KaiHyo Story: I Miss You…

KaiHyo Story: I Miss You…

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park)

Main casts       : Kim Hyora

Support casts   : Kim Jongin a.k.a. Kai

Length             : Oneshot

Genre              : Romance

Rating             : PG-13

Summary         : Aku tidak tahu kalau ternyata berjauahan dengannya bisa amat sangat menyiksa seperti ini

I Miss You (2)

(Hyora’s side)

Jarum pendek jam dinding bulat di kamarku menunjuk lurus ke angka11 saat nyala layar laptop kesayanganku barusaja meredup lalu gelap. Aku baru selesai mengedit salah satu tulisanku untuk majalah kampus saat nada dering ponselku berteriak kencang.

“Ne, yeobuseo…” Ada senyum yang melengkung sempurna di bibirku saat terdengar suara yang sangat ku kenal di seberang sana.

“Belum tidur?” Tanyanya.

Aku menggelengkan kepalakulemah seakan dia bisa melihat betapa aku sedang sangat kelelahan saat ini. “Aku baru selesai mengedit artikel untuk majalah kampus edisi bulan ini.”

“Kalau begitu cepat tidur.”

“Tunggu…” Potongku sebelum ia sempat berkata lagi. “Seharian ini baru sekarang kau menghubungiku. Apa kau tidak ingin bicara sedikit lebih lama denganku?” Kataku merajuk.

“Tentu saja ingin. Tapi ini sudah malam dan besok kau harus kuliah. Jadi tidur ya…” Tuturnya.

“Ya sudah.” Jawabku dengan nada kesal.

“Emh… Bye… Saranghae…”

“Emh… Bye…” Jawabku singkat. Aku bahkan lupa membalas ucapan terakhirnya saking kesalnya seharian ini tidak bertemu dengannya.

Tiga hari yang lalu Kai pergi ke kampung halamannya di Daegu bersama eommonim. Katanya ada acara kumpul keluarga besar sehingga mereka harus hadir. Dan dia bilang mungkin akan berada disana selama seminggu kedepan.

Dengan kekesalan yang masih menumpuk di dalam hati karena rasa rinduku yang tak tersampaikan(?), dengan kasar aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur tanpa membereskan dulu kertas-kertas yang berserakan disana. Ku tarik selimut sampai menutupi tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu ku tutupi wajahku dengan boneka teddy bear kesayanganku.

“Kaaaii…~ Nan neomu bogoshippoooo….” Jeritku di dalam selimut.

<><><>

Ku lemparkan tas yang sudah seharian ini menemaniku menjalankan kegiatanku di kampus. Hari yang melelahkan. Beruntung besok sudah akhir pekan jadi setidaknya malam ini tidak usah begadang untuk mengerjakan tugas kuliah.

Seketika ekspresi wajahku mengkerut saat teringat kalau Kai sedang pergi. Padahal setiap akhir pekan biasanya selalu ada saja yang kami lakukan bersama. Tapi sepertinya minggu ini aku harus melaluinya sendiri saja.

Dengan malas aku mengambil tas yang tadi melayang tanpa arah dan ternyata mendarat di karpet di dekat meja riasku. Semua isinya bertebaran di sekitar benda berwarna biru tua yang malang itu. Ku punguti satu per satu benda yang berserakan tadi dan memasukannya ke dalam tas.

Semua benda penghuni tas kesayanganku itu sudah berhasil ku evakuasi(?) semuanya, kecuali satu. “Aah… Dimana ya?” Aku membungkukkan badan mencari buku berukuran kecil berwarna biru. Buku yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi.

Setelah tidak ku temukan di mana-mana, aku bergerak ke tempat tidur lalu membalikkan tasku disana. Alhasil, benda yang dengan susah payah ku punguti tadi kini kembali berserakan.

“Mana yaa…?”

Tanganku mengobrak-abrik isi tas. Mencari di setiap kantong kecilnya, mungkin terselip disana. Saat ku buka buku catatan kuliah, akhirnya buku dengan gambar bintang-bintang kecil di covernya itu muncul di salah satu halaman. Karena ukurannya yang cukup kecil, ia terselip di buku kuliahku yang super tebal.

Kau tidak akan tahu betapa leganya saat aku menemukan bukuku itu. Bagiku, buku ini amat sangat berarti. Disini aku menuliskan semua hal menarik yang pernah ku alami. Dan disini pulalah aku menyimpan sesuatu yang tak seorangpun pernah tahu kalau aku memilikinya.

Kini aku berbaring di tempat tidur dengan pakaian kuliah yang masih lengkap menempel di tubuhku. Tanganku mengangkat buku itu ke udara, lalu ku buka perlahan.

Halaman pertama, mungkin sama seperti diary yang di miliki anak-anak remaja pada umumnya, berisi informasi singkat mengenai data diriku. Halaman selanjutnya berisi catatan-catatan kecil tentang hal menyenangkan yang pernah ada singgah di hari-hariku.

Halaman-halaman selanjutnya berisi hal terindah yang pernah ada hadir dalam hidupku. Kai…

Tak ada orang yang tahu kalau sebenarnya diam-diam aku juga suka mengumpulkan foto-foto namja itu dan menyimpannya sendiri. Dan inilah beberapa foto yang berhasil aku kumpulkan.

1

Kai… Saat pertama kali melihatnya, aku berani bersumpah bahwa tak sedikitpun terberesit di otakku untuk jatuh cinta padanya. Kau lihat dirinya. Angkuh, dingin dan sangat pelit bicara.

Hari itu aku sedang asyik bercanda dengan Rin di depan rumah. Kami memainkan kamera polaroid miliknya, hadiah ulang tahun dari Appa tahun lalu. Iseng kami mengambil gambar kami dengan pose-pose konyol sampai tiba-tiba seseorang keluar dari gerbang rumah sebelah dan melintas tepat di depan kami.

“Kai oppa…!”

Rin bodoh! Dia memanggil namja angkuh itu lalu mengambil gambarnya. Saat itu ekspresinya amat sangat datar. Ah tidak, lebih tepat kalau ku bilang tanpa ekspresi. Expressionless.

2

Dia memang seorang yang angkuh, keras dan dingin. Hal itu jelas terlihat dari garis wajahnya yang tegas. Aku heran kenapa banyak yeoja yang terpesona dengan tampang angkuh dan tatapan dinginnya itu.

Hari pertama di SMA adalah hari yang kurasa paling sial untukku karena harus sekelas dengannya. Melihat wajah angkuhnya setiap hari membuatku benar-benar merasa ingin mencekiknya.

Apalagi saat dia sudah berkumpul dengan 2 temannya yang katanya mereka adalah kelompok anak-anak populer. Hah, populer apanya?

Yaa… meski aku sendiri heran kenapa saat itu aku bisa diam-diam mencuri gambarnya ini… hahaha…

3 (1)

Penilaianku saat pertama kali bertemu dengannya ternyata salah. Atau mungkin sebagian salah. Setelah mengetahui sisi gelap kehidupan masa lalunya sedikit demi sedikit pandanganku terhadapnya berubah.

Dibalik wajah dan tatapan angkuh yang dia tunjukan pada orang-orang, aku tahu ada sisi lain dalam dirinya yang sering kali membuatku tidak percaya kalau itu adalah dia, Kai.

Saat dia berhasil menggelar pertunjukan teaternya minggu lalu, aku tahu saat dia memberi hormat terakhir pada audience dia menangis.

Hahaha… Aku tahu itu, Kai.. Aku tahu saat itu kau menangis dan kau membungkuk sangat lama sekali demi menyembunyikan air mata mu itu kan… kkk~

4

Ini foto lain yang kuambil sesaat setelah pertunjukan teaternya selesai. Lihat! Tampangnyaimut sekali kan… kalau saat itu aku ada di dekatnya, pipinya pasti sudah habis ku cubiti. Aaarrggh… Kyeopta…

5

Hahaha…

Aku tak bosan tertawa setiap kali melihat ekspresi wajahnya yang lucu. Foto ini ku ambil saat Kakak sepupuku, Jihyun eonni dan Jinki oppa, minta tolong padaku untuk menjaga Hyunjin, putra mereka, selama mereka pergi keluar kota.

Aku tahu kalau saat itu Kai sangat kelelahan setelah menemani HyunJin bermain seharian. Dan itulah ekspresi yang ia tunjukkan saat bocah yang belum genap 3  tahun itu kembali mengajaknya bermain.

Meski dengan sedikit merengut, tapi ia tetap menuruti keinginan bocah itu dan bermain sampai hampir malam. Calon Appa yang baik… Upps…

6

Ini foto terbaik dari semua foto namja itu yang aku punya. Melihatnya tersenyum… selalu sanggup membuat jantungku berdegup kencang. Dan kalau melihatnya seperti ini, aku akan lupa seperti apa watak namja ini yang sebenarnya. Karena yang ku tahu adalah aku sangat mencintainya…

Saat aku sedang asyik mengenang foto-foto Kai yang ku ambil diam-diam itu, tiba-tiba bagian reff lagu ‘love should goes on’ milik SHINee yang menjadi nada dering ponselku mengalun merdu dan sontak membuatku terperanjat. Aku beranjak bangun dari tempat tidur dan mencari benda kotak tipis berwarna hitam yang wujudnya tak bisa ku temukan saat ini. Ku tajamkan pendengaran dan mengikuti arah suara itu berasal. Tatapan mataku berakhir di kolong tempat tidur, dimana sebuah benda memendarkan cahayanya di bawah sana. Sepertinya ponselku itu terlempar saat aku mengobrak-abrik isi tasku tadi.

“Yeobuseo…” Sapaku setelah susah payah meraih benda ini yang terlempar cukup jauh hingga ke tengah kolong tempat tidur.

“Ne, yeobuseo…” Jawab sesorang di seberang sana.

“Kai?” Tanyaku kaget. Aku memang tidak sempat melihat siapa orang yang menelponku karena terlalu tergesa-gesa, takut panggilannya terputus sebelum sempat ku angkat.

“Emh… Apa kabar?” Tanyanya basa-basi.

“Buruk…” Jawabku jujur.

Hari ini amat sangat melelahkan dan aku malah akan menghadapi akhir pekan yang pasti sangat membosankan tanpanya.

“Memangnya kenapa?”

Dengan polosnya ia bertanya kenapa kabarku buruk hari ini. Babo… Apa masih harus ditanyakan…? Ingin rasanya aku berteriak tepat di depan telinganya dan bilang kalau aku hampir gila karena sangat merindukannya.

“Lupakan. Bagaimana kabarmu?” Ucapku.

“Aku? Baik…” Jawabnya singkat.

Aku mendengus pelan sebelum kembali bersuara. “Bagus kalau begitu. Emh… Ngomong-ngomong… Kapan kau pulang?” Tanyaku tersendat karena ragu akan pertanyaan itu. Takut kalau jawabannya mengecewakan.

“Mungkin… Besok lusa.” Jawabnya enteng.

“Hhaah…” Aku menghela nafas dalam.

“Kenapa begitu?” Tanyanya.

Benar-benar… Kau harusnya tidak perlu bertanya lagi Kai…

“Apa… Kau merindukanku?” Tanyanya lagi.

“Hah… emh… aku…” Kataku terbata-bata.

“Apa kau merindukanku?” Kali ini ia bertanya dengan nada suara yang lebih tegas.

“Emh…” Aku menutup mata rapat-rapat. “Aku merindukanmu Kai…” Jawabku dengan suara pelan. Malu rasanya kalau harus mengakuinya seperti ini.

“Aku juga…” Katanya terputus sejenak. “Aku juga merindukanmu.”

Dan tepat saat kalimat itu terucap, sebuah tangan yang kekar merengkuhku dan memelukku dari belakang.

“K… Kai…?” Aku masih tidak percaya bahwa orang yang sangat ku rindukan itu sekarang sedang memelukku erat.

Kedua tangannya melingkar sempurna di pinggangku dan dagunya mendarat tepat di pundak kananku. “Aku sangat merindukanmu, Hyo…” Kata Kai lagi. Tapi kali ini bukan melalui sambungan telpon, melainkan bisikan yang ia bisikan langsung tepat di depan telinga kananku.

“Kapan kau pulang?” Tanyaku sambil perlahan melepaskan diri dari pelukannya lalu menghadap padanya.

“Baru saja. Aku mampir ke rumah sebentar untuk menyimpan barang bawaanku lalu bergegas kemari.” Tuturnya.

“Kau bilang baru bisa pulang besok lusa. Kenapa sekarang malah sudah ada di sini?” Introgasiku lagi.

“Karena aku tidak kuat menahan rindu ini lebih lama lagi.” Katanya sambil menarik tubuhku kembali ke dalam pelukannya.

Aku tersenyum lalu membalas pelukannya sambil memejamkan mata. Menikmati kehangatan dekapannya yang beberapa hari ini tidak ku rasakan. Aku tidak tahu kalau ternyata berjauahan dengannya bisa amat sangat menyiksa seperti ini…

<>THE END<>

 

Author’s talk:

Anyeong readers…Ketemu lagi sama Inhi_Park di satu lagi cerita couple KaiHyo…

Gimana nih sama cerita mereka yang ini? Suka ga???

Maaf yaa kalo semakin hari ceritanya semakin ga jelas… hehe

Di tunggu RCL-nya yaa…

Makasih… n_n

31 pemikiran pada “KaiHyo Story: I Miss You…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s