Hyung

hyung

Author : raynafishy

Title : Hyung

Genre : Romance

Characters  : Amber, Suho, Kris, Sehun, Kai.

Length : oneshot

A/N: Maaf ya kalo gj._.v Makasih yang udah mau baca 🙂

 

Hyung.

“Hyung,”

“Berhenti memanggilku hyung. Bagaimana kalau orang lain yang dengar?” tanya Suho dengan alisnya yang saling bertaut.

“Okay, hyung-” Suho berdecak kesal, “-aku mau pinjam pakaian darimu, seperti biasa.” Amber menunjukkan deretan giginya yang rapih pada oppa-nya tersebut.

“Ambil sendiri.” Suho tidak repot-repot untuk menghadapkan wajahnya pada Amber, dongsaengnya yang selalu bergaya istimewa itu.

Amber berlari kecil riang menuju lemari besar yang tersimpan di sudut kamar Suho dengan gaya yang tidak biasa: mengibas-ngibaskan rambut pendeknya sambil menggumamkan lagu Barney yang Ia pun entah darimana dapat mengetahui lagu itu. Mungkin adiknya, Sehun, yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak terlalu sering menonton tv.

Ia menarik laci yang paling bawah, kemudian mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Thanks, hyung.”

Suho bergumam sebagai jawabannya. Matanya masih fokus pada kertas-kertas soal yang sedang Ia kerjakan, hingga kemudian Ia membelalakkan matanya ketika melihat Amber.

“Y-ya! Jadi selama ini-”

Amber menoleh pada Suho.

“Apa, hyung? Selama ini?”

“Ya Tuhan…”

“Tuhan? Ada apa dengan Tuhan?”

“Bo-xer-nya.” ucap Suho dengan menekankan nada bicaranya pada setiap suku kata.

“Oh, ini? Sudah aku bilang kan, aku meminjamnya. Kenapa, hyung? Mau pakai yang ini sekarang ya?” tanya Amber dengan ekspresi tanpa dosanya.

Selanjutnya yang terjadi ialah perang dunia ke tiga di dalam sebuah rumah di kawasan elit yang tadinya damai.

Amber berlari menuruni tangga tergesa-gesa dengan rambutnya yang tidak tertata rapih.

“Amber.” ucap Ibunya sambil membuatkan sarapan untuk adik satu-satunya, Sehun.

“Hhh… Ya?” jawab Amber dengan napas yang tersengal.

“Hari ini, kamu jemput Sehun di sekolahan ya?”

Amber meneguk paksa susu coklat yang baru masuk ke dalam mulutnya, “Eh?! Tidak mau!”

“Kalau kamu menjemput Sehun, kamu boleh memakai celana jeans ketika nanti pergi ke rumah nenek.” bujuk Ibunya.

“Tetap tidak.” Amber mengunyah kasar roti yang ada di dalam mulutnya. Terlihat Suho sedang menahan tawa melihat adik perempuannya berusaha menolak perintah dari Ibunya.

“Drum milikmu disita selama tiga bulan.” Ibunya mengancam Amber.

“Ah kenapa harus aku?! Kenapa bukan Suho hyung?!” Amber membanting keras meja makan yang ada di hadapannya, membuat Ia mendapatkan tatapan tajam dari Ayahnya. “Mian,” Amber menundukkan kepala sambil membenarkan posisi duduknya.

“Universitas itu jadwalnya padat, cantik.” ucap Suho dengan nada yang membuat Amber ingin muntah.

“Tidak adil.” dicubitnya keras lengan Suho oleh Amber.

“Aw! Umma, lihat kan anakmu yang satu ini bermain kekerasan.” dengan nada manja, Suho mengadu pada Ibunya.

Amber pun berusaha membela dirinya “Itu semua juga kan aku dapat dari-”

“Ya! Ya!”

Perdebatan Suho dan Amber terhenti oleh teriakan Ibunya yang kencang.

“Bisa tidak rumah ini tenang untuk sehari? Lihat adikmu, dia tidak pernah bermasalah.” Ibu mereka menunjuk Sehun, yang ditunjuk pun menyeringai penuh arti, tidak lupa memasang tampang polosnya.

Amber dan Suho membuka mulutnya lebar-lebar, tidak percaya pada apa yang baru Ibunya katakan.

Sehun? Adik mereka yang lebih kejam dari monster apa pun di muka bumi ini. Dianggap tidak pernah bermasalah? Cih.

“Amber hyung, ambilkan remote tv!” Sehun menendang pundak Amber yang duduk di lantai sambil menonton tv karena sofa yang tersedia di ruang tv sudah ditempati oleh Sehun. Adiknya itu tidak menyisakan tempat untuk Amber sedikit pun.

“Jangan menendang!” Amber melempar bantal yang tadinya Ia peluk ke arah Sehun cukup keras.

“Jangan melempar!” Sehun tidak mau kalah. Ia berdiri di atas sofa, kemudian menjambak rambut Amber hingga noona-nya tersebut terjatuh. Amber terus berusaha untuk melepaskan Sehun dari tubuhnya.

Terdengar suara orang menuruni tangga, kemudian berjalan mendekati Amber dan Sehun.

“Ya! Berisik!” seru Suho berusaha menghentikan pertengkaran diantara kedua adik bodohnya.

Untuk beberapa detik pertengkaran tersebut terhenti, tapi suasana menjadi lebih tegang karena kini perhatian Sehun teralihkan.

“Oh! Suho hyung…”

Suho menelan ludahnya paksa.

“N-ne, Sehunie?”

“Hari ini belum ada jambak rambut untukmu, hyung.” Sehun menyeringai.

Berkali-kali Suho mengedipkan matanya sebelum akhirnya berlari seperti sedang dikejar oleh maniak.

Tiada hari tanpa teriakan dari Amber dan Suho yang mengeluh karena rambutnya semakin rontok.

“Jadi, Amber. Tidak ada mobil hari ini untukmu.”

“Eh?! Tapi-”

“Sudah jam delapan, aku pergi dulu.” ucap Suho tiba-tiba.

“Hyung! Aku ikut pakai mobilmu ya?” Amber berusaha menahan kakak laki-lakinya yang hendak meninggalkan rumah.

Terlihat Suho menghadapkan wajahnya dan tersenyum manis pada Amber, kemudian senyum itu hilang dalam sekejap, “Tidak.”

“Ah, Oppa~ Aing~” aegyo yang gagal telah dilakukan oleh Amber dengan susah payah,

kemudian hening…

Suho yang sudah ada di dalam mobil miliknya pun tak repot-repot menanggapi teriakan histeris Amber dari dalam rumah: masih berusaha meminta untuk diantarkan ke sekolah oleh Suho.

“Tidak mungkin. Mustahil. Keajaiban dunia!” seru Baekhyun ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

“Wae wae wae?!” Amber berteriak tepat ke wajah Baekhyun dengan penuh emosi.

“Mustahil kamu memakai-”

“Tidak usah dibahas, okay?” Amber memarkirkan dan memasang rantai pada sepedanya.

“Pink? Sejak… Kapan? Pink? Mustahil.” Baekhyun mengguncangkan tubuh Amber keras, masih tidak percaya pada pemandangan yang ada di hadapannya sekarang ini. Seorang Amber yang sangat menyukai warna gelap kini memakai sepeda merah muda ke sekolah.

“Sudahlah, jangan terus membahas penderitaanku. Ah, ditambah aku harus menjemput si monster pulang sekolah.”

“Monster?”

“Sehun.”

“Oh… Eh! Lihat itu, pangeranmu.” ditunjuknya salah satu murid bertubuh tinggi dan berkarisma itu oleh Baekhyun sambil melompat kegirangan.

Amber memasang ekspresi datarnya, “Oh.”

‘YA TUHAN, LIHAT PRIA TAMPAN ITU KYAAAA’ dalam hati Amber berteriak kencang.

“Lalu?” lanjut Amber sambil menaikkan satu alisnya. Seolah tidak acuh. Padahal jantungnya berdegup kencang ketika melihat si murid tampan itu: Kris Wu.

“Kamu tidak terpesona? Dia tampan, dan sangat tampan untuk ukuran pria.”

“Ti…dak?” Amber malah balik bertanya, membuat Baekhyun memicingkan kedua matanya.

“Kamu… masih menyukai pria kan?” Baekhyun menyentuh pipi Amber dengan hati-hati, yang disentuh pun malah menjitak Baekhyun,

“Tentu saja, pabo.”

“Kalau begitu buktikan.” Baekhyun menyeringai pada Amber.

Amber menelan ludahnya karena jadi merasa gugup, “Buktikan apa?”

“Bahwa kamu normal.”

Untuk beberapa saat keheningan hadir diantara mereka, “…Okay. Dengan cara?”

“Mencium pria.” sebuah senyuman jahil terpasang di wajah Baekhyun.

Amber juga ikut memicingkan matanya, “Kamu-”

“Ya?” tanya Baekhyun sambil menaikkan kedua alisnya.

Amber menyeringai, “-ingin aku cium?”

Baekhyun membuka mulutnya lebar-lebar, sementara Amber menatap Baekhyun curiga.

Obrolan mereka pun berakhir dengan beberapa memar di tubuh.

Ia tidak mau pelajaran terakhir ini berakhir. Ia tidak mau bertemu dengan monster pada waktu dimana monster itu sedang buas. Amber mendesah ketika mendengar bel pulang berbunyi. Semua murid bersorak bahagia kecuali Amber. Baekhyun yang melihat Amber pun langsung memberi tepukan di punggung temannya itu sebagai rasa iba.

“Aku pulang dulu.” ucap Baekhyun sebelum akhirnya Ia berlari dan bergabung dengan teman-temannya dari kelas lain.

Amber mengangguk sebagai jawaban. Ia terlalu malas untuk membuka mulutnya.

 

“Hey, nona cantik!”

Amber menghadapkan wajahnya pada si sumber suara, Ia tahu betul siapa yang akan memanggilnya dengan sebutan ‘cantik’. Hanya oppa-nya, Suho, yang akan memanggil Amber dengan sebutan itu.

“Ah! Suho hyung, pangeranku yang sangat aku sayangi. Tolong antarkan aku ke sekolah Sehun!” seru Amber sambil berlari ke arah mobil mewah yang dikendarai Suho.

Dengan cepat Suho mengunci seluruh pintu mobilnya, kemudian tersenyum manis pada adik perempuannya, Amber. “Annyeong!” Suho melambaikan tangannya sambil mulai menjalankan kembali mobilnya. “Hyung! Ya!” Amber berusaha mengejar mobil Suho, tetapi hal itu mustahil mengingat bagaimana cepatnya Suho mengendarai mobil.

Disana. Amber hanya diam dan menatap nanar ke arah mobil Suho pergi.

“Aish!” Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.

Sudah setengah jam Amber menunggu Sehun di depan Taman kanak-kanak dimana adiknya itu bersekolah. ‘Tunggu, apakah Sehun bahkan bersekolah?  Ia mungkin hanya akan mengganggu anak lain yang memiliki mainan lebih baik darinya, kemudian menggoda anak-anak perempuan manis yang masih polos.’ pikir Amber.

Ia merasa kesal karena Sehun tidak kunjung keluar dari dalam kelasnya, akhirnya Ia pun memutuskan untuk menyusul Sehun ke dalam gedung TK yang megah itu.

Untuk beberapa menit, Amber masih mencari-cari adiknya di dalam sebuah kelas, tetapi seorang guru yang ada di sana mengatakan bahwa jam kelas Sehun telah berakhir dari dua puluh menit yang lalu. Amber berpikir mungkin adiknya pergi ke taman bermain yang ada di dalam gedung itu.

 

“Sehun, ini milikku.” seorang anak kecil yang sebaya dengan Sehun bernama Jongin, menarik-narik mainan yang ada dalam genggaman kuat Sehun.

“Aku kan cuman pinjam!” Sehun menyentak Jongin yang diketahui sebagai teman sekelasnya.

Jongin terlihat akan menangis, air matanya sudah menggenang di pelupuk, “T-tapi kan aku mau pulang.” ucap Jongin sambil menundukkan kepalanya.

Sehun memutar bola matanya ketika melihat teman sekelasnya akan menangis. ‘Cengeng!’, pikir Sehun.

“Jangan menangis!” Sehun mendorong Jongin cukup keras, yang didorong berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh, tapi refleks Jongin tidak terlalu baik. Jongin jatuh ke atas kotak pasir yang ada di taman bermain itu.

Jongin pun menangis.

Keadaan semakin tak terkendali dengan Sehun yang bingung harus melakukan apa pada Jongin agar tangisannya itu dapat terhenti.

“Ya! Sehun!”

Mengenali suara itu, Sehun menepuk jidatnya keras.

“Aish, aku lupa Amber hyung akan menjemput.”

Pandangan Amber teralihkan pada anak yang sedang menangis kencang dengan posisi terduduk di atas kotak pasir, Ia pun langsung menatap Sehun tajam, kemudian menggertakan giginya.

Amber melayangkan senyuman paling manis yang pernah ia lakukan, “Sehun-ssi. Bisa kamu jelaskan apa yang kamu lakukan pada anak kecil manis yang malang ini?” tanya Amber dengan senyuman manisnya yang tidak lepas dari wajahnya. Amber membantu Jongin berdiri.

“Oh, Jongin-a. Ada apa?”

“Hyung!” seru Jongin ketika mengenali suara itu, ia langsung berhambur pada si pemilik suara yang berdiri di belakang Amber.

“Maaf, sepertinya-” Amber mengangkat dan menghadapkan wajahnya pada si pemilik suara berat tersebut. Ya Tuhan.

“-Kris hyu- Oppa.” Amber berdeham pelan karena kesalahan dalam memanggil orang yang ada di hadapannya sekarang ini. ‘YA TUHAN. KRIS WU. KYAAAA!’ jeritan hati Amber bergema.

“Hey, Amber.”

‘Dia mengenalku. Okay, tenang… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA’ Amber menggigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya dari berteriak histeris.

“Maaf soal Sehun. Dia memang bodoh, jadi mungkin membuat mmm…”

“Jongin.” ucap Kris.

“Ah, iya. Jongin. Sehun membuatnya menangis tadi.” ditariknya lengan Sehun dengan paksa, “C-cepat minta maaf!” Amber membentak Sehun.

Sehun terkejut mendengar bentakkan noona-nya, dapat dilihat bahwa Sehun telah menangis.

“Amber, mereka masih kecil. Sudahlah.” Kris menyamakan tingginya dengan Sehun, kemudian memandang Sehun tepat di kedua matanya. “Jangan menangis lagi, okay? Semuanya baik-baik saja.” Kris tersenyum pada Sehun kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

“A-ku akan dimarahi, kemudian dipukul.” ucap Sehun dengan nada murung.

“YA! Se-” Amber langsung menutup mulutnya rapat-rapat ketika ia ingat bahwa ia sedang berada di dekat Kris.

Mulut Amber digerakan membentuk ucapan ‘Kau mati’ sambil melakukan gaya mencekik diri sendiri: memberitahu bahwa Sehun tidak akan begitu saja lepas dari masalah setelah ia nanti sampai di rumah.

“A-ahjussi,” ucap Sehun pelan hampir seperti bisikan pada Kris yang masih berjongkok.

“Panggil hyung, memangnya hyung sudah terlihat tua ya?” tanya Kris kemudian tersenyum.

‘Cih, kalau tua ya tua saja lah.’ batin Sehun sambil memutar kedua bola matanya, yang untungnya tidak Kris lihat.

“Hyung, aku akan disiksa di rumah.” Sehun menunjuk Amber yang berdiri di belakang Kris, diputarnya badan Kris menghadap ke Amber yang sedang melakukan pose aneh: gaya mencekik diri sendiri.

“A-mmm Aku h-haus.” Amber beralasan kemudian menghembuskan napas lega ketika melihat Kris yang mengangguk pada Amber.

“Lihat kan Sehunie, kamu salah paham.”

Amber tersenyum penuh kemenangan, Sehun pun berencana untuk mengeluarkan senjata mutahirnya.

Sehun menangis kencang, membuat orang-orang di sekitar mereka teralihkan perhatiannya pada Sehun.

“Sehun, jangan mulai.” Amber menarik lengan Sehun paksa, yang ditarik melebih-lebihkan reaksinya: terjatuh dengan posisi yang terlihat menyakitkan.

Orang-orang di sekitar mereka yang sedang memperhatikan berteriak ketika Sehun terjatuh, begitu juga dengan Kris.

Amber ingin sekali mengubur adiknya hidup-hidup, ‘TUHAN, TOLONG A-’

“Sehun? Amber? Ada apa?”

‘Saranghae Suho hyung!’ Amber menatap Suho yang berjalan ke arah mereka dengan mata yang berbinar-binar, seolah seorang malaikat baru saja Tuhan kirimkan untuknya.

Amber langsung memeluk lengan Suho. Ia menatap Oppa-nya itu dengan tatapan penuh harap. Berharap Suho dapat menolongnya.

“Oppa, Sehun membuat kesalahan lagi, tapi aku tahu kalau dia itu masih kecil jadi tolong tenangkan dia ya?” Suho menatap Amber jijik karena nada bicara manja yang baru saja Amber keluarkan, kemudian pandangannya teralihkan pada sosok pria tinggi yang beridiri tak jauh darinya. Suho pun menyeringai ketika mengenali siapa sosok pria tersebut. Kris Wu, si pangeran yeodongsaeng-nya tersayang.

“Okay, chagiya.” Suho mengusap kepala Amber halus.

Chagiya.

Eh?

“EH?! CHAG-”

Dipeluknya Amber dengan erat oleh Suho, mencegah Amber yang dapat menggagalkan aksi jahilnya kemudian memberi kedipan pada Sehun sebagai sinyal agar adiknya itu juga dapat berpartisipasi dalam aksi yang sedang dilakukan Suho.

Sehun mengusap kedua matanya kemudian berkata, “Appa, aku mau pulang.”

Mendengar kalimat tersebut, Amber menggeliat histeris dalam pelukan Suho, yang memeluk pun tersenyum lebar pada Sehun.

Ekspresi wajah Kris berubah drastis, mulutnya terbuka sedikit karena hendak mengatakan sesuatu, “Oh, Amber aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah dan mempunyai anak. Bukankah itu dilarang di sekolah kita?”

Amber menggelengkan kepalanya berkali-kali, Suho harus menahan sakit dari tancapan kuku-kuku Amber yang kuat pada lengannya.

“Aku tahu itu dilarang di sekolahnya, tapi mau bagaimana, masalah ini harus kami hadapi. Itu semua sebuah kecelakaan.” Suho menjawab pertanyaan Kris dengan nada sedih yang dibuat-buat kemudian menundukkan kepalanya.

Kepala Kris dianggukan sebagai respon, mulutnya membentuk huruf O. Ia tidak tahu bagaimana untuk menanggapi ucapan Suho.

“Kalau begitu mmm, aku permisi untuk pulang.” Kris menggendong dan membawa Jongin menuju tempat parkir.

Begitu Kris sudah menghilang dari pengelihatan mereka, akhirnya Amber dilepaskan oleh Suho.

“AAAAAAAAAAAA!!!”

Suho dan Sehun memutar kedua bola matanya bersamaan ketika mendengar Amber berteriak histeris.

“Kalian berdua. Hari ini akan mati.” ucap Amber dengan nada seram dan penuh ancaman.

Kedua laki-laki yang ada di depan Amber pun menelan ludah mereka sambil bersiap untuk melarikan diri dari bencana besar.

Gonggongan dari sebuah rumah stylish di kawasan elit terus terdengar.

“Monster kalian semua itu monster! Kejam, pengkhianat, bodoh!” itulah bagaimana Amber menggonggong pada adik dan kakak laki-lakinya.

“Hyung, jangan curang!” Sehun memfokuskan kedua matanya pada mobil jagoan miliknya yang sedang balapan dengan mobil milik Suho di dalam sebuah layar kaca besar.

Merasa tidak diperhatikan, Amber menendang kepala kakak dan adik laki-lakinya. Suho tersungkur, dengan posisi yang tidak nyaman untuk dilihat. Begitu pun dengan Sehun.

Suho dan Sehun megaduh kesakitan. Amber menyeringai puas kemudian berkata, “Aku pergi dulu.”

“Kemana?” Wajah Suho kini menghadap wajah Amber. “Tidak perlu tahu.” jawab Amber sinis.

“Amber sayang, marah?” tanya Suho dengan nada lucu yang… memang terdengar menggemaskan. Amber menutup kedua telinganya karena tidak tahan mendengar nada ucapan Suho.

“Umma, marah~ Hu~” Sehun duduk di atas pangkuan Suho. Ia ikut menggoda noona satu-satunya itu, kemudian kedua saudara Amber itu tertawa puas ketika melihat ekspresi yang digoda.

Amber menghadapkan tubuhnya pada Sehun dan Suho, mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain untuk beberapa saat sebelum akhirnya kegiatan rutin mereka dilakukan: menjambak rambut satu sama lain sampai berteriak kencang untuk meminta ampun.

Sudah hampir satu jam Suho mencari sebuah jaket di dalam kamarnya, dan jaket kesayangannya tersebut belum juga ditemukan. Hingga akhirnya Suho mengingat kemungkinan orang yang dapat mengakses kamarnya dengan bebas pada saat-saat seperti ini. Ia mengepalkan tangannya karena kesal.

“Amber adikku yang cantik, kau juga akan mati.”

Tidak tahu harus kemana, Amber terus berjalan tanpa tujuan. Ia berpikir keras tanpa henti terhadap apa yang harus dilakukannya untuk memberi penjelasan yang sebenarnya pada-

“Kris?” sontak Amber langsung menutup mulutnya ketika ia melihat orang yang baru saja ditabraknya. “Oh! Amber hyung.” Amber mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang tangannya Kris genggam, Jongin.

“Jongin-a. Amber noona, bukan hyung.” mendengar itu, Amber harus menggigit bibirnya untuk menahan senyum karena baru saja Kris-sang-pangeran-tercinta baru saja membelanya.

“Okay, Amber noona.” kemudian Jongin tersenyum pada Amber dengan manis. Betapa Amber berharap bahwa yang menjadi adiknya itu adalah anak manis bernama Jongin di depannya ini, bukan Sehun si monter kecil yang ganas.

“Mmm, Amber?” Kris melambaikan tangannya ke depan wajah Amber. “…Ya?” mata Amber dikedipkan berkali-kali dengan sangat cepat. “Kamu sedang menunggu seseorang?” tanya Kris, alis matanya dinaikkan. “Eh? Mmm ti- ah iya, tapi temanku sudah pulang.” Ia berbohong karena tidak mau terlihat menyedihkan oleh Kris: berjalan tanpa tujuan sendirian di tengah kota.

“Oh. Mmm,”

“Sebenarnya-” “Sebenarnya-” ucap Kris dan Amber bersamaan.

“Ladies first.” pipi Amber merona mendengar kata ladies. Biasanya di sekolah ia diolok-olok oleh teman-temannya dengan memanggil dirinya dengan sebutan gadis tampan, tapi kini pangerannya-

“Jadi sebenarnya Suho hyung itu bukan suamiku atau apapun. Kami hanya saudara dan Sehun juga, dia itu namdongsaeng-ku.”

“Oh. Lalu kenapa-”

“Mereka memang seperti itu. Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Sekarang giliranmu.” tidak sengaja Amber memukul pundak Kris cukup keras, “Ah! Mian.” ucapnya sambil mengusap-usap pundak Kris  dengan kedua tangannya, berharap pukulan tadi tidak akan memberikan bekas apapun. Kris tersenyum pada Amber.

“Jadi, kamu tidak memiliki-”

“Pacar? Tentu saja tidak.” dengan cepat Amber menjawab. Kris berusaha untuk tidak melompat kegirangan, “Aku mau pergi ke Lotte World dengan Jongin, kalau kamu mau… k-kamu bisa ikut.” Kris menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal.

Amber mengedipkan matanya berulang kali dengan cepat, ‘Apakah ini yang dinamakan kencan, ya Tuhan. Kris Wu pujaanku mengajak-‘

“Amber?” Kris menyadarkan Amber dari lamunannya. “Ya?”

“Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa.”

“Aku mau!” jawab Amber secepat kilat. Kris menarik lengan Amber kemudian menggenggamnya erat, “Cepat pergi, sebelum hari semakin larut.” Jongin menarik ujung pakaian hyung-nya.

Sudah pukul empat sore, dua orang remaja dan seorang anak kecil masih menikmati hari Minggu mereka di sebuah taman hiburan. Kini mereka sedang duduk-duduk di sebuah bangku besar yang cukup untuk mereka duduki.

“Amber,”

“Mmm?” ia mengayun-ayunkan kakinya. Matanya tidak lepas dari sepatu yang ia pakai saat ini.

“Kamu mau tidak jadi,”

“Jadi apa?” kini Amber menghadapkan wajahnya pada Kris.

“Jadi-”

“Amber-ssi.” seseorang menepuk pundak Amber, Ia terkadang berharap bahwa kakak laki-lakinya itu tidak pernah dilahirkan ke bumi ini. “Oh, Suho-ssi. Apa yang kamu lakukan di sini? Sudah lama tidak bertemu.” Amber memaksakan sebuah senyuman. Kini mereka berakting seperti teman lama yang baru dipertemukan kembali, seolah akting Suho yang menjadi suami Amber kemarin itu tidak pernah terjadi. Kris memandang mereka kebingungan.

“Aku mau mengambil ini.” ucap Suho sambil masih tersenyum manis yang dibuat-buat, kemudian melepaskan paksa jaket miliknya dari tubuh Amber. “Tidak bisa.” jawab Amber masih dengan ekspresi yang sama: tersenyum semanis mungkin sambil menahan amarahnya.

Seketika Suho mengubah ekspresinya menjadi sangat amat sinis, “Wae?”

“Tidak mau, aku kan bisa kedinginan!”

“Itu jaket kesayanganku! Kembalikan!” tapi Amber malah memeluk tubuhnya erat agar jaket yang sedang ia pakai tidak bisa dilepaskan dari tubuhnya.

“Lagi pula, apa yang hyung lakukan di sini? Dasar penguntit.”

“Aku tidak mengikutimu, pabo. Aku juga ingin bersenang-senang.”

“Sendiri?” Amber melihat ke sekelilingnya untuk mencari orang yang kemungkinan datang bersama Suho.

Suho mengumpat dalam pikirannya.

“Dan apa yang kamu lakukan disini?” Ia malah balik bertanya pada Amber, kemudian menyeringai ketika melihat Amber kebingungan untuk menjawab.

“Aku memintanya untuk menemaniku.” Kris menjawab pertanyaan Suho yang tadinya diajukan untuk Amber.

Terlihat Suho berpikir keras, kemudian Ia pun meminta Kris untuk berbicara dengannya di tempat yang agak jauh sehingga Amber tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.

Setelah sekitar sepuluh menit mengobrol, akhirnya Kris dan Suho kembali ke tempat di mana Suho memergoki adiknya sedang ‘berkencan’. Berkencan.

Kris terlihat gugup tetapi kemudian berkata, “Amber mmm, kamu bisa memakai jaketku kalau kamu mau.”

“E-eh?”

“Tentu saja dia mau.” potong Suho, kemudian mengambil jaket Kris untuk diberikan pada adiknya. “Pakai ini, pabo.” Suho menyikut Amber. “Baiklah, tapi ini bukan aku yang mau. Ini karena aku tidak mau Suho hyung-ku ini kedinginan.” Amber beralasan.

Amber membatin sambil mengusap-usap kain jaket milik Kris yang sedang ia pakai, ‘Oh. rasanya memakai jaket Kris seperti memakai pakaian yang terbuat dari kain sutra termahal. Berbeda sekali rasanya dengan memakai jaket milik-’

“Annyeong!” Suho langsung mengambil kembali jaket miliknya dengan sangat cepat kemudian pergi begitu saja. Amber memicingkan matanya, ia menatap Suho yang berlari semakin jauh dari mereka dengan curiga. Sifat Suho akhir-akhir ini berbeda. Selalu berpakaian rapih, mandi satu hari dua kali (Biasanya hanya satu kali dalam dua hari.), dan memakai parfum yang menyengat, kemudian tersenyum-senyum sendiri kalau sedang memainkan handphone-nya, ia juga sering-

“Hyung, aku lapar.”

Kris dan Amber jadi teringat kembali bahwa mereka membawa seorang anak kecil.

“Mmm, Amber. Bagaimana kalau aku mengantar Jongin dulu pulang?”

Kris tertawa mendengar keluhan Amber. Kini mereka sudah berada di sebuah taman hiburan lain yang terletak tak jauh dari rumah Kris.

“Aku tidak menyangka kamu suka meminjam pakaian Suho hyung.”

Amber hanya tersenyum canggung pada Kris.

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kamu meminjam celana boxer miliknya. Kamu benar-benar keterlaluan.” kemudian Kris tertawa lagi untuk yang kesekian kalinya, Amber menelan ludahnya paksa karena merasa Kris secara tidak langsung baru saja menyindirnya.

Untuk beberapa saat atmosfer diantara mereka berdua terasa sangat canggung, Kris pun berusaha mencairkan suasana.

“Amber,”

Amber menghadapkan wajahnya pada Kris, “Ne?”

“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Bisa kamu tutup mata sampai nanti kita berada di sana?”

Amber menutup matanya tanpa menjawab Kris, imajinasinya mulai melayang-layang. ‘Mungkin aku mau dilamar olehnya di sebuah restoran mewah yang ia sewa hanya untukku?’ Amber menggelengkan kepalanya, merasa mustahil Kris akan langsung melamarnya begitu saja. ‘Atau dia akan membawaku kabur dari negara ini kemudian aku akan memulai hidup baru dengannya?’ Itu pun tidak mungkin, mengingat Kris masih belum menyelesaikan sekolahnya. “Pendidikan itu nomor satu.” Ia ingat Kris pernah berkata seperti itu padanya. ‘Bagaimana kalau ia akan memperkosaku di belakang semak-semak kemudian aku akan dibunuh?’ Amber mengerutkan dahinya membayangkan apabila Kris benar-benar melakukan hal itu. ‘Bagaimana kalau ternyata Kris hyung itu penyuka sesama jenis, dan ia mendekatiku karena hanya tertarik pada Suho-’

“Kita sampai.”

Amber membuka kedua matanya, tetapi lengan yang dipakai Kris untuk menuntun Amber berjalan tidak pernah lepas dari genggaman.

“Sebentar lagi.” tambah Kris. Tidak jelas pada apa yang dimaksud Kris, Amber menatapnya bingung.

“Sebentar lagi? Maksudmu a-”

Ledakan kembang api tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Amber hampir menangis ketika melihat pemandangan indah yang sedang ia nikmati itu, padahal sebelum mengenal Kris, ia bukan orang yang mudah untuk tersentuh.

“Saengil Chukhae.” ketika mendengar seseorang berbicara, Amber mengalihkan pandangannya pada si pemilik suara. Kris Wu. “Dulu aku dan Jongin sering kesini untuk melihat kembang api, aku memutuskan untuk pergi bersamamu malam ini karena aku dengar hari ini adalah hari ulang tahunmu.”

“Siapa yang memberitahumu, Oppa?”

Oppa. Kris Oppa. Amber tersenyum sendiri pada panggilan yang ia gunakan pada Kris.

“Suho hyung.”

‘SARANGHAE SUHO HYUNG!’

Untuk beberapa saat Kris dan Amber saling bertatapan, terdengar lagu-lagu romantis dimainkan di dalam imajinasinya. Penampilan Kris menjadi lebih bersinar, dan Amber pikir adegan ini seperti salah satu adegan di sebuah sinetron bodoh yang selalu Suho tonton setiap hari Senin sampai Kamis jam delapan malam, yang terkadang saat-saat itu sangat mengganggunya karena setelah sinetron tersebut selesai, kakak laki-lakinya itu akan menceritakan detail episodenya pada Amber atau bahkan Sehun. Itulah yang membuat Sehun sangat ahli dalam membuat drama.

Tunggu… Imajinasi Amber menjadi semakin kacau dengan kedatangan Suho ke dalamnya.

“Ah, Oppa-” Amber tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia ingin sekali berterima kasih kepada pangeran yang sedang berdiri di hadapannya itu tetapi sulit. Amber memilih untuk menundukkan kepalanya karena merasa malu.

“Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan ini, tapi karena insiden di TK saat itu aku jadi ragu. Kemudian setelah mendengar yang sebenarnya aku jadi yakin kembali untuk mengatakan bahwa aku sebenarnya menyukai-”

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” dengan secepat kilat Amber memeluk Kris erat ketika ia menyadari bahwa tanah bumi yang biasanya ia injak terletak sangat jauh di bawahnya.

“KITA ADA DI DALAM FERRIS WHEEL?!” teriak Amber terlihat terkejut, marah dan ketakutan.

Kris terlalu takut untuk menjawab jadi ia pun hanya mengangguk.

“OPPA TIDAK TAHU AKU TAKUT KETINGGIAN?!” Dan Kris menggeleng masih dengan ekspresi terkejutnya.

“A-aku pikir kamu menyukainya karena Suho hyung bilang seperti itu.”

Suho.

“Suho hyung? Dia?!” nada bicara Amber terdengar menyeramkan, membuat Kris pun langsung memutuskan untuk menghubungi salah satu pegawai taman hiburan disana agar mereka dapat kembali lagi ke bawah lalu pulang ke rumah masing-masing.

“Mian.” ucap Kris masih ketakutan ketika mereka masih dalam perjalanan untuk pulang.

“Itu semua salah Suho hyung, sudahlah.” Amber juga jadi merasa bersalah pada Kris. Ia sudah membentaknya, padahal yang harus dibentak adalah kakak laki-lakinya. Amber tersenyum pada Kris untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

‘Oh, Suho oppa tersayang kau akan sangat tersiksa hari ini.’

Mereka berjalan selama setengah jam sambil membicarakan hal-hal tidak penting untuk menghibur diri mereka, dan Amber pikir Kris adalah orang yang humoris. Ia tidak tahu kenapa di dunia ini ada manusia seperti Kris yang menurutnya sangat sempurna itu. Mereka terus berbincang dan tertawa hingga akhirnya Kris sampai di depan sebuah rumah yang masih asing baginya.

“Terima kasih ya untuk hari ini.” Amber menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tidak apa-apa, aku juga ingin berterima kasih padamu karena hari ini jadi lebih menyenangkan,”

Amber ingin sekali berteriak kegirangan pada saat itu.

Kris pun melanjutkan, “Aku sebenarnya menyukaimu.”

Dan Amber pikir ia telah berada di surga untuk beberapa saat. “A-aku juga.” Kris pun tersenyum puas, kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekati Amber.

Kris menatap Amber penuh arti, dan begitu pun sebaliknya. Didekatkannya wajah Kris pada Amber, jantung mereka berdua berdegup sangat kencang.

Otak Amber mengatakan bahwa ia harus menutup matanya, jadi ia pun melakukannya. Terdengar langkah kaki mendekatinya. Rasanya ingin sekali ia berteriak.

Hembusan napas orang di hadapannya itu menyentuh wajahnya, kemudian sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya sekejap.

Hanya sebuah kecupan.

‘YA TUHAN YA TUHAN YA TUHAN, DIA MENCIUMKU. APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?!’ saat itu Amber merasa menyesal karena tidak pernah menonton sampai selesai sinetron-sinetron bodoh dan menjijikan yang selalu ditayangkan di televisi.

“Habis ini pasti bibirku akan terkena virus HIV, aish.” Uh… Kris?

“Halo, nona cantik.” lanjutnya.

Nona cantik.

Eh?

Sontak Amber membuka kedua matanya kemudian ia terbelalak ketika melihat siapa yang kini berdiri di depannya, “YA!”

Suho pun menyeringai puas pada reaksi yang ia dapat dari yeodongsaeng-nya.

“First kiss dengan kakakmu kan lumayan.” ucap Suho sambil menyentuh bibirnya kemudian tersenyum jahil.

“T-tapi Kris-”

“Dia sudah aku usir. Lagi pula siapa yang menyuruhnya beridiri di depan pintu dan menghalangiku berjalan?” lanjut Suho yang memasang ekspresi lugunya.

Obrolan mereka berakhir seperti biasa: beberapa memar dan cakaran terukir sempurna di wajah serta tubuh mereka berdua pada malam itu.

Semua murid di sekolah itu sibuk membicarakan pangeran mereka tersayang yang kini disebut-sebut telah memiliki seseorang di hatinya. Murid perempuan terutama. Mereka semua berteriak histeris ketika mengetahui bahwa Kris Wu-pangeran sekolahnya menyukai seseorang, kecuali Amber.

“Sepertinya ada yang sedang bahagia.” ucap Baekhyun kemudian menyikut Amber yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah karena bel pulang sekolah telah berbunyi sejak lima menit yang lalu.

“Begitulah.” Amber malu untuk menjawab dengan jawaban yang panjang. “Hari ini pulang pakai sepeda?” Digelengkannya kepala Amber, “Aku dijemput Suho hyung.” Jari telunjuk Amber langsung dilayangkan pada dimana orang yang sedang dibicarakannya berada. Ia juga merasa aneh mengapa kakaknya itu memaksanya untuk menjemput di sekolah dengan mobil yang sebelumnya telah dicuci bersih.

“Hyu-” Amber hendak memanggil Suho tetapi terhenti ketika melihat ia sedang berbicara pada salah satu adik kelasnya, yang notabene merupakan murid populer karena kecantikan dan keramahannya. Ia pun memicingkan matanya untuk meyakinkan bahwa ia kini sedang melihat Suho sedang berbicara pada adik kelas yang dimaksudnya.

Mungkin itu adalah salah satu kemungkinan mengapa Amber bertemu Suho di Lotte World pada hari Minggu kemarin, dan atau itu juga yang membuat Oppa-nya tersebut tersenyum-senyum sendiri tidak jelas akhir-akhir ini.

Sebuah ide cemerlang tiba-tiba masuk ke dalam otak Amber. Ia berlari mendekati Suho dengan senyum penuh arti yang masih menempel di wajahnya.

Amber pun memeluk erat Suho dari belakang dan menggelayut manja,  “Chagiyaaa.”

159 pemikiran pada “Hyung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s