Don’t Get Wrong!

Title                  :           Don’t Get Wrong!

Author            :           K.Li’s yoeja (@zvannyaz)

Length             :           Oneshoot

Genre               :           Life-school, Friendship, Love, Romance, Absurd (?)

Rate                  :           13+

Main Casts     :           Wu Yi Fan a.k.a Kris

Kim Quinn Rae

Support casts   :       EXO, SNSD

Annyeong ^^

Author back with this new story. Remember, this plot is mine. The story is mine. Purely from ma brain. But if there’s a sameness with something you ever see, don’t get wrong. I just get inspired by that. No copy-paste, no cut-paste. Here the casts belongs to God, their parents, except Kris, he’s belong to me *bow apologizing*. No feel to read, pass it. Feel to read, just keep your trackpad down. Don’t like, go away, close-tab. I’m easy guy so just be friend. Gomawoo ^^ *deep bow with Kris*

don't get wrong

***

Setiap tahun, rasanya aneh untuk kembali kesekolah. Melihat semua orang saling bertatap muka lagi, saling ber-argumen lagi, dan saling heboh. Tapi tidak denganku, yang selalu bersama dengan 2 sahabatku, Hyorae dan Sooyoung. Kita berada dalam slo-mo, oh maksudku, begitulah cara orang-orang khususnya laki-laki saat melihat kami datang. Namun disini, aku tidak peduli. Aku menganggap semuanya biasa. Khususnya didepan para laki-laki yang menyebut kami slo-mo itu.

“Chagi!!”

Ya, tak beda jauh, walaupun masih banyak laki-laki yang tertarik padaku, hanya seseorang yang berani memanggilku seperti itu dalam artian cinta dan seorang laki-laki lain namun berbeda arti. Kai, dia kekasihku. Setidaknya, kekasihku selama 1 tahun sejak aku masuk sekolah elit ini.

“Hi! Kau baru datang? Mana yang lain?” tanyaku padanya setelah ia berhasil mencium dan meraih tubuhku kedalam dekapannya. Kau tahu? Aku suka aroma tubuhnya. Masculine. Sama seperti tubuhnya yang memiliki abs dan kulitnya yang sedikit, ehem, gelap namun sexy.

“Lihatlah, Chanyeol sudah bersama Sooyoung dan Baekhyun sudah bersama Hyorae” katanya masih merapatkan tubuhnya pada tubuhku.

“Dimana Kris?”

“Sudah kutebak kau akan mencarinya. Ia masih dibelakang. Bersama Luhan yang sibuk mencari…”

“Hi Kai! Kau tampan sekali hari ini! Oh, hey Quinn..”

Damn! Kau tahu? Baru saja seorang, maaf, wanita murahan datang ke arah kami tanpa dosa mencium pipi kekasihku yang jelas sekali sedang bersama kekasihnya sekarang. Jessica, wanita murahan sekolah, yang menggoda semua laki-laki disekolah, yang selalu berpenampilan norak alias menduplikasi style orang. Contohnya sekarang, kulihat ia memakai styleku tahun lalu.

“Gadis jalang. Kenapa ia masih bisa ada disini sedangkan banyak orang membencinya?” gerutuku setelah Jessica pergi dan setelah mencium pipi kekasihku tentu saja.

“Entahlah. Peduli apa kau tentang dia? Lagipula, masih banyak laki-laki yang tertarik padanya” jawab Kai terkekeh dan itu membuatku, err, sedikit suka.

“Tetap saja dia seorang gadis murahan, oh, gadis jalang..”

“Hey, bray! Itu sama saja. Kenapa kau selalu sirik hm?”

Suara berat itu. oh, aku tau siapa dia. Orang yang tadi kucari. Sahabat Kai. Sahabatku juga. Bahkan sahabatku sejak kecil.

“Aku tidak sirik! Hey, kau darimana saja? kata Kai, kau bersama Luhan. Lalu dimana Luhan sekarang?” tanyaku setelah ia menciumku. Jangan heran, Kai mengijinkannya untuk menciumku karna ia tahu aku jauh lebih mengenalnya sebelum aku mengenal Kai.

“Ditangan Tiffany. Dibelakangmu bersama dua sahabatmu yang sedang bermesraan dengan para kekasihnya”

“Waw! Kurasa, semester ini semua siswi dan siswa disini akan terlihat seperti itu setiap hari. Hanya kurang satu orang yang sampai sekarang masih sen-di-ri..”

“Jangan meledekku! Aku tak sendiri..”

“Lalu?”

“Aku bersama Kai!”

Sedikit shock, dua laki-laki didepanku ini memang tidak beres. Entahlah bagaimana bisa. Yang jelas, sekarang laki-laki berambut blonde dan bernama Kris itu sedang merengkuh laki-laki berkulit hitam sexy yang bernama Kai, kekasihku.

“Aku baru tau kalau kalian ternyata gay. Atau jangan-jangan, selama kalian latihan, kalian diam-diam berkencan dibelakangku?” tanyaku sedikit menggoda kedua laki-laki, ehem, bodoh didepanku.

“Chagi, I’m normal! Aku lebih baik mati gantung diri daripada harus berkencan dengan laki-laki yang jelas lebih tampan dan lebih perfect ketimbang diriku..”

“Oya? Akhirnya kau mengakui ke-perfect-an ku, Kai. Gomawo!”

Benar-benar. Dua laki-laki didepanku ini memang tidak beres. Demi Tuhan aku bersumpah, aku ingin mereka berdua benar-benar menjadi laki-laki yang benar dan laki-laki yang benar-benar laki-laki. Oh, maksudku, mereka tidak teerlihat konyol, bodoh, dan tolol seperti ini.

KRIINGG!!

Waktunya masuk kelas. Oh hey, namaku Kim Quinn Rae. Q-U-I-N-N, not Queen. Jadi jangan salah paham ketika mengucap namaku karna aku bukan ratu walau sebenarnya aku adalah ratu disekolah ini. hey, sekolah ini milik nenekku, jangan terkejut jika aku bertindak semena-mena disini terhadap junior-juniorku. Tapi tenang saja, aku tidak sekejam dan sejahat bahkan sesombong orang-orang yang mementingkan popularitas daripada kualitas.

Aku masih 17 tahun. Usia remaja dan pantas saja kalau aku disebut gadis labil. Tenanglah, labil itu tahap menuju dewasa. Bahkan beberapa orang menganggap orang yang tidak labil adalah orang yang tidak pernah mengalami masa remaja. Jadi ketika kau dikatakan labil, biarkanlah karna itu adalah tahap hidupmu menuju ke kehidupan selanjutnya.

Drrt.. drrt..

Peraturan memang selalu menjadi peraturan. Tapi untuk peraturan yang ini, ijinkanlah aku melanggar karna guru yang sedang mengisi kelasku, Mr. Cho, juga melanggar peraturan ini.

From: Kai :*

Chagi, sepulang sekolah, bisakah aku berbicara denganmu? Hanya berdua. Kutunggu kau diatap sekolah ^^

To: Kai :*

Baiklah. Kurang 30 menit Mr. Cho keluar. Aku akan segera menghampirimu ^^

Baru saja iPhone 5 White milikku memberikanku sebuah pesan. Kau tahu, kau sudah melihat isi teksnya juga. Tak ada nama spesial untuknya di contact nameku. Sekali Kai, dia adalah Kai. Kekasihku. Yang sepertinya, tidak lama lagi akan menjadi mantan kekasihku. Masih sepertinya dan semoga saja … entahlah.

***

Langit siang masih secerah jam sebelumnya. Mr. Cho sudah keluar kelas dan bel panjang 5 oktaf sudah terdengar. Itu tandanya sekolah sudah selesai dan aku harus ke atap menemuinya.

“Hey!”

Oh, ternyata dia sudah menungguku. Wajah tampannya sudah memberiku senyuman sexynya.

“Hey. Kau sudah lama? Maafkan aku, Mr. Cho sedang senang berlama-lamaan denganku..”

“Belum terlalu lama. 2 menit yang lalu sebelum kau sampai. Dan aku tau, guru itu memang tertarik padamu..” katanya kini mendekat kearahku, merengkuh tubuhku dan membawaku kedalam pelukannya. Sekali lagi kukatakan, aku menyukai aroma tubuhnya.

“Hahaha.. kau selalu mengerti aku. Langsung saja sebelum papa menjemputku. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Hhh.. sebelumnya, ijinkan aku memelukmu lebih lama lagi”

Ia terdengar menghembuskan nafasnya berat. Aku tau, ketika ia sedang seperti ini, itu tandanya ada masalah dan ini menyangkut dirinya, diriku, atau bahkan hubungan kita. Entahlah itu masalah apa, yang jelas aku sudah siap menerima segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

“Baiklah. Aku akan tetap dalam pelukanmu. Tapi, bisakah kau juga membicarakan apa yang ingin kau bicarakan?” kataku masih dengan posisi tangan mengunci tubuh kekarnya.

“Aku ingin hubungan kita berakhir disini saja. Kau tau, aku akan pindah ke Jepang lusa. Bahkan ini hari terakhirku bersekolah dan menikmati hari seperti biasanya aku menikmatinya bersamamu. Aku tau ini berat, untukmu, bahkan untukku. Jujur, aku masih tak sanggup harus melepasmu. Tapi aku akan lebih tak sanggup jika harus membiarkan hubungan kita dalam jarak jauh, ditambah lagi, aku berhubungan dengan wanita lain juga. Maafkan aku. Ini kebodohanku dan kesalahanku. Tapi kuharap, kau tak menghapus nomorku, dan jangan lost contact denganku. Aku tidak mau benar-benar berpisah denganmu..”

Sudah kutebak. Ia akan membicarakan ini. maka dari itu kenapa aku tampak tenang dan terlihat lebih menerima daripada apa yang orang lain pikirkan. Hey, aku bukan gadis manja walau usiaku masih remaja. Aku sudah cukup dewasa, setidak seperti itu, dalam menghadapi hal ini.

“Aku tau kau akan membicarakan ini. aku juga mengerti apa yang kau inginkan. Aku menerima jika hubungan kita berakhir disini. Dan tenang saja, aku tidak akan menghapus contacmu dan tidak akan lost contact denganmu. Kecuali kau tiba-tiba yang memulai untuk lost contact denganku. Lalu, untuk hubunganmu dengan gadis lain, aku juga mempunyai hubungan dengan laki-laki lain. Baik-baiklah disana. Ingat pola makanmu. Dan untuk gadis yang lain itu, kuharap kau bahagia bersamanya. Aku pergi. Nomormu ada pada panggilan cepat. Papa pasti sudah menungguku..”

Hebat bukan? Aku tidak marah padanya. Tidak membencinya. Bahkan tidak menangis saat diputuskan seperti kebanyakan gadis yang selalu menangis meraung-raung tidak terima jika mereka diputuskan. Aku gadis hebat. Memang. Orang tuaku dan laki-laki lain yang menjalin hubungan denganku juga mengatakan aku hebat. Tunggu, aku tidak bermaksud sombong disini.

***

Salju turun mulai malam ini. akan menjadi indah sebenarnya jika Kai, masih ada disini, sama seperti tahun lalu. Tapi nampaknya itu mustahil. Ia sudah berada di kawasan berbeda denganku dan belum tentu dikawasannya sedang turun salju juga. Namun aku yakin ia sedang bermesraan dengan gadis “barunya”.

BOOM!

“Kris…”

“Oh astaga. Ternyata kau tak terkejut…”

“Bagaimana aku terkejut kalau jelas sekali itu kau. aku mengenalmu tidak hanya sehari-dua hari yang lalu..”

Aku memutar kedua bola mataku. Sungguh, laki-laki yang sekarang sedang duduk disampingku ini terkadang bertingkah tidak sepantasnya didepanku. Laki-laki bodoh? Ya bisa dibilang seperti itu. sama bodohnya seperti aku sekarang yang entah bagaimana bisa memikirkan Kai yang jelas sekali saat itu kurelakan pergi.

“Hehe.. mianhae. Hey, Kau mau pergi denganku?” tanyanya meraih tanganku kedalam genggamannya.

“Kemana?”

“Apartemen Chanyeol. Ia sedang mengadakan pesta kecil. Hyorae dan Sooyoung juga datang kesana.”

“Apakah si gadis jalang juga ikut?”

“Kau tau, Chanyeol benci gadis yang meniru style kekasihnya. Kau juga tau, Chanyeol tidak segan merobek pantatnya jika gadis itu datang dengan pakaian dalam yang hanya menutup seper-delapan bagian pantatnya..”

“Bodoh! Itu tandanya kau pernah melihatnya memakai pakaian dalam itu..”

“Aku tidak pernah melihatnya. Tapi ia yang memperlihatkannya didepan laki-laki keledai dikelasku. Kau pasti tau, ia tidak hanya menggoda laki-laki tampan sepertiku..”

“Ya aku tau dan bahkan cukup tau. Tapi ralat, kau tidak tampan..”

“Tidak mungkin aku tidak tampan. Bahkan Kai menganggapku lebih tampan darinya..”

“Baiklah. Terserah padamu..”

“Hey, ngomong-ngomong soal Kai, apakah kau masih berhubungan dengannya?”

“Tidak. Ia sudah berhubungan dengan gadis lain, begitu juga aku..”

“Baguslah. Selama aku ada disini, kau tidak akan merasa bodoh tanpa Kai..”

“I know. Gomawo…”

“Cheonma…”

Dan sebelum salju menumpuk menjadi gundukan gunung salju, Kris sudah menyeretku kedalam lamborgini hitamnya. Menemaninya untuk menghadiri pesta Chanyeol tentu saja. laki-laki ini, memang selalu membuatku tersenyum dan merasakan hidup lagi. kau tau, sungguh yang aku inginkan adalah hubunganku dengan laki-laki lain itu adalah hubunganku dengannya. Dengan Kris. orang yang hampir 10 tahun menjadi sahabatku.

***

“Quinnie!”

“Oh, Kris!”

“Kau terlambat? Hey, maafkan aku jika kau tadi bangun kesiangan. Seharusnya semalam aku memang mengantarkanmu pulang saat Sooyoung menyuruhku..”

“Tak apa. Ini sudah biasa. bukankah kata terlambat adalah julukan bagi kita?”

Kris hanya tersenyum lebar mendapat jawaban dariku. Entahlah apanya yang lucu dan apanya yang menyenangkan sampai ia bisa tersenyum lebar seperti spongebob saat mendapat lolipop berdiameter 50 cm.

Detik selanjutnya aku sudah berada dalam ruang bimbingan konseling. Bersama Kris. tentu saja. ruangan ini hanya akan dimasuki oleh anak-anak yang terlambat, membuat ulah, atau sekedar curhat tentang masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan sendiri tanpa kata labil. Tapi apalah, usia labil, terkadang membutakan ego-dewasa kita.

“Apa kau melihat wajahnya tadi?”

“Ya. Dia sangat menginginkanku!”

“Haisss.. Diam! Jangan terlalu percaya diri, Kris!”

“Jadi, mau kemana kita?” tanya Kris padaku didepan sekolah. Diusir? Ya. Kami berdua diusir Mrs. Vict sampai bel istirahat pertama. Tapi itu bukan hukuman menurutku, melainkan hadiah.

“Entahlah. Kita ikuti saja kemana langkah kaki kita pergi..”

“Sungguh aku benci dengan guru China itu..”

“Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan guru itu atau kau lama-lama akan mencintainya!”

“Tidak akan pernah. Jadi, apa kau berbaikan dengan Kai?”

“Tidak. Kau sudah mengenalku cukup lama dan kau tau bukan, aku sudah benar-benar melepas Kai.”

“Well, sebenarnya…”

“Hm?”

“Aku hanya ingin kau tau. Jika aku adalah dia, aku tidak akan pernah melepasmu dan membiarkanmu pergi”

“Ya. Tapi kau bukan dia. Kau adalah Kris dan selamanya akan tetap menjadi Kris.”

“Aku tau kita berteman cukup lama, bahkan sangat lama. Tapi aku tidak selalu setuju dengan dia.”

“Aku tau!”

“Dan aku, ingin kita tetap bersama. Aku menyayangimu!”

“Aku juga. Aku juga menyayangimu!”

“Hm.. kajja! Ikut aku!”

“Kemana?”

Aku hanya diam. Kris yang sudah melangkah tiba-tiba memberhentikan langkahnya sejenak dan menatap mataku. Aku hanya menatapnya heran. Wajah bodohnya yang tampak tolol tak dapat bohong kalau ia tau aku tak tau apa maksud senyumannya sebelum ini. Kini giliran mataku yang berbicara, “apa?!”

KRIINGG!!

“Hey, bray! Kenapa kau tidak masuk kelas, huh? Kau tau, Mr. Lee sangat menyenangkan tadi!” kata Chanyeol antusias mendapati Kris dan aku duduk berdua di kantin sekolah. Tak lupa, ia membawa gadis dan sahabat serta gadisnya juga.

“Aku tidak tertarik dengan ucapanmu, Chan. Aku lebih tertarik memandangi gadis yang sedang duduk bersama gadismu itu!”

“Aiss… kau ini. Kau terlambat lagi? Bagaimana bisa kau hanya berdua dengannya?”

“Tepatnya kita berdua yang terlambat.”

“Sesuatu yang biasa. hey, dimana gadisku?”

“Dia bersama gadisku dan Quinn, Baek. Jangan terlalu khawatir. ia sudah dewasa dan ia bisa menjaga dirinya sendiri..”

“Chan, diamlah. Aku tau kau sepupunya tapi aku tidak suka kau sok tau mengenai dirinya..”

“Baiklah. Kris, jadi, kau akan tetap berteman dengannya?”

“I don’t know. I’ve that feeling but I don’t know her. Do you think, she has the same feeling with me?”

“Kris, hentikan bicaramu! Aku tidak suka kau berbicara bahasa Inggris. Kau terlalu meremehkanku!”

“I think she has. Believe it, she has with you since you’re kid”

Entahlah apa yang dibicarakan para lelaki itu. aku tak mendengar karna Hyorae terus-terusan bercerita tentang Baekhyun, yang akhir-akhir ini sering membuatkannya ramen. Sebenarnya apa peduliku pada pembicaraan ketiga lelaki itu? kau juga tidak bisa menjawabnya. Tapi ada rasa penasaran saat Kris tersenyum ketika Sooyoung datang dan ikut berbicara entah itu apa. Mungkinkah, membicarakan gadis jalang yang sedang menuju kearah tiga laki-laki itu?

“Hi, boys! Kalian sangat tampan hari ini! bagaimana pelajaran pagi?” tanyanya dengan suara cempreng yang sungguh membuatku ingin mengeluarkan badai dari pantatku.

“Nothing special..” Kris menjawabnya. Itu sudah biasa. ia memang seperti itu pada semua gadis yang menyapanya. Tanpa kecuali, bahkan dengan gadis jalang yang sering ia gunjing dibelakang bersamaku.

“Waw, Kris. aku suka aksen Inggrismu. Sangat cocok dengan wajahmu yang tampak kebarat-baratan. Oya, apakah aku boleh bergabung disini? Meja lain penuh dan nampaknya kursi disebelahmu kosong. Kursi Kai bukan?”

“Terserah kau saja. Kai sudah pindah ke Jepang satu bulan lalu. Duduklah kalau kau mau..”

Entahlah apalagi yang mereka bicarakan dengan gadis jalang yang kini duduk disamping Kris. Sooyoung sudah menarikku jauh sebelum aku mengamuk pada gadis yang duduk disebelah, err, laki-laki yang dekat denganku itu.

***

KNOCK! KNOCK!

“Sayang, waktunya makan malam!”

“Sebentar lagi, mam!”

Malam ini mama ada dirumah. Papa juga begitu. Itu tandanya acara pergiku dengan Kris batal. Ketika mereka berdua dirumah, aku dilarang keluar rumah. Dengan alasan mereka ingin menghabiskan waktu dirumah bersamaku. Salahkan sendiri kenapa mereka terlalu terobsesi dengan pekerjaan mereka. Sama halnya aku dulu yang bodoh menjadikan Kai sebagai obsesi hidupku padahal, tulisan “FOREVER” yang tertulis dipintu kamar mandi sekolah berhasil kurusak karna yah, aku tak selamanya dengan Kai.

PING!!

Aku masih dalam status on. Siapa yang menge-chat ku?

Kris     :           Hey! Kau sudah makan malam?

Dia rupanya. Laki-laki yang akhir-akhir ini lebih sering bersamaku. Dimanapun. Kapanpun. Dan bagaimanapun. Bahkan saat ia dihukum untuk membersihkan gudang aku ikut serta hadir menemaninya walau sekedar mendengarkan ocehannya tentang guru yang menghukumnya dan membawakannya minum serta semacam snack ringan.

Me       :           Akan. Bagaimana denganmu?

Kris     :           Sama. Baru saja papa memanggilku. Tapi aku malas.

Me       :           Kenapa?

Kris     :           Karna kau menunda acara malam ini.

Me       :           Oh maafkan aku. Papa dan mama melarang. Mereka ada dirumah semua                                    sekarang :-((

Kris     :           Jangan memberiku emot seperti itu! aku lebih suka melihatmu tersenyum ^^

Me       :           Baiklah :-))

Kris     :           Cantik :*

Me       :           Hmm mama memanggilku lagi. Kurasa, kau bisa mengirimiku pesan. Aku akan               off..

Kris     :           Aku tau. Kau sedang semerah tomat sekarang :p

KRAP!

Aku berhasil mengakhiri obrolan singkat dengan Kris dari chatting tersebut. Demi Tuhan, yang dikatakan Kris benar. Wajahku sedang semerah tomat sekarang. Kau tau, jantungku berdetak cepat saat Kris mengatakan cantik untukku. Biasa? memang. Tapi entahlah aku merasa sangat senang jika ia yang mengucapkan.

Sekilas aku menatap figura berukuran sedang yang berdiri tegak disamping lampu tidur. Gambarku dengan dirinya terpampang jelas disana. Sungguh, wajah tampannya membuatku sangat mencintainya. Ya. Aku mencintainya. Tapi tidak seharusnya aku mencintainya. Aku harus menyembunyikan ini. karna ia adalah sahabatku. Tapi, mungkinkah aku bertahan dengan perasaan yang kusembunyikan ini?

***

“Kris! aku akan dihukum Mrs. Vict lagi jika kita tak segera kembali kesekolah!” teriakku pada Kris yang masih asyik memotret pemandangan sungai Han pagi ini.

“Tenanglah. Kita akan kembali kesekolah pada jam istirahat pertama. Jadi kau tidak akan kena hukum Mrs. Vict. Lagipula, nenekmu pemilik sekolah, Quinn..”

“Aku tau. Tapi peraturan tetap peraturan. Ayolah!”

“Hey, bahkan aku baru mendapat 5 fotomu yang tersenyum disini. Aku ingin mendapatkannya sampai 100!”

“Jangan bodoh! Kita masih bisa melakukannya nanti sore..”

“Aku inginnya pagi ini. Quinn, jebal. Jangan buat moodku rusak lagi. kau tau, moodku kembali bagus saat aku menjemputmu tadi setelah papa marah pagi ini..”

“Aku tidak peduli. Sekarang, ayo kembali kesekolah!”

“Shireo!”

“Kris!”

“Shireo!”

“Terserah kau saja. silakan jika kau masih ingin menikmati sungai Han. Aku pergi!”

Aku melangkahkan kakiku pergi menjauh dari posisi semula dan tentu saja pergi dari sungai Han menuju ke sekolah. Sedang Kris, ia tampak diam dan menurunkan kameranya dari depan matanya. Kurasa, ia melihatku pergi sungguh-sungguh dan sekarang mengejarku. Derap langkah larinya tak dapat dihindari telingaku.

Chu!

Sebuah kecupan hangat mendarat dibahuku. Aku yakin itu Kris. laki-laki itu senang sekali menciumku, bahkan rambut yang 2 hari ini hampir belum terkena shampoo sangat ia senangi.

“Jangan marah! Baiklah, kita ke sekolah tapi nanti sore temani aku lagi!”

“Aku mengerti. Dan, hentikan aksi cium-menciummu itu di tempat umum. Bahuku bukan permen loli, Kris..”

“Tapi aku suka. Dan aku harap, aku bisa menikmatinya setiap hari..”

“Bermimpilah..”

KRIINGG!!

Sekolah sudah usai. Rupanya laki-laki itu sudah duduk diatas motor sportnya menungguku. Tapi, hey, kenapa wajahnya tampak murung seperti itu?

“Kris?”

“Oh.. Hey. Kau sudah keluar?”

“Baru saja. apa aku terlalu lama?”

“Tidak. Aku juga baru keluar. Kajja!”

“Kemana?”

“Kau tidak melupakan janjimu tadi pagi kan?”

“Tidak. Tapi, apa kau yakin tetap kesana dengan wajah ditekuk seperti itu? ada masalah?”

“Kau selalu tau aku tak bisa berbohong padamu. Papa sudah menyuruhku pulang.”

“Lalu?”

“Aku tak mau pulang. Karna aku tau papa pasti hanya akan marah-marah padaku..”

“…”

“Ijinkan aku ikut denganmu..”

Masalah Kris dengan ayahnya memang rumit. Kris menyukai dunia musik sedang ayahnya menentang karna Kris nilainya turun semua. Mungkin ayahnya berpikir nilai Kris turun karena ia terlalu sering bermain musik. Padahal, aku menyimpulkan bahwa nilai Kris turun karena ayahnya yang sibuk bekerja dan juga ibunya yang ya, tak jauh beda dengan ayahnya.

“Ne arasseo. Kurasa papa ada dirumah. Jadi kau bisa bermain musik bersamanya kalau kau malam ini masih belum mau pulang kerumah”

“Jjinja?”

Kulihat wajah Kris berubah seketika. Tadi ia tampak kusut dan yah tak dapat digambarkan. Tapi sekarang senyum lebar tampak diwajah tampannya. Aku senang. Tentu saja. aku selalu senang saat ia tersenyum lebar dengan mata membentuk bulan sabit itu.

“Ne…”

“Gomawo!”

Ia berteriak. Menarik tubuhku kedalam dekapannya. Mencium puncak kepalaku. Dan aku diputar-putarkan tak karuan dalam gendongannya. Sungguh, sejujurnya aku senang ia melakukan hal ini padaku. Tapi entahlah, aku malah merindukan Kai sekarang. Aku merindukan moment saat Kai masih bersamaku. Namun disisi lain, aku mengatakan aku harus memiliki laki-laki yang sedang memelukku sekarang.

“Kalau begitu kajja! Aku tak sabar melihat matahari terbenam dari sungai Han. Dan aku tidak sabar bertemu dengan ayahmu!”

“Ne. Kajja!”

***

“Kris, aku suka permainan gitarmu. Kau mengingatkanku pada saat aku masih muda..”

“Benarkah, paman? Aku juga tidak menyangka ternyata paman pandai bermain gitar dan bernyanyi. Suara paman sungguh merdu. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa paman yang seorang pebisnis sibuk dan terkenal di Seoul bisa bertalenta seperti ini. kenapa dulu paman tidak menjadi penyanyi saja?”

Kris dan papa sedang ada diruang tengah. Setelah pulang dari sungai Han tadi, Kris langsung minta pulang kerumah dan dia sangat bersemangat saat bertemu papa. Hampir 2 jam ia bermain gitar dan bernyanyi bersama papa. Suaranya tak beda jauh dengan papa. Sama-sama merdu dan aku ingin mendengarnya bernyanyi setiap hari.

“Kau benar-benar terlalu memujiku, Kris. aku hanya senang melakukan itu. tapi hatiku tidak mengatakan aku harus menjadi aktor ataupun penyanyi. Makanya, aku lebih memilih menjadi seorang pebisnis..”

“Ahh.. kalau begitu, aku akan sering-sering main kesini. Disamping aku belajar banyak lagi tentang musik denganmu, memakan masakan bibi Taeyeon, aku bisa terus-terusan memandang anak paman!”

“Hey, kau menyukai putriku?”

DEG!

Rasanya ingin kupukul kepala papa. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu pada Kris dan jelas sekali aku masih ada didekatnya? Akan jadi apa aku kalau Kris melihat wajahku berubah menjadi tomat? Namun dugaan awalku meleset. Wajahku tak menjadi tomat. Justru aku menunduk. Menahan air mata yang rasanya ingin keluar seketika itu juga. Jawaban Kris, bukanlah jawaban yang kumau. Walau aku tau Kris tak punya rasa yang sama denganku.

“Tentu saja. ia sahabatku sejak kecil paman. Kau tau itu, bukan?”

“Hahaha.. ne ne aku tau. Bahkan cukup teramat sangat tau. Bagaimana kabar ayahmu?”

Blah blah blah. Aku lebih memilih masuk kekamarku. Aku tak tahan jika memandang Kris lagi setelah apa yang diucapkannya tadi. kecewa? Tentu saja..

***

“Morning dear. Baru bangun?” sapa mama yang sudah berkutik didapur bersama pelayan-pelayan rumah.

“Morning, mom. Yes. hmm, kapan Kris pulang?”

“Semalam. Setelah kau masuk kamar. Maksudku, satu jam setelah kau masuk kamar. Aku ingin membangunkanmu tapi ia melarangnya..”

“Ia? Melarang mom?”

“Iya. Katanya…”

“Biarkan Quinn tidur saja, bibi. Ia sudah menemaniku seharian ini. jadi biarkanlah ia beristirahat dengan tenang. kemudian ia yang masuk kekamarmu dan mencium … keningmu”

“MWOYA?”

Kris? mencium keningku? Hey, yang benar saja. apa-apaan yang dikatakan papa barusan? Apakah itu benar? Kenapa aku bodoh tidak menempelkan camera cctv dikamarku? Tuhan, jika benar, berarti saat aku bermimpi Kris mencium bibirku saat itulah Kris mencium keningku.

“Dear, jangan bengong saja. cepat duduk dan habiskan sarapanmu. Oya, nanti siang, mama dan papa akan terbang ke London..”

“London? Nanti siang? Kenapa baru bilang padaku hari ini?”

“Maafkan kami, dear. Kau selalu sibuk dengan teman-temanmu dan yah, kau tau, kami juga sibuk dan selalu lupa..”

“OK. Then, how long?”

“2 weeks?”

“What? 2 weeks? Mom, are you kidding me? Aku tidak akan bisa hidup sendirian dirumah ini selama 2 minggu!”

“Kris yang akan menemanimu..”

“What? Kris?”

“Iya. Semalam papa membicarakannya dengan Kris. dan ia menyanggupi. Setiap malam ia akan selalu  datang dan setiap pagi ia akan menjemputmu. Sebenarnya papa menyuruhnya menginap sekalian disini, tapi ia menolak. Dengan alasan, yah, kau tau bagaimana hubungannya dengan ayahnya bukan?”

“Papa yakin?”

“Tentu saja”

“OK! Aku selesai sarapan..”

“QUINN!!”

***

“Hey, Quinn! Kenapa baru datang? Untung saja Mrs. Vict sedang sakit. kalau tidak, kau sudah habis menjadi soup kental sarapannya!”

“Lain kali bangunlah lebih pagi. Ganti alarmmu. Jangan kau setel dengan waktu yang mepet!”

Aku hanya duduk menopang dagu sambil sesekali menghembuskan nafas kesal. Mendengar kedua sahabatku berargumen satu sama lain, berkomentar tentang diriku, cukup membuat moodku semakin buruk pagi ini. mungkin seharusnya aku senang. Namun entahlah, aku malah merasa aneh. Dari tadi pagi ia tak mengirimiku pesan. Bahkan tidak membalas pesan yang kukirim. OK itu sama saja. intinya, sekarang dimana dia?

“Morning girls!”

Itu suara cempreng, maaf, Baekhyun. Seharusnya Kris ada juga bersamanya karna Chanyeol dan Luhan ada juga bersamanya.

“Morning boys!”

“Tunggu! kalian hanya bertiga?” tanyaku sebelum dua gadis yang duduk disampingku menjawab panggilan kekasih mereka.

“Tidak. Kami berempat. Bukankah seperti itu, Chan?” tanya Baekhyun hanya menoleh pada Chanyeol.

“Ne..”

“Lalu, dimana satunya lagi? Mana Kris?”

“Kris? tadi ada…”

“Aku disini. Tenanglah, aku tidak akan…”

BRUK!

Demi Tuhan aku berani bersumpah jantungku lepas saat ini juga. Bagaimana tidak? Aku sudah cukup tidak memiliki mood bagus pagi ini karna tak ada kabar dari Kris yang biasanya mengirimiku segudang pertanyaan dan sapaan. Tapi kali ini? malah tubuh tinggi tegapnya jatuh tepat dihadapanku disaat aku juga mengkhawatirkannya. Jatuh? Ia pingsan, tepat saat aku mencarinya dan tepat saat ia datang dari entah darimana.

***

Hampir 1 jam Kris tak kunjung sadar. Aku lebih memilih meninggalkan kelas dan menemaninya di ruang kesehatan sekolah. Berhubung juga perawat Qian sedang keluar. Aku tidak mau meninggalkan laki-laki ini sendirian disini.

“Hey!”

“Kris? kau sudah bangun?”

“Kalau aku membuka mata dan berbicara padamu, itu tandanya aku dalam keadaan bangun”

“Jangan bercanda. Kau sakit tapi tetap saja bodoh..”

“Aku bodoh karnamu, Quinn”

“Aku pandai. Aku bintang kelas dan aku tidak mungkin membuatmu bodoh. Bukankah nilai matematikamu naik karna aku?”

“Kau juga bodoh karna baru saja kau membuat sebuah candaan”

“Ok terserah sajalah. Apa ada yang sakit? minumlah air putih ini dulu..”

“Uhuk! Tak ada. Hanya sedikit pusing. Bagaimana tidurmu semalam? Maaf aku tak sempat pamit padamu saat aku pulang..”

“Nyenyak. Tidurku nyenyak. Karna ada seseorang yang mencium keningku”

“Kau merasakannya?”

“Entahlah. Papa yang memberi tahuku tadi pagi”

“Oh..”

Ia hanya ber-Oh-ria. apakah dia kecewa? Atau, jawabanku bukan seharusnya menjadi jawabanku? Apa dia marah? Tapi marah karna apa? Aku bingung. Ia kemudian diam dan menatapku sambil menggerak-gerakkan bibirnya. Sedang aku, aku hanya diam menatap kearah lain demi menghindari kontak mata dengan Kris.

“Hey, aku punya sesuatu untukmu!”

Tiba-tiba ia kembali bersuara. Itu tandanya ia tak marah atau kecewa padaku. Karna sepanjang aku hidup bersamanya, ketika ia marah atau kecewa denganku, ia akan lebih memilih diam dan wajahnya tidak akan seceria sekarang, seperti yang aku lihat.

“Apa itu?”

“Tiket pesta! Aku mendapatkannya untuk sebuah pesta kecil khusus hanya untuk 6 orang!”

“Pesta? Kau mau mengadakan pesta? Dimana?”

“Dirumahmu. Sesungguhnya, ini ide ayahmu. Semalam saat aku dan ayahmu berbincang tiba-tiba ia memberiku ini!”

“Mwo? Papa? Memberimu ini?”

“Iya. Percaya atau tidak, dibalik tiket itu ada tanda tangan papamu”

“Kapan pesta ini berlangsung?”

“Nanti malam!”

“Mwoya? Tapi kau masih sakit. Aku tidak mungkin mengadakan pesta kalau kau sakit seperti ini!”

“Hey, aku hanya pingsan!”

“Pingsanmu cukup lama”

“Ayolah, aku hanya terlalu lelah dan mungkin karna pagi ini aku tidak menyantap sarapan hangat dirumah jadi aku kedinginan dan pingsan. Ok. Aku tidak sakit!”

“Terserah!”

Demi Tuhan, aku bingung dengan jalan cerita hidupku. Akan kukatakan ini sebuah kebetulan, mimpi menjadi kenyataan. Moodku yang benar-benar buruk tadi pagi membuatku sempat berpikir akan mengajak Sooyoung dan Hyorae pergi hang out. Tentu saja mengajak tiga laki-laki itu. tapi sekarang, salah satu diantara tiga laki-laki itu memberiku tiket pesta gratis tanpa syarat dan tanpa kecuali. Pesta dirumahku, itu keajaiban tahun ini dari papa. Tumben sekali ia mengijinkan~

***

“Ini benar-benar weekend, Quinn! Kau tau, aku akan menceritakan ini pada ibuku dan kemudian ia akan mengijinkanku membuat pesta dirumahku!” teriak Sooyoung ditengah alunan musik yang ehem, volumenya sedikit dibatas normal.

“Katakan pada ibumu! Kemudian kita bisa berpesta setiap weekend!”

“Aku juga akan berbicara pada pemilik apartemen!”

“Chan, kau gila! Apartemen mau kau apakan itu terserah padamu. Bukan urusan si pemilik!”

“Ya! Kau benar! Omaigat… aku suka pesta ini! Wooooo…”

Chanyeol, Baekhyun, Sooyoung dan Hyorae menikmati pesta kecil hadiah dari papa. Bisakah aku menyebutnya seperti itu? Chanyeol dan Sooyoung tampak mesra diatas meja sambil menggerakkan tubuh tinggi mereka mengikuti alunan musik yang keras ini. sedang Baekhyun dan Hyorae nampak berciuman diujung dinding sebelah kolam. Mereka memang tidak memandang tempat untuk melakukan hal itu. sedang aku, hanya duduk ditepi kolam.

“Ayahmu sungguh luar biasa…”

“Mungkin karna ia merasa nyaman denganmu”

“Aku juga merasa nyaman dengannya. Kau tau, hampir saja kemarin aku memanggil ayahmu dengan sebutan papa. Memalukan sekali…”

“Itu tidak memalukan. Kalau kau mau, panggil saja papa. Lagipula, kau tidak mengenal papaku baru sehari dua hari yang lalu kan?”

“Hehemm..”

Hening. aku kembali menatap kedua sahabatku yang masih sibuk dengan kekasihnya. Seulas senyum mungkin tersirat diwajahku. Senang? Itulah yang kurasakan sekarang.

“Quinn?”

“Ya?”

“Apa aku boleh berbicara sesuatu padamu?”

“Apa?”

“Aku… menyayangimu..”

“Aku tau kau menyayangiku, Kris. aku juga menyayangimu..”

“Tapi bukan itu yang aku mau”

“Lalu?”

“Memang dulu aku sering mengucapkan ini padamu. Tapi itu dalam artian aku menyayangimu sebagai seorang adik..”

“Apa bedanya dengan yang sekarang?”

“Sekarang.. aku menyayangimu sebagai yeoja. Yah.. sebagai yeoja. Aku menyayangimu sebagai yeoja. Dan tepatnya mungkin harus kusebut dengan mencintai. Aku mencintaimu..”

Aku hanya terdiam. Apakah barusan aku tertidur? Kalau iya, jangan bangunkan. Jangan jatuhkan aku kedalam kolam yang ada didepanku. Biarkan mimpi ini tetap ada dan jangan biarkan mimpi ini berlalu.

“Quinn, apa kau mencintaiku juga?”

Kumohon siapa saja, tolong sadarkan aku kalau ini bukan mimpi. Namun kalau ini mimpi, jangan bangunkan aku. Kumohon!

“Quinn?”

“N.. ne?”

“Apa kau mencintaiku? Aku ingin, kau menjadi yeojaku. Apa kau mau?”

“Kris, jangan bercanda..”

“Aku tidak sedang bercanda, Quinn. Ini bukan bulan April dan bukan saatnya untuk memberi sebuah April-mop. Aku sungguh-sungguh”

“Bangunkan aku!”

“Kau sudah bangun dan kau tidak sedang tidur. Jangan berpikir ini mimpi, Quinn. Aku serius. Sungguh. Apa yang kuucapkan tadi adalah perasaanku selama ini. bahkan lebih awal dari perasaan Kai padamu..”

Suara beratnya, terimakasih. Ini bukan mimpi. Aku tau ini bukan mimpi. Hangatnya genggaman tangannya begitu nyata. Suaranya tentang keseriusan ini juga terdengar nyata di telingaku. Jadi ini bukan mimpi dan ini nyata.

“Kau yakin?”

“Sangat yakin. Sangat sangat yakin. Apa kau mau?”

“Apa yang akan kau berikan padaku kalau aku mau?”

“Melakukan apa yang dilakukan Baekhyun terhadap Hyorae? Mungkin lebih..”

“Kalau begitu, aku mau..”

CHU!

Sebuah ciuman tanpa aba-aba berhasil terjadi antara bibirku dan bibirnya. Ia menyapu bibirku dengan lembut. Tangannya sudah meraih kepalaku dan membelai lembut rambutku yang kubiarkan bergerai dibelakang. Tubuhnya semakin merapat ketubuhku dan kini posisiku ada dibawahnya. Jangan heran, aku pernah melakukan ini pada Kai namun tak ada rasa istimewa pada jantungku yang berdetak, berbeda memang dengan kali ini.

“Aku milikmu, Quinn. Dan kau milikku..”

Aku hanya tersenyum. Belum sempat aku menjawab, ia sudah melumat kembali bibirku dan mengeluarkan seluruh hawa nafsu yang ia punya. Pesta ini, semakin aku nikmati karna ia semakin kencang memeluk tubuhku.

***

PING!

Sooyoung        :           great party! :*

Me                   :           of course. You got your new sensation with your boy, and I got new boy!

Sooyoung        :           Yeah! Congrate, dear. Kau tau? Aku senang kau dengan Kris sekarang!

Me                   :           Aku juga. Kris … oh my god, I cant explain what I feel now!

Sooyoung        :           I know you’re too happy -_-

                                    Anyway, your kissing position last night, cool 😉

Me                   :           Jjinja?”

Sooyoung        :           Ya. Itu tidak biasa untuk sepasang kekasih baru

Me                   :           Kalau begitu, aku pasangan pertama yang melakukannya :p

Sooyoung        :           Whatever. Hey, aku akan pergi dengan Chanyeol hari ini. mau ikut?

Me                   :           Tidak. Kris akan datang kerumah ^^

Sooyoung        :           O.. oh.. jadi begitu. Baiklah, selamat bersenang-senang {}

Me                   :           You too {}

KRAP!

Perasaanku yang kusembunyikan, kini sudah ditemukan oleh Kris. ya, laki-laki yang menjadi sahabatku itu. laki-laki yang selalu bersama-sama denganku. Sekarang, menjadi milikku.

***

“Permisi, apa kau lihat Kris?”

“Aku tidak melihatnya. Maaf”

“Baiklah. Terimakasih”

“hey, apa kau lihat Kris?”

“Tidak!”

“Ok..”

Kemana orang itu? aku sudah menunggunya diatap hampir setengah jam. Kenapa ia tak kunjung datang? Padahal ia sendiri yang tadi memintaku untuk datang ke atap tepat waktu. Tapi dia?

“Hey, Luhan!”

“Oh, hey Quinn. What’s wrong?”

“Apa kau melihat Kris?”

“Kris? aku bertemu dengannya dikamar mandi tadi”

“Kamar mandi? Oh baiklah. Gomawo..”

“Cheonma..”

Akhirnya. Apa yang kau lakukan ditempat busuk itu? Apa kau sedang berdiri dan membiarkan celanamu turun beberapa centi untuk sebuah air seni? Atau kau sedang duduk memegang perutmu dan mengambil banyak nafas untuk hal menjijikkan itu? ayolah, kenapa kau berlama-lama disana?

CKLEK!

DEG!

Tas itu, bukankah tas itu milik gadis jalang itu? aku yakin itu miliknya. Tas itu sama seperti tas Sooyoung. Aku sempat melihatnya memesan tas sama saat aku berada di boutique dan bertemu dengannya. Kenapa bisa tergeletak disitu? Oh atau mungkin…

BLAM!

Demi apapun aku bersumpah aku membenci laki-laki itu. baiklah dua hari yang lalu ia menciumku, memelukku, bahkan menyatakan cintanya padaku. Namun maaf, kali ini aku kecewa padanya. Hey, aku merasa bodoh dengan hal ini. seakan malam itu memang hanya mimpi sesaat dalam tidurku dan tak mungkin terjadi. Kris, ia membohongiku. Benarkah?

“Jadi, bagaimana rasanya?” tanyaku saat gadis jalang itu keluar dari kamar mandi dan berjalan kearahku.

“Mengagumkan. Ada apa?” jawabnya dengan muka centilnya yang semakin ingin kucakar dengan kuku-kuku panjangku.

“Kau menjijikkan!”

Saat itu juga Jessica, ya itulah nama gadis jalang itu, hanya terdiam menatap dengan mata meremehkanku dan ketika itu pula Kris keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Oh tepatnya, kearahku dan gadis jalang ini.

“Apa rasanya enak?” tanyaku saat ia berhenti tepat didepanku.

“Apa maksudmu?”

Oh hey, jangan bersikap bodoh dan tak tau apa-apa Kris. aku tau kau berbohong karna kau bertemu denganku dan melupakan janjimu tadi pagi.

“Ayolah, jangan bohong padaku. Mengaku saja!”

“Hey, Quinn. Ada apa? Jess, apa yang kau katakan padanya?”

“Tak ada. Bukan salahku jika teman kecilmu oh, kekasihmu tak bisa diajak bercanda”

“Oh shit man! Hey Quinn, wait a minute! Quinn!”

Dan sekiranya itulah yang dibicarakan Kris dengan gadis jalang, oh mungkin sekarang sudah seharusnya aku memanggil dia Jessica, sebelum aku pergi meninggalkan mereka dengan amarah yang kini berhasil naik ke puncak kepalaku.

Entahlah hanya perasaanku saja atau memang Kris mengikutiku dari belakang. Rasa-rasanya aku mendengar derap langkah dan suara beratnya memanggil namaku. Tapi, apa peduliku?

“Hey, Quinn! Tunggu!”

“Tinggalkan aku sendiri!”

“Apa yang Jessica katakan padamu? Apa yang dia katakan?”

“Kris, jangan pura-pura!”

“Tidak, aku serius! Ada apa? Ayolah!”

“Jangan bertingkah seperti kau tidak tau!”

“Quinn, apa masalahmu? Ada apa? Apa yang dikatakan gadis jalang itu?”

“Masalahku adalah semua orang tau Jessica melakukannya dengan semua laki-laki dikamar mandi, Kris!”

“Tunggu! apa? Kau pikir aku dan Jessica … dikamar mandi?”

“Ya. Setidaknya kau sudah mendapatkannya dengan seseorang. Dan itu bukan aku, kekasihmu sendiri. Dengan orang lain. Selamat! Dan soal ucapanmu waktu itu, kurasa kau hanya ingin mempermainkan aku. Jadi mungkin saat itu seharusnya aku hanya tertidur dan bermimpi. Satu detik kau mengatakan aku milikmu, Kris. tapi detik selanjutnya kau membuangku dan aku merasa lebih menjadi seperti sampah daripada gadis jalang itu.”

“Wait! Ini … Wow! Kurasa kita berakhir?”

“Terserah padamu!”

Aku melangkah pergi. Meninggalkannya berdiri didepan loker. Tepatnya, aku hanya menghindarinya karna aku ingin menangis sejadi-jadinya. Aku bodoh, yah aku cukup bodoh dengan ucapan dan perilaku Kris terhadapku waktu itu. Sungguh sangat bodoh hanya untuk seorang Kris. sungguh aku gadis bodoh. Aku merasa lebih bodoh ketimbang saat Kai memutuskanku. Itu masih sedikit yah, ada perasaan. Tidak sama seperti ini.

Kudengar ia membanting, mungkin menendang loker yang ada disamping dimana ia berdiri tadi. aku melirik, sedikit melihat ia sudah pergi dari tempat dan berjalan dengan pawakan frustasi. Mungkin aku kekanakan disini, bahkan egois. Tapi jangan salahkan karna ia juga tak berkata menjelaskan dan langsung mengakhiri hubungan ini.

***

Dua hari sudah sejak kejadian itu. aku tak menghubungi Kris, begitu juga dengannya. Bahkan dua hari ini aku berhasil tak bertemu ataupun melihat batang hidungnya. Kurasa, aku akan segera melupakan SEMUA kenanganku bersamanya. Itu, BODOH.

“Quinn, kau yakin itu mereka?”

“Ya. Aku melihat tas bodoh itu. jangan tersinggung!”

“Oh, tidak, aku baik-baik saja”

“Hey, gadis! 5 menit lagi aku akan menemuimu!”

“Namja gila! Hey, Quinn, itu mereka!”

Sooyoung seketika berseru sedikit lebih keras setelah Chanyeol terlewati. Laki-laki yang sudah berhasil tak kulihat dua hari ini, berjalan kearahku, oh bukan, maksudku berjalan kearah yang berlawanan denganku dan tentu saja kita akan bertatap muka. Walaupun aku tidak akan menatapnya. Ia tak sendiri, tenang, bukan dengan Jessica, tapi dengan Baekhyun.

“Hey, Quinn! Sooyoung!” sapa Baekhyun yang hampir bertemu denganku dan Sooyoung.

“Baekhyun-ah! Dimana Hyorae?”

“Kelas! Bye, girls!”

Baekhyun sudah berjalan lurus dan aku hanya menatap kerumunan seniorku yang sedang heboh dengan tabloid berisi bintang-bintang K-Pop star itu. mengalihkan pandangan? Tentu saja. aku bahkan tak menjawab sapaan Baekhyun demi laki-laki tinggi yang berjalan dengannya itu. sungguh, aku tidak sedang enak hati melihat batang hidungnya.

Tapi, apa yang terjadi padaku? Haruskah kutulis dikepalaku bahwa dia berkata ‘Selingkuh Dariku’? maksudku, tidak heran dengan Jessica, tapi Kris? dan sejak itu hal buruk berdatangan! Nilaiku turun. Mama dan papa lebih sering ke luar negeri. Dan jatah bulananku dikurangi 25% gara-gara nilai akademikku turun 0.99%. hey, ayolah, kenapa ini terjadi padaku?

***

Sudah memasuki semester dua. Kau tau? Aku berhasil dekat dengan seseorang. D.O. dan melupakan Kris yang kini sudah tampak jelas ia memiliki hubungan dengan Jessica.

“Quinn, jadi, laki-laki mana yang ingin kita buat cemburu?”

“Laki-laki yang memakai kaus tosca dengan jas hitam. Yang duduk disebelah si gadis jalang”

“Tampan. Tak seburuk diriku. Haha…”

“Diamlah! Apapun yang kau pikirkan tentangnya, diamlah dan buat ini terlihat sexy!”

“Okay!”

D.O kembali merengkuh tubuhku. Membelai rambut coklatku yang kubiarkan tergerai. Sedikit mencengkeram pinggulku dan bibirnya melumat bibirku dengan sexynya. Kau tau, bibir D.O kuakui sangat sexy. Seperti bibir sexy Kai. Dan sekarang, samar-samar kudengar laki-laki itu, laki-laki yang kubuat cemburu, berkata sesuatu pada Sooyoung, Hyorae, Chanyeol dan Baekhyun yang juga hadir disana. Sepertinya ia mulai merasa panas. Benarkah?

“Hey, siapa laki-laki itu?”

“Mana? Oh, itu D.O. keren bukan? Kenapa?”

“Tak apa. Maksudku, siapa yang mengenakan sneakers pendek ditengah-tengah musim dingin?”

“Kenapa kau peduli?”

“Ya. Kenapa kau peduli? Bahkan kau hampir melupakan dan tak peduli dengan gadis yang sedang melakukan hal itu dengan laki-laki itu.”

“Waw. Aku tak peduli. Kajja kita pergi!”

“Bodoh. Aku juga akan melakukannya jika kau melakukan hal itu pada gadis secantik dia, bung!”

“Kris memang bodoh dan payah!”

Itulah yang terakhir kudengar saat D.O melepaskan bibirnya yang bertautan dengan bibirku dan kulihat ia sudah pergi dari duduknya. Kurasa, aku berhasil membuatnya cemburu. Bukankah begitu? Dan hey, sebenarnya, jangan salah paham dulu disini. D.O sebenarnya bukan laki-laki yang sedang dekat denganku. Tapi ia adalah sepupuku. Anak dari adik papa. Anak dari paman Lay.

***

“Ehem! Hey, Quinn!”

“Oh, hey!”

“Bagaimana hubunganmu dengan, D.O?”

“Bagaimana hubunganmu dengan Jessica?”

“Kau tau aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Bisakah kita berbicara?”

“Oke. Apa?”

“Tidak. Pribadi. Maksudku, aku akan kerumahmu nanti malam jam 7”

“Terserah..”

Aku melewatinya. Lagi. aku berhasil melewatinya tanpa susah hati. Padahal kata Chanyeol dan Baekhyun ia berusaha berbaikan padaku. Oh benarkah? Kalau iya, kutunggu iya jam 7 malam nanti. Aku tau, ia tak akan terlambat sedetik pun jadi kubiarkan ia datang dan aku menunggu, dan oh, melihatnya sekarang dicium oleh gadis jalang yang dipanggil Sehun yang kebetulan bergabung dengan laki-laki itu.

Menjijikkan. Satu kata yang paling tepat untuk gadis itu. selain dulu melakukan itu dengan Kai, ia melakukannya lagi-lagi dengan kekasihku. Maksudku, mantan kekasihku. Ia mengajakku untuk berakhir bukan waktu itu?

***

TENG!

Jam classic milik mama yang diberi nenek tahun lalu berdenting tepat saat jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 7. Sudah jam 7 dan Kris belum ada tanda-tanda akan datang berkunjung. Bahkan jumlah nyamuk yang mati karena semprotan parfume anti nyamukku tak bisa dihitung lagi. Pak Han juga sudah selesai mencuci mobil. Kemana laki-laki itu? apa ia lupa? Sudah kukira ia akan lupa.

Neoui sesangeuro yeah, yeorin barameul tago, yeah

 Ne gyeoteuro eodieseo wannyago

“Hallo?”

Hi, Quinn! Apa kau sibuk? Aku benar-benar butuh berbicara padamu!”

“Sooyoung? Ah, kukira kau dia. Bicara tentang apa? Apa serius?”

Benar! Ini serius dan ini menyangkut hubunganmu dengan Kris!

“Maksudmu?”

Tas yang kau lihat dikamar mandi waktu itu, sungguh, sebenarnya itu tasku! Aku tak tau kalau saat itu Jessica maupun Kris juga ada dikamar mandi. Aku benar-benar 100% yakin mereka tak melakukan itu. yang kulihat waktu itu hanya Jessica masuk kamar mandi sendiri dan Kris bersama Baekhyun, dikamar mandi atas dan bukan dimana kau menemukan tas itu! terlebih saat itu, aku memang sedang berdua dikamar mandi dengan Chanyeol dan aku membiarkan tas itu tergeletak didepan pintu kamar mandi.

“Jadi maksudmu?”

Kau salah paham dan itu bukan salah Kris! Kris dan Jessica tak ada hubungan apa-apa dan barusan Chanyeol meneleponku kalau Kris masih mencintaimu dan terlalu kacau saat kau mendiamkannya seperti ini. dan malam ini…

“Apa?”

Ia tak bisa datang kerumahmu. Bukan tidak mau, tapi tak bisa. Ayahnya melarangnya dan kata Chanyeol, Kris sedang bertengkar dengan ayahnya karna saat ia menelepon rumah Kris terdengar teriakan dari ayah dan anak itu..

“Apa kau sudah selesai?”

Hmm.. Sudah…

“Aku marah padamu, aku tidak ingin bicara padamu. Dan katakan pada kekasihmu untuk tidak melakukan itu sama seperti apa yang dilakukan gadis jalang itu. terimakasih pengakuannya. Selamat malam!”

PLETAK!

Peduli apa jika iPhone 5 Whiteku hancur? Aku masih bisa membelinya lagi bahkan untuk tipe yang lebih bagus. Ok. Lupakan ini. dan lupakan apa kata-kata Sooyoung tadi. aku muak. Sungguh muak. Dan lebih baik aku tidur. Selamat malam!

***

“Quinn!”

“Apa?”

“Kumohon jangan marah pada kekasihku!”

“Aku tidak marah padanya. Aku hanya kesal dan aku sedang ingin sendiri”

“Mengertilah, ini salahku. Jadi marahlah padaku. Aku minta maaf. Sungguh aku tak mengira juga kalau ternyata ini…”

“Sudahlah, Chan. Lagipula itu sudah berlalu. Aku hanya perlu sedikit lebih waktu untuk memikirkan ini lebih dewasa. Aku sedang ingin sendiri jadi jangan buat aku kembali menjadi aku yang jutek dan cuek dengan teman laki-lakimu yang tingginya hampir sama denganmu itu”

“Hhh.. baiklah. Yang pasti aku dan Sooyoung sudah menjelaskannya. Oh ya, aku tidak menyuruhmu untuk datang. Tapi kalau bisa, datanglah ke L cafe. Band-ku, maksudku, aku, Kris, Baekhyun dan Luhan akan tampil disana malam ini. mungkin kedatanganmu bisa membuat Kris lebih energik saat menyanyi dan memetik senar gitar itu…”

“Lihat saja nanti!”

Chanyeol melangkah pergi. Aku juga melangkah pergi. Kami sama-sama pergi. Kearah yang berbeda tentu saja. Chanyeol kearah selatan dan aku ke arah utara. Ok, aku hanya berbasa-basi sekarang. Aku, masih memikirkan semua penjelasan Chanyeol dan Sooyoung yang sebenarnya masuk akal.

***

Entah bagaimana, aku berhasil terbujuk dengan rayuan Hyorae. Aku datang, ke L cafe, sesuai yang dikatakan Chanyeol tadi siang saat masih disekolah. Hyorae datang bersama Baekhyun dan terus-terusan merengek agar aku datang kesini demi melihat penampilan laki-laki itu. oh bukan, maksudku, demi band sekolah yang sebentar lagi namanya akan dikenal seluruh penjuru Seoul, bahkan mungkin seluruh dunia.

“Kau akan menyesal jika kau tidak datang kesini!”

“Ini terlalu bising! Bisakah kau sedikit lebih keras?”

“KAU AKAN MENYESAL JIKA KAU TIDAK DATANG KESINI! GADIS SEPERTIMU PASTI MENYUKAI HAL-HAL YANG SEPERTI INI APALAGI BANYAK PILIHAN VODKA DISANA!”

“KAU MEMANG MENGERTI AKU, HYO!!”

“HYORAE!! QUINNIE!! OH MY … KAU DATANG?”

“YOUNGIE!!”

“Ne aku datang!”

“Apa?”

“NE AKU DATANG!”

“APA KAU MASIH MARAH PADAKU?”

“AKU TIDAK AKAN BISA MARAH JIKA DITEMPAT INI APALAGI BERSAMA DUA SAHABAT TERBAIKKU!”

“QUINNIE YOU BACK!!”

“YEAH!!”

“ROCK ON!!”

Suara bising musik rock-pop yang diputar DJ tak menghalangi kami untuk berteriak-teriak. Disini, sesungguhnya tempat yang paling kusenangi. Apalagi, mengingat dimana saat Kris menemaniku sewaktu Kai pergi dan mencium bibirku untuk pertama kalinya sebelum Kai yang mencium. Hey, kenapa aku memikirkannya lagi? oh c’mon, aku datang juga untuk dirinya, bukan?

“Check.. check.. DJ, bisakah kau kecilkan volume musikmu? Aku ingin menyapa semua pengunjung disini!”

Oh, itu Sehun. Sang VJ yang memimpin acara di cafe malam ini. jangan heran, aku sering kesini. Bersama dua sahabatku ini, bersama D.O, bahkan berdua saja bersama Kris. terlebih, VJ keren itu teman satu sekolahku.

“Malam guys! Are you ready for this night? Guess what, aku punya sesuatu yang baru disini. Biasanya, DJ yang akan meramaikan dan membuat cafe ini penuh dengan semua gesekan kepingan hitam besar itu mengalunkan musik yang, yah, dicampur adukkan itu. tapi malam ini, tidak! DJ akan berhenti bermain saat ini, dan akan ada 4 laki-laki tampan dari EXO! Hey, they comes from other planet, you know? Ok tak akan berlama-lama, langsung saja, ini dia, EXOOOHH!!!”

Sehun dengan antusias dan yah dengan gaya VJ seperti biasanya, ia meneriakkan nama band baru itu, aku tau karna itu grup band yang didirikan Kris dan juga grup band yang sebelumnya vokalis dua dijabat Kai sebelum ia pindah. Selang beberapa detik setelah Sehun tutup mulut, Chanyeol tampak keluar dan langsung menuju bangku belakang drum sambil memegang stick. Baekhyun datang kemudian menarik bassnya dan Luhan sudah berhasil menggapai keyboard itu. terakhir, adalah orang yang menjadi alasan kenapa aku menyetujui datang kemari. Kris. dengan gitarnya ia berdiri tepat didepan microphone.

“Selamat malam. Ini, bukan malam pertama EXO tampil dicafe ini. Walaupun ini malam kedua, (hahahaha) aku tau kalian tak asing dengan kami. Namun kali ini, kalian akan merasa asing dengan lagu yang akan kubawakan ini…”

Semua pengunjung cafe berteriak riuh, bertepuk tangan, bahkan ada yang sampai berdiri dimeja demi melihat penampilan laki-laki tampan bak malaikat itu bernyanyi diatas panggung kecil cafe ini. keempat laki-laki yang mendapat itu pun hanya mengangguk tersenyum pertanda mengucapkan terimakasih secara tidak langsung. Kecuali satu, mata laki-laki itu menatap kearahku.

“Sebelumnya, aku ingin mengucapkan sesuatu sebelum aku benar-benar menyanyikan lagu itu. sebenarnya, lagu itu kubuat untuk seseorang yang berhasil membuatku kacau selama akhir semester ini. lagu itu, sebagai permintaan maafku, dan sebagai pertanda bahwa aku masih mencintainya. Lagu itu, secara tak langsung akan menyampaikan perasaanku padanya. Sejak awal aku merasakannya, sampai sekarang.”

Semua orang menatapnya dengan tatapan sendu. Terpesona mungkin dengan ketampanannya yang tersorot lampu terang cafe. Kecuali Sooyoung dan Hyorae yang sepertinya tau kalau, bukan aku yang terlalu percaya diri, akulah orang yang, mungkin, dimaksud Kris.

“Aku tau aku salah. Aku tau aku tidak dapat menjelaskannya saat itu. jujur, aku tersiksa. Sejak itu, tak ada lagi senyum, bahkan omelan darinya. Rasanya, aku hampa..”

CESS!!

“Oh, Ok. Aku tak akan berbasa-basi lagi. Kim Quinn Rae, gadis yang membuatku hampir gila akhir-akhir ini, bisakah kalian mengarahkan lampu sorot ini kearahnya? Aku ingin melihatnya dibawah cahaya ini. ia pasti akan terlihat seperti seorang bidadari..”

Setelah Chanyeol sedikit memukul drum yang ada didepannya, Kris, dengan tanpa perasaan, mungkin, membuatku terdiam ditempat. Jantungku benar-benar berasa berhenti berdetak dan tubuhku mati rasa. Hey, ia menyebut namaku didepan kerumunan banyak orang seperti ini. ayolah, aku sudah seperti tomat hampir busuk karena saking merahnya.

“Quinn, maafkan aku. Aku tau aku salah dan seharusnya aku langsung meminta maaf padamu dan menjelaskan semuanya. Maafkan aku yang bodoh membuatmu berakhir berhubungan denganku. Maafkan aku yang seperti keledai melepaskanmu begitu juga. Quinn, aku meminta maafmu dengan sangat tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam, dan aku meminta cintamu dengan berjuta-juta cinta yang ada dihatiku. Kembalilah padaku, dan jadilah Quinn milikku. Lagi…”

TREKTEKDUMCES!

Chanyeol, Baekhyun dan Luhan sudah memulai intro lagu yang akan mereka bawakan. Kris juga sudah memetik gitarnya. Lampu sorot juga sudah menerangiku. Semua orang tersenyum padaku, mungkin maksudnya menyuruhku untuk menerima permintaan maaf dan cintanya lagi. aku masih memasang wajah datar, walau masih semerah tomat. Namun setelah Hyorae, bahkan Sooyoung menyenggol sikuku, entah bagaimana aku menatap kedalam mata hitam Kris, tersenyum dan mengangguk kearahnya. Sungguh, hatiku merasa benar-benar lega sekarang. LEGA!

***

“Lagu yang indah Kris! Don’t let me go, don’t let me go! Ahhh… suaramu memang benar-benar indah jika sedang menyanyi lembut seperti itu! kau, terlihat lebih berkharisma daripada saat kau menge-rapp!”

“Jangan terlalu berlebihan, Hyo. Suaraku masih jauh lebih jelek dibanding dengan suara Baekhyun..”

“Tapi aku suka!”

“Hey, dimana Chanyeol dan Sooyoung?”

“Mereka sudah pulang. Sooyoung kakaknya baru pulang dari China dan ia harus segera pulang”

“Luhan?”

“Sama!”

“Lalu, dimana Quinn?”

“Aku disini. Tak usah mencariku. Aku tau kau akan mencariku jadi lebih baik aku datang menemuimu sebelum kau mencariku.”

“Chagi, sebaiknya kita pergi. Biarkan dua insan manusia yang baru kembali ini berdua saja!”

“Kajja!”

Baekhyun dan Hyorae kemudian melesat pergi saat aku datang. Kini hanya ada aku dan Kris yang ada disamping cafe, duduk dibangku panjang menatap kearah langit yang sedang berbintang saat ini.

“Terimakasih”

“Untuk apa?”

“Malam ini. kau menerima maafku dan … “

“Sama-sama. Aku lebih tenang setelah memaafkanmu”

“Sudah seharusnya aku membuatmu tenang”

“Lagumu indah. Aku tak menyangka kau bisa membuat lagu seindah itu”

“Terimakasih. Itu karna aku memikirkan gadis yang selalu indah dihatiku”

“Gadis itu akan beruntung sekali selalu kau pikirkan”

“Seharusnya. Tapi kurasa, gadis itu masih belum menyadari kalau aku masih menunggu pernyataannya tentang perasaannya padaku”

“Gadis itu bodoh!”

“Kalau gadis itu bodoh, aku juga bodoh karna mencintai, sangat-sangat mencintai gadis bodoh itu. dan juga memutuskannya disaat aku belum menjelaskan apapun dan membiarkannya salah paham.”

“Hentikan Kris!”

Aku menepuk lengannya yang berdekatan denganku. Kulihat ia terkekeh. Aku tau, inilah saat-saat yang sebenarnya aku inginkan sejak kejadian “menjijikkan” itu. mungkin juga inilah yang dicari Kris selama ini.

“Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Kumohon jangan biarkan aku memiliki hubungan dengan Jessica si gadis jalang itu…”

Detik berikutnya Kris berhasil memeluk tubuhku. Aroma tubuhnya, inilah yang aku rindukan selama ini. wangi Aqua dari parfumnya membuatku lebih nyaman sekarang.

“Aku juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Aku tak akan membiarkanmu memiliki hubungan dengan gadis jalang itu. dan kau, seharusnya kau menghentikanku agar tak berhubungan dengan D.O lagi…”

“Tak akan pernah. Kim Quinn Rae hanya milikku seorang. Bukan milik D.O, bahkan bukan juga milik Kai. Dan aku, Wu Yi Fan, adalah milik Quinn. Hanya milik Quinn. Bukan milik gadis jalang itu ataupun gadis yang lain…”

“Hey, aku milik orang tuaku juga dan kau juga milik orang tuamu!”

“Berhentilah bercanda disaat suasana haru seperti ini! kau tau, aku sudah merasa menjadi laki-laki romantis hari ini!”

“Oh baiklah, baiklah…”

“Quinn, I love you. Saranghae!”

“I love you too. Nado saranghae!”

Kemudian Kris melepas peluknya dan menarik wajahku agar mendekat dengan wajahnya. Tangan kanannya membelai rambutku dan tangan kirinya mengusap pipiku lembut. Ia tersenyum. Matanya menatap kearah dalam bola mataku. Nafasnya bertemu dengan nafasku. Detik kemudian, ia semakin mendekat dan …

CHU!

Bibirku kembali tersapu dan bertemu dengan bibirnya setelah akhir semester ini aku tak merasakan kehangatan dari bibir seductivenya itu. detik yang terus berganti menit ini tak ia biarkan untuk tidak mencium bibirku.

Sekarang, dibawah langit malam yang sedang bertabur jutaan bintang, aku Kim Quinn Rae, menyatakan bahwa aku kembali pada mantan kekasihku sekaligus sahabatku, Wu Yi Fan, Kris. permasalahan tentang hubunganku dengannya, dan hubungannya dengan gadis jalang itu, berhenti dalam sebuah lagu itu. dan kau, kurasa, kau harus pergi dari hadapanku juga saat ini. aku masih ingin menikmati aroma tubuh Kris dan merasakan manisnya bibir seductive ini.

END

Iklan

16 pemikiran pada “Don’t Get Wrong!

  1. Demi apapun ini ff so sweet banget. Huwaa !! Author suka baca novel sama nonton serial amerika gitu yaaa ??? Hahahaha. Cerita ini mengingatkan saya sama serial Gossip Girl dan beberapa novel yang mengambil tema school life di amerika. Kekekekeke. Good joob author. Love it so much. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s