We Were In Love (Chapter 7)

“WE WERE IN LOVE”

 

 

  • Title: “We were In Love”
  • Author:            Radtnha Anggraini (facebook.com/ bbuingbbuing.virus)

에피아 (facebook.com/JoUpin.stoleMyheart)

  • Main Cast:

            – Kim Jong In

            – Park Chanhee (OC)

            – Kim Yae In (OC)

            – Park Chanyeol

            – Byun Baekhyun

  • Support Cast: EXO member
  • Genre: Romance
  • Length: Chaptered
  • Rating: Teen

Author : No Author POV xD

 우리 사랑했잖아 그림 (44)

Part 7…

 

Ting…tong..belum sempat ku buka sudah ada tamu.

 

“Annyeong ha..Yae In-ah” sapaku lembut padanya.

 

“Cihh….Apa yang kau lakukan semalam dirumahku?” deghh bagaimana dia tau.

 

“Ba…ba..”

 

“Cincinmu tertinggal di kamar mandi rumahku”

 

“Bisa kita bicara di tempat lain?” pintaku halus,

 

“Wae? Kau takut kakakmu…atau Baekhyun-sshi tau..”

 

“Bisa kau jaga perkataanmu itu?” ku remas jari jariku, sungguh perkataannya sangat kejam.

 

“Baiklah…jadi apa yang mau kau jelaskan padaku Nona Park?” dia berkata sembari menepuk pelan pundakku dan menyeringai. sungguh tidak seperti sahabatku yang dulu.

 

“Aku..aku” ah sial kenapa lidahku tak mau bergerak.

 

“Apa kau semalam tidur dengan Jong In?” plakk. apa sebenarnya yang dia pikirkan? Sepicik itukah pikirannya padaku?

 

“Neo..” satu tangannya melayang hampir menamparku jika tak dihalangi Baekhyun oppa.

 

“Yae In-sshi jaga sikapmu”

 

“Kau Bodoh!! Kau ditipu oleh wajah innocentnya” Yae In menatap tajam padaku, ku alihkan pandanganku pada Baekhyun oppa.

 

“Aku tak melakukan apapun..” Baekhyun oppa percayalah padaku, batinku.

 

“Aku yakin dia tak seperti yang kau pikirkan Yae In-sshi” Baekhyun oppa berdiri di hadapanku. Melindungiku dari amukan Yae In.

 

“Chanhee-sshi ku harap kau tak mengganggu hubunganku dengannya. Dan Baekhyun-sshi urusi calon istrimu ini dengan baik”

 

Yae in mengakhiri perkataannya sembari meletakkan cincinku di telapak tangan Baekhyun oppa. Oh Tuhan…ku harap dia tak salah sangka padaku.

——–

 

Chanyeol POV

 

“Monggu-yya makan yang banyak”

 

“Apa maksudnya ini?” heyy itu seperti suara Baekhyunnie.

 

“Jangan salah paham oppa” Kentara sekali bahwa mereka sedang bertengkar.

 

“Kalian masuklah, tak enak dilihat tetangga” ucapku menemui mereka.

 

“Aku hanya mabuk dan Jong In membawaku kerumahnya” Baekhyun terlihat sedang menahan amarahnya. “Kami tak melakukan apapun”

 

“Kau masih mencintainya kan?” pertanyaan yang terlontar dari Baekhyunnie membuat Chanhee terdiam. Kurasa mereka butuh waktu untuk berdua. Kuputuskan untuk kembali ke kamarku. “Sampai kapan aku harus menunggumu huh? Aku tau kau masih mencintainya!!” Bahkan teriakan Baekhyun sampai terdengar dari kamarku.

 

“Hahh….baru kali ini mereka bertengkar sehebat ini” Sayup – sayup ku dengar isakan Chanhee. Dan helaan nafas berat dari calon iparku.

——-

 

Yae In POV

 

“Palli!!” Sudah setengah jam Kkamjong menyuruhku meminta maaf pada err…Chanhee dan aku menolaknya. Untuk apa aku meminta maaf? wajar bukan jika aku marah padanya.

 

“SHIREO!!” aku tetap kukuh dengan pendirianku. Kini dia menatapku dengan tatapan yang menyeramkan. Oke aku kalah sekarang.

 

“Mau kemana kau?” tanyanya saat aku beranjak dari dudukku.

 

“Aku tak mau kau menertawaiku karena meminta maaf.” Ku langkahkan kakiku menuju toilet, setidaknya itu yang paling aman menurutku.

 

Ku pencet beberapa nomor dengan ragu-ragu.

 

Tutt…tutt… jangan di angkat ku mohon..

 

“Yeobeoseyo…” aiissh.

 

“Yeobeoseyo…Chanhee-sshi. Aku hanya ingin meminta maaf atas perlakuanku hari itu.” Ucapku to the point

 

“hhhh…ku pikir kau tak tulus mengucapkannya!” dia mulai pintar rupanya. Ku utarakan alasanku mengapa meminta maaf padanya. Dan tanggapannya sungguh memuakkan dan pada ujungnya kami mulai berdebat lagi.

 

“Aku tak mau ketinggalan pesawat karena berdebat denganmu Agasshi..”

 

“Pe….sa…wat ??” babo kenapa aku keceplosan.!!

 

“Keurae…kami berdua akan kembali ke Jeju sekarang…dan pesawat kami akan segera take off”

 

Tut…tut..tut.. Issh orang ini sungguh tidak sopan.

 

——-

 

Chanhee POV

 

“Aku tak mau ketinggalan pesawat karena berdebat dengan mu Agasshi..” perkataannya menghentikan perdebatan kami beberapa waktu yang lalu.

 

“Pe….sa…wat ??” ulang ku memastikan.

 

“Keurae…kami berdua akan kembali ke Jeju sekarang…dan pesawat kami akan segera take off”

 

Bipp. Segera ku matikan ponselku dan berlari keluar mencoba mencari taxi agar aku bisa segera ke Bandara.

 

Kenapa mereka pergi lagi ?? andwae, aku tak bisa kehilangannya. Ku percepat langkah kakiku, saat ingin menyeberang ada mobil Hyundai merah berhenti di depanku.

 

“Oppa!!” tanpa ba bi bu aku langsung masuk dan tersenyum menang. “Jangan tanya ayo kita ke bandara sekarang!!” dia hanya bisa mendengus kesal padaku. “Oppa cepatlah sedikit!!”

 

“Ya kau cerewet sekali. Sebenarnya ada apa!!”

 

“Diamlah nanti kau juga tau!! Palli!!”

 

Saat kami sampai, yang pertama kali kulakukan adalah melihat papan pengumuman dan BINGO!! Pesawat menuju Jeju belum berangkat. Ku telusuri bandara ini mencari sosok Jong In tapi tak kunjung ketemu.

 

“Ya, sebenarnya apa yang kau cari ??” sepertinya Chanyeol oppa sudah geram dengan sikapku yang berlari tanpa arah.

 

“Jong…In..Yae….In akan kembali ke Jeju!!” matanya melotot tak percaya. Tak ku pedulikan lagi kakak ku yang satu itu dan focus pada pencarianku.

 

“Park Chanhee-ssi ??” ku tolehkan kepalaku ke kanan, ku hampiri dirinya dan memeluk tubuh yang lama ku rindukan

 

“Gajima…jebal” tubuhnya diam mematung. Aishh Chanhee Pabo apa yang kau lakukan??. Ku lepas pelukanku padanya dan meminta maaf.

 

“J-jeosonghamnida”

 

“Wae ?”

 

“Ania…” hening, tak ada yang ingin berbicara hingga suara operator mengagetkan kami.

 

Penerbangan menuju Pulau Jeju akan segera take off, para penumpang dimohon untuk segera memasuki kabin.

 

Jangan pergi…kumohon. Pintaku dalam hati. Dengan wajah dinginnya dia berjalan mendekat ke arahku.

 

“Kau sangat manis” ku tolehkan kepadanya dan cup satu kecupan singkat mendarat di pipiku. Ku pegang pipi kananku, hangat.

 

Apa maksudnya ini? berbagai pertanyaan berkelebat di kepalaku. Senang, sedih dan bingung. Ku lihat sekelilingku dia sudah masuk ke dalam kabin.

 

Matda…aku melupakan Chanyeol oppa. Sebaiknya aku menunggunya di tempat parkir.

 

——–

 

Chanyeol POV

 

Setelah memberitahukan bahwa Jong In dan Yae In yang akan kembali ke Jeju Chanhee terus berlari dan melupakanku. Apa yang harus aku lakukan? mencari Yae In, untuk apa?

 

Setelah sadar dari lamunanku, Chanhee sudah berlari sangat jauh. Ku kejar kembali dirinya. Ah itu dia, dan yang dilakukannya adalah berpelukan dengan MWO!!! Dia berpelukan dengan Jong In.

 

Saat pelukan mereka terpisah, aku bisa melihat Yae In dari sini. Sungguh tepat posisi kami sekarang. Jong In dan Chanhee sedang berhadapan sedangkan dari sisi kiri ada diriku dan disisi kanan adalah Yae In. tidakkah ini sungguh Perfect?? seakan takdir menjawab bahwa aku dan Yae In adalah penyebab retaknya hubungan mereka berdua.

 

Tatapanku memang tak se-nanar tatapan Yae In pada mereka. Matanya mulai mengeluarkan air bening saat Jong In mengecup pelan pipi dongsaengku itu. Apakah dia sudah benar-benar mencintai Jong In? Sungguh hati ini semakin sesak mengetahuinya.

 

Satu langkah…dua langkah…tiga langkah….perlahan aku mendekati dirinya yang masih mematung setelah kepergian pasangan lama tadi. Dia menatapku seolah meminta bantuan, tatapannya berbeda saat terakhir kami bertemu.

 

“Jeosonghabnida, saya harus pergi” itulah kata yang dia ucapkan saat jarak kami hanya kurang dari satu langkah.

 

Keheningan melanda kediamanku, entah karena apa mulut kami sekan membisu untuk sekedar berbicara. Bahkan isi pesan dari Baekhunnie yang mengatakan bahwa aku harus menysulnya ke Jeju tak mampu membuatku tersenyum. Jeju..wae? ini sungguh menjengkelkan.

 

 

the following day….

 

“Oppa..Gwenchana? wajahmu terlihat tak bersemangat sejak kemarin” Chanhee mencoba memecah keheningan yang terjadi saat kami tiba di Pulau Jeju. Belum sempat menjawab pertanyaan Chanhee, tanganku beralih mengangkat panggilan di ponselku.

 

“Sudah sampai eoh ?” baekhyunnie sudah membuka suaranya.

 

“uhmm…tempatnya dimana ?”

 

“Tempatnya di Secret Hotel” segera kuberitahukan lokasi yang akan kami tuju kepada sopir taksi. “Neo..ara ? ku dengar pengantinnya lebih muda daripada kita. Sekarang aku jadi merasa semakin tua hahahaha…”

 

“Benarkah ?? hahaha aku juga merasa semakin tua..”

 

“aku seperti mengenal nama pengantinnya…eum chankanman. Ketemu!! Namanya…Kim…Jong In..Kim Yae In ??”

 

DEG…. Kurasa jantungku berhenti berdetak sekarang, bagaimana bisa!! Ku matikan ponselku, dan menaruhnya di  dalam tas. Mereka menikah? Sekarang?? ekspresi apa yang harus ku pasang saat bertemu nanti.

 

 

“Baekkie-ah!” teriakku saat kudapati dia tengah menunggu kami didepan Secret Hotel. Dia tersenyum dan melambai kearah kami.

 

Kulirik Chanhee, dia sedikit ragu – ragu untuk memasuki ruang yang sudah di penuhi orang – orang berpakaian rapi itu.

 

“Kalian sedikit terlambat..ayo, acara akan segera dimulai” Kami mengikuti Baekkie memasuki ruang yang cukup besar itu. Ruangan bernuansa putih tersebut ditata sedemikian indahnya dan di setiap sudutnya di penuhi bunga – bunga. Benar – benar pernikahan yang sangat mewah.

 

“Baekhyun~sshi..” seseorang memanggil Baekhyun, si empunya nama menoleh dan melangkah mendekati seorang lelaki berpakaian formal dengan setelan jas yang sangat rapi. Setelah bersalaman mereka membicarakan sesuatu yang bahkan aku tak mengerti.

 

“Oh ya aku lupa, Wufan~sshi, ini Park Chanyeol. Calon iparku.” Lelaki itu tersenyum lalu menyalamiku.

 

“Chanyeol..” ucapku sembari membalas tangannya.

 

“Dan ini calon istriku, Park Chanhee..” lelaki itu pun kini beralih menyalami Chanhee. Chanhee berbisik kalau dia ingin toilet, beberapa waktu kemudian dia pun pergi.

 

Aku memilih memisahkan diri dari Baekhyun, menuju meja untuk mengambil minuman. Saat aku mengambil minuman sayup – sayup aku dengar percakapan beberapa wanita di sebelah tempatku berdiri.

 

“Kau tahu, Kim Jong In dan Kim Yae In yang akan menikah itu…mereka sangat serasi.” Ucap seorang diantara mereka.

 

“Benar..katanya mereka sebelumnya adalah saudara..”

 

“Benarkah? Tapi mereka cocok sekali sebagai pasangan..”

 

“Iya..aku setuju.” Sahut yang lainnya. Benarkah ini adalah pernikahan mereka?

 

“Oppa…” sebuah tepukan di pundakku sedikit membuyarkan konsentrasiku.

 

“N-ne?”

 

“Kau kenapa?”

 

“Ah..gwenchana..” aku tersenyum menanggapinya.

 

“Chanhee~sshi?” sebuah suara yang sangat familiar terdengar olehku. Yae In? dia tersenyum dan menghampiri kami. Dia…dia terlihat sangat cantik. Dengan white long dress yang pas dengan postur tubuhnya yang bisa dikatakan tinggi, high heels senada, dia benar – benar sempurna.

 

“Tak kusangka kalian kemari.” Dia berikan senyuman yang entah apa maksudnya, bahkan bisa dikatakan seringaian pada kami.

 

“Yae In~sshi..” belum sempat kami menjawab, segerombolan gadis yang sepertinya temannya menghampirinya.

 

“Kau terlihat cantik sekali. Dan calon suami mu itu..serasi sekali denganmu.”

 

“Benarkah?”

 

“Iya…kalian sangat serasi. Rencananya kalian bulan madu dimana?” tanya mereka antusias. Aku melirik Chanhee. Dia hanya menghela nafas pelan.

 

“…..”

 

Entah apa lagi yang dibicarakan mereka. Aku tak peduli. Aku menarik tangan Chanhee menjauh dari sana. Baru beberapa langkah, Yae In menepuk pundakku.

 

“Bisakah aku bicara berdua dengan Chanhee~sshi?” aku hanya menoleh kearah Chanhee. Dia mengisyaratkan agar aku menuruti permintaan Yae In. Sedikit ragu memang, tapi aku pun melangkah pergi.

 

—–

 

Yae In POV

 

Kutatap wanita di depanku ini. Dia hanya terdiam dengan tatapan yang sangat menyedihkankan. Kasihan sekali kau Park Chanhee!

 

“Aku tidak main – main dengan ucapanku Chanhee~sshi. Kami akan segera menikah. Aku harap kau sudah tidak mempunyai perasaan pada Jong In.”

 

“Aku…”

 

“Kau bisa kan? Jangan katakan kalau kau masih mencintainya. Itu terdengar sangat menyedihkan bagiku.”

 

“……” kulihat dia hanya meremas tangannya sendiri. Apa kau marah Park Chanhee? Ini begitu menarik bagiku.

 

“Kau tahu, perasaanmu itu hanya akan menghambat hubunganku. Nantinya kau juga tak mau dikatakan sebagai perusak rumah tangga orang kan?” kuberikan senyuman licik padanya.

 

“……” dia hanya menatapku sekilas, kemudian menatap Jong In yang tengah mengobrol dengan beberapa temannya.

 

“Jawab aku Chanhee~sshi, aku berbicara denganmu!” ucapku sedikit kesal karena sedikit pun dia tak mengindahkan pertanyaanku. Tiba – tiba dia terjatuh dilantai. M-mwo? Apa ini? Kulihat dia berkeringat dingin. “Park Chanhee~sshi..” aku mengguncang pundaknya. Sedetik kemudian tubuhnya oleng, dia pingsan.

 

Kucoba membangunkannya. Nihil. Apa penyakitnya kambuh lagi? Bagaimana ini? Semua orang mengerubungi kami. Aku mencoba meminta bantuan siapa pun disana.

 

“Chanhee? Apa yang terjadi?” Jong In yang menghampiri kami juga mencoba membangunkannya. “Aku akan membawanya ke rumah sakit.” Dia menarik tubuh Chanhee untuk diangkatnya, namun tangan Chanyeol menghalanginya.

 

“Dia adikku. Biar aku yang membawanya.” Awalnya sempat terjadi pertengkaran kecil, namun Jong In memilih mengalah.

 

“Ke mobilku.” Jong In, Chanyeol, serta aku bergegas menuju mobil yang sebenarnya di sediakan untuk acara pernikahan ini. Baekhyun yang sudah berada di dalam segera mengemudikan mobil menuju rumah sakit.

 

@rumah sakit

 

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Baekhyun memulai pembicaraan. Saat ini kami berada di depan kamar rawat Chanhee dengan suasana yang sangat tegang. Chanhee berada di dalam dan sedang ditangani dokter.

 

“Aku hanya mengobrol dengannya, dan tiba – tiba dia pingsan…” ucapku lirih. Aku melirik Jong In, dia terlihat begitu khawatir. Aku sedikit merasa bersalah karena itu.

 

Chanyeol menatapku tajam kala itu. “Tidak mungkin. Kau pasti mengatakan sesuatu yang membuatnya seperti itu..” ucapnya terlihat kesal.

 

“Aku hanya…”

 

“Ikut aku!!” Chanyeol menarik tanganku pergi dari tempat itu. Aku melirik Jong In mencoba meminta bantuan, namun dia hanya mendesah. Apa kau juga menyalahkanku hah!, batinku. Dia menarik tanganku kasar, membuatku sedikit kesakitan.

 

“Lepaskan aku Chanyeol~sshi!” aku mencoba melepaskan pergelangan tanganku dari cengkeramannya.

 

“Apa yang kau katakan padanya hah?!” tanyanya kasar.

 

“Aku tak mengatakan apapun!”

 

“Jangan berbohong Yae In!”

 

“……” aku terdiam.

 

“Apa sebegitu bencinya kalian pada kami, hingga kau harus menyakiti Chanhee seperti itu? Sadarkah Yae In, ini salah kita berdua!” dia melepaskan cengkeramannya dan menghela nafas pelan.

 

Dia terlihat begitu frustasi. Aku sungguh merasa bersalah. Chanhee yang telah sembuh dari penyakitnya, kini harus terbaring lemah gara – gara aku.

 

“Chanyeol~sshi aku…”

 

“Kau tahu benar bagaimana keadaan Chanhee. Sebenarnya apa yang kau katakana padanya?”

 

“…..” aku menunduk diam. Aku bingung harus menjawab apa? Tidak. Aku tidak boleh kalah kali ini.

 

“JAWAB AKU!”

 

“IYA! memang aku yang menyebabkannya seperti itu! Apa kau akan membunuhku setelah ini, hah!”

 

“Kau…” mata Chanyeol melotot kesal padaku.

 

“Mwoya? Kalian hanya akan menambah buruknya hubungan kita! Hadirnya kalian hanya semakin menyakiti kami…”

“Yae In~ah..”

 

“Kau tahu…kami menderita, bukan hanya kau dan Chanhee..tapi kami! Apa kau tak pernah memikirkan perasaan kami?” aku mulai sedikit terisak.

 

Grepp…dia memelukku. Aku merindukan pelukan ini. Chanyeol~sshi, bisakah kita tetap seperti ini? Hembusan nafasnya terasa di keningku saat aku mulai merasakan kecupan di keningku.

 

“Mianhae…” ucapnya tanpa melepas pelukan kami.

 

“……” aku menggeleng pelan.

 

“Aku hanya mengkhawatirkan Chanhee…maaf aku bersikap buruk padamu selama ini! Maaf telah mengecewakanmu…maaf karena aku, semua ini terjadi.” Aku pun melepaskan pelukannya. Dia menatapku sendu.

 

“Sebaiknya kita kembali, mungkin Chanhee sudah siuman.” Ucapku mengalihkan pembicaraan.

 

Kami pun kembali ke kamar Chanhee. Dokter sudah mengijinkan kami untuk menengoknya. Dan kudapati Chanhee yang sudah tertidur pulas. Kulihat Jong In hanya menatap nanar kearah Baekhyun yang kini tengah menggenggam erat tangan Chanhee.

 

Ddrttt…kurasakan handphoneku bergetar, tanda panggilan masuk. Segera ku keluarkan dan Eommonim? Kenapa Eommonim menelephoneku? Segera aku keluar dan mengangkat panggilanku.

 

“Yeoboseyo..”

 

“Yae In~ahh, kalian dimana? Kenapa tak hadir di pernikahan sepupu kalian?”

 

“Mianhada eommonim, kami sedang berada di rumah sakit…”

 

“Mwo? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

 

“Hmm..Park Chanhee~sshi berada di acara pernikahan tadi, dan dia pingsan. Kami membawanya ke rumah sakit.”

 

“…..”

 

“Baiklah, kami akan kembali kesana.”

 

“…..”

 

Beep. Aku matikan sambungan telephone ibuku. Saat aku berbalik hendak kembali, kudapati Park Chanyeol sudah di depanku. “Chanyeol~sshi?”

 

“Apa pernikahan tadi bukan pernikahan kalian?” tanyanya to the point.

 

Aku menanggapinya dengan sedikit tertawa. “Tentu saja bukan. Tadi adalah pernikahan Wufan oppa dan Sekyung unnie..sepupu kami dari China.”

 

Mulutnya membentuk huruf ‘o’ tanda memahami penjelasanku yang bisa dibilang cukup singkat itu.

“Chanyeollie..Chanhee mencarimu.” Suara Baekhyun membuyarkan percakapan kami. Chanyeol

kembali dan aku mengikutinya. terlihat suasana canggung disana. Jong In dan Chanhee pun tak mengeluarkan sepatah kata walau hanya untuk saling menanyakan kabar.

 

“Gomawo Yae In~ahh…” tiba – tiba saja Chanhee menggenggam tanganku dan tersenyum kearahku. Aku benar – benar tak mengerti ini. “Gomawo kau telah menyadarkan aku dari kebodohanku selama ini..aku kini tahu benar posisiku. Aku tak mau hubungan kita memburuk. Aku tahu ini salah. Aku akan melupakan perasaanku. Aku mau kita menjadi teman seperti dulu.” Apa ini? Ini sindiran? Atau kau memang sudah menyerah Park Chanhee?

 

“Chukkae untuk kalian berdua…” tambahnya.

 

“Chanhee~sshi, tapi ini bukan pernikahan kami.”

 

“Ne?” dia terlihat sedikit bingung.

 

“Ini pernikahan sepupu kami.”

 

“Jadi kalian?”

 

“Kami memang akan menikah, tapi bukan sekarang..”

 

“O-ohh..ne. aku pasti akan hadir di pernikahan kalian. Aku akan jadi yang pertama menangkap rangkaian bungamu Yae In.” ucapnya penuh senyuman. Buliran bening mulai membelai pipinya. Sesakit itukah hingga kau tak bisa hentikan tangismu itu, Chanhee? Kau benar – benar terlihat menyedihkan, kau bukan Chanhee yang kukenal banyak bicara itu.

 

“Hhahaha…apa ini? Maaf sepertinya aku kelilipan.” Lanjutnya sembari mengusap air matanya.

 

“Chanhee~sshi..”

 

“Gwenchana, aku hanya kelilipan. Mungkin suster lupa membersihkan debu disekitar sini..hahaha bagaimana mereka itu. Seharusnya mereka membersihkannya.” Dia lalu menengadahkan kepalanya keatas. Mungkin dia mengganggap airmata nya itu akan tertahan jika dia melakukan itu. Benar – benar cara yang bodoh.

 

Kulirik Jong In hanya membuang muka. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Apa semua hanya akan berakhir seperti ini?

 

Waktu berlalu cepat kami putuskan untuk meninggalkan rumah sakit tempat Chanhee di rawat. Diperjalanan, aku dan Kkamjong hanya saling diam tanpa ada yang membuka suara. Mungkin dia butuh ketenangan.

 

——–

 

Chanhee POV

 

Ketika seseorang yang hadir dalam hidupmu membuatmu nyaman, kau tak akan pernah rela untuk melepasnya. Tapi ketika kau tahu dia nyaman bersama orang lain, maka kau harus rela untuk melepasnya. Seperti inilah yang kurasa kini. Apa akan terus seperti ini rasanya?

 

Aku kembali  teringat pertama kali aku mulai mengagumi seorang Kim Jong In.

 

(flashback story)

 

“Chanhee~yya? gwenchana?” tanya adikmu Yae In kala itu. Yae In adalah gadis baik yang pertama kali menyapaku saat aku berada di bangku SMP.

 

Ini juga pertama kalinya aku mengunjungi rumah Yae In setelah beberapa bulan mengenalnya. Aku melihatmu melangkah menuruni tangga. Aku masih tak berkutik dengan panggilan Yae In dan terus menatapmu yang melangkah semakin jauh. Kau hanya menatapku dingin waktu itu. Bukannya takut, aku justru menyukai tatapan itu.

 

“Chanhee~yya!!” Yae In mengguncangku kali ini dan aku pun terjaga dari alam bawah sadarku.

 

“N-ne?” tanyaku kemudian. Yae In hanya mendengus sembari menjitak kepalaku. “Yaaa!” protesku.

 

“Kau ini! kita harus segera menyelesaikan makalah kita, kenapa dari tadi kau hanya diam huh?” ucapnya kesal. Ya, memang ini salahku karena terlalu memperhatikanmu.

 

“Arra..arra!” jawabku kemudian. “Hmm~ Yae In~ahh?”

 

“Ne?”

 

“Anak laki – laki tadi siapa?”

 

“Nuguya?” Yae In menatapku.

 

“Anu..anak laki – laki yang tadi keluar membawa bola basket.” Yae In tersenyum jail kearahku. Wae? Bukankah normal saja jika aku menanyakan seseorang yang tak kukenal? Aku terdiam, bingung. Aku rasa Yae In salah mengartikan maksud pertanyaanku.

 

“Hehhe..kau menyukainya ya?” deg..m-mwo? suka? Aku rasa bukan. Aku hanya belum pernah melihatnya sebelumnya, tapi…

 

“A-aniya..aku hanya tak mengenalnya.” jawabku gugup.

 

“Sudahlah..mengaku saja.”

 

“Yaa! Kim Yae In! Sudahlah..kita kerjakan makalah kita saja..”

 

“Kau benar tak mau tahu tentang kakakku itu?”

 

“Mwo? oppamu?”

 

“Geurom! He’s my brother.”

 

“Jinjja?” tanyaku antusias. Yae In mengerling kearahku. Ah, biarlah..toh aku hanya ingin tahu siapa namja tadi.

 

“Namanya Kim Jong In. Dia berada tepat di tingkat 2, sunbae kita. Dia memang dingin pada orang yang belum dikenalnya. Tapi dia akan sangat manis bila kau coba dekat dengannya. Tapi, sifat jailnya itu harus kau hindari. Dia bisa saja menaruh permet karet di rambutmu. hhaha. Dan lagi jangan menatapnya terlalu lama, dia benci itu. Aku juga tak tahu kenapa.”

 

Aku mengangguk mulai memahami maksud perkataan Yae In.

 

“Aku tak pernah memanggilnya oppa. Aku selalu memanggilnya Kkamjong!” lanjutnya

 

“Kkamjong?”

 

“Iya. Karena dia berkulit gelap. Beda denganku. hhahaha”

 

“Apa benar itu alasannya?” -_____-

 

“Bukan..aku hanya bercanda. Karena sebenarnya dia itu pemalu. xD”

 

“Kau tadi bilang dia dingin?”

 

“Memang, tapi itu karena sifat pemalunya itu..awww!! x(” sebuah bola basket tepat mengenai kepala Yae In.

 

Kau berdiri di ambang pintu sembari memandang ke arah kami dingin.

 

“Neo!” Yae In menuding ke arahmu sembari mengusap kepalanya.

 

“Berbicara tidak sesuai fakta.” ucapmu dingin.

 

“Kenapa kau melempariku hahh Kkamjong!!”

 

“Karena kau banyak bicara tentangku. Dan aku tak menyukai itu…”

 

“Chanhee hanya menanyakan tentangmu dan aku menjawabnya setahuku, bakka!!

 

“Ehh?” Merasa ketahuan aku hanya duduk membelakangimu waktu itu tanpa berani menatapmu yang mungkin marah atas kelancanganku.

 

“Kalau kudengar seperti itu lagi. Kupastikan kau tidak akan bisa tidur nyenyak seminggu ini!” ucapmu lagi masih dengan nada acuh lalu melangkah pergi.

 

“Yae In, gwenchana?” tanyaku kemudian.

 

“Dasar Kkamjong! Dia begitu menyebalkan! Kenapa aku bisa mempunyai kakak seperti dia? benar – benar sial..”

 

Aku hanya menatap punggungmu yang mulai menghilang di balik tembok. Kau, Jong In..kau semakin membuatku ingin tahu seperti apa dirimu sebenarnya.

TBC—-

Iklan

11 pemikiran pada “We Were In Love (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s