Never Say Goodbye (Chapter 1)

Never say goodbye (Chapter one)

  • Cast : – Go Rara (Holly Go)

-Park Chanyeol

-Lee Heera

  • Main Cast : -D.O

– Choi Miho

-Suho

-Sehun

-Kai dll

  • Genre : Romance
  • Author : Rashita lala . @RashitaLala (Acc buat para reader kalau mau ngasih kritik dan sarannya)
  • Backsound : Never say goodbye-JoJo
  • Length : Chapter
  • Rating : Teen (suka-suka reader dah)

Capture

Author P.O.V

Go Rara tersenyum dibalik jendela kelasnya.Matanya tak berhenti memandangi seorang anak lelaki yang bermain basket dilapangan sekolah bersama teman-temannya.Ia teramat bersyukur mendapati kelas yang belokasi dekat dengan lapangan. Karnanya, hampir setiap hari ia bisa memandangi laki-laki itu.Lelaki yang selalu menyejukan hatinya dengan senyum manisnya selama duatahunterakir ini—Lelaki yang bisa membuat kembang api di hatinya saat melihat wajahnya.Satu-satunya orang yang bisa membuatnya merelakan jam tidurnya hanya untuk menge-stalk akun socialmedia milik lelaki itu setiap harinya.

Park Chanyeol nama laki-laki itu.Go Rara telah medambakannya selama ini.Walaupun ia hanya bisa memandanginya dari jauhkarnatidaksekelasdengannya.Namun, hatinya tetap merasa bahagia tak kala ia berada disekitarnya. Seperti sekarang. Tak terhitung berapa kali senyuman yang mengembang saat melihat Chanyeol mencetakan point atau melakukan gerakan yang semakin membuatnya terpesona—Membuatnya semakin ingin dekat dengannya.

Namun apa mau dikata?, ia masih bungkam dengan perasaanya.Ia bukanlah gadis yang segampang itu menyatakan perasaan kepada seseorang.Ia hanyalah gadis pemalu, terlalu banyak hal hal pikirkannya bila mana harus menyatakan rasa sukanya pada Park Chanyeol.Bagaimana kalau Park Chanyeol tidak menyukainya?Bagaimana kalau Park Chanyeol menolaknya?Bagaimana Park Chanyeol malah nanti menghindarinya?dan yang terpenting adalah dia perempuan!, tak mungkin baginya untuk mengungkapkannya duluan. Itu sudahlah hukum alam.

Jalankan ingin menyatakan perasaanya pada Park Chanyeol, kemungkinan Park Chanyeol mengenalnya saja sangat tipis.Selama ini dia belum pernah berkenalan dengan laki-laki itu ataupun bertegur sapa dengan laki-laki itu.Ia hanya berani menyapanya lewat chatting social media menggunakan nama palsu, itupun kurang ditanggapi dengan Park Chanyeol. Apa lagi di dunia kenyataan. Ia tak bisa membayangkan kalau suatu hari jika ia berani menyatakan perasaanya, Park Chanyeol malah akan risih dengannya dan akhirnya, akan menjauhinya. Itu akan lebih menyakitkan dibandingkan ia harus menekan perasaannya sendiri.

Chanyeol dan teman-temannya selesai bermain. Terlihat laki-laki itu kelelahan, napasnya telihat tersengal-sengal dari kejauhan.Temannya,Sehun lalu mendekatinya dan memberikannya minuman. Andai aku bisa memberikannya minuman saat ini, benak Rara dalam hati.

“DUARRRR!”  Tiba-tiba ada seseorang mengagetkannya dari belakang, sontak tubuhnya meloncat ke belakang.

OMO, Jantungku hampir mau copot. Dasar kau Miho! Kau mau aku jantungan siang-siang seperti ini?” Ucapnya memarahi sohibnya itu.

“Haha maaf, habisnya kau serius sekali sih. Kau dari tadi memandangi apa?” Miho lalu mencari-cari penasaran sumber yang membuat Rara tersenyum-senyum sendiri sedari tadi. “Oh ternyata dia, Aigoo pantas saja kau cengegesan seperti orang tak waras.” Godanya mengangkat alis lalu menyenggol lengan Rara.

“Kau ini,tak bisa melihat temanmu senang sedikit apa?.” Geram Rara.

“Kau masih menyukainya?, ya Tuhan. Buat apa kau menyukainya kalau hanya diam saja?.” Ucap Minho sambil ikut memandangi Park Chanyeol dari jauh bersama Rara

“Ya lalu aku harus bagaimana?.” Tanyanya pasrah.

“Berkenalanlah dengannya, ungkapkan perasaanmu,” Miho berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya lagi “Oh iya ya, kan dia sudah punya pacar?”

“Itu kau tau, lagian aku kan perempuan,mana berani aku menyapanya terus tiba- tiba aku mengajaknya berkenalan. Nanti yang ada aku malah diaangapnya aneh, kau tau? Dia itu sangat dingin.” Kata Rara yang memberikan rentetan alasan.

Sohibnya itu hanya bisa mengela nafas lalu menepuk pelan punggung Rara, tanda untuk bersabar. “ Finghting Go Rara!,  I believe you can!. Imposibble is nothing!” Ucapnya tiba-tiba memberi semangat sambil mengepalakan tangan.

“Aku juga berharap begitu…”

***

Chanyeol kelelahan bermain basket dengan 4 sohibnya itu. Ia kemudian duduk beristirahat di pinggir lapangan,dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Beberpa saat kemudian temannya, Sehun menyodorkan minuman padanya. “Gomawo” Ucapnya.

“Kita sudahi saja ya? Aku sudah lelah. Lagian masih ada pelajaran guru Cha, bisa-bisa kita dimarahi kalau baju kita ketahuan basah kuyup begini.” Sela Suho disaat istirahat.

“Ia aku setuju” Balas yang lainnya.

“Ayo kita ke kelas.” Ajak Baekyun. Seluruh anggota geng Exo, geng paling eksis di sekolah Seiru itu berdiri mengikuti Baekyun terkecuali Chanyeol. Melihat temannya yang satu itu hanya diam saja Kai bertanya. “Kau tidak ikut kami ke kelas?”

“Tidak, aku mau bertemu Heera sebentar.”

“Ternyata mau bertemu pujaan hati dulu.” Goda anggota yang lain, D.O.

“Yasudah, kami duluan ya.” Balas Kai sambil melambaikan tangan lalu beranjak pergi diikuti anggota yang lainnya.

Chanyeol menangguk pelan lalu memandangi pungung-punggung temannya yang makin menjauh, tiba-tiba ada tubuh yang menghalangi pandangannya. Ia mendongak ke atas, gadis yang ditunggunya ternyata sudah datang.Heera kemudian membalas pandangan Chanyeol dengan senyuman manis yang mengembang di bibir gadis tersebut.

“Sudah lama?” Tanyanya sambil mengambil posisi duduk di samping Chanyeol.

“Tidak, ada apa kau menyuruhku bertemu disini? Kan dikelas bisa?.” Tanyanya  karna Heera mengirimkan pesan singkat tadi pagi, menyuruhnya untuk menunggu di lapangan  sehabis bermain basket dengan teman-temannya.

“Tidak apa.” Jawab gadis itu singkat. “Chanyeol-ssisebenarnya ada hal penting yang mau aku bilang.” Lanjutnya.

“Apa?”

“Dengar” tiba-tiba Heera memegang tangan kanan Chanyeol yang sedari tadi diletakan di pahanya. “Maafkan aku sebelumnya. Tapi, aku harus pergi ke Jerman dengan keluargaku lusa. Maaf bila aku belum memberi tahumu sebelumnya, aku takut kau marah padaku. Dan maafkan untuk hal ini….,” Heera menggantukan kata-katanya dan menghelakan nafasnya beberapa saat. “…Sepertinya kita harus akhiri hubungan ini, aku takut bila kita berhubungan jarak jauh. Hubungan kita taakan berjalan lancar dan… akan ada yang tersakiti ataupun sebaliknya.” Lanjutnya.

Chanyeol tertegun, membeku ditempat. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Gadis yang ia sayangi lebih dari dua tahun ini tiba-tiba akan pindah ke German, dan… Apa? Putus?, segampang itu kah hubungan mereka berakir?. Chanyeol masih tidak bisa mencerna semua ucapan Heera. Pikirannya kemana-mana, perasaanya kacau.

“Maafkan aku Chanyeol, aku memang bersalah, aku seenaknya mengambil keputusan, aku terlalu takut dengan apa yang terjadi nanti. Aku harap kau mau mengerti. Kami sekeluarga harus pindah, Ayahku ada urusan bisnis disana begitu juga dengan Ibuku. Akupun juga mau melanjutkan kemampuan bermain biolaku disana. Aku takut bila kita masih menjalani hubungan ini nanti aku menghianatimu ataupun dirimu sebaiknya.Aku juga ingin lebih berkonsentrasi untuk mengejar mimpiku. Jadi, kutupuskan lebih baik kita bersahabatan saja ya?.” Jelas Heera mengulang lebih lancar, buliran bening saat itu juga mengalir wajah cantik gadis itu yang masih menggenggam erat tangan laki-laki di depannya.

“Kenapa?” Chanyeol akhirnya bersuara. Buliran bening juga mengalir deras di wajah tampan laki-laki itu. “Kenapa?, kenapa harus seperti ini?. Apa semua keputusan hanya pada dirimu? Tidak juga berpihak padaku?” Ucapnya melanjutkan.

“Tidak Chanyeol, tapi aku ha…”.

“Apa aku tak penting bagimu?, apa aku juga bukan sebagian dari mimpimu selama ini?” Chanyeol memotong ucapan Heera. “Lalu kenapa kita harus memulainya?, mengapa dua tahun lalu tidak kau bilang bahwa aku tidak begitu penting untukmu. Dengan itu akan lebih baik dari pada sekarang. Sama sekali tidak ada yang disakiti ataupun menyakiti” Tanyanya berentetan sambil terisak dalam tangisnya.

“Chanyeol-ssi maaf. Aku yang salah, maafkan aku.” Ucap Heera lirih dengan kepala menunduk menahan tangisnya.Ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan

Chanyeol yang bertubi-tubi itu.Rasa bersalah kini menghantam perasaanya.

“ Sudahlah, kejarlah mimpimu. Aku tidak berhak menghalangimu. Aku akan bahagia jika kau bahagia. Yang terpenting adalah aku mencintaimu dengan tulus selama ini ya kan?. Kau tak usah menyalahkan dirimu. Aku akan merelakan dirimu. Selamat tinggal Heera.” Ucap Chanyeol dengan mata sendu.Ia telah merelakan, merelakan perempuan yang terpenting di hidupnya pergi begitu saja. Bodoh, ya ini tindakan bodoh. Tapi perasaanya sekarang ini sedang bercampur aduk. Kaget,marah,sedih,bingung menjadi satu lalu menghantamnya sekaligus dan secara tiba-tiba. Namun setidaknya otaknya masih berjalan normal sekarang, ia masih berfikir, ini adalah hari terakir. Ia harus merelakan semua sekarang. Besoknya ia yakin ia taakan kuat melihat gadis itu dan esoknya lagi gadis itu telah terlanjur pergi dari kehidupannya.

Chanyeol mendongakan kepala Heera yang sedari tadi tertunduk sambil terisak dalam tangisnya.Ia kemudian memegang pipi perempuan itu lalu mengecupkan bibirnya ke kening Heera untuk terakhir kalinya dan  memeluk erat tubuh gadis itu beberapa saat sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Heera yang diam disana.

Heera memandangi punggung Chanyeol yang semakin menjauh. “Minhae Chanyeol-ssi, Minhae…” ucapnya lirih.

***

         “Rara lihat itu!!,” Minho tiba-tiba berteriak sambil nepuk keras bahu Rara dan menunjuk ke sumber pandangannya menggunakan telunjuknya. “Park Chanyeol sedang pacaran dengan Lee Heera” lanjutnya.Rara dengan cekatan mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjukan Minho.Disana, ia melihat percakapan anatara pujaan hatinya dengan sang pacar. Heh, itu adalah makanan sehari-hari buat Rara. Dia tak termakan kecemburuan lagi melihat Park Chanyeol dan Lee Heera sering berduaan di sekolah. Lagian, orang yang disukainya adalah Park Chanyeol, bukanlah Lee Heera. Jadi untuk apa dia kesal dengan Lee Heera?, itu adalah urusan mereka. Lee Heera juga tak tau menaung dengan perasaanya kepada Chanyeol. Karna itu, perasaanya adalah urusannya dan berhubungan dengan Chanyeol.Kalaupun ada yang bisa mengahancurkan perasaannya, hanyalah Chanyeol sendiri bukan Chanyeol dengan Heera.

Pandangan Rara masih tertuju pada kedua insan itu. Pertamanya, mereka terlihat akrab-akrab saja. Tapi sekarang suasananya kelihatan aneh. Chanyeol… menangis, begitu juga dengan Heera. Muka Chanyeol terlihat emosi saat itu dan Heera seperti orang yang terhakimi diantara percakapan mereka berdua.

Percakapan mereka berakir.Chanyeol mencium kening Heera lalu memeluk perempuaan itu beberapa saat dan akhirnya pergi meninggalkan Heera sendirian. Dari kejauhan Heera terlihat hanya diam ditempat sambil menatap lurus orang yang tadinya di sampingnya pergi.

Jantung Rara tiba-tiba berdebar kencang—Tenggorokannya seakan kering. Tadi Chanyeol mencium kening perempuan itu.Ciuman hangat yang selalu menjadi mimpi-mimpinya,ia juga sekaligus menjadi salah satu saksi kejadian mengharu-biru tadi.Rara bengong, tak tau harus berbuat apa. Sedangkan teman disampingnya juga belom bisa mencerna kejadian tadi. Beberapa saat kemudian Minho menoleh ke arah Rara yang sekarang memasang tampang pucat.

“Rara, kamu kenapa?.” Tanya Minho sambil memandang cemas. Astaga, belom pernah ia melihat sahabatnya memasang wajah sepucat ini.

Rara tak menjawab pertanyaan Minho tadi, ia masih dalam dunianya sendiri.Ia masih syok dengan kejadian tadi. Ngilu? Apakah dia ngilu melihat Chanyeol mencium kening Heera? Atau…,dia malah senang? Sepertinya Chanyeol putus dengan Heera. Ah tidak, dia bukan orang yang seperti itu.

“Rara, kau kenapa?” Ucap Minho mengulang pertanyaan, yang dari tadi belom dijawab juga oleh si penjawab.

“Apa-apa?” Rara terbelalak sadar sambil menoleh ke arah Minho.

“Astaga kau kenapa?”. Tanya Minho sekali lagi.“Sudah jangan terlalu dipikirkan kejadian tadi. Lebih baik kau menjernihkan pikiranmu sekarang. Otakmu masih belum terpasang utuh.” Kemudian Minho menarik Rara lalu menuntunya ke kursi terdekat.

Rara masih syok. Astaga, dia belom pernah melihat Chanyeol menangis sebelumnya. Laki-laki yang terlihat imut namun cool selama ini,tiba-tiba menangis. Hatinya seperti dicakar-cakar sekarang. Ia bukan cemburu dengan aksi cium kening dan peluk Heera—Chanyeol, tapi ia sedih melihat kecengannya menangis.

      Ya Tuhan, apa perasaanku sedalam ini pada Chanyeol?

Park Chanyeol P.O.V

Aku masih belum percaya dengan kejadian tadi siang.Perempuan yang paling kucinta pergi meninggalkan aku segampang itu. Aku sudah terlanjur mencintainya. Astaga, padahal seminggu lagi hari jadi kita yang kedua tahun. Kenapa bisa begini?, padahal aku sudah merencanakan banyak hal di hari jadi kita nanti. Aku tahu, aku bukanlah pacar yang sempurna. Aku sering mencuekinya, aku jarang memberi perhatian yang banyak padanya, aku juga bukanlah pria yang bisa melakukan hal romantis. Tapi, aku sangat mencintainya. Sangat.Andai saja aku diberikan kesempatan untuk menarik kembali kata-kata selamat tinggal itu. Ah! Bodoh!.

“Chanyeol, ayo kebawah. Makanannya sudah siap.” Ibu memanggilku.

“Aku sudah kenyang Amma, kalian makan saja duluan,” Jawabku. Ah, nafsu makanku hilang sekarang.

“Yasudah, kalau kau lapar nanti makanannya ibu masukan kulkas. Tinggal kau hangatkan saja”

Ndee” Jawabku singkat.

Aku bangkit berdiri dari tempat tidur. Kuambil semua barang-barang pemberian Heera, juga foto-fotoku dengannya. Kumasukan semua barang itu ke kerdus kosong yang biasa disimpan Umma, untuk menyimpan barang-barang bekas.Setelah memasukannya, ku bawa ke gudang rumah. Aku harus melupakannya sekarang. Ya, harus. Dengan itu aku bisa menjadi lelaki yang kuat, aku tak boleh lemah hanya karena seorang perempuan.

Kuletakan kardus itu diantara barang-barang yang sudah berdebu dan kusam. Lalu, segera ku keluar dari tempat itu. Aku tak mau membuang-buang waktu dengan melihat barang itu sekali lagi. Jika ku lihat barang itu lagi, yang ada hanyalah, aku semakin tidak merelakan Heera pergi.

Aku kembali ke kamar. Ku lihat led handphoneku berkedap-kedip tanda sms masuk.Ah, ada sms dari Kai.

Hei Chanyeol, aku dan yang lainnya sedang di Larsava Cafe. Kau mau ikut gabung tidak?.

Ya, kebetulan sekali. Hari ini aku butuh hiburan kelima monyet itu. Segera ku balas sms dari Kai.

Baik, tunggu aku. Kebetulan aku ingin dengar lawakan kalian sekarang.

 

Aku kemudaian memasukan handphoneku ke kantong celana jeansku—Lalu,  mengambil jaket coklatku di lemari—Juga tak lupa membawa dompetku. Setelah ijin dengan Amma dan Appa, segeraku keluar rumah.Menuju halte bus yang jaraknya tidak jauh dengan rumahku.

Malam ini udara dingin sekali. Jaketku yang sudah tergolong tebal saja masih bisa ditembus oleh udara malam ini.

Aku tengok kanan dan kiri. Hanya ada aku dan seorang anak perempuan yang sepertinya, sebaya denganku, duduk di halte ini. Aneh, hanya perasaanku saja atau dari tadi perempuan itu memandangiku?. Aku menoleh ke arahnya. Ternyata tidak. Perempuan itu menghdap ke arah lain.

Kalau boleh jujur. Perempuan itu tergolong cantik. Sepertinya dia blasteran. Matanya biru—kehijauan, rambutnya pirang, kulitnya putih pucat.Cukup cantik, tapi dia bukan tipeku.

Aku balikan posisi kepalaku kearah sembelumnya. Ah aneh, aku merasa dilihati lagi oleh perempuan itu. Aku menoleh lagi kearahnya. Dan… , masih pada posisi yang sama. Pandangannya bukan ke arahku. Ternyata hanya perasaanku saja.

Rara P.O.V

Aku berjalan menuju halte bus yang dekat dengan rumahku. Aku menghela nefasku  pelan. Mulutku mengeluarkan asap seperti orang merokok. Hari ini udara dingin sekali. Dasar Miho, seenaknya menyuruhku untuk pergi ke cafe ayahnya hanya untuk menemaninya memata-matai D.O dari jauh. Lagian pula,juga tidak ada Chanyeol disana. Hanya kelima sohibnya saja yang nongkrong di cafe ayah Miho hari ini.

Tak terasa langkah kakiku sudah menginjaki halte bus. Segera ku mengambil posisi duduk di kursi halte. Malam ini halte sepi sekali, tidak ada orang yang naik bus.

Tiba-tiba ada seorang lelaki juga ikut duduk agak jauh disebelahku. Kutengok ke arahnya penasaran.

Astaga.

Jantungku seketika berdegup kencang,badanku memanas,tanganku juga bergetar. Ya Tuhan, Chanyeol ada disampingku persis sekarang. Ia tampak tampan sekali dengan jacket coklatnya, rambutnya ditata agak acak, hidungnya yang mancung agak kemerahan karna udara yang terlalu dingin.Tampan sekali….

Ku beranikan diri menengok ke arahnya. Ya Tuhan, terimakasih banyak. Tak henti-hentinya ku memuji ketampanannya dalam hati. Ku pandangi wajah tampannya terus-menerus, ini kesempatan langka!. Melihat wajahnya dari dekat.

Aku membaca gerak-gerik Chanyeol. Dia sepertinya sadar aku melihatinya dari tadi. Aku langsung menoleh ke arah jalanan. Benar kuduga, Chanyeol menoleh ke arahku. Terlihat dari kaca bening samping ku. Aku harus berjaga-jaga kalau ingin melihatnya sekarang.

Chanyeol memutar kepalanya kembali ke arah semula. Ku beranikan lagi untuk melihat wajahnya. Setelah beberapa saat, gerak-geriknya sama seperti sebelumnya. Aku ulangi cara ampuhku untuk mematahkan rasa kecurigaanya. Dan sekali lagi, ia menoleh ke arahku. Kali ini agak lebih lama.

Tiba-tiba bus yang kutunggu datang. Dan bodohnya, aku baru sadar kalau kita akan satu bus sekarang. Hati kecilku menjerit-jerit kesenangan sekarang.

Ya Tuhan, terimakasih.Sarangheo!

 

***

Sepertinya Dewi Vortuna sedang berpihak kepadaku. Ternyata Chanyeol juga pergi ke Cafe Larvasa, cafe milik orangtua Miho. Dia sekarang duduk di meja tengah Cafe bersama teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan Kai,Suho,Baekyun,D.O, dan Sehun. Mereka sedari tadi hanya ketawa-ketiwi .Menggumamkan hal-hal lucu yang membuatku dan Mihojuga ikut ketawa diam-diam di bar Cafe.

“Astaga, mereka cocok menjadi pelawak. Terutama Baekyun dan Chanyeol. Kurasa mereka sedang stress.” Ucap Miho berbisik  padaku.

“Haha. Aneh ya, tadi padahal di bus muka Chanyeol terlihat sendu sekali.”

“Apa?, kau satu bus dengannya?.Pantas saja tadi kalian dateng berbarengan.” Ucap Miho kaget namun masih dengan volume yang sama.

“Iya. Aku beruntung sekali bukan?. Dia sangat tampan.”

“Biasa saja. Tampanan juga D.O” Sanggah Miho.

“Terserah kau saja lah.”

Mendadak suasana ramai di bangku geng EXO  menjadi sepi. Aneh. Kutengok hati-hati ke bangku mereka. Mereka seperti sedang membicarakan hal serius. Chanyeol yang mengambil alih bicara sekarang, sedangkan yang lain mendengarkan. Aku tak bisa mendengar dengan jelas suara Chanyeol, dia bicara pelan sekali, tapi ada satu hal yang dapat kuambil dari pembicaraan itu. Wajah mereka. Wajah Chanyeol di situ terlihat sedih, sedangkan yang lainnya seperti tampang orang prihatin. Ada yang janggal, apa ini berhubungan dengan kejadian tadi siang? Apa Chanyeol—Heera memang benar sudah berakir?.

Chanyeol P.O.V

Aku sudah menceritakan berakirnya hubunganku dengan Heera kepada 5 cicurut didepanku ini. Wajah mereka memancarkan kekasianan mereka padaku. Argh, aku benci dikasiani. Aku ini laki-laki, aku bukanlah laki-lakilemah yang hanya karna diputuskan pacarnya merasa seperti akan mati.

Suho mengelus-elus punggungku, tanda untuk bersabar, sedangkan Kai dan Sehun menasehatiku agar segera melupakan Heera. Tapi tanpa diberitahu-pun aku juga akan melupakannya. Aku tak mau terpuruk dalam kesengsaraan ini.

“Sudah-sudah aku mengerti. Kenapa kita mellow gini?. Lebihbaik kalian menghiburku sekarang.” Ucapku memotong saat mereka menasehatiku. Haha seperti psikiater saja.

“Iya, Chanyeol benar.Bagaimanakita main game online bareng di rumahBaekyun?. Baekyunkan punya warnet.” Ajak Suho.

“Iya benar-benar. Aku juga bosan belajar terus.”Ucap D.O seakan-akan rajin belajar. Boro-boro dia belajar, dia aja seperti orang fobia melihat buku pelajaran.

“Begaya kamu D.O, buka buku saja kau malas.” Balas Kai. D.O hanya cengengesan malu mendengar kata-kata Kai yang sangat menusuk dihatiitu.

Sembari kami bercakap-cakap tak jelas. Aku melihat perempuan itu lagi, si perempuan halte.Dia ternyata juga kesini?Apa dia mengikutiku?. Namun dugaanku ternyata salah lagi, dia sedang bertemu dengan temannya. Temann yaitu Miho kan? Salah satu siswi di sekolahku?, apa dia juga satu sekolah denganku?. Hah sudahlah, masabodo.

Aku kembali kepercakapan ngawur kelima curut ini.Memang, mood booster-ku selama ini hanyalah mereka. Aku juga sadar bahwa teman jauh lebih menyenangkan dari pada perempuan. Rasanya mulai dari sekarang, perempuan sudah masuk ke dalam hal yang paling memuakan dalam hidupku.

– To be continued…-

 

 

Hello readers, inifanfictionpertamaku. Jadi, maafbangetkaloteramatbanyakkesalahan kaya pemaduan kata yang gaknyambung, cerita yang bertele-tele, typo bertebarandanpenggunaanbahasa yang salahmuehehe. Comment ya! Biaraku tau kesalahannyadiamana, tapitolongjugabisamenghargaihasilkarya orang lain, janganngecomment yang gakpenting alias ngebaseataupunngecopasceritaini.Part duanyabakalansegeraakubikin, dan yang pastijugabakallebihbenerdari part satu.Satulagi, makasihbanyak yang udahbaca!!!!! 😀 *Terbangbersama Kris*

Iklan

3 pemikiran pada “Never Say Goodbye (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s