Allow (Chapter 2)

Allow
 
 
Author : Mrs. Hae | Title: Allow
 
 
 
Cast: 
 
 
Lee Ri Ah
 
 
Byun Baekhyun
 
 
Park Chanyeol
 
 
Bae Suzy
 
 
Genre: Romance, Litle Angst. |  Length: Chapter  1-? |  Rating: General
 
 
 
Disclaimer: This story belongs to me also 100% the result of my thinking. typo scattered everywhere also no bash and Plagiarism are strictly prohibited. Chanyeol belongs SME, God, and their parents but Baekhyun is mine if you not like to play Castnya or Genre not have toread. and ;atest RCL please. Thanks
 
 ___________________________
 
I trying to Allowed you
 
 
 
aku hanya dapat melihat punggungnya lagi, tapi kali ini dia sudah hilang dari pandanganku
 
 

Chapter 2…
 
 
 
 
“huufft…. kenapa Ri Ah pergi begitu saja! ” Yoona memulai percakapannya dengan pertanyaan yang kurang penting.
 
 
“Mola! ” jawab Jieun dan Jiyeon serempak.
 
 
“ia tampak tergesa-gesa? Pasti hal yang sangat penting!” Celetuk Jiyeon.
 
 
‘Hening’  tak ada yang memulai percakapan lagi.
 
 
Aku berdiri dari tempat dudukku dan melangkah, keluar. Namun seperti ada yang memegang lenganku. Kutengok kearah belakang dan yang kulihat adalah wajah datar dari sorang Oh Sehun.
 
 
 “Hyung kau mau kemana” sehun bertanya padaku saat aku menengok kearahnnya .
 
 
“aku mau pulang! Aku duluan ne!”  aku pergi menjauh saat mendapat anggukan dari mereka.
 
 
 
End Chanyeol P.O.V
 
 
 
 
 
 
 
 
Ri Ah P.O.V
 

 
     Aku berjalan dengan gontai juga memandang dengan tatapan kosong. semua yg  dikatakan orang tadi masih terngiang di otakku tak henti-hentinya.

 

     Saat aku menghentikan langkahku, aku terhenti di Hannyoung senior High School sekolah ku dulukulirik jam tangan yg ada di tangan kiriku dan kulihat jarum jam pendek menuju arah angka 6 dan jarum jam panjang ke arah 3 yah 06.15 ‘masih sore’ lalu kulangkahkan masuk ke sekolahku itu.
 
 
    Pertama yg kulewati adalah gerbang sekolah dan aku dapat melihat bayangan diriku dan teman-temanku saat sma dulu, ‘Masa yg indah’ aku tersenyum mengingat hal itu, lalu aku berjalan ke koridor sekolah dengan pelan sambil melihat sekelilingku, saat aku berhenti melangkah, aku tepat berdiri diruangan musik lalu kupegang knop pintu ruangan ini dengan ragu, aku masuk dan terdapat sebuah piano disana, aku mendekati piano dan tenyata piano itu adalah piano yg sama seperti 5 tahun yg lalu. masih teringat masa laluku dengannya.
 
 Flashback On
 
 
Tinn,,,,Tinn,,,Tinn. Aku menghela nafas berat. Melihat rintik-rintik hujan jatuh dengan deras diluar tempat ini. sedari menekan tuts tuts piono yang ada dihadapanku. Aku mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutku ini. Kenapa aku tak bisa ‘pikirku’. Aku menghela nafas berat ku lagi namun seperti ada seseorang yang memegang bahu ku. Saat ku tengok kearah  belakang, seulas senyuman terukir dari bibirku.
 
 
oppa” gumamku pelan.
 
 
 
“kenapa! Kau tak bisa? Ri Ah-ya” tanyanya seperti dia bisa membaca semua yang ada dipikiranku sedari tadi ini.
 
 
“gwenchana! Aku bisa oppa” sergahku. Tak ingin kehilangan muka didepannya.
 
 
“jinja!”
 
 
“ne oppa” sekalli lagi kuperlihatkan senyumanku ini.
 
 
Dia memberi seulas senyuman lembut kepadaku, lalu dia mendekat kearahku dan tanpa aba-aba aku langsung menggeser tempatku sehingga bagian sebelah kursi yang aku duduki  setengah kosong dan benar saja dia terduduk dikursi ini dan langsung menekan tuts tuts piano ini dengan sangat indahnya. 
 
 
The loneliness of nights alone
the search for strength to carry on
my every hope has seemed to die
my eyes had no more tears to cry
then like the sun shining up above
you surrounded me with your endless love
Coz all the things I couldn’t see now so clear to me
You are my everything
Nothing your love won’t bring
 
 
 
     Dia menekan tuts tuts itu sedari bernyanyi. Baruku tahu bahwa suaranya sangatlah indah, kutatap wajahnya dari arah samping, ia memejamkan matanya ‘sungguh tampan’ melihatnya seperti itu membuatku tak ingin kehilangan dia juga melepaskan dia seperti tak ingin merelakannya dalam keadaan apapun, namun aku terlalu egois jika seperti itu. Aku terdiam memandang wajah damainnya itu dengan teduh, sangatlah berat melepaskannya dan seperti ada yang mengalir dipipiku ‘aku menangis’  segera kuhapus air mata ini agar ia tak melihat tangisku. Mendengarkan ia bernyanyi membuatku tanpa sadar menekan tuts tuts piano itu dengan dengan pelan .
 
 
 
My life is yours alone
The only love I’ve ever known
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray
On bended knee
That you will always be
My everything
You’re the breath of life in me
the only one that sets me free
and you have made my soul complete
for all time (for all time)
You are my everything (you are my everything)
Nothing your love won’t bring (nothing your love won’t bring)
My life is yours alone (alone)
The only love I’ve ever known
Your spirit pulls me through (your spirit pulls me through)
When nothing else will do (when nothing else will do)
Every night I pray
down on bended knee
that you will always be
my everything
oh my everything
 
 
 
Jariku terhenti menekan tuts tuts piano ini. Memalingkan wajah kearah samping dan dapat melihat wajah tampan dari sosok yang juga sedang tersenyum lembut kearahku.
 
 
“apakah sekarang kau bisa mengikuti tes itu dengan baik nanti!” dia bertanya kepadaku memastikan apakah aku sudah bisa mengikuti tes pelajaran music dengan baik setelah bermain piano dengannya.
 
 
Aku hanya mengangguk pelan kearahnya atas pertannyaannya itu.
 
 
“I Trust you” dia lagi-lgi tersenyum membuat mataku sedikit berkaca-kaca.
 
“Gomawo oppa”  aku tersenyum sedih merasakan sentuhannya membelai pipiku ini.
 
 
Flashback off
 
 
 
Aku hanya dapat diam dalam kesendirian mengingat masalalu yang indah juga menyakitkan untuk diingat.
 
 
 
Aku melangkah jauh dari tempat ini.
 
 
Taman sekolah! Tempat yang paling sering kudatangi saat ingin meratapi kesedihanku dan dapat kulihat masih sama seprti 5 tahun yg lalu. Terdiam ‘lagi’ hanya dapat melakukan itu sedari menghela nafas panjang.
 
 
 Flashback on
 
 
“oppa aku mau bicara” kudekati dirinnya yang masih berkutat pada bukunya.
 
 
“Ne! kau mau bicara apa!” dia tersenyum hangat padaku yang membuatku semakin ragu tuk membicarakan hal ini.
 
 
Kuhela nafas perlahan “aku mau hubungan kita berakhir”.
 
 
MWO! kau pasti bercanda” dia menjawab dengan ekspresi terkejut dan mungkin tak percaya.
 
 
“aku tidak bercanda oppa! Mianhe” kataku menahan air mata yg sepertinya akan keluar dari pelupuk mataku lalu aku segera bangkit dari tempatku lalu berlari meninggalkannya yang masih diam seperti masih mencerna kata-kataku ini.
 
 
 
Flashback off
 
 
 
 
Mengingat hal itu membuat lukaku semakin perih. Bulir bulir bening mengalir deras dipipiku. Aku menangis dalam kesendirian.
 
 
 
Tess,,,tess,,,tess ‘apakah alam tahu bahwa diriku ini sedang bersedih’ rintik-rintik hujan jatuh begitu saja dengan derasnya. Membasahi seluruh tubuhku juga dengan wajahku. Membuat air hujan berbaur dengan air mata yang ada dipipiku ini.
 
 
 
“kau tak tau mengapa aku mengakhiri hubungan kita oppa! Takkan pernah tau” lirihku pelan seraya menangis dalam diam sedari merasakan dingin yang menusuk tuubuhku.
 
 
 
END Ri Ah P.O.V
 
 
 
 
Chanyeol P.O.V
    
 
     Aku yg sudah keluar dari restoran segera masuk kedalam mobilku dan menuju pulang namun saat perjalanan pulang aku melewati SMA ku dulu dan kuputuskan untuk masuk ke sekolahku dulu. saat itu aku berpikir untuk menuju taman sekolah karena disitu tempat favorite ku karena bisa memandangi seseorang yang kucintai namun saat kuberjalan hujan datang dengan derasnnya membuatku harus berteduh dulu.
 
 
 
Saat aku berteduh, kutatap nanar dari jauh seseorang ditengah taman yang membiarkan air-air hujan itu jatuh membasahi seluruh tubuh orang itu. Kuputuskan untuk berjalan cepat menuju orang itu, menutupi atas kepala agar kepalaku tak terkena air hujan.
 
 
Sesaat setelah aku sudah ada dibelakannya. Kulihat tubuhnnya sedikit bergetar menampakan bahwa ia pasti sedang menangis.

“Kau tak tau mengapa aku mengakhiri hubungan kita oppa! Takkan tau” dia seperti bergumam dalam sela tangisnnya. Suaranya mirip dengan sosok yang kukenal, aku mengerutkan dahiku dan kutatap intens dari belakang pakaian yang orang itu kenakan. ‘pakaian ini! Bukankah pakaian yang’

Terdiam, itulah yang kulakukan. Mendengarkan isakan kecil dari orang yang sudah kupastikan Ri Ah itu.
Kuangkat tanganku untuk menyentuh pudak Ri Ah namun ku’urungkan niatku dan terdiam seperti ini lagi. Membiarkan air hujan mengalir deras ditubuhku. Juga dingin yang menyeruk dalam diriku.
 “kau pergi dari resto hanya karena ingin menangis disini!” aku sudah tak kuat mendengar isakan kecilnya itu. Dan langsung saja mensejajarkan tubuhku dengannya dan berkata seperti itu.
“eoohhh” ia  Tampak terkejut  melihatku.
“sejak kapan kau disini” dia berbicara dengan nada yang ketus sambil mengusap pelan pipi mulusnnya itu.
“aku hanya sedang berjalan pulang menuju rumah dan tanpa sengaja melewati sekolah ini’ lirihku.
“itu tidak menjawab pertanyaanku”
“tapi itu menjawab pertanyaan kedua yang mungkin akan kau lontarkan dari bibirmu ini”
 “huuuffttt….. jika kau mau menangis! Menangis saja tak perlu di tahan” lanjutku dengan nada yg lembut.
“siapa yg mau menangis” ia menjawab singkat sambil memalingkan wajah kearah lain.
“benarkah!”
“aku tidak akan menangis” gumamnya pelan.
“kau tidak akan menagis!”
“aku tidak akan menangis! Tak akan pernah” lirihnya walau dapat kulihat ia mengeluarkan butiran butiran air mata dari matanya yang bercampur dengan hujan .
“tapi kau sedang menangis saat ini Ri Ah-ya!” kataku lagi dengan nada yg halus.
Ani,,,Ani,,,Ani aku tdk menangis Chanyeol-ah Hiksss,,,Hikssss” katanya sambil mengusap air matanya.
“sudahlah kau mau menangis! Menangislah tak perlu membantah lagi!” kataku yg mulai mendekatinya dan memeluknya erat. Dapat kurasakan
badanya sangatlah dingin juga bergetar lalu ia membalas pelukanku dengan mengeratkan kedua tanganya pada pinggangku sanggat erat sambil terisak.
 “hiksss,,hiksss kau tau!! aku benar-benar merelakan Baekhyun oppa bersama Suzy ! Sungguh aku sangat merelakan mereka” mendengarnya berbicara seperti itu membuatku menjadi sendu. Terbayang akan masalalu saat dimana aku harus merelakan seseorang yang amat kucintai bersama pria lain.
Skip Time
Gomawo Chanyeol-ah”  Ri Ah mengucapkan kalimat yang berarti disela-sela meminum secangkir Cokelat panas yg ada ditangannya itu.
Cheonmaneyo” kataku lembut.
   Hening suasana itulah yang kami rasakan. Tak ada yang memulai percakapan diantara kami berdua. Berdiam diri, tak mempunyai topik untuk dibicarakan, juga seperti masih berkutat dalam pikiran  masing masing.
Kutatap arah jendela café ini. Melihat rintik-rintik hujan yang sudah mulai mereda. Melihat kota seoul diterangi sinar bulan juga lampu-lampu dari rumah atau juga gedung-gedung yang berjajar dikota ini.
“Boleh aku bertanya sesuatu Ri Ah-ya” memecahkan keheningan diantara kami berdua juga memberhentikasn suasana canggung diantara aku dengannya .
“boleh! Bertanya apa!” dia berkata dengan nada yang halus sambil meminum secangkir cokelat panas yang ada ditangannya ‘lagi’.
“eeemmh,,,,,apakah kau masih mencintai Baekhyun hyung!” kataku sedari tak sadar akan ucapanku itu.
“…….” Dia tak menjawab.
TBC

 

2 pemikiran pada “Allow (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s