Six Winter

Tittle                     :  Six Winter

Cast                       :  All member of EXO M and Jieun (OC)

Genre                   :  Romance/Fluff

Rating                   :  PG-13

Length                  :  Drabbles

Author                  :  Yen Yen Mariti

 8609564174_normal

#1 —Jealous | 314words | Kris/Jieun

 

Salju pertama di malam itu.

Jieun bersama suaminya (Kris) berkunjung kerumah orang tua Kris, dan di sana mereka bertemu Tao (adik sepupu Kris) yang baru saja pulang dari Kanada.

“Halo kakak ipar,” Tao menyapa Jieun yang baru melepas sepatu di muka pintu. Gadis itu memiringkan kepala sejenak sebelum memekik pelan karena saking terkejutnya dia dengan kehadiran Tao.

“Tao !!”

“Merindukanku, nona cantik?” Satu alisnya terangkat, dan dia masih menyapa Jieun dengan sapaan ‘nona cantik’ meski seharusnya yang diucapkan adalah ‘Nyonya Wu.’

“Menurutmu?” gadis dengan mantel cokelat itu melipat dua tangannya di depan dada, menatap Tao dari atas sampai bawah. Tidak banyak yang berubah dari laki-laki itu, hanya rambut dan anting-anting yang memenuhi telinganya—pergaulan di Kanada mengharuskannya berpakaian seperti itu.

“Yeah, you miss me !” dia menyeringai dan kemudian menarik tubuh Jieun hingga terperangkap dalam pelukan hangatnya. Mereka berpelukan beberapa menit, dan seseorang di belakang Jieun mengernyitkan dahi, membiarkan mulutnya terbuka lebar tak percaya. Kris merasa dikhianati oleh istri dan adik sepupunya sendiri.

 

“Jieun dengarkan aku…” Kris menarik istrinya ke dapur, menjauh dari kedua orang tua mereka dan Tao yang kini tengah berbincang di depan televisi. “Jangan lakukan itu lagi.”

“Apa?”

“Bersikap mesra pada Tao maksudku.”

“Apa yang salah?”

“Kau istriku Jieun !” tekannya sungguh-sungguh

“Aku tahu Kris.”

“Dan Tao menyukaimu.”

Jieun tertawa terbahak, Kris mengerutkan keningnya. Perempuan itu menyadari satu hal—Suaminya cemburu. “Baiklah, akui jika kau cemburu.”

“Bukan itu masalahnya,” Kris mendecakkan lidah.

“Dasar pengecut,” Jieun meninju pelan perut Kris dan dapat dirasakannya laki-laki itu menahan nafas. “Katakanlah, cepat!”

“Oh sialan,” umpatnya pelan dan Jieun mendengarnya, perempuan itu mengernyitkan hidung—tanda marah, tapi Kris punya tindakan terlebih dahulu. Menciumnya.

“Aku tidak suka dicium seperti tadi,” Jieun menghirup nafas setelah berciuman.

“Itu hukuman karena telah berselingkuh di depan suamimu.”

Jieun hanya memutar bola mata kesal, Kris menarik hidungnya hingga memerah kemudian memeluk perempuan itu erat-erat, “Aku cemburu. Sekarang, apakah kau puas Nyonya Wu?”

 

 

#2 — Welcome Home | 244words | Xiumin/Jieun

 

Perempuan itu tidak takut dingin, karena ada seseorang yang bisa menghangatkannya. Kadang mereka akan bermain di luar bersama salju, atau minum teh sambil menggigiti apel panggang di depan perapian dan kadang juga hanya berbaring di tengah tempat tidur sambil berpelukan.

Tapi sekarang sudah banyak yang berubah, dan perempuan itu kadang takut akan dingin. Tidak ada lagi percakapan hangat di musim dingin, tidak ada lagi tangan yang melingkari pinggangnya saat dia berbaring di tengah tempat tidurnya. Semua terasa sangat membosankan sejak dua tahun yang lalu.

Ketukan pintu rumahnya membuatnya meraih sweater birunya dan melangkah pelan.

“Siapa?” tanyanya pada seseorang di luar sana. “Siapa?” ulangnya setelah pertanyaan pertama tidak direspon.

Dengan tangan gemetar dia memegang gagang pintu. Akhir-akhir ini sering terdengar kasus perampokan di tengah malam. Cleck, suara kenop diputar. Gadis itu membulatkan mata tidak percaya. Itu lebih buruk dari sebuah perampokan. Jantungnya hampir meloncat keluar.

“Halo Nyonya Kim, lama tidak bertemu,” seseorang dengan seragam militernya memamerkan deretan gigi putihnya pada Jieun dan perempuan itu menitikkan air mata haru.

“Halo Kim Minseok, aku merindukanmu,” dia tidak lagi menyempatkan diri untuk memekik senang melihat kehadiran suaminya tapi dia meloncat kepelukan suaminya. Aroma peluh dari seseorang yang baru saja menyelesaikan masa wajib militernya tercium jelas di indera perempuan itu.

“Aku juga merindukanmu, Jieun.”

Perempuan itu memutuskan untuk tidak takut pada salju (lagi) karena suaminya telah kembali.

 

 

#3 Darling | 243words | Luhan/Jieun

 

Mesin waktu.

Jieun bertanya-tanya pada dirinya, di suatu sore musim dingin, apakah dia memerlukan mesin waktu ? dia berpisah dari orang tuanya sejak kecil. Ayah-Ibu bercerai, memiliki pasangan baru, dan dia tidak berada di pihak siapa-siapa. Dia menjadi korban kekerasan guru gila saat SMP yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit hampir sebulan dan meninggalkan trauma untuk dirinya sendiri. Dia dikhianati sahabatnya sendiri saat berumur enam belas tahun dan terakhir pacarnya meninggalkannya dua tahun yang lalu.

Jika dipikir-pikir semua itu terlalu buruk dan harus diperbaiki. Ditata ulang, disusun sesempurna mungkin.

“Hai sayang,” kedua lengan melingkari lehernya, hembusan nafas hangat itu menjalari pori-pori kulitnya yang hampir membeku karena dinginnya udara musim dingin.

“Luhan jangan menempeli tubuhku seperti ini.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang ingin Jieun dengar.

“Hanya sedikit bernostalgia.”

“Mengingat mantan pacar?” tebak Luhan dengan benar, dan gadis itu hanya mengankat bahu tidak peduli. “Aku merindukanmu ngomong-ngomong,” bisikan itu bagai menggelitik telinga dan ribuan kupu-kupu berterbangan di perut Jieun.

“Kita bahkan baru berpisah empat jam yang lalu, jangan gombal.”

“Aku bahkan melupakan itu, yang kupikirkan hanya kau, bagaimana caranya memelukmu sepanjang hari. Hanya itu,” suara Luhan berubah menjadi lembut dan sangat menyentuh, Jieun bahkan merasa gugup. “Aku mencintaimu Lee Jieun.”

Gadis itu berpikir dia tidak butuh mesin waktu agar bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya. Sekarang, walaupun dia punya masa lalu yang buruk, dia bahagia karena ada Luhan yang membuatnya merasa hangat meski saat badai salju berlangsung.

 

 

#4 — Romantic | 306words | Lay/Jieun

 

“Pengantin wanitanya cantik.”

“Mereka sudah berpacaran sejak SMP.”

“Sang pria melamarnya dengan sangat romantis.”

“Aku iri.”

 

Jieun hanya membiarkan bisikan-bisikan itu keluar-masuk rongga telinganya. Dia hanya bernafas—tarik,buang,tarik dan buang lagi. Itu saja.

“Lama tidak bertemu,” seseorang dengan setelan jas mewah membawa dua gelas minuman dan menyodorkan salah satunya pada Jieun, gadis itu mengulurkan tangan—menerimanya.

“Kupikir kau melupakan Korea,” sindir gadis dengan gaun putih tanpa lengan itu.

“Hampir,” jawabnya santai sambil memerhatikan air di dalam gelasnya. Jieun mendengus tak percaya. “Pernikahan Suho sangat hebat, ngomong-ngomong.”

“Itu sudah pasti.”

“Hey Lee Jieun, apa kau sudah punya kekasih?” Laki-laki itu mendadak menanyakan sesuatu yang membuat Jieun malu.

“Tidak, belum saatnya.”

“Perawan tua,” dia mencibir Jieun. Gadis itu hanya memutar bola mata kesal, tapi faktanya memang begitu. Perawan tua. “Bagaimana jika menikah denganku?”

“APA?!” gadis itu memekik tak percaya dan memandang aneh laki-laki di depannya. “Dasar gila !”

“Apa orang gila tampak setampan ini, aku serius ngomong-ngomong.”

“Kau bahkan meninggalkanku ke Cina empat tahun yang lalu dan kini kau kembali malah mengatakan hal terkonyol yang pernah kudengar,” gadis itu hampir saja mendaratkan heelsnya ke kaki laki-laki itu.

“Tapi sekarang aku kembali, hanya untuk bertemu denganmu lagi. Ayo menikah denganku, kita buka lembaran baru,” dia tidak tampak serius didengar dari nada bicaranya, tapi Jieun kenal benar pancaran mata itu.

“Apa kau punya cin-cinnya?” selidik Jieun curiga.

“Sebentar,” tangannya meraih sesuatu dari dalam kantung jas mahalnya. “Ini,” dan kemudian menyodorkan satu kotak merah kecil yang isinya sepasang cin-cin pernikahan.

“Dasar bodoh ! setidaknya jika ingin melamar seorang gadis lakukanlah dengan cara romantis !” Jieun menggerutu, dan wajahnya hampir menyerupai nenek-nenek yang sudah keriputan.

“Apa kau mau kucium ?” laki-laki itu menyerang Jieun. Memojokkannya di dinding dan memulai ciuman singkat.

“Kau bodoh,” Jieun menyeka bibirnya setelah berhasil dijamah laki-laki itu.

“Tapi Lee Jieun mencintai seorang Zhang Yi Xing yang bodoh ini.”

 

 

#5 — It’s Cold  | 226words | Tao/Jieun

 

Gadis itu sangat menyukai salju, dan tadi malam dia memandangi kalender. Dia tersadar salju akan mencair beberapa hari lagi, itu artinya matahari akan kembali bersinar dan mencairkan seseorang…

“Hey, sebentar lagi salju akan mencair,” Jieun-namanya- menggenggam salju erat hingga buku-buku tangannya memutih.

“Lalu?” Tao bertanya acuh, dia menendang-nendang salju dengan sepatu kulitnya.

“Aku tidak suka musim panas, tahu !” Jieun melempar genggaman salju di tangannya ke jacket Tao dan laki-laki itu mengerang marah. “Jika saja aku bisa masuk ke Narnia, pasti seru sekali.”

“Narnia?” laki-laki dengan lingkaran mata hitam itu memiringkan kepala.

“Salju di sana tidak pernah mencair. Betapa menyenangkannya hidup dalam musim dingin yang abadi,” gadis bertudung merah itu menendang-nendang boneka salju di hadapannya dengan pelan.

“Kalau begitu jadilah sepertiku, aku tidak pernah merasakan sedikit panas-pun.”

“Jangan bercanda, Tao.”

“Aku tidak bercanda, percayalah,” Tao menunjukkan kilatan mata hitamnya pada gadis itu, dan sang gadis merasakan bulu kuduknya merinding.

“Itu ide yang bagus,” dan seperti tersihir dia mengangkat bahunya kemudian menatap balik mata hitam Tao. Laki-laki itu menyeringai.

“Kita sama sekarang,” gigi taringnya mencuat keluar dan siap untuk ditancapkan pada leher Jieun. Vampir adalah makhluk penuh tipu muslihat, dan Tao menggunakan kelebihan itu untuk membuang perbedaan antara dia dan Jieun. “Vampir Jieun…” bisiknya setelah menjilati leher Jieun yang memerah semerah tudung kepala gadis itu. Vampir dan vampir, tidak masalah jika hidup bersama. Vampir dan Vampir, pasangan yang serasi bukan?

 

#6 — Happy New Year  | 255words  | Chen/Jieun

 

Dua jam yang lalu jam kota berdentang dua belas kali yang artinya saat itu sudah memasuki tahun baru. Teman-teman Jieun belum  menyelesaikan pesta tahun baru mereka di lantai bawah apartemen, televisi masih ricuh menanyangkan acara-acara tahun baru. Terdengar suara-suara terompet  di luar. Orang-orang berpesta, tapi Jieun tidak. Hanya ada senyum tipis saat teman-temannya meneleponnya, memintanya untuk ikut berpesta.

Telepon di kamarnya berdering, dan Jieun hanya mengangkat bahu malas. Dia pikir itu temannya, yang memintanya untuk turun ke lantai bawah dan ikut berpesta.

“Halo,” sapanya datar dengan hembusan nafas yang pelan.

“Selamat tahun baru, Lee Jieun.”

Bola mata Jieun hampir saja meloncat keluar mendengar suara seseorang di sana. Laki-laki yang berada sangat jauh darinya, melewati jarak ribuan kilometer, melewati lautan dan pulau-pulau serta melewati negara.

“Selamat tahun baru juga, Kim Jongdae. Kau harusnya ada di Seoul sekarang,” jemari kecil Jieun memilin-milin tali telepon, membuang sedikit perasaan gugupnya.

“Aku juga berharap begitu, tapi Cina membutuhkanku.”

“Ya, itu sayang sekali. Padahal pestanya sangat meriah tadi,” Jieun berkata, padahal dia sendiri tidak mengikuti pesta.

“Ya, aku tahu itu. Hey aku merindukanmu ngomong-ngomong,” suara di sana terdengar gugup sekaligus ceria, dan gadis yang tengah mendengarnya itu jauh lebih gugup lagi, dan wajahnya jauh lebih ceria lagi.

“Aku juga.”

Tahun baru mereka berdua tidak ada tiupan terompet, kado ataupun pesta yang meriah. Tapi satu sambungan telepon yang membuat mereka berbincang hingga pagi sudah cukup untuk mengisi tahun baru kali ini. Satu sambungan telepon, sebuah percakapan panjang yang sarat akan kerinduan, yang menyampaikan bahwa betapa saling mencintainya mereka meski jarak membatasi.

#

 

We meet again~ ini adalah ff terakhir saya di tahun 2012. Dan akan kembali dengan ff yang lain tahun depan. Terima kasih yang selama ini sudah setia baca ff saya. Semoga kita bisa bertemu lagi. Happy December, Happy New Year !!

24 pemikiran pada “Six Winter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s