Blue Prince (Chapter 1)

FANFICTION : Blue Prince [Chapter 1/3]

Written By : ArNy KIMTaemin

Genre : Romance, Comedy (little-little)

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast :

©       Cho Jin Hye [OC]

©       Oh Se Hun [EXOK]

Minor Cast :

©       Kim Joon Myun/Suho [EXOK]

©       Park Chan Yeol [EXOK]

©       Do Kyung Soo/D.O [EXOK]

©       Kim Jong In/ Kai [EXOK]

©       Byun Baek Hyun [EXOK]

©       Cha Young Ra [OC]

©       Shim Min Chan [OC]

©       Grace Kim [OC]

©       Xi Lu Han [EXO-M]

©       Cho Kyu Hyun [Super Junior]

©       Cha Young Mi [OC]

©       Jung Ah Ra [OC]

©       Kwon Yu Ri [SNSD]

©       Im Yoon A [SNSD]

©       Seo Joo Hyun [SNSD]

Backsound Song : WOW [BTOB]—Yearning Heart [A’ST1]—Waiting For You [SuJu’s Yesung]—Love is A Punishment [K.Will]—Like The Beginning Like Then [Lee Seung Gi ft. Davichi’s Min Kyung ]—Poison [SECRET]

Disc : The casts are belonged to the GOD. Jin Hye, Young Ra, Min Chan, Grace, Young Mi dan Ah Ra as their self, and for EXO-K’s Se Hun, EXO-K’s Kai, EXO-K’s Baek Hyun, EXO-K’s Su Ho, EXO-K’s Chan Yeol, EXO-K’s D.O, EXO-M’s Lu Han, SuJu’s Kyu Hyun, SNSD’s Yu Ri, SNSD’s Yoon A, and SNSD’s Seo Hyun belonged to © SME. But, Own this story, the plot is MINE!!!

A/N : Annyeong~ sebelumnya salam kenal. aku Arliany, tapi biasa dipanggil Arny (formal banget). Aku EXOTIC dan bias ku di EXO-K adalah Kai dan Suho *sebenernya Baekhyun juga tapi takut di tendang sahabatku*, sementara kalo di EXO-M, biasku udah pasti om Kriss dan Abang Lulu tercintaa~. Aku reader baru di Blog ini. dan sekarang, aku ingin mencoba menulis dan menge-postnya disini..  sebearnya, aku mulai menulis udah lama sih. Tapi baru ketemu Blog ini beberapa jam lalu.. dan, aku harap banyak yang suka dengan FFku disini.. gomawo~

Okesip, Tak usah berlama-lama. Monggo dibaca~ semoga senang ya! Oh ya, sorry for my typo..^___^

Ps : Se Hun, dan tiga gadis cantik dari SNSD di FF ini ber-marga ‘sama’ ya (memakai marga Se Hun) yaitu ‘Oh’. Dan Lu Han juga menyandang marga seperti Kyu Hyun, yaitu ‘Cho’ dan dalam FF ini, Lu Han merupakan orang asli Korea. ^-^ Well, that’ just Fiction, guys~

DON’T BASH!!! DON’T COPY!!! THIS IS MINE!!!

Blue Prince

***

Entah dimana aku saat itu.

Gelap dan dingin terlalu membuatku takut. Segalanya hitam tanpa kelembutan. Tiada kenyamanan yang membuatku merasa hangat.

Namun..

Tahukah kau apa yang paling kusesali sekaligus kusenangi dalam sejarah hidupku?

ah, benar. Tentu saja kau tidak tahu.

Karena jawaban itu ada pada dirimu sendiri.

Saat terjaga dari tidur di tengah malam yang kelam menusuk, berulang kali aku menemukan diriku sendiri sedang berusaha untuk melepas wajahmu dalam bayanganku. Membuang namamu jauh-jauh dari memori ingatanku.

Berulang kali hal itu terjadi, dan berulang kali pula aku gagal melakukannya.. Miris, bahkan membuatku terkadang menangis sendirian di tengah kesunyian dan ketakutan.  Kakiku bergetar hebat. Aku sungguh takut. Aku membencimu. Namun, aku membutuhkanmu. Tapi, dimana kau? Dimana kau saat aku membutuhkanmu?!

WAE? Kenapa harus aku yang terlalu jatuh dalam pesonamu? Kenapa harus aku yang terlalu jatuh untuk sekedar berharap kau mau mencintaiku? Kenapa harus aku?!

Andaikan kau tahu, betapa aku menyesali saat-saat dimana aku masih menaruh perasaan terhadapmu.. Saat-saat dimana.. aku—masih—hanya bisa menatapmu dari kejauhan sambil tersenyum-senyum sendiri, membayangkan kau akan menoleh kearahku, melambaikan tangan, melempar senyum menggodamu, lalu kau berjalan menghampiriku yang menungguimu ditempatku berdiri. Mirisnya, di balik segala penyesalan itu, selalu dan selalu saja, kebahagiaan menyebalkan itu muncul. Rasa syukur bisa mengenalmu.. menyelebungi hati hingga membuatnya hangat setiap hari. Bertahan dalam badai sekalipun.

Tch, kurasa aku gila.

Dan, benar.. aku gila.

Kini aku tau mengapa aku bisa terus bertahan hidup.

Selain Tuhan, orang tuaku, kaulah alasanku, Oh Se Hun.

***

 

 

(Cho Jin Hye’s Pov)

1 Januari. Aku masih ingat dengan jelas, usai pembagian raport menuju kelas XI hari itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyatakan cinta. Perasaan yang sudah tiga tahun ini kupendam begitu rapat untuknya, kepadanya. Akhirnya tersampaikan.

“Oh Se Hun, aku menyukaimu! Maukah kau jadian denganku?”

Bahuku yang tadinya menegang kini perlahan-lahan turun bersamaan dengan helaan nafas lega yang akhirnya keluar dari mulutku. Kedua tanganku saling menggenggam, meremas ujung seragam kemeja sekolah. Mataku yang tertutup rapat—tidak berani terbuka—terjadi setelah satu detik kata-kata barusan meluncur dengan lancarnya dari mulutku. Sangat lancar. Aku sendiri tidak tahu kenapa dapat begitu lancar. Namun tahukah kalian, berapa hari usahaku hanya untuk, baiklah, garis bawahi ini. Menghafalnya? Benar! Aku menghafal seluruh kalimat itu! Aku menghafal 1.. 2.. maksudku.. 9 kata tersebut selama tujuh hari berturut-turut! Dari saat bangun tidur, saat mandi, saat makan, saat mengerjakan tugas sekolah, saat memasak, saat menyetrika, saat menonton TV, saat sebelum tidur, saat… argh! Saking banyaknya, aku jadi lupa deh.. -___-. Dan, sekali lagi kutanyakan, apakah kalian tahu bahwa kalimat itu telah menjadi kalimat tersusah yang ingin kuucapkan sepanjang umurku hingga saat ini? Baik. Kurasa kalian tidak tahu. Tidak apa.

Well, kembali ke permasalahan awal. Aku sadar, seberapa kerasnya usahaku untuk menghafal sembilan kata tadi, semuanya lunas terbayar dengan keberanian yang akhirnya membuatku bisa melontarkannya juga. Kali ini kalian benar, aku baru saja sukses mengeluarkan kata-kata tersebut.

Tapi tunggu. Ini belum selesai. Aku belum mendengar jawaban dari sosok tinggi dihadapanku. Belum sama sekali. Kudapati diriku yang bertanya-tanya, bagaimana kira-kira reaksinya, ya? Apakah dia kaget? Kurasa pasti. Tapi kenapa saat melihat wajahnya sekilas sebelum aku menundukkan kepalaku tadi, aku sempat melihat wajahnya hanya menampilkan ekspressi datar? Lalu.. bagaimana bila ia marah? Oh, ya ampun, aku tidak pernah memikirkan bayangan hal itu sebelumnya. Dan kenapa aku tidak memikirkannya dulu? Aish, aku memang bodoh. Hmm.. atau jangan-jangan.. dia malah.. Ok, hanya dua persen keyakinan dalam diriku yang menganggap bahwa ia merasa ‘senang’ dengan pernyataanku tadi. Tapi, tapi, tapi.. Oh, ya ampun. Kupikir, itu tidak mungkin. Meski begitu, tidak bolehkah aku berharap?

1 menit berlalu..

Masih belum ada jawaban.

2 menit kemudian,

Remasan tanganku pada ujung seragam makin menguat. Oh, aku mulai gelisah. Tapi, aku dapat mengerti bahwa mungkin Se Hun masih dalam keadaan kaget atau mungkin sedang memikirkan jawaban.

3 menit..

Kenapa dia tidak menjawab juga?

4 menit..

Dia tidak mempermainkanku, kan? Ah, tentu saja tidak. Se Hun tidak sejahat itu, aku tahu.

5 menit.

Ini tidak bisa dibiarkan terus!

Merasa kesal, aku mengangkat wajah dan otomatis pejaman mataku terbuka. Betapa kagetnya aku ketika mendapati ekspressi Se Hun yang sama sekali tidak mencerminkan raut tengah atau habis berfikir keras. Tatapannya datar—sangat datar— memandangku. Tidak segaris senyuman pun terbentuk di bibirnya. Dan seperti biasa.. posisi tubuhnya terlihat dingin, tampak tidak menyukai.

“Maaf.” Se Hun berkata akhirnya yang membuatku mengerjap kaget, dan bisa kurasakan sedetik tadi jantungku serasa berhenti. Dia.. menolakku?

“Ke.. ke..” aku tidak bisa mengeluarkan kata apapun, saking terlalu terkejut dengan satu patah kata yang Se Hun lontarkan. Tapi, seolah tahu apa yang ingin kuucapkan, Se Hun kembali berkata dengan ekspressi wajahnya yang masih terlihat sama.

“Alasannya sederhana. Aku tidak menyukai wanita.”

DEG! Apa jantungku lepas dari posisinya?

“Eh?” alisku hampir menyatu. Aku hanya bisa tercengang menatap Se Hun. Bagai dikubur hidup-hidup dalam tanah rasanya setelah mendengar perkataan Se Hun.

Se Hun menatapku datar sejenak, kemudian menaikkan kacamata yang melekat di matanya dengan ujung jari telunjuk dan ia menutup buku setebal tiga cm yang sedari tadi—sejak pertama kali bertemu Se Hun— terus dia pegang.

“Aku tidak suka wanita.” Se Hun berkata lagi, seolah tidak menyadari ekspressi wajahku yang memohon padanya untuk tidak melanjutkan kata-kata apapun. Tidak, aku tidak ingin mendengarnya. Intinya dia menolakku? Dan alasan apa itu tadi? Aku sungguh tidak percaya. Saat Se Hun mengatakannya, dadaku serasa sesak.

“Karena wanita itu.. menurutku hanya para ‘makhluk bodoh’.”

***

“APAAAA?!! DIA BILANG BEGITU ?!!”

Aku menghela nafas pelan sebelum hanya bisa mengangguk lemas. Lalu mendongak untuk melihat seperti apa ekspressi wajah tiga sahabatku. Oh, ya ampun. Bisa kurasakan tatapan penuh api menyala keluar jelas dari bola mata ketiga sahabatku itu. Sangat mengerikan. Dan aku paham tanggapan itu. Aku mengerti mengapa mereka kini terlihat seolah-olah seperti orang yang terluka harga dirinya. Dan tentu saja, harga diri sebagai ‘wanita’ yang mereka miliki tengah berada dalam keadaan genting. Sejujurnya, aku pun merasakan hal yang sama seperti mereka. Tapi…

“Ooh, ya ampun!” seruan Grace membuatku tersentak dan spontan menoleh menatapnya. Gadis berambut hitam yang merupakan anak dari pasangan berkebangsaan Korea-Amrik itu mengusap wajahnya sekali sebelum menatapku. Terlihat frustasi.

“Ini gila.” Hanya dua kata itu yang meluncur lancar dari mulut Grace. Aku menatapnya bingung.

“Sangat gila,” seolah menyetujui Grace, Min Chan yang duduk di tepi jendela menyambung ucapan Grace. Pandanganku beralih padanya dan mendapati ia yang sedang bergeleng-geleng kesal. Keluhan lain datang dari Young Ra yang duduk disebelah Grace—saat ini kami berempat berada di kelas aku di kursi dudukku, sementara Grace dan Young Ra duduk di kursi mereka masing-masing yang berhadapan denganku. Kami hanya dipisahkan dengan meja kelas, sedangkan Min Chan seperti yang kukatakan tadi. gadis itu duduk di tepi jendela, menyanderkan tubuhnya pada kaca jendela yang tertutup siang itu—Walau Young Ra tidak mengatakan apapun, tapi aku bisa merasa ia ikut kecewa seperti dua temanku yang lain, ketika kulihat ia hanya menghela nafas. Cukup panjang dan pelan. Lalu, wajahnya memberengut memandangiku. Ya Tuhan, demi apapun aku tidak tahu dimana letak salahku?

“Tidak. tepatnya kau yang gila, Jin Hye.” Grace berkata tiba-tiba, menautkan kedua alisku menatapnya heran. “Kenapa aku?” tanyaku tidak mengerti.

“Tentu saja!” lanjut Grace menegaskan ucapannya. Dia mencondongkan tubuh dan menatapku tajam, “Coba fikir, Hye. Bagaimana bisa kau mencintai pria ‘sejahat’ itu?”

“Se Hun tidak jahat Grace!” bantahku cepat sambil bergeleng. “Dia hanya..”

“Hanya bisa menyakiti?” kata-kataku terputus karena sambungan ucapan Min Chan yang langsung membuatku mendesah keras. Oh, kumohon.. dua gadis itu berhentilah untuk terus menyudutkanku.

“Grace, Min Chan.” Aku mencoba memanggil kedua gadis yang berada dihadapanku itu dengan suara melembut. “Se Hun tidak jahat. Aku yakin itu. Dia hanya mencoba untuk berkata jujur. Dan bukankah itu lebih baik? Bukankah kalian selalu berkata bahwa kalian menginginkan laki-laki yang jujur walaupun itu menyakitkan daripada laki-laki pembohong yang hanya bisa memuji dan merayu wanita.. aku benar, kan?”

“Kau benar.” Jawab Min Chan cepat. “Tapi, jawaban Se Hun itu terlalu jujur dan terlalu menyakitkan. Bagi kami. Bagi wanita.”

“Setuju!” Grace menimpali. Kutatap keduanya dengan kening berkerut, mencoba membuat mereka memahami diriku. Tapi, ternyata.. kedua gadis itu malah terlihat—sangat—enggan mengabulkan permintaanku. Aku mencoba jalan lain dengan mengalihkan pandanganku pada Young Ra yang masih tetap diam. Kuberikan tatapan memohon pertolongan padanya, tapi, Oh, ya ampun! Gadis berambut hitam panjang itu malah lagi-lagi menghela napas. Aku tidak tahu sudah yang keberapa kali ia melakukan itu, tapi aku yakin sudah lebih dari sepuluh kali sebab aku terus mendengar helaan nafasnya sepanjang perdebatan aku, Grace, dan Min Chan berlangsung sengit tadi.

“Young Ra-ya~” aku memanggili Young Ra dengan suara bernada sama dengan tatapanku, memohon. Bisa kurasakan Grace dan Min Chan melempar tatapan peringatan pada Young Ra, sepertinya berharap agar ia tidak menolong atau membelaku kali ini. Dan kurasa, tatapan peringatan itu berhasil mereka serangkan kepada Young Ra karena yang kulihat nyatanya Young Ra menggeleng-gelengkan kepalanya kini, lalu mendongakkan wajah menatapku dengan bibir ditekuk. “Se Hun sangat keterlaluan, Jin Hye. Aku tidak bisa memaafkannya.” Ujarnya pelan. Dan sukses menenggelamkan wajahku pada tas sekolah yang berada tepat di atas meja dihadapanku. Saat aku mendongak kembali, aku berkata, “Kenapa kalian semua berkata begitu? Kalian tahu, kalian membuat semangatku untuk mendapatkannya memburuk,” keluhku.

“Kalau semangatmu mendapatkan Se Hun memburuk itu malah bagus,” aku melotot pada Min Chan. “Dan kufikir.. ada baiknya mulai saat ini kau berhenti menyukainya dan berhentilah untuk mengejar-ngejar pria bernama Oh Se Hun yang menyebalkan itu, Cho Jin Hye!” lanjutnya dengan kata tegas di bagian akhir kalimat, sama sekali tidak mempedulikan bola mataku yang benar-benar melotot menatapnya.

Aku membuka mulut untuk membantah, “Itu tidak mungkin, Min—“

“Dia tidak menyukai ‘wanita’, Hye.” Potong Grace cepat sambil menatapku tajam. “Dan kau adalah ‘wanita’. Jadi, dia tidak akan mungkin menyukai kau yang seorang wanita..” lanjutnya membuat kepalaku menunduk sedih.

“Grace benar. Lagipula, aku masih sama sekali tidak menyangka kalau Se Hun akan berkata begitu. Baiklah, aku tahu dia itu pria dingin yang sangat terkenal se-antero sekolah karena kepandaiannya. Aku juga sudah dengar berita tentangnya yang menyatakan dia sering bersikap sinis pada wanita, dan itu alasanku kenapa awalnya aku merasa ragu saat kau mengatakan ingin menyatakan perasaan sukamu padanya. Well.. setidaknya.. dia tidak perlu berkata sinis dengan melukai perasaanmu, kan, Hye? Kuralat. Pria sialan itu.. melukai hati ‘seluruh wanita didunia ini’. SELURUH.  Bayangkan jika mereka mendengarnya? SEMUA DARI MEREKA PASTI TERLUKA! Lagipula, kau sendiri dengar apa katanya, kan? Dia bilang wanita itu makhluk bodoh. Hey! Apa-apaan itu?! Dia memang pintar dan kebanggaan guru-guru disekolah, tapi dia sama sekali tidak ‘Berhak’ untuk menyebut wanita adalah ‘makhluk bodoh’. Sa-ngat ti-dak ber-hak. Jadi, apa sekarang kau sudah mengerti mengapa kami melarangmu untuk berpacaran dengan Oh Se Hun, Nona Cho Jin Hye yang tersayang?”

Aku mengerjap. Penjelasan panjang lebar dari Min Chan membuatku tertegun. Sejenak tadi, aku merasa dia benar tapi disisi lain juga merasa dia salah. Ya tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa keputusanku salah? Keputusan bahwa…

“Lalu, Jin Hye..” ucapan Young Ra meleburkan pikiranku. Aku menoleh menatap gadis itu yang kini balas menatapku dengan raut terlihat cemas. “Apa kau baik-baik saja? Kuharap kau tidak terlalu memasukkan kata-kata Se Hun kedalam hatimu hingga bisa saja membuatmu terpuruk. Kuharap tidak.”

Aku tersenyum menenangkan. Young Ra, satu-satunya sahabatku yang lebih pengertian padaku saat ini daripada dua gadis menyebalkan yang aku tau sebenarnya mereka juga memberi perhatian padaku hanya saja dari sudut pandang mereka yang berbeda. “Tidak, Young Ra. Tenanglah, aku tidak apa-apa.” Ujarku jujur dan Young Ra mengangguk. Memang benar, saat ini aku sungguh baik-baik saja.

“Ngomong-ngomong,” Grace mencondongkan tubuhnya, mendekatiku. “Kami ingin tahu apa jawabanmu setelah mendengar penolakkan Se Hun, Jin Hye-ya?” Ia bergeleng sebelum aku menjawab, lalu melanjutkan “Kuralat. ‘Penolakkan dengan alasan yang menyakitkan’ lebih tepatnya..” aku menelan ludah mendengar kelanjutan ucapannya.

“Benar, apa jawabanmu, Hye-ya?” Young Ra ikut bertanya. Aku bisa menangkap sirat penasaran dari mata dua orang sahabatku yang baru saja bertanya itu. Sementara Min Chan,

“Tak perlu bertanyalah, Grace, Young Ra.. Sudah pasti Jin Hye marah pada Se Hun! Wanita mana, sih, yang tidak tersinggung dengan ucapan si ‘Blue Prince’ sekolah kita itu, Huh?” sebelum aku sempat melihat bagaimana sirat mata Min Chan, ucapan cepat dan terdengar penuh kekesalan dari gadis itu sudah membuatku sadar seperti apa ekspressi wajah Min Chan. Dia terluka, kesal, dan marah.

Grace memandangku beberapa detik dengan kening berkerut—sedang aku hanya bisa menundukkan wajah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang—sebelum akhirnya dia mendesah dan berkata, “Yah, kurasa kau benar Min Chan-ah..” tepat satu detik setelah itu, kulihat dari sudut mata, Young Ra mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah menyetujui pemikiran Grace dan Min Chan barusan.

Aku mendesah keras dan panjang, lalu dengan frustasi menenggelamkan wajah pada tas sekolah sembari mendesah keras sekali lagi. Oh, sungguh aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada ketiga sahabatku. Sebersit perasaan bersalah menghinggap di hatiku.

“Tapi, bagaimana caranya kau menyatakan kemarahanmu, Jin Hye?” Aih, Grace seolah tidak puas untuk terus menterorku dengan pertanyaannya yang menakutkan bagaikan hantu. Dia membuatku semakin tersudut. Ottohke?

“Aku..” aku menggigit bibir.

“Apa yang kau katakan? Cepat beritau kami..” potong Grace, terlihat tidak sabar.

“A.. aku..”

“Kau pasti bilang dia menyebalkan. Keterlaluan. Jahat, ah kurasa tidak sampai kata itu. Tapi, jelas kau  menunjukkan kemarahanmu padanya, kan?” tuding Min Chan, menimpali.

“Kuharap Se Hun maklum bila kau marah,”

“CHA YOUNG RA!” aku terkesiap berkat bentakan spontan Grace dan Min Chan untuk Young Ra. Ternyata yang diteriakipun mengalami hal yang sama. Young Ra memberengut menoleh menatap Grace dan Min Chan bergantian. Tentu saja, siapa yang tidak sebal diteriaki seperti itu disaat suasana kelas yang ramai begini?. Lihat saja, pandangan seluruh murid dikelas kami kini terpaku pada aku, Grace, Min Chan, dan Young Ra. Mereka melempar tatapan sengit yang menakutkan.

“Aish, Min Chan-ah, Grace-ya.. kalian lihat, kalian hampir membuatku diterkam oleh para singa?!” ujarku selang beberapa detik setelah kami berempat sengaja mendiamkan diri ntuk meminimalisir keadaan genting tadi (?).

Min Chan menatapku datar. “Jangan berlebihan, Jin Hye. Dan jangan mengalihkan pembicaraan! Sekarang sudah tidak ada yang memperhatikan kita lagi, ayo cepat jawab pertanyaan kami.”

“Pertanyaan yang man—AW!” aku meringis dan spontan saja mengarahkan tangan kanan ku menyentuh sisi kepala yang telah menjadi ‘korban’ jitakan Grace. Aku memandangnya dengan ekor mata, dan berharap dia segera meminta maaf. Tapi, dia malah berkata dengan tenangnya. “Jawaban atau apalah itu yang kau berikan sebagai tanggapan saat mendengar alasan Se Hun menolakmu.”

Mulutku membentuk huruf ‘O’ selama beberpa detik, dan sebelum Grace benar-benar menjitakku lagi—kulihat dia sudah mempersiapkan tangannya mengacung diatas kepala mengarah kepadaku—, dengan segera aku berkata, “Aku hanya bilang.. ‘Kalau pada ujian semester ini nilaiku lebih tinggi darimu, apa kau akan menerimaku menjadi yoejachingu-mu, Se Hun?”

“MWORAGOOO?!” Shit. Sekali lagi, teriakan para sahabatku telah berhasil mendatangkan tatapan sengit dan tajam dari seisi kelas. Oh, lala~ gawat!

Aku mengangkat bahu, memandang ketiga sahabatku yang kini melotot  dengan ekspressi tidak mengerti. “Kufikir, itu jawaban yang tepat, teman teman.” Aku tersenyum kemudian kepada mereka.

“YA TUHAN!” kerutan dikeningku makin mengerut tatkala Grace menepuk keningnya dan memasang tampang seperti orang habis kehilangan rumah. “Cho Jin Hye, apa yang kau lakukaaaan?!” desisnya menatapku sebal.

Aku masih memandangnya tidak paham. Apa salahku? Seperti yang kukatakan sebelumnya, kufikir jawabanku pada Se Hun sudah benar. Lalu apa yang salah?

Young Ra tampak memberengut—untuk kesekian kali—, dan Min Chan. Ow, dia menatapku seolah-olah aku adalah kuman yang harus dengan segera dia musnahkan dari muka bumi ini. Sekali lagi, aku tidak mengerti apa salahku. Aku, kan, sudah benar!

“Lalu, dia jawab apa?” pertanyaan Young Ra membuatku keningku tidak lagi berkerut, namun kini satu alisku malah terangkat naik. Menatapnya heran. “Huh?” tanyaku.

“Se Hun. Bagaimana jawabannya atas permintaanmu, Hye?” Young Ra menegaskan pertanyaannya.

“Err.. itu,” kembali aku menggigit bibir. Sementara, bisa kurasakan reaksi tajam masih terlempar dari sorot mata ketiga sahabatku didepan—termasuk Min Chan yang entah sejak kapan turun dari tepi jendela dan kini berdiri dibelakang Young Ra—.

“Hey! Jangan menatapku seperti itu.. tenanglah. Kalian mengerikan, tau?” ujarku namun mereka tak mengabulkan permohonanku barusan. Malah semakin tajam menatapku.

“Oh, Ok. Baiklah. akan kukatakan, Se Hun jawab… “Aku mengulas senyum termanisku saat berkata dengan penuh riang, “’Kalau kau bisa melakukannya kenapa tidak?’ itu jawabannya. Bagus, kan? Itu artinya, dia menerimaku! Yah.. walau secara tidak langsung sih..”

“Kok bisa?” tanya Grace. Aku menggeleng pelan, “Aku juga tidak menyangka dia akan memberiku kesempatan.. Hey, apa kalian juga berfikiran kalau ada sedikit perasaan ‘suka’ dihatinya untukku? Dia menyukaiku, bisa jadi.”

“Itu tidak mungkin, Jin Hye..” tanggap Grace, membuku melotot kembali padanya.

“Kenapa tidak?” balasku. “Sudah jelas-jelas, dia benci wanita.”

Aku menelan ludah. “Ow, jangan ungkit masalah itu lagi dong Grace. Dia benci wanita bukan artinya dia akan terus jadi perjaka tua sepanjang hidupnya, kan?”

“Bisa saja dia benar-benar jadi seperti itu. Dan aku yakin, dia akan menerimanya dengan sangat ikhlas ditemani buku-buku tercintanya itu..”

“Min Chan-ah!”

Min Chan menggedikan bahu lalu merenung. “Benar-benar ‘Blue Prince’.” Desahnya. “Aku selalu berfikir, dia cocok menyandang julukan itu.” Min Chan mengalihkan pandangannya padaku. “Sudahlah, Hye. Lupakan dia. Lupakan pemikiranmu yang mengira dia memendam sedikit rasa suka terhadapmu, karena itu tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah bisa terjadi.” Min Chan memberi penekanan pada satu kalimat terakhirnya.

“Tapi, dia berkata begitu sambil tersenyum kok..” kataku cepat, masih tetap menyangkal sudut pandang teman-temanku yang tidak sesuai denganku.

“Cho Jin Hye, kau terlalu polos untuk sadar bahwa itu adalah senyum mengejek. Dia mengejekmu dengan mengatakan bahwa ia bersedia menerima permintaanmu. Tentu saja dia berkata seperti itu, karena dia tahu bahwa kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan nilainya! Kau lupa, dia juara umum di tingkat SMA se-Korea selatan? IQ-nya bahkan jauh beda darimu.. nilainya terlampau jauh untuk kau kalahkan, Jin Hye.”

‘Aku bisa belajar, Grace!”

“Kau belajar ribuan tahun atau pergi bertapa di kaki gunungpun, kemungkinan besar kau masih tetap tidak bisa menyainginya! Sadarlah, Hye! Berhentilah mengada-ngada..”

“Grace..” potong Young Ra dengan suara lembutnya. “Jangan begitu. Kau terlalu mematahkan semangat Jin Hye, kau tahu?”

“Aku tahu Young Ra. Tapi aku berkata jujur..”

Aku tertunduk mendengar penuturan Grace yang untuk kesekian kalinya membuat perasaan berkecamuk antara sedih, marah, kecewa, dan perasaan lainnya yang mengarahkanku pada kehancuran. Seperti tadi, di satu sisi aku merasa ucapan Grace sangat benar, namun hati kecilku tidak dapat menerima kebenanran itu. kudapati diriku yang untuk sekian kali berusaha menutupi perasaan tidak yakin tersebut dan malah menggantinya dengan perasaan keyakinan yang kuat. Yah, keyakinan bahwa aku bisa melakukannya. Aku pasti bisa.

“Jin Hye-ya..” kudengar suara Grace yang mulai melembut. Tapi, aku masih belum ingin mengangkat wajah. Aku takut bila aku mengangkat wajah dan melihat Grace, keyakinan dalam hatiku akan lenyap tak berbekas. Jadi, aku terus menunduk sambil meremas kedua tanganku yang berada diatas pangkuan kedua pahaku.

“Kau sahabat kami. Kami hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik. Dan, percaya padaku.. dengan sikap dinginnya itu, Se Hun tidak akan menjadi yang terbaik untukmu. Dia hanya bisa menyakitmu, dan aku, Min Chan, juga Young Ra tidak ingin hal itu terjadi. Kami ingin kau bahagia,”

Aku terisak, entah sejak kapan. Tapi, dengan susah payah kutahan air mata yang sedari tadi memaksa keluar dari sudut mataku yang aku yakin pasti sudah tampak berkaca-kaca kini.

“Benar, Hye. Kami hanya ingin kau bahagia,”

Aku tahu itu, Min Chan. Aku tahu. Walau tidak melihat, tapi aku tahu kedua tangan Min Chan lah yang sekarang memegangi pundakku. Meremasnya pelan, seolah memberi kekuatan. “Dan kebahagiaanmu.. bukan bersama Oh Se Hun. Percayalah,” Min Chan melanjutkan ucapannya. Hening sejenak, sampai tiba-tiba Young Ra memecah keheningan dengan suaranya.

“Maaf Jin Hye. Tapi, kali ini.. entah kenapa aku setuju dengan Grace dan Min Chan..”

Aku mengerjap kuat dan tepat saat itu, air mataku menitik. Membasahi pipiku yang segera kusapu dengan kedua punggung tangan.

Ya, Tuhan. Bahkan, kini Young Ra pun tidak sependapat denganku. Aku harus bagaimana? Haruskah aku mengikuti kata-kata mereka? Melupakan Se Hun? Pria yang selama ini kukagumi, kusukai? Haruskah aku menyerah sampai disini?

***

(Author’s Pov)

Kim Suho sedang bercerita sambil tertawa bersama Kai di koridor sekolah saat ia melihat Oh Se Hun tengah berjalan dari arah taman belakang sekolah. Tangan Se Hun memegang sebuah bunga kertas berwarna merah muda yang Suho lihat terus dipandangi oleh pria itu.

“Hey, bukankah itu Se Hun?” Suho menoleh menatap Kai yang baru saja menyikut lengannya, lalu mengikuti arah pandang Kai yang menunjuk dengan gerakan dagunya ke arah dimana Se Hun berada tadi.

“Benar,” gumam Suho mengangguk. “Sedang apa dia dari taman belakang sekolah?” pertanyaan Kai juga dipertanyakan dalam benak Suho. Tapi kemudian kedua pria itu saling menatap hingga sama-sama menyunggingkan seulas senyum simpul ke arah Se Hun.

Sementara itu, Se Hun yang tetap pada posisinya semula—melangkah sambil memandangi bunga kertas ditangannya—masih tidak habis fikir pada apa yang baru saja ia alami. Hari ini, untuk ke-sekian kali seorang wanita menyatakan perasaan suka padanya. Dan, Se Hun bosan untuk mengatakan bahwa ke-sekian kalinya pula ia menolak wanita itu dengan alasan yang tak pernah berubah dari sejak pertama kali ia menerima pernyataan cinta seorang wanita. Dan, wanita hari ini..—baiklah, bisa dikatakan bahwa ia adalah wanita ke-15 dan Se Hun harap menjadi wanita terakhir yang pada akhirnya harus rela menerima penolakan dari Se Hun dihari itu—adalah wanita yang bereaksi sama seperti ratusan atau bahkan mungkin ribuan wanita sebelumnya yang sudah pernah ditolak cintanya oleh Se Hun. Kaget. Jelas saja, siapapun akan kaget dengan penolakan Se Hun yang bisa dikatakan cukup menyakitkan jika mereka mendengar alasannya. Se Hun mengakui bahwa ia sedikit keterlaluan dengan mengatakan bahwa wanita itu bodoh. tapi, mau bagaimana lagi? Se Hun adalah tipe laki-laki yang lebih suka berkata jujur sekalipun kejujuran itu menyakitkan daripada ia harus membohongi semua orang. Lagipula, sejak kecil ia memang tidak menyukai makhluk yang bernama ‘wanita’—tentunya berbeda terhadap ibu dan kakak-kakak perempuannya—. Menurut Se Hun, wanita itu merepotkan. Suka merengek, suka manja, dan pintar menyembunyikan sesuatu yang kerap membuat lelaki kewalahan. Contohnya saja, kakak-kakak perempuan Se Hun dirumah yang setiap hari selalu berubah-rubah suasana hatinya. Kadang baik, jahat, suka menangis tiba-tiba begitu pulang kerumah, dan tak jarang pula bersikap usil mengerjai Se Hun. Dan, sebagai adik paling kecil dalam keluarga, Se Hun-lah yang selalu kena imbas dari perasaan ‘aneh’ mereka. Karena semua hal itulah, Se Hun paling tidak suka dekat-dekat dengan para ‘wanita’. Ia lebih suka menjaga jarak dengan makhluk yang hampir rata-rata menyukai warna merah muda dan bunga mawar itu.

Tetapi… Se Hun berhenti melangkah saat tiba-tiba ia teringat pada sosok wanita terakhir yang ditemuinya di taman belakang sekolah. Cho.. Cho.. siapa namanya? Se Hun lupa. Cho Jin apalah itu, yang pastinya.. Jujur saja, Se Hun merasa sedikit khawatir saat ia menerima pernyataan cinta dari wanita itu beberapa menit yang lalu. Saat ia mengatakan kalimat pernyataan cintanya, Se Hun melihat cahaya semangat yang susah pudar dari kedua bola matanya. Terlebih lagi, Se Hun jadi semakin khawatir saat dugaannya yang mengira wanita itu akan menyerah dan memasang tampang kecewa setelah Se Hun menyatakan penolakkan, adalah salah. Se Hun salah karena menduga seperti itu. Kenyataannya, wanita itu malah tersenyum seperti tak terjadi sesuatu apapun yang menyakitkan hatinya, dan berkata suatu permintaan yang cukup membuat Se Hun terkejut. Sepanjang hidupnya, baru kali ini ia melihat ada wanita yang tetap terlihat bersemangat dan tak kenal menyerah meski sudah Se Hun tolak cintanya. Dan wanita itu adalah Cho.. Oh, Se Hun masih tidak ingat nama wanita itu.

Tanpa Se Hun sadari, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum, mengingat-ingat wajah gadis tadi. Ia tersentak kaget dan menggeleng pelan saat mendapati dirinya yang hampir bertanya-tanya, apakah ia akan bertemu lagi dengan wanita itu? Tapi, aish. Se Hun mengupat dalam hati saat ia menyesali jawaban yang diberikannya atas pertanyaan wanita itu. Kenapa ia langsung menjawab persetujuan begitu saja? Haih, sudahlah. Ia juga tidak begitu yakin jika wanita itu serius dengan ucapannya. Paling-paling kalimat itu hanya ucapan spontan yang keluar begitu saja dari bibir si wanita untuk menutupi rasa kecewanya karena penolakkan Se Hun. Benar, seperti itu lebih benar.

“Ya! Oh Se Hun!” Se Hun terkesiap kaget karena lehernya tiba-tiba saja dilingkari satu lengan yang dari suara barusan sudah ia kenali siapa orangnya.

“Berhenti bermain, Kai.” ucap Se Hun datar tanpa memandang sosok dibelakangnya. Sementara itu, Su Ho yang telah berdiri tepat disebelah kanan Se Hun hanya bisa tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya ampun! Bagaimana bisa kau mengenaliku?” Kai bertanya setelah ia melepaskan lingkaran tangannya dari leher Se Hun dan kini mengambil posisi berdiri disebelah kiri Se Hun yang kosong.

“Ubah dulu suara cemprengmu, baru aku tidak akan mengenali suaramu.”

“O-ow~ jawabanmu benar-benar membuatku ingin mengikatmu dipohon tomat, Oh Se Hun.”

“Silahkan saja. Aku bisa dengan mudah melepaskan diri karena pohon tomat itu tidak tinggi,”

Kai meringis. Lalu menepuk-nepuk bahu Se Hun. “Kadang-kadang aku iri dengan kepintaranmu.”

“Karena itu belajarlah, Kai..” sahut Suho sambil tertawa.

“Tapi, sebelumnya dia harus memperbaiki nilai untuk menutupi keabsenannya yang telah bertumpuk selama ini, Hyung.” Timpal ,”Se Hun, menanggapi perkataan Suho yang lebih tua beberapa bulan darinya.

“Kau benar,” Suho mengangguk-angguk. Tindakannya itu membuat Kai kembali meringis. Lalu ia mengusap wajah dan berkata kesal, “Aku menyesal menjadi model..”

“Bersyukurlah karena hingga saat ini setidaknya wajahmu bisa menunda kemarahan Lee Songsaengnim..”

Kai tertawa mendengar ucapan Se Hun. “Benar. Dia baik sekali. Menurut kalian, apakah sekali-kali aku perlu mengajaknya kencan?”

Kini Suho yang tertawa mendengar candaan salah satu sahabatnya yang berprofesi sebagai model iklan ternama Seoul. Sementara Se Hun, ia lebih memilih memasang tampang datar andalannya. Tiba-tiba, tawa Kai terhenti saat pandangannya berpaku pada bunga kertas merah muda yang sama sekali tidak disadari oleh Se Hun, ia masih memeganginya di tangan kanan.

“Oh! Apa ini?” Se Hun tersentak ketika Kai merebut bunga dari tangannya. Se Hun mengupat kecil, ia keduluan dengan gerakan Kai yang sangat cepat. Kai memandangi bunga kertas merah muda yang mengacung didepan matanya. Ia menggumam kemudian, “ah, kau ditembak lagi rupanya..”

Se Hun berdeham sebagai jawaban. Dan, Kai maupun Suho langsung tahu arti dari dehaman itu. Sehun benar-benar baru saja menerima pernyataan suka seorang wanita.

“Kali ini siapa?” tanya Suho, memegangi pundak kanan Se Hun dan memandangi pria yang lebih kecil usianya dari Suho itu. “Aku tidak tahu namanya.” Jawab Se Hun datar sambil memasukkan satu tangannya kedalam saku celana sekolah merah hitam kotak-kotak yang digenakannya hari ini.

“Hm.. dari bentuk dan warna bunga ini.. sepertinya dia yoeja yang manis..”

Se Hun mendengus pelan mendengar perkataan Kai. “Apa kau sudah berubah profesi dari model menjadi paranormal, Kim Jong In?” tanyanya. Dan dengan segera ia mendapat tatapan tajam dari Kai. “Jangan menyebut nama asliku, Se Hun-ah!” katanya tegas, membuat Se Hun dan Suho tertawa. Teman mereka, Kai, atau yang bernama asli Kim Jong In itu paling anti jika ada orang yang meneyebut nama aslinya—kecuali keluarga Kai sendiri—. Entah kenapa seperti itu. Katanya, ia lebih suka orang-orang memanggilnya dengan sebutan Kai. Terutama bila yang memanggilnya adalah para wanita. Hhh, Se Hun tidak habis fikir mengapa Kai bisa begitu senangnya berdekatan dengan banyak wanita. Apa karena profesinya sebagai model? Kalau Se Hun, mau dirinya dibayar berapapun dia tidak akan pernah mau berpotret bersama yang namanya ‘wanita’.

“Kelas berapa?” tanya Suho tiba-tiba.

Se Hun mengerutkan kening untuk mengingat-ingat, “Sepertinya kelas 2-D.”

“Marganya kau ingat?”

“Cho, kalau aku tidak salah.” Jawab Se Hun lagi atas pertanyaan Suho.

“Cho?! Apakah Cho Jin Hye?!” kekagetan yang terdengar dari nada kalimat Kai membuat Se Hun dan Suho menoleh menatap kearahnya dengan kening berkerut.

“Katakan padaku, Se Hun-ah.. apa benar Cho Jin Hye?” Kai terlihat sedikit khawatir. Se Hun jadi semakin bingung dengan reaksi temannya itu. Sebenarnya, siapa Cho Jin Hye? Ada apa dengan gadis bernama Cho Jin Hye itu hingga membuat Kai terlihat antusias seperti ini? Tapi.. tunggu! Benar! Se Hun ingat sekarang. Nama gadis tadi adalah Cho Jin Hye.

“Mungkin,” Tidak mau terlihat begitu yakin, hanya kata itu yang terlontar dari Se Hun. Jawabannya membuat Kai meringis pelan.

“Kau kenal dengan gadis itu, Kai?” tanya Suho yang terheran-heran.

“Mungkin orang yang dia suka, Hyung,” sahut Se Hun.

“Tidak.” jawab Kai cepat. Lalu ia terkekeh pelan sebelum kembali berkata dengan cengiran, “Sebenarnya aku sedikit suka, sih.. tapi kurasa dia hanya menganggapku sebagai teman. Aku mengenalnya karena dia adik teman karibku di Agensi model,”

“Oh..” gumam Suho. Sementara Se Hun hanya diam, tidak menjawab. Namun ia mendapati dirinya sedang mengingat-ingat, apakah benar gadis yang tadi menyatakan perasaan padanya, dan gadis yang tadi ditolaknya, gadis yang matanya terdapat potensi rasa semangat yang begitu besar, gadis yang memberinya bunga mawar kertas merah muda yang merupakan hasil kerajinan tangan gadis itu sendiri pada kelas kesenian, juga gadis yang sempat membuatnya tersenyum sesaat tadi, benarkah itu adalah Cho Jin Hye? Sosok yang dikenal Kai?

***

“Tidak. Jin Hye tidak boleh menyerah begitu saja. Jika, Jin Hye merasa benar-bear menyukai pria itu.. kenapa Jin Hye harus menyerah? Lakukanlah apa yang bisa Jin Hye lakukan untuk dapat meraih hatinya selama masih ada kesempatan. Tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau berusaha, kan?”

Jin Hye tersenyum lebar sambil menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia baru saja selesai makan malam bersama keluarganya. Tadi sore, sebelum acara makan malam keluarga seperti biasa berlangsung ia sempat bercerita dan menanyakan pendapat kakak iparnya saat Jin Hye mencoba membantu sang kakak untuk membuatkan makan malam. Ia memang cukup dekat dengan kakak iparnya itu, bahkan sekarang, kakak iparnya itu telah menjadi pengganti sosok ibu Jin Hye yang telah tiada.

Dan, setelah dengan simak mendengar cerita Jin Hye, Jung Ah Ra—kakak iparnya— telah memberikan nasihat yang sangat membuat semangat Jin Hye naik hingga ke puncak. Kini, Jin Hye merasa yakin dengan keinginannya semula. Mendapatkan hati Oh Se Hun.

Jin Hye duduk ditepi ranjang sambil berfikir apa yang kira-kira harus dilakukannya pertama kali untuk melaksanakan strateginya mendapatkan Se Hun? Belajar? Tentu saja. Tapi, bagaimana caranya? Jika boleh jujur, sejak kecil Jin Hye paling susah bila disuruh belajar. Bukannya tidak mau atau tidak suka belajar, tapi entah kenapa Jin Hye selalu merasa sulit saat ia harus memecahkan teka-teki pelajaran yang sama sekali tak dimengerti olehnya. Rumus ini.. rumus itu.. apalagi pelajaran Matematika. Semuanya memusingkan!

Jin Hye masih ingat, ia bahkan sering di marahi kakak-kakaknya dulu karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang mereka buatkan saat Jin Hye mencoba belajar dengan mereka. Untung kakak-kakaknya tidak bosan mengajarinya, sehingga sampai saat ini mereka masih mau membantu Jin Hye bila ada tugas sekolah yang tidak dapat gadis itu kerjakan. Jin Hye memberengut. Ia memang memiliki dua orang kakak laki-laki yang dua-duanya adalah sosok pintar. Mereka selalu meraih peringkat dua besar disekolah masing-masing saat masih menjadi pelajar dulu. Kadang-kadang Jin Hye jadi heran, apa benar dirinya yang bodoh adalah adik kandung dari kedua kakaknya itu? Haih, pikirannya mulai melantur lagi.

Jin Hye masih sibuk dengan pikiran-pikirannya saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia bangkit dari duduk dan berjalan kearah pintu. Membuka pintu itu pelan, dan.. muncullah wajah kakak laki-laki keduanya yang sedang menyunggingkan seulas senyum sambil tiba-tiba menyodorkan satu kotak dengan kertas kado merah muda yang dihiasi pita manis bercorak gambar hati diatasnya kearah Jin Hye.

“Lu Han Oppa.. ada apa?” tanya Jin Hye, bingung dengan kehadiran kakak laki-lakinya didepan kamar. Juga bingung melihat benda yang berada ditangan laki-laki itu.

“Ini dari Young Mi. Tadi aku dan dia ketoko kosmetik langganannya, jadi dia membelikan ini untukmu.. katanya, kau harus sering-sering memakainya..” kata kakak lelakinya, Lu Han, menjawab pertanyaan Jin Hye. Jin Hye mengangguk-angguk dan menerima kotak pink yang terulur kearahnya kemudian tersenyum manis pada Lu Han, “Gomawo Oppa.. sampaikan terima kasihku juga pada Young Mi Eonnie, ya!”

Lu Han mengangguk pelan sambil ikut tersenyum pula. “Kau sedang belajar?”

Jin Hye mengangguk. “Baru saja,”

Lu Han tersenyum sekali lagi, kemudian mengusap-usap dengan lembut puncak kepala Jin Hye. “Belajarlah. Sebentar lagi kau akan lulus, jadi harus belajar lebih keras mulai saat ini. Aku dan Kyu Hyun Hyung akan bangga bila kau bisa lulus dengan nilai terbaik.. meski itu rasanya mustahil..” Kata Lu Han disertai cengiran diujung kalimatnya.

Oppa!” Lu Han tertawa mendapati Jin Hye melotot padanya. Ia mengusap-usap puncak kepala adik kecilnya itu sekali lagi, “Oppa hanya bercanda. Ya sudah, lanjutkanlah belajarmu. Oppa masuk kekamar dulu, ne?”

Jin Hye mengangguk, meski hatinya masih sedikit dongkol dengan kakak lelakinya yang paling usil itu. Hampir saja semangatnya menurun tadi karena perkataan Lu Han. Untung, Jin Hye masih sanggup menahan diri. Jin Hye menghela napas pelan.

“Tapi, tumben Oppa tidak keluar malam ini? Tidak ada acara pemotretan?”

Lu Han baru akan menjawab ketika tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Tangan kanannya meraih ponsel biru muda dari dalam saku celana jeans-nya dan Jin Hye dapat melihat seulas senyum tersungging dibibir Kakaknya itu ketika ia melihat layar ponsel. Tanpa Lu Han bilangpun, Jin Hye sudah tahu siapa yang menepon.

“Nanti kita lanjutkan lagi. Kyu Hyun Hyung bilang kita akan berbincang-bincang dibawah setelah ia dan Ah Ra Nuna pulang dari rumah teman mereka. Oppa ke kamar dulu, ya.”

Jin Hye menghela napas mendengar perkataan kakaknya. “Bilang sajalah, Oppa mau bermesra-mesraan dengan Young Mi Eonnie.” Sindir Jin Hye membuat Lu Han tersenyum kecil. Pria itu kemudian menempelkan ponsel ditelinga kanannya setelah menekan tomboh ‘jawab’ panggilan di layar ponsel lebih dulu. Kemudian, Jin Hye memberengut menatap sosok kakak lelakinya yang melangkah menuju kamarnya sendiri sambil berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Ada kalanya, Jin Hye merasa iri dengan Kakaknya itu. Jin Hye juga ingin ditelfon oleh seseorang yang ia suka. Intinya, ia harus memiliki kekasih. Harus! Tapi, bagaimana caranya ia mendapatkan sosok laki-laki yang akan menjadi pacarnya? Sedangkan saat ini, ia baru saja ditolak oleh laki-laki yang sangat ia sukai. Argh! Jin Hye tidak mau mengingat-ingat hal itu lagi!

Pfffh… Jin Hye menghela napas sekali lagi sebelum kemudian menutup pintu kamarnya untuk segera menuju meja belajar dan mencatat hal-hal apa saja yang harus ia lakukan guna melaksanakan target ‘Meraih Hati Seorang Oh Se Hun’.

***

“Pagi Oppa.. Eonnie..”

Cho Kyu Hyun melipat koran ditangannya dan menoleh kearah tangga. Ia tersenyum kecil. “Adik kami sudah bangun ternyata..” diletakkannya Koran tadi disamping cangkir yang masih berisi penuh kopi.

“Bagaimana tidurmu, Jin Hye?” Jung Ah Ra bertanya pada seorang gadis yang sedang menggeser kursi untuk diduduki. Gadis itu menoleh sekilas lalu mengangguk dengan lemas. “Aku tidur dengan nyenyak, Eonn..”

“Bohong.”

Sosok Jin Hye yang baru saja hendak mengambil roti bakar ditengah meja, menatap tajam pada Lu Han yang duduk diseberangnya. Kakaknya itu, apa pagi-pagi begini mau cari ribut dengannya?

“Ada lingkaran hitam dibawah matamu. Kau pasti tidur larut malam, iya, kan? Ayo mengaku?” Tuding Lu Han, membuat Jin Hye menggertakkan gigi. Menggeram.

“Lu Han.. jangan begitu pada adikmu..” Ah Ra melerai kedua bersaudara yang jika tidak dipisahkan itu akan segera melakukan pertengkaran sengit dipagi hari yang seharusnya indah untuk dilalui.

“Memang benar, kok, Nuna.. Jin Hye pasti tidur telat semalam..”

Oppa, berhenti bicara!”

“Jin Hye..” suara Cho Kyu Hyun menghentikan pelototan Jin Hye kepada Lu Han. Gadis itu menoleh kearah Kyu Hyun. Kakak pertamanya itu kini menatapinya tajam. “Benar kau tidur sampai larut malam?”

Jin Hye ingin berkata ‘tidak’. Tapi, ia yakin Kyu Hyun tidak akan percaya dan pasti akan terus memaksanya untuk mengaku. Lagipula, kenyataannya memang benar. Semalam, setelah mempelajari soal-soal Matematika dan Bahasa Inggris di buku catatan sekolahnya, ia jadi lupa waktu. Saat Jin Hye sadar ia mulai mengantuk, ternyata jam dinding dikamarnya sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Jadi, dia hanya tidur selama 2 jam. Karena pada pukul 5 pagi, Jin Hye sudah bangun kembali untuk bersiap-siap berangkat kesekolahnya. “Ne,” Pada akhirnya, Jin Hye berkata lemas sambil menganggukkan kepala. Ia mengaku. Kyu Hyun dibuatnya mendesah keras. “Sudah Oppa bilang, kalau belajar itu ingat waktu.. kau tidak kasihan pada tubuhmu sendiri? Bagaimana bila kau jatuh sakit?!”

Jin Hye menundukkan kepalanya. Tangannya mulai memotong-motong roti bakar secara asal tanpa bentuk. Dia geram pada kakak-kakaknya. Mereka sama sekali tidak mengerti dan pasti tidak akan mau mengerti bila Jin Hye mengatakan alasannya mengapa ia belajar jauh lebih keras dari biasanya.

“Jin Hye-ya..” Ah Ra menatap Jin Hye dengan raut khawatir. “Eonnie lihat belakangan hari ini kau sering tidur larut malam. Sebenarnya ada apa? Apa di sekolahmu sedang ada ujian berturut-turut?”

Jin Hye menggeleng pelan.

“Lalu?” tanya Kyu Hyun. Terdengar semakin tidak sabar untuk mendengar alasan adiknya.

“Aku hanya tidak ingin tidak lulus saat Ujian Akhir nanti, Oppa.. karena itu, aku belajar keras dari sejak dini..” ungkap Jin Hye akhirnya, walau sebenarnya ia sendiri tidak yakin dengan apa yang diucapkannya. Benarkah ia belajar demi lulus di Ujian Akhir? Yah, mungkin benar. Bila ia tidak lulus, artinya nilai yang ia dapatkan jauh rendah dibandingkan nilai Se Hun, dan ia berarti lagi bahwa ia tidak akan menjadi kekasih Se Hun! Tidak! Jin Hye tidak mau itu terjadi!

“Oppa mengerti.” Tanggap Kyu Hyun setelah berdeham. “Tapi, disamping belajar Jin Hye juga harus ingat waktu untuk meng-istirahatkan diri. Tubuh itu tidak baik jika diforsir untuk bekerja terlalu lelah, nanti kau bisa sakit. Belajar sekedarnya saja. jika sudah capai, istirahat. Jadi, apa kau sudah mengerti maksud Oppa, Jin Hye?” lanjutnya, yang dijawab dengan anggukkan kepala Jin Hye.

Arro,” jawab Jin Hye dengan suara pelannya. Tiba-tiba, ia merasakan ada tangan yang mengusap-usap punggungnya. Jin Hye menoleh kekirinya dan mendapati kakak iparnya, Jung Ah Ra, tengah tersenyum lembut padanya. “Sekarang makanlah. Habiskan rotinya. Nanti kau bawa bekal saja, ya, ke sekolah. Eonnie sudah menyiapkannya didapur tadi..”

***

“CHO JIN HYE!”

Jin Hye tersentak kaget dan matanya secara spontan terbuka dengan lebar. Semakin melebar, saat ia melihat sosok guru Bahasa-nya yang sudah berdiri tepat didepan mejanya. Guru itu, Song Songsaengnim, menatapinya dengan kening berkerut dan mata melotot dari balik kacamat tebalnya. “Kau tidur lagi! Apa kau sedang bermimpi bertemu dengan pangeran tampan dan berdansa dengannya di Istana megah sampai kau tidak bisa tersadar dari tidurmu dan berusaha sedikiiiiit saja untuk memperhatikan penjelasanku didepan, huuuuuh?!!”

Rasanya,  Jin Hye ingin menutup kedua telinganya dengan tangan karena suara Song Songsaengnim terlalu menggelegar, menggema di ruang kelas. Dari dulu sampai saat ini, Jin Hye masih bertanya-tanya darimana guru Bahasanya itu mendapatkan frekuensi suara sekuat itu. Jin Hye juga berpendapat bahwa Song Songsaengnim lebih cocok menjadi guru Menyanyi dipelajaran Kesenian. Dengan suara badainya itu, ia mampu membuat semua orang terpukau.. lalu pingsan begitu saja karena telinga mereka akan pecah. Owh, ok.. Jin Hye mengaku hari ini ia terlalu banyak melantur.

“Maaf, Songsaengnim..” Hanya kata itu yang bisa diucapkan Jin Hye. Memangnya apa lagi? Ia ingin melawan, tapi nilai Bahasanya pasti akan memburuk jika ia melakukan itu. Tanpa sengaja Jin Hye melihat Grace yang duduk disebelahnya, dan Min Chan serta Young Ra yang duduk dibarisan depan setelah Grace dan Jin Hye, mereka melayangkan tatapan heran yang kini berganti menjadi tatapan tajam untuk Jn Hye. Jin Hye menelan ludah, menerima semua itu.

“Sekarang cepat selesaikan soal di papan tulis itu!” perkataan Song Saengnim mengalihkan pandangan Jin Hye dari teman-temannya kepada guru Bahasanya itu. Jin Hye menelan ludah untuk kedua kali. Kemudian matanya membulat menatap papan tulis yang sudah terisi serangkaian kalimat yang tidak dimengerti oleh Jin Hye. Bagaimana ia bisa menegerti sementara sejak pertama kali Song Saengnim menjelaskan pelajarannya hari ini, ia malah tertidur.

“Ta.. ta..” Jin Hye ingin menolak dengan mengatakan ‘tapi’, namun suara Song Saengnim yang lagi-lagi menggelegar lebih dulu memotong ucapannya, “AYO CEPAT!”

***

“Kau tidak mau kekantin, Jin Hye?”

Jin Hye menggeleng, menjawab pertanyaan Young Ra.

“Aku mau perpustakaan. Kalian bertiga saja yang pergi, lagipula aku bawa bekal.”

Jin Hye sadar ketiga temannya sedang menghela napas. Seolah pasrah dengan keputusan yang Jin Hye buat. “Ternyata kau serius dengan ucapanmu untuk belajar demi menjadi kekasih Se Hun..” Min Chan menggumam. Tapi kali ini, tidak terdengar nada kemarahan dalam kalimatnya.

Jin Hye mengangguk mantap. “Tentu saja. Kalau aku menyerah, bukan Cho Jin Hye namanya!”

Lagi-lagi, ketiga temannya mendesah. Kali ini lebih keras dari semula.

“Baiklah, kalau begitu kami pergi kekantin dulu, Jin Hye-ya..” pamit Grace, mewakili Min Chan dan Young Ra.

“Ok. Kalian makanlah yang banyak dikantin, ya.. Bye Bye~” Jin Hye melambai-lambaikan tangan kanannya pada Grace, Min Chan, dan Young Ra,  namun reaksi mereka hanya menatap Jin Hye dengan pandangan heran lalu entah bagaimana caranya mereka dapat menggelengkan kepala secara serempak. Kemudian, ketiganya melangkah pergi meninggalkan Jin Hye didepan pintu kelas, menuju kea rah kantin yang berada di lantai 1.

Jin Hye menghela napas beberapa detik sebelum kemudian iapun mulai melangkahkan kaki kearah lantai 4. Tujuannya kini adalah perpustakaan sekolah. Sebenarnya tidak ada tugas kelas yang harus membuatnya mencari data disana, namun entah mengapa pagi tadi Jin Hye terfikir untuk mencoba membaca-baca buku di perpustakaan. Ia ingin terbiasa dengan buku-buku itu. Terlebih buku-buku yang berbasis kompetensi Bahasa Inggris. Ia ingin lebih bisa mendalaminya karena selama ini ia agak lemah dalam pelajaran bahasa tersebut, karena itulah Jin Hye telah mempersiapkan diri dengan membawa sebuah kamus Bahasa Inggris-Korea setebal 3 cm.

Jin Hye mengedarkan pandangan keseluruh penjuru perpustakaan begitu ia tiba di ruang yang berukuran besar dan luas itu. Mulut Jin Hye sediki terbuka, ia tidak pernah tahu kalau perpustakaan rupanya menarik banyak sekali murid-murid untuk datang kedalamnya. Ia tidak pernah tahu, kalau perpustakaan bisa seramai ini. selama ini, Jin Hye fikir, perpustakaan adalah tempat membosankan dimana hanya ada satu atau dua anak yang berkunjung kesana.

Suasana perpustakaan sedikit ribut saat Jin Hye melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Di beberapa sisi pada arah sebelah barat dan timur dari Jin Hye berdiri, tampak beberapa anak tengah membaca atau sekedar mencari-cari buku di rak besar yang 10 kali lebih lebar dari lemari kamar Jin Hye. -__-

Jin Hye mendekati sebuah meja tinggi dimana ada seorang wanita setengah baya yang duduk disana sambil membolak-balik buku tebal berwarna kuning dihadapannya.

Jeogi…” Jin Hye berkata, dan wanita setengah baya didepannya yang tadi sibuk menulis sesuatu kini mengangkat wajah. Menatap Jin Hye dengan kening berkerut.

“Aku ingin mendaftar menjadi anggota perpustakaan..” kata Jin Hye lagi sembari tersenyum. Wanita itu tampak mengangguk lalu kemudian dia mengambil sebuah kartu berukuran 10 x 5 cm dengan warna hijau menyala dan menyodorkannya kepada Jin Hye. Ia juga memberikan Jin Hye sebuah pena bertinta hitam, yang langsung Jin Hye terima dengan semangat.

“Isi dulu biodatamu, lalu kau bisa membayar uang pendaftaran sebesar 2 Won untuk menjadi Anggota Perpustakaan Sekolah..” Wanita setengah baya itu menjelaskan, yang ditanggapi dengan anggukan kepala Jin Hye pertanda bahwa ia mengerti. Jin Hye mulai menuliskan biodata dirinya sesuai kolom-kolom pada kartu. Saat ia tengah berfikir, berapa meter jarak dari rumahnya ke sekolah.. pikirannya terbuyarkan dengan suara wanita setengah baya dihadapannya tadi.

“Hhhh.. lagi-lagi pria itu membawa para Kumbang ‘aneh’..”  si Wanita setengah baya menatap kesuatu arah disebelah kiri Jin Hye. Kening Jin Hye berkerut mendengar perkataan wanita itu. Para Kumbang? Maksudnya apa? Jin Hye menoleh menatap kearah yang sama dengan pandangan wanita setengah baya tadi dan melebarlah matanya saat ia mendapati sosok Se Hun yang tengah duduk sambil membaca buku disudut dekat jendela dengan dikerubungi murid-murid wanita. Para murid wanita itu juga memegangi buku ditangan masing-masing dan terlihat.. seolah-olah meminta sesuatu pada Se Hun. Dan seperti sikapnya yang biasa, Se Hun sama sekali tidak memperdulikan para murid wanita itu. Matanya terus fokus pada buku yang dibacanya. Jin Hye menggertakkan gigi ketika ia melihat beberapa orang dari murid wanita yang memegang-megang lengan atau bahu Se Hun. Posisi berdiri mereka juga terlalu dekat dengan Se Hun, membuat Jin Hye mengupat kecil dalam hati. Ia kesal, sebal, benci, melihat Se Hun didekati oleh murid-murid wanita. Yah, sebenarnya ini bukan kali pertama ia melihat pemandangan tidak mengenakkan baginya itu. Selama ini, matanya sudah terbiasa dengan sosok Se Hun yang selalu dikerubungi para wanita. Entah itu disekolah maupun diluar sekolah. Jin Hye selalu merasa… cemburu.

“Sudah selesai mengisi-nya, Nona?” suara wanita setengah baya yang merupakan penjaga perpustakaan membuyarkan lamunan Jin Hye. Jin Hye tersenyum paksa, lalu denan terburu-buru ia mengisi satu kolom terakhir yang belum diisi olehnya. Selesai, ia segera menyodorkan kartu tersebut pada penjaga perpustakaan, lalu pandangannya menoleh kearah Se Hun sekali lagi. Sekilas saja, dan dari hasil menoleh itu ia mendapati Se Hun yang sudah selesai membaca buku dan tampak bersiap pergi.

“Biayanya, Nona?” lagi-lagi si wanita setengah baya berkata. Jin Hye mengangguk kecil sebelum ia merogoh saku rok-nya untuk mengambil dompet. Tepat saat ia tengah menghitung jumlah uang di dompetnya, seseorang yang sepertinya baru saja masuk keprpustakaan menubruk tubuhnya hingga dompet ditangan Jin Hye terlempar jatuh.

“Maaf, saya tidak sengaja..” kata seorang murid laki-laki yang tadi menubruk Jin Hye. Rasa penyesalan tampak tulus di matanya, membuat Jin Hye mengangguk pelan.”Tidak apa..” ucapnya tersenyum. Pria itu pergi, dan Jin Hye mulai menyadari dompetnya yang sudah tidak ada ditangan. Matanya mencari-cari kearah lantai, dan dia melebarkan mata saat mendapati sosok Se Hun yang memegangi dompetnya. Se Hun berdiri semeter di hadapan Jin Hye—tentunya dengan para murid wanita yang seakan tidak bosan mengelilingi Se Hun—. Entah benar entah tidak, Jin Hye melihat sekilas Se Hun menghela napas sebentar sebelum pria itu melangkahkan kaki. Oow~ Tidak. dia mendekati Jin Hye!

“Jangan ceroboh lagi.” tiga katah itu yang keluar dari bibir Se Hun saat ia menyodorkan dompet pink berenda kepada Jin Hye. Jin Hye yang masih terbelalak, menahan napas menyadari sosok Se Hun berada begitu dekat dengannya. Jin Hye yakin ia tidak akan pernah sadar dari ketergunannya kalau saja Se Hun tidak meraih tangan kanannya dan meletakkan dompet tadi diatas telapak tangan Jin Hye. Saat, itu Jin Hye bisa mendengar umpatan-umpatan kecil berasal dari arah belakang Se Hun—dari para murid wanita.

Jin Hye masih diam terpaku semenit setelah sosok Se Hun menghilang dari hadapannya—tentunya para Kumbang ‘aneh’ juga ikut menghilang—. Sampai kemudian, suara wanita setengah baya, sang penjaga perpustakaan membawanya kembali kedunia nyata. Dunia perpustakaan yang sudah tidak dalam keadaan ribut lagi setelah Se Hun dan para ‘Dayangnya’ pergi.

***

“Jin Hye, kau melamun lagi?”

Jin Hye tersentak dan mengalihkan pandangannya dari gelas tinggi yang masih berisi penuh Punch Ice dihadapannya kearah Young Ra. “Apa? Kau bilang apa barusan?”

Grace mendesah keras. “Sudah kukatakan, kan, Young.. dia tidak mungkin mendengar semua perkataanmu tadi..” ujarnya.

Jin Hye mengerutkan kening. “Maksudnya apa? Aku tidak mengerti..”

Min Chan hanya menjawab dengan helaan napas sambil mengaduk-aduk Lemon Grace-nya, sementara Young Ra menatapi Jin Hye dengan sorot mata khawatir. “Jin Hye, sudah dua minggu kau terus seperti ini.. lama-lama kau bisa saja tidak mendengar semua perkataan yang dikatakan orang-orang disekitarmu.” Ujar Young Ra.

Jin Hye menelan ludah. Dia tidak akan membantah jika yang menasihatinya adalah Cha Young Ra, sosok lembut yang selalu bisa membuat hatinya tenang. Dan, Jin Hye membenarkan ucapan Young Ra barusan. Benar, ini adalah hari ke empat belas dimana Jin Hye masih terus berusaha belajar untuk mendapatkan nilai terbaik pada pembagian raport semester ini. Dan benar, selama dua minggu itu pula ia sering melamun karena terlalu banyak memfokuskan diri pada rumus-rumus dan bacaan di buku yang ia pelajari.

Mianhae..” ujar Jin Hye sambil mengaduk Punch Ice-nya, tanpa menatap Young Ra.

“Kau sudah mengucapkan kata itu berulang kali, dan aku yakin, nanti atau besok, kau akan mengucapkannya lagi dengan jumlah yang lebih banyak!” kata Min Chan.

Jin Hye menelan ludah. “Maaf,” Ia tidak tahu kata apa lagi yang harus diucapkannya, selain hanya kata ‘Maaf’.

Young Ra mendesah pelan, sebelum kemudian menggenggam tangan kiri Jin Hye yang berada diatas meja. “Sudahlah. Tadi aku bilang, lebih baik kau fokus pada acara kemah kita nanti..”

“Kemah?” Jin Hye menaikkan satu alisnya, menatap Young Ra yang langsung mengangguk. “Ya!” jawab Young Ra.

“Salah satu pelajaran ekstakurikuler sekolah kita mengharuskan seluruh anak kelas tiga untuk berkemah di Hong Dai selama tiga hari. Semua kelas ikut, namun karena ada 6 kelas kelas 3 di sekolah ini.. maka supaya tidak terlalu ramai, para guru membagi seluruh kelas menjadi tiga kelompok untuk berkemah ditiga tempat yang berbeda..” Grace menjelaskan. Jin Hye mengangguk dan ia menyadari bahwa daripada semua teman-temannya, ternyata ia yang paling telat menyadari kabar ini.

“Jadi, satu kelompok terdiri dari dua kelas.” Sambung Min Chan lalu ia mendesah panjang dan menyanderkan tubuh pada kursi kantin yang didudukinya. Tangannya terlipat didepan dada. “Aku berharap kita mendapatkan Bukit Pyoen Jing. Kudengar dari Oppa-ku tempat itu sangat indah. Jadi, pasti menyenangkan bila kita berkemah disana..”

“Tidak mau..disana pasti dingin.. lebih baik ke pantai Han Sue saja…” kata Grace.

Jin Hye melihat Young Ra tersenyum. “Dimanapun, asalkan kita berempat bersama, pasti akan terasa menyenangkan. Iya, kan, Hye?” Young Ra bertanya pada Jin Hye yang dijawaba oleh anggukan kepala Jin Hye, membenarkan.

“Lalu kelas kita terpilih dengan kelas mana?” tanya Jin Hye tiba-tiba.

Grace mengangkat bahu. “Entahlah. Wali kelas kita belum mengumumkannya..”

Jin Hye mengangguk-angguk lagi, mengerti. Ia mulai menyeruput Punch Ice-nya perlahan.

“Aku hanya sangat berharap agar kelas kita tidak dipasangkan dengan kelas Se Hun..”

Jin Hye tersedak dan hampir saja menumpahkan minuman dimulutnya jika saja ia tidak langsung menelan minuman itu dengan cepat. Setelah menarik napas untuk menenangkan diri, Jin Hye menatap tajam Min Chan yang memasang tampang polos ke arahnya. Jin Hye berdesis. “Shim Min Chan, kau memang sangat menyebalkan.”

~To Be Continued~

 

25 pemikiran pada “Blue Prince (Chapter 1)

  1. Hah yg bener sehun gk suka cewe !!
    lah jelas2 dia kan suka eh salah maksudnya cinta sama aku thor *PLAAAAK
    dan aku ini cewe lo cewe *digampar lagi
    waah seru thor ceritanya rame tapi temennya gk mendukung bgt kan kasian
    NEXT

  2. Ff-nya bagus. Oh ya, baca ff ini jadi inget ma cerita lepas dari komiknya nishimura tomoko yang judulnya ‘blue prince’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s