The Cyborgs (Chapter 1)

Title : The Cyborgs [Chapter 1]

Author : Puu | Genre : Fantasy and Sci-Fi.

Rating : M | Length : Multi Chapter

Cast : All members EXO and The Girls.

Note: Chapter ini adalah Chapter ‘pengenalan karakter’.

 

 

[…]

 

Seluruh pasang mata murid-murid Imparaty School dari berbagai bidang tertuju pada sesosok pria berperawakan western ini. Mereka menatap kagum padanya.  Rambut blonde, hidung yang mancung ,serta bola matanya yang berwarna turquoise. Semua terlihat mengagumkan bagi murid-murid. Terlebih suara pria yang memiliki tinggi hampir dua meter ini terdengar sangat berat sehingga memberi kesan berbeda dari murid mainstream lainnya.

Mereka berteriak meneriakkan nama pria pemilik alis tebal ini. Tak hanya gadis ,bahkan para murid pria lainnya juga melakukan hal itu.

Pria ini berjalan santai dengan sebuah tas sport dibahu kirinya. Semua yang berpapasan dengannya dibuat diam dan tercengang. Ia tetap meneruskan jalannya walaupun banyak sapaan datang.

Disisi kiri blazer merahnya terdapat bordiran bertuliskan ‘Kevin Wu’. Ya, pria yang lebih terkenal di imparaty bernama Kris ini sudah berada dilorong-lorong gedung yang menghubungkan kegedung sebalah.  Tepatnya gedung Imparaty high school.

Kris salah satu mahasiswa Imparaty University. Ia masuk dalam bidang Professional Sport di tingkat satu. Tak heran memang banyak gadis yang rela berdiri diterik panas membahana hanya untuk melihatnya berlatih olahraga. Kris sudah terbiasa dengan itu. Bahkan saat ia bermain basket, ketika bolanya terlempar jauh, jangan harap bola itu akan ditemukan lagi. Ya, Tentu kalian sudah tau jawabannya.

Kris membenarkan posisi kerah seragam yang ia kenakan. Dan itu sukses membuat gadis yang mengikuti dibelakangnya berjerit histeris. Ia kini memasuki lorong high school berisikan locker. Langkahnya terhenti tepat disamping seseorang yang sedang mengambil sesuatu didalam locker yang memang terlihat berbeda dari locker kebanyakan disini.

“Chanyeol!” Kris menepuk bahu pria itu.

“Oh ,Kris!” Serunya. Pria itu terlihat sangat bersemangat hari ini. Dibuktikan dengan jaket berwarna cerah yang menutupi seragam basketnya. Kris kembali menampilkan wajah khas andalannya. Ia segera merangkul Chanyeol untuk bersama-sama memulai kelas basket.

Park Chanyeol. Satu hal tentangnya. Ia pria yang humoris dan sangat bersahabat. Banyak yang menjulukinya dengan Kris itu The Twin Brothers. Namun sifat yang menjadi perbedaan antara mereka. Kris cenderung dingin ,sedangkan Chanyeol sangat ramah.

Chanyeol juga murid mainstream. Imparaty High School dan sama-sama memasuki bidang Professional Sport bersama Kris. Namun ia di tingkat dua.

 

Begitupun ditempat lain.

 

Suasana pagi dikelas Science ini tak kalah gaduh dengan yang sebelumnya. Jika kebanyakan murid yang lebih muda mengagumi pesona Kris dan Chanyeol. Disini berbeda. Para noona banyak yang berdatangan kekelas Science hanya untuk melihat seorang pria yang sedang membaca sebuah buku ‘Alchemy’.

“Sehun Oppa ,ini untukmu!!”

Sehun. Dia membenarkan letak kacamatanya sebelum mengambil sekotak coklat caramel dari salah satu murid yang ia tak kenal. Tak sepatah katapun dilontarkan Sehun walaupun sekedar mengucapkan terimakasih. Namun ,para gadis malah semakin histeris dengan diterimanya coklat caramel itu.

Pria yang memasuki Imparaty High School ini mencopot kacamatanya. Ia tidak suka dengan murid-murid yang selalu menganggunya jika sedang membaca buku. Ia berdiri lalu segera berjalan melewati gadis-gadis yang sangat tidak bisa mengontrol ekspresi juga teriakannya untuk menyebut nama ‘Oh Sehun’. Bahkan sampai Sehun keluarpun mereka  tetap membuntutinya.

Saat diluar, pria berkulit putih susu ini berpapasan dengan sahabatnya. Kai.

Pria bernama lengkap Kim Jong In itu menatap Sehun dengan memohon. Memohon agar Sehun mau membantunya menyingkirkan murid-murid yang sedang berebut untuk memeluknya.  Sehun hanya bisa mengangkat bahu dan memasang wajah—maafkan aku. Ia tidak mau untuk yang kedua kalinya masuk kedalam lubang buaya. Terkahir kali ia membantu Kai, Sehun berakhir di UKS dengan wajah penuh cakaran serta seragamnya yang terlihat tragis.

Mari kita lihat ditempat lain. Kegaduhan juga tak kalah heboh dikelas jurnalistik.

 

“Oppa!!”

“Kyaaa!! Baekhyun Oppa!”

“Oppa mau yah aku interview, aku butuh untuk tugasku pekan besok ,ya oppa?”

Byun Baekhyun. Salah satu murid Imparaty High School yang masuk dalam bidang Jurnalism. Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tersenyum ramah ditengah maraknya murid-murid yang menarik ujung seragamnya. Hari ini ia sengaja tidak memakai topi Donald duck—aksesoris yang sering dipakai. Ia tidak mau untuk yang ke 20 kalinya kehilangan topi karena diambil oleh para murid-murid jurnalis lain.

Pria berwajah imut itu berfikir mencari alasan untuk menghindari murid-murid jurnalis ini. Baekhyun memicingkan mata dan menemukan Sehun tengah berjalan melewati kelasnya.  Bingo!

“Sehun!” Teriaknya.

Semua mata tertuju pada sosok yang berhenti didepan pintu. Dan ini menjadi kesempatan Baekhyun untuk kabur dari kerumunan gadis-gadis. Ia berlari dan langsung menarik Sehun untuk segera pergi dari sini. Sehun sudah tidak bisa mengambil buku alchemy-nya yang terjatuh. Karena kini buku itu sudah tidak berbentuk lagi akibat diperebutkan para murid disana.

 

[…]

“Luhan!” pria dengan nampan berisi Goopy Carbonara dan orange juice ditangannya menoleh. Ia melambaikan dengan satu tangan. Terdapat beberapa murid berseragam yang sama dengannya dibelakang serta membawa makanan yang sama pula.

Murid Imparaty High School dan masuk dalam bidang Hit Movie Composser. Xi LuHan.

Luhan melangkah menghampiri  dua makhluk sebangsanya. Pria bermata besar yang sedang mencicipi Fruit Parfait dimeja bernama D.O dan pria didepannya yang selalu bersikap ramah pada para admirer itu bernama Suho. Disekeliling meja keduanya banyak murid-murid yang tengah sibuk memotret mereka berdua.

“Berlebihan.” Ucap Luhan sambil menaruh makanannya dan duduk disamping Suho. Dua sahabatnya itu hanya tersenyum dan Suho menepuk pelan bahu Luhan upaya menenangkannya. Luhan memang sangat tidak suka jika terus saja diikuti kemanapun ia pergi. Sangat mengganggu dan tidak bebas ,pikirnya.

“Kris menyuruh kita berkumpul nanti.” Ucap D.O pelan disela kunyahannya.

“Aku tidak bisa.” Luhan mengaduk-aduk carbonara dan memakannya dengan malas.

Tak lama dua orang pria lain bergabung dengan mereka. Dua makhluk exolation yang memiliki kekuatan Healing dan Froze  duduk dengan nafas terengah-engah. Luhan dan yang lain sudah bisa mengira apa yang terjadi dengan Lay dan Xiumin. Dikejar-kejar para gadis yang kurang kerjaan.

Okay, Lima murid mainstream berkumpul disatu meja. Ini jarang terjadi. Suasana kantin besar Imparaty semakin sulit dikendalikan.

“This is deep!” Xiumin mengelap keringatnya. Lay mengangguk lalu merebut minuman milik Suho.

Suho hanya menggeleng dan kembali beralih ke Luhan –lagi.

“Kris bilang ini ada hubungannya dengan Cyborg.” Ucap Suho pelan. Luhan memasukkan carbonara kemulutnya sebelum berkata “Aku harus menemani seseorang nanti.” Suho memincingkan matanya.

Semua menatap Luhan. Tak pernah murid Imparaty High School yang masuk dalam Movie maker ini mau menemani seseorang kecuali Sehun. Semua orang juga mengetahuinya ,antara Luhan dan Sehun. tidak tidak ,mereka tidak menyukai satu sama lain. Hanya memiliki hubungan yang sulit dimengerti orang. Hubungan apa itu hanya mereka berdua yang tau.

“Minwoo menyuruhku.” Pungkas Luhan.

Mereka semua akhirnya mengangguk mengerti seakan baru saja mendapat sebuah jawaban yang sudah mereka duga. Minwoo itu adalah guru dibidang Luhan, namun pria itu tidak pernah memanggilnya songsaenim karena Luhan tidak mau. Untung saja Minwoo songsaenim termasuk guru yang tidak terlalu pusing akan hal itu.

“Aku duluan, Tao dan Chen menyuruhku ke perpustakaan .” Ucap D.O. dan semua ber’hm’ ria.

 

 

[…]

Bel Sekolah berbunyi. Mengisyaratkan sudah waktunya murid-murid Imparaty School ,baik University maupun High School untuk segera memasuki kelas dibidang masing-masing.

Terlihat Suho dan Lay berbarengan memasuki kelas Jurnalis di gedung University. Dan Kai yang berjalan santai dengan Jaket hitam yang ia sampirkan dibahu memasuki Kelas Art.

Begitupun dengan para guru dalam bidangnya tersendiri. Mereka mulai memasuki kelasnya setelah mengira semua murid sudah merapat.

Namun kali ini Samara Dawnson tidak datang kekelas seorang diri. Ia salah satu guru yang mengajar dibidang Alchemy ,serta ia juga adalah guru bahasa inggris disini. Derap langkahnya sangat terdengar dilorong sekolah akibat heels yang dipakainya.

Ia menuntun seseorang yang akan menjadi anak baru dikelasnya nanti. Seorang gadis yang memakai seragam ‘Alchemy Artisan’ ini menatap sekeliling. Dikiranya anak baru itu sedang gugup ,Samara malah mengusap pelan punggung gadis disebelahnya seraya menenangkan agar tidak gugup.

Lucunya anak baru itu tidak gugup sama sekali ,ia hanya sedang memerhatikan kegiatan dibalik tembok-tembok gedung High School ini. Ya, gadis ini bisa melihat sesuatu dengan jelas dari jarak 50 meter yang bahkan terhalang tembok sekalipun.

Akhirnya dua gadis –guru dan murid ini sampai didepan suatu kelas bertuliskan ‘Science and Alchemy Artisan’. Samara menyuruh anak baru untuk tunggu diluar. Ia memasuki kelas itu terlebih dulu. Samara akan segera memanggilnya nanti untuk memperkenalkan diri.

“Morning Class!” Sapa Samara. Ia berjalan menuju mejanya, lalu mengambil sebuah jaket lab berwarna putih yang tergantung pada loker kecil dikelas.

“Morning Mrs.Dawnson!” Jawab murid serempak. Mereka semua sudah bersiap dengan alat-alat alchemy serta mengenakan jaket lab yang sama dengan Samara.

Wanita berusia 27 tahun itu berdiri ditengah kelas. Menatap ceria semua murid-murid kesayangannya. Terlebih pada Sehun. Sehun adalah murid terpintar dibidang ini. Jika ini suatu Kampus maka sudah pasti Sehun mendapat gelar ‘asdos’ darinya.

“Sudah menemukan elixir baru?” Tanyanya.

Matanya melirik kesemua murid. Mereka semua bergumam ‘belum’ pelan ,namun Samara bisa mendengar itu. Samara berfikir ,entah apa yang menjadi kendala muridnya. Kelas Science dan Alchemy artisan ini adalah salah satu bidang terbaik di Imparaty. Kelas itu menjadi perwakilan bagi Imparaty School.

“Sehun?” Samara berharap Sehun memiliki eksperimen baru.

Sehun mengangkat gelas bekernya. Semua melihat air berwarna sea foam didalam gelas itu. Samara mengambilnya dari Sehun lalu mencium air elixir itu.

“Okay, kau berhasil membuat Essence of magic.” Puji Samara. Semua murid bersorak. Selalu seperti ini, hanya Sehun yang selalu berhasil membuat elixir baru. Namun tak pasti semuanya tidak bisa.

Sehun hanya tersenyum kecil. Ia tidak mau bersikap berlebihan.

“Okay,Hari ini kita akan mempelajari elixir ‘Monoatomic Gold’.  Tapi sebelumnya saya mau memperkenalkan seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga kita.” Samara terlihat sangat antusias. Dia memang menyukai jika ada anak baru dalam kelas ini. Itu berarti ia akan semakin berguna disini.

Semua murid saling menatap tidak percaya. Sebelumnya, jika ingin memasuki kelas Science/Alchemy orang tersebut harus melalui uji tes. Tentunya tes Alkimia. Dan tak jarang banyak orang yang gagal melalui test itu. Apalagi dari tahun ke tahun test yang diberikan bertambah sulit.

Samara menengok kearah pintu. Ia menggerakkan tangannnya sebagai isyarat anak baru itu untuk segera masuk.

Gadis dengan cardigan baby blue yang menutupi seragamnya kini masuk dan berjalan pelan. Menghampiri Samara yang tengah tersenyum lembut. Ia sudah berdiri berdampingan dengan Samara yang memegang kedua bahu gadis itu lembut. Ia mencoba tersenyum sebisa mungkin.

Kulitnya yang memang sedikit berbeda untuk manusia biasa. Rambutnya yang sangat terlihat halus dan segar. Serta bola matanya yang berwarna hazel. Suatu pemahatan yang bagus jika diumpamakan sebagai patung.

Samara menyuruh gadis itu untuk memperkenalkan diri sebelum bisa mengikuti pelajaran alchemy ini. Semua murid memperhatikkan gadis yang tengah tersenyum manis didepan. Hampir semua dari mereka terpaku melihatnya.

“Annyeonghaseyo~ joneun Han Ryumi imnida.” Suaranya yang lembut namun pasti sangat terdengar jelas ditelinga semua orang disini. Gadis bernama Ryumi itu sedikit membungkukkan badan yang membuat beberapa helai rambutnya terjatuh rapi.

“Baiklah Han Ryumi, Welcome to Imparaty! Kau bisa berkenalan dengan yang lainnya setelah jam praktekku selesai.” Ucap Samara lembut.

“Mulai sekarang meja itu akan menjadi milikmu.” Lanjut Samara. Ryumi hanya mengangguk dan ia berjalan kesatu meja kosong yang ditunjuk Samara tadi.

Samara menepuk tangannya sekali sehingga membuyarkan lamunan semua murid yang menatap lekat anak baru itu. Dan kelaspun dimulai setelah Ryumi membereskan semua alat-alat barunya.

 

[…]

 

Dikelas ini juga baru saja kedatangan seorang anak baru. Seorang gadis—lagi. Ia datang dengan sedikit perban yang menyelimuti sebagian lengan kirinya. Semua murid Hit Movie Composer saling berbisik. Mungkin mereka berfikir bagaimana bisa sekolah menerima murid baru dikelasnya dengan keadaan yang seperti itu. Namun disisi lain ,banyak murid pria disini yang mendecak kagum padanya.

“Selamat datang di Imparaty dan selamat datang didunia imajinasi kami.” Ucap Minwoo pada anak baru itu. Semua murid bersorak dan bertepuk tangan sebentar. Ia hanya tersenyum kecil.

Sebenarnya gadis yang bernama Hyime itu tidak begitu perduli dengan tempat baru yang disebut class beserta antek-anteknya. Ia berada disini hanya guna memerankan sebuah penyamaran khusus. Terlebih ia masih belum begitu pulih dari masa escalation-nya.

“Sebagai permulaan ,kau harus membuat satu film pendek bergenre epic.” Minwoo tersenyum tegas padanya. Hyime hanya mengangguk.

Jika boleh jujur. Hyime adalah manusia dengan otak yang luar biasa. Dia bisa mengetahui apa saja dalam memory yang sudah tersimpan. Ia juga dapat bisa mengenal benda baru dengan cepat. Jika hanya membuat sebuah film ,mungkin sudah dapat dipastikan ia sanggup membuatnya.

“Kau mungkin perlu sedikit bantuan.Aku akan meminta murid terbaikku untuk menjadi tutor sementaramu sampai kau berhasil membuat film yang kusuruh ,setuju?” Hyime mengangguk lagi sambil memegang lengan kirinya. Kemudian Minwoo memanggil salah satu muridnya.

“Dia murid terbaikku. Luhan.” Kenal Minwoo.

“Kalau kau memerlukan bantuan dalam hal Movie Maker tanyalah padanya jika kau tidak menemukanku nanti.” Minwoo merangkul Luhan dan menepuk bahunya bangga. Hyime tersenyum lebar dan sedikit membungkuk. Mata Hyime menatap lekat pada pria bertubuh kecil didepannya.

Luhan mencoba bersikap ramah. Ia menjulurkan tangan dengan senyuman khasnya. Murid yang lain mendadak berisik melihat senyuman Luhan yang padahal bukan untuk mereka. Ada juga yang sedari tadi menatap sinis Hyime. Mungkin ia merasa seperti mendapat saingan baru.

“Xi Luhan.”

“Kim Hyime.”

Mereka berdua bersalaman. Cukup lama memang. Dan tiba-tiba jabatan tangan mereka ditepis oleh murid lama bernama Shin Yukyung. Gadis itu menatap sinis Hyime sambil merangkul lengan Luhan. Hyime merasa tak mengerti, ia segera meninggalkan Luhan dan Yukyung dan memilih duduk ditempat yang ditunjuk Minwoo tadi.

Luhan menatap Hyime sebelum melirik sinis kearah Yukyung. Ia melepaskan tangan Yukyung dilengannya dengan kasar lalu pergi menjauhi gadis berparas cantik dan seksi itu. Ini memang sering terjadi.

Shin Yukyung. Seorang anak dari salah satu penyumbang terbesar di Imparaty High School ini sangat amat menyukai Luhan. dan itu terjadi sejak Luhan memasuki sekolah ini dan langsung menjadi murid terbaik dibidang pembuatan film.

 

[…]

 

“Dia salah satu dari delapan anak baru itu.”

“Benarkah?”

“Ne. Kau lihat mereka memiliki kulit yang sedikit aneh.”

“Tapi kuaki anak-anak baru itu memang sangat sempurna.”

Park Michan. Seorang anak baru di Imparaty University. Ia tersenyum mendengar pembicaran orang –orang yang sedang berlalu lalang disebuah taman kampus. Bahkan ia bisa mendengar pembicaran orang yang jaraknya jauh 20 meter darinya.

Gadis yang memakai blazer merah dengan rambut panjang yang dikuncir tinggi mulai melangkahkan kakinya meninggalkan taman. Ia baru saja menyelesaikan kelas bidang Professional Sport tingkat satu.

Michan tersenyum lagi. Ia memutar-mutarkan sebuah racket ditangannya. Berita mengenai delapan anak baru secara bersamaan masuk dalam Imparaty memang sedang gempar-gemparnya disekolah ini. Terlebih Michan dan anak baru lainnya memiliki kulit yang sedikit berbeda.

Ia terus memainkan racket yang baru saja ia dapatkan dari pelati tennis. Ia berjalan menyusuri kantin kampus barunya.

“Kris!!! Krisss!!”

Mata Michan mendelik. Ia melihat segrombolan gadis sedang berteriak histeris diujung kantin. Banyak juga murid-murid berlarian melewatinya dan ikut bergabung dengan mereka. Michan mengangkat bahunya,hanya tinggal ia sendiri yang berada ditengah kantin.

“Hey, sedang apa mereka?” Tanyanya pada petugas kebersihan yang lewat.

“Ah? Kau tidak tau?” Petugas itu malah balik Tanya.  Michan menggeleng. Ahjussi itu menaru sapunya ditepi meja. Dan ia menunjuk seseorang yang berdiri diantara kerumunan murid-murid itu. Michan melihatnya, jelas sekali walaupun pria yang ditunjuk itu lumayan jauh.

“Dia idola disekolah ini,namanya Kris.”

“Dia sangat keren bukan? Aku juga salah satu fansnya. Kau tahu andai saja aku bisa memiliki sapu tangan miliknya ,mungkin saja sedikit ketampanan itu menular padaku.” Jelas ahjussi itu riang. Riang sekali.

Michan menatap diam ahjussi disebelahnya yang sedang cengengesan memperlihatkan mimik muka yang.. entahlah. Teriakkan semakin keras memenuhi kantin ini. Mata Michan beralih pada Pria tinggi yang sedang berlari menghindari sekawanan orang yang dengan brutal mengejarnya dibelakang.

Kris berlari semakin mendekati Michan. Dan tiba-tiba tali tas sport milik Kris putus dan terjatuh didepan Michan. Namun Kris tak kuasa mengambilnya karena yang mengejarnya semakin dekat. Michan hanya diam ditempat melihat itu.

“Kau!” Kris menujuk Michan.

“Tolong selamatkan semua barangku didalam tas ini.” Ucapnya sembari berlari lagi. Meninggalkan Michan yang bingung dibuatnya. Ahjussi itu buru-buru mengambil tas Kris sebelum diperebutkan gadis-gadis dengan garang.

“Kris!!!!” Mereka berlari melewati Michan yang sedang berteriak memanggil petugas itu.

“Ya! Kau! Hey!” Michan berlari mengejar ahjussi yang sedang kabur membawa tas milik Kris.

Michan mengeluarkan sinar laser dari bola matanya. Dan seketika betis ahjussi itu menjadi lemas. Ia terjatuh pelan dengan tas yang masih dipelukannya. Michan membalikkan tubuh si petugas.

“Berikan tas itu.” Ucap Michan lembut. Ahjussi itu menggeleng.

“Berikan tas milik pria tadi.” Ulang Michan. Ia masih ingin bersikap lembut. Namun ahjussi itu makin mengeratkan pelukannya. Michan mengehela nafas dalam-dalam.

“Ahjussi.. give it to me,now!” geram Michan. Matanya sedikit bersinar merah. Ahjussi itu menatapnya takut. Seakan terhipnotis ,ia langsung memberikan tas itu begitu saja pada Michan lalu segera berlari ketakutan. Michan memutar bola matanya.

Ia meneliti tas berwarna hitam putih dipangkuan tangannya kini. Jika ditangan seorang manusia mungkin tas ini akan terasa sangat berat. Tapi tidak untuk Michan. Sesuatu keluar dari jemarinya. Seperti semacam mesin jahit yang sangat kecil. Dan akhirnya ia berhasil membuat tali tas itu tersambung kembali.

 

 

[…]

Pria itu berjalan mengendap kusebuah lorong tua. Lorong yang terletak dibelakang gedung Imparaty  memang sudah tidak terpakai. Terdapat beberapa ruangan disini yang terlihat kusam juga berdebu. Namun tempat itu dimanfaatkan oleh sekumpulan pria bangsa exolation yang termasuk murid Imparaty School.

Pria itu menoleh kesekeliling sekali lagi, upaya memastikan tidak ada orang yang membuntutinya.

Ketika masuk kedalam salah satu ruangan, ia disambut semburan api kecil yang mengenai wajahnya. Ia mengerjapkan matanya berulang guna melihat orang yang sudah melakukan ini.

“Ah, mengapa ilmu ini begitu sulit!” Geram pria dengan kobaran api ditangan. Chanyeol. Ia kembali memainkan apinya kesembarang arah. Mengacuhkan Suho yang sedang mengubah wajahnya menjadi air.

D.O dan Baekhyun terkekeh melihat kejadian tadi. Untungnya Suho, pria dengan senyuman manis ini adalah bangsa exolation yang paling sabar. Kalau tidak mungkin sekolah ini sudah dibanjiri air dari kekuatan miliknya. Sekarang yang bisa dilakukan Suho adalah mengehala nafas dan mencoba relax.

“Kris, apa benar mama mengirim shinex?” Tao mencoba mencairkan suasana. Ia bertanya sambil melakukan pemanasan untuk berlatih wushu nanti. Suho segera bergabung dan duduk disamping Chen juga Xiumin yang sedang melempar-lemparkan bola basket kedinding.

Kris hanya mengangguk dengan wajah khasnya. Ia masih berkeringat akibat kejadian dikantin tadi.

“Mama bilang Cyborg ada dibumi.” Jelas Kris singkat.

Mama. Sebutan untuk Raja mereka di tempat asalnya ,Planet EXO. Dan Shinex adalah sebuah gelombang cahaya yang bisa menyampaikan suatu berita dari sang Raja.

“Jadi berita mama membuat dua cyborg dan mengirim kebumi untuk membantu kita itu benar?”Ucapan Lay membuat suasana kembali serius. Chanyeol  yang sedang mempelajari ilmu barupun langsung terfokus pada pembicaraan ini. Begitupun dengan Xiumin.

Kris berdiri. Ia mengelus lembut seekor naga kecil merah ditelapak tangannya. Dia masih belum menjawab sepatah katapun.

“Dua Cyborg datang membantu dua belas exolation untuk mencari delapan cyborg dibumi. Tsk. Lucu sekali.” Cibir Kai. Semua langsung menatap sosok Kai yang entah sejak kapan sudah berdiri bersender pada dinding. Untung saja mereka sudah terbiasa dengan kekuatan Kai yang suka berteleportasi begitu saja.

Kris memutar badannya. Ia menatap Baekhyun yang seperti sedang berfikir.

“Baekhyun, kau bisa menunjukkannya?” Tanya Kris dengan suara berat yang khas. Baekhyun membuka matanya dan mengangguk pelan. Tak lama sebuah asap hitam keluar dari bawah tanah.

Mereka semua berdiri mengelilingi  asap itu. Ditengah gumpalan asap terdapat sebuah kristal berwarna putih. Baekhyun berkonsentrasi mengeluarkan kekuatannya. Cahaya perlahan muncul dari Kristal itu seiring tangan Baekhyun bergerak dan mengeluarkan sinar dari telapak tangannya.

Terlihat dua wajah manusia diantara cahaya itu. Dan mereka juga terhubung dengan suasana di planet mereka. Ya, mereka sedang menyaksikan Raja memberi perintah dua orang itu untuk segera menemui mereka dan membantunya mencari granuls. Tak salah lagi mereka adalah dua cyborg yang sedang dibicarakan.

Baekhyun menutup Cahayanya dan menenggelamkan Kristal itu lagi kedalam tanah.

Terlihat raut kekesalan dari wajah pria-pria ini. Semua berfikir bahwa Rajanya seperti sudah tidak percaya akan usaha mereka demi menemukan delapan cyborg mivenia dibumi. Seolah mereka merasa kepercayaan yang diberikan Raja pada mereka telah dinodai dan direbut oleh dua manusia robot itu.

“Kita terlihat seperti bangsa exolation yang lemah.” Titah Chen. Xiumin menepuk bahu Chen sekedar menenangkan agar tidak mengeluarkan petirnya. Kebiasaan Chen jika sedang kesal. Sangat berbahaya.

“Beritahu hal ini pada Sehun dan Luhan.” Ucap Kris sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka semua.  Ia kesal dan mencoba untuk tidak melampiaskan kemarahannya pada teman-temannya. Ia takut hal dulu akan terulang kembali.

Suho menggaruk kepalanya. Ia sendiri bingung dengan semua ini.

“Memang kemana mereka berdua?” Tanya Tao pada Kai.

“Sehun dengan elixir-nya, dan Luhan.. entahlah urusan ketua kelas mungkin.”

Tao mengangguk. Dan semua segera pergi dari ruangan ini menuju dunianya masing-masing. Bel pun sudah berbunyi. Artinya kelas kedua akan berlanjut.

 

 

[…]

 

“Kalian tau Alkimia di barat sana yang mempraktikkan secara luas berkaitan dan bertautan erat dengan astrologi bergaya Yunani-Babilonia..”

Samara berjalan pelan mengitari murid-muridnya, memperhatikkan cara mereka memasukkan bahan-bahan guna membuat suatu elixir baru.

“Hwang Minhyuk, kau mau menyihir bubuk hitam ini menjadi apa?”

“Fireworks!” Jawab Minhyuk sekenanya. Sehun tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Samara menggelengkan kepala. Ia menghampiri Minhyuk lalu mencampur bubuk hitam dan beberapa air berwarna dimeja Minhyuk.

“Saya berharap agar Sehun mau membuatkan ramuan ‘Skill Booster’ untukmu.” Ucap samara pada Minhyuk. Ia memasukkan bubuk lada hitam itu dan BOM! seketika air campuran itu meledak membentuk percikan api-api yang cantik.

Samara membentuk sebuah pistol dari jemarinya lalu ditembakan kewajah Minhyuk “Bush!” ia meniup jari telunjuknya meninggalkan Minhyuk yang sedang tertawa malu sambil menggaruk kepalanya. Semua murid mengekori langkah gurunya itu dengan matanya. Terkecuali Ryumi. Ia sedang serius membuat satu eksperimen sebagai karya selamat datang.

Samara beralih kemeja Sehun. Pria itu satu-satunya yang berhasil membuat ‘Monoatomic Gold’ dengan benar. Monoatomic Gold atau Ormus yang diciptakan elixir alkimia oleh World Best Monatomic Manna. Sebuah obat guna mensinkronisasikan hemispheres otak, meningkatkan kemampuan psikis ,dan meciptakan joy serta kesehatan dan umur panjang.

Ya, sekarang pria bernama Oh Sehun itu sudah berhasil membuatnya walaupun belum sesempurna mungkin.

Samara dan beberapa murid mendecak kagun pada Sehun. Lalu Samara beralih melirik Ryumi yang terlihat sangat lihai memasukkan bahan-bahan pada meja elixirnya. Anak baru itu terlihat seperti sudah sangat terbiasa dengan alat-alat alchemy.

“Ryumi, eksperimen apa yang kau buat?” Ucap Samara yang masih berada dimeja Sehun. Semua murid termasuk Sehun menengok kearah Ryumi yang sedang mengaduk air berwarna hitam dibeker [sebuah wadah penampung yang digunakan untuk mengaduk, mencampur, dan memanaskan cairan]

Gadis itu terlihat sangat serius. Namun ia menyadari Samara sudah ada dihadapannya kini. Semua muridpun ramai mengelilingnya. Kecuali Sehun.

“Ini elixirku Mrs.Dawnson.” Ryumi menyodorkan gelas beker itu padanya. Setelah Samara menerimanya ,ia mengendus-endus bau air berwarna itu. Raut wajahnya terlihat terkejut. Murid-murid penasaran eksperimen apa itu.

Samara terlihat bergegas. Dengan cekatan ia megambil suatu sample dilocker lab. Ia mengeluarkan seekor katak yang terlihat lemah karena luka yang terdapat dipunggung kataknya. Semua murid berhambur disekelilingnya. Ryumi hanya diam berdiri ditempat. Dan Sehun, wajahnya datar. Pria itu bersender santai didinding dengan tangan yang dimasukkan kesaku celana seragamnya.

Guru bertubuh seksi itu memasukkan beberapa tetes kedalam mulut katak. Satu dua menit belum ada reaksi apapun. Semua murid tampak bingung. Dan tiba-tiba Sehun mendengar  suara sorak dari teman sekelasnya. Keningnya berkerut. Murid-murid mendecak kagum sambil menatap suatu benda diatas meja.

Sehun tidak bisa melihat apa yang terjadi karena meja itu dtertutup oleh murid.

“Cure Elixir!.” Tegas Samara. Semua orang mengikutinya menghampiri Ryumi.

“Kau sudah membuat Cure Elixir,Ryumi.” Ryumi tersenyum diantara genggaman antusias Samara dibahunya. Semua murid bertepuk tangan. Ini suatu hal yang luar biasa. Sudah lama Sehun ,murid terpintar dibidang ini bereksperimen membuat elixir penyembuh itu. Namun ia belum menemukannya.  Dan hari ini ,dihari pertama Ryumi bersekolah. Ia berhasil merebut impian Sehun.

Seseorang merangkul lengan Sehun dengan manja, membuat mata Sehun melirik tajam keorang itu. Kim Haneul. Gadis itu memang sangat terobsesi sekali dengannya. Bahkan ia hampir gila membuat ramuan ‘Jar of Friendship’ untuk Sehun, namun selalu gagal. Yang ada Sehun malah semakin membenci gadis bertubuh model ini.

“Sepertinya anak baru itu akan menjadi penganggu kita.” Ucap Haneul. Lalu melirik Sehun.

“Eh maskutku akan menjadi penganggumu oppa.” Haneul sedikit merinding dengan tatapan tajam Sehun. Ia sadar akan kata-katanya tadi membuat Sehun tidak suka.  Sehun memutar bola matanya lalu menepis rangkulan Haneul.

Ia berjalan ketempat katak itu. Ya, ternyata benar. Katak yang berada dalam kurungan kaca itu sedang melompat-lompat kesana kemari dengan sehat. Dan luka yang tadi sangat dalam sudah hilang dan tidak membekas. Sehun megambil gelas beker berisi air berwarna. Ia menatap beker itu dan Ryumi bergantian. Tidak percaya dengan semua ini. Sehun merasa sangat penasaran dengan anak baru itu.

Ia menaruh beker itu kasar lalu berjalan keluar dari kelas ini dengan perasaan yang sulit diutarakan.

 

[…]

“Jean!!”

“Oh ,Naya!”

Im Naya. Anak baru yang masuk dalam kelas Jurnalis. Ia berjalan cepat mengampiri temannya didepan gerbang Imparaty School. Kegiatan dan kelas di sekolah besar ini sudah selesai. Semua murid diperbolehkan pulang dan melanjutkannya esok hari. Terkecuali bagi para murid highschool maupun university yang memiliki kegiatan ekstra.

“Jean, kau melihat Lyn dan Gina?”Tanyanya. Jean menggeleng.

Gadis berambut pendek berwarna pirang ini bernama lengkap Jung Jean Ri. Ia juga salah satu anak baru itu. Dan ia murid High School yang masuk dalam bidang Art.

“Bagaimana kelas yang kau dapat?” Jean melambaikan tangannya guna menyetop sebuah bus. Mereka berdua masuk menaiki bus setelah pintunya terbuka. Bus hampir dipenuhi penumpang dan mereka memilih duduk dibagian tengah.

“Aku suka kelas Jurnalis. Dan aku mendapat tugas untuk menginterview seseorang, kau mau?” Naya menoleh sekilas pada Jean sebelum matanya memutuskan untuk melihat pemandangan luar. Jean terkekeh pelan.

“Jadi kau masuk dibidang Art tingkat dua?” Jean mengiyakan pertanyaan Naya.

Jean menatap sekelilingnya. Ia melihat wajah-wajah penumpang bus yang terlihat kelelahan. Matanya mendelik kearah seseorang yang tertidur menutup wajahnya dengan handuk biru kecil. Jean menatap heran. Orang itu memakai seragam yang sama persis dengannya. Seragam murid Art tingkat dua. Namun pria itu memakai sebuah jaket kulit hitam sehingga bordiran namanya tak bisa ia lihat.

Jean kembali menatap lurus kedepan. Sudah hampir setengah jam dua gadis ini dalam perjalanan. Sampai tiba-tiba bus terhenti tepat didepan rumah minimalis. Supir bus beranjak dari tempatnya. Supir itu berjalan melewati Jean. Ia berhenti diorang yang memakai seragam yang sama dengan Jean.

Pria tua itu membangunkannya. Jean melihat pria berseragam sama itu bangun dan menyingkirkan handuk kecil dari wajah kusutnya. Terlihat sekali ia sangat kelelahan.

Jean memincingkan mata ketika sosok pria itu melewatinya. Kini Jean tau siapa dia. Ia ingin memanggil pria itu namun terlambat. Pria itu sudah turun dari bus dan menghilang masuk kedalam rumah minimalis bercat Lilac.

“Maaf anak muda, kulihat seragammu sama dengan Jongin.” Supir bus tiba-tiba berbicara pada Jean. Gadis berambut pirang itu tersenyum kecil mengangguk.

“Jongin melupakan ini ,bisa kauberikan padanya besok?” Jean menerima sebuah handuk biru kecil dari tangan supir tua itu. Kini bus sudah kembali berjalan diatas aspal.

“Kau kenal dengan pemilik handuk ini?” Tanya Naya. Jean hanya bergumam ‘ya’. Ia memperhatikan handuk itu dipangkuannya. Terdapat tulisan tangan ‘KAI’ disisinya. Ya, Kai. Ia adalah teman sekelas Jean. Dan ia murid terbaik dalam hal tari-menari. Jean mengakuinya itu karena ia sudah melihat Kai menari dihari pertamanya tadi.

Tak sadar Jean menyunggingkan bibirnya. Enahlah ia juga merasa aneh. Sejak Kai memberikan satu contoh kertas lagu padanya,Jean merasakan sesuatu aneh dari diri manusianya. Apa mungkin ia menyukai Kai.

Jean menggelengkan kepalanya kencang membuat Naya menatapnya bingung.

‘Aku ini cyborg. Tidak mungkin aku menyukai manusia.’ Ucap jean dalam hati.

Naya membulatkan matanya. Ia sedikit tercekat.

“Oh, ayolah Jean, aku bisa membaca pikiranmu.” Celetuk Naya. Jean hanya tersenyum malu.

 

 

[…]

Michan berdiri kesal ditengah lapangan. Sedari  tadi ia selalu menggerutu pada tas  sport ditangannya.

“Michan!” Panggil Ryumi. Ia berjalan menghampiri Michan. Semua orang yang melihat mereka saling berbisik satu sama lain.

“Kau belum pulang?” Tanya Michan. Ryumi menggeleng lalu melirik tas yang dipegang Michan.

“Aku harus mengembalikan tas ini pada seseorang.” Jelas Michan sendirinya. Ryumi hanya mengangguk saja. Ia sudah tau dari Gina tadi bahwa Michan sedang menunggu seseorang bernama Kris dilapangan.

Michan meminta Ryumi untuk menemaninya. Mereka memutuskan duduk disebuah bangku dipinggir lapangan.

“Kudengar kau berhasil membuat air penyembuh.” Ucap Michan dan diiyakan oleh Ryumi.

“Akan kugunakan untuk luka Hyime.” Ryumi tersenyum singkat padanya. Tak lama Ryumi mendengar obrolan dua orang yang duduk dibelakang mereka. Ryumi tercengang karena namanya disebut-sebut oleh dua orang yang membelakanginya.

“Oppa, kau tidak marah Ryumi merebut elixir yang sudah lama kau rencanakan?” Ucap seorang gadis. Namun Ryumi tidak mendengar adanya jawaban dari orang yang ditanya. Ia melirik sekilas kebelakang dan melihat sosok Sehun tengah membaca sebuah buku.

“Kenapa pria bernama Kris tidak muncul juga!” Michan berbicara sedikit keras. Membuat Sehun dan Haneul sontak menoleh. Ryumi menepuk keningnya. Dan ia sudah tidak melihat adanya Kim Haneul lagi disamping Sehun karena begitu Haneul tau bahwa ada Ryumi dibelakangnya ia langsung pergi begitu saja.

“Sudahlah ,ayo Ryumi kita pulang!” Ajak Michan. Ia membanting tas milik Kris diatas bangku dan menarik paksa Ryumi. Ekor mata Sehun melirik kearah mereka berdua. Pria ini bingung kenapa gadis yang bersama Ryumi itu menyebut nama temannya ,Kris. Apalagi tas itu ada padanya.

Baru saja Sehun hendak ingin berdiri untuk mengambil tas milik Kris itu, tiba-tiba saja Michan kembali lagi. Sehun mengurungkankan niatnya dan ia hampir saja ingin melempar buku itu karena kaget.

Michan menghelas nafas lalu menyeret tas itu dengan malas. Sesungguhnya Michan tidak mengerti mengapa sulit sekali acuh pada tas itu. Karena sejak tadi ia sudah berniat akan membuang atau memberikan tas itu pada orang lain untuk mengembalikannya pada Kris. Namun ia sama sekali tidak bisa melakukannya.

“Aaahhh!”

 

 

[…]

Disuatu pekarangan luas yang jauh dari pemukiman terdapat pantulan sinar biru. Sinar itu membentuk garis lurus menembus awan. Didalam sinar cahaya itu ada dua benda terjatuh bersamaan membentuk gumpalan logam yang dililiti api biru.

‘NNGG BOMB!’

Gumpalan logam itu mendarat keras dipekarangan. Sehingga menimbulkan efek gempa kecil ditanah. Tanah itu sedikit retak dan hampir longsor. Kini gumpalan logam itu besar dan semakin besar. Membentuk rangka seperti manusia.

Secara perlahan kulit layaknya manusia terlihat tumbuh menutupi kedua rangka mansuia itu. Dari rambut ,mata, hidung, mulut dan kuping. Dan transformasi ini diakhiri dengan tumbuhnya jari-jari beserta kuku pada jemari mereka.

“Hmm..  I smell fucking losers!”

“Uuu yeah, Let’s Kick their fucking ass!”

 

 

 

 

 

TBC

 

Kepanjangan? Ceritanya ga seru? Ngebosenin? Mohon dimaafkan ya pemirsa. Sebenarnya ini bukan versi originalnya loh. Aku udah pernah buat yang pertama untuk chapter 1 ,aku publish di wp pribadi tapi menurutku yang versi lama kurang pas sama genre-nya. Ya jadilah versi baru ini^^. If you’ve read ,please comment and like this post. Toodles!

Iklan

32 pemikiran pada “The Cyborgs (Chapter 1)

  1. Bahasanya keren, walaupun sempet agak kurang ngerti dengan kata semacam ‘cyborg’ atau ‘exolation’
    But, that’s cool (setelah berfikir itu seperti suatu golongan)
    I’ll wait for the next~ ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s