Love Sign (Chapter 7 Part B)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Oh iya, disini anggap aja Sehun dan Kai masih berumur 17 tahun, ya ^^

Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

L.A poster (1)

__________________________

Flashback

Sehun mendekatkan dirinya pada Yoojun, lalu ia membisikkan, “Kalau begitu… lusa depan kita pergi ke Hongdae.”

Mwo?”

“Yah, terserah kau saja… ya…”

“Ba-baiklah! Lusa depan kita pergi ke Hongdae. Tapi ngomong-ngomong, boleh kutahu alasanmu mengajakku kesana?”

“Kau akan tahu lusa depan,” jawab Sehun santai. Tangannya perlahan mengambil pergelangan tangan Yoojun dan memberikan gadis itu kunci yang sedari tadi digenggamnya. Senyum simpul menghiasi bibir tipisnya; dengan cepat menaruh tangannya kembali kedalam saku celana. “Jadi, sekarang kau buka pintunya.”

Dahi Yoojun berkerut, “Kau menyuruhku untuk membuka pintu?”

“Kau yang memegang kuncinya, kau juga yang membuka pintunya.”

“Licik…” Yoojun bergumam pelan seraya berjalan dan membuka pintu atap. Tangannya dengan cepat memasukkan kunci tersebut pada slot pintunya dan segera membuka pintu tersebut. Setelah berhasil terbuka, Yoojun berbalik, bermaksud mengembalikkan kunci tersebut kepada pemiliknya.

“Aku memang licik, terima kasih.”

Yoojun menganga parah.

Flashback End

Hyesung mengangguk setelah mendengar penjelasan singkat yang diberikan oleh Yoojun. Dalam hati ia ingin memukul kepala temannya ini dengan tongkat kasti, entahlah apa yang ada dipikiran seorang Park Yoojun saat itu. Yang jelas itu adalah hal terceroboh yang pernah ia lakukan.

“Sepertinya aku harus mengulang perkataanku,” ucap Hyesung tiba-tiba.

“Eh? Perkataan yang mana?”

“Perkataanku kalau kau itu benar-benar bodoh. Aku sampai tak habis pikir,” lanjut Hyesung. Sontak membuat yoojun memutar bola matanya. Namun sebenarnya, gadis itu meng-iyakan semua perkataan Hyesung barusan. Ia terlalu naif untuk mengatakan kalau ia akan melakukan apa saja. Dan terlalu bodoh karena tak bisa menolaknya; alasan itu bisa ditemukan dua kali lebih cepat dari pada persetujuan.

Yoojun mengigit bibir bawahnya, rasa gelisah memenuhi relung hatinya. “Lalu aku harus bagaimana?”

“Janji adalah janji, Yoojun-ah. Kurasa dia takkan melakukan sesuatu yang buruk padamu.”

“Kau yakin?”

Who knows…”

Yoojun pun hanya bisa mendesah pasrah. Benar kata Hyesung, janji adalah janji. Janji bisa membuat seseorang jatuh-bangun kalau tidak dilaksanakan—sama halnya dengan sebuah kewajiban. Dengan itu semua, Hyesung dan Yoojun mencoba untuk tak membicarakan hal itu lagi.

Berbeda dengan Kai yang hari ini pulang dengan tatapan serta bisikkan yang meraja lela diperjalanannya. Memang beberapa orang melihatnya dengan tatapan menakjubkan tapi ada juga beberapa orang yang memberikannya tatapan sinis. Tapi Kai bukanlah orang yang cukup peduli dengan apa yang ia dengar tentang dirinya—well, selama itu bukanlah hal yang memalukan baginya, kenapa juga harus diperdulikan?

“Sehun-ie!” teriak Kai begitu melihat teman seperjuangannya hendak melangkah keluar dari sebuah pintu. Subjek yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya seraya menampilkan wajah poker face-nya. “Aku sudah tahu siapa yang melakukannya.”

“Baguslah. Jadi, siapa?”

“Nanti. Kau akan tahu nanti.”

Sehun hanya mengangguk mengerti, ia yakin kalau Kai punya rencana tersendiri untuk si pembuat onar itu. Lagipula Sehun juga tak peduli, toh berita ini tak ada untungnya—malah secara tidak langsung menguntungkan Kai dan Yoojun karena mereka akan lebih leluasa untuk bersama. Yah, mungkin.

Dan dua pemuda tinggi itu memutuskan untuk pulang bersama. Kebetulan sekali Sehun sedang tidak mood untuk membawa mobil sedangkan Kai sedang senang-senangnya membawa porsche-nya karena beberapa spare parts mobilnya baru saja diperbaharui.

“Jadi, Sehun-ie… kau… datang ke peringatan ibumu?” tanya Kai memecah keheningan. Sehun lagi-lagi hanya mengangguk.

“Lalu… hmm… Yoojun?”

“Dia kupastikan akan datang—kenapa?”

Nothing.”

Kali ini giliran Sehun yang ingin bertanya, namun ia tahan untuk sementara. Tak ingin membangun percakapan-percakapan yang akan membuatnya dicurigai ataupun membuat dirinya terlihat aneh. Sehun lantas mengambil penutup mata dan memakainya.

“Kau akan main kerumahku weekend ini, kan?” lagi-lagi Kai bertanya. Berharap kalau sahabatnya itu akan menjawabnya; Kai bisa mati kesepian dirumahnya kalau tidak ada Sehun.

“Sori, Kai. Aku sudah punya janji jadi tidak bisa kerumahmu.”

“Hah? Sama siapa?”

“Dengan orang yang paling tidak ingin kau dengar namanya,” jawab Sehun cepat. Sekarang ia akan fokus dengan tidurnya. Takkan memperdulikan Kai lagi meskipun Kai akan menanyainya pertanyaan yang bertubi-tubi. Namun sebelum Ia benar-benar akan tertidur, pemuda itu berkata, “Bangunkan aku kalau kita sudah sampai diapartemenku.”

Siapa orang yang tidak ingin kudengar? Kai bertanya-tanya dalam hati.

***

Hari ini adalah hari yang selalu ingin Yoojun hindari. Yah, ini adalah lusa setelah pertemuannya dengan Sehun di Atap sekolah. Sesuai dengan perjanjian yang mereka­—Sehun—sepakati, hari ini mereka berdua akan pergi ke Hongdae. Tempat paling hips buat anak muda sepantaran mereka. Kencan, Yoojun menyangka.

“Mau kemana kamu, Park Yoo-gom?” tanya Taejun memekik suasana ruang TV. Maniknya menatap Yoojun dengan sweater berwarna kelabu plus corak panah biru yang terdapat dibagian lengan dan bahu serta rok pendek kotak-kotak hijau biru yang diaplikasikan dengan legging hitam—termasuk baju yang Yoojun pakai seperlunya.

“Oh! Aku ingin pergi ke Hongdae, Taejun-ah. Ada apa?” tanya Yoojun heran.

“Nggak apa-apa, kok.”

Hmm,” gumam Yoojun setelah mendapati  penilaian dari kakak lelakinya. Kakinya melangkah kearah rak berisikan sepatu dan mulai mengambil sebuah sepatu sports berwarna senada dengan sweaternya. Setelah memakai sepatu tersebut, gadis manis itu lantas pamit dari kakaknya.

Yoojun, lalu berjalan melewati halaman rumahnya menuju pagar tinggi penghubung rumahnya dan luar rumah. Kakinya dengan hati-hati melangkah, mencermati tiap-tiap objek yang ia lihat. Hampir saja terlonjat kaget ketika melihat seekor kucing yang sedang berlari tanpa arah didekatnya; kucing itu sekarang menghilang entah kemana.

Tidak. Ada. Sehun.

Gadis itu kemudian bermaksud untuk memutar langkahnya, kembali menuju rumahnya yang aman. Namun tepat pada saat ia ingin berjalan, suara mesin mobil mengacaukan langkahnya. Cepat-cepat Yoojun berbalik lagi dan meneruskan langkahnya untuk melenggang keluar rumah. Terpatri jelas dimatanya sebuah mobil sedan dengan pemuda didalamnya. Pemuda yang paling ingin ia hindari.

AniyaAniya…” Yoojun bergumam kesal seraya berjalan kearah mobil tersebut. Gadis itu menampilkan senyumnya pada si pemilik mobil, namun senyum tersebut terlihat sangat terpaksa itu membuat Sehun ingin tertawa.

“Masuk sendiri, oke? Pamorku akan turun kalau memperlakukanmu sebagai seorang wanita.”

“Hah?” sentak Yoojun. Akhirnya—karena tak mungkin berdebat, Yoojun masuk sendiri kedalam mobil dan menutup pintu mobil dengan sedikit kencang. Baru bertemu sudah membuat gadis itu ingin memukul kepala Sehun, apalagi kalau sudah sampai? Dan lebih lagi kalau sudah memulai acara kencannya?

Setelah memastikan Yoojun masuk tanpa ada yang tertinggal, Sehun langsung menjalankan mobilnya menjauhi rumah Yoojun. Kali ini ia sedikit niat untuk pergi; pakaiannya terlihat lebih rapi dari biasanya.

Hongdae bukanlah tempat asing untuk Sehun, ia bisa menghapal beberapa toko yang sering ia datangi. Begitu juga dengan beberapa pemilik toko yang sudah mengenal pelanggan tetap—Sehun ditoko mereka. Sayang sekali, toko-toko yang Sehun datangi bukanlah toko berfrekuensi ramai pun berisik.

“Jadi, boleh kutahu alasanmu, Sehun-ssi?” tanya Yoojun disela-sela keheningan mereka. Sedikit takut untuk menanyakan inti dari kepergiannya ini, sih, namun rasa penasaran yang memekik itu membuatnya harus bertanya.

“Aku akan memberitahumu nanti,” jawab Sehun kalem.

“Ta-tak mungkin kan kalau kau mengajakku, karena… karena kau… kau su… ka?

Sehun hampir tertawa mendengar pertanyaan yang Yoojun lontarkan. Entah sampai mana fantasi gadis disebelahnya itu hingga ia berkata seperti demikian. Namun humornya menurun, mulai memikirkan kata-kata Yoojun tadi.

Suka? Sepertinya tidak.

Tapi kenapa tidak langsung kukatakan, kenapa harus ke Hongdae?

Apa aku…

“Kalau aku suka padamu bagaimana?” sekarang giliran Sehun yang balik bertanya, membuat Yoojun kalap dan langsung menurunkan pandangannya. Sehun terkikik, “Bercanda, kok.”

Yoojun menghela napasnya lega. Tapi baru saja ingin mengatakan sesuatu, Sehun sudah memotongnya dengan memasangkan sabuk pengaman ditubuhnya. Yoojun yang kaget langsung terdiam ditempat. Pemuda itu lalu mengaba-abakan Yoojun untuk diam dengan telunjuk yang ia tempelkan didepan bibirnya. Sehun, lalu mulai fokus menyetir lagi.

“Ini akan sedikit mengejutkan,” ujar Sehun—mobil yang ia kendarai seketika itu juga langsung melesat cepat. Refleks membuat Yoojun menegang dan menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya. Beralih lagi ke Sehun yang sekarang terfokus antara jalan dan kaca spion. Terpatri beberapa mobil hitam yang sedang mengikuti laju mobil yang ia kendarai, Sehun pun lantas menginjak pedal gas lebih lagi.

Setelah melewati beberapa mobil yang lebih besar; dengan diiringi klakson dari masing-masing mobil, Sehun bernapas lega. Mobil-mobil hitam itu sudah tak terlihat.

“APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!” teriak Yoojun.

“Menghindari sesuatu,” jawab Sehun masih kalem. Tepat dihadapannya beberapa pertokoan yang berdiri kokoh. Inilah Hongdae.

Setelah memakirkan mobilnya, Sehun dan Yoojun keluar secara bersamaan. Hongdae lebih enak dinikmati dengan berjalan dibandingkan mengendarai kendaraan apalagi mobil. Yoojun langsung berjalan menjauh, menghindari Sehun yang masih berdiri didekat mobil.

“Hei, hei, setahuku kencan itu tidak seperti ini,” papar Sehun blak-blakkan, membuat Yoojun berbalik dan menatapnya sinis—kemudian berjalan lagi. Pemuda itupun akhirnya mengikuti langkah Yoojun, hingga akhirnya memutuskan untuk menyeimbangi langkahnya dan berjalan disamping Yoojun. “Mau pegangan tangan?”

“Hah?”

“Hah?”

“Hei—”

“Kalau kau bisa lebih diam mungkin aku akan suka padamu. Mungkin.” Sehun melontarkan kata-kata yang untuk kesekian kalinya membuat Yoojun tersentak kaget. Rona merah dengan cepat menghiasi pipi yang tembam.

Langkah Sehun terhenti tatkala ia melihat beberapa orang berpakaian hitam diantara kerumunan orang yang sedang berjalan. Tak mau ambil resiko, pemuda itupun menarik tangan Yoojun dan berlari menjauh.

“Bisakah kita berjalan saja? Aku mulai lelah.”

“Maaf, tadi ada penganggu,” jawab Sehun sesekali mengatur napasnya.

“Penganggu? Siapa?”

“Bawahan ayahku.”

Yoojun tercekat, jawaban yang dilontarkan Sehun kali ini dua kali lipat lebih menganggetkan dari yang sebelum-sebelumnya. Seakan hantaman yang langsung mengenai tepat sasaran. Yoojun, lalu menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri—tepat didetik berikutnya, mata gadis itu menangkap sebuah tempat yang bisa dijadikan untuk beristirahat.

Sekarang giliran Yoojun yang menarik tangan Sehun menuju café tersebut. Sehun yang ditarik tangannya hanya menampilkan wajah yang tak bisa dibaca. Dalam hatinya, pemuda itu jelas merasakan perasaan kaget; ini pertama kalinya Sehun ditarik oleh seorang makhluk tuhan bernama perempuan selain ibunya sendiri.

“Permisi,” ucap Yoojun dengan senyum khas-nya. “Vanilla Latte dan Milktea, please…”

“He—”

“Kau tidak berubah selera, kan? Aku memilih Vanilla Latte karena waktu itu kau juga memilih minuman itu,” jawab Yoojun enteng, dibalas oleh anggukkan dari Sehun.

“Iya, tapi bisa tidak lepaskan tanganmu?” Sehun menunjuk tangan Yoojun, risi.

Yoojun sontak melepaskan tangannya, kemudian melangkah menjauh. Matanya dengan mudah terbaca kalau gadis itu sekarang sedang gugup—mencari alasan. Hingga maniknya menangkap tempat yang cukup terpencil serta nyaman di Café tersebut. Yoojun kemudian menunjuk tempat tersebut, “A-ayo duduk disana.”

Tempat itu kalau dilihatpun memang biasa saja. Yang membuat tempat tersebut terpencil adalah letaknya yang berada hampir ke pojok dan tertutupi oleh orang-orang yang sedang duduk-duduk didepannya. Bagus untuk menghindari, kata Yoojun dalam hati.

“Vanilla Latte dan… Milktea,” ujar sang Pelayan seraya meletakkan kedua minuman dingin itu diatas meja. Disambut oleh ucapan terima kasih dari Yoojun, pelayan itu tersenyum dan kembali ke pekerjaannya.

“Jadi, mau kuceritakan tentang orang tuaku?” tanya Sehun tiba-tiba.

“Sebentar…” alis Yoojun bertaut, matanya menatap Sehun lekat-lekat. “…aku tak mengerti kenapa kamu hari ini lebih banyak bicara daripada diam.”

“Entahlah, mungkin aku butuh tempat bercerita.”

Mendengar itu, Yoojun langsung bersahut, “Jadi ini alasanmu mengajakku ke Hongdae?”

“Hmm, hampir benar.”

“Ah—ceritakan tentang orang tuamu.”

Setelah menyeruput Vanilla Latte-nya, Sehun lalu menceritakan kedua orang tuanya. Ia menceritakannya hampir secara rinci meskipun banyak beberapa hal yang ia jelaskan dengan samar. Sehun bercerita kalau ia dan ibunya lebih condong sebagai teman satu sama lain, begitu pula dengan ayahnya. Tapi itu dulu sekali.

“My life is a game. Semakin banyak hal yang kulakukan, semakin banyak rintangan yang kudapatkan. Khususnya, dari ayahku.”

Lagi, pemuda tinggi itu menceritakan orang tuanya mulai dari kecelkaan maut yang menimpa ibunya, perubahan sifat ayahnya dan yang terakhir adalah bawahan ayahnya yang sekarang sedang mengerjarnya.

“Kertas yang kutemukan didepan apartemen itu sebenarnya sebuah peringatan berbentuk kecil, tapi entah mengapa itu sama sekali tidak membuatku sedikit peka kalau bawahan ayahku benar-benar berada di Seoul,” jelas Sehun. Tangannya mengenggam keras gelas Vanila Latte-nya, membuat Yoojun balik menatap gelas tersebut. “Dan tujuanku mengajakmu ke Hongdae adalah bersenang-senang sekaligus meminta sesuatu darimu.”

“Meminta? Apa?” tanya Yoojun bingung.

“Memintamu untuk datang keperingatan kematian ibuku. Well, inilah alasanku mengajakmu ke Hongdae, menunggu moment yang pas untuk memintamu.”

“Ka-kau yakin? Ini acara keluarga yang sakral, yang tak bisa—”

“Hei,” panggil Sehun, bermaksud menghentikan perkataan Yoojun. “Aku salah satu keluarga, aku mengajakmu, dan itu bukanlah masalah yang besar. Aku yakin kau ingin bertemu dengan ibuku.”

“Tapi ayahmu…”

“Kujamin kau tidak akan pernah melihatnya… disana.” Rahang Sehun mengeras saat mengatakan hal ini. Lagi-lagi amarah yang menang, menghapus semua perasaan suka-citanya, membiarkan dirinya larut dalam kenangan terburuk.

Yoojun pun mengangguk, menyetujui.

Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengamati mereka dari dalam café. Menatapi mereka lekat hingga gadis tersebut yakin bahwa yang ia lihat adalah Oh Sehun dan Park Yoojun. Yah, dialah Han Sooyeon. Sooyeon sempat kaget ketika melihat Yoojun bersama Sehun—karena Sehun juga cukup terkenal dikelas khusus. Sooyeon kemudian menyeringai, mendapatkan sesuatu dari pikirannya.

Gadis itu sekarang mengambil ponselnya, dan mulai mengetik sesuatu didalamnya.

“Sekali jalang, kau akan tetap seperti wanita jalang dimataku,” gumam Sooyeon pelan lalu melenggang keluar Café.

.

.

.

“Nah, yang ini cukup keren. Mungkin mereka takkan mengenalimu,” ujar Yoojun seraya memasangkan sebuah topi fedora berwarna cokelat muda kekepala Sehun. Gadis itu lalu berjalan lagi mengitari toko baju yang sedang ia pijak. “Mau pakai kacamata hitam?”

No, please. Aku akan keliahatan freak.”

“Oh! Disini Sehun-ah!” Sehun refleks mendongak dan mengikuti langkah Yoojun. Disana adalah sudut dimana semuanya berisikan kacamata. Entahlah, Sehun harusnya tidak mengikuti langkah Yoojun—harusnya ia diam saja ditempat topi-topi. Ia baru menyadari sesuatu; Yoojun memanggilnya secara casual.

Sehun berhenti melangkah.

Yoojun menatapi satu per-satu kacamata dihadapannya, menunjuknya lalu melihat Sehun. Beberapa kacamata ia tanggapi dengan gelengan kepala, hingga maniknya menangkap sebuah kacamata hitam yang tidak begitu menarik perhatian. Kacamata dengan frame abu-abu gelap serta lensa hitam menjadi pilihannya.

Yoojun lalu mendekat kearah Sehun dan memakaikan kacamata itu padanya. “Tuh kan! Wah, kamu kelihatan keren!”

“Aku selalu kelihatan keren.”

“Berarti yang ini kelihatan lebih keren,” balas Yoojun kalem, tanpa sadar membuat Sehun sedikit terkejut. Tapi Sehun langsung melepaskan kacamata itu dan mengembalikkannya pada Yoojun. Jantungnya…

Jantungnya bertalu-talu.

“Mau kemana?” tanya Yoojun saat melihat Sehun berbalik dan berjalan menjauh.

“Bayar topi ini, apa lagi? Kamu nggak mungkin bayar ini, kan?”

“Oh—tsk, aku tunggu diluar.”

Setelah melangkah keluar dari toko tersebut, Sehun dan Yoojun kembali berjalan mengitari kawasan Hongdae yang mulai ramai. Inginnya, Yoojun memasuki tiap toko baju yang ia dan Sehun lewati kali ini tapi tepat saat ia menatap Sehun, Sehun hanya menatapnya balik dan menggeleng pelan. Terkadang, Yoojun ingin menarik kembali ucapannya kalau ia akan membantu Sehun dari kejaran ayahnya.

Sehun menyebalkan.

Baru saja ingin diam-diam memasuki sebuah toko baju, tangan Sehun menarik lengannya. Detik berikutnya, kedua muda-mudi itu berlari dengan tangan yang masih bertaut. Yoojun mengerti: bawahan ayah Sehun sedang berada disekitar mereka.

***

Kai tergeletak tak berdaya diatas ranjangnya. Bosan telah membunuhnya semenjak satu jam yang lalu—membuat pemuda itu menyerah untuk melakukan aktifitas selain tidur. Kalau saja ada Sehun, mungkin saat ini dia sudah melemparkan senyum kemana-mana. Atau bermain play station sekalipun. Yah, setidaknya tidak terdiam monoton seperti ini.

Ponsel Kai berdering, notifikasi satu pesan masuk muncul dilayar ponselnya. Dengan cepat Kai membuka pesan tersebut dan melihat pengirimnya.

From: xxxxxx

Datanglah ke Hongdae kalau kau ingin melihat Yoojun. Setelah ini, kau pasti akan berterima kasih padaku

“Apa-apaan…” gumam Kai dengan alisnya yang bertaut. Awalnya ia tak ingin menghiraukan pesan singkat dengan pengirim tak dikenal ini, namun dengan satu nama orang yang tercantum didalamnya, membuat pemuda satu ini beranjak dari posisinya dan mulai keluar dari kamarnya.

Kai juga sempat berpikiran kalau Sehun yang mengirimkannya pesan singkat itu, tapi tidak mungkin.

Bukankah Sehun sedang ada acara?

Setelah mengeluarkan mobilnya, Kai langsung menancap gas dan melaju menjauhi rumahnya menuju Hongdae. Kalau isi pesan itu benar, berarti hari ini Kai akan bertemu Yoojun. Perasaan senang campur dengan berbagai rasa memenuhi dirinya saat itu. Entah sudah berapa kali ia tersenyum mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia mencium Yoojun.

Semenjak itu ia jadi sering berpikir untuk meresmikan hubungannya dengan Yoojun dan mulai melupakan masa lalu. Berpikir bahwa itu adalah sebuah keharusan, yang akan dilakukan cepat atau lambat.

Hongdae sudah didepan mata. Setelah memakir mobilnya, Kai lalu berjalan mengitari Hongdae , mencari subjek yang sangat ingin ia temui saat itu.

Shoot! Ia melihat Yoojun didepan sebuah toko baju. Kakinya refleks berjalan mendekat, namun seketika berhenti ketika melihat Sehun yang juga keluar dari toko baju tersebut dan mereka mulai berjalan beriringan. Kai yang melihat itu hanya bisa terdiam heran dan diam-diam mengikuti mereka berdua.

Oh, jadi ini maksud Sehun

Baru saja Kai akan melangkah mendekat, Sehun dan Yoojun sudah berlari—yang otomatis membuat Kai juga ikut berlari, mengikuti mereka.

Sehun saat itu menghentikan larinya disebuah taman di Hongdae. Matanya dengan hati-hati melihat sekitar dan lagi-lagi melihat bawahan ayahnya yang sedang menoleh kekanan dan kekiri, mencari sang Tuan muda. Dikepala Sehun, terlintas beberapa hal-hal konyol yang bisa ia lakukan untuk menghindari orang-orang tersebut.

Dan ia menyetujuinya.

Ya, Park Yoojun,” panggil Sehun serius.

“APA?!” teriak Yoojun kesal.

“Aku butuh bantuanmu sekarang, maaf, ya.”

“Ap—”

Baru ingin berucap lagi, Sehun sudah menarik Yoojun kedalam pelukkannya dan melingkarkan satu tangannya dipinggang Yoojun sementara satu tangannya melepaskan topi fedoranya. Kemudian menutupi satu sisi wajahnya dan wajah Yoojun dengan topi tersebut; Sehun lantas menggerakan kepalanya kesamping lagi agar terlihat seperti orang yang sedang berciuman.

Yoojun diam, ia tak bisa melakukan apa-apa. Otaknya berhenti bekerja untuk sesaat begitu juga darahnya yang mengalir tenang seakan beriak.

Dengan sedikit gerakan, bibir Sehun dan Yoojun bisa saja bertemu.

“Kemana tuan muda itu pergi…”

“Ketua, mungkin dia sudah kembali ke Apartemennya,”

“Kita harus kembali, Ketua. Kita tak boleh kehilangan jejaknya.”

Yah, enyalah dari hidupku, Sehun berteriak dalam hati. Dalam posisi seperti ini, ia juga sebenarnya tak mengerti harus berbuat apalagi; yang ia pikirkan adalah bagaimana membuat posisi yang benar.

Langkah-langkah itu terdengar menjauh dan dengan perlahan Sehun melepaskan tangannya dari pinggang Yoojun dan mengembalikkan topi fedora itu kekepalanya.

BUGH! Pukulan mendarat tepat dipipi Sehun—tanpa persiapan apapun, otomatis pemuda tinggi itu terjatuh karena dorongan yang kuat.

“Kai!” Yoojun terkesiap.

“DEMI TUHAN, SEHUN! BERANI SEKALI KAU MENCIUM YOOJUN!” teriak Kai membuat Yoojun tersentak kaget. Jadi… selama ini Kai mengikuti mereka dan melihat apa yang tadi Sehun dan Yoojun lakukan?

Tidak, Kai salah paham.

“Hentikan, Kai! Ini tidak seperti yang kau bayang—”

Lagi-lagi pukulan mendarat dipipi Sehun, namun kali ini cukup untuk membuat sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar. Sehun sama sekali tidak melawan, ia masih menatap Kai dengan tatapan sinisnya.

“Ayahku…” ucap Sehun akhirnya.

“JANGAN JADIKAN ITU SEBAGAI ALASAN!”

“Orang-orang yang mendekat tadi itu bawahan ayahku, bodoh.” Sehun mencoba berdiri dan menghapus darah yang berada disudut bibirnya. “Kau melihatnya, kan? Mereka sudah sampai di Seoul.”

Kai yang tadinya dipenuhi dengan amarah, sekarang mulai meredam amarahnya. Mendengarkan satu persatu yang dilontarkan oleh Sehun—ia sekarang menatap kearah Yoojun dan melihat gadis itu mengangguk lemah. Kai langsung berjalan mendekat dan berkata, “Maaf, kawan.”

Damn it, Kai.”

“Salahmu sendiri yang membuat posisi seperti orang berciuman seperti itu—ah tapi aku beruntung karena akting Yoojun yang buruk.” Kai lagi-lagi mengerling kearah Yoojun. “Kalau dia lebih mengatur posisinya, kalian bakal benar-benar kelihatan seperti sedang berciuman.”

Yoojun yang mendengar itu hanya bisa menunduk malu. Dunia terasa berputar pun waktu yang juga terasa berhenti. Teringat lagi kejadian beberapa hari lalu; saat Kai menciumnya. Malu, Yoojun pun segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Betapa memalukannya apa yang telah ia lakukan tadi—mendadak Yoojun ingin lenyap dari kedua pemuda tinggi itu.

“Jadi, bagaimana dengan Ayahmu? Dia belum menyerah?” tanya Kai seraya berjalan disamping Yoojun dan Sehun. Kai memang bukan orang yang cukup mengenal ayah Sehun, tapi yang ia tahu ayah Sehun dan Sehun memiliki watak yang cukup keras.

“Belum, dan aku berpikiran untuk menemuinya langsung.”

“Kau serius?”

“Ah maaf,” kata Yoojun. “Bukankah ayahmu sedang berada di Jepang? Lalu kau…”

Sehun mengangguk pasti, menjawab perkataan Yoojun barusan. Sehun tahu tidak mudah untuk pergi ke Jepang—apalagi sekolah masih berlangsung dan sebentar lagi ujian akan datang. Namun kalau ayahnya dibiarkan terus-menerus menerornya, hidup Sehun yang sejatinya tenang ini akan terusik. Dan sehun tidak suka itu.

“Ya, aku akan pergi ke Jepang untuk menemui ayahku.”

END

WOFUFUFU I TEASE YOU GUYS.

Oh, iya, maaf banget, untuk part selanjutnya itu sepertinya akan lama dipublish berhubung saya sedang ingin berhiatus ria. Dan setelah bersemedi didalam goa, eh kamar memikirkan ending FF nista yang satu ini selama berhari-hari, saya sudah menentukan endingnya.

Dan waktu itu saya memposting FF berjudul “Third Moon” disini. Sangat disayangkan karena flashdisk saya yang berisikan FF tersebut hilang—kebetulan juga saya ingin hiatus jadi tidak bisa mere-write FFnya—yang otomatis FF itu nggak bisa dilanjutkan. Jadi maaaaaaaaaaf banget kalau, KALAU ada yang menunggu FF tersebut.

Oke, author ini banyak sekali bicaranya. Bye, makasih ya udah baca Love Sign *winks

 

33 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 7 Part B)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s