This is What I Called Love (Chapter 2)

Title : This is What I Called Love

Nama author : milkchocholate

Genre : Romance

Length : 2 of ? (on writing)

Main cast : Do Kyungsoo, Kim Cheonmi

Other cast : Kim Cheonmi’s parents, EXO-M Kris, (yg lain menyusul di chapter2 selanjutnya.. 😀 )

 

Author note :

Annyeonghaseyo yorobundeul~~ 😀

Aigoo-ya mianhae~~~~ *sujud ampun* aduh ini telatnya banget-banget-banget!!! TTATT

Merasa bersalah sama readersdeul, sama yg jadi castnya apalagi.. *ngewink minta maaf ke cheonmi* :*

Admin-nim gomawo lagi udh publish… hehe 😀

Pokonya makasih buat yang masih bersedia baca yaaaa.. jeongmal gomawoyoooo~~~ ^^ *cium satu2.. xD* saya ga mempermasalahkan teman-teman mau ngomen apa engga, mau like apa engga, udah dibaca aja udah makasih banget.. ^^ I really really appreciate it!! Jinjjayoooo~~ ^^

 

Enjoy!!! ^^

 

this is what I called love chap 2 cover

This is What I Called Love

 

Do Kyungsoo’s room, 11.50 pm

 

“Kyungsoo-ya..”

 

Kim Cheonmi masuk ke dalam kamar Kyungsoo dan menemukan pria itu tengah terlentang di ranjangnya dengan mata tertutup. Cheonmi mendekat, ia mengambil bantal disamping Kyungsoo yang tak terpakai, memeluknya, lalu duduk bersila di samping tubuh Kyungsoo. Pria itu tak kunjung membuka matanya untuk merespon Cheonmi.

 

Sepertinya hanya ada satu cara.

 

“Aku lapar Kyungsoo-ya..”

 

“Aku benar-benar kelaparan..”

 

“Kau tau kan kalau aku gampang merasa lapar?”

 

“Saat makan malam tadi aku tidak makan banyak..”

 

“Makanya sekarang aku kelaparan..”

 

“Aku tidak bisa tidur kalau perutku keroncongan..”

 

“Aku juga-“

 

Tiba-tiba mata Kyungsoo terbuka. Ia menatap Cheonmi dengan pandangan kesal, mengantuk, dan lelah sementara Cheonmi hanya menunjukan senyum lebarnya.

 

***

 

“Daripada hanya duduk lebih baik bantu aku menuang saus tomat ke dalam spaghettinya..”

 

Cheonmi mengerucutkan bibirnya lalu turun dari atas pantry tempatnya duduk tadi dan beranjak mengambil saus tomat.

 

“Kenapa botol saus ini tak mau bekerja sama denganku? Aigoo…”

 

Kyungsoo menatapnya dari balik lemari kaca dan hanya tersenyum. Ia menghampiri Cheonmi dengan keju di tangannya.

 

“Tuang lebih banyak, kau bilang mau kimchi spaghetti yang enak..” Cheonmi hanya mendelik dengan tatapan kau-pikir-ini-mudah pada Kyungsoo yang hanya dibalas tatapan tanpa ekspresi dari Kyungsoo.

 

Cheonmi pun kembali ke pantry untuk duduk setelah menyelesaikan tugasnya menuang saus tomat. Sedangkan Kyungsoo menaruh parutan keju diatas spaghetti lalu memasukannya ke dalam oven.

 

“Aku-“ belum juga ucapan Cheonmi keluar dengan sempurna Kyungsoo sudah berdiri di hadapannya, mengambil tisu di belakang tubuh Cheonmi dan berusaha membersihkan wajah Cheonmi yang kotor.

 

“Kau itu bodoh atau apa, hanya menuang saus tomat saja wajahmu sampai begini..” Cheonmi menatapnya kosong. Tak tau harus berfikir dan bersikap bagaimana terhadap perlakuan Kyungsoo yang seperti itu. Namun ekspresinya dengan cepat berubah, kembali menjadi Cheomi yang cerewet dan berisik.

 

“Ya! Kau pikir aku anak-anak? Aku bisa sendiri..” Cheonmi membersihkan lagi wajahnya dengan ekpresi kesal.

 

Tak lama Kyungsoo mengeluarkan hasil masakannya dari dalam oven dan menaruhnya di piring. Ia lalu menyerahkannya pada Cheonmi dan mereka pun duduk bersama di meja makan.

 

***

 

“Massita!! Do Kyungsoo jjang!!” Cheonmi telah menghabiskan kimchi spaghettinya dan kini tengah meminum susu hangat yang Kyungsoo buatkan untuknya. Ia menyimpan mugnya, mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya lalu tersenyum puas sambil menepuk-nepuk pelan perutnya.

 

“Aku harus bangun pagi-pagi sekali karena besok ada urusan penting di kampus, jadi kuharap kau tak akan masuk ke kamarku dan menerorku lagi, mengerti?” Kyungsoo yang duduk di hadapannya menatapnya dengan wajah memperingatkan sementara Cheonmi tersenyum lebar sambil mengangguk dengan wajah puas.

 

***

 

Myeongdong, Seoul, 08.30 pm

 

“Kita sudah hampir seharian berkeliling dan kau belum juga mendapatkan barang yang kau maksud, sebenarnya kau mau beli apa?”

 

Cheonmi duduk di salah satu kursi cafe tempat mereka istirahat lalu menyeruput colanya perlahan, ia menghela nafas lalu menyenderkan tubuhnya lemas sementara Kyungsoo tengah asyik memakan spaghetti krim miliknya.

 

“Sebenarnya, kau, memaksaku menemanimu kesini, untuk membeli apa, nona besar?” Kyungsoo yang sudah kesal lalu mengeja kalimat tanyanya untuk Cheonmi yang sepertinya tidak peduli sama sekali dengan raut wajah kesalnya yang sudah mengalahkan kerutan wajah seorang kakek tua.

 

“Kalau aku tau sudah daritadi kita pulang..” Cheonmi menundukan wajahnya, kembali melamun.

 

***

 

“Koki disini susah payah membuatkanmu spaghetti dan kau membiarkannya dingin tanpa kau sentuh sama sekali? Jadi begini cara anak pemilik restoran terkenal memperlakukan makanan?”

 

Cheonmi mengangkat wajahnya mendengar perkataan Kyungsoo dan sesendok penuh spaghetti dengan tiba-tiba memaksa masuk ke dalam mulutnya. Kyungsoo kemudian tersenyum melihat Cheonmi yang terlihat ingin mengomel namun terhalang makanan di dalam mulutnya. Saat kunyahannya memelan, Kyungsoo dengan cekatan memasukan lagi makanan ke dalam mulut Cheonmi. Terus seperti itu sampai spaghetti di piringnya habis.

 

“Ya! Kau mau membunuhku?”

 

“Aku hanya mempercepat proses kepulangan kita ke rumah, aku akan membayar dan saat aku kembali kau sudah harus memutuskan akan membeli apa, mengerti nona besar?”

 

Kyungsoo kembali ke mejanya sambil memasukan dompetnya ke dalam saku celananya. Ia melihat Cheonmi yang tengah melamun. Jangan bilang gadis itu masih belum memutuskan apa-apa?

 

“Kim-“

 

“Hadiah untuk ulang tahun seorang pria, aku mencari benda seperti itu..”

 

“Tapi aku sedang tidak ulang tahun..”

 

Cheonmi memandang Kyungsoo dengan wajah datar, ia menghela nafas lelah mendengar pernyataan polos Kyungsoo, pria di hadapannya ini benar-benar tampak seperti anak-anak kalau sudah berekspresi polos seperti itu.

 

***

 

Yonggeumok restaurant, Da-dong, Seoul, 07.00 pm

 

“Seharian ini kau sudah mengulang cerita itu berulang kali Cheonmi-ya..”

 

“Tapi aku sangat senang..” ujar Cheonmi sambil memutar-mutar sumpit di tangannya, terlihat sangat gembira. Mereka tengah berada di dapur restoran milik orang tua Cheonmi. Seharian ini Cheonmi terus membuntuti Kyungsoo dan menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Membuatnya dimarahi ibunya karena mengganggu pekerjaan Kyungsoo. Tapi bukan Kim Cheonmi namanya kalau berhenti karena perkataan ibunya. Cheonmi seakan kebal dengan teriakan ibunya dan tetap saja mengekor Kyungsoo kemanapun.

 

“Kau masih mau ikut?” ucap Kyungsoo di depan pintu kamar mandi, Cheonmi mengerucutkan bibir dan melengos pergi dari hadapan Kyungsoo.

 

***

 

Do Kyungsoo’s room, 09.30 pm

 

“Jadi Kris oppa bilang terimakasih dan bilang kalau hadiah itu akan ia simpan terus..”

 

“Kris?”

 

Kyungsoo membalikkan tubuhnya menghadap Cheonmi yang duduk di ranjangnya sementara ia sendiri tengah mengerjakan tugas laporannya di meja belajar.

 

“Wae?”

 

“Kau tak pernah bilang padaku kalau nama pria itu Kris..”

 

“Jinjjayo? Ah.. sudahlah, yang penting kau sudah tau sekarang.. sekarang ayo ajari aku lagi materi ini.. seminggu lagi aku ujian masuk universitas..”

 

Cheonmi kembali berkutat dengan buku-bukunya sementara Kyungsoo masih saja mengerutkan keningnya bingung.

 

“Kris??”

 

***

 

Hanyang University, Seongdong-gu, Seoul, 08.00 pm

 

“Kyungsoo-ya!!!”

 

Seorang gadis berlari kecil menghampiri Kyungsoo yang baru saja keluar dari perpustakaan. Kyungsoo tersenyum menunggu gadis itu sampai benar-benar berada di hadapannya.

 

“Kemarin aku dan keluargaku ke rumahmu dan bibi bilang kau kabur. Aigoo.. sudah besar rupanya kau sekarang, hah?”

 

“Ibu itu berlebihan, aku pergi dari rumah atas seizin ayah, hyung, dan ibu sendiri ko’..”

 

“Baiklah-baiklah.. sekarang katakan padaku dimana kau tinggal?”

 

“Dan membiarkan nuna mengatakannya pada ibu, lalu ibu akan tau dan menyuruhku pulang?”

 

Gadis itu tertawa mendengar perkataan sepupu kesayangannya itu. Ayahnya adalah kakak dari ibu Kyungsoo. Ia, Kyungsoo dan kakak Kyungsoo sangat dekat dan sering bermain bersama sejak kecil. Kalau ketiganya sudah berkumpul Kyungsoolah yang biasanya akan menjadi bahan pembullyan mereka.

 

“Kau benar-benar.. bibi khawatir padamu dan sangat merindukan anak bungsunya ini..” gadis itu mengacak rambut Kyungsoo pelan.

 

“Tolong bilang pada ibu aku baik-baik saja..”

 

“Mau membayarku berapa kau berani-beraninya menyuruhku, hah?” ujar gadis itu dengan nada bercanda.

 

“Aish jinjja.. ayolah nuna. Sekali-kali bantu adikmu ini, ne?”

 

“Cih.. ada maunya saja baru kau mengaku-ngaku adikku, menyebalkan..” gadis itu terkekeh lalu mereka tertawa bersama. Tiba-tiba ponsel milik gadis itu berbunyi, ia terlihat berbicara sebentar lalu memutuskan panggilan itu. Gadis itu beranjak pergi meninggalkan Kyungsoo.

 

“Aku akan bilang pada bibi kalau anaknya semakin kurus dan tak punya uang sama sekali untuk makan, tidur juga di jalanan, lalu-“

 

“Nuna-ya..” Gadis itu tertawa kencang mendengar panggilan sepupunya itu. “Kris sudah menjemputku, aku harus pergi Kyungsoo-ya..” gadis itu tak berniat meralat perkataannya yang tadi membuat Kyungsoo memanggilnya kesal. Gadis itu terus saja berjalan menjauh.

 

“Kris?”

 

Gadis itu berhenti dan menoleh menatap Kyungsoo.

 

“Itu nama pacarku sejak dua tahun yang lalu Kyungsoo-ya, kau sudah pernah kukenalkan dengannya, ingat?” gadis itu pun kembali berjalan sementara Kyungsoo lagi-lagi mengerutkan keningnya bingung.

 

“Kenapa akhir-akhir ini banyak orang bernama Kris?”

 

***

 

Do Kyungsoo’s room, 11.00 pm

 

“Yang ini dikali ini, terakhir bagi dengan hasil tadi..”

 

“Kau sudah mengulang kalimat itu jutaan kali Do Kyungsoo..”

 

“Dan jutaan kali juga kau salah menjawabnya Kim Cheonmi..”

 

Kyungsoo terkekeh pelan melihat kerutan di wajah Cheonmi yang semakin banyak seiring dengan soal-soal matematika yang terus ia berikan pada gadis itu.

 

“Senang ya melihatku menderita begini?” sindir gadis itu  melihat Kyungsoo yang tengah terkekeh sambil menatapnya. Tapi bukannya menjawab, Kyungsoo malah mengacak rambut Cheonmi.

 

***

 

Kim Cheonmi’s room, 06.30 am

 

“Ireona Cheona-ya..”

 

Kyungsoo melongokkan kepalanya ke dalam kamar Cheonmi lengkap dengan apron putih dan baju pegawai khas yonggeumok restaurant. Ia baru saja selesai membereskan pekerjaan paginya membersihkan restoran lalu kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

 

“Mwoya?? Untuk apa aku bangun pagi-pagi? Ini hari minggu tau..”

 

Mendengar itu Kyungsoo hanya mengerutkan keningnya dan melihat coretan spidol biru tua di tanggal hari ini pada kalender milik Cheonmi. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya lalu menarik kepalanya lagi dari dalam kamar Cheonmi setelah sebelumnya mengatakan sesuatu yang membuat Cheonmi langsung membulatkan matanya.

 

“Kalau kau mau melewatkan ujian masuk universitasmu hari ini sih terserah..”

 

***

 

“Aku berangkat!!”

 

Selesai berurusan dengan sepatunya, Cheonmi menghampiri Kyungsoo yang tak sengaja lewat dihadapannya, mengambil asal sandwich di piring yang tengah Kyungsoo pegang dan langsung berlari keluar rumah.

 

“Hwaiting Cheonmi-ya!!”

 

Ibu Cheonmi berteriak menyemangati anaknya yang sudah berlari di jalanan menuju halte.

 

***

 

Sookmyung Women’s University, Yongsan-gu, Seoul, 10.30 am

 

Seorang gadis turut serta dalam lautan manusia yang memenuhi beberapa papan pengumuman yang memuat hasil ujian masuk universitas yang baru diikutinya beberapa minggu yang lalu. Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya gadis itu berhasil mencapai garis terdepan dan dapat melihat dengan jelas nama-nama siswa yang berhasil lulus dalam ujian tersebut. Sekian lama mencari, akhirnya gadis itu tersenyum lalu dengan ringan berbalik dan berjalan menuju halte untuk pulang ke rumahnya.

 

***

 

Kim Cheonmi’s room, 09.00 pm

 

Kim cheonmi masih menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut. Suara tangisannya sudah mereda, berarti sekarang ia sudah bisa keluar dari pengapnya selimut tebal itu.

 

“Apa saja yang kau lakukan di dalam sana? Aku hampir mati kebosanan menunggumu..”

 

Cheonmi terperanjat kaget begitu melihat Kyungsoo yang tengah duduk di kursi lengkap dengan nampan berisi makanan di atas meja di sampingnya.

 

“Sedang apa kau disini?” Cheonmi berusaha menghapus sisa air matanya dan menutupi wajahnya dengan rambut yang ia buat acak-acakan.

 

“Bibi dan paman pergi menghadiri pesta ulang tahun teman lama paman, sebelum pergi bibi menyuruhku menyerahkan makanan itu untukmu, katanya kau belum makan malam. Ayo cepat makan, aku-“

 

“Aku gagal..” Cheonmi tertawa namun ekpresi wajahnya bertolak belakang dengan suara tawa cerianya. Lalu suara tawanya pun hilang perlahan.

 

Kyungsoo terdiam melihat perubahan ekspresi wajah Cheonmi. Ekspresi kecewa, sedih, dan menyesal begitu kentara terlihat di wajahnya. Membuat Kyungsoo bangkit dari kursinya lalu duduk di samping Cheonmi di sisi ranjangnya. Ia mengusap puncak kepala Cheonmi lembut.

 

“Aku tak tau apa arti dari ekpresi wajah ibu dan ayah tadi, aku benar-benar tak tau Kyungsoo-ya..”

 

Kyungsoo tak menjawabnya, hanya diam dan memperhatikan dengan fokus penuh setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu.

 

“Ayah dan ibu pasti kecewa. Aku gagal..”

 

“Lalu apa? Setelah kau gagal lalu apa?”

 

Cheonmi menatap Kyungsoo dengan kening berkerut. Kyungsoo menurunkan tangannya dari atas kepala Cheonmi lalu menyentil kening gadis itu.

 

“Bodoh.. Tentu saja berusaha lagi. Kau tak mau jadi keledai yang mengulang kesalahan dan kegagalan yang sama, kan?”

 

Mereka berdua pun tertawa bersama. Kini dengan ekspresi semangat dan penuh keyakinan terpatri di wajah Cheonmi.

 

***

 

“Jadi sebenarnya kau itu khawatir padaku kan Kyungsoo-ya?”

 

Kyungsoo menghentikan langkahnya yang sudah hampir mencapai pintu, ia berbalik menghadap Cheonmi dengan senyum jenaka khasnya.

 

“Sebenarnya alasan utamaku membuat kau berhenti menangis itu..”

 

“Apa? Bilang saja kau benar-benar meng-“

 

“Karena saat kau menangis kadar kejelekan wajahmu itu bertambah parah Cheona-ya…”

 

Genderang perang sudah berbunyi nyaring. Cheonmi berlari mengejar Kyungsoo yang ternyata sudah memulai start duluan dengan berlari ke arah tangga menuju ke lantai satu. Cheonmi terus mengejar Kyungsoo yang berlari lebih cepat dari perkiraannya. Mereka terus berlari dan saling mengejar, berusaha melupakan satu kisah menyedihkan hari itu dengan tertawa bersama.

 

“Berhenti disana Do Kyungsoo!!”

 

***

 

Kim Cheonmi’s room, 06.00 am

 

Kyungsoo keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Ia mengerutkan kening begitu melihat isi kamar gadis itu sudah rapi dan lebih kaget lagi saat melihat gadis itu sudah duduk manis di meja belajarnya dan terlihat tengah berhadapan dengan deretan angka dan simbol yang paling dibencinya. Ia tersenyum sekilas lalu keluar ruangan itu setelah sebelumnya menepuk bahu gadis itu perlahan, memberi semangat.

 

***

 

“Kau sudah melewatkan sarapanmu dan sekarang sudah masuk waktu makan siang, masih tidak mau makan? Tubuhmu sudah kurus kering tanpa perlu diet lagi Kim cheonmi..”

 

Pintu di hadapan Kyungsoo pun terbuka, menampakkan Cheonmi yang tengah memegang sebuah buku lengkap dengan tatapan datarnya. Ia pun memukul kepala Kyungsoo dengan buku di tangannya.

 

“Seenaknya menghinaku, dasar anak kecil..” Cheonmi pun menyerahkan bukunya dan mengambil alih nampan berisi makan siang yang dibawakan Kyungsoo untuknya. Cheonmi duduk di atas ranjangnya dan makan dengan lahap, terlihat begitu kelaparan setelah seharian belajar tanpa makan. Kyungsoo yang ia suruh memeriksa hasil pekerjaannya hanya menggerutu, protes karena waktu istirahat makan siangnya malah diisi dengan pekerjaan baru lagi. Tapi biarpun begitu Kyungsoo tetap memeriksanya dengan serius dan fokus. Membuat Cheonmi hampir menyemburkan makanan di mulutnya karena melihat ekspresi serius yang keluar dari wajah pria itu. Ekspresi seriusnya itu malah membuatnya semakin lucu karena kurang cocok dengan wajah anak-anak yang dimiliki pria itu.

 

***

 

Seokyeong University, Seongbuk-gu, Seoul, 01.00 pm

 

Do Kyungsoo berlari kecil sambil membetulkan letak buket bunga di tangannya. Lagi-lagi ia melihat ponselnya. Nihil. Tak ada pesan atau apapun yang ia harapkan datang dari gadis yang akan ia temui sekarang. Ia kurang familiar dengan lingkungan kampus ini karena ia memang tidak tercatat sebagai mahasiswa disana. Tak lama Kyungsoo pun menemukan kumpulan manusia yang tengah memenuhi papan pengumuman, ia tersenyum lalu dengan semangat mencari-mencari gadis itu lagi.

 

Senyuman di wajah pria itu semakin lebar saat dari arah kanan ia melihat tas hitam yang sangat familiar baginya bergoyang di belakang tubuh seorang gadis yang tengah membelakanginya.

 

“Gomawoyo Kris oppa.. akhirnya aku bisa masuk universitas ini..”

 

“Kenapa berterimakasih padaku? Kau yang sudah bekerja keras..”

 

Gadis itu, dan lelaki di sampingnya tertawa bersama. Lalu pria itu merangkul bahu gadis itu dan mereka pun berjalan menjauhi tempat Kyungsoo berdiri sekarang.

 

“Aku traktir es krim, bagaimana?”

 

“Johayo!!”

 

Kyungsoo hanya terpaku menatap pemandangan di hadapannya itu. Ia hanya tersenyum, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menghinggapinya dan membuatnya sesak entah karena apa.

 

“Selamat bersenang-senang Kim cheonmi..”

 

***

 

TBC

 

Jreng jreng jreng~~ *sound effect gagal -_-* ternyata ada Kris!! Hohoho..

Kenapa Kris? Wae? Wae? Entahlah, rasa-rasanya cocok aja dan kalo ga puas sama jawaban saya bisa tanya castnya aja langsung.. hehehe..

Dan itu spaghetti sesuai resepnya D.O sendiri waktu di acara radio Choi Hwa Jungs Power Time ya.. ada yang inget? ^^ rada lupa sih sebenernya detailnya gimana, tapi anggap spaghettinya sesuai sama yang dijelasin D.O itu deh ya.. hehe..

Sampai ketemu di next chapter yaaaa…

pai pai~~~ 😀

Iklan

9 pemikiran pada “This is What I Called Love (Chapter 2)

  1. Wah, kaya nya next chapter bakal ada konflik nih, hahaha

    Kris jadi playboy ya disini??
    Ishh, dasar!!!
    Kyungsoo nya juga belum sadar apa ya dgn perasaan nya sendiri??
    Aishh, bikin greget itu anak!!! >.<

    Oh iya, yg jadi hyung nya Kyungsoo siapa??

  2. aduh thooor..
    FFnya kurang nendang(?) *ajarin silat makanya*
    Alurnya terlalu cepet dan aku gak tau gimana respon cheonmi sama kata2 dio di akhir cerita part sebelumnya, aku kira bakal dijelasin di ff ini haha

    Tapi itu kris terlalu tinggi! Haha..kasian dio kalah pamor wkwkwk

    Tapi asli. Adegan di dapur bikin cenat-cenut!! Haha..
    Hati saya melempem kayak kue apem haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s