White Rose (Chapter 3)

Tittle : “White Rose”

Author : Seo Yuri

Main Cast :

♪ Lee Hana (OC)

♪ Park Chan Yeol Exo-K

♪ Byun Baek Hyun Exo-K

Support Cast :

♪ All Member Exo

Genre : Romance

Leght : Chaptered

Rating : PG 16

Summary :

 Untitled-3 (1)

Hana POV

Aku melangkahkan kakiku kelapangan tempat pertama kalinya aku dan Oppa bertemu.

Hari ini aku akan melupakan semuanya—sudah kuputuskan. Jika aku tidak bisa mengubah masa lalu, mungkin saja aku bisa mengubah masa depan.

Aku duduk ditepi lapangan sambil menatap lapangan basket yang saat ini sedang kosong itu, mencoba mengenang semua kenangan aku bersamanya.

Hari ini saja, izinkan aku untuk mengenangnya.

Aku melihat ketengah lapangan, seketika bayangan kenangan aku dengannya seolah-olah terlihat olehku saat ini.

Hana sedang berjalan-jalan disekitar lapangan, sampai sebuah bola melayang kearahnya dan mengenai kepalanya.

“Auw, neomu Appo.” ringis Hana kesakitan. Seorang namja terlihat mendatangi Hana dengan wajah yang bisa dibilang khawatir.

“agashi, neo gwenchana?” Tanya namja itu hati-hati.

“YA!! APA KAU TIDAK BISA LIHAT ADA YANG SEDANG BERJALAN DISINI?”  Hana yang sedang emosi pun langsung memarahi namja itu.

“YA!!! Bisakah kau tidak berteriak-teriak seperti ini? semua orang sekarang melihatku seakan-akan aku akan membuat sesuatu yang membahayakanmu.” ucap namja itu sambil melihat kesekelilingnya.

Dan benar saja sekarang semua orang yang ada dilapangan menatap mereka berdua dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.

“neo gwenchana?” Tanya namja itu sekali lagi.

“ne, gwenchana. Hanya sedikit pusing saja.” ucap Hana dengan volume yang sudah melembut, dia sangat merasa bersalah kepada namja itu sekarang.

Tapi tunggu, kenapa dia harus merasa bersalah, bukankah namja itu yang bersalah sudah melukai kepalanya sekarang. Tapi untuk saat ini, bukan hal itu yang Hana pikirkan.

“lagipula buat apa yeoja sepertimu berjalan-jalan disekitar lapangan. Sudah lihat ada yang bermain basket, bukannya menghindar malah berjalan-jalan di sekitar lapangan. Jadi kalau bolanya kena kepalamu itu bukan salahku, tapi salahmu sendiri.” ucap namja itu panjang lebar.

Seketika mata Hana membulat penuh, rasa bersalahnya tadi runtuh seketika.

“MWO??? APA KAU BILANG HAH? JELAS-JELAS KAU SUDAH MELUKAI KEPALA KU SEKARANG KAU BILANG AKU YANG SALAH, DAN KAU BAHKAN TIDAK MENGATAKAN MAAF SAMA SEKALI, KAU KIRA KAU INI SIAPA HAH?” teriak Hana dengan penuh amarah.

“YA!! BUKANKAH SUDAH KUBILANG JANGAN BERTERIAK, DASAR YEOJA BAR-BAR, MINTA MAAF? SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MINTA MAAF PADAMU!!” ucap namja itu dengan volume suara yang tak kalah dari suara Hana.

“MWO?? YEOJA BAR-BAR? DASAR KAU NAMJA KERAS KEPALA.” ucap Hana tak mau kalah.

Mereka berduapun saling bertatapan, tatapan yang begitu mematikan. Sampai ada yang melerai mereka pun mereka masih saling menghina satu sama lain.

“Hana-ssi, jangan bertengkar lagi dengan dia, dia juga tidak sengaja, sudah mengalah saja.” ucap teman Hana.

“Mwo?? mengalah untuk Namja keras kepala ini? tidak akan pernah.” ucap Hana tegas sambil menunjuk-nunjuk wajah namja itu.

“Ya!! kau kira aku juga mau mengalah denganmu yeoja bar-bar” ucap namja itu tak mau kalah sambil menarik tangan Hana yang menunjuk wajahnya.

“sudah-sudah, kalian jangan bertengkar lagi.” ucap teman namja itu.

“Kau diam!” ucap Hana dan namja itu bersamaan dan mereka saling bertatapan lagi, namun mereka lupa bahwa tangan mereka masih saling bertautan.

“omo… kalian ini cocok sekali.” ujar teman Hana yang sukses mendapat tatapan maut dari Hana.

“ne, kalian ini cocok sekali. Hati-hati loh… sekarang bertengkar, bisa jadi nanti kali malah saling menyukai satu sama lain.” ujar teman namja itu.

“mwo?? Menyukai yeoja bar-bar ini? tidak akan!!” ucap namja itu tegas.

“aku juga tidak akan pernah menyukai namja keras kepala sepertimu, babo.” ucap Hana tak kalah tegas.

“yeoja bar-bar.”

“namja keras kepala”

 

Author POV

Hana tersenyum singkat setelah memutar kembali kenangannya bersama Park Chanyeol dilapangan ini.

Siapa yang bisa menyangka, bahwa setelah kejadian itu mereka bertemu lagi. Bahkan mereka sekelas dan duduk sebangku juga.

Walau sering bertengkar, tapi siapa yang bisa tahu takdir itu seperti apa, takdir malah membuat mereka jadi saling menyukai satu sama lain.

‘Selamat tinggal’ ujar Hana dalam hati.

Setelah puas, Hana pun pergi meninggalkan lapangan ini.

Dan tanpa Ia sadari, di ujung lapangan ada seorang namja yang sedang bergandengan tangan dengan seorang anak kecil sambil menatap lapangan itu lirih.

“Hyung, kita sudah sampai.” ujar anak kecil itu.

“oohh, ne. gomawo-yo Sehun-ah.” ujar namja itu pada anak kecil itu.

“Cheonmaneyo Hyung, keundae naneun Sehun aniya, nan Luhan-ah, Xi Luhan!” ucap anak kecil yang bernama Luhan itu menegaskan.

“Jeongmal-yo? Haha… mianhae-yo, Luhan-ah, aku belum bisa membedakan kalian berdua, soalnya kalian sama-sama kyeopta.” ucap namja itu sambil mengacak rambut Luhan pelan.

 

@Duijang High School

Hana berkunjung ke sekolah lamanya, karena sekarang sedang liburan, jadi SMAnya terlihat sepi.

Dengan ekspresi yang sedih, Hana memasuki sekolah itu. Ia melewati lorong sekolahnya, seketika Ia ingat suasana lorong yang penuh dengan siswa saat Ia bersekolah dulu.

“Hana-ya.” ujar seseorang dibelakang Hana, dengan cepat Hana membalikkan badannya.

Ia melihat seorang namja sedang melambai kearahnya. Dan Hana hanya bisa membalas dengan senyuman. Seketika itu juga namja itu hilang bersamaan dengan angin musim panas menuju musim gugur yang sedang berhembus.

Hana pun berbalik dan berjalan menuju kelasnya, ditatapnya pintu kelasnya yang sedang tertutup.

Hana ingat betul, dulu biasanya selalu ada seorang namja yang menunggu kedatangannya didepan pintu ini dan akan selalu menyambut kedatangannya dengan senyum hangatnya sembari memanggilnya “Hana-ya”.

Mengingat kenangan-kenangan itu, membuat Hana tersenyum cerah sekarang. Hana pun masuk kedalam kelas dan duduk persis dikursi yang biasa didudukinya sewaktu SMA.

Hana menatap kursi di sampingnya lirih, kursi Park Chanyeol.

Hana beranjak dari kursinya dan duduk di kursi Park Chanyeol sambil memejamkan mata, ia mencoba merasakan kehangatan seorang Park Chanyeol, dan Ia masih ingat betul suasana kelasnya ketika guru sedang mengajar.

 

Mr. Kim, yang memiliki nama Kim Jong In adalah guru yang terkenal killer, dia mengajar pelajaran Sejarah, dan sekarang sedang mengajar dikelas Hana.

“keluarkan PR kalian.” tanpa babibu, Mr Kim langsung menyuruh muridnya untuk mengumpulkan PRnya.

Hana terlihat sedang mencari buku PR yang harus dia kumpulkan, tapi setelah mencari cukup lama, dia masih tidak menemukan buku yang harus dikumpulkan itu.

“nan ottokhae? Aku yakin sudah memasukkannya tadi.” runtuk Hana kesal. Ia sama sekali tak menyadari ada yang memperhatikan gelagat gelisahnya itu.

“Lee Hana, mana Prmu?”Tanya Mr. Kim tegas.

“mian saem, aku lupa membawa bukunya. Tapi aku benar-benar sudah mengerjakannya kok.” ucap Hana mencoba meyakinkan Mr. Kim walaupun Ia tahu usahanya akan sia-sia.

“tidak ada alasan, kamu sekarang keluar dari kelas.” ucap Mr. Kim tanpa ampun.

 

Dan disinilah Hana, berlutut di lorong dengan tangan yang diangkat tinggi-tinggi dan dilehernya digantung sebuah papan yang bertuliskan “AKU SI MALAS”, seumur-umur Hana belum pernah mempermalukan dirinya seperti sekarang.

Menjadi tontonan seluruh siswa di sekolah sukses membuat harga diri Hana jatuh. Hana  hanya bisa mem-poutkan mulutnya, hal yang dia lakukan jika sedang kesal.

Namun tiba-tiba, Hana merasakan ada seseorang yang ikut berlutut disampingnya, Ia pun menoleh ke samping dan mendapati Park Chanyeol berpenampilan yang sama dengannya.

“Ya… namja keras kepala, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Hana bingung.

“apa kau tidak lihat? Akulah si malas 2, dan kau si malas 1.” ucap Chanyeol sambil menunjuk papan yang digantung dilehernya dan leher Hana bergantian.

“Jangan pernah bilang aku malas, aku mengerjakan tugasnya kok, aku hanya sedang sial. Tapi bukan itu maksudku, kau! Kenapa kau juga jadi si malas?” Tanya Hana.

“apalagi kalau bukan tidak mengerjakan Pr yeoja bar-bar.” ucap Chanyeol santai.

“namja keras kepala seperti kau tidak kerja Pr?tidak mungkin, bahkan tadi aku masih melihat ada beberapa siswa yang meminjam Prmu untuk mereka contek.” ucap Hana yang semakin bingung.

“begitukah? Kalau begitu aku sedang malas mengumpulkan tugas.” ucap Chanyeol lebih santai daritadi.

“mwo?? alasan apa itu? Sangat tidak masuk akal.” pikir Hana.

“waeyo?? memangnya kenapa? Lagipula memangnya kau mau berlutut disini sendirian seperti orang gila, jika ingin terlihat seperti orang gila bukan begini caranya. Kau bisa berteriak di atap sekolah, dan semua orang akan berpikir Lee Hana sudah gila karena terlalu sering mengatai Park Chanyeol namja keras kepala. Lagian dari pada sendirian, lebih baik berduakan?” ucap Chanyeol mulai tidak nyambung sambil menguap.

Hana tercengang mendengar pernyataan Chanyeol.

Walaupun alasan yang diberikan namja ini sangat tidak masuk akal, tapi Hana menyadari satu hal—bahwa namja bernama Park Chanyeol ini rela dihukum hanya untuk menemaninya menjadi bahan tontonan seisi sekolah, menjadi bahan tertawaan seluruh siswa sekolah, dan mendapatkan image yang buruk dari para guru-guru, dan semua itu dilakukan untuk dirinya.

Dan mulai hari itulah, Lee Hana mulai melihat Park Chanyeol sebagai seorang pria.

 

 

Hana pun membuka matanya sambil menghela nafas berat, terlalu banyak kenangan Park Chanyeol disekolah ini. Hana pun mengiring kepalanya unuk berbaring di meja sambil menatap kesebelahnya.

“Jadi begini rasanya menjadi Park Chanyeol yang selalu memperhatikan Lee Hana diam-diam?” ucap Hana sambil memandang kursinya lirih.

Sama seperti yang selalu dilakukan Park Chanyeol jika sedang bosan mendengarkan penjelasan guru yang sudah Ia mengerti itu, karena selama ini yang ada dimata Park Chanyeol hanya Hana seorang.

Dan hal yang paling sering dia lakukan jika sedang bosan adalah memperhatikan Hana yang sedang serius memperhatikan penjelasan guru.

Dan tanpa Chanyeol sadari juga, Lee Hana selalu berusaha menyembunyikan semburat merah dipipinya itu karena saking gugupnya diperhatikan Chanyeol.

 

 

@Lab in Duijang High School

Lee Hana melihat-lihat lab yang sering Ia gunakan untuk melakukan penelitian itu, karena setelah lulus Hana ingin kuliah di Universitas Seoul dan mengambil jurusan kedokteran, makanya Hana banyak menghabiskan waktu di lab ini dan tentunya ditemani oleh Chanyeol.

Tapi dewi fortuna sedang tidak berpihak pada Hana saat itu, pada akhirnya Hana harus menangis berhari-hari hanya karena tidak bisa masuk Universitas Seoul dan mengambil jurusan Kedokteran.

Bukannya Hana tidak lolos penyeleksian, Hana itu pintar dan mengenai test masuk, Ia pasti bisa mendapat nilai yang bagus.

Hanya saja Hana tidak bisa mengikuti test masuk, Hana demam tinggi bahkan sampai harus masuk rumah sakit. Pupuslah sudah harapan Hana.

Tapi justru karena itulah, Hana mengetahui suatu hal tentang Chanyeol, hal yang hanya diketahui oleh Lee Hana. Bahwa Park Chanyeol lebih pintar darinya, tapi kenapa Park Chanyeol selalu berada diposisi kedua dalam pelajaran?

 

Setelah mengurung diri selama berhari-hari, akhirnya Hana keluar juga dari kamarnya.

Dengan penampilan yang bisa terbilang buruk, dia menemui Chanyeol yang menunggunya di ruang tamu rumahnya.

“aigoo, apa sebegitu stressnya uri Hana, sampai Hana yang biasanya sangat memperhatikan penampilannya berani keluar dengan penampilan seperti ini?” ucap Chanyeol prihatin dengan keadaan Yeojachingu-nya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya takjub.

“bagaimana aku tidak stress Oppa, aku tidak bisa masuk ke Universitas Seoul bukan karena tidak lolos seleksi, tapi karena sakit. Kalau aku tidak lolos seleksi sih tidak masalah, tapi ini. Aisshh, bagaimana bisa aku sakit tepat pada hari penting seperti itu.” ucap Hana sambil memukul-mukul kepalanya pelan.

“Aishh, bukankah sudah ku bilang jangan menyiksa kepalamu sendiri.” ucap Chanyeol sambil menarik tangan Hana menjauh dari kepalanya.

“Oppa, kau kan tahu sendiri seberapa besar keinginanku masuk ke Universitas Seoul, aku bahkan sudah belajar dan mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari.” ucap Hana cemberut.

“Ne, tapi mau bagaimana lagi. Yang berlalu biarlah berlalu.” ucap Chanyeol sok bijak.

“Oppa… setidaknya hibur aku dong.” ucap Hana manja.

“jadi Hana mau dihibur? Hm… baiklah, tapi tidak sekarang. Nanti malam jam 6 malam, kita bertemu di SMA kita dulu, otthae?” Tanya Chanyeol.

Hana mengernyitkan dahinya heran.

“SMA? Kita kesana buat apa?” Tanya Hana bingung.

“katanya mau dihibur, kalau memang mau dihibur, datang saja. Jangan banyak tanya.” ucap Chanyeol sambil mengacak rambut Hana pelan.

 

 

@ 6 pm in Duijang High School

“Oppa dimana?” Tanya Hana ditelepon.

“Oohh Hana-ya, kau masuk saja kedalam. Oppa akan sedikit telat nih, jadi tunggu didalam saja ya.” ucap Chanyeol diseberang sana.

“ne, araseo.” ucap Hana sambil memutuskan sambungan telepon. Hana pun mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri.

“aishh, kenapa disini dingin sekali.” ucap Hana sambil berjalan memasuki SMAnya dulu.

Sudah lebih dari 2 bulan Hana tidak kesekolah ini, dan sejauh yang Hana lihat belum ada perubahan yang berarti pada sekolah itu.

Hana pun memasuki pintu utama sekolah ini, baru saja Hana melangkahkan kakinya masuk, Ia sudah di kejutkan dengan lampu-lampu yang bersinar disekitarnya.

“Mwoya? Sejak kapan sekolah ini menjadi pabrik lampu?” ucap Hana sambil memperhatikan lampu-lampu yang bersinar itu.

Tapi setelah dilihat-lihat, lampu-lampu itu membentuk sebuah tulisan.

“Welcome to Universitas Seoul?” ucap Hana membaca tulisan yang terbentuk dari kumpulan lampu itu.

Semakin lama, semakin banyak lampu yang dihidupkan seakan-akan member tanda bagi Hana untuk mengikuti pergerakan lampu itu.

Hana pun mengikuti kumpulan lampu-lampu itu yang berbentuk panah. Hana pun sampai di lab yang dulu sering Ia gunakan untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk ke Universitas Seoul.

Didepan pintu lab terlihat ada tulisan yang diberi lampu yang bertuliskan “Jurusan kedokteran untuk Mahasiswa yang bernama Lee Hana.”

“Mwoya? Kenapa ada namaku? Benar-benar memalukan.” ucap Hana sambil tersenyum malu

 Hana pun membuka pintu labnya, tapi ruangannya gelap, tidak ada pencahayaan sama sekali, bahkan lampu di luar pun seakan-akan mati semua.

“Lee Hana?” terdengar suara seseorang didalam lab.

“Ne? Nuguya?” Tanya Hana hati-hati.

Tiba-tiba lampu dilab menyala dan membuat Hana menyipitkan matanya sehingga Hana tidak melihat dengan jelas siapa yang ada dihadapannya kini.

“Selamat datang di Jurusan Kedokteran Universitas Seoul, Lee Hana-ssi, silahkan duduk disini.” terdengar suara berat dari seorang namja yang sangat dikenali Hana, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.

“Oppa, apa yang kau lakukan sekarang?” ucap Hana bingung sambil berjalan mendekati Chanyeol.

“Sstt, aku bukan Oppamu, tapi sekarang aku ini Saem-mu.” ucap Chanyeol sambil tersenyum jahil.

“Oppa, wae geurae?” ucap Hana manja.

“aku bukan Oppamu! Sekarang duduk di kursimu.” ucap Chanyeol sok tegas sambil menunjuk sebuah bangku yang terletak pas di tengah ruangan dan langsung berhadapan dengan Chanyeol.

Dengan kesal Hana pun beranjak untuk duduk dikursi itu. Chanyeol pun tersenyum melihat Hana yang menurut.

“baiklah, karena calon mahasiswanya sudah datang. Sekarang kita akan memulai testnya.” ucap Chanyeol sambil memberikan Hana kertas yang berisi soal itu.

“Test? Saem apa maksudmu dengan test?” Tanya Hana bingung, sedangkan Chanyeol hanya bisa tersenyum mendengar Hana memanggilnya Saem.

“Waeyo? Bukankah kau ingin masuk ke Universitas Seoul?” Tanya Chanyeol.

“Ne, keundae…”

“kalau begitu isi saja, jangan banyak alasan. Waktumu hanya 1 jam dari sekarang” ucap Chanyeol berubah menjadi serius.

Sedangkan Hana hanya bisa memandang Chanyeol kesal. Hana pun melihat soal-soal yang diberikan Chanyeol.

“Mwo?? 200 soal?” kaget Hana.

“wae? Keberatan? Kurang? Mau kutambah lagi?” Tanya Chanyeol jahil.

“Aniya, tapi sebanyak ini bagaimana bisa aku menyelesaikannya dalam waktu 1 jam.” Ucap Hana bingung.

“Ya!! sudah kubilang jangan banyak alasan.” ucap Chanyeol sambil memukul kepala Hana dengan setumpuk kertas. Hana hanya bisa mendengus kesal.

1 jam pun berlalu dan Hana belum selesai mengerjakan soalnya.

“waktumu sudah habis, kumpulkan jawabannya.” ucap Chanyeol sok jadi guru.

“tapi aku belum selesai.” ucap Hana ngotot mau menyelesaikan tugasnya.

“tidak ada tapi tapian.” ucap Chanyeol sambil menarik paksa soal dan jawaban Hana.

 

“apa ini? baru 79 soal? Kau gagal!” ucap Chanyeol singkat.

“mwo?? Kau bahkan belum memeriksanya.” protes Hana.

“tanpa memeriksanya juga  aku sudah tahu kau pasti gagal, dari 200 soal Cuma bisa menyelesaikan 79 soal, walaupun semua jawabanmu benar, memangnya berapa nilai yang kau harapkan? 40? 50? Pokoknya kau gagal.” cerocos Chanyeol panjang lebar sambil menjulurkan lidahnya.

“gagal ya gagal, lagi pula siapa yang bisa menyelesaikan soal sebanyak itu dalam waktu 1 jam. Hanya orang yang benar-benar jenius yang bisa. Lagi pula memangnya Oppa bisa menyelesaikannya?” ucap Hana dengan maksud merendahkan Chanyeol karena sejauh yang dia tahu, dia lebih pintar dari Chanyeol.

“tentu saja Oppa bisa.” ucap Chanyeol menyombongkan diri.

“huh! Percaya diri sekali, coba buktikan.” tantang Hana.

Dan akhirnya mereka bertukar posisi, dengan Hana yang menjadi pengawas dan Chanyeol yang jadi peserta test.

 

1 jam berlalu, Hana yang bosan menunggu pun sampai ketiduran.

“Selesai.” ucap Chanyeol yang sukses membangunkan Hana.

“selesai? Mana coba kulihat.” ucap Hana tidak percaya.

Setelah Hana melihatnya cukup lama, Hana pun membelalakan matanya sambil menatap Chanyeol kagum.

“bagaimana bisa? Oppa, bagaimana bisa kau menyelesaikan soal ini dengan begitu cepat. Isinya juga sepertinya betul semua.” ucap Hana tidak percaya.

“begitukah? Aku hanya mengisi setauku saja.” ucap Chanyeol santai.

“setaumu saja? Aku jadi ragu, nilaimu dikelas saja selalu dibawahku, mana mungkin kau hanya mengisi soal ini asal-asalan. Atau jangan-jangan Oppa memang sudah tau jawabannya, makanya dengan mudah bisa Oppa kerjakan soalnya. Iyakan? Ayo ngaku.” ucap Hana curiga.

“Haha… sekarang aku dicurigai. Lagipula soalnya mudah, jadi bukan hal yang sulit untukku menyelesaikannya.” ucap Chanyeol santai.

“lalu darimana Oppa mendapat soal ini?” Tanya Hana penasaran.

“tidakkah kau lihat cover depan soal itu?” ucap Chanyeol sambil menunjuk cover depan soal yang dipegang Hana.

“Universitas Seoul?” Tanya Hana bingung.

“bagaimana Oppa bisa mendapatkan soalnya?” Tanya hana cepat.

“temanku ada yang masuk ke Universitas Seoul, jadi aku minta soalnya saja, lalu sisanya aku cari soalnya diinternet.” ucap Chanyeol sambil menguap.

“dan Oppa bisa mengerjakan semuanya tanpa kesulitan sama sekali?” Tanya Hana yang mendapat anggukan dari Chanyeol.

“Daebak, Oppa Jinjja daebak. Tapi bagaimana bisa? Nilai Oppa selalu berada dibawahku.” ucap Hana tidak percaya.

“sebenarnya Oppa bisa mendapat nilai yang lebih tinggi darimu, hanya saja kau selalu saja memukul dan memarahiku kalau aku dapat nilai yang lebih tinggi. Dan lagi pula, aku kasihan padamu, sudah banyak yang kurebut darimu. Lapangan bermainmu, tempat persembunyianmu, bahkan prestasimu dibidang olahraga, masa aku harus merebut prestasimu dibidang akademis.” ucap Chanyeol sambil tersenyum dan mengacak rambut Hana pelan.

“Oppa…” ucap Hana sambil tersenyum.

“karena kau sudah gagal test masuk Universitas Seoul buatan Park Chanyeol, jadi bagaimana perasaanmu?” Tanya Chanyeol.

“masih seperti tadi.” ucap Hana sedikit berbohong, padahal perasaannya sudah jauh lebih baik dari tadi.

“begitukah? Hm… baiklah sekarang kita ke sesi wawancara saja.” ucap Chanyeol sambil kembali duduk di kursi pengawas.

“Ya!! bukankah aku sudah gagal tahap 1, bagaimana bisa aku masuk ke tahap 2?” Tanya Hana tidak terima.

“Ya!! yang jadi penyeleksi itu aku apa kau? Kalau aku bilang bisa ya bisa, lagipula inikan Universitas Seoul buatan Park Chanyeol, jadi aku bisa lakukan apapun yang aku mau.” ucap Chanyeol tak mau kalah.

“terserah saja lah” ucap Hana pasrah dan Chanyeol pun hanya bisa menunjukan senyum kemenangannya.

“Hm… jadi Lee Hana apa yang membuatmu ingin menjadi seorang dokter?” Tanya Chanyeol memulai sesi wawancaranya.

“dari kecil menjadi dokter adalah keinginanku, apalagi saat Halmeoni-ku meninggal karena penyakit jantung, semenjak itu aku ingin sekali menjadi dokter spesialis jantung.” ucap Hana sambil menundukkan kepalanya.

Chanyeol hanya bisa terdiam mendengar alasan Hana menjadi dokter.

“begitukah? Jadi kalau kau tidak bisa diterima disini apa yang akan kau lakukan?” Tanya Chanyeol lagi.

“aku… aku akan… molla-yo.” ucap Hana pada akhirnya sambil menghela nafas berat.

“Hana-ssi… kalau kau tidak bisa diterima sekarang, kau kan bisa coba lagi tahun depan. Kau bisa ambil sisi positifnya, bukankah dengan tidak diterimanya kau di Universitas Seoul kau bisa masuk ke Universitas yang sama dengan Park Chanyeol. Aku rasa dia akan sangat senang bisa se-Universitas lagi denganmu” ucap Chanyeol seketika.

Hana tercengang mendengar pernyataan Chanyeol.

‘Begitukah? ternyata Oppa ingin 1 Universitas denganku. Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali. Aku bahkan tidak memikirkan perasaan Oppa, dan aku malah menangis karena tidak masuk ke Universitas Seoul. Oppa mianhae.’ gumam Hana didalam hati.

“Ya!! bagaimana bisa Oppa memakai nama Oppa sendiri saat mewawancaraiku.” protes Hana.

“Ya!! Sudah kubilang sekarang aku ini bukan Oppamu, tapi aku tim penyeleksi.” ucap Chanyeol kesal.

“tapi tetap saja memakai nama orang lain saat wawancara itu tidak baik. Dan juga ‘kalau kau tidak bisa diterima sekarang, kau kan bisa coba lagi tahun depan.’ Mana ada tim penyeleksi yang menyarankan calon Mahasiswa yang gagal mencoba lagi tahun depan. Tim penyeleksi macam apa itu?” cibir Hana.

“Ya!! Yang tim penyeleksi itu aku atau kau. Terserah aku dong mau bilang apa. Lagi pula aku ini menyeleksi dengan hati, jadi aku tidak akan salah pilih. Dan karena kau menyebalkan, kau gagal lagi di ujian tahan ke-2 ini.” ucap Chanyeol.

“mwo?? Bagaimana bisa seperti itu? Dan apa itu menyeleksi dengan hati? Aku belum pernah dengar hal yang seperti itu.” protes Hana.

Belum sempat Chanyeol menjawab terdengar suara yang berisik diluar lab.

“Apa ada orang didalam?” Tanya seseorang diluar.

Hana bingung sedangkan Chanyeol hanya bisa membulatkan matanya kaget.

“Celaka, sepertinya kita ketahuan.” ucap Chanyeol singkat.

“Mwo? Ketahuan?” ucap Hana bingung.

Tiba-tiba pintu lab pun dibuka oleh orang diluar itu.

“Ya!! Siapa itu?” Tanya orang itu sambil menunjuk Hana dan Chanyeol.

“ayo kita pergi dari sini.” ucap Chanyeol sambil menarik tangan Hana, dan akhirnya malam itu mereka habiskan dengan kejar-kejaran dengan satpam penjaga malam Duijjang High School.

 

 

“universitas Seoul milik Park Chanyeol ya? Tapi dimana pemiliknya sekarang?”ucap Hana dengan suara yang pelan.

 

 

 

 

Baekhyun POV

‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau sedang berada diluar jangkauan, silakan dihubungi beberapa saat lagi.’ aku sudah mencoba berkali-kali menghubungi Hana tetapi yang selalu kudapatkan bukanlah suara manis Hana, tapi suara operator yang menurutku sangat mengganggu itu.

“Hana-ssi, kau ada dimana? Kenapa kau selalu membuatku khawatir.”ucapku sambil menatap layar Hpku yang terpampang foto Hana.

Aku pun memutuskan untuk jalan-jalan disekitar rumah sakit yang mungkin bisa menghilangkan kejenuhanku sejenak, tapi tiba-tiba aku mendengar sesorang mengetuk pintu yang menandakan ada yang datang keruanganku.

Aku pun segera membuka pintu dan mendapati Hana sedang berdiri sambil tersenyum manis di depan ruanganku. Senyuman manis pertama yang Hana berikan untukku.

“Annyeong Baekhyun-ssi.” ucapnya singkat.

Tumben sekali Hana datang kesini, Hana kan sangat tidak suka dengan rumah sakit, bahkan seingatku ini pertama kalinya Ia berkunjung ke ke rumah sakit tempatku bekerja.

Aku pun mempersilahkan Hana masuk dan berniat membuatkannya minuman.

“Hana-ssi, kau ingin minum apa? Biar aku buatkan untukmu.” ucapku sambil tersenyum, mulai dari aku menemukan Hana didepan ruanganku tadi sampai sekarang, aku tak henti-hentinya tersenyum.

“aku tidak ingin minum apa-apa Baekhyun-ssi, maksud kedatanganku kesini hanya ingin memberitahumu sesuatu.” ucap Hana sambil menunduk.

“memangnya kau mau bilang apa?” tanyaku sambil mempersilahkan Hana duduk.

“ini masalah pernikahan kita.” ucap Hana dengan suara yang pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“masalah pernikahan? Hana-ssi, jika kau belum siap tidak apa-apa, aku akan menunggumu sampai kau siap.” ucapku pada Hana dengan ekspresi yang semeyakinkan mungkin. Padahal jika benar itu yang ingin Hana katakan aku sungguh sangat kecewa.

“anniyo, bukan itu.” ucapnya singkat.

“bukan itu? Lalu apa? Apa kau mau membatalkan pernikahan kita?” tanyaku dengan hati-hati.

“tentu saja bukan.” ucap Hana cepat sambil menatapku.

“aku… aku akan menikah.” ucap Hana sedikit ragu.

“Ne? ”ujarku memastikan aku tidak salah dengar.

“aku akan menikah denganmu, aku siap.” ucap Hana dengan ekspresi yang lebih meyakinkan dari tadi.

“Hana-ssi, apa kau yakin?” tanyaku pada Hana. Kuharap dia benar-benar serius kali ini.

“Ne, aku serius. Aku akan menikah denganmu Baekhyun-ssi. Karena kau orang yang baik, aku akan menikah denganmu.” ucap Hana sambil tersenyum, senyum kedua yang diberikan Hana padaku.

Begitukah? Karena aku orang baik makanya Hana ingin menikah denganku.

Mendengar hal itu membuat senyum diwajahku semakin merekah.

“ne, kita akan menikah secepatnya.” Ucapku singkat.

 

Author POV

“Jinjja mianhae Hana-ssi, aku tidak bisa menemanimu melihat gedung hari ini. tiba-tiba saja ada operasi mendadak, jeongmal mianhea-yo.” ujar seseorang diseberang sana yang kini sedang teleponan dengan Hana.

“Gwenchana Baekhyun-ssi, lagipula operasi tidak bisa ditunda, kau harus berusaha semaksimal mungkin supaya operasinya berjalan lancar.” ucap Hana sambil berjalan ditrotoar menuju gedung yang akan dijadikan tempat resepsi pernikahannya dengan Baekhyun.

“Ne, Gomawo-yo Hana-ssi, kau sudah mau mengerti keadaanku. Nanti kalau operasinya sudah selesai, aku akan menjemputmu.” ucap Baekhyun senang.

“Anni, operasikan lebih penting, Baekhyun-ssi, Hwaiting.” ucap Hana sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat walaupun dia tahu Baekhyun tidak bisa melihatnya.

“Hana-ssi, nan… Saranghae.” ucap Baekhyun gugup.

Hana terdiam sejenak, Ia bahkan menghentikan langkahnya saking kagetnya.

Walaupun Hana sudah menerima untuk menikah dengan Baekhyun, tetapi untuk mengucapkan kata ‘Saranghae’ sepertinya Hana belum bisa.

“ne, arrayo.” ucap Hana sambil tersenyum kaku lalu memutuskan panggilannya.

Hana menghela nafas panjang sambil menatap kelangit yang sedang cerah hari ini.

“Mianhae Baekhyun-ssi, tapi kumohon beri aku sedikit waktu lagi.” ucapnya sebelum melanjutkan perjalannya.

 

Hana POV

“Ne, kami akan mulai mempersiapkan dekorasinya sekarang dan untuk pembawa acaranya kami juga bisa menyiapkannya.” ucap pemilik gedung ini yang bernama lengkap Kim Joon Myeon yang bersih keras menyuruhku untuk memanggilnya dengan sebutan Suho itu menawarkan jasa pembawa acaranya padaku.

“kalau pembawa acaranya kami sudah mempersiapkan.” ucapku kaku, jujur saja dalam urusan ini aku masih belum terlalu paham.

Aku saja masih bingung apa saja yang harus dipersiapkan, padahal pernikahanku akan dilaksanakan 1 minggu lagi.

“baiklah kalau begitu, tapi apa kalian telah memesan gereja?” ucap Suho lagi yang sukses membuatku membelalakan mata.

“benar gereja, kami belum memesannya. Kenapa bisa aku melupakan hal sepenting itu.” Ucapku sambil memukul-mukul pelan kepalanya.

“Aishh, bukankah sudah ku bilang jangan menyiksa kepalamu sendiri.”

aku tersentak, aku menaras tadi ada yang menarik tanganku menjauh dari kepalaku dan juga suara itu, aku mendengar lagi.

“kami bisa memesankannya untukmu.” ucap Suho yang membuatku tersadar dari lamunanku tentang suara itu.

“Ne? Memesankan gereja?” ucapku yang masih bingung.

“Ne, sebenarnya aku juga mempunyai sebuah gereja yang tidak terlalu jauh dari sini.”

 

Dan disinilah aku, berdiri didepan sebuah bangunan yang biasa disebut gereja.

Akupun menghela nafas berat, entah mengapa beberapa hari ini menghela nafas adalah hal yang sering kulakukan.

Aku melangkahkan kakiku memasuki gereja ini, kubuka pintu gereja ini perlahan.

 

“Lee Hana-ssi, apa kau bersedia menikahi saudara Park Chanyeol dengan segala kekurangan dan kelebihannya dalam duka maupun suka, miskin ataupun kaya. Apa kau bersedia?” ucap Chanyeol sambil memegang kedua tangan Hana.

“Tentu saja aku bersedia, keundae Oppa bukannya seharusnya pengucapan janji itu seperti ini,’ dalam suka maupun duka, kaya atau pun miskin.’ Kenapa Oppa malah menerbalikkan kata-katanya?” Tanya Hana bingung.

“Ya!!Lee Hana, memangnya kau mau suka dulu baru duka? Terus mau kita kaya lalu jatuh miskin? Bukankah yang bagus itu duka dulu baru suka, lalu miskin dulu baru kaya untuk selamanya?” ucap Chanyeol sambil menunjuk-nunjuk dahi Hana.

“Ooh, jadi begitu, karena aku sudah menjawab sekarang giliran Oppa.” ucap Hana sambil menarik nafas.

“Saudara Park Chanyeol, apakah kau bersedia menikahi saudari Lee Hana dengan segala kekurangan dan kelebihannya dalam duka maupun suka, miskin ataupun kaya?” ucap Hana sambil tersenyum senang.

“Ne, aku bersedia. Keundae, aku belum pernah melihat Pastur yang seorang yeoja. Bagaimana bisa seorang yeoja menjadi pastur. Ahh, kau ini pasti pastur gadungankan. Kalau begitu aku tidak jadi bersedia, bagaimana bisa aku mengucapkan janji suci dengan pastur gadungan sepertimu.” ucap Chanyeol sambil berjalan membelakangi Hana.

“Ya!! Oppa, berhentilah bercanda, itu tidak lucu.” ucap Hana yang sedang mengejar Chanyeol yang sudah siap-siap berlari itu dengan menjulurkan lidahnya.

 

Kedua orang itu seakan-akan berlari kearahku, aku pun berdiri menyamping memberi jalan untuk mereka lewat.

Dan diluar sana sekarang terlihat aku sedang memukul Oppa, walaupun aku sedang memukulnya, tapi terlihat kami sangat menikmati masa-masa seperti ini.

Dan sampai aku menyadari, bahwa semua itu hanya angan-anganku saja, seketika 2 orang yang kulihat sebagai aku dan Oppa menghilang begitu saja.

Aku pun membalikkan badan dan berjalan memasuki gereja ini. Gereja ini besar, kurasa cukup umtuk menampung semua orang yang diundang ke pesta pernikahanku.

Akupun terduduk dikursi panjang gereja ini, sudah lama aku tidak kegereja.

Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku ke gereja, mungkin 2 tahun lamanya, sama dengan lamanya aku kehilangan Dia.

Semenjak Dia tidak ada, aku sudah jarang ke gereja, karena biasanya selalu saja ada orang yang akan mengajakku ke gereja dengan senyum hangatnya yang tak pernah lepas dari wajahnya itu, siapa lagi kalau bukan Dia.

Aku pun menghela nafas dan berlutut untuk berdoa, hal yang sering kulakukan dengannya di gereja.

“Tuhan, jika memang ini takdir yang memang harus kulewati, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melewatinya. Dan juga untuk Dia, aku berharap Dia baik-baik saja, dan dia sedang hidup dengan baik dan bahagia disuatu tempat diluar sana. 1 minggu lagi aku akan menikah dengan seorang namja bernama Byun Baekhyun, aku tahu dia namja yang baik. Tapi hatiku, aku masih belum bisa membuka hatiku untuknya. Tapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakannya. Jika aku memang ditakdirkan untuk menikah dengan Baekhyun, aku akan melakukannya yang terbaik, bisa saja kami berjodoh. Tuhan, jika memang aku berjodoh dengan Baekhyun, maka aku mohon padamu bantulah aku menghilangkan perasaan ini, perasaanku padanya, bantulah aku melupakan segala hal tentangnya. Tapi jika aku memang tidak berjodoh dengan Baekhyun, maka aku mohon pertemukan aku dengan Dia lagi. Aku tahu ini sedikit kekanak-kanakan, berbicara tentang jodoh, siapa yang akan tahu aku berjodoh dengan siapa. Keundae bolehkah aku sedikit berharap, aku berharap bisa bertemu dengan Chanyeol lagi dan juga aku berharap jodohku bukan Byun Baekhyun, melainkan Park Chanyeol.”

 

 

Author POV

Baekhyun menepati janjinya, dia menyusul Hana setelah operasinya selesai dan walaupun sedang hujan dia tetap menuju ke gedung yang akan menjadi tempat resepsi pernikahannya nanti.

Tapi Ia tidak mendapati Hana disana, dan beberapa kali Baekhyun mencoba menghubungi Hana, tapi yeoja itu tidak juga mengangkat teleponnya.

“Jogiyo, apa tadi ada seorang yeoja yang bernama Lee Hana memesan gedung ini?” Tanya Baekhyun pada seorang namja yang kebetulan pemilik gedung ini.

“ah, ne. tadi Nona Lee memang kesini, apa kau calon pengantin prianya?” Tanya Suho itu tidak sabar.

“ah, iya. Keundae sekarang Hana-ssi ada dimana?” Tanya Baekhyun.

 

 

Sementara itu Hana sedang menunggu hujan reda di depan teras gereja.

“Aishh, padahal tadi langitnya sangat cerah, tapi sekarang kenapa malah hujan. Cuaca memang tidak bisa ditebak, keundae sepertinya aku melupakan sesuatu.” ucap Hana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berpikir-pikir sebentar.

‘Nanti kalau operasinya sudah selesai, aku akan menjemputmu.’

Hana mengingat pembicaraannya pada Baekhyun di telepon tadi.

“aahh iya, tadi Baekhyun bilang akan menjemputku, kenapa aku bisa lupa.” ucap Hana sambil ingin memukul kepalanya, tetapi sesaat Ia ingat perkataan Chanyeol dan Ia pun mengurungkan niatnya.

Hana pun membuka tasnya dan mencari suatu benda yang disebut ponsel itu, setelah mendapatkannya, Ia pun segera membuka ponselnya berniat menghubungi Baekhyun.

Tapi baru saja Ia membuka ponselnya, Ia melihat ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Baekhyun.

“Omo… dia bahkan sudah menghubungiku, bahkan dia mengirimi aku pesan. ”ucap Hana sambil melihat ada 21 missed call dan 8 pesan yang belum terbaca.

Dia pun membuka pesannya satu persatu dan rata-rata semuanya dari Baekhyun yang berisi,

 

“Hana-ssi, operasiku sudah selesai dan operasinya berjalan lancar berkat dukunganmu. ^^”

“Hana-ssi, sekarang aku akan pergi menjemputmu?”

“Hana-ssi sekarang aku sudah sampai didepan gedung, keluarlah aku menunggumu.”

“Hana-ssi, neo eoddiya?”

“Hana-ssi.. apa kau membawa payung?”

“Hana-ssi, aku akan masuk kedalam, jangan keluar. Disini sedang hujan.”

“Hana-ssi, aku sudah ada didalam gedung, neo eoddiya?”

Begitulah kira-kira isi pesan Baekhyun, tapi Hana mengernyit heran mendapati pesan ke-8 bukan dari Baekhyun melainkan  dari nomor yang tidak dikenal.

“apa aku mengenal nomor ini?” Tanya Hana bingung dan Ia pun memutuskan untuk membaca pesan itu.

“Oohh, igeo…”ucap Hana terhenti setelah membaca pesan ini, tanpa terasa airnya matanya jatuh membasahi pipinya, sambil menutup mulutnya tak percaya Hana menatap lurus kedepan.

Hana pun melihat jam ditangannya, jam 4. Great!

Kini Hana terlambat, tanpa memperdulikan hujan deras yang masih membasahi permukaan bumi ini, Hana berlari menembus kesejukkan angin musim gugur yang disertai dengan hujan.

Berkali-kali Hana harus terjatuh dan menabrak orang-orang yang juga sedang berlari menghindari hujan.

Tapi berbeda dengan Hana dia tidak ingin menghindari Hujan, dia malah dengan sengaja membasahi dirinya dengan hujan.

Bahkan dipikirannya sekarang bukanlah hujan, bahkan dia sudah lupa apa kegunaan Bis yang sering digunakannya itu.

Dia lebih memilih berlari sambil kehujanan daripada menghindari kehujanan dan menggunakan Bis agar bisa ketempat tujuannya lebih cepat dan setidaknya dia tidak akan kedinginan karena kehujanan.

Tapi sekali lagi, Hana lupa akan hal itu, dia tidak memikirkannya, ani lebih tepatnya dia tidak mau memikirkannya.

Karena sekarang yang ada dipikiran Hana hanya lah satu yaitu Park Chanyeol.

“Annyeonghaseyo Hana-ya, ani mungkin aku harus memanggilmu Hana-ssi. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Ah, mungkin kau akan bingung siapa aku ini, aku bahkan belum memperkenalkan diriku. Hana-ssi, apa kau ingat teman lamamu, mungkin aku bisa dibilang teman lamamu yang paling kau benci. Hahaha, bukankah itu yang kau bilang padaku di N’ Seoul Tower? Mungkin kau sudah bisa menebak siapa diriku sebenarnya. Ne, ini aku Park Chanyeol.”

 

TBC.

27 pemikiran pada “White Rose (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan ke Liu Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s