Confession Letter

CONFESSION LETTER

 

Author             : Thiscent (@dhisardhisa)

Title                 : Confession Letter

Main Cast        : EXO-K Sehun, Ahn Jun Ra (OC)

Genre              : Romance

Length             : Ficlet

Disclaimer       : Fanfiction ini murni imajinasi author. Mohon kritik dan sarannya ^^

confession letter

—————-

This is confession letter.

But it’s different from love letter.

—————-

Terlihat seorang gadis duduk di pinggir sungai Han. Tangannya bergerak lincah di atas secarik kertas. Matanya terfokus pada tulisannya. Dan telinganya tidak terganggu hiruk pikuk di sekitarnya. Gadis itu adalah Ahn Junra. Seorang siswa tingkat tiga yang sedang menuliskan sebuah pengakuan.

Untuk Oh Sehun

Annyeong~~

Bagaimana kabarmu hari ini Sehun-ah? Semoga kau sehat-sehat saja.

Mungkin kau berpikir aku ini yeoja nekat hingga berani menulis surat untukmu. Dan isi suratku ini mungkin sama sekali tidak berarti.

Kau tahu Sehun-ah? Banyak sekali pertimbanganku untuk menulis surat ini. Melihat dari sifatmu yang pendiam, dingin dan hanya memikirkan urusan sekolah,. Tapi aku tidak ingin menyesal di kemudian hari. Aku hanya ingin mengakui perasaanku. Tidak, kau tidak perlu memberitahuku bagaimana perasaanmu padaku. Cukup kau tahu bagaimana perasaanku.

Aku ingat awal aku mengenalmu adalah dua bulan setelah terdaftar sebagai siswa tingkat pertama di sekolah. Bisa dibilang aku hanya mengetahui sosokmu saat itu. Tanpa aku sadari lambat laun aku semakin tertarik pada sosokmu. Hingga akhirnya aku mengetahui siapa namamu, di mana rumahmu, bahkan aku mengetahui siapa mantan kekasihmu.

Apakah aku berlebihan? Jika jawabanmu iya, aku minta maaf. Aku rasa itu adalah hal wajar yang ingin diketahui yeoja yang sedang jatuh cinta.

Aku ingat saat pertama kali mengajakmu berbicara. Aku sangat gugup saat itu. Suaraku seakan tidak mau keluar. Dan kau? Hanya menunjukkan ekspresi datarmu. Tapi aku lega ternyata kau memperlakukanku dengan ramah.

Di awal tahun ajaran tingkat dua, kita kembali bertemu. Perasaanku saat itu terkejut, senang, dan gugup. Saat kedua mata kita bertemu tubuhku terasa kaku. Kemudian kau tersenyum dan menyapaku,

“Jun Ra-ssi.”

Boom. Jantungku serasa berhenti berdetak. Seluruh sel sarafku seketika mati. Yang pertama terpikirkan olehku adalah darimana kau tahu namaku. Aku hanya memberimu respon bodoh dengan berkata,

“A-an-nyeong.”

Sejak saat itu, intensitas kita bertemu bertambah. Dan peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi di antara kita selalu membuatku bahagia. Mungkin kau hanya menganggapnya seperti sepucuk daun yang terbang terbawa angin. Bagiku, itu semua adalah batang-batang emas yang harus di jaga dengan baik.

Kau ingat bagaimana jahilnya teman-temanmu ketika aku lewat di depan kalian? Mereka selalu berkata aku mencarimu. Ya, mereka tahu bagaimana perasaanku padamu. Membuatku selalu ingin bersembunyi saat itu juga. Terlebih jika aku melihatmu hanya tersenyum ataupun tertawa kecil.

Aku tidak akan mengatakannya secara gamblang. Dari semua peristiwa yang terjadi, aku harap kau menyadari bagaimana isi hatiku yang sesungguhnya.

Sekarang adalah tahun terakhir kita sebagai siswa tingkat tiga. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk kita lalui bersama. Kau semakin fokus pada ujian yang akan datang. Dan mungkin keberadaanku akan tersingkirkan. Tapi asal kau tahu Sehun-ah bahwa aku selalu mendukungmu. Aku harap di masa depan kita bisa bertemu lagi dengan kesuksesan masing-masing.

Terimakasih Sehun-ah karena kau telah mengisi hari-hariku selama ini. Terimakasih karena kau telah menjadi sumber semangatku. Terimakasih atas semua kenangan indah yang kau berikan selama ini. Sehun-ah fighting!!! ^^

 

A.J.R

“Selesai,” ucap Junra sambil tersenyum puas.

Kertas itu ia letakkan di sampingnya bersamaan dengan pulpen yang ia gunakan untuk menulis. Kini ia merogoh tasnya berusaha mencari sesuatu.

Wush.

Junra merasakan angin berhembus. Tapi ia tidak menyadari jika angin telah menggelindingkan pulpennya menjauhi kertas dan menerbangkan kertas itu ke arah barat.

Di sisi lain sungai Han, terlihat seorang pemuda menikmati hembusan angin malam. Pemuda itu memejamkan matanya sampai ia merasakan sesuatu bergerak di kakinya. Hanya secarik kertas. Hal yang selanjutnya terjadi adalah pemuda itu mengambilnya.

“Oh Sehun? Untukku?” tanya pemuda itu pada dirinya sendiri.

Sehun sedikit terkejut mengetahui kertas itu ditujukan untuknya. Semacam surat?

Manik mata Sehun menelusuri tiap kata yang tertera di kertas. Dan sekarang entah disadari atau tidak, sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya.

Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling sungai Han. Senyumnya merekah semakin lebar. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah timur.

“Junra-ssi.”

Gadis yang merasa namanya disebut itu mendongakkan wajahnya. Bingo. Sebuah keberuntungan dapat bertemu Oh Sehun di sungai Han.

“Se-hun-ah.”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku…hanya mencari udara segar. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini Sehun-ah?”

“Sama sepertimu.”

Hening. Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

Junra merasa gugup sekaligus senang. Kekhawatiran juga menyelimutinya. Bagaimana jika Sehun menemukan kertasku yang hilang entah kemana? Ah tidak. Tidak mungkin, batin Junra.

Sehun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Terlihat seperti mempetimbangkan sesuatu.

“Junra-ssi.

Ne?

Sehun masih menggenggam kertas yang ia temukan di dalam saku jaketnya. Dengan satu tangan yang bebas, ia meraih tangan Junra dan menggenggamnya.

“Mulai detik ini, berjalanlah berdampingan denganku.”

Junra tidak menjawab. Hanya bisa memandang Sehun. Tanpa Junra katakan, Sehun tahu jawaban apa yang akan ia dapatkan.

Sehun mengerti bagaimana perasaan Junra. Sehun tidak pula memberitahu Junra tentang perasaanya. Tidak. Bukan tidak akan memberitahu. Hanya saja belum saatnya. Tapi suatu hari nanti Sehun pasti akan memberitahunya. Itulah yang dipikirkan Sehun.

Dari apa yang ia katakan, Sehun juga ingin Junra menyadari bagaimana perasaanya. Cinta yang tulus dapat dirasakan walaupun tanpa kata, kan?

Mungkin di awal cerita mereka ditakdirkan untuk tidak bersama. Tapi setelah menilik lebih dalam bagaimana perasaan mereka masing-masing, apakah salah jika mereka bersama? Tidak terlalu kejamkah membiarkan sepasang anak manusia itu terpisah?

 

THE END

————

Hal-oo chingudeul \^^/

Author lagi nyoba gaya penulisan baru nih.

Ohiya author mau tanya, tolong dijawab ya. Kalo misalnya pengakuan Junra itu enggak kabur kebawa angin, kira-kira tetep Junra kasihin ke Sehun ga? Atau mending disimpen di rumah aja?

Terimakasih untuk jawabannya. Bias bakal jatuh dari atap rumah masing-masing~~

Awalnya sih mau dibikin sad ending, tapi setelah dipikir-pikir selama kita bisa bikin orang lain bahagia kenapa enggak? Toh semua orang pasti juga maunya kisah mereka berakhir bahagia ^^

Mohon kritik dan sarannya chingudeul. Terimakasih sudah membaca~~ ^^

Iklan

38 pemikiran pada “Confession Letter

  1. Aaaaa~ Suratnya bikin senyum-senyum sendiri masa *w* Kisah cintanya bener-bener anak SMA banget gitu,ya ._. wkwk Nice FF! Kebetulan banget ada angin terus suratnya terbang /? dan ternyata yang nemuin /? adalah om Sehun xD ~ /abaikan/ Keep writing thor 😀

  2. jadi pengen nulis surat kan? :3 harus di kasiin dong 🙂
    katanya ada yang bilang obatnya cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah menyatakannya. sapa tau klo dia juga sama kita ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s