Perfect (Trust Me)

LAYOUNG

Tittle : Perfect (Trust Me)

Author : Lee HaeYoung & brigida1315

Genre : Romance

Rating : G

Cast :

Zhang Yi Xing/Lay (EXO – M)

Kang Jiyoung (Kara)

Disclaimer : Cerita ini murni. Jika ada kesamaan dalam bentuk apapun, maaf itu berati ga sengaja 😀

.Perfect.

“aku tidak bisa Lay oppa” ucap seorang gadis kepada namja yang tengah duduk di hadapan nya.

“kenapa? Apa kau tidak menyukai ku?” tanya lelaki yang bernama Lay itu.

“mianhae. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjadi yeojachingu mu” jawab gadis itu.

“tapi beritahu aku alasannya” balas Lay.

Gadis itu terdiam. Sejenak, ia seperti tengah berfikir keras untuk menghadapi Lay. Terlihat jelas keraguan dari wajah nya. Ekspresi nya bagai orang yang tengah menyembunyikan sebuah kebohongan.

“mianhae” ucap gadis itu pelan, kemudian langsung melangkahkan kaki nya pergi meninggalkan lelaki itu sendiri.

“Jiyoung ah” desis Lay saat melihat gadis itu pergi menjauh dari tempat nya.

Sore itu, Cafe Oceani menjadi saksi bisu atas hati Lay yang tengah tercabik akibat efek penolakan Jiyoung, gadis yang amat dicintai nya.

Raganya bisa saja menerima penolakan itu, tetapi hati nya? tidak akan semudah itu mengerti.

Sakit hati nya semakin terasa, karena gadis itu tidak sedikit pun mengatakan pada nya alasan atas penolakan itu.

Hampir dua jam ia masih berdiam di meja nya, tak ada niat sedikitpun untuk berdiri dan melangkahkan kaki nya pergi dari cafe itu.

Ia hanya menatap kosong dua gelas cola yang terletak di atas meja. Seakan-akan gelas cola itu mempunyai jawaban atas patah hati nya.

Baru ia sadari, selama bertahun-tahun hidup di dunia, ternyata patah hati amatlah menyakitkan.

Entah karena bosan, atau mempunyai tempat peraduan lain, akhirnya lelaki itu berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari cafe itu.

Mungkin, kesialan memang tengah mengikuti lelaki itu. Atau, langit juga tengah ikut merasakan sakit hati Lay?

Di luar cafe, hujan turun dengan deras nya. Tidak memperdulikan sosok Lay yang mungkin akan bertambah kesal dengan kedatangan nya.

Lay menghela nafas pelan, mencoba mengatur segala penat yang berada di fikiran nya. Lalu perlahan, Lay melangkahkan kaki nya, menerobos jutaan rintik hujan yang sore itu membasahi seluruh kota Seoul.

****

Braak~

Lay meletakkan dengan kasar piring ketiga ramen yang sejak tadi ia makan. Ya, piring ketiga. Dua piring sebelumnya telah lenyap ia makan dengan keadaan frustasi di kedai ramen yang biasa ia kunjungi.

Mungkin memang kebiasaan nya sejak lahir makan sebanyak mungkin ketika frustasi atau ia tengah berusaha melepaskan kekacauan di fikiran nya dengan berpiring-piring ramen, ia sendiri tidak tau.

Yang ia tau, ia sedang berusaha mengubur sejenak bayangan Jiyoung dari fikiran nya tanpa harus merasakan sakit yang lebih dalam lagi.

Ia tidak menyadari, sejak beberapa menit lalu seorang namja tengah mengedarkan pandangan mata nya ke segala sudut penjuru kedai ramen itu, sedang mencari sosok nya.

Namja itu, tak lain adalah Kyungsoo. Adik kandung nya yang hanya berbeda dua tahun lebih mudah daripada nya.

Dikarenakan pada jam seperti ini kedai ramen itu memang sedang ramai-ramai nya, Kyungsoo agak kesulitan mencari sosok kakak nya itu yang sebenarnya sejak tadi tengah duduk sendiri di sudut kedai sembari sibuk melahap ramen seperti manusia gila.

Saat Kyungsoo telah menemukan sosok yang sangat diyakini nya sebagai kakak nya, ia tersenyum kecil lalu melangkahkan kaki nya cepat menuju meja yang berada di paling sudut kedai.

“ya! hyung!” seru Kyungsoo sembari menepuk pelan bahu Lay, yang seketika membuat Lay tersedak makanan yang sedang ia makan.

“uhuk uhuk uhuk” secepat kilat Lay mengambil minuman nya dan meneguk nya cepat.

“ya! kenapa kau mengagetkanku?!” balas Lay setelah ia selesai meneguk air nya.

“oh? mianhae. Hehe” ucap Kyungsoo dengan wajah tak bersalah sembari menghempaskan tubuh nya di samping Lay.

“kau kenapa lagi hyung? kenapa kau makan seperti orang gila?” tanya Kyungsoo sembari menatap Lay yang masih sibuk melahap ramen yang berada di hadapan nya.

“bukan urusanmu” jawab Lay datar disela-sela ramen yang masih menumpuk di mulut nya.

“oh? aku adik mu hyung, jelas saja menjadi urusanku juga” ucap Kyungsoo.

Perlahan, Lay menarik nafas nya dalam-dalam. Lalu meneguk kembali segelas air yang berada di hadapan nya.

“aku ditolak” ucap Lay.

“mwoya? Ditolak? Apa mu yang ditolak hyung?” balas Kyungsoo tak mengerti.

“cintaku ditolak” ucap Lay.

“ha? kau… sedang jatuh cinta hyung? waa, kenapa aku tidak tau” balas Kyungsoo.

“kau tau pun, tidak ada gunanya” kata Lay.

“emm, siapa gadis itu hyung?” tanya Kyungsoo.

“Jiyoung” jawab Lay datar.

“mwoya? Jiyoung? Maksudmu Kang Jiyoung, hyung? teman sekelasku saat Senior High School dulu?” tanya Kyungsoo lagi.

“ne”

“aigo, ckckckck, tak kusangka selama ini kau mendekati nya dengan maksud tertentu hyung” ucap Kyungsoo.

“diamlah. Mungkin dia memang tidak menyukai ku” balas Lay.

“lalu, kau menyerah begitu saja hyung?” ucap Kyungsoo sembari menatap Lay lekat.

“mollayo” balas Lay datar sembari mengacak pelan rambut nya.

“baru kali ini aku melihat mu seperti kehilangan semangat seperti itu hyung. Haha, seperti nya patah hati mu benar-benar parah” kata Kyungsoo seraya tertawa kecil melihat wajah kakak nya itu.

Secepat kilat pandangan mata Lay menatap Kyungsoo tajam. Saat ini, di mata Lay, Kyungsoo seperti seorang adik yang sangat menjengkelkan. Menertawai kakak nya sendiri yang tengah mengalami patah hati stadium akut.

“diam kau. Aku ada latihan dengan Luhan dan Chanyeol. Aku pergi dulu” ucap Lay lalu mengambil cepat tas ransel nya dan melangkahkan kaki menjauh dari Kyungsoo.

“oh? ya! ya! hyung! bagaimana dengan piring ramen mu ini? siapa yang membayar nya?” seru Kyungsoo saat melihat kakaknya sudah berjarak beberapa meter dari tempat nya.

“kau saja yang bayar. Itu resiko mu karena sudah berani menertawakan ku” balas Lay sembari melambaikan tangan nya dan tersenyum kecil kepada adik nya itu.

“ha? aishh, kakak macam apa kau? Menindas adik nya sendiri” gumam Kyungsoo jengkel.

****

Lay menaiki motor sport nya yang berwarna hitam. Lalu menghidupkan mesin motor nya dengan cepat. Ia ingin sesegera mungkin pulang ke rumah dan mengistirahatkan tubuh dan fikiran nya.

Setelah tadi di ruang dance, ia menari seperti orang gila, kini ia ingin sejenak tidur dan menyegarkan fikiran nya.

Tetapi di luar dugaan, saat ia baru mengendarai motor nya keluar dari gerbang Seoul University, secepat kilat pandangan mata nya tersita untuk seorang gadis yang tengah berjalan pelan di pinggir jalan.

Mungkin, gadis itu tengah berjalan menuju halte bis yang berjarak beberapa meter dari Seoul University.

Gadis itu adalah seorang gadis yang sangat dikenal Lay. Yang sejak dua hari lalu telah sukses membuat hati Lay berserakan tak menentu.

Siapa lagi, Kang Jiyoung.

“Jiyoung ah” panggil Lay sesaat setelah ia berhasil menghentikan motor nya tepat di sisi kanan gadis itu.

“Lay oppa? ada apa?” balas Jiyoung sembari tersenyum kecil kepada namja itu.

“kau mau kemana?” tanya Lay.

“oh? aku ingin pulang oppa. Ada beberapa tugas dari dosen yang harus segera kuselesaikan hari ini” jawab Jiyoung seraya menunjuk beberapa buku tebal yang tengah ia genggam.

“kalau begitu, biar kuantar kau pulang” ucap Lay.

“mwo? ah, tidak usah oppa. Sebentar lagi aku akan sampai di halte depan. Annyeong” balas Jiyoung seraya tersenyum, lalu bersiap akan melangkahkan kaki nya menjauh dari namja itu.

Tetapi belum sempat Jiyoung melangkahkan kaki nya, namja itu tiba-tiba saja menggenggam pergelangan tangan Jiyoung dan menahan gadis itu agar gadis itu tidak pergi.

“kau boleh menolak cintaku. Tapi aku mohon, jangan jauhi aku” ucap Lay sembari menatap gadis itu lekat.

Beberapa detik berlalu, Jiyoung hanya menatap Lay dalam diam. Kemudian ia membuang pandangan mata nya ke sisi kiri.

Berusaha untuk tidak menatap mata Lay jauh lebih dalam. Mencoba agar ia tidak jatuh ke dalam tatapan lembut namja itu. Atau, secepat kilat ia akan mengubah keputusan nya tempo hari.

“ijinkan aku mengantar mu pulang” ucap Lay.

Jiyoung hanya diam mendengar permintaan namja yang tengah berada di hadapan nya itu. Sejenak, ia terlihat tengah berfikir ulang dengan permintaan namja itu.

Lalu, gadis itu menganggukkan kecil kepala nya. Pertanda ia setuju dengan permintaan Lay.

Lay mengembangkan senyum nya ketika ia melihat anggukan kecil dari gadis itu. Dan sesegera mungkin ia menghidupkan kembali mesin motor nya.

“kajja” ucap lelaki itu.

****

15 menit berlalu, Lay habiskan dengan Jiyoung yang duduk dalam diam di belakang nya. Gadis itu tidak berniat sama sekali untuk berbicara dengan sosok Lay yang berada di depan nya.

Tidak diketahui pasti, entah karena takut Lay tidak akan berkonsentrasi dengan motor nya atau gadis itu merasa canggung.

Hingga mereka tiba di depan sebuah rumah bertingkat, yang dapat dipastikan pemilik rumah itu adalah gadis cantik yang berada di belakang Lay sekarang.

“gomawoyo oppa” ucap Jiyoung sesaat setelah ia turun dari motor Lay.

“seharusnya aku yang berterima kasih” balas Lay seraya tersenyum.

“eoh? Maksudnya?” tanya Jiyoung tidak mengerti.

“terimakasih, kau sudah mengijinkan ku untuk mengantar mu pulang” ucap Lay sembari menatap lekat gadis itu.

“ah, aku masuk dulu oppa” ucap gadis itu lalu segera membalikkan tubuh nya dan bersiap melangkahkan kaki nya pergi menjauh dari namja itu.

“tunggu” untuk kedua kali nya di hari yang sama, Lay mengenggam pergelangan tangan Jiyoung.

“ne?” balas gadis itu.

“katakan, kenapa kau menolak cinta ku?” tanya Lay.

Gadis itu terdiam mendengar pertanyaan Lay. Memang terkesan tidak adil bagi namja itu, menerima penolakan tanpa alasan yang jelas. Tetapi, Jiyoung sendiri tidak ada kemauan sama sekali untuk mencoba menjelaskan apapun kepada Lay.

Gadis itu terlalu takut untuk memulai lagi, takut jika hati nya yang sudah terlanjur terlihat lemah kini semakin terluka lagi.

“Jiyoung ah. Jawab aku” ucap namja itu pelan.

“mianhae oppa. Aku tidak mempunyai alasan apapun untuk kukatakan kepadamu” balas Jiyoung.

“apa kau mencintai namja lain?” tanya Lay lagi.

“aku mencintai namja lain atau tidak, itu semua bukan urusanmu oppa” jawab gadis itu.

Kemudian, Jiyoung kembali membalikkan tubuh nya, lalu segera melangkahkan kaki menjauh dari Lay. Dengan tatapan sendu, namja itu hanya diam dan membiarkan Jiyoung berjalan menjauh dari tempat nya. Membiarkan gadis itu hilang di balik pintu.

Lay menghela nafas pelan, lalu menghidupkan kembali mesin motor nya dan secepat kilat memacu motornya dengan kecepatan tinggi pergi menjauh dari rumah gadis itu.

****

Lay mengedarkan pandangan mata nya untuk menyapu seluruh isi kantin Seoul University. Hanya satu tujuan nya, mencari Luhan. Yang tak lain merupakan sahabat nya sejak mereka sama-sama bergabung di grup dance Seoul University.

Setelah tadi ia cukup jengkel karena Luhan yang tak kunjung mengangkat ponsel nya, kini ia juga merasa jengkel karena yang ia cari pun tak kunjung terlihat.

Setelah beberapa menit pandangan mata nya sibuk mencari, akhirnya ia temukan sosok namja kecil namun tampan yang dapat dipastikan itulah sahabat nya.

Namja kecil itu tengah berada di meja yang paling pojok dan terlihat sedang menikmati makanannya sembari sesekali melirik buku tebal yang berada tepat di sisi kanan nya.

“daritadi aku mencarimu” ucap Lay setelah ia tepat berdiri di hadapan Luhan.

“oh? ada apa?” tanya Luhan sebelum ia memasukkan kembali makanan ke dalam mulut nya.

“dimana Chanyeol? Sejak tadi malam aku menghubungi ponsel nya, tapi tidak aktif sampai pagi ini” ucap Lay seraya menjatuhkan tubuh nya tepat di hadapan Luhan.

“entahlah. Aku juga tidak tau. Mungkin dia sedang tidak ingin diganggu” balas Luhan sambil mengerutkan kecil kening nya.

“emm” Lay mengangguk-anggukkan kepala nya.

“dan, dimana ponsel mu? Sejak tadi aku terus menghubungi mu” tanya Lay.

“eoh? Jinjja? Mianhae, ponsel ku di tas. Aku tidak sadar jika kau menghubungiku” jawab Luhan tenang.

“Luhan ya, belikan aku minuman” pinta Lay tiba-tiba.

“ha? Ya! kau kan bisa beli sendiri” balas Luhan.

“aku lelah. Daritadi aku mencari mu kemana-mana. Ayolah, sana belikan aku minuman” ucap Lay sembari mendorong pelan tubuh Luhan.

“ish, kau ini sungguh merepotkan!” balas Luhan lalu beranjak dari duduknya, hendak membeli minuman untuk Lay.

Lay menunggu Luhan yang tengah membelikan nya minuman sembari mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru kantin.

Beberapa hari ini, ia mengalami kejenuhan yang luar biasa. Ia sendiri tidak tau kenapa, mungkin karena efek patah hati nya tempo hari.

Tetapi saat ia melempar pandangan nya ke sisi kiri, ia melihat sesosok gadis yang dengan cepat langsung menaikkan kembali desiran di hati nya.

Hati nya bagai diterjang ombak yang amat besar saat melihat gadis yang tengah berada di pandangan mata nya saat ini. Suasana hati nya kini seperti sedang teraduk-aduk, masih ada perasaan lebih untuk gadis itu.

Kang Jiyoung.

Tapi yang membuat hati nya bagai teraduk bukanlah gadis itu, tapi seorang namja yang tengah berada di hadapan gadis itu. Seorang namja yang kini sedang tertawa lepas bersama Jiyoung.

Sepertinya, Jiyoung dan namja itu baru saja menempati meja yang berjarak beberapa meter dari tempat Lay berada, karena tadi saat Lay tengah sibuk mencari Luhan, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Jiyoung dan namja itu.

Setelah patah hati yang dialami Lay tempo hari, entah kenapa ia menjadi lebih sensitif. Atau mungkin, yang tengah ia rasakan sekarang itu wajar.

Cemburu. Ya, itulah yang tengah ia rasakan. Cemburu yang bercampur dengan perasaan cinta yang lebih terhadap gadis itu.

Tak bisa ia pungkiri, walaupun gadis itu telah sukses membuat hati nya bagai tercampak ke bak sampah. Tapi, gadis itu juga telah sukses membuat hati Lay tak bisa mencintai gadis lain selain dirinya.

Sekian menit berlalu, pandangan mata Lay hanya tertuju kepada gadis itu. Andai saja yang tengah berada di hadapan gadis itu adalah dirinya, ia pasti tidak akan menjadi kacau seperti ini.

Jika disimpulkan. Kini, ia hanya bisa mencintai gadis itu dari jauh dan tidak mengharapkan lagi sesuatu yang lebih.

Hanya dari jauh, mungkin itu lebih baik untuk perasaan nya.

Brak~

Luhan meletakkan dengan kasar botol minuman yang dibeli nya tepat di hadapan Lay. Membuat namja itu refleks terkejut akibat ulah Luhan.

“gomawo” ucap Lay sembari mengambil botol minuman itu.

“Luhan ah, apa kau tau siapa namja itu?” tanya Lay sambil mendelikkan dagu nya ke arah namja yang berada bersama dengan Jiyoung.

“hmm?” sambil mengunyah makanannya, Luhan mengikuti arah pandang Lay.

“ah, aku lumayan sering melihat nya. Kalau tidak salah namanya Minseok, mahasiswa teater” jawab Luhan datar lalu memasukkan kembali makanan ke dalam mulut nya.

“kau cemburu?” tanya Luhan.

“emm? Mungkin iya” jawab Lay tenang.

Luhan menatap Lay lekat. Mencoba menemukan letak raut wajah kecemburuan dari sahabat nya itu. Ia sungguh kagum kepada Lay, bisa menyembunyikan kecemburuan dengan raut wajah yang benar-benar tenang.

“ckckck, wajahmu tidak menunjukkan apapun” ucap Luhan sembari menggelengkan kecil kepala nya.

Mendengar ucapan sahabat nya itu, Lay memandang Luhan dengan tatapan kebingungan. Baginya, cemburu itu dialami oleh hati dan perasaan, bukan wajah. Jadi, untuk apa Luhan meneliti wajah nya?

Lay kembali melempar pandangan nya ke sisi kiri. Kembali mengamati  Jiyoung dari kejauhan. Hingga akhirnya gadis itu balik menatap nya.

Lay cukup terkejut dengan pandangan Jiyoung, namun ia mencoba untuk bersikap tenang dan mengalihkan pandangan mata nya ke sisi kanan.

Mungkin, ia tau kenapa gadis itu menolak cinta nya.

Mungkin, ia harus menerima jika gadis itu benar-benar tidak memiliki rasa apapun terhadap nya.

“daritadi aku menghubungi ponsel mu Luhan ya” ucap seorang gadis yang datang dengan tiba-tiba dan kini berdiri tepat di sisi kiri Luhan.

“eh? Mianhae Nana ya. Ponsel ku di tas, duduklah” balas Luhan sembari menepuk-nepuk kursi di sebelah nya. Mengisyaratkan gadis yang dipanggil nya Nana itu untuk duduk di sebelah nya.

“sejak tadi aku mencari mu, ternyata kau disini bersama Lay” ucap gadis berambut panjang kecokelatan itu.

“hehe, mianhae chagiya. Aku lupa jika kelas mu sudah selesai” balas Luhan sembari menyentuh lembut pipi kiri gadis itu.

“seharusnya kau tidak usah mempunyai ponsel Luhan ya. Lucu sekali kekasihmu juga kesulitan mencari mu hanya karena ponsel mu di tas” ejek Lay.

“hush, kau diam saja. Sebaiknya kau pergi, daripada kau sakit hati melihat gadis itu bersama namja lain di meja sana” balas Luhan sembari melirik ke arah Jiyoung.

“bilang saja kau ingin mengusirku” kata Lay jengkel.

“aku tidak bilang begitu. Yasudah sana, hush hush” Luhan mengibas-ngibaskan tangan nya, bermaksud mengusir Lay pergi dari meja nya.

“kau tenang saja, aku memang ingin pergi” ucap Lay kemudian berdiri dari duduk nya dan hendak melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.

“dan, jangan lupa kita harus latihan nanti malam” sambung Lay lalu kembali membalikkan tubuh nya dan benar-benar melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu.

****

Duuk~ Duuk~ Duuk~

Suara pantulan bola basket berkumandang indah di sebuah lapangan kompleks perumahan. Yang membuat suara pantulan bola basket di tengah malam seperti itu, siapa lagi jika bukan Lay.

Pukul 12 malam. Seharusnya ia sudah terlelap dan berada di alam mimpi, tapi tidak untuk hari ini. Ia malah semakin memantulkan bola basket nya dengan penuh gairah, seakan-akan tidak ada waktu lain untuk memainkan bola itu.

Hampir dua jam ia memainkan bola itu tanpa henti. Nafas nya tak beraturan, akibat rasa kelelahan yang amat luar biasa.

Hingga akhirnya ia berhenti untuk memantulkan bola basket itu ke arah ring. Ia terduduk sembari menatap ring basket itu nanar.

“ini” ucap sebuah suara sembari memberikan sebuah botol minuman dan menjatuhkan tubuh nya tepat di sisi kanan Lay.

“kenapa kau kesini? Seharusnya kau sudah tidur Kyungsoo ya” balas Lay seraya meneguk kecil air nya.

“seharusnya pertanyaan itu untukmu hyung. Untuk apa tengah malam begini kau bermain seperti orang gila?” tanya Kyungsoo.

“haha, bersyukurlah karena aku belum benar-benar gila” jawab Lay enteng.

“ckckckck, apa kau betul-betul patah hati hyung?” tanya Kyungsoo lagi.

“menurutmu?” Lay balik bertanya kepada adiknya itu.

Kyungsoo terdiam. Dalam hati, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan fikiran kakak nya yang satu itu.

“mungkin, gadis itu memang tidak mempunyai perasaan yang sama denganku” ucap Lay.

“anni, aku rasa kau salah hyung” balas Kyungsoo sambil menggelengkan kecil kepalanya.

“ho?” Lay mengerutkan kecil keningnya, sembari menatap Kyungsoo.

“sepertinya, aku tau alasan Jiyoung menolak cinta mu” ucap Kyungsoo seraya balik menatap kakaknya itu.

“eh? Kau tau? Maksudmu?” balas Lay.

“dulu, aku sempat berpacaran lama dengan sahabat Jiyoung, Lee Ga Eun. Walaupun pada saat itu aku tidak bersahabat dekat dengan Jiyoung, namun sedikit banyak aku tau tentang masa lalu nya” ucap Kyungsoo.

Kyungsoo menghentikan kalimat nya. Membuat Lay menatapnya bingung.

“lalu?” Lay penasaran. Ingin agar Kyungsoo cepat melanjutkan cerita masa lalu Jiyoung.

“Ga Eun sempat menjelaskan kepadaku, bagaimana latar belakang keluarga Jiyoung. Ayah nya pergi dengan wanita lain, tidak tau entah kemana” Kyungsoo menjeda sejenak kalimat nya.

“semenjak ayah nya pergi, Jiyoung sama sekali tidak ingin berurusan dengan lelaki manapun. Tetapi diluar dugaan,  seorang senior lelaki di sekolah kami berhasil membuatnya jatuh cinta. Mereka berpacaran, tapi tidak lama. Karena lelaki itu tiba-tiba saja pergi meninggalkan Jiyoung ke luar negeri tanpa menjelaskan apapun kepada gadis itu” jelas Kyungsoo panjang lebar.

“mungkin, hati nya benar-benar tersakiti karena kepergian ayah nya dan lelaki itu hyung” sambung Kyungsoo.

Kyungsoo menghela nafasnya pelan, ia seperti baru saja mengatakan rahasia besar yang ia kubur hidup-hidup selama bertahun-tahun.

“jadi, Jiyoung menolakku karena ia takut aku sama dengan lelaki itu?” Lay yang sedari tadi diam mendengarkan Kyungsoo, kini membuka suaranya.

“entahlah. Aku juga tidak tau. Mungkin iya, karena semenjak kepergian lelaki itu, ia seperti menjaga jarak dengan semua lelaki yang berusaha mendekati nya” jawab Kyungsoo.

“tapi, dia masih mempunyai beberapa teman lelaki. Termasuk aku” balas Lay.

Kyungsoo menundukkan kepala nya, lalu tersenyum sinis sembari memandang sejenak lantai semen lapangan itu. Sedetik kemudian, ia kembali mendongakkan kepala nya.

“aku tidak heran jika kau tidak menyadari adanya jarak yang diciptakan gadis itu untukmu dan lelaki lain. Mungkin, dia hanya ingin menjaga jarak tanpa membuat teman-teman lelakinya merasa tersinggung” ucap Kyungsoo.

“heh, kenapa kau baru memberitahuku tentang hal ini? Kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu?” tanya Lay.

“aku rasa, kau benar-benar mencintai Jiyoung hyung. Mianhae, karena aku baru memberitahumu sekarang” jawab Kyungsoo.

“jika aku tau kau menyukainya sejak lama, mungkin saja beberapa bulan yang lalu aku sudah memberitahumu tentang hal ini. Aku benar-benar tidak tau jika pertemanan dirimu dengannya telah membuatmu jatuh cinta kepada gadis itu” sambung namja itu.

Lay terdiam. Memikirkan perkataan Kyungsoo. Ia sendiri juga tidak menyangka pertemanan berjarak yang selama ini ia dan Jiyoung alami, telah membuatnya jatuh cinta kepada gadis itu.

“aku benar-benar mencintainya. Dan, aku sama sekali tidak main-main” ucap Lay tenang.

“aku tau hyung. Cobalah untuk mengejarnya lagi. Selama ini aku hanya melihat perkembangan gadis itu dari jauh, karena dia mengambil jurusan yang berbeda denganku. Tapi beberapa bulan setelah kau berteman dengannya, aku menemukan beberapa perbedaan dari gadis itu” balas Kyungsoo.

“perbedaan sikap? Maksudmu?” Lay menautkan kedua alis mata nya, sedikit bingung dengan perkataan Kyungsoo.

“hah, aku juga tidak mengerti hyung. Gadis itu termasuk gadis yang susah ditebak, walaupun aku sudah mengenalnya sejak lama” ucap Kyungsoo.

“memang. Gadis itu membingungkan Kyungsoo ya. Jika gadis itu benar-benar tidak menyukaiku, aku akan melupakannya”balas Lay.

“mwoya?! Apa kau bilang?! Melupakannya?! Aish, tau begini aku tidak akan menceritakan masa lalu gadis itu kepadamu hyung” Kyungsoo tiba-tiba merasa jengkel kepada Lay.

Terang saja, tujuannya menceritakan masa lalu gadis itu adalah untuk memacu kakaknya agar tidak menyerah mengejar Jiyoung, dan agar gadis itu tidak terus-menerus hidup di dalam ketakutan.

Tetapi, kata-kata yang keluar dari mulut Lay barusan benar-benar membuatnya merasa sial.

Di lain sisi, Lay malah menatap Kyungsoo lekat. Mengamati wajah adiknya itu dengan seksama. Membuat Kyungsoo terasa risih dengan tatapannya.

“hei,hei, lalu bagaimana hubunganmu dengan Ga Eun?” tanya Lay tiba-tiba.

“eh? Kenapa kau malah bertanya tentang hubunganku dengan Ga Eun, hyung? hubungan kami sudah lama berakhir” jawab Kyungsoo datar.

“waah, ckckckck. Sayang sekali Kyungsoo ya. Karena aku sekolah di Cina, aku sama sekali tidak mendengar apapun tentang hubunganmu dengan seorang yeoja” ucap Lay seraya melingkarkan tangan kanan nya di bahu Kyungsoo.

“aah, kau tidak usah sok peduli kepadaku hyung. Kau cukup fokus saja untuk mengejar Jiyoung” balas Kyungsoo seraya menghempaskan tangan Lay dengan kasar dari bahu nya.

“eh? Siapa bilang aku akan mengejar gadis itu?” Lay melipat kedua tangan nya di depan dada.

“jadi maksudmu, kau menyerah begitu saja hyung? Aigo, kau payah” ucap Kyungsoo seraya menggelengkan kepalanya.

“memangnya apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya menjadi milikku ha?” balas Lay.

“kenapa kau tidak mencoba mencari tau tentang perasaan Jiyoung, hyung?” Kyungsoo menyunggingkan sekilas senyuman manis di bibirnya sembari menatap lekat kakak laki-laki nya itu.

“mungkin saja gadis itu juga menyukaimu” sambung Kyungsoo.

Lay terdiam. Sejenak, ia tengah berfikir tentang perkataan Kyungsoo barusan. Ada benarnya juga adiknya yang satu itu. Tapi, bagaimana jika gadis itu memang tidak menyukai nya? Mungkin saja, gadis itu menyukai namja lain.

Tapi, paling tidak, ia harus tau alasan Jiyoung menolak cinta nya. Karena perasaan gadis itu yang tidak sama atau memang gadis itu masih merasa takut.

Ya, ia harus tau alasannya. Ia tidak mungkin menjalani hari-hari berikutnya dengan diikuti rasa penasaran dari gadis yang dicintainya itu.

****

Lay menyentuh bibir bawahnya. Dengan ibu jarinya, ia usap perlahan bibir nya yang berwarna pink kemerahan. Seakan-akan ada noda makanan yang menempel di bibirnya. Tapi tidak, bukan itu maksudnya.

Bibirnya tersenyum. Dan senyuman itu berhasil membuat dua lelaki yang juga tengah berada di ruangan yang sama dengannya kini menatapnya heran.

Jelas saja, sejak beberapa menit yang lalu, hanya itu yang dilakukan Lay di ruang koreo kampusnya. Diam dan beberapa kali akan tersenyum tidak jelas.

Hingga membuat Luhan dan Chanyeol gerah lalu menatap lelaki itu penuh tanya. Jadwal mereka yang seharusnya berlatih untuk festival satu bulan lagi, kini bagai tidak penting lagi untuk Lay.

“ya! kau kenapa? daritadi seperti orang gila!” seru Luhan yang akhirnya muak karena terus menerus melihat Lay seperti itu.

Bukannya menjawab, Lay malah semakin menyunggingkan senyuman nya. Agak terkekeh lebih tepatnya.

“heh, dia kenapa? daritadi hanya itu yang dilakukannya” tanya Luhan kepada Chanyeol yang kini tepat berada di sebelahnya sembari menatap Lay lekat.

“molla, aku juga tidak tau hyung. Mungkin, Lay hyung sudah mulai gila” jawab Chanyeol asal.

“ha? jinjja? Aigo, ckckckck. Ah, tapi tidak mungkin pabbo!” Luhan memukul kepala Chanyeol pelan.

“aww, aish, kenapa kau memukulku hyung?!” kata Chanyeol, tidak terima dengan perlakuan Luhan.

“ya! tidak mungkin Lay mendadak menjadi gila! itulah akibatnya kau terlalu sering mempermainkan Sulli, kau menjadi bodoh!” balas Luhan.

“ish, kenapa kau membawa nama Sulli, hyung?! habisnya, untuk apa kau bertanya kepadaku? kau kan sahabatnya. Kau lebih sering menghabiskan waktu dengannya, kenapa malah bertanya kepadaku?” ucap Chanyeol sewot.

“sudahlah, kau diam saja” balas Luhan acuh.

“hyung” Chanyeol menggerak-gerakkan tangan kanan nya di depan wajah Lay. Mencoba menyadarkan Lay dari kelakukan tidak normalnya itu.

“hyung” panggil Chanyeol lagi.

“mck, kalau begini terus kita tidak akan latihan” ucap Chanyeol sambil mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas nya.

“e’eeh, kau mau apa?” Luhan menahan tangan Chanyeol yang bersiap akan mendaratkan beberapa buku yang sudah ditumpuknya hingga menjadi tebal ke arah kepala Lay.

“kau mau satu hari ini kita tidak latihan dan hanya melihatnya seperti itu terus hyung? tidak kan?!” balas Chanyeol.

“aah, iya. Betul juga. Oh, silahkan” Luhan melepas genggaman nya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Duaaak~

Beberapa buku dengan mulus nya mendarat di kepala Lay. Membuat lelaki itu refleks mengelus-elus kepala nya pelan.

“ya! apa yang kalian lakukan ha?!” seru Lay dengan nada sewot.

“akhirnya kau sadar juga hyung” ucap Chanyeol polos. Ia tidak tau bahwa lelaki yang tadi dipukulnya itu sudah tampak menahan amarah.

“salahmu sendiri. Daritadi kau seperti orang gila. Hanya senyum-senyum sendiri tidak jelas” Luhan buka suara.

“tapi ini sakit pabbo!” balas Lay masih sambil mengelus pelan kepala nya.

“itu urusanmu. Kita belum latihan sejak tadi, karena kau terus seperti itu” kata Luhan.

“oh? benarkah? Emm, kalian latihan berdua saja dulu. Aku lelah dan belum ingin berlatih. Aku akan melihat dari sini” ucap Lay seraya tersenyum kepada Chanyeol dan Luhan.

“hah? kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Ckckck, dasar gila!”balas Luhan jengkel.

Lalu menarik tangan Chanyeol untuk berlatih berdua. Ia memang tidak heran jika Lay tiba-tiba menjadi seperti itu. Karena memang begitulah dirinya.

Menari berdasarkan mood nya. Bagi Luhan, diri Lay yang seperti itu tidak menjadi masalah, asalkan Lay bisa kembali menyeimbangkan gerakannya dengan Chanyeol.

Lay hanya diam kembali di tempatnya. Lima menit di awal, ia masih memperhatikan Chanyeol dan Luhan yang tengah menari beberapa meter di depannya.

Tapi kemudian, ia kembali tersenyum sendiri. Kembali dengan kegiatan awalnya. Sangat persis, seperti orang terkena gangguan jiwa. Tapi, sangat mustahil, ada orang yang mengidap gangguan jiwa setampan Lay.

Ya, lelaki itu bukan gila. Hanya rasa senangnya terlalu berlebihan.

Ia tidak akan seperti ini jika tidak mengalami kejadian yang spektakuler di hari sebelumnya. Senyuman yang terus saja terhias di bibirnya tidak akan terlihat jika kejadian itu tidak membuat nya merasa seperti lelaki yang berbeda.

Kejadian di sore itu, saat ia tidak sengaja tertidur di perpustakaan kampus. Yang malah membawanya mengintip sedikit isi hati gadis yang dicintainya.

++++

 

Jiyoung membuka pintu perpustakaan itu dengan perlahan. Takut, jika ada seseorang yang tengah berkutat di dalam akan merasa terganggu.

Tapi, tebakannya salah. Hanya ada satu orang yang yang sedang sibuk membolak-balikkan halaman sebuah buku di ruangan itu.

Seorang gadis yang duduk tepat di meja pertama di dalam perpustakaan itu.Dan seorang wanita setengah baya yang duduk tenang sembari menyusun beberapa tumpuk buku di meja nya. Yang dapat dipastikan wanita itu adalah pegawai perpustakaan.

Agak ragu, Jiyoung melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam ke perpustakaan yang termasuk megah itu dan menuju wanita pegawai perpustakaan tersebut.

“permisi, apa disini ada buku mengenai sejarah sastra Korea dan Inggris?” tanya Jiyoung, mencoba sesopan mungkin kepada wanita itu.

“sejarah sastra? Emm, sebentar” wanita itu mengambil sebuah buku panjang dan agak tebal yang terdapat di sisi kanan nya.

Jari-jari wanita itu bagai ikut mencari buku yang dicari Jiyoung. Hingga akhirnya jarinya terhenti di kalimat paling bawah.

“ah, buku yang kau cari  di rak Q12. Ada di lorong kedua dari lorong paling belakang” ucap wanita itu seraya tersenyum.

“ne, gamsahamnida” balas Jiyoung juga dengan tersenyum.

Jiyoung bergegas menyeret langkah kaki nya ke arah lorong belakang perpustakaan itu. Ia harus cepat menemukan buku itu lalu menyelesaikan tugas dari salah satu dosen sastra di kampus nya.

Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar saat ia telah berhasil menemukan buku yang diinginkannya. Akhirnya, ia tidak perlu repot-repot mencari ke berbagai toko buku, seperti yang dilakukan teman-temannya.

Ia memundurkan sedikit tubuhnya, dan bersandar pada rak lain yang juga berada di lorong belakang  perpustakaan itu. Sejenak, ia membolak-balikkan buku yang telah berada dalam genggamannya itu.

Hingga ia tersadar akan sesuatu yang aneh. Alis matanya bertautan. Ia menajamkan penglihatannya. Takut-takut ia salah lihat.

Ia melihat sepasang kaki lengkap dengan sepatu sport berwarna kecokelatan di balik rak buku yang terdapat di hadapannya sekarang. Sepasang kaki itu berada di sebelah kanan rak. Entahlah, ia tidak tau siapa yang tengah duduk santai seperti itu di perpustakaan sebesar ini.

Perlahan, ia coba untuk mendekat. Mungkin saja, itu teman sekelasnya. Dan saat ia melihat wajah pemilik sepasang kaki itu, matanya membulat.

Ia salah, bukan teman sekelasnya. Tapi, memang seseorang yang ia kenal.Lelaki tampan dan juga mempesona yang tengah berada di pandangan nya saat ini.

Jiyoung berjongkok, lalu mengamati wajah lelaki itu.Lay, hanya satu kata yang terlintas di kepala Jiyoung saat melihat lelaki itu. Tampan.

Tangan lelaki itu terlipat di depan dadanya dan  terlihat jelas sebuah buku yang terdapat di tangan sebelah kanan nya.

Aneh. Bukannya membaca atau mencari buku, lelaki itu malah tertidur dengan lelapnya sembari menjadikan dinding perpustakaan sebagai alas kepala dan tubuhnya . Apa ia tidak mengerti, perpustakaan bukan dipakai untuk meredakan rasa kantuk tetapi untuk membaca atau mencari buku.

Jiyoung masih tetap diam di tempatnya. Sama sekali tidak berniat untuk beranjak atau membangunkan lelaki tampan itu.

Ia menggerak-gerakkan bibirnya pelan. Bingung, apa yang harus ia lakukan dengan lelaki itu. Dengan sedikit keraguan, ia sentuh wajah lelaki itu. Pipi, kening, dagu, hingga sentuhan nya berakhir di bagian leher Lay.

Dan, sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah. Ia tersenyum.

“sudah puas menyentuhku?”

“eh?” Jiyoung teduduk. Ia terkejut.

Lay membuka mata nya. Dan langsung menatap Jiyoung tajam. Seolah-olah gadis itu baru saja melakukan sebuah kesalahan besar.

“kau… kau tidak tidur oppa?” tanya Jiyoung, mencoba menyembunyikan perasaan kaget nya.

“kau membangunkanku” jawab Lay datar.

Jiyoung terdiam. Tidak ada lagi kata-kata yang ingin keluar dari bibir gadis itu. Pikirannya sedikit kacau dan panik. Matilah ia, sejak tadi lelaki itu tau apa yang tengah ia lakukan.

“kau panik?” tanya Lay tepat sasaran.

“oh? panik? Panik karena apa?” Jiyoung mencoba tersenyum kepada lelaki itu.

Bukannya menjawab, lelaki itu malah tersenyum sinis.

“kau semakin cantik jika panik” ucap Lay.

Gadis itu membeku. Entah apa yang tengah difikirkannya. Yang jelas, ia merasa jantungnya mulai tidak stabil. Organ itu seakan-akan ingin melompat keluar dari tubuh gadis itu, ketika ia mendengar pujian singkat dari lelaki tampan itu.

Ia ingin tersenyum, tapi bibirnya tertahan. Sebisa mungkin gadis itu meredam perasaan senang nya, atau tidak, lelaki itu akan kembali berharap lebih darinya.

Beberapa detik kemudian, Lay menyentuh helain rambut Jiyoung. Dan menyelipkan jari-jari nya di balik tebalnya rambut hitam panjang gadis itu. Hingga detik berikutnya, ia semakin mendekatkan wajah nya sembari tetap menatap gadis itu dengan tatapan lekat.

Semakin dekat, hingga hembusan nafas mereka beradu. Dan benar, kejadian yang tidak disangka gadis itu akhirnya benar-benar terjadi.

Lelaki tampan itu dengan lancangnya memberikan sebuah kehangatan yang lebih di bibir gadis itu. Gadis itu lengah, ia tidak mempunyai kekuatan lebih dari dalam dirinya untuk sekedar menolak perlakuan lelaki tampan itu.

Bahkan perlakuan lelaki itu mampu menyingkirkan segala logika yang sejak dulu telah susah payah di susun Jiyoung di dalam otaknya.

 Walau gadis itu tau pasti, setelah kejadian ini, kenikmatan yang sekarang melekat di bibirnya tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun.

Lay memperdalam ciumannya, mencoba mencari ruang lebih di bibir gadis itu. Semakin dalam jari-jari nya masuk menerobos helaian rambut gadis itu, semakin dalam pula ciuman yang dilakukannya.

Dan sungguh, lelaki itu tidak perduli dengan apapun yang akan diterimanya setelah dengan lancang mencium gadis cantik yang berada di hadapannya itu.

Ia tidak mau tau tentang apapun, bahkan kalaupun setelah ini gadis itu akan membencinya atau memukulnya dengan penuh emosi, ia terima.

Hanya Lay yang bekerja, gadis itu hanya sanggup diam di tempat. Tidak ada niat untuk membalas ciuman manis lelaki itu.

Ia hanya diam sembari menutup kedua matanya dan menikmati perlakuan Lay yang cukup membuatnya terkejut dan menerbangkan seluruh hati nya hingga ke langit ketujuh.

Dalam hati, gadis itu sibuk mengutuki dirinya sendiri yang tidak mampu menolak perlakuan manis seorang Lay. Dan hanya mampu diam. Tidak menolak ataupun membalas.

Hingga akhirnya, jari-jari gadis itu pun mendorong tubuh Lay pelan. Mencoba memisahkan bibir mereka dengan cara halus, tanpa ada seorang pun yang terluka.

Lay menatap Jiyoung lekat. Mencoba membaca arti dari perubahan ekspresi wajah gadis itu. Tidak terduga, air mata merembes keluar dari sepasang mata indahnya.

Bibirnya sedikit bergetar. Mencoba menyusun kembali berbagai fikiran logika yang tadi sempat tercampak akibat perlakuan lelaki itu.

Lalu sedetik kemudian, gadis itu memaksa tubuhnya untuk berdiri. Melihat gadis itu tengah berdiri di hadapannya, Lay pun juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama terdiam.

Tanpa sepatah kata pun, gadis itu berbalik,  beranjak pergi. Dan hilang bersama langkah kakinya yang terdengar berat dari lorong belakang perpustakaan itu.

++++

Dan sekarang, terang saja Lay merasa sedikit bahagia. Sepertinya, ia mengetahui lima puluh persen perasaan gadis itu kepada dirinya. Ia bahkan bertingkah sangat berlebihan.

“katakan, sebenarnya ada apa denganmu?” Luhan kembali bertanya kepada sahabatnya itu setelah ia selesai latihan bersama Chanyeol, yang kini tidak tau entah pergi kemana.

“emm, haruskah aku mengatakannya? Ini tidak ada hubungannya denganmu” balas Lay dibalik senyuman kebahagiaannya.

“aku tau, pasti tidak ada hubungannya denganku, tapi aku penasaran dengan kelakuanmu itu” ucap Luhan lagi.

Lay hanya diam. Ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan sahabat nya itu. Wajah yang tadinya terlihat tersenyum kini tiba-tiba hilang begitu saja. Ia teringat akan satu hal.

Kemarin, gadis itu menangis. Tapi kenapa? Apa gadis itu benar-benar membencinya? Atau karena hal lain?

“Lay” panggil Luhan, menyadarkan lelaki itu dari lamunan singkatnya.

Lay balik menatap Luhan. Tapi lelaki imut itu langsung mendelikkan dagu nya ke arah seseorang yang kini tengah berdiri beberapa meter dari tempat mereka. Lebih tepatnya, di depan pintu ruang koreo.

Lay mengerutkan keningnya saat ia menyadari sosok gadis yang berada beberapa meter di depannya dan Luhan saat ini. Gadis yang sejak tadi difikirkannya kini tengah menatap ia tajam dan lekat.

Lay mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Gadis itu melangkahkan kaki untuk mendekati Lay. Dan akhirnya berdiri tepat di hadapan lelaki itu.

Mereka berpandangan. Sama-sama mencoba untuk menebak kalimat apa yang akan keluar dari bibir mereka masing-masing.

“lupakan kejadian itu” Jiyoung buka suara.

“aku tidak mau” balas Lay mantap.

“anggap saja tidak pernah terjadi” ucap gadis itu lagi.

“aku tidak mau” Lay mengulangi kalimat yang sama.

Jiyoung terdiam. Kini, ia bingung harus mengatakan apa lagi terhadap lelaki itu.

“oppa, aku sudah mengatakan jawabanku kemarin. Apa belum cukup jelas?” gadis itu masih menatap Lay.

“aku yakin kau punya alasan atas penolakanmu” balas lelaki itu.

“jadi, kau membutuhkan alasan? Apa sebegitu pentingnya alasan ku untukmu?” tanya gadis itu.

“tentu saja. Karena perasaanku terhadapmu juga sangat penting” jawab Lay.

Jiyoung diam sejenak. Mencoba mengatur pernafasannya untuk mengatakan hal yang sangat diinginkan oleh lelaki itu.

“aku tidak mencintaimu” ucap gadis itu.

“bohong” balas Lay lantang.

“apa? Aku sudah mengatakan alasannya, dan kau menuduh aku berbohong?” gadis itu sedikit tidak terima dengan ucapan Lay.

“jika itu alasanmu, kenapa tempo hari kau begitu susah untuk mengatakannya saat di cafe? Aku rasa itu bukan jawaban yang rumit. Benar kan?” Lay tersenyum sinis.

“aku hanya merasa waktu yang belum tepat untuk mengatakannya. Aku hanya takut seorang teman pulang dengan hati yang terluka” ucap Jiyoung.

“hah, tapi sayangnya, kebohonganmu itu jauh lebih membuatku terluka” balas Lay.

“aku tidak berbohong oppa!” gadis itu mulai kehilangan kesabarannya.

“kau bohong!” Lay tetap teguh dengan perkataannya.

“terserah” gadis itu merasa lelah jika harus terus menerus menentang perkataan Lay. Hingga ia memutuskan untuk berbalik dan secepat mungkin meninggalkan ruangan itu.

“sampai kapan kau akan terus seperti itu?” Lay kembali mengeluarkan suaranya, saat ia menyadari Jiyoung sudah berjarak beberapa meter di depannya. Sukses membuat langkah kaki gadis itu terhenti.

“sampai kapan kau akan menganggap semua laki-laki sama?”

“dan sampai kapan kau akan merasa bahwa aku sama dengan lelaki masa lalu mu itu?”

Lay melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada gadis itu. Wajar, ia juga jengkel jika Jiyoung terus menganggapnya tidak bisa setia seperti lelaki masa lalu ataupun ayahnya.

“aku tau, kau memiliki perasaan yang sama untukku. Tapi sayangnya, perasaanmu itu kalah dengan rasa takutmu” ucap Lay pelan.

Mereka terdiam. Masih dengan posisi yang seperti itu. Gadis itu tidak berniat sama sekali untuk membalikkan tubuhnya dan menatap mata Lay.

“Jiyoung” panggil lelaki itu.

“kau hanya perlu melakukan satu hal. Percayakan hatimu padaku” sambung lelaki itu.

Air mata mengalir indah di pipi gadis itu. Ia masih tetap diam di tempatnya, tidak bergeming sama sekali. Hingga sekuat tenaga, ia mantapkan hati nya dan menyeret langkah kakinya keluar dari tempat itu.

Meninggalkan Lay yang juga masih tetap diam di tempatnya. Tidak percaya, gadis itu sungguh keras kepala.

“ada apa sebenarnya dengan kalian?” Luhan yang sedari tadi hanya diam dan sibuk menonton sepasang manusia itu pun mengeluarkan suaranya.

Lay masih diam. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Tampaknya, ia harus memikirkan cara yang lebih tepat untuk meyakinkan gadis yang dicintainya itu.

Sedangkan Luhan, menatap sahabatnya itu dengan tatapan iba. Ia tau persis, gadis itu benar-benar sudah memiliki hati Lay sepenuhnya.

“tidak sampai disini. Kau pasti akan mempercayaiku” desis Lay.

****

“mck, kenapa harus di cafe ini sih?” Lay mengerutkan keningnya sembari menarik kursi yang ada di depan Luhan dan menjatuhkan tubuhnya di kursi itu.

“karena cafe ini yang paling dekat dengan kampus kita Yi Xing ah” jawab Luhan.

Lay menatap Luhan dengan wajah yang sedikit jengkel. Wajahnya yang seperti itu hanya dikarenakan satu hal. Luhan memilih Cafe Oceani sebagai tempat mereka untuk lunch dan menunggu kekasihnya, Nana.

Tidak memperdulikan Lay, yang sempat jengkel karena cafe ini menjadi tempat di saat gadis yang dicintainya mengatakan penolakannya tempo hari.

“ya! jangan panggil aku dengan nama itu” ucap Lay, mendadak sewot.

“kenapa? Nama China mu itu bagus haha” balas Luhan, diiringi suara tawa nya.

“terserahmu sajalah” kata Lay cuek.

“kau ingin makan apa?” tanya Luhan saat seorang pelayan sudah berada di hadapan mereka berdua.

“samakan saja denganmu. Aku sedang malas untuk memilih” jawab Lay, lalu mengambil majalah yang terdapat di sisi kanan meja mereka.

Tak lama kemudian, makanan mereka pun datang. Tepat di saat kekasih Luhan juga tiba di cafe itu.

“chagi” ucap Nana manja seraya memeluk leher Luhan.

“kau sudah datang” Luhan tersenyum.

“haah, aku lapar sekali” Nana menarik kursi dan duduk tepat di sebelah kekasihnya itu.

“makanlah, akan kupesan lagi” ucap Luhan sambil menggeser piringnya ke hadapan Nana.

“anni, ini untuk kita berdua saja ya” balas Nana manja.

Sesungguhnya, Lay ingin sekali memuntahkan makanan yang sedang dikunyahnya pada saat itu juga. Sedikit banyak mual akan kemesraan sepasang kekasih yang tengah berada di hadapannya saat itu.

Kini, Lay memandang pasangan itu jijik. Sepasang kekasih yang berada di hadapannya sekarang tengah bermain suap-suapan. Yang dalam sekejap mata langsung membuat rasa iri naik ke ubun-ubun lelaki tampan itu.Benar-benar seperti sebuah cobaan untuk Lay.

“berhenti bermesraan, atau aku akan pulang sekarang” ucap Lay.

“eh? Kau kenapa?” tanya Nana bingung.

“kau tidak usah heran Nana ya, dia kan masih patah hati. Haha” ucap Luhan sembari menertawakan sahabatnya itu.

“diamlah” balas Lay, lalu menyeruput minuman dinginnya.

“aah, bidadarimu sepertinya tau kau sedang disini Lay ya” ucap Luhan.

“ha? Maksudmu?” tanya Lay heran.

“lihat” Luhan mendelikkan dagu nya. Menunjuk ke arah belakang lelaki itu.

Lay langsung memutar kepalanya, untuk melihat seseorang yang ditunjuk Luhan. Dan siapa sangka, ia kembali bertemu dengan gadis cantik itu, setelah tiga hari ia sama sekali tidak melihat gadis itu di kampus.

Jiyoung, gadis cantik yang ditunjuk Luhan kini sedang berjalan untuk menuju sebuah meja yang berada tepat di tengah-tengah cafe itu. Tidak menyadari bahwa ia tengah diperhatikan tiga orang dari meja paling ujung.

Mata Lay terbelalak. Bukan karena melihat gadis itu, tapi karena melihat seorang lelaki yang sedang berjalan menuju meja yang sama dengan gadis itu.

Dia, laki-laki yang sama dengan tempo hari saat Lay melihat gadis itu di kantin. Jika ia tidak salah mengingat perkataan Luhan, laki-laki itu bernama Minseok.

“wah, lelaki itu sepertinya memang mendekati Jiyoung” ucap Luhan sambil mengamati perubahan ekspresi wajah Lay.

“lho, bukannya itu kekasih Sohee?” Nana menajamkan penglihatannya. Memandang baik-baik lelaki yang bernama Minseok itu.

“Sohee? Siapa itu?” tanya Lay.

“temanku saat Senior High School dulu. Aku bertemu dengannya tiga hari yang lalu, dan lelaki itu juga sedang bersama Sohee saat itu. Kalau tidak salah, mereka sudah berpacaran lebih dari 6 bulan” jawab Nana.

“apa? Sebentar, berarti lelaki itu hanya mempermainkan Jiyoung?” alis mata Lay bertautan.

“molla. Yang aku tau, tiga hari lalu lelaki itu masih menjadi kekasih Sohee” Nana mendelikkan bahu nya.

“aish, dasar lelaki kurang ajar” gerutu Lay lalu berdiri dari duduknya. Bersiap untuk menghampiri meja Jiyoung dan lelaki itu.

“tunggu. Kau mau kemana?” tahan Luhan.

“tentu saja menemui mereka” balas Lay ketus.

“bisakah kau tidak melakukan hal yang memalukan? Ini tempat umum Lay” Luhan masih mencoba mencegah sahabatnya itu.

“aku tidak perduli!”

Lay langsung melangkahkan kakinya menuju meja gadis itu. Lalu berdiri tepat dihadapan Jiyoung dan lelaki asing itu.

“oppa?” Jiyoung langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Lay.

“kau fikir dengan cara seperti ini kau bisa terus lari dari perasaanmu?” tanya Lay dingin sembari menatap lekat kedua manik mata Jiyoung.

“oh? maksudmu apa?” Jiyoung balik bertanya, tidak mengerti dengan ucapan Lay.

Luhan dan Nana langsung mendatangi meja Jiyoung, ketika melihat suasana di meja itu mulai memanas. Tentu saja, mereka tidak ingin Lay melakukan suatu hal yang yang bisa membuat dirinya sendiri malu.

“jika kau berfikir lelaki ini bisa mengubur perasaanmu untukku, kau salah. Lelaki ini tidak pantas untukmu Jiyoung ah” ucap Lay lantang.

“kau harus tau, lelaki ini adalah kekasih Sohee. Teman Nana” sambung Lay.

“ne, aku memang tau” balas Jiyoung.

“ha? kau tau dan kau membiarkannya mendekatimu? aku bahkan bisa memastikan, jika aku lebih baik darinya” Lay hampir kehilangan kesabarannya.

“maaf, ada masalah apa dengan anda?” lelaki yang bernama Minseok itu pun berdiri dan menatap Lay bingung.

“aku tidak berbicara denganmu!” seru Lay jengkel.

“oppa, aku tau dia kekasih seorang gadis yang bernama Sohee. Lalu yang menjadi masalah untukmu apa? Aku tidak masalah dekat dengan lelaki ini, karena ia kekasih kakak sepupuku” ucap Jiyoung, mencoba meredakan kemarahan Lay.

Jdeeerr!

Seoul bagaikan disambar petir saat Lay mendengar perkataan gadis yang dicintainya itu. Tamatlah ia, dengan lancang menghina seseorang yang bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.

“mwoya? Kakak sepupu? Maksudmu, perempuan yang bernama Sohee adalah kakak sepupumu?” wajah Lay berubah menjadi panik.

“ne. Sohee adalah sepupuku. Dan lelaki ini kekasihnya” ucap Jiyoung.

Lay refleks menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mencoba menghilangkan rasa malu yang telah dibuatnya sendiri. Sedangkan Luhan dan Nana hanya menatap Lay dengan tatapan yang sama terkejutnya.

Lebih terkejut lagi, karena secara tidak sengaja, Lay menjatuhkan harga dirinya sendiri di depan banyak orang yang kini menatap mereka dengan pandangan aneh.

“mianhae Jiyoung ah. Aku tidak tau jika lelaki ini adalah kekasih kakak sepupumu” ucap Lay diliputi perasaan yang tidak enak.

“kau mempermalukan dirimu sendiri. Dan juga mempermalukanku” Jiyoung menggelengkan kecil kepalanya lalu berbalik meninggalkan Lay yang masih diliputi rasa bersalah.

“aish, mati aku” Lay mengacak rambutnya, frustasi.

“kan sudah kubilang, jangan mempermalukan dirimu sendiri di tempat ini” bisik Luhan kepada sahabatnya itu.

Lay diam. Wajahnya sedikit panik dan bingung. Lalu sedetik kemudian, ia berlari meninggalkan cafe itu. Ia berlari untuk mendapatkan Jiyoung dan meminta maaf kepada gadis itu.

Gadis itu belum jauh. Secepat kilat, ia tarik pergelangan tangan Jiyoung. Kini mereka saling berhadapan. Saling bertatap muka.

Mungkin, kedua manusia itu memang tidak tau malu. Mereka saling bertatap muka di jalanan. Beruntung, di sekitar jalanan itu memang tidak terlalu ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Hanya beberapa, tapi tetap saja mereka berdua menyita sedikit pandangan beberapa orang yang tengah berjalan kaki.

“maaf. Tapi aku mohon, jangan buat aku seperti ini” ucap Lay.

“lebih baik kau melupakanku oppa” Jiyoung tersenyum lalu kembali membalikkan tubuhnya, ingin kembali pergi dari pandangan lelaki itu.

“aku tidak bisa. Tolong jangan minta aku untuk melupakanmu” nada suara lelaki itu sedikit meninggi saat ia melihat Jiyoung semakin menjauh dari tempatnya berdiri.

Belum sampai sepuluh langkah ia berjalan, langkah gadis itu terhenti. Situasi mereka persis seperti beberapa hari lalu saat di ruang koreo Seoul University. Bedanya, beberapa hari yang lalu mereka bukan berada di jalanan seperti sekarang.

“aku benar-benar mencintaimu” ucap Lay.

“terserah jika kau masih tidak percaya dengan ucapanku. Tapi, aku mohon percayalah jika cinta ku nyata untuk mu” sambung lelaki itu.

Gadis itu tetap tidak bergeming. Ia menatap lurus ke depan. Dengan tatapan kosong, sekuat tenaga ia tahan air matanya agar tidak jatuh.

Percayalah, sekeras apapun usaha untuk menyembunyikan perasaan cinta itu, tetap akan berakhir sia-sia. Dan inilah yang tengah dialami gadis itu. Percuma, karena Lay tidak akan berhenti untuk meluluhkan gadis yang terlalu keras kepala itu.

Akhirnya, gadis itu lelah sendiri. Ia tidak sanggup. Ia harus mengatakan yang sebenarnya, yang telah ia coba untuk tutupi selama ini.

Gadis itu berbalik, lalu berlari kecil untuk mendapati lelakinya. Ia peluk erat tubuh lelaki tinggi itu. Pelukan yang dibarengi dengan jatuhnya air mata kebahagiaan gadis itu.

Sebuah senyuman terukir di bibir Lay. Ia semakin mempererat pelukannya. Kini, ia kembali tidak perduli. Tidak perduli dengan sedikit orang yang tengah berjalan kaki sembari menatap mereka dengan tatapan bingung.

“sudah kuduga. Kau tidak akan tahan untuk terus menerus menyembunyikan perasaanmu” ucap Lay pelan. Hampir seperti berbisik.

“iya. Aku memang berbohong. Aku berbohong kemarin, saat mengatakan aku tidak mencintaimu” balas gadis itu.

Lay melepas pelukan itu. Lalu menatap Jiyoung lekat. Ia tersenyum sembari menyentuh lembut pipi gadis itu.

“bisa kupastikan, aku tidak sama seperti ayahmu atau lelaki masa lalumu itu” ucap Lay.

“aku percaya kepadamu oppa” balas gadis itu, juga sambil tersenyum.

Lay semakin mendekatkan wajahnya kepada gadis itu. Dipastikan, kali ini gadis itu juga merasakan hal yang sama saat tempo hari Lay mencium nya di perpustakaan.

“tidak adakah tempat yang lebih romantis untuk menciumku oppa?” Jiyoung menjauhkan wajahnya dari lelaki itu. Ia cukup sadar, mereka tengah berada di jalanan.

“eh? Hehe, maaf” Lay menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“ah, ayo, kita kembali ke cafe. Mungkin Luhan masih disitu” ucap lelaki itu.

Lay mengulurkan tangannya, ingin menggenggam tangan gadis itu. Dengan senyuman, gadis itu menyambut uluran tangan Lay. Sungguh, mereka berdua merasakan kebahagiaan yang amat luar biasa sekarang.

“oppa, kau tau tentang ayahku dan lelaki itu pasti dari Kyungsoo kan?” tanya Jiyoung saat mereka tengah berjalan bersama kembali ke cafe.

“ne, tentu saja. Memang siapa lagi kalau bukan dia” balas Lay.

“hah, anak itu pasti tau dari Ga Eun” ucap Jiyoung.

“memangnya kenapa? Kalau tidak begitu, aku tidak akan tau bagaimana cara meruntuhkan keras kepalamu itu. Haha” Lay mengacak pelan rambut Jiyoung, senyuman kecil terhias indah di wajah tampannya.

Kini, ia sangat bahagia. Bahkan jauh lebih bahagia daripada saat ia pertama kali mengintip sedikit tentang perasaan Jiyoung tempo hari.

Ia benar-benar mendapatkan gadisnya. Mendapatkan apa yang selama ini ia mau.

.Perfect.

HaeYoung: maaf ya kalau ga perfect 😀

Sebenarnya, aku sedikit kecewa saat melihat perbandingan prolog dan Sunset/I need You. Aku tidak tau entah sebagian besar menjadi silent reader atau tidak, yang jelas terimakasih atas respon kalian di dua cerita sebelumnya.

Kami meminta, jadilah reader yang baik, meninggalkan like dan komentar setelah membaca, dan berkomentarlah sesuai kesan kalian dengan isi cerita di atas 😀 Dan maaf juga jika pairing nya tidak sesuai dengan kemauan sebagian reader 😀

Seperti sebelumnya, panggil aku chingu, eonnie atau saeng (aku 94line).

Next –> Chanyeol – Sulli (brigida1315)

Nantikan cerita yang berikutnya #bow

 

17 pemikiran pada “Perfect (Trust Me)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s