We Were In Love (Chapter 8)

“WE WERE IN LOVE”

  • Title: “We were In Love”
  • Author:            Radtnha Anggraini (facebook.com/ bbuingbbuing.virus)

에피아 (facebook.com/JoUpin.stoleMyheart)

  • Main Cast:

               – Kim Jong In

                      – Park Chanhee (OC)

                     – Kim Yae In (OC)

                     – Park Chanyeol

                     – Byun Baekhyun

  • Support Cast: EXO member
  • Genre: Romance
  • Length: Chaptered
  • Rating: Teen

Author : No Author POV xD

 우리 사랑했잖아 그림 (45)

Part 8

 

Aku hanya menatap punggungmu yang mulai menghilang di balik tembok. Kau, Jong In..kau semakin membuatku ingin tahu seperti apa dirimu sebenarnya.

 

Flashback off

 

Aku memegangi dadaku yang mulai bergemuruh. Perasaanku tenang saat melihatmu.Sampai kini perasaanku belum juga hilang. Aku merasa senang saat kau disini. Apa kau merasakan hal yang sama?

 

Atau adikmu telah mengambil perasaan itu?

 

“Kkaja, kita kembali!” ucapan Yae In membuyarkan lamunanku. Ku lirik dirinya yang masih diam mematung di tempatnya. Saat ia hendak berbalik, tatapannya pada Yae In sangat sulit diartikan.

 

“Ehemm..kalian berdua boleh pergi sekarang. Jujur keberadaan kalian sedikit mengganggu kami, oh ya terimakasih juga telah sempat menolong CALON ISTRIKU!” perkataan Baekhyun oppa dengan menekankan bahwa aku adalah calon istrinya mampu membawa mereka berdua meninggalkan ruanganku.

 

——-

 

Jong In POV

 

Sampai rumah pun tak ada niatan bagiku maupun Yae In untuk memulai percakapan. Entahlah..kurasa semua menjadi awkward.

 

“Bisakah kau bicara? kenapa diam ?” tak ku hiraukan ucapannya dan tetap berjalan menuju kamarku.

 

“Yae In-ah, Jong In-ah wasseo? duduklah..” Ada alarm bahaya di otakku saat umma menyuruh kami berkumpul di ruang kerja ayah. “Apa benar tadi kalian bersama Park Chanhee?”

 

“Ne..” jawab kami –aku dan Yae In– bersama. “Jangan salah paham umma, tadi putri kesayanganmu itu yang membuatnya jatuh pingsan dan dengan terpaksa kami membawanya ke rumah sakit terdekat” jawabku panjang lebar.

 

“OMONA..!!”

 

“Mianhaeyo..aku sungguh tak sengaja” Yae In menundukkan kepalanya.

 

“Cihh…aku benar-benar kecewa padamu. Tidak bisakah kau menahan emosimu sejenak  huh?! Tindakanmu itu terlalu jauh” Tubuhnya sama sekali tak bergeming, appa dan umma hanya bisa memijit kepala dan mengelus dada melihat kemarahanku.

“Tidakkah kau merasa bersalah padanya dulu dan sekarang?? JAWAB AKU!!” tak ku pedulikan tatapan mematikan appa padaku.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi disini?” Appa ikut andil dalam pembicaraan ini sekarang.

 

“Penye…penyebab..Chanhee memutuskan hubungannya dengan Jong In adalah aku!” Aku hanya tersenyum miris mendengarnya “Karena aku dan Park Chanyeol-sshi waktu itu sedang berkencan.”

 

“IGE MWOYA!!” kali ini appa benar – benar marah.

 

“Jeosonghabnida abeoji, aku sungguh tak bermaksud seperti itu.”

“TIDAK ADA YANG BOLEH MENINGGALKAN RUANGAN INI” sergah appa

 

“Abeoji..” Umma memeluk Yae In yang sedang ketakutan.

 

“Kenapa baru memberitahu kami sekarang?” Umma melirik ku dan Yae In.

 

“Bukan masalah yang penting lagi bagiku.” jawabku

 

Bugg oke satu pukulan mendarat mulus di pipiku.

 

“KAU PIKIR INI TIDAK PENTING HUH!!! KENAPA KALIAN MENUTUPINYA!! KALIAN PIKIR KALIAN BISA MENYELESAIKANNYA SENDIRI!!” Sial, kenapa semuanya semakin rumit.

 

“Abeonim, geumanhae. Na ttaemmuniya, Jong In anira jincha!!.” Yae In berlutut pada Appa, apa yang ada di pikirannya sih.

 

“Abeoji tidak mau kalian bertemu mereka lagi. Dan pernikahan akan tetap terjadi”

 

“Neo..jincha!! YA KIM JONG IN!!” Kali ini aku sungguh tak bisa duduk berlama-lama di sana.

 

Brakkk ku hempaskan tubuhku di lantai dan bersandar pada pintu. Sungguh menyebalkan hari ini.

 

Tap tap tap tap seperti suara langkah kaki mendekat.

 

“Haruskah aku kembali berlutut padanya agar kau memaafkan ku humm? aku tau ini terlampau jauh, tapi aku hanya melakukan tugasku sebagai tunanganmu.” Dapat ku dengar dia menghela nafas berat. “Rasa bersalah itu, terus membayangiku. Tapi rasa sakit yang kau alami dulu jauh lebih menakutkanku. Jika begini akhirnya….tak bisakah aku bertahan lagi?”

 

 

Tokk..tokk..tokk “Jong In-ah boleh umma masuk nak ?” Dengan berat hati kulangkahkan kakiku menuju sumber suara.

 

“Wae umma?” tanya ku sarkartis

 

“Boleh umma masuk?” tanyanya lagi. Ku geserkan sedikit badanku untuk membiarkan umma masuk ke dalam kamarku.

 

Ku duduk di kursi sedangkan umma duduk di kasurku. Ada rasa canggung di antara kami berdua mengingat kejadiaan beberapa jam lalu. Kedua mataku membulat dengan sempurna dan jantungku berdetak lebih cepat mendengar apa yang di katakan Umma.

 

“Jujur, Umma sedikit kecewa dengan kalian berdua” ucap Umma membuka percakapan.

 

“Urideul?”

 

“Umma tahu Yae In memang salah, tapi jangan memojokkan dia seperti itu, dia akan merasa lebih terbebani lagi jika kau tak membelanya. Jangan membantah dan dengarkan dulu..” ku tutup lagi mulutku yang ingin mengajukan protes.

 

“Dia tak memiliki siapapun sekarang, hanya kau, Umma dan Appa. Jika semua menyalahkan dirinya dan kau ikut – ikut juga. Lalu siapa yang membelanya?”

 

Aku terdiam mendengarkan kata-kata umma, memang benar seharusnya aku tak ikut marah padanya.

 

“Pikirkan baik-baik” Umma pun berlalu dari kamarku.

 

Ku tekan beberapa tuts nomor dan  meletakkan ponsel di telingaku.

 

Satu kali…

 

Dua kali…

 

Tiga kali….

 

Hei apa  dia benar-benar marah padaku. Satu kali lagi jika tak diangkat akan kumarahi dia.

 

“Eung….Yeobeoseyo..” tunggu kenapa  suara lelaki yang mengangkatnya. “YA!! Nugunde, jangan mengacaukan tidurku”

 

“Chanyeol Hyung ?”

 

“Eoh Jong In ? wae irae ?”

 

“Ani, seharusnya aku yang Tanya bagaimana ponsel Yae In ada pada mu hyung ?”

 

“Ne?? molla, ku fikir ini ponsel Baekhyun makanya aku angkat. Kau mau mengambilnya?”

 

“Ne, aku akan kesana sekarang” bipp kumatikan ponsel.

 

—–

 

Chanyeol POV

 

“Kau mau kemana?” tanyaku pada Baekhyun yang keluar dari kamar.

 

“Membeli kopi, kau mau ?”

 

“Ani, aku mau tidur saja..”

 

Kurapatkan kedua mataku untuk mengistirahatkan tubuhku.

 

Everynight, everyday, everytime nowa isseodo

 

Everynight everyday, everytime geu ae tto ulla

 

Sorry sorry I’m sorry baby jeongmal mianhae..e

 

Modu da geurae da na ttaemuniya…

 

Sial suara ringtone siapa malam malam ini, mengganggu ku saja. ku abaikan saja deringan ponsel yang menggangguku.

 

Satu kali…

 

Dua kali…

 

Tiga kali….

 

Dengan berat  hati ku langkahkan kakiku menuju sumber suara. Jika tidak penting akan ku maki – maki penelponnya.

 

“Eung….Yeobeoseyo” Hening tak ada suara yang menyahut. “YA!! Nugunde, jangan mengacaukan tidurku” ucapku penuh amarah. Berani-beraninya dia mengganggu istirahat Park Chanyeol.

 

“Chanyeol Hyung ?” eh…bukannya ini

 

“Eoh Jong In ? wae irae ?”

 

“Ani, seharusnya aku yang tanya bagaimana ponsel Yae In ada pada mu hyung?” Yae In ??? bagaimana bisa?

 

“Ne?? molla, ku fikir ini ponsel Baekhyun  makanya aku angkat. Kau mau mengambilnya?”

 

“Ne, aku akan kesana sekarang” bipp argghhh sial kenapa mereka berdua suka sekali  mengacaukan hidupku sih! Siall! Umpatku.

 

 

“Eoh, kalian datang berdua ?” kataku saat Baekhyun dan Jong In bersama.

 

“Kami bertemu di depan tadi.” kata Baekhyun singkat.

 

Ku serahkan ponsel Yae In yang ada di genggamanku.

 

“Kau tak membukanya kan?” hei apa yang dia pikirkan, aku tak selicik itu.

 

“Cihh..kau sama sekali tak berubah!” cibirku sembari menatap tajam padanya.

 

“Jika kalian ingi bertengkar lebih baik keluar karena Chanhee sedang istirahat.” Baekhyun menengahi pembicaran kami.

 

“Yeobeoseyo..? Eotteohke ? Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan segera kesana sekarang!”

 

Raut wajahnya sangat tegang sekarang, aku dan Baekhyun hanya menggidikkan bahu melihatnya.

 

“Maaf, aku harus pergi” katanya berpamitan.

 

“Ada masalah?” tanya ku.

 

“Yae In terjatuh saat balapan dengan Tao” katanya saat kami bertiga sudah berada di loby.

 

“Balapan ?” tanyaku dan Baekhyun bersamaan.

 

“Eoh, Kebiasaannya sejak kami pindah disini. Dia sangat gemar balapan apalagi saat dia menghadapi masalah seperti sekarang” jelasnya panjang lebar.

 

“Memang kalian ah ani dia sedang ada masalah ?” tanya Baekhyun.

 

“Sedikit”

 

Tak lama kemudian datang mobil ambulance yang membawa Yae In datang bersama beberapa temannya. Keadaannya tidak bisa dibilang buruk ataupun baik. Kakinya berlumuran darah yang lumayan banyak. Dengan langkah sedikit terburu kami mengikutinya sampai di ruang UGD.

 

“Lututnya mengalami luka yang lumayan parah. Dan jangan ijinkan dia untuk balapan liar seperti tadi. Karena jika dia jatuh dan lutunya terluka lagi dia akan mengalami kelumpuhan” kata Dokter yang menjelaskan.

 

“Tapi tadi dia mengeluarkan banyak darah, Hyung” kata Jong In.

 

“Gwenchana, kami masih memiliki stok darah untuk mengembalikan darahnya”

 

“Luhan Hyung, jangan beritahu orang tuaku. Mereka pasti khawatir”

 

“Tenanglah, kau juga jangan melakukan hal yang membahayakan. Aku pergi dulu” ucap Dokter yang ku tahu bernama Luhan itu.

 

“Hyung, aku dan Kyungsoo meminta maaf karena mengijinkannya ikut tanpa memberitahumu” kata salah seorang dari mereka dan yang lainnya hanya bisa menunduk. Ku putuskan untuk tetap disini mendengarkan mereka.

 

“Dwesseo, sudah terjadi. Sehun-ah ceritakan saja apa yang terjadi hingga dia bisa jatuh”

 

Yang paling tinggi di antara mereka bercerita bahwa pada awalnya balapan berjalan dengan baik – baik saja hingga mendekati garis finish Yae In menambah kecepatannya dan tiba-tiba seorang namja yang bernama Tao –saingan Yae In- mendahuluinya dan berhenti tepat didepan Yae In. karena terkejut, Yae In membanting setirnya kearah kanan yang juga menyebabkan keseimbangan motornya berkurang membuatnya jatuh dan menabrak.

 

Ku remas tanganku menahan emosi yang membakar. Tak ku hiraukan lagi Jong In yang sibuk mengumpat dan marah marah pada 2 orang yang membawa Yae In.

 

“Antarkan aku menemui dua bajingan itu!” perkataan Jong In menyadarkanku kembali.

 

“Aku ikut” sergahku padanya.

 

“Ya..untuk apa kau ikut? Andwae, aku tau kalian berdua sedang emosi lebih baik aku saja yang ikut. Kau jaga saja Chanhee dan Yae In disini” Kata Baekhyun mencegahku.

 

“Dia benar. Neo, Sehun, Kyungsoo kkaja!!” ucap Jong In mengiyakan usul Baekhyun. Saat dia sudah menjauh, tiba-tiba dia berhenti melangkah dan kembali ke tempatku berdiri.

 

“Tolong jaga Yae In untukku, dan sampaikan maafku untuk adikmu” setelah itu dia kembali berlari menyusul yang lainnya. Ku lihat punggung mereka yang semakin menjauh.

 

—-

 

Chanhee POV

 

“Oppa…” panggilku lemah, eungg rasanya ada yang aneh dengan ruanganku.

 

“Ah~ Kau sudah bangun ?” aku hanya mengangguk lemah saat Chanyeol oppa bertanya sembari membawa cup kopi nya. “Lapar ?” kembali ku anggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya.

 

“Baekhyun oppa eodi ?” tanyaku selang beberapa saat ketika selesai makan.

 

“Dia sedang keluar bersama Jong In..”

 

“Mwo ?? Jong In ??” ku harap pendengaranku salah kali ini, bagaimana bisa mereka bersama? Aku takut mereka akan saling melukai.

 

“Gwenchana, mereka tak akan seperti itu” oppa ku hanya tersenyum tulus, apa dia bisa membaca pikiranku sekarang.

 

“Mereka sedang  memberi pelajaran orang yang mneyakiti Yae In” lanjutnya. Wajahnya berpaling ke sebelah ranjangku, terlihat Yae In sedang tertidur pulas dengan beberapa perban di kakinya. “Kecelakaan saat balapan, itu kata mereka”

 

“Ya!! Mau apa kau?” sergah kakakku saat aku mencoba turun dari ranjang.

 

“Mengahampirinya…” kutunjuk ranjang Yae In dengan daguku.

 

“Eunghhh..” aku dan Chanyeol oppa saling bertatapan saat mengetahui Yae In sadar. Entahlah kami sedikit takut sendiri mengingat renggangnya hubungan kami.

 

“Panggil dokter, Palli!!” bisikku padanya.

 

Setelah beberapa saat dokter yang memeriksanya pun datang. Anehnya saat dokter tersebut ingin pergi, Yae In mencegahnya dan berkata sesuatu yang tak jelas pada Dokter itu dan ada raut ketakutan dari wajahnya. Sebenarnya apa yang terjadi ?

 

“Ada masalah ?” tanyaku

 

“Anira, hanya takut..” dan sekali lagi kuberanikan diri untuk menghampiri ranjangnya dan duduk di sebelahnya.

 

“Kakimu…apa itu sakit ?” kembali ku bertanya padanya.

 

“Tak sesakit yang kau rasakan selama ini..” tatapannya seolah meminta maaf padaku. “Eoh, Chanyeol-sshi annyeong haseyo..”

 

“Ne..annyeong” jawab kakak ku kikuk. Haruskah aku meninggalkan mereka berdua sekarang ? tapi aku harus pergi kemana ya..

 

“Hajima…” ucap kakak ku bersamaan dengan Yae In. Ku tatap mereka berdua dan mereka melakukan hal yang sama, sesaat  terdengar suara tawa kami yang menggelegar.

 

Yang terjadi selanjutnnya adalah bullying yang kami –aku&Yae In- lakukan pada Chanyeol oppa dan berakhir dengan aegyonya yang membuat kami tertawa lagi. Ya..begini lebih baik pikirku. Sampai akhirnya dia menyerah dan pamit untuk membelikan kami minuman hangat.

 

“Kau tidak lagi membenciku ?” ku harap dia tak marah dengan kata-kataku

 

“Aku lelah jika harus bertengkar denganmu, kau ingin aku membencimu lagi huh?” matanya menyipit seakan menginterogasiku

 

“Aaa..ni” jawabku sekenanya ”Ahh..Chanyeol oppa lama sekali ya”

 

“Dia memang sedikit lamban, atau..dia sedang cari perhatian dengan para suster hahaha” terlihat tak ada beban lagi diantara kami. Semua kembali seperti dulu.

 

“Ya kalian pasti sedang membicarakan aku benarkan?” Chanyeol oppa masuk membawa beberapa cup kopi dengan wajah yang di tekuk. Sungguh rasanya aku ingin  tertawa dengan kencang.

 

“Ya sudah kalian kembali tidur sana ini sudah sangat larut.” Omelnya lagi, sebelum kupingku panas mendengar ocehannya ku putuskan untuk tidur kembali.

 

“Jaljayo..” ucapku.

 

—–

 

Yae In POV

 

Ku bolak balikkan tubuhku, sungguh aku sekarang tak bisa tidur. Mungkinkah pengaruh dari obat tidur ? ya.. bisa jadi.

 

“Ada yang bisa ku bantu ?” dia belum tidur ? pikirku

 

“Eung…eobseo. Hanya tak bbisa tidur” jelasku.

 

“Mau jalan-jalan ?” tawarnya

 

“Kau tak lelah ?” jawabku ragu

 

“Kau menghawatirkanku nona ?” aku hanya memasang wajah datar menanggapinya

“Aku sama sekali tak lelah, jadi ?” dia tersenyum lebar saat aku mengiyakan ajakannya.

 

Hanya terdengar suara roda berputar yang dihasilkan oleh kursi rodaku. Sekarang kami sedang menuju..entahlah. Aku tak mengerti pria ini akan membawaku kemana. Ku dengar dia sedikit bergumam tapi tak jelas berkata apa.

 

“Mworago ?”

 

“Eung..chogi, kapan kau menikah dengan Jong In” ada helaan nafas setelah dia berkata seperti itu.

 

“Mungkin satu minggu lagi, eoh adikmu sendiri ?”

 

“3 hari dimulai besok..wae ?”

 

“Ya…carilah wanita lain yang lebih baik dariku” mendadak kursi roda ini berhenti. Apa aku salah bertanya ?

 

“Kita sudah sampai di balkon..lihatlah bintangnya sangat indah..” aku tau dia tak ingin membahasnya. “Tenang saja ini perasaanku, dan  biarkan aku yang menjalaninya”

 

“Boleh pinjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Jong In” dia berbalik dan merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan benda yang kumaksud.

 

Aku menggelengkan kepala sekali lagi saat Chanyeol-sshi bertanya padaku. Entah ini panggilan yang keberapa tapi tetap juga tak diangkat. Luhan uissa bilang dia sedang berurusan dengan Tao, tapi hingga selarut ini ?.

 

“…….”

 

“Yeobeoseyo..neon eodi ?”

 

“……..”

 

“Wae ? ada masalah ?” tanya pria yang sedari tadi ada disampingku.

 

“Jemput aku sekarang juga dan bawa aku kesana!!”

 

“Antar aku ke lobi sekarang, Seseorang akan menjemputku” tak kuhiraukan semua pertanyaan dari Chanyeol-sshi dan sibuk dengan pemikiranku. Kini aku benar-benar takut.

 

“Malhae…siapa yang akan menjemputmu dan  ada apa sekarang ?” dia bertanya lagi saat kami sudah berada di lobi lantai dasar. “YA!! KIM YAE IN AKU BERJANJI PADA JONG IN UNTUK MENJAGAMU! Jadi….ceritakan apa yang sedang terjadi”

 

“Jong In….Baekhyun…” suaraku bergetar saat mengatakannya. “Mereka kecelakaan dan…dan..Jong In meninggal” ku remas ujung baju pasienku, airmata ini jatuh begitu saja tak terkendali. Kurasakan Chanyeol memelukku sangat erat dan menepuk punggungku.

 

“Yae In..” ku lepas pelukan Chanyeol saat Sehun datang.

 

“Ceritakan padaku selengkapnya saat perjalanan. Kkaja!” Chanyeol membantuku naik ke mobil sehun. “Jangan beritahu Chanhee sekarang, besok datanglah kerumahku saat dia sudah dimakamkan dan beritahu dia disana” Awalnya dia protes tapi aku berusaha meyakinkannya.

 

 

Banyak orang yang mengahadiri pemakamannnya. Termasuk Tao dan Xiumin, mereka bahkan bersujud dihadapan orang tuaku dan meminta ma’af karena membuatu celaka dan menjelaskan bahwa kecelakaan yang menimpa Jong In bukanlah ulah mereka berdua.

 

Umma yang tak kuat menahan beban inipun pingsan berkali kali. Ku genggam tangan abeonim  yang ada disampingku  mencoba menguatkannya. Jika aku sama rapuhnya dengan eommunim, aku takut semua akan menjadi takut.

 

“App…abeonim, jeosonghaeyo” ucapan pertamaku yang muncul seharian ini. Jika saja aku tak jatuh, jika aku tak kabur, jika aku ada dirumah jika….

 

“Appa..panggil aku appa. Aku rindu kau memanggilku appa” aku memeluk tubuh kekarnya. Aku tau beliau sangat rapuh, aku tau beliau sangat terluka. Pelukan kami terlepas saat beberapa orang kembali bertamu di kediaman kami.

 

“Sunbae…” kenapa dia kesini ? bukankah dia juga terluka.

 

“Dia memaksa terus, dan aku tak bisa berbuat apa-apa” Kyungsso oppa mencoba menjelaskannya. Sekarang yang kulakukan hanya bisa mengangguk. Ada begitu banyak luka di tubuhnya. Wajahnya begitu kacau kurasa.

 

—–

 

Chanhee POV

 

Saat aku terbangun aku sedikit heran karena tidak mendapati Yae In di samping ranjangku. Dan sekarang oppaku membawaku entah kemana. Setelah beberapa saat kami pun tiba, ada begitu banyak orang yang berada di sekitar rumah itu. Dan mereka semua memakai baju hitam.

 

“Ahjussi benar ini tempatnya ?” tanya oppa ku pada supir yang aku tak tau dia mendapatkannya darimana.

 

Perasaanku mengatakan ini bukan hal yang baik untukku, Tapi entah mengapa kakiku tetap memaksaku untuk melangkah. “Tempat apa ini oppa  ?” berulang kali aku bertanya padanya tapi sama sekali tak mendapat balasan.

 

“Eoh wasseo?”  Yae In ? sedang apa dia disini..wajahnya terlihat lelah dan matanya sembab. Dia…menangis ??? Yae In menangis ??

 

“Ada apa ini ?” tanyaku tak mau basa basi. Oppa dan Yae In hanya saling memandang dan aku semakin tak mengerti.

 

“Kkaja!” oppa menarikku pada menuju sebuah foto yang berada tak jauh dari kami berdiri.

 

Degg…jantung ini serasa berhenti berdetak. Ini tipuan kan ? ini tak mungkin terjadi.

 

“Oppa…”

 

“Ne, Jong In sudah tiada. Semalam dia mengalami kecelakaan dengan Baekhyun. Dia…” tak dapat kudengar lagi ucapan oppaku. Pandanganku kosong, ini bohongkan. Katakan padaku bahwa ini semua hanya sebuiah lelucon.

 

“Hhhuhh, hahahaha. Jangan bercanda, kalian pasti bohongkan ?” ku tatap kakakku penuh harap, dan dia balik menatapku dengan sendu. “Kim Yae In kau bercanda kan ? tak mungkin dia sudah pergi..katakan padaku bahwa ini hanya lelucon!” Yae In menatapku tak kalah sendunya dengan Chanyeol oppa.

 

“Relakan dia, kumohon” Tubuhku lemas dan sama sekali tak bisa merespon apapun saat ini. Aku tak tau harus berbuat apa, kenapa harus seperti ini ? aku…aku masih ingat begitu jelas sikapnya padaku.

 

“Bawa…dia ke taman belakang”

 

“Baekhyun, dia dimana ?”

 

“Di taman belakang juga” aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oppaku dan Yae In serta bisa merasakan saat oppa membawaku ke taman belakang.

 

“Baekhyunnie..gwenchana ?”  mereka bertiga kembali berbincang dan sedikit melibatkanku dalam perbincangan tapi sekali lagi aku tak merespon apa yang mereka katakan. Tatapanku begitu kosong seolah mati rasa.

 

Saat  Chanyeol oppa dan Baekhyun oppa meninggalkan kami entah kemana dan menyisakan aku berdua dengan Yae In.

 

“Bicaralah..jangan hanya diam. Kau semakin membuatku takut” Yae In tetap bersikeras mengajakku bicara. “Aku tau kau sedih, aku juga. Rasanya aku ingin menyusulnya. Tapi aku juga tak bisa meninggalkan orangtuaku ah..ani orang tua Jong In.”

 

Ku langkahkan kakiku mengelilingi taman ini. Mencoba menjernihkan pikiranku saat ini. Kakiku berhenti tepat didepan sebuah kolam renang. Bayangan wajahnya kembali terngiang di benakku. Saat dia tertawa, saat dia sedih dan saat dia sedang merajuk padaku dulu.

 

“J-jong In-ahh…” byurrr…tubuhku limbung dan jatuh ke dalam kolam renang. Mungkin aku harus menyusulnya?  ya begitu lah rencanaku saat ini.

 

“YA!! Park Chanhee! Tolong seseorang tolong dia” aku tersenyum mendengar teriakan Yae In dari atas sana. Tak lama kurasakan seseorang mencoba menarik tanganku ke permukaan. Seperti tangan seorang perempuan, mungkinkah ??. Dadaku semakin sesak, sudah dekat pikirku.

TBC—

Iklan

16 pemikiran pada “We Were In Love (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s