukan?”

Su Jin menghentakkan kakinya pelan. “Ceritakan padaku semuanya! Kalian hanya berbohong, begitu? Lalu hancurnya nyaris semua barang di rumah Kris juga hanya bercanda? Serius, ini tidak lucu!”

“Hei, hei, tenang Nona,” sergah Tao. “Kasus hancurnya barang di rumah Kris memang benar. Itu bukan kebohongan bahwa Kris memang marah besar beberapa jam yang lalu.”

“Lalu?” desak Su Jin tak sabar.

“Sebenarnya ini semua adalah rencanaku, Jin-ah. Hmm, sejujurnya aku hanya ingin memberikan kalian kejutan. Kris tidak ada sangkut pautnya dengan rencanaku ini. Ia datang dua jam yang lalu ke sini dengan emosi tidak stabil. Nyaris saja ia memukulku jika aku tidak menjelaskan semua alasannya. Dan sepertinya aku harus mengganti uang kerusakan apartemen Kris,” tukas Suho sambil melirik penuh arti Kris. “Kau harus tahu bagaimana ekspresinya saat datang ke sini, Jin-ah. Ia benar-benar mencintaimu.”

Pipi Su Jin menghangat. “Lalu alasan apa yang kau gunakan di balik ini semua? Kau tahu, Kim Joon Myun-ssi, aku nyaris frustasi memikirkan kalian.”

“Ini untuk menyambut kedatanganmu, Su Jin. Kau tahu bahwa aku bukan tipe orang yang suka dengan suatu sambutan sederhana, kan? Kau sahabatku, satu-satunya gadis yang bisa kukerjai tanpa mendapatkan imbas. Dan sepertinya mengerjai kalian berdua seperti dulu akan memberi kesan yang lebih bermakna.”

“Ck, bermakna?” Su Jin melipat kedua tangannya di dada. “Kau membuat pekerjaan yang tidak-tidak, Suho.”

Suho melepaskan tawa, lalu beringsut ke arah Kris. Ia menepuk bahu pria itu seraya berbisik, “Jaga dia baik-baik, Kris.”

Kris terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih untuk kadonya,” balasnya pelan.

Suho mengulum senyum, kemudian melirik Su Jin yang masih tampak sebal karena dibohongi. “Hei, Nona Shin, kau tidak berpikir untuk tetap memasang raut itu di hari ulang tahun kekasihmu, bukan?”

Bagai tersengat listrik, Su Jin berjengit. Ia menundukkan pandangan pada kakinya yang beralaskan sepatu flat sederhana, hasil dari Tao yang membelikannya secara mendadak dan cepat ketika di perjalanan menuju studio. Ia lalu beralih memandang Kris. “Aku tidak sempat membelikanmu kado,” bisiknya jujur.

Kris meraih tangan Su Jin, menariknya agar lebih dekat. “Kau pikir aku butuh barang apa? Kau di sini bersama dengan yang lainnya saja sudah cukup.”

Su Jin menggigit bibir bawahnya. Meskipun begitu, ia merasa bersalah karena tak membawa apa pun untuk Kris.

“Kalian ini seperti dinaungi melodrama. Jin-ah, kau tidak dengar apa yang dikatakan Kris tadi? Kehadiranmu saja sudah cukup mengisi hari ulang tahunnya. Setidaknya kau kembali di hari yang tepat. Aku tidak bisa membayangkan harus menjadi korban pelampiasannya jika tidak ada kau di sini. Kau tahu kan berapa banyak yang akan diminumnya nanti jika merasa frustasi?” Suho menggelengkan kepala.

Kris terpaku tidak percaya. “Ya! Suho, kau—“

“Oke, aku akan ke dapur sebentar mengambil beberapa camilan lagi. Kalian duduklah dengan tenang di sini. Oke?” sela Suho ringan sembari mengerling penuh kemenangan pada Kris dan Su Jin sebelum melengos pergi dari hadapan keduanya.

Tao melirik Suho sekilas. “Aku akan membantunya, kalian nikmati saja cake stroberi dan susu cokelat di meja itu,” tunjuk Tao yang kemudian berbalik menyusul Suho yang sudah menghilang di balik pintu.

Kris menatap Su Jin sambil mengedikkan bahu. “Kau tidak akan pernah tahu apa yang ia pikirkan, bukan?”

Su Jin memberengut. “Dan kau juga tidak akan pernah mengatahuinya, Tuan Wu, sama sepertiku.”

Kris hanya balas menatap kosong, kendati senyum menghias wajahnya.

***

“Kau sudah sering menyakiti dirimu sendiri, ya?”

Pertanyaan Tao membuat Suho tertegun sejenak. Daripada disebut pertanyaan, itu lebih terdengar sebagai pernyataan. Dan ia sedikit tidak suka bila orang lain dapat membaca perasaannya, bagaimanapun itu.

Suho berjalan ke arah lemari pendingin, lalu mengambil beberapa lembar keju. “Kau ingin berganti profesi menjadi peramal?”

“Jadi, aku benar?” terka Tao girang seraya mengambil alih keju-keju di tangan Suho dan menaruhnya di atas piring. “Kau sebenarnya mencintai Su Jin, kan?”

Suho refleks berhenti menuangkan susu cokelat ke dalam gelas begitu mendengar pertanyaan Tao yang lebih tepat sebagai pernyataan, lagi. Suho melirik tajam Tao, tangan kirinya mengepal kuat sekaligus ringan. “Tao, kau tidak bermaksud membuatku menyumpal mulutmu dengan keju-keju itu, bukan?”

Tao menegakkan bahu. Ia berjalan ke arah pintu sembari manik matanya meniti keadaan di luar jendela. Matanya tiba-tiba berbinar. “Kau harus lihat ini!”

Dengan malas, Suho mengalihkan pandang. “Apa yang…”

Suho terpaku. Gejolak perasaan yang ditahannya sedari tadi tiba-tiba mendesak muncul. Pemandangan di depannya sontak membuat perasannya menjadi kacau.

“Ternyata Kris tipe pencium yang lembut, ya.”

Tanpa dapat mengontrolnya lagi, Suho melirik tajam Tao yang kini terkekeh geli. Tao beringsut ke arah Suho, memajukan wajahnya dan berbisik tenang. “Kau mencintai Shin Su Jin, Suho-ya.”

Nyaris ia memukul wajah Tao saat sebuah seruan yang begitu familiar memasuki indra pendengarannya.

Happy Birthday, Kris!”

Suara Su Jin.

Suho mendengus. Ia memutar tubuhnya seraya menghela napas panjang. Tao yang melihatnya hanya bisa mengulas senyum tipis—tahu bagaimana perasaan Suho yang harus berakhir seperti ini. Pria tampan itu perlu mencari gadis lain setelah sekian lamanya menunggu seseorang yang tak kunjung sadar.

Suho kembali menuangkan susu cokelat ke dalam gelas-gelas kaca yang tinggi. Ia menatap aliran air yang mengucur itu dengan mata menerawang. Perasaan sesal itu kembali menghantuinya, meski tak luput ia pun tak begitu mempermasalahkannya. Toh, mungkin ini memang yang terbaik untuk semuanya.

Ia masih ingat betul bahwa rencananya amat berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan. Sebenarnya, isi surat yang ia kirimkan kepada Kris bukanlah suatu kebohongan. Ia memang ingin mengungkapkannya sejak lama, agar perasaan munafik itu tak lagi melekat dan menghantui harinya. Tetapi, respon yang ia terima dari Kris menghancurkan segalanya. Ia tak memprediksi bahwa Kris akan sangat kalang kabut seperti itu. Bahkan Tao, yang notabene adalah artis pendatang baru yang masih mengawali debutnya, harus meluangkan waktu untuk Su Jin dan mengantarkannya hingga ke tempat ini.

Suho mengembuskan napas perlahan. Ingatannya kembali terbayang ketika Kris mendatanginya dengan raut penuh kefrustasian juga kekesalan yang sepertinya amat memuncak. Dan di situlah, Suho sadar bahwa ia sepertinya salah. Salah mengungkapkan perasaannya tentang seorang gadis yang sudah dimiliki oleh pria itu; Kris. Ia tak mampu memperkirakan bagaimana putusnya tali persahabatan mereka nanti.

Saat itu pulalah semua rencana yang telah disusun Suho agar Kris mau menyerahkan Su Jin padanya, gagal. Dengan raut penuh keyakinan juga tak berbasa-basi, Suho merangkai rentetan kebohongan itu demi Kris agar persahabatannya tidak pupus. Ia mencoba meyakinkan Kris bahwa apa yang ia lakukan hanya berpura-pura—ingin melihat respon pria itu terhadapnya. Dan juga demi Su Jin, yang ia masih mengingat tatkala Tao meneleponnya waktu itu, mengatakan bahwa keadaan Su Jin tampak kacau, bermata sembab. Bagaimana bisa ia tak mengurungkan niat rencananya? Tak ada yang lebih buruk dari sekadar melihat gadis itu menangis.

Happy Birthday, Kris!

Seruan Tao menyentakkan Suho dari lamunannya. Ia menatap ke sekeliling, Tao sudah tidak ada. Seketika ia tersadar pula bahwa susu cokelat yang dituangnya sudah mencapai permukaan, dan tumpah di sekitar gelas. Untuk kesekian kalinya hari ini, ia kembali mendengus.

Suho mengambil langkah keluar dari dapur dengan nampan di kedua tangan. Ia mencoba menampilkan senyum terbaiknya saat Su Jin melambai dari jauh.

Suho menaruh nampan itu di atas meja, lalu berjalan mendekati Kris. Ia sempat melirik Tao dan tersenyum sekilas—memberi respon bahwa pria itu akan baik-baik saja.

Suho menepuk pelan pundak Kris. “Happy Birthday, Kris!

Ya, selamat ulang tahun, Kris. Semoga kau menjaga gadis itu baik-baik.

-The End-

A/N: Annyeong!

Oke, ini kali pertamanya aku publish FF-ku di sini. Maaf kalau masih ada typo dan sebagainya. Feel free to correction 😀

20 pemikiran pada “Happy Birthday, Kris!

  1. kasihan suho oppa, tp oppa hrs smangat, tp -lagi- oppa jjang, pasti sakit liat cewek yg disuka sm org lain>< misiny gagal eh malah jadi supraise buat jinkris couple. tao ge juga hebat bisa tau prasaan org lain. mungkin dah pengalaman ya#plak ato perpotensi (?) jd pramal ato jangan" cenayang#oke ini makin ngawur
    -abaikan-
    keep writing and hwaiting eon^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s