Story of Love II ( D.O Part )

Story of Love II ( D.O part )

Author : nisyana novianti

Cast : Do kyungsoo / D.O ‘EXO K’

Choi shin ra

Other cast : Kim Jong In, Park Chanyeol, Kim Junmyeon.

Genre : School life, romance (?) & Friendship

Hai semuanya, kembali dengan saya, author gagal. Membawa sebuah FF lanjutan karna ada beberapa orang yang ingin saya buat part bagian dari peran laki-laki. Ada yang masih ingat dengan FF ‘Story of Love’ yang saya buat? Cerita kisah nyata dengan cast Do Kyungsoo dan Choi Shinra??? Tapi, di cerita sebelumnya itu semua bagian Choi Shinra. Dia yang mengalaminya dan itu REAL KISAH NYATA. Nah, di FF yang ini saya ambil dari sisi Do Kyungsoo aka D.O! Dan saya tegaskan kalau ini HANYA KARANGAN semata. Saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ‘laki-laki’ itu rasakan. Jadi, saya hanya membuat FF ini dengan pikiran saya saja. INGAT!! HANYA KARANGAN!! Semoga semuanya bisa puas deh sama cerita yang saya buat walaupun kalau boleh jujur saya bacanya rada nyesek karna jadi inget masa lalu. Hahaha 😀 #abaikan . ya..pokoknya semoga kalian pada suka dan tetap terhibur dengan ceritanya. Makasih buat para readers yang selalu support saya. GOMAWOYO & HAPPY READING!!

**

*FF STORY OF LOVE [ SHINRA PART ]

http://m.facebook.com/notes/nisyana-novianty/-oneshot-ff-story-of-love/10151161770295130

http://0.facebook.com/notes/nisyana-novianty/-oneshot-ff-story-of-love/10151161770295130

kDlUq

**

Awalnya, dia terlihat biasa di mata ku….

Awalnya, dia bahkan tidak terlihat istimewa..

Itu..awalnya..benar..awal..

Awal dimana aku belum mengenalnya…

Awal dimana mata ku kini tidak bisa lepas dari nya…

Awal dimana senyum ku kini adalah alasan karna senyum nya…

Awal dimana pikiran ku kini di penuhi olehnya…

Ya..awalnya aku tak menyadarinya..

Ya..akhirnya aku menyadarinya…

Bahwa, Dia…adalah ‘awal’ dan ‘akhir’ ku..

**

“Dio..ireona!!!”  ku rasakan tepukan dipunggung ku. Aku mengibaskan tangan nya dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku. Suara decakan terdengar dan pintu tertutup. Aku kembali menutup mataku melanjutkan tidur ku.

Byuurrr…

“Aaaaa!!” basah..tubuhku, kasurku, selimut ku semuanya basah. Aku melirik tajam orang yang menyiram tubuh ku, dia hanya berkacak pinggang sembari memegang ember yang dibawanya.

“Kau susah sekali dibangunkan Do Kyungsoo, cara alternative untuk membangunkan mu ya hanya dengan menyiram mu. Jadi, kau tidak perlu marah dan memelototiku seperti itu. Seharusnya kau berterima kasih.” Ucapnya panjang lebar seperti mengetahui apa yang akan aku ucapkan padanya.

“Tidak perlu menyiram ku seperti itu. Kau lihat hah, semuanya jadi basah!” aku menunjuk seisi kamar ku yang sudah penuh oleh air, ok ini cukup berlebihan. Maksudku, kasurku dan lantai yang basah. Dia melihat tubuhku, kasurku dan lantai. Kemudian mengangguk-ngangguk, aku menatapnya heran.

“Itu….derita mu!” ucapnya sambil berlari dan pergi dari kamar ku.

“Yak!! Kim Jong In!!!!”

**

“DiO~ah, cepat! Kita terlambat!” aku menghela nafas ku keras-keras. Lagi. Kim jong In berteriak semaunya. Aku melangkahkan kaki ku kasar. Ku buka pintu kamar ku, Jong In sudah cemberut disana. Pletak! Aku menjitak kepalanya keras dan berlalu pergi dari hadapannya. Bisa ku dengar dia mengomel tak jelas dibelakang sana.

Kami sampai di halte bus setelah berjalan hampir 10 menit lamanya, hanya berdua dengan Kim Jong In yang tidak berhenti berbicara sepanjang jalan. Dia akan memukul ku kalau tak ku tanggapi, mungkin sudah 6 kali aku di pukulnya. Sepertinya, dari tadi aku terus menyebutkan namanya tanpa memberitahu ‘siapa’ dia. Baiklah, lebih baik ku ceritakan saja.

Kim Jong In. Kai adalah nama panggilannya. Jangan tanyakan pada ku, kenapa bisa nama lengkap dengan nama panggilan begitu jauh berbeda,tanyakan saja pada kedua orang tuanya. Ok! Kita lanjutkan. Kai ini adalah teman ku, kami berteman dari junior school. Selama hampir 3 tahun di junior school kami selalu satu kelas. Sekarang, kami pun sekelas kembali.

Kami sudah kelas 11 di Seoul Art High School. Kai bilang, mungkin kami ‘berjodoh’ karna selama hampir 5 tahun kami satu kelas. Dan tentu saja aku menyetujui ucapannya dengan menjitak kepalanya yang besar. Kami juga satu apartmen, alasan yang tepat adalah menghemat pembayaran apartmen yang bisa di bagi dua dan pembayaran kehidupan lainnya. Rumah kami jauh sekali dari sekolah makanya kami lebih memilih menyewa apartmen.

Kalau boleh aku jujur, Kai adalah sosok teman yang sudah ku anggap sebagai sahabat dan saudara pula. Dia benar, kami ‘berjodoh’ dalam hal pertemanan. Walaupun dia begitu sangat cerewet dan suka seenaknya padaku, tapi bisa ku jamin tak ada sahabat baik seperti nya. Ya..itulah Kim Jong In.

**

Kami telah sampai di sekolah. Seoul Art High School. Hari ini adalah hari penerimaan murid baru di sekolah kami. Berarti aku naik satu tingkat. Seperti yang aku katakan tadi, aku sekarang kelas 11. Aku ditempatkan di kelas 11 C, termasuk kelas yang biasa-biasa saja. Aku melangkah masuk ke dalam kelas baru ku. Bisa ku lihat nampak muka asing dan tak asing bagiku. Aku mengedarkan ke setiap penjuru kelas ini, sudah banyak yang datang dan terlihat sibuk masing-masing. Aku melihat barisan pertama dari sebelah kanan, bangku ke tiga dari depan masih kosong. Aku memilih tempat duduk ku selama 1 tahun ini disana.

“Aku duduk di dekat tembok!” tiba-tiba Kai berteriak sembari mendorong tubuhku sehingga aku sedikit tersungkur kebelakang. Aku mendengus sebal padanya, dia hanya diam dan mengacuhkan ku. Benar-benar menyebalkan! Aku menaruh tas ku diatas meja dan duduk. Kai mengobrol dengan yang lain –teman sekelas kami disaat kelas 1- . Aku kembali mengintari pandanganku menjelajahi ruangan ini. Barisan ku semuanya anak laki-laki, barisan kedua terlihat bercampur oh..tidak! hanya ada satu laki-laki yang duduk dibarisan itu, barisan ketiga dan keempat nampak sama –bercampur laki-laki dan perempuan- .

Tiba-tiba seorang guru masuk ke kelas. Semua anak-anak langsung duduk di bangkunya dan diam. Guru perempuan di hadapan kami nampak tersenyum memperhatikan kami semua.

“Selamat pagi.” Ucapnya memberi sapaan. Kami serempak menjawab sapaannya. Guru itu tersenyum dan mengeluarkan selembar kertas dari beberapa buku yang sempat dipegangnya.

“Baiklah..saya absen dulu. Sesudah absen, kita akan memilih ketua kelas dan wakil kelas. Sebelumnya, saya wali kelas kalian selama satu tahun ke depan nanti. Nama saya Kim Min Sun. Mohon kerja samanya ya..” ujarnya semangat yang membuat kami ikut bersemangat. Setidaknya dia terlihat baik untuk menjadi wali kelas kami.

Kim Songsaenim mulai mengabsen kami. Sesudah itu kami semua memilih ketua kelas dan wakil kelas juga tugas lainnya. Untungnya aku tidak kebagian tugas apapun di kelas ini, aku malas dan sama sekali tidak berminat mengikuti segala hal yang berkaitan dengan tugas di sekolah. Selain menjadi wali kelas kami, ternyata Kim Songsaenim adalah guru ekonomi. Pelajaran pertama pun dimulai, songsaenim hanya mengulang dan menambahkan sedikit pelajaran ekonomi yang sempat kami pelajari di kelas satu.

Tak terasa sudah hampir 2 jam pelajaran ekonomi berlangsung. Kim songsaenim merapikan buku dan mengucapkan sesuatu sebelum akhirnya dia keluar dari kelas. Suasana kembali ramai dan aku sedikit tidak tertarik dengan keadaan ini. Rasanya asing saja, mungkin karna belum terbiasa.

Aku melihat jam tangan ku. Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Istirahat dimulai pukul 12 siang, tapi perutku sudah lapar.

Tentu saja, karna tadi pagi aku tidak sarapan. Tiba-tiba seseorang menyenggol lengan ku cukup keras, tidak perlu menebak siapa orangnya. Orang yang akan melakukan hal semena-mena itu hanya Kai seorang. Aku menoleh padanya, malas. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas nya dan menyodorkan sebuah roti yang masih dibungkus rapi oleh kemasannya. Aku mengangkat alisku heran. Kai nampak mendesah dan kembali menyodorkan roti itu.

“Aku tau kau lapar. Tadi pagi kau belum sempat makan apa-apa kan? Makanya, aku bawakan kau roti. Makanlah, selagi guru belum datang.” Aku mengambil roti dari tangannya. Inilah Kai! Sahabat ku yang perhatian. Aku mulai memakan roti itu sedikit terburu-buru, takut guru masuk ke dalam kelas dan mendapati aku sedang makan, nanti aku bisa dihukum. Kai menyimpan sekotak susu diatas meja dan mendorong nya ke arahku. Aku kembali menatapnya.

“Tenggorokan mu bisa kering.” Ujarnya. Dan aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Kai, kau memang yang terbaik.

**

Badanku rasanya pegal semua setelah tadi baru saja futsal dengan teman-teman sekolah. Aku mengambil segelas air putih dan duduk di ruang tengah untuk menonton tv. Kai baru saja selesai mandi lalu duduk disampingku.

“Sudah satu bulan kita di kelas, kau tidak merasa menyukai seseorang?” Tanya Kai tiba-tiba. Aku yang sedang serius menonton terpaksa menatapnya. Anak ini kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?

“Ada apa? Kenapa kau bertanya seperti itu?” ujarku padanya. Dia menggosok rambutnya yang basah dengan handuk dan melemparnya asal. Aku memukul tangannya pelan untuk mengambil handuk yang tergeletak di lantai dan menyuruhnya untuk menyampirkan handuk itu ditempatnya. Kai merenggut.

“Kau malah membalikan pertanyaan. Jawab saja, biasanya kau paling mudah menyukai seseorang.” Aku melemparnya dengan bantal sofa. Asal saja dia kalau bicara.

“Aku tidak seperti yang kau kira, Jong in!” Kai mencibir ke arahku. Lalu kembali melempar bantal itu padaku.

“Aku pikir kau menyukai murid baru itu.” Aku terbatuk-batuk dengan ucapannya. Kai menepuk punggungku berkali-kali. Astaga! Dia berbicara apalagi ini?

“Kau ini bicara apa sih???”

“Jangan mengelak. Aku ini sahabat mu, aku mengetahui gelagat mu Do Kyungsoo. Kau bahkan selalu terlihat mencuri pandang padanya. Aku tau dia sangat cantik, tapi yang ku dengar dia sudah punya kekasih.” Aku terdiam mendengar ucapan Kai. Dia benar, sebenarnya hampir satu bulan ini aku mengawasi teman sekelas ku. Dia sebenarnya murid baru dikelas. Namanya adalah Lee Hyo Su. Dia sangat cantik, tinggi, rambutnya hitam panjang dan berkilau, badannya kurus seperti model. Yang aku tau dia memang model dan suka ikut fashion show.

Dan seperti yang Kai juga bilang, aku selalu mencoba mencuri pandang. Dia terlihat lain daripada yang lain. Mungkin karna dandanannya yang sangat feminim dan menonjol dibanding yang lain. Dan Kai juga benar, dia sudah punya pacar. Aku tau kabar itu dari teman sebangkunya, dia sangat mencintai kekasihnya itu. Yang ku tau, lelaki beruntung itu sekolah di tempat lain.

Kai kembali menepuk punggungku. Aku melirik nya, dia tersenyum seperti menyemangatiku.

“Wanita itu banyak. Ku dengar adik kelas kita banyak juga yang cantik. Tenang, aku akan pilihkan yang cocok untukmu. Bagaimana??” aku tertawa hambar mendengarnya. Terserah apapun yang akan kau lakukan, aku tau kau pasti akan memberikan yang terbaik bagiku. Aku mengangguk menyetujui usulannya, Kai tertawa dan beranjak dari sofa.

**

Sudah 3 bulan aku di kelas 11 C ini. Aku sudah dekat dengan teman sekelas. Teman-teman sudah tau kalau aku sempat menyukai Hyo Su. Aku sempat marah pada Kai karna ku kira dia yang membocori semuanya. Tapi ternyata bukan, temanku yang lain ada yang mengetahui gelagat ku dan mulai bergosip. Untungnya, Hyo Su terlihat biasa saja. Sekarang, perasaanku padanya pun sudah biasa. Aku baru paham, kalau aku hanya mengagumi kecantikannya saja bukan benar-benar menyukainya .

Kai, benar-benar mengenalkan seorang perempuan padaku. Dia adik kelas bernama Han Minji. Seorang gadis manis dan anak modern dance. Aku tahu bahkan sangat tahu, teman ku di kelas sudah heboh dengan gossip ku dan Minji. Aku sering mengobrol dan mengantarnya pulang. Minji termasuk wanita yang menyenangkan, ceria dan mudah bergaul. Membuat ku sedikit nyaman dengan tingkah lakunya.

5 bulan berlalu begitu saja. Waktu terasa begitu sangat cepat berlalu. Aku mulai nyaman dengan lingkungan kelasku. Bahkan Kai, sudah akrab dengan semua teman di kelas. Tidak ada yang aneh di kelas ini. Hanya saja, secepat waktu berjalan secepat itu pula perasaan ku mendadak berubah. Aku bingung dan kadang merasa diriku seperti orang yang tak waras. Bagaimana bisa aku merasakan hal seperti ini, disaat aku bahkan sedang ‘dekat’ dengan orang lain.

Kai bahkan tidak –belum- mengetahuinya. Hatiku mendadak hangat bila melihat nya. Senyum ku tiba-tiba menguar bila melihat senyumnya. Bukan..dia..bukan Minji. Bukan..dia..juga bukan Hyo Su. Dia..gadis lain, gadis yang bahkan tidak pernah dekat denganku. Tapi entah bagaimana ada suatu yang aneh yang menjalar hati ku. Oh..Tuhan!! kalau boleh aku jujur, mata ku bahkan tak bisa lepas dari nya.

**

Dia…sedang duduk sendiri. Mengobrol bersama teman dekatnya. Entah dorongan dari mana aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Dia tidak menyadari kedatangan ku karna posisinya persis membelakangi ku. Aku bingung, kenapa bisa aku duduk disini. Aku berdehem pelan.

“Shinra..” eish, mulut ku kali ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Shinra mendengar panggilanku, dia berbalik menghadap ku dan terlihat kebingungan. Jelas saja, aku yang tidak dekat dengannya tiba-tiba duduk disampingnya.

“Eum?” jawabnya. Aku melirik kanan dan kiri salah tingkah. Aku harus jawab apa? Aku harus bertindak seperti apa? Diam saja atau mengajaknya berbicara? Tapi, apa yang harus dibicarakan??

“Anni, hanya ingin duduk disini.” Astaga! Jawaban macam apa itu Do Kyungsoo? Shinra menganggukan kepalanya dan kembali memutar badannya membelakangi ku. Aku bisa mendengarnya tertawa bersama dengan yang lain. Kadang aku iri dengan pria bernama Jungmin itu, walau memang sifatnya seperti ‘perempuan’ tapi dia satu-satunya pria yang dekat dengan Shinra.

Oke..mungkin kalian bingung kenapa aku membicarakan Shinra. Dia..gadis yang membuat perasaan ku kalut. Selama hampir 3 minggu ini aku terus memperhatikannya tanpa henti. Awalnya, dia terlihat biasa saja di mataku. Tapi,semakin aku memperhatikannya mata ku bahkan enggan untuk lepas dari nya. Bisa kalian terangkan padaku, perasaan apa ini sebenarnya????

Semenjak kejadian aku memberanikan diri untuk duduk disamping nya. Sekarang, aku sudah tidak malu-malu lagi untuk mencoba mengobrol dengannya dan kadang disaat dia sedang sendirian aku akan duduk disampingnya. Mungkin bisa terdengar seperti pendekatan. Shinra ternyata orang yang benar-benar menyenangkan, pantas saja  hampir seluruh anak di kelas 11 C dekat dengannya. Bahkan Kai pun dekat dengannya. Dia orang yang –mungkin- terlihat seperti susah untuk didekati, tapi ternyata kalau sudah dekat dengannya dia adalah orang yang benar-benar menyenangkan dan membuat siapapun merasa nyaman bila berada disampingnya.

Seperti hari ini, guru bahasa inggris sedang memberi kami sebuah catatan. Sekretaris kelas kami mencatatnya di papan tulis. Aku melihat Gyora –teman sebangku Shinra- duduk di barisan depan. Aku melirik kebelakang, benar saja Shinra duduk sendirian. Merasa ini adalah waktu yang tepat aku membereskan buku ku dan pindah ke bangku Gyora. Shinra nampak terkejut melihat ku. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan menulis catatan. Selalu seperti ini, disaat duduk berdua mulutku seakan terkunci rapat. Tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai sekretaris selesai menulis pun aku tidak bicara dengannya. Untukku bisa duduk dan dekat dengannya pun sudah cukup. Hahaha…DiO, kau memang sudah tidak waras!

**

Aku mendapatkan no ponselnya dari seorang teman, dia Jungmin teman dekatnya Shinra. Awalnya dia menanyakan ‘kenapa’ dan ‘untuk apa’. Aku berdalih kalau ingin menyimpan semua kontak anak-anak 11 C, supaya tak curiga aku juga meminta no ponsel nya dan teman yang lain. Aku tidak mau –belum siap- untuk memberitahunya.

Sekarang aku sedang bersama Kai, Suho dan Chanyeol. Kami sedang berkumpul di rumah Kai –bukan apartmen milik kami berdua- kebetulan ibunya Kai menyuruh nya pulang ke rumah berhubung besok adalah hari minggu dan tidak masuk sekolah. Kai mengajak ku dan yang lain ke rumahnya sekalian menginap.

Aku mengotak-atik ponsel ku ragu. Apa lebih baik aku sms atau tidak? Tapi aku ingin mengobrol dengannya. Ku lihat Kai dan yang lain sedang sibuk bermain game. Baiklah, daripada aku bosan sendiri lebih baik aku mengirim pesan padanya.

Aku mengutuk diriku yang sedikit bodoh. Kenapa pesannya seperti itu?? ‘Hai..sedang apa?’ dasar! Dia kan tidak tau nomor ku. Tak lama ponsel ku bergetar, aku menekan ‘open’ dan terbukalah balasannya.

From : Shinra ^^

Maaf, siapa ini?

Itulah balasan pertama darinya. Singkat. Aku mengetik balasan ku untuknya. Tak lama setelahnya balasan pun datang.

From : Shinra ^^

Iya, ini Shinra. Ngomong-ngomong kau tau darimana no ku?

Aku tersenyum membaca balasannya. Sepertinya dia tidak akan menyangka kalau aku akan mengirimnya pesan. Selang hanya beberapa menit kami sama-sama mengirim pesan, Kai tiba-tiba duduk di sebelahku yang membuat ku mau tak mau menghentikan aktifitasku. Dia nampak mengerutkan keningnya dan menatap ku curiga.

“Kau sedang mengirim pesan dengan siapa?” tanyanya sambil melirik ponsel yang ku genggam.

“Eh? Ah..tidak dengan siapa-siapa.” Jawabku tenang berusaha tidak terdengar gugup. Kai menyipitkan matanya seolah tidak percaya dengan yang ku katakan. Chanyeol dan Suho pamit keluar sebentar, katanya ingin membeli makanan di supermarket. Kini hanya ada aku dan Kai di kamar. Aku sudah tau, dia pasti akan terus bertanya sampai aku mau mengakui semuanya.

“Kau pikir aku bodoh!” gertaknya sambil melipat tangannya didada.

“Kau tersenyum sendiri sambil melihat ponsel mu. Aku pikir kau sudah gila tersenyum sendiri, tapi setelah mendengar nada ponsel mu berbunyi tiap menit aku berpikir kembali kalau kau tersenyum karna sedang mengirim pesan dengan seorang perempuan. Kau masih mau mengelak, heh??” lanjutnya panjang lebar. Ternyata sedari tadi dia memperhatikan ku bahkan mengetahui gelagat ku, tapi aku tak sadar kalau aku tersenyum saat sms-an dengan Shinra. Aku berdehem mengatur nafasku. Sekuat apapun aku mengelak, toh akhirnya Kai pun akan tau. Lebih baik dan lebih cepat pula aku memberitahu Kai yang sebenarnya.

“Ya, aku memang sedang sms-an dengan perempuan.” Kai memukul tanganku cukup keras.

“Aish~ benar kan!Dengan Minji?” aku menggeleng.

“Eh? Kalau bukan dengan Minji, lalu??” aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Darimana aku harus memulai? Kai pasti akan terkejut mendengarnya.

“Shinra.” Jawabku pelan. Tapi masih bisa terdengar oleh Kai, buktinya dia terkejut mendengar jawabanku.

“MWO?? Shinra?? Choi Shinra teman sekelas kita, maksudmu??” aku mengangguk membenarkan pertanyaannya. Kai memegang pundakku keras, bisa ku lihat matanya membesar. Dia benar-benar terkejut, seperti yang bisa ku prediksikan. Kai melepaskan bahu ku dan berdiri kemudian dia tertawa. Aku mengangkat alisku heran, laki-laki dihadapan ku ini kenapa?

“Ada apa?” tanyaku. Kai masih tertawa bahkan tawanya semakin keras. Dasar orang aneh!!

“Sudah bisa ku tebak!” ucapnya yang membuat ku tak mengerti. Dia bicara apa?

“Maksudmu?”

“Kau menyukai Shinra, kan?” aku membulatkan mata ku tak percaya. Anak ini bisa dengan mudah nya menyimpulkan sesuatu.

“Aku hanya mengirimnya pesan lagipu-“

“Mengirim pesan sambil tersenyum, mencuri pandang saat dikelas, tersenyum saat dia tersenyum, duduk disampingnya saat dia sendiri, kau disuapi saat dia membawa cake, ikut tertawa saat dia tertawa dengan yang lain, meminta no ponselnya pada Jungmin dengan alasan menyimpan semua kontak teman sekelas. Aigo~ah Do kyungsoo..kau pikir aku tak tau semuanya, hah??” aku tertohok mendengar ucapan Kai. Bagaimana bisa dia mengetahui semuanya? Padahal aku sudah menyembunyikan semuanya dengan rapi.

“Ku pikir aku sahabatmu, ternyata yang begini pun kau bahkan tak mau bercerita padaku.” Ada nada kesedihan dari ucapan Kai. Aku merasa bersalah padanya. Aku berdiri dan menghampiri Kai. Aku merangkul pundaknya.

“Mianhae Kai~ah, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, aku belum terlalu yakin.” Kai menganggukan kepalanya pelan seperti mengerti. Kai menatap ku dan tersenyum.

“Mau kau ceritakan padaku semuanya??” ujarnya yang membuat ku mau tak mau mengangguk menyetujuinya. Kai merangkul pundakku kembali dan mengajakku duduk.

“Kenapa kau bisa menyukainya??”

**

10 bulan telah berlalu. Sudah masa-masa terakhir aku ada di kelas ini. Rasanya begitu menyedihkan, aku merasa begitu amat nyaman berada di kelas ini, terlebih lagi ada ‘dia’ yang membuat hari ku menjadi terasa lebih indah.

Istirahat kali ini aku hanya diam di kelas. Aku malas untuk pergi ke kantin. Aku mengedarkan pandanganku, Shinra tidak ada dikelas berarti dia sedang pergi ke kantin. Tak lama dia masuk ke kelas. Ada yang aneh pada nya, raut wajahnya begitu tidak bersemangat dan terkesan sedang sedih. Aku menatapnya yang sedang berjalan menuju bangkunya. Dia menoleh..menatap ku. Aku sedikit terkesiap, lalu aku tersenyum padanya. Dia diam lalu membalas senyumanku. Deg! Jantungku berdetak dengan cepat. Selalu seperti ini kalau dia tersenyum kepadaku. Dia berjalan kembali kemudian duduk dan bergabung dengan temannya. Sebenarnya ada apa dengannya??

Setelah kejadian Shinra tempo hari, masuk ke kelas dengan raut wajah yang sulit dipahami. Semuanya terasa berubah begitu saja. Shinra seakan menghindariku. Kami bahkan sudah tidak mengirim pesan lagi seperti dulu. Aku bisa saja mengajaknya berbicara dan mengirimnya pesan terlebih dahulu. Hanya saja, aku merasa seperti ada dinding yang menghalangi aku dengan Shinra. Dinding itu Shinra yang membuatnya dan sulit untuk aku menerobosnya. Mungkin, Shinra tak menyukai ku seperti yang aku pikirkan. Kalau sudah begitu aku bisa apa?

1 tahun sudah dan sekarang aku sudah pindah kelas. Aku di kelas 12 C sedangkan Kai di kelas 12 D, kali ini aku tak ‘berjodoh’ dengannya. Shinra satu kelas dengan Kai, kadang aku takut kalau-kalau Kai dan Shinra akan suka satu sama lain. Mereka terlihat begitu dekat dan aku tidak suka mengetahui keadaan itu. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau perasaan ini masih begitu lekat di hatiku. Aku masih menyukainya, tidak…aku bahkan mencintainya. Aku masih mencintai Choi Shinra seperti dulu.

Dengan berbagai alasan, kadang aku suka berpura-pura meminjam catatan pada Shinra. Padahal ada Kai yang –satu apartemen denganku- bisa aku pinjami catatan tanpa perlu meminjam padanya. Tapi, kalau tidak seperti itu aku tidak bisa mengobrol dengannya. Kai selalu bercerita bagaimana Shinra di kelas, dia bilang Shinra tidak seperti dulu mungkin karna Jungmin dan teman dekatnya sudah tidak lagi sekelas dengannya, hanya Gyora yang sekelas dengannya. Aku iri pada Kai, dia bisa berkomunikasi dengan Shinra begitu mudahnya tanpa perlu tahu apa itu ‘malu’ dan ‘canggung’. Dia bisa melihat senyumnya setiap detik, masih bisa mendengar tawanya. Sedangkan aku? Walaupun kelas kami bersebelahan, aku bisa melihatnya hanya disaat pelajaran kosong, istirahat dan saat pulang. Tapi, itu semua rasanya percuma. Aku tidak bisa menatapnya seperti dulu. ‘Dinding’ itu masih tetap ada dan entah kapan ‘hancurnya’.

Kai, termasuk orang yang selalu memberitahu ku keadaan Shinra. Dia masih menggoda ku seperti dulu. Aku kembali teringat kata-kata Kai waktu itu.

“Aku tidak tau kenapa, tapi rasanya kau dan Shinra terlihat ‘menjauh’.” Ucapnya di saat kami sedang menonton tv.

“Kau berpikir seperti itu?” tanyaku. Dia mengangguk cepat seolah yakin. Aku menarik nafasku pelan.

“Kalau begitu, pikiran mu benar.”

“Ada apa dengan kalian?” dia kembali bertanya. Ada rasa penasaran dari suaranya. Aku mengangkat bahuku.

“Aku juga tidak tahu. Hanya saja, aku merasa dia sedang menghindariku.” Kai terdiam dan menepuk pundakku. Aku meliriknya.

“Boleh aku berkata sesuatu? Tapi aku tidak yakin sih.” Aku mengangkat alis ku, heran. Ada apa?

“Aku tidak tau ini benar atau tidak. Tapi, setelah kabar ‘itu’ Shinra memang terlihat menjauh dan menghindarimu.” Katanya tidak jelas. Kabar ‘itu’? aku tidak mengerti. Kai seakan tau kalau aku tidak begitu paham dengan ucapannya. Kemudian dia kembali melanjutkan..

“Aku tidak sengaja dengar percakapannya dengan Hyeri –teman satu kelas kami dikelas 11-. Hyeri bilang, Shinra itu mirip dengan Minji. Hyeri juga bilang kalau kau menyukai Shinra hanya karna dia mirip dengan Minji. Ini rasanya memang sulit untuk dipercaya, tapi kalau aku lihat mereka berdua itu memang mirip. Aku sudah bilang padamu sebelumnya bukan? Tapi, kau bilang kau menyukai Shinra bukan karna mirip dengannya. Aku sih percaya saja.” Ungkapnya memulai berbicara.

“Tapi,setelah gossip kalian berdua heboh di kelas. Tiba-tiba saja ada gossip yang kembali menyatakan bahwa kau memang menyukai Shinra karna mirip dengan Minji. Dan itu kembali membuat aku bingung. Sebenarnya mana yang benar? Kau tetap bilang kalau kau menyukai Shinra bukan karna mirip dengan siapapun, tapi kau masih berhubungan dengan Minji sampai sekarang bahkan terlihat lebih dekat dari sebelumnya.” Aku menarik nafas. Aku terkejut mendegar apa yang Kai ucapkan. Bagaimana bisa gossip seperti itu muncul.

“ Aku tidak yakin, tapi setelah mendengar gossip itu Shinra seakan menjauh darimu. Dia seolah membuat ‘dinding’ untukmu. Seolah sedang mengatakan ‘kalau kau main-main denganku lebih baik kau pergi’.  Aku harap, kau sebagai laki-laki memiliki keputusan yang tepat dan tegas. Kalau kau lebih menyukai Minji, lebih baik lupakan Shinra dan mulai menjalin hubungan dengan Minji. Tapi, kalau kau menyukai Shinra, kau hancurkan ‘dinding’ yang Shinra buat dan yakinkan hati Shinra lalu mulai jauhi Minji. Mengertilah DiO, wanita itu paling mudah terbawa gossip . Kalau kau seperti ini mereka pun akan pergi. Aku harap kau bisa memikirkannya dengan baik.” Lanjutnya sambil mengakhiri cerita. Aku diam entah harus menjawab apa. Benarkah Shinra menjauh dariku karna ucapan Hyeri dan gossip itu?

**

Pelajaran olahraga sedang berlangsung. Aku sedang meregangkan tubuhku bersama dengan Chanyeol di lapangan. Temanku yang lain terlihat melakukan hal yang sama, ada juga yang sedang mengobrol dan bercanda. Guru olahraga sedang ke kantor mengambil absen. Aktifitasku terhenti begitu saja, aku melihat nya. Dia baru saja keluar dari kelasnya bersama Gyora dan Kai. Ada perasaan aneh dalam diriku saat melihat mereka tertawa bersama. Aku menepis prasangka buruk itu. Kai, menyadari aku sedang melihatnya. Dia melambaikan tangannya dan tersenyum ceria. Aku tertawa dan membalas melambaikan tangan padanya.

Saat itu, dia menatap ku. Aku hanya bisa diam tak bergeming. Seperti ada sengatan listrik yang menjalar tubuhku. Mata kami bertemu. Kemudian dia tersenyum dan berlalu dari hadapanku. Rasanya aku ingin pingsan, kepalaku terasa berdenyut-denyut dan jantungku berontak ingin keluar, perutku mulas seperti ada kupu-kupu yang bertebangan. Tapi, rasa sakit itu terasa menyenangkan bagiku. Sudah lama rasanya Shinra tak tersenyum padaku. Semangat ku rasanya tiba-tiba bisa terkendali, seperti batre yang baru saja di carge dan terisi penuh.

Aku tidak bisa berkonsentrasi mengikuti arahan Park songsaenim. Jelas saja, Shinra sedang berada di luar kelasnya dan menatap ke lapangan tempat kelasku berolahraga. Aku malu, entah kenapa. Rasanya Shinra memperhatikan ku dari sana. Kelasnya sedang tidak ada guru dan mungkin dia merasa bosan dan memilih untuk duduk didepan kelasnya bersama yang lain.

Aku duduk di pinggir lapangan. Rasanya pelajaran olahraga hari ini terasa begitu menyenangkan dan tidak terasa lelah.

Aku mencuri pandang, melihatnya sedang menyenderkan kepalanya pada Gyora dan bercanda dengan yang lain. Dia tertawa sembari bertepuk tangan, itu kebiasaannya kalau sedang tertawa terbahak-bahak. Lucu! Mulutku membentuk lengkungan melihat dia terlihat sangat bahagia dan ceria seperti dulu. Aku rindu masa-masa seperti ini, melihatnya dalam jarak yang sangat dekat dan lama seperti ini. Senyuman ku menghilang saat melihat Kai tiba-tiba menghampirinya dan mengacak-acak rambutnya seperti gemas dan Shinra cemberut dibuatnya. Kai tertawa dan membenarkan rambut Shinra yang berantakan karna ulahnya. Dadaku naik turun, hatiku terasa panas menyaksikan tingkah mereka yang terlihat seperti orang berpacaran. Aku menggelengkan kepalaku keras, mengusir pikiran buruk yang bersarang dibenakku. Kemudian aku melangkah masuk ke kelas.

Setelah kejadian itu –Kai dan Shinra didepan kelas-, aku sudah berhenti meminjam catatan pada Shinra. Ada rasa cemburu yang berlebihan bila hanya melihat wajahnya. Kalau aku melihat Shinra, entah kenapa wajah Kai pun ikut terlihat. Dan itu sukses membuat aku marah dan tidak terima. Aku yang mencintainya, tapi kenapa harus orang lain yang berada di sampingnya??

Sudah 1 tahun aku dikelas 12 C ini. Hari-hari terakhir aku berada di sekolah ini. 3 tahun sudah aku menjadi murid Seoul Art High School. Aku akan meninggalkan sekolah ini dan meninggalkan segala kenangan indah saat disekolah. Kenangan, bila mengingat kenangan ada banyak kenangan yang terjadi selama disekolah. Bagaimana saat aku dikelas satu, dikelas dua dan kelas tiga. Saat aku menyukai Hyo Su dan Minji. Saat hatiku berkata lain bahwa ternyata yang aku sukai bukanlah kedua gadis itu, melainkan gadis lain di kelasku. Dia..Choi Shinra.

Aku ingin jujur pada kalian, sampai detik ini perasaan ku tidak pernah berubah. Walaupun aku begitu kesal melihat kedekatannya bersama sahabatku Kai, tapi perasaan itu tetap ada dan bahkan tidak mau hilang. Aku bingung, apa yang sudah dia lakukan padaku sampai aku bisa tergila-gila padanya. Otak ku bahkan seperti terkontaminasi olehnya. Pikiranku bahkan dipenuhi olehnya. Tawaku bahwa karna melihat tawanya. Senyuman ku bahkan karna dirinya. Mataku bahkan tak bisa lepas darinya. Hatiku terkunci rapat untuk yang lain karna ada dia ‘didalamnya’. Dia..apapun yang ku inginkan dalam pikiran, senyuman dan hatiku. Karna, alasan yang tepat adalah aku mencintainya. Dan mungkin aku akan terus mencintainya entah sampai kapan.

**

Aku dan Chanyeol selesai mengambil ijazah dari ruang guru dan berniat kembali ke kelas. Hari ini adalah hari terakhir ku berada di sekolah ini. Ujian sudah berakhir 2 minggu yang lalu. Dan sekarang semua murid kelas tiga sedang mengambil ijazah pada gurunya masing-masing. Aku tidak melihat Kai daritadi, dia mungkin sedang berkumpul bersama teman sekelasnya. Aku tidak berniat mengganggunya dan memilih berkumpul dengan teman sekelasku.

Chanyeol tidak berhenti bermain gitar bersama yang lain. Dia memang ahli dalam soal musik. Teman sekelas menyanyi diiringi gitar olehnya. Ada perasaan haru dan sedih mengingat entah kapan lagi kami bisa bersama seperti ini. Aku mengeluarkan ponsel ku hendak mengirim pesan pada Kai.

To : Kkamjong

Kau dimana?

Tidak lama dia pun membalas pesan ku.

From : Kkamjong

Di kantin. Kemari lah.

Aku menutup flat ponselku dan mengambil tas. Chanyeol menatapku seakan bertanya ‘kau mau kemana’ . Aku menunjuk pintu keluar dan berjalan. Chanyeol menghentikan permainan gitarnya dan memberinya pada yang lain. Aku pamit pada yang lain dan berjalan keluar kelas dengan Chanyeol yang mengikutiku di belakang.

Langkahku terhenti. Chanyeol menubruk punggungku cukup keras.

“Aish~kalau berhenti bilang-bilang!” ujarnya protes. Aku tidak menghiraukannya dan memilih untuk focus ke depan. Mataku begitu jeli kalau melihat sosok yang tak asing ini. Dia..Shinra sedang berjalan membelakangiku bersama dengan Gyora. Aku bisa melihatnya sedang mengobrol. Entah dorongan darimana aku pun memanggilnya.

“Shinra!!” langkahnya terhenti. Dia menoleh ke belakang dengan pelan seakan ragu. Aku menatapnya dalam diam. Sosok yang ku rindukan selama ini. Jarak ku dengannya lumayan jauh. Tapi, aku yakin dia masih bisa mendengar suaraku dengan jelas. Ada dorongan dalam hati dan pikiranku. Mereka seakan sedang berkerja sama untuk membuat ku menyatakan sesuatu. Aku bingung dan ragu. Kalau pun aku mengatakannya ini pasti sudah terlambat tapi, hatiku seakan mengatakan bahwa aku harus mencobanya. Aku diam tak bergeming masih tetap menatapnya. Keningnya mengerut pertanda bingung dengan kelakuanku.

Lama-lama dia terlihat kesal karna aku hanya diam dan tak berbicara apapun. Sampai akhirnya aku mengucapkan kata-kata yang selama ini aku pendam..

“I LOVE YOU…” tenggorokan ku rasanya kering. Keringatku meluncur dengan deras disekitar pelipisku. Tangan ku terasa dingin. Aku melihat matanya membulat, terkejut dengan ucapanku. Aku tahu..bahkan sangat tahu…dia pasti berpikir kalau aku sudah gila. Benar..aku memang gila. Aku gila karna nya.

Tidak ada balasan apapun darinya. Aku diam, dia pun diam. Jantungku berdegup kencang. Tegang apa yang akan dia ucapkan setelahnya. Akhirnya..dia hanya menatapku sebentar. Lalu tersenyum –seperti biasa,selalu sukses membuat jantungku meronta ingin keluar, sukses membuat perutku mulas-. Dia..tidak berbicara apa-apa membuat ku ingin berlari memeluknya dan mengatakan ‘maaf’ padanya. Tetapi, detik berikutnya dia berbalik, menyeret kakinya melangkah menjauh dariku..

Tuhan….cintaku tak terbalas…

**

“Mau kau ceritakan padaku semuanya??” ujarnya yang membuat ku mau tak mau mengangguk menyetujuinya. Kai merangkul pundakku kembali dan mengajakku duduk.

“Kenapa kau bisa menyukainya??” aku menatap kosong kedepan, mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Kai.

“Apa karna dia mirip dengan Minji?” aku menggelengkan kepala ku keras, aku tidak tau kenapa reaksiku seperti itu, ada sesuatu yang membuat ku berontak dan marah saat mendengarnya.

“Lalu?” aku menarik nafas pelan.

“Hanya saja….dia….satu-satunya alasan ku menjalani hariku.”

**

THE END..

SELESAI!! Hiks… kalian membuatku kembali mengenang masa-masa indah saat sekolah dulu dan mengenang bagaimana rasa sakit hatinya. Hahahaha 😀 ok! Bagaimana? Sudah pada puaskah?? Atau kalian malah ga pada suka? Maafkan saya, saya masih banyak kekurangannya. Dan maaf bila banyak typo yang bertebaran. Maklum masih belajar nulis. Saya pacar D.O merasa sedikit nyesel kenapa harus pake cast D.o dicerita ini? Atau mungkin karna huruf depannya sama? #skip! Saya ga bisa tulis apa-apa lagi, tapi semoga readers senang dengan tulisan saya. Thanks buat RCL-nya =] WE ARE ONE!!!

Iklan

15 pemikiran pada “Story of Love II ( D.O Part )

  1. yahh… gantung bgt endingnya!!! sequel dong thor!!!!! aku suka bgt sama ffnya author! autor bilang ff ini banyak typo?! setau aku ini ff terapih yg pernah aku baca! hampis gk ada typo sama sekali! good job thor!! oh ya sequelnya jangan lupa ya thor!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s