One Side Love

Author: Babyeol

Judul: One Side Love

Genre: Angst

Casts: Kim Hyun Soo (OC)

Goo Shin Hye (OC)

Kris (EXO-M)

Rating: T

Length: Vignette

Disclaimer: FF ini dibuat 99% oleh ide saya. Sisanya alias quotes itu dapet dari twitter. Semua casts OC dan ide cerita punya saya seorang dan Kris punya Tuhan. Btw karena saya bukan orang Kristen jadi penggambaran pernikahannya sesuai apa yang dipikiran saya. #cmiiw dan RCL ya^^ thankseu~

Summary: “The truth is I gave my heart away a long time ago, my whole heart, and I never really got it back.” -Sweet Home Alabama”

one-side-love2

*

I’ve liked you since I met you.” Kim Hyun Soo

Entah kenapa aku merasakan memori tentangmu berputar lagi seperti film. Dengan kau sebagai pemeran utamanya dan aku yang mengalami kejadian ini selama tiga tahun terakhir, seseorang yang gila karena mencintaimu meskipun cinta ini hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Kamu, namja pertama dan mungkin satu-satunya yang pernah mengisi hatiku. Rasaku terhadapmu benar-benar tidak berubah sejak kita bertemu di upacara penerimaan murid baru Sunggak High School.

Saat itu aku berdiri disampingmu. Kita berdua mendapat predikat murid dengan nilai terbaik selama tes masuk. Aku menatap wajahmu yang malas dan cuek. Dan itu membuatku heran, benarkah kamu seorang yang pintar? Aku ragu. Tapi kamu punya dua alis yang memancarkan ketegasan dirimu. Dan senyum bijaksana seorang pemimpin. Aku melihat itu semua dari dirimu yang bahkan saat itu belum mengetahui namamu.

“Yak, siapa namamu?” tanyamu sambil menyikut bahuku pelan. “Kim Hyun Soo imnida.” jawabku malu. Kau yang pertama kali membuka pembicaraan diantara kita. Dan itu adalah kontak fisik pertama kita. Hal yang akan selalu aku ingat seumur hidupku.

“Kevin Wu.” ucapmu tanpa menoleh padaku lagi. Kevin Wu… Nama yang bukan Korea, tapi aku suka.

Banyak orang yang mengatakan kalau masa-masa sekolah menengah adalah masa yang sulit dilupakan. Pentuh cinta dan cerita, suka dan duka, fantasi dan khayalan tentang masa depan. Sepertinya kedengaran memabukkan.

Dan kenyataan di SMA memang menyenangkan apalagi denganmu. Kita sekelas di tahun pertama, bahkan duduk di satu meja yang sama. Perlahan namun pasti, hubungan kita semakin dekat dan akrab.

Kita sering berlomba mendapat nilai terbaik di setiap ujian dan latihan. Dan berakhir dengan jajan gratis Tteokpeokki dariku–karena aku yang sering kalah. Kuakui, kamu unggul dimanapun. Termasuk di hatiku. Kamu nomor satu, Kevin Wu.

Tahun ajaran kedua, kita berbeda kelas. Aku di 11-2 dan kamu di kelas 11-1. Aku ingat, terkadang kamu masih sering menyambangi kelasku hanya untuk minta bekal. Tapi aku suka apapun yang kau lakukan padaku: obrolan ringan dan sedikit kontak fisik yang mungkin bagimu tidak berarti apa-apa. Tidak untukku, semua hal yang aku lakukan bersamamu adalah memori yang harus dijaga bagai porselen yang rapuh.

Aku pikir Tuhan begitu baik padaku sehingga kita berada di organisasi siswa Sunggak. Kau yang memimpin sekolah kita saat itu, dengan aku disampingmu sebagai wakil ketua. Dari sana mulai banyak gosip burung yang mengatakan kalau kita punya hubungan khusus. Aku benci itu. Benci sekali. Karena kenyataan tidak seindah apa yang aku impikan. Kita tidak terikat hubungan apapun, hanya sebatas sahabat akrab. Hanya itu.

Tahun terakhir di sekolah menengah, kita sekelas lagi! Dan kau memintaku untuk mengajarimu selama semester pertama. Aku tahu, aktivitasmu di kelas sebelas kemarin memang sibuk: memegang jabatan sebagai ketua organisasi siswa dan kapten tim basket kebanggaan Sunggak.

Hari-hari mengajarimu sepulang sekolah sangat menyenangkan dan membuatku hampir lupa cara bernafas. Setiap hari aku merasa gila hanya karena melihat wajah lesumu yang masih berjuang untuk belajar. Kamu seorang perfeksionis, aku tahu itu.

Dan saat itu, Valentine terakhir di Sunggak, kau memberiku cokelat persahabatan. Pertama kalinya kau memberi sebuah ‘hadiah’ kecil padaku. Hanya sekedar itu, tapi aku anggap aku masih mempunyai barang secuil tempat di pikiranmu. Apa aku masih punya kesempatan untuk jujur padamu? Karena aku tahu, cepat atau lambat kita akan berpisah meninggalkan semua jejak-jejak masa remaja.

“Hyun Soo, kau sahabat Goo Shin Hye kan?” tanyamu sambil mengunyah cokelat yang tentu saja dari penggemarmu.

Ne,” jawabku singkat. Untuk pertama kalinya kau membicarakan seorang yeoja kepadaku. Dan saat itu terbesit sedikit rasa cemburu. Bagaimana tidak? Goo Shin Hye adalah sahabatku dari kami sekolah dasar.

“Shin Hye itu… Yeoja yang seperti apa?” tanyamu sambil menyiratkan sedikit senyum malu. Ah, aku melihatnya, Kevin Wu. Terlihat jelas sekali kau jatuh cinta dengan Goo Shin Hye.

Apa kau tidak peka barang setipis bulu? Disampingmu saat ini ada seorang yeoja yang selalu menjaga perasaannya hanya untukmu! Sulitkah untuk merasakan kehadiranku di hatimu?

“Shin Hye ya… Sulit untuk mendeskripsikannya. Dimataku Shin Hye sempurna.” ucapku dengan senyum samar. Apa yang kuucapkan bukan sekedar klise. Itu kenyataannya. Selama aku berteman dengan Shin Hye, selama itu juga aku selalu merasa iri dengannya. Apa yang dia tidak punya? Dia kaya, cantik, ramah, pintar, dan eksis. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan, dia bisa meminta apapun yang dia inginkan. Karena dia adalah segalanya.

“Tapi dia tidak sepintar dirimu.” kilahmu cuek.

Apa aku boleh berharap?

“Lagipula, di sekolah ini hanya kau satu-satunya teman yang fasih mengucap namaku dengan benar.” lanjutmu. Aku tersenyum lembut.

Miris rasanya. Kau mungkin tidak akan pernah peduli dengan perasaan ini. Aku sadar, aku yang salah, aku yang naif, aku yang bodoh, dan aku yang terlalu takut untuk jujur dengan perasaanku sendiri. Wajar bagiku, karena ini adalah pengalaman pertamaku menyukai seseorang. Dan aku takut dengan segala resiko mencintai.

*

Pip…pip…pip…

Aku membuka mataku perlahan. Sebersit cahaya langsung menghiasi pemandanganku yang masih samar-samar. Bau steril… Hm, rumah sakit.

Ya, aku ingat aku bisa sampai di tempat ini. Kecelakaan setelah pulang dari kelulusan siswa Sunggak. Mobil yang membawaku hilang kendali dan jatuh menembus pagar pembatas, menuju jurang. Dan setelah itu semuanya gelap..

“Hyun Soo….? Neo gwaenchanayo?” tanya suara seseorang. Ya, seseorang yang selama tiga tahun terakhir membuatku sulit mengatur degup jantungku sendiri karena memikirkannya. Kevin Wu. Dia disini.

“Kevin… Wu?” tanyaku tidak percaya. Kau disini, bangkit dari dudukmu dan berdiri di sampingku. Kenapa seperti ini?

“Iya, aku Kevin Wu. Orangtuamu ada urusan mendadak ke Beijing jadi aku yang menemanimu untuk sementara.” jawabmu lembut sambil tersenyum. Dapat kulihat bibirmu tak henti-hentinya mengucap syukur.

Kenapa seperti ini Kevin Wu? Kau mengkhawatirkanku?

“Sudah berapa lama?” tanyaku samar. Mencoba menggerakkan tangan kananku yang sepertinya sangat sulit untuk bergeser sedikit saja. “Delapan bulan, Hyun Soo. Delapan bulan kau tidur seperti ini.” jawabmu seraya menahan tangan kananku seakan-akan berkata kau-masih-sakit.

Delapan bulan bukan waktu yang cepat. Pantas saja ada rasa rindu luar biasa saat melihatmu. Ingin rasanya memelukmu, tapi aku disadarkan oleh kenyataan pahit; kita tidak terikat dengan hubungan percintaan.

*

I love you for a thousand years.” Kim Hyun Soo

Several years later…

Hari ini hari yang cerah untuk menyambut masa depan yang baru dan diingkan banyak perempuan. Menyenangkan dan rasanya ingin melayang ke awang-awang. Apa aku terlalu berlebihan? Tidak juga.

Aku menyingkap sedikit gaun bagian depanku sambil menyusuri koridor gedung Seoul Convention Hall.

Disana, di salah satu ruangan khusus yang sudah direservasi dari jauh hari, ada Goo Shin Hye dengan gaun putih mewahnya dengan ekor gaun yang panjang dan anggun. Rambut cokelat pirangnya disanggul cantik yang membuatnya terlihat dewasa. Benar-benar seperti malaikat.

Aku menghampirinya yang sedari tadi menungguku. Ia bangkit dari kursinya dan berlari kecil menghampiriku. Wajahnya bersemu merah dan itu membuatnya seratus kali lebih cantik.

Aku memeluk Shin Hye hangat. Dia membalas pelukanku dengan perasaan gemas dan gugup. Tentu saja, sebentar lagi dia akan membuat sejarah baru dan pertama kalinya–dan kuharap satu-satunya–dalam hidupnya. Ini hari’nya’. Oh, tidak. Ini hari ‘mereka’. Goo Shin Hye dan Kevin Wu.

Chukkaeyo, Goo Shin Hye. Kau mendahuluiku.” ucapku sambil terus mendekap Shin Hye erat. Aku tersenyum. Sungguh, ini hanya senyum palsu. Ingin rasanya aku menangis meratapi keberuntungan Goo Shin Hye. Tapi untuk apa? Sudah terlambat untuk menyesal. Sekarang ini aku hanya perlu memastikan kedua kakiku masih bisa bertahan sampai acara resepsi pernikahan mereka selesai. Ya, semoga aku bisa melakukannya.

“Sebentar lagi marganya berubah, Hyun Soo.” ucap sebuah suara di depan wajahku. Aku membuka mataku. Kau, berdiri di hadapanku dengan kemeja putih yang dibalut jas hitam dan celana bahan berwarna senada. Rambutmu tidak seperti dulu, kini lebih rapi dengan sentuhan tangan-tangan ahli. Tampan dan dewasa, benar-benar menunjukkan imej seorang Kevin Wu.

Sesederhana itu. Tapi disini, di hatiku, masih dapat kurasakan letupan-letupan kecil ketika melihat dirimu. Hal yang selalu kualami sejak pertama kali bertemu denganmu.

Aku melepaskan pelukanku dan menelan ludahku paksa. “Jadi.. Wu Shin Hye?” tanyaku retoris.

Shin Hye tersenyum dan berbalik arah. Menggamit lenganmu mesra dan menaruh kepalanya di bahumu. “Tentu saja, memangnya siapa lagi Hyun Soo-ya? Aku milik Kevin Wu dan Kevin Wu mililku!” jawab Shin Hye. Memperjelas semuanya.

Arasseo,” ujarku sambil tersenyum kecil. Mataku menatap sosok kalian samar, membayangkan tahun-tahun ke depan akan selalu seperti ini. Dimana Goo Shin Hye akan selalu disisi Kevin Wu. Selamanya.

*

Dan disinilah semuanya dimulai.

Goo Shin Hye bersama Appanya berjalan beriringan menuju altar dimana kau dan pendeta Song Hwan Guk berada.

Setelah pendeta Song membacakan doa dan pujian kepada Tuhan, kini saatnya mengucapkan janji pernikahan yang akan terus abadi selamanya.

Aku menarik napas perlahan. Entah kenapa rasanya udara disini jadi makin menipis dan sepertinya hanya aku yang merasa ‘sesak’.

Sebentar lagi…

“Saya, Kevin Wu, menyambutmu Goo Shin Hye sebagai istriku dan berjanji bahwa saya tetap setia kepadamu dalam untung dan malang, bahwa saya akan menjagamu dengan setia sebagaimana wajib diperbuat oleh orang yang beriman kepada Tuhan sampai maut memisahkan kita.” ucapmu tegas.

Tuhan, kuatkan hatiku….

“Saya, Goo Shin Hye, menyambutmu Kevin Wu sebagai suamiku dan berjanji bahwa saya tetap setia kepadamu dalam untung dan malang, bahwa saya akan menjagamu dengan setia sebagaimana wajib diperbuat oleh seorang yang beriman kepada Tuhan sampai maut memisahkan kita.” ucap Shin Hye dengan lembut. Inilah akhirnya…

Biarkan aku tidak menangis. Sebentar saja…

Setelah dirasa cukup, pendeta Song mengizinkanmu untuk menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Goo Shin Hye.

Aku dapat melihat wajah kalian yang berbinar dan sedikit gugup saat saling menyematkan simbol pernikahan kalian masing-masing. Goo Shin Hye tertawa pelan saat memasukkan cincin ke jari manismu. Betapa indahnya.

Aku dapat melihatmu menatap lembut yeoja yang sudah sah menjadi istrimu. Menyingkap anak rambut Shin Hye pelan dan tersenyum manis bagai malaikat.

Sebentar lagi aku akan melihat ini secara nyata, namja yang sangat kusuka mencium sahabatku sendiri di depan mataku.

..

….

…..

Tidak beberapa lama kemudian bibir kalian sudah saling bertaut satu sama lain. Sepertinya dunia sudah milik kalian berdua. Chukkae.

Aku menundukkan kepalaku. Pertahananku runtuh sudah. Disaat sepasang sejoli sedang merasakan kebahagiaan luar biasa, disini aku merasa kosong. Aku membiarkan air mataku turun perlahan. Ini lebih baik daripada harus menahan lebih lama lagi.

Aku menangis dalam diam ketika semua tamu di dalam gereja ini bertepuk tangan.

Aku merasakan kehilangan disaat semua tamu disini merayakan kebahagiaan pasangan baru.

Mengapa mencintai seseorang bisa sesakit ini?

the end.

 

Iklan

30 pemikiran pada “One Side Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s