Thak You, I Love You

Title     : Thak you, I love you

Author : Han Ahra

Main Cast :

  • Oh Sehun EXO-K
  • Choi Sulli f(x)

Support Cast : Jung Soo Jung (krystal f(x)) ,etc

Genre : Romance

Rated : PG-13

Length : Oneshot

——-

Gak pake basa-basi deh, Check it out!! And Happy reading J

——-

hahaha

-Love is the real miracle-

– So, Thank You for your Love and the Miracle-

-I Love You-

——–

 

-Author POV-

 

Sulli memasukkan sebuah koin kedalam mesin soda yang berada di lobi rumah sakit, menunggu sebotol soda keluar otomatis dari sana. Tangannya yang tersambung dengan selang infus masuk kedalam lubang tempat akan keluarnya sebotol minuman soda kaleng dari mesin tersebut. Ia merogoh-rogoh lubang tersebut tapi tidak ada soda yang keluar.

“Ada apa dengan benda ini?” desisnya sambil memukul-mukul mesin soda tersebut kesal.

Seorang Namja memperhatikan kelakuannya, lalu namja tersebut mendekati sulli. Namja tersebut memperhatikan mesin soda tersebut, lalu sedikit menendang-nendang benda itu. Sulli hanya menatap namja itu dengan tatapan bingung, sambil berpikir apa yang orang ini lakukan.

Tidak beberapa lama sebuah kaleng soda menggelinding keluar, Namja itu mengambilnya dan memberikannya kepada Sulli. Sulli sedikit terkejut dengan tingkah namja itu, tapi ia pikir Namja itu adalah orang baik, namja itu hanya ingin membantunya mengeluarkan kaleng soda.

“Gomawo.” Dengan nada pelan sulli berterimakasih pada namja tersebut. Tidak ada ekspresi balasan dari namja itu, hanya sebuah anggukan kepala pelan.

Lalu dengan cepat namja itu memasukkan koin kedalam mesin soda, dan mengambil soda yang keluar lalu pergi meninggalkan Sulli dengan cepat. Sangat cepat sampai membuat sulli tidak bisa menahannya. Padahal, sulli sangat ingin mengenal namja itu lebih dekat. Ia tertarik dengan namja itu, dingin dan juga tampan membuat seseorang yang melihatnya penasaran dan ingin tau lebih dalam tentang sikapnya yang cool itu.

Untungnya  namja itu tidak pergi jauh, ia duduk di kursi tidak jauh dari tempat sulli berdiri mematung sekarang ini. Sambil menarik tiang infusnya perlahan-lahan sulli mencoba mendekati namja itu. Lebih dekat dan lebih dekat, dan akhirnya ia berhasil duduk di samping namja yang saat ini bahkan tidak menghiraukan kehadirannya.

“Ekhm…” sulli sengaja terbatuk untuk menarik perhatian namja itu agar meliriknya. Benar saja namja itu meliriknya sebentar, dan menganggukkan kepalanya seperti memberi tanda hormat kepada orang disampingnya, tapi bukan itu yang sulli mau.

“Gomawo, tadi kau sudah membantuku.”  Ujar sulli memecah kecanggungan yang terjadi antara mereka berdua.

“Ahh…tidak apa-apa, itu bukan masalah besar.” Jawab namja itu singkat, jelas, padat dan datar.

“Aku Choi Sulli.” Dengan cepat dan tiba-tiba sulli menyodorkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya. Dia tersenyum lebar sambil mengharapkan namja itu menjabat tangannya kembali.

“Aku Oh Sehun.” Jawab namja itu -agak ragu- yang ternyata bernama Oh sehun, lalu ia menjabat tangan sulli.

“Senang bertemu denganmu, Oh sehun.”  Sambung Sulli masih dengan memasang senyumannya yang terlihat polos dan manis, dan dibalas dengan anggukan kepala pelan dari Sehun dan sebuah senyuman yang terlihat ramah.

“Apa yang kau lakukan di rumah sakit semalam ini? Kelihatannya kau sehat-sehat saja?” Sulli bertanya mencoba untuk mengakrabkan dirinya dengan sehun.

“aku sedang menemani Ummaku, dia dirawat disini.” Jawab Sehun dengan nada yang ramah. Ternyata meskipun wajahnya dingin tapi dia itu adalah orang yang ramah pada orang yang baru dikenalnya.

“ Ummamu sakit apa?” Tanya Sulli berbasa-basi untuk memperpanjang percakapannya dan Sehun.

“ Anemia, mungkin besok sudah boleh pulang. Kau sendiri sakit apa?”

“ Aku…Ehmm, penyakit yang sangat menyebalkan.” Sulli mendesis kesal berbicara tentang penyakitnya,ini  adalah salah satu hal yang membuatnya benar-benar kesal.

“Penyakit yang menyebalkan ,Mwoya? Cacar air?” Sehun mencoba menebaknya sambil mengernyitkan dahinya bingung. Menurutnya penyakit yang sangat menyebalkan adalah cacar air yang membuatnya merasa gatal dan terlihat aneh karna disekujur tubuhnya ditumbuhi bintik merah.

“Bukan itu…Hahaha, bagaimana bisa kau menebak cacar air?”  Sulli tertawa kecil mendengar tebakan Sehun.

“ Benar, bahkan tidak ada bintik merah ditubuhmu. Lalu apa? Kau sakit apa?”

Sulli terdiam sebentar, lalu berkata sambil menundukkan wajahnya “ Kanker darah stadium lanjut.”

“Mwoo??” Sehun terkejut mendengar hal itu, ternyata yeoja manis yang sedari tadi menunjukkan senyumannya ini adalah seorang pengidap kanker, benar-benar sesuatu yang mustahil.

“ Kau tahu,aku sangat membenci cerita yang mengisahkan seseorang yang meninggal karna penyakit kanker, itu terlalu lumrah dan membosankan. Tapi, tidak disangka aku malah mengidapnya, konyol sekali.”

“Sudah 3 tahun kanker ada ditubuhku, kemungkinan sembuh sangat kecil. Aku tidak bisa berharap banyak.” Lanjut sulli. Raut wajahnya yang ceria tiba-tiba berubah menjadi sedih dan serius.

“Jangan bicara seperti itu! Akan ada kehidupan bagi orang yang menginginkan kehidupan. Kalau kau berbicara seolah kau tidak ingin hidup, maka kau tidak akan hidup.” Sehun mencoba memberikan nasihat pada sulli, ia memandang wajah sulli yang baru ia sadari terlihat pucat. Lalu menepuk bahu sulli pelan untuk memberinya semangat.

“Sudahlah, lupakan saja hal itu. Aku bosan membicarakannya dengan banyak orang. Tapi,terimakasih atas nasihatmu bahasanya bagus sekali, hehe.” Lagi-lagi sulli menyogohkan sebuah senyuman lebar yang hampir memperlihatkan semua giginya. Terlihat jelas bahwa sulli mencoba untuk tegar dan mengabaikan penyakit yang ia derita, dan itu membuat Sehun merasa sedikit menaruh simpati dan merasa kasihan.

“Sehun-ssi, aku ingin bertanya sesuatu padamu…” Ditengah pikiran sehun yang melayang memikirkan betapa berat hal yang harus dilalui sulli, sulli malah memecahnya dengan suaranya yang terdengar ceria tanpa beban.

“Mwonde?”

“Namja sepertimu, pasti sudah pernah berpacaran-kan?” dengan nada berhati-hati sulli menanyakan pertanyaan yang sangat  ingin ia dengarkan  langsung dari seorang namja. Ini memang pertanyaan yang sedikit aneh, tapi Sulli tidak memikirkan itu, hanya ingin mendengarkan jawaban singkat dari sehun.

“Umm…Nde, Waeyo?”

“ Bagaimana rasanya? Apa itu menyenangkan?” Lanjut Sulli bertanya seolah ingin tahu lebih banyak. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

“ Ne,sangat menyenangkan. Kita berkencan dan menghabiskan waktu bersama.” Sehun menjawab sambil menatap wajah sulli yang polos. Ia menangkap sesuatu tersirat diwajah itu, seperti orang yang belum pernah merasakan cinta dan sekarang menginginkannya.

“Aku bahkan tidak pernah merasakannya, selama masa remajaku kuhabiskan dirumah sakit. Pergi kesekolah hanya beberapa hari dalam seminggu, sisanya aku hanya menjalani pengobatan yang menyakitkan, sampai sekarang aku belum pernah punya Namjachingu. Itulah kenapa kusebut penyakitku ini sangat menyebalkan.” Jelas sulli sambil mengeluarkan tawa kecil, ia merasa sedikit malu, dimasa remaja sepertinya tidak ada yang belum pernah pacaran kecuali dia.

“Kau ingin punya namjachingu??” Tanya Sehun.

“Ne, Tapi…aku  tidak punya waktu yang banyak untuk mendapatkannya. Aku ini lemah, siapa yang mau menjadi namjachinguku.” Jawab Sulli dengan jawaban merendah.

“ Tapi waktuku hidup tidak banyak, setidaknya aku ingin satu, satu saja namjachingu.” Tambahnya dengan penuh harapan, terdengar seperti sebuah doa.

Sehun mengerti hal ini, sangat sulit untuk menjalani hidup seperti itu. Kesepian dan menyakitkan. Tiba-tiba  dalam pikiran Sehun ada sesuatu yang ingin ia lakukan untuk teman yang baru saja ia kenal ini.

“Bagaimana kalau aku, menjadi namjachingu-mu??”

“MWO??”

 

***

 

-Sulli POV-

 

Aku tidak bisa tidur, padahal lampu kamar rumah sakit sudah gelap. Samar-samar aku melihat ke arah jam dinding, menunjukkan pukul 12.30. Aku masih memikirkan perkataan Sehun tadi. Dia mengatakannya dengan raut serius. Aku tahu,dia bilang begitu karna dia merasa kasihan padaku. Dia bukannya menyukaiku atau mencintaiku, apalagi kami baru bertemu beberapa jam yang lalu.

Tapi aku menerimanya, entah apapun motif dibalik perkataan Sehun, tapi aku menerimanya. Sehun terlihat sedikit dingin tapi ia ramah dan baik, aku tidak bisa menolaknya. Mungkin ini terkesan terburu-buru, tapi aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku ingin merasakannya, mencintai seseorang. Jadi beberapa bulan saja biarkan aku menjadi pacar seorang Oh Sehun.

 

*

 

 

Sinar matahari menerobos kelopak mataku yang sedikit demi sedikit coba kubuka. Bau obat-obatan langsung menyerbak memenuhi indra pembauku, seperti inilah hari-hariku. Aku sudah terbiasa dengan semua ini, berbulan-bulan aku ada disini, seperti rumah kedua bagiku.

Hal pertama yang kulihat setiap pagi adalah Umma yang akan selalu membawakan makanan rumah sakit yang hambar dan harus kumakan dengan terpaksa. Tapi hari ini sedikit berbeda, Oh Sehun ada disini. Aku sedikit terkejut, tapi ada sedikit perasaan bahagia dalam batinku. Dia membawa sebuah nampan dengan beberapa buah mangkuk diatasnya.

“Selamat pagi, Sulli.” Ucapnya sambil tersenyum dan membuat matanya menyipit, terlihat manis karna terpaan sinar matahari pagi menyapu wajahnya. Aku membalasnya dengan senyuman juga. Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini, aku pikir dia hanya akan membuat sebuah status palsu denganku, tapi ternyata tidak. Dia benar-benar tahu bagaimana membuat seorang yeoja bahagia.

“Sepagi ini kenapa kau sudah bisa ada disini?”

“Waeyo?Kau tidak suka?” Sehun memanyunkan bibirnya, terlihat lucu dan kekanak-kanakkan. Dia meletakkan nampan makanan yang ia bawa ke atas meja kecil disamping ranjangku.

“Aniya, aku sangat senang. Tapi, bagaimana dengan Ummamu? Dia sudah baik-baik saja?” Aku menjawab dengan semangatnya, aku benar-benar sedang senang saat ini.

“ Ya, dia sudah sehat dia akan pulang siang nanti. Makanya aku bisa datang kesini.” Jawaban Sehun sedikit membuatku takut, kalau Umma Sehun sudah kembali pulang lalu apa dia masih akan datang lagi dan menemaniku di rumah sakit?

Sehun mengambil sebuah mangkuk berisikan bubur hambar yang menjadi santapanku setiap pagi. Dia mengaduknya sedikit untuk menyampur isi bubur itu. Lalu menyuapkan satu sendok kearah mulutku. Tanpa perlawanan mulutku membuka dan menerima suapan itu dengan senang hati.

“Kalau begitu, Apa kau juga akan pulang? Kau tidak akan kesini lagi ya?” tanyaku dengan nada pasrah sambil menelan suapan bubur itu.

“Jangan Khawatir, aku akan sering kesini. Mungkin setiap pulang sekolah, Otte?”

“Jinjja? Uhuukk…Uhhukk.” Aku terbatuk karna sesuatu yang kutelan membuatku tersedak. Dengan sigap Sehun mengambil botol minum di samping ranjangku lalu menuangkannya ke sebuah gelas dan menyodorkannya padaku.

“Kau ini kenapa makan bubur saja bisa tersedak?” Sehun sedikit meledekku sambil mengacak rambutku pelan. Aku hanya tersenyum sedikit merasa malu. Dia menaruh kembali gelas yang baru saja kupakai untuk minum dan meletakkannya lagi di atas meja kecil berlaci disamping ranjangku.

“Gomawo…” Kata-kataku menghentikan gerkan Sehun yang baru saja akan menyuapkan sesendok bubur kemulutku lagi.

“Gomawo untuk apa?” Dia bertanya sedikit bingung. Aku tahu dia pasti mengerti apa yang aku maksud,’ Terimakasih karna sudah mau bertingkah seperti seorang namjachingu untukku’ hanya  saja ia menyembunyikannya untuk membuatku bahagia, Mungkin.

“Aniya. Kau janji ya akan menjengukku terus, chagiya?” Aku mencoba memanggilnya dengan panggilan yang sering dipakai orang-orang yang sedang berpacaran. Sehun terlihat sedikit terkejut sambil menatapku dengan matanya yang membulat. Kenapa apa aku salah?

“Waeyo, apa aku salah, Chagi?” lanjutku. Ia tersenyum, lagi-lagi menunjukkan matanya yang menyipit dan membuatnya terlihat lucu.

“Ne,chagiya. Aku akan menemanimu!”

 

***

 

-Sehun POV-

Tidak terasa, ini sudah hampir satu bulan aku menemani sulli melawan penyakitnya. Kami semakin dekat sekarang, kami sering bercanda dan tertawa. Kami berdua sangat cocok, sulli adalah orang yang lucu dan bisa membuatku tertawa. Dia selalu terlihat ceria, tidak terlihat seperti seorang pengidap kanker.

Tapi itu tidak membuat keadaannya makin membaik. Semakin lama ia semakin terlihat kurus. Dan itu membuatnya harus mengikuti pengobatan Kemoterapi yang terlihat sangat menyakitkan bagiku. Tapi Sulli selalu tersenyum, dia menyembunyikan semua rasa sakitnya dari aku dan bahkan orang tuanya.

Dan hari ini jadwal sulli untuk menjalani kemoterapi.

Hatiku serasa teriris saat melihatnya berulang kali memuntahkan isi perutnya karna efek pengobatan ini. Dia menggenggam tanganku erat. Matanya terlihat sedikit berair karna kontraksi yang terjadi, wajahnya pucat dan terlihat lemas. Sambil memegang sebuah wadah sebagai tempat penampungan muntahan sulli, Bibi terus menangis perih melihat anaknya menderita seperti ini.

Setelah merasa cukup, Sulli membaringkan tubuhnya perlahan-lahan diranjang. Dia lagi-lagi berusaha menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan. Hanya tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa padanya.

“Umma, Uljima! Nan gwenchana. Umma istirahat saja,seharian merawatku pasti lelah-kan? Umma bahkan belum  makan malam.” Bukannya memperhatikan dirinya, Sulli malah mengkhawatirkan Ummanya.

“Kau ini… Baiklah kalau itu maumu Umma akan pergi makan malam dengan Appa, kau senang?” Bibi mengelus rambut panjang sulli yang mulai menipis -karna sering rontok- dengan lembut. Ia beralih meninggalkan kami, sambil mengusap air matanya.

“Sehun-a, Tolong jaga Sulli ya!” Sebelum sempat keluar dari pintu kamar, bibi memberi pesan padaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.

Sekarang tinggal kami berdua. Aku dan Sulli. Keadaan hening sejenak, kami tidak bicara. Sulli masih memegang tanganku, dan aku merasakan tangannya yang dingin. Dia memejamkan matanya, dan tiba-tiba memiringkan tubuhnya kearahku.

“Sehun, Ayo kita jalan-jalan sebentar keluar rumah sakit.” Pintanya, dengan suara cerianya. Aku hanya diam melihatnya, dia harus istirahat sekarang, kenapa malah minta jalan-jalan.

“Kau harus istirahatkan? Ini sudah malam.” Tolakku pelan. Bukannya aku tidak mau tapi dia benar-benar harus istirahat.

“ Ayolah, aku bosan disini terus. Sehun-a…sehun-a…Ayo!” Dia merengek sambil menarik-narik tanganku. Ah, dia paling bisa membuatku  tidak berdaya .

“Baiklah, tapi kau pakai kursi roda ya!”

 

*

 

Aku mendorong kursi roda Sulli, sambil mengikuti arah yang ia perintahkan. Kami berhenti di lobi rumah sakit, dia memintaku mengambilkan soda kesukaannya. Aku langsung menuju mesin soda dan mengambil 2 buah kaleng soda untukku dan sulli. Lalu aku kembali dan menyodorkan kaleng soda itu satu untuk sulli. Dia tersenyum berterimakasih, lalu kami berjalan lagi, dia bilang selanjutnya kita harus ke taman belakang rumah sakit.

Sebelum kami berjalan jauh, aku merasa seseorang menepuk pundakku. Aku berhenti sejenak dan dengan reflek langsung membalikkan tubuhku  untuk melihat orang itu.

“Oh Sehun, ternyata ini benar-benar kau.” Seru orang itu, dan langsung memelukku.

“ Soo jung, kenapa kau ada disini?” tanyakku sambil melepaskan pelukannya pelan-pelan, aku tahu Sulli melihat ini, dan aku tidak mau membuatnya salah paham. Soo jung adalah mantan pacarku, dia sudah pindah ke China satu tahun yang lalu, tapi kenapa sekarang dia bisa ada disini.

“Aku mau menjenguk Nenekku, kau sendiri sedang apa disini?” Soo Jung menatap Sulli seolah bertanya siapa dia, dan kenapa dia bersamaku.

“Aku sedang menemani Yeojachinguku, kenalkan dia Choi Sulli.” Jelasku dengan jujur, Sulli dan Soo Jung sama-sama kaget mendengar itu.

“Ahh, ternyata secepat itu kau menemukan Yeojachingu baru.” Kata Soo jung, menggodaku.

“ Kenalkan aku Jung Soo Jung.” Soo Jung menyodorkan tangannya kepada Sulli, sambil memperkenalkan dirinya.

“Choi Sulli-imnida.” Balas Sulli sambil menunjukkan senyuman ramahnya yang terlihat agak dipaksakan. Sepertinya dia…apa dia cemburu?

“Senang bertemu denganmu Sulli. Kau sangat cantik, kau pasti bahagia ya punya namjachingu seperti Sehun? Kalian berdua terlihat cocok.” Puji Soo Jung dengan senyumnya yang jahil mencoba menggoda aku dan sulli.

“Sehun-a, memangnya kau mau kemana malam-malam seperti ini? Bagaimana kalau kita menjenguk Nenek bersama? Dia pasti senang bisa melihatmu lagi, kau sudah lama tidak pernah mengunjunginya-kan.” Soo Jung mengajakku. Aku agak tidak enak menolaknya, tapi bagaimana dengan Sulli.

“Mianhae Soo Jung-a, sepertinya aku tidak bisa. Aku dan…”  aku menengok hendak menunjuk Sulli tapi dimana dia? Mataku mencari sosok Sulli yang dari tadi padahal ada di sampingku. Tapi sekarang, kenapa dia sudah menghilang?

“ Dimana Sulli?”

 

***

 

-Sulli POV-

 

Udara dingin malam langsung menyeruak menembus kulitku. Disinilah aku, ditengah keheningan sepi taman belakang rumah sakit. Tempat favoritku, tempat yang tertata rapi dengan tanaman yang akan berwarna-warni saat musim semi tiba. Sayangnya ini masih musim gugur, jadi hanya ada tulang-tulang tumbuhan yang mengering tanpa daun yang menggelantung.

Sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan pada Sehun, sayangnya ada Yeoja bernama Soo Jung itu. Sejujurnya dia itu agak sedikit mengganggu, tapi yasudahlah.. itu bukan hakku untuk mencampuri urusan Sehun dan Yeoja yang berhubungan dengannya, masih beruntung Sehun mau menjadi Namjachinguku secara suka rela.

Tapi aku tidak bisa berlama-lama melihat Sehun bersama Yeoja lain, jadi aku putuskan untuk pergi saja. Mataku agak perih melihat mereka berdua terlihat akrab. AHH, apa aku cemburu?

“Sulli…” Aku mendengar seseorang meneriaki namaku. Suaranya terdengar seperti Oh Sehun. Aku memalingkan kepalaku kearah sumber suara dan benar saja, aku melihat Sehun yang sedang berlari menuju kearahku. Kenapa cepat sekali dia kembali?

“Cepat sekali? Apa kau benar-benar sudah menjenguk Neneknya Soo Jung?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku bahkan tidak berani menatap wajah Sehun, rasanya ingin melakukan sebuah demonstrasi -atau kata lainnya ngambek-.

“ Tidak jadi, aku-kan sudah mendapat tugas dari Bibi untuk menjaga anaknya ini.” Sehun mengacak rambutku pelan sambil menunjukkan senyuman jailnya.

“Apa Soo Jung tidak marah? Dia sepertinya sangat ingin bertemu denganmu.” Nada bicaraku sedikit menyindirnya, entah kenapa…kenapa aku seperti ini?

“Ya! Choi Sulli, kenapa aku berpikir kalau sekarang ini kau sedang cemburu.” Kenapa dia tahu, apa terlihat jelas? Bagaimana ini, aku harus bilang apa?

Sehun menjongkokkan tubuhnya didepan kursi rodaku, menatap wajahku yang terpaling.

“ Dia itu Mantan pacarku, sekarang tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan dia. Maaf ya, membuatmu seperti ini.” Jelasnya dengan lembut, seperti menjelaskan agar aku tidak salah paham padanya. Dan itu menenangkan dan membuatku kembali berani menatap wajahnya.

Pandangan kami bertemu sejenak, aku melihat wajahnya dengan focus. Terlihat menggemaskan. Dengan sendirinya wajahku bergerak perlahan mendekati wajahnya, tidak tahu apa yang ada dipikiranku saat ini. Semakin dekat. Aku menutup mataku, tidak ada perlawanan dari Sehun dan dengan cepat…

CUP~

Bibirku mendarat dipipi mulus Sehun, hanya sesaat, dan aku langsung tersadar dan terkejut sendiri. Apa yang barusan kulakukan, aku kehilangan kendali. Lancang sekali mencium pipi Sehun, kau pikir kau siapa Choi Sulli??

Wajahku memanas dan memerah, aduuh..aku malu. Dengan cepat aku memutar kursi rodaku agar bisa memunggungi Sehun, aku tidak mau menunjukkan wajah semerah kepiting rebus ini padanya. Aku salah tingkah lagi, sekarang apa yang harus aku lakukan?

 

***

 

Hari ini tanpa sepengetahuan Sehun aku mengunjungi rumahnya. Tadi pagi aku merengek pada Umma dan Appaku supaya mereka bilang pada pihak rumah sakit agar aku boleh keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hanya bertengger disana.

Aku kesini ingin membuat kejutan sekaligus memberitahu sesuatu yang semalam tidak jadi kukatakan pada Sehun karna salah tingkah berkepanjangan yang terjadi dengan sangat bodohnya itu.

Sehun belum pulang sekolah jadi aku harus menunggunya, hanya duduk diruang televisi sekaligus ruang keluarga milik keluarga Sehun. Umma Sehun dari tadi sibuk mengeluarkan berbagai makanan yang ia punya untukku, padahal aku sudah bilang tidak usah repot-repot.

Kami mengobrol dengan canggung, mungkin karna ini pertama kalinya kami bertemu. Tapi, dia menceritakan banyak hal, tentang Sehun dan sikapnya yang sedikit pendiam tapi akan menjadi banyak bicara setelah mengenalnya, dan juga dia adalah orang yang peduli terhadap keluarganya. Apalagi setelah Appanya meninggal satu tahun yang lalu, tepatnya musim semi tahun lalu, karna kecelakaan saat mereka sekeluarga sedang liburan.

Aku mendengarkan setiap cerita dengan teliti, semuanya menarik untuk didengarkan. Tanpa terasa sudah 1 jam lebih aku ada disini. Dan akhirnya Sehun datang, masih lengkap dengan seragam sekolahnya dan sebuah ransel yang menggelantung di punggungnya. Sehun yang belum pernah kulihat, mengingatkanku pada sekolahku yang sudah lama tidak kudatangi.

Sehun sedikit terkejut melihatku ada dirumahnya, dan aku hanya menunjukkan senyuman lebar untuk menjelaskannya.

“Sulli sudah menunggumu sejak tadi, cepat ganti bajumu dan temani dia.” Perintah Bibi Kim pada Sehun yang bahkan belum diberi kesempatan untuk bicara. Tapi dia langsung menurutinya, dia pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

5 menit kemudian dia keluar, dengan celana jeans panjang dan sebuah kaus yang ditimpa dengan hoodie berwarna biru tua. Inilah Sehun style, sederhana dan menunjukkan bahwa dia adalah seorang remaja yang chic dan cool.

“Kenapa melihatku seperti itu?”  Dia bertanya padaku sambil menggaruk kepala belakangnya yang aku yakin tidak gatal. Mungkin dia merasa terganggu aku memperhatikannya dengan kagum.

“Kau keren sekali.” Pujiku sambil menunjukkan kedua ibu jari tanganku. Dia terlihat sedikit malu dan kikuk, lucu sekali.

“Sudahlah. Sebenarnya kau ini mau apa kesini? Bukankah nanti aku akan kerumah sakit menemanimu?”

“Aku mau jalan-jalan, dan…ada yang ingin kubicarakan padamu. Penting.”

 

*

 

Tujuan pertama kami adalah sekolahku. Rasanya sudah lama sekali tidak pernah mengunjungi tempat ini. Kami hanya melihat-lihat sebentar disini. Aku menunjukkan kelasku pada Sehun, dan menanyakan ini itu tentang apa yang terjadi disekolahnya.

Lalu kami beralih menuju taman bermain, makan ice cream sambil menikmati wahana permainan. Tertawa melihat Sehun pusing-pusing setelah main rooler coaster . Setelah itu kami menonton Film horor yang membuat Sehun berteriak-teriak. Kami tertawa sepanjang waktu, aku rasa ini seperti sebuah kencan. Kencan pertamaku yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Hari sudah mulai sore, kami lelah dan kelaparan. Aku agak merasa sedikit pusing, tapi aku masih bersemangat, masih ingin menghabiskan waktu bersama Sehun. Kami putuskan untuk selanjutnya mampir ke sebuah Kedai Ramen yang tidak jauh dari Bioskop tadi.

“Wahh, Baunya enak sekali!” Seorang pelayan kedai datang dan membawakan nampan berisi 2 mangkuk Ramen dengan aroma yang membuat nafsu makan meningkat.

“Ayo,kita makan.” Seruku dan Sehun  bersamaan dengan semangatnya. Tanpa basa-basi aku langsung menyeruput mie-mie panjang berkuah itu.

“Yak, makannya pelan-pelan.”  Sehun menghentikan aksi makanku sejenak, aku tersenyum kearahnya. Entah apa yang ia lihat diwajahku, tapi dengan cepat ia langsung mengambil selembar tissue dan mengusapkannya di sekitar bibirku. Aku tertegun dan diam.

“Kau ini seperti tidak pernah makan saja.” Lanjutnya mengejekku, dan menarik tangannya dari wajahku. Aku tersenyum kikuk dan mengalihkan pandanganku, sepertinya wajahku memerah.

“ Oh ya, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Katanya penting?” Ucapan Sehun membuatku ingat tentang sesuatu yang harus kusampaikan padanya. Aku diam sebentar, kepalaku terasa pusing tiba-tiba.

“Ah, itu…” Aku menghentikan kata-kataku, kepalaku benar-benar terasa pusing sekarang,

“Sulli, hidungmu…berdarah.”

 

***

 

-Sehun POV-

 

Sulli terbaring diatas ranjang kamar rumah sakit. Dia pingsan. Dokter bilang dia kelelahan. Bodohnya aku membiarkannya kelelahan hari ini, jelas-jelas aku tahu dia tidak dalam keadaan yang baik.  Aku merasa bersalah pada orang tua Sulli, mereka terlihat sedih dan khawatir.

“Mianhae… Seharusnya aku tidak membiarkannya kelelahan.”

“Ini bukan salahmu. Dia memohon pada kami pagi tadi, dia bilang mau memberitahumu tentang operasi.” Jawaban Bibi Lee membuatku terkejut. Jadi itu yang dari tadi ingin Sulli bicarakan padaku.

“Jadi, dia belum mengatakannya padamu?”

“ Iya, dia sudah mendapat donor sum-sum tulang belakang yang cocok jadi tinggal menjalankan Operasi. Tapi ada juga kemungkinan operasi itu gagal dan…yah, dia bisa saja meninggal.” Lanjut Bibi Lee dengan nada pasrah.

“Apa dia sudah yakin ingin melakukannya?” tanyaku  ragu.

“Ya, dia bilang tidak ada salahnya mencoba. Padahal dia sendiri tahu apa resikonya.” Bibi Lee menatap anaknya sambil mengelus-elus kepala Sulli dengan penuh rasa sayang. Benar-benar tidak bisa dibayangkan bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sulli, Bibi Lee dan Suaminya pasti akan sangat sedih.

 

*

 

Ini sudah hampir 1 jam aku duduk disamping Sulli dan menatapinya yang sedang terpejam damai. Bibi Lee sedang tertidur di sofa, mungkin dia kelelahan karna tidak tidur, sedangkan suaminya pergi untuk mengurus pekerjaan mendesak di kantornya. Perlahan-lahan aku melihat mata Sulli bergerak mencoba terbuka. Dia sadar.

“Kenapa kita sudah ada disini?” Tanyanya bingung sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia langsung mencoba bangkit untuk berusaha terduduk diatas ranjangnya.

“Kau pingsan.” Jawabku singkat.

“Jinjja? Bagaimana bisa? Maaf ya jadi merepotkanmu.”

“Sulli-ah, kenapa kau tidak bilang dari kemarin kalau kau akan menjalani Operasi?”

“Ahh, itu…aku mau bilang tapi tidak ada waktu yang tepat. Aku lupa terus, maaf ya.” Dia meringis, menyipitkan matanya dan menunjukkan gigi-giginya, membuatnya terlihat masih ceria padahal baru saja sadar dari pingsan.

“Seharusnya kau banyak istirahat.” Aku mencoba memarahinya. Dia menunduk menyesal.

“Justru karna besok aku harus Operasi hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Aku tidak mau menyesal ,meninggal sebelum sempat merasakan kencan bersamamu.” Wajahnya berubah menjadi sendu, tiba-tiba keceriaanya menyurut perlahan.

“ Aku mencintaimu Sehun. Rasanya begitu terlambat bertemu denganmu diujung hidupku, aku ingin bertemu denganmu lebih awal. Aku tahu, sekarang ini mungkin kau menjadi namjachinguku karna kasihan padaku. Tapi aku mau bilang terima kasih padamu karna itu. Karena kau, aku bisa merasakan jatuh cinta meskipun hanya sekali dalam hidupku.”  Dia menundukkan wajahnya berusaha menutupi air matanya yang sekarang sedang berjatuhan.

“Kau benar, aku menjadi namjachingu-mu karna aku kasihan padamu.” Sulli langsung menatapku mendengar aku berbicara seperti itu. Mungkin dia kecewa, karna aku mengakui hal ini, meskipun dia sendiri sudah tahu tapi berbeda rasanya kalau itu terucap dari mulutku sendiri.

“Tapi itu dulu. Sekarang aku merasakan hal yang sama seperti kedua orang tuamu, tidak ingin kehilanganmu. Dan aku tulus, sepertinya aku juga menyukaimu.” Lanjutkuku mengatakan hal yang jujur kurasakan. Aku tidak ingin kehilangannya, ingin melihat senyumannya lebih lama lagi, dan menjadi Namjachingu yang sesungguhnya untuk Sulli.

Dia menatapku tak berkedip, mungkin berusaha mencerna kata-kataku barusan. Aku tersenyum menjelaskan bahwa itu tidak salah, dan itu bukan tipuan untuk membuatnya senang, itu adalah apa yang kurasakan sekarang.

Aku balas menatapnya, mata kami bertemu dan saling memandang dalam-dalam. Aku mendekatkan wajahku perlahan kearahnya. Semakin dekat, lalu aku menutup mataku. Merasakan nafas kami beradu, dan mendengar detak jantung kami yang terpacu cepat bersamaan.

Bibir kami bertemu. Aku memperdalam ciumanku, menjelaskan betapa aku ingin dia tetap disini, tetap sebagai Yeojachinguku yang akan selalu ceria disampingku.

Perlahan aku menarik wajahku mundur. Menatapnya yang membeku tidak bergerak dengan wajahnya yang memerah.

“Karna itu… jangan pergi, bertahanlah untukku Sulli.”

 

***

 

Hari ini adalah Jadwal Sulli untuk menjalani Operasi. Karna ini akhir pekan jadi aku bisa datang dan menemaninya. Perasaanku dan kedua Orang tua Sulli sama, kami khawatir. Khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya. Tapi aku mencoba membuang perasaan itu, mengisinya dengan rasa optimis bahwa Sulli bisa melewati ini dengan baik dan lancar.

Aku sempat mengunjunginya sebentar dan mengatakan sekali lagi bahwa dia harus bertahan untukku, sampai akhirnya dia dibawa ke ruang operasi oleh beberapa suster rumah sakit.

Aku dan kedua orang tua Sulli duduk dikursi tunggu didepan ruang operasi. Keadaan hening, semuanya sibuk dengan rasa cemas mereka begitupun aku. Aku mengepalkan tanganku, memejamkan mataku dan berdoa, berdoa agar Sulli baik-baik saja.

1 jam berlalu…

2 jam…

Kami semakin resah, belum ada satupun dokter yang keluar dari ruang operasi. Entah apa yang terjadi didalam sana, tidak ada yang terdengar dan tidak ada yang terlihat.

Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Seorang Dokter yang masih lengkap dengan seragam operasinya keluar. Dengan reflek kami bangkit, dan menghampirinya.

“Bagaimana, keadaannya?” Appa Sulli bertanya terlebih dahulu dengan nada cemas dan penasaran. Kulihat wajah sang Dokter juga sama cemasnya, seperti ada sesuatu yang baru saja terjadi. Dokter itu diam saja, membuatku merasa kesal.

“ Yak! Apa yang sebenarnya terjadi??” bentakku kesal.

“Dia mengalami koma. Ditengah Operasi jantungnya berdetak tidak stabil, lalu sekarang ia mengalami koma. Tapi operasi pendonorannya sudah selesai, kalian hanya bisa menunggu bagaimana hasil akhirnya.” Jelas Dokter itu. Aku mematung, seakaan baru saja ada sebuah kilat yang menghantam perasaanku, begitu juga dengan Kedua orang tua Sulli.

“Dia bisa saja tersadar dari komanya, jika ada sebuah keajaiban. Kalian tunggu saja.” Dokter itu melengos pergi. Menyebalkan sekali, apa maksudnya? Dia seperti bicara seakan kemungkinan sangat kecil bagi Sulli untuk sadar dari komanya. Sontak saja Umma Sulli menangis sejadi-jadi.

“Dokter macam apa dia itu. Sudahlah Bi, aku yakin Sulli bisa melewati ini.” Aku mencoba menenangkan Umma Sulli yang benar-benar terpukul menghadapi ini.

 

***

 

Aku melirik kearah jam dinding. Sudah pukul delapan malam. Sejak siang tadi sulli dipindahkan keruang rawatnya, dia hanya terpejam dengan sebuah alat medis yang menutupi hidungnya untuk memberinya oksigen. Dia belum sadar.

Aku duduk di Sofa menunggu. Melihat Kedua orang tua Sulli terus menangis menatapi tubuh Sulli yang terkulai lemas di ranjang. Hatiku perih, air mataku berjatuhan beriringan dengan doa dan harapan yang terus kupanjatkan pada tuhan agar ia memberikan Sulli keajaiban.

 

***

 

-Author POV-

 

Sehun berdiri didepan sebuah gundukan tanah, makam seseorang yang sangat disayanginya. Rambutnya kemerahan diterpa sinar matahari dan bergoyang lembut karena angin musim semi yang semilir.

Dia menaruh sebuah rangkaian bunga dimakam itu, lalu melakukan sebuah ritual sembahyang yang menjadi tradisi masyarakat Korea untuk menghormati arwah seseorang yang sudah meninggal. Suasana keheningan dipemakaman membuat hatinya damai meskipun tersisip kesedihan yang berusaha ia maklumi.

Sehun menatap makam itu dalam-dalam dan mengingat hal-hal yang pernah ia lakukan bersama orang yang terbaring didalam sana. Pikirannya melayang bebas.

“Yak, Oh Sehun.” Suara seorang Yeoja membubarkan lamunannya. Dia menengok kearah sumber suara dan mendapati seorang yeoja berdiri tidak jauh darinya. Seorang Yeoja yang sedang tersenyum manis dengan baju putih sepanjang lutut yang memantulkan sinar matahari dan membuatnya terlihat berkilau.

“Ahh, Sulli…Kenapa kau ada disini?” tanya Sehun dengan nada terkejut.

“Tentu saja mau mengunjungi makam Appamu. Inikan satu tahun Appamu meninggal. Kau pikir aku tidak tahu?” Sulli mendengus menjawab pertanyaan Sehun.

“Tapi aku lupa membawa rangkaian bunga? Bagaimana ini?” Lanjut Sulli sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.

“Kau ini!” Sehun menggeleng melihat tingkah Yeojachingunya itu.

”Sudahlah, doakan saja Appaku, lain kali saja berikan bunganya.” Tambahnya. Sulli mengangguk mengiyakan. Dia bergegas mendekati makam Appa Sehun, dan melakukan ritual yang sama dengan apa yang dilakukan Sehun.

Setelah itu, mereka berdua beralih dan meninggalkan tempat itu perlahan-lahan sambil bergandengan tangan.

“Kau tahu Oh Sehun, melihat tempat pemakaman seperti ini aku jadi ingat saat aku menjalani Operasi. Dalam komaku aku bermimpi, ada seorang namja mengulurkan tangannya padaku wajahnya tidak terlihat jelas tapi dia memakai baju putih.” Sehun mendengarkan cerita Sulli baik-baik.

“ Dia mau menarikku, tapi tiba-tiba kau datang. Kau datang sambil berlari lalu merebutku dari namja itu. Lalu kau memelukku, dan tidak membiarkanku melihat apa yang ada disekelilingku, lalu tiba-tiba aku sadar. Hehehe, ajaib sekali ya?” Lanjut Sulli sambil terkekeh kecil mengingat mimpinya itu.

Sehun hanya tersenyum mendengarnya. Keajaiban yang ia harapkan benar-benar terjadi pada Sulli. Sekarang Sulli sudah sembuh dari penyakitnya, dan keluar dari rumah sakit dan menjalani kehidupan normal sebagai Yeojachingunya, masih tetap ceria seperti bagaimana Sulli sebelumnya.

“Sehun ayo kita kencan lagi, kita ke Pantai.”

-END-

——-

Gimana….gimana? gaje gak? Kalian terkejut? Hehehe, tuangkanlah dalam box comment! *apasih thor?*

Oh, iya. Gomawo for reading ya : )

Iklan

20 pemikiran pada “Thak You, I Love You

  1. keren thor sumpah thor keren fell nya dapet banget,
    kiraiin yang mati sulli eh ternyata appanya sehun,
    bikin ff pairing hunlli lagi min wkwkw XD

  2. njir .. kirain makam nya sulli -___- sampe jantungan dah -_- *lebay
    feelnya dapet bgt :’) huaa
    keep writing !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s