House of Life (Chapter 1)

Poser of 1st scroll

Title                : House of Life 1st Scroll

Author            : Kim Ah Rin (Emine / Ama)

Main Casts     : EXO & Kawan-kawan (kebanyakan soalnya)

Other Casts    : bacalah supaya mengerti semuanya

Length            : Chaptered

Genre              : Fantasy, Romance, Action, Friendship

Rating                         : T dan hanya untuk yang berfantasi tinggi

Disclaimer      : cuma punya author seorang

Annyeong… Author balik lagi! Mianhae, tidak update cepat, dan FF yang The Tree of Life masih ngadat, ada masalah di dalam pembuatan. Juga maaf kalau foto dan poster tidak sesuai harapan dan permintaan reader. Okelah nggak usah banyak bacot lets baca!

Jalan itu memang sepi. Tidak ada yang menamai jalan itu, bahkan hanya sedikit yang tahu bahwa jalan itu ada. Dan manusia biasa tidak tahu bahwa, di ujung jalan itu, berdiri sebuah asrama dengan penghuni yang kece-kece.

            Segerombol orang yang terdiri dari dua cowok dan satu cewek yang nyempil sendirian sedang berjalan sambil ngobrol di lorong asrama. Pembicaraan yang serius berlangsung agak lama, sampai sosok hantu cowok transparan masuk ke dalam kelompok itu.

“Lagi apa nih?” kata hantu itu yang langsung jb-jb* seenaknya.

“Ck, ganggu pemandangan aja lu. Syuh!” usir satu-satunya cewek di sana.

“Iya, siapa yang manggil dia? Lu ya, Chen?” tuduh salah satu cowok pada temennya.

“Eh, bukan gue! Serius! Kalau Homin sih, dateng nggak diundang pulang minta dianterin,” kata Chen. Hantu yang ternyata bernama Homin itu merengut.

“Suka-suka dong! Nanti bakal kubocorin ke seluruh asrama kalau kalian—”

“JANGAN DONG! Kalau itu terjadi, gue gak segan-segan lempar lu ke Duat*,” ancam cewek tadi.

“Iya deh, iya. Jangan ke Duat, gue masih mau di bumi, Rin,” kata Homin dengan tampang melas bikin mual.

“Lu nyusahin aja di bumi. Daripada gentayangan gitu, mending langsung aja ke Duat,” balas Ah Rin pedes. “Pergi gak?”

“Iya, iya.” Hantu kepo itu pun hilang. Dengan hati dongkol tak terkira, tiga sekawan itu pun masuk ke kelas mereka yang sepi, Necromance Class.

            Lain suasana sedang terjadi di Combat Magician Class. Jalur ini memang banyak peminatnya, jadi nggak heran kalau ramai (yah, pada dasarnya sihirnya memang berisik). Di pojokan, seorang cewek bernama Park Yong Ri sedang mementori para junior. Posisinya sebagai Pengawas Murid Junior di kelas ini memang menyebalkan, tapi dia menjalani semuanya dengan sepenuh hati.

“Yongri!” panggil teman seperjuangannya, Ah Ra. “Ambilin buku yang disuruh Tao kemarin, ya. Biar aku aja yang mentorin adik-adik rese ini.”

“Lho, kok gitu sih?”

“Udah jangan banyak tanya, ditungguin bukunya.”

Tanpa pikir panjang Yongri langsung cabut ke perpustakaan. Sebenarnya emang Ah Ra-nya aja yang males cari buku di perpustakaan yang besar dan luasnya sungguh sesuatu. Tapi, Yongri bahagia kok disuruh ke perpustakaan. Kenapa? Karena bisa lepas dari seorang adik kelas cerewet bernama Keywimz dan sobat-sobat abadinya, Arang dan Hyujin (kalau MinGi sih emang pendiam). Dan karena sebuah alasan lain.

            Kelas yang paling tenang di Rumah Seoul (sebutan para murid bagi asrama ini) tentu saja Diviner Class, dengan hanya tiga penghuni yang ramah namun pendiam. Ketua kelasnya yang merangkap jadi Ketua OSIS, yakni Xi Luhan, sedang menggambar sesuatu. Wakilnya, Yoo Youra, termenung di dekat jendela. Sementara junior mereka, Han Seungbyeol, mengamati dua seniornya.

Dengan keadaan seperti ini, kelas Diviner bisa dibilang sebuah keluarga kecil. Yang tenang tanpa pertengkaran.

Seungbyeol yang sedang tenang tiba-tiba pingsan. Youra segera menghampiri Seungbyeol, tapi Luhan, dengan keadaan masih serius menggambar, hanya berkomentar, “Biarkan saja. Kita dengarkan apa yang dia lihat.”

Youra mengangguk. Tapi, lima menit kemudian, dia mulai agak panik. “Luhan, dia tidak pernah menerima visi selama ini.”

Sang ketua kelas meletakkan pensil dan bukunya, kemudian berjalan menghampiri Youra yang sedang menidurkan Seungbyeol di sofa (ini kelas apa bukan sih?) dekat jendela. Luhan meletakkan tangannya di dahi Seungbyeol. Dia mengerutkan kening. “Ini… tidak bagus.”

“Lalu bagaimana?”

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kalau kita putus penerimaan visinya, akan semakin kacau.”

Sedetik kemudian, Seungbyeol bangun sambil menjerit. Dia memegangi kepalanya dan menggeleng. “Youra unnie, Luhan oppa… visi macam apa tadi?

“Ceritakan semuanya, Seungbyeol.”

Setelah Seungbyeol bercerita, dua senior itu hening.

“Jadi intinya adalah…”

“Buruk. Kita harus peringatkan seluruh penghuni Rumah Seoul untuk berjaga-jaga,” tukas Youra.

“Jangan. Tenang saja. Kami bersepuluh sudah cukup untuk melindungi Rumah. Semoga cukup,” cegah Luhan. Youra mengangguk meskipun agak khawatir. Sementara Seungbyeol makin bingung harus melakukan apa.

            Kelas Elemental adalah kelas paling umum. Tapi seperti yang kubilang, hanya sedikit manusia biasa yang tahu Rumah itu ada. Anggota kelas ini ada lima; dengan dua cewek dikelilingi tiga cowok keren-keren *author envy*. Dua cewek ini adalah duo maut di kelas ini. Meskipun junior, kekuatannya nyaris sama dengan senior. Siapa lagi kalau bukan Seo Hyura dan Park Hyurin? Cuma gara-gara namanya nyaris sama, mereka sudah klop dari pertama masuk Rumah Seoul.

Ketua dari kelas ini adalah Suho si Angel. Karena dia angel, Suho gak pernah marah bahkan pada duo Hyura dan Hyurin yang kerjaannya merusuh di kelas. Meskipun elementalis Rumah bisa mempelajari seluruh lima elemen di dunia—tanah, api, air, udara, dan keju—tapi mereka memilih jalan tersendiri. Sang Angel memilih menjadi penyihir api. Tetua kelas ini, Kim Minseok atau biasanya disebut Xiumin, menjadi peyihir tanah. Namdongsaeng kesayangan mereka, Sehun yang kadang cadel, mengikuti jalan udara. Seo Hyura memilih jalur air. Sementara Park Hyura, mempelajari seluruhnya.

“Hyura, Hyurin, tolong tuliskan hieroglif untuk air,” perintah Suho. Dengan cepat duo rusuh itu melakukan apa yang Suho minta. Tapi sedetik kemudian…

“Ngg, Suho oppa, tulisannya gimana ya?” tanya Hyura sambil nyengir. Sehun yang ada di dekat sana langsung pasang wajah datar. Kepikunan Hyura adalah hal yang biasa di kelas Elemental. Meskipun sebenarnya lebih pikun Lay sih #plak.

“Ih, pikunnya kumat lu,” Hyurin mengeceng sahabatnya sebentar.

“Yee, emang lu bisa?” Hyura bersedekap.

“Hehe, enggak sih,” Hyurin nyengir derp.

“Cih, apaan lu? Ngejek gua, padahal lu sendiri nggak bisa. Apaan? Ih,” Hyura balas mengeceng.

Dengan sabar Suho berkata, “Udah, udah. Diingat-ingat kalau dikasih pelajaran baru.”

“Tau tuh, baru kemarin dikasih tau, hari ini langsung lupa,” Sehun hanya bisa mengejek dari jauh. Duo maut itu memasang wajah datar karena di-ecengin Sehun.

            Lay yang sedang menulis di papan tulis merasa perasaannya nggak enak. Dia pun menoleh ke arah anak-anak didiknya—Lee Jira dan Song Moonbi (yang sebenarnya senior namun lebih rendah tingkatan dari Lay)—yang juga sedang mencatat apa yang ditulis Lay di papan tulis.

“Eh, kok perasaanku nggak enak ya?” kata Lay.

“Mungkin ada yang ngomongin oppa, kali,” kata Moonbi enteng.

“Oh, gitu,” kata Lay sambil mengangguk, lalu melanjutkan tulisannya.

[Wk, dia tidak tahu kalau yang membicarakan dirinya adalah Author.]

            “Kris?”

“Iya?” balas cowok yang sedang memberi makan buaya itu. Iya, memberi makan buaya. Bukan naga kok.

“Bagaimana rencana kita?”

Kris berbalik, menghadap pada teman sekelasnya, Jung Marin. “Iya. Baik. Kita hanya perlu tunggu perintah dari Luhan, lalu kita semua akan menjalankannya. Kenapa? Apa ada yang sudah mengetahuinya?”

“Tidak, belum. Aku hanya ragu apakah akan berhasil.”

“Tenang saja.” Kris kembali menghadap ke arah kolam penuh buaya dan kembali memberi makan buaya-buaya di sana. “Semua ini rencana mereka. Kita hanya ikut. Dan, ini pun untuk menyelamatkan Rumah. Seluruh Rumah di dunia.”

“Baik, iya. Aku percaya kita semua akan berhasil.”

            Yoon Yuhee sedang menekuni pekerjaannya. Berkali-kali dia membuang lilin yang baru saja dia bentuk. Sahabat-bagai-kepompongnya, Ahn Minseon (yang sedang mengasah pisau Netjeri*), menghampiri Yuhee yang kembali meneliti hasil pekerjaannya.

“Itu… apa? Shabti* lagi?” tanya Minseon. Yuhee hanya mengangguk, sebelum akhirnya memotong kaki shabti buatannya.

“Untuk?”

“Dia,” jawab Yuhee singkat. “Hanya perlu sedikit sihir, maka benda ini akan bekerja. Demi benda ini, aku harus bekerja selama dua bulan.”

“Hei, ambil sisi positifnya. Sekarang, shabti buatanmu sempurna. Iya, untuk mengaktifkannya, kita perlu sihir Penyembuhan. Namun, untuk menjaganya tetap memiliki kekuatan, kita perlu sihir Nekromansi.”

“Hah? Iyakah?”

“Iya. Sebaiknya kau minta tolong pada Ah Rin untuk memantrainya.”

Yuhee bangkit dari mejanya. “Baiklah. Sampaikan pada Chanyeol kalau aku pergi ke kelas Nekromansi.”

            Perpustakaan di Rumah Seoul memang tidak sebesar yang ada di Rumah Besar (Nome* pertama, di Kairo), tapi cukup untuk menampung banyak manuskrip dan benda-benda peninggalan Mesir Kuno.

Dan di sinilah seorang penyihir petarung bernama Yongri mencari-cari sebuah buku. Sudah berkali-kali dia memerintahkan sebuah shabti pengambil untuk mengambilkan buku yang dimintanya, tapi shabti itu tetap diam.

“Perlu bantuan?”

Seorang cowok imut yang membawa tongkat putih panjang datang. Sang penjaga perpustakaan yang amat kece dan nggak culun, Byun Baekhyun, tersenyum. “Mencari apa?”

“Buku yang kemarin diminta Ah Ra, Baek. Sudah disimpan belum?” tanya Yongri.

“Sudah kok. Sebentar ya.” Baekhyun berjalan menuju salah satu dinding. “W-peh.”

Sebuah pintu muncul di dinding itu. Terlihat sebuah buku yang masih cukup terawat. Yongri mengambil buku itu, dan berbalik untuk berterima kasih pada pustakawan unyu itu. Tapi, di depannya, seorang Byun Baekhyun jatuh pingsan dengan berbagai hieroglif emas muncul dari tongkat putihnya.

            “Lihatlah,” kata Ah Rin pahit. “Kelas paling berbahaya di Rumah.”

Tiga sekawan itu hanya bertiga. Mempertahankan gelar seperti itu memang susah, apalagi kalau mereka sudah tidak dipercaya lagi oleh seluruh Rumah di dunia.

“Kita harus bertahan, Ah Rin. Mungkin semua ini akan kembali pada keseimbangan kalau kita berhasil mengembangkan kekuatan kita,” kata Chen optimis.

“Iya. Optimis,” Jaehyun tersenyum miris. “Oke baiklah, Homin, tidak perlu bersembunyi. Aku bisa merasakan kehadiranmu, Manusia Dalam Bayangan.”

“Jangan menyebut ren*-ku!” jerit Homin. Jaehyun tertawa licik, semakin mengganggu hantu itu.

“Ehm, halo, permisi?” tiba-tiba seorang cewek yang sudah kita ketahui bersama bahwa namanya Yuhee, masuk ke dalam kelas. “Ah Rin? Bisa minta tolong sebentar?”

“Bisa. Minta tolong apa ya?”

“Sebaiknya tidak di sini.” Yuhee membentuk sebuah simbol asing dengan tangannya.

“Oh. Baiklah,” kata Ah Rin menyanggupi, lalu dia pergi dari Necromance Class bersama dengan Yuhee.

Sesampainya di bawah jembatan yang menghubungkan Asrama dan gedung Sekolah…

“Ada apa? Shabti untuk dia sudah jadi, ya?”

Yuhee mengangguk. Dia menunjukkan patung lilin buatannya yang sempurna, meskipun tanpa kaki. “Ini… akan melindunginya. Kuharap.”

“Dan kau perlu aku untuk memantrainya.”

“Ya. Kau mau kan? Tolong…”

“Hm… Baik. Iya, aku mau. Agak jauh sedikit, ya.” Sau yang sudah senior itu mundur beberapa langkah sebelum Ah Rin memulai penjampian(?) shabti Yuhee.

Ah Rin menggenggam shabti Yuhee erat. “Aku menjadikanmu pemegang hidup untuk Anak Kematian.”

Secercah asap hitam muncul dan meresap ke dalam shabti Yuhee.

“Ini. Jaga yang benar,” Ah Rin mengembalikan shabti Yuhee.

“Gomawo Ah Rin!”

“Cheonma,” balas Ah Rin. “Seandainya dia tahu kalau aku harus membayarnya…”

            “Selama apa dia pingsan?” tanya Luhan. Dia dan antek-anteknya (anak-anak OSIS yang lain) sedang berkumpul di sekitar Lay, sang Master Penyembuh.

“Sekitar, dua jam?”

“Bagaimana keadaannya?”

“Baik, tapi, dia memburuk. Baekhyun harus jauh-jauh dari sihir sekarang. Jangan paksa dia menggunakan kekuatannya,” kata Lay.

Antek-antek OSIS ini terdiri dari Luhan (ketua), Youra (wakil), Kris (sekretaris), Chanyeol (bendahara), Ah Rin, Chen, dan Hyura. Mereka sangat paham maksud Lay. Sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Baekhyun.

Dan mungkin, pada seluruh dunia.

To be continued…

For teasers, go to my own WordPress. Gomawo!

Iklan

20 pemikiran pada “House of Life (Chapter 1)

  1. Wah akhirnya publish juga 😀
    Chukkae saengi 😀

    Aku masih penasaran apa yang sebenarnya akan terjadi. Jadi, Baekie terancam??? Eottoke??? 😥
    Aku di situ kok semena-mena gitu ya ahahaha sukaaa 😉

    Ayo lanjut chap 2 nya 😀
    Kutunggu ya ^^

    • Gomawo eon… 🙂

      Apa yang terjadi? Tidak ada yang tahu 😀
      Dan soal Baekkie, chapter selanjutnya akan menjawab pertanyaan yang ini.
      Kan disesuaikan dengan sifat yang kemarin ditulis 🙂

      Ne, gomawo ^w^

  2. mmmm…. 😦 😦 😦 lagu seru2nya baca malah tbc,part selanjutnya panjang-panjangin aja thor critanya biar para reader puas… Hahaaa,bikin bosan kali ya…???

  3. u,u aq ga masuk cast ya? padahal udah lama nunggu ni ff.
    tapi ga apa-apa kok, ini bgs,
    oh ya, yg ini kurang panjang ceritanya, besok panjangin ya?
    gomawo

    • Mian, memang disesuaikan dengan kebutuhan dan sesuai dengan keunikan sifat masing-masing cast… Sebenarnya sih author gak tega mengeliminasi (?) segitu banyak orang yang ndaftar, tapi masa mau dimasukin semua? Tenang aja, mungkin bakal muncul di FF Author yang lain…
      Kurang panjang? Memang dipendekin, karena part selanjutnya agak berat. Ne, besok pasti dipanjangin 🙂
      Cheonma, gamsa udah mau baca dan komen 🙂

  4. Aduh author.. Beneran deh.. Seru.. Tapi castnya bnyk bgt.. Jadi pusing nih.. Maklum lah bnyk pikiran *emang mikirin apa*.. Tpi utk keseluruhan bagus kok..

  5. aaa kenapa aku tidak mengerti ;_;
    apakah saya terlalu bodoh uu
    tapi ceritanya keren, walaupun saya tidak mengerti (?)
    prolognya yang ada pilihan kekuatan itu kan thor?
    itu kata-kata yang di underline sama dikasi (*) itu maksutnya apa?
    maaf kalo banyak tanya._.

    • Memang ini nggak terlalu umum ya, jadi baca ulang aja pelan-pelan. iya, prolognya yang deskripsi kekuatan itu. yang di underline itu petunjuk, sementara yang dibintangin itu kosakata asing (yang bisa diliat di wp pribadi author). untuk part selanjutnya sudah tidak ada. maaf kalau penjelasannya bikin bingung._.v

  6. yampun, baru bisa baca sekarang nih, mian thor ^^v pisss

    cast nya banyak juga ya, gpp deh ga ikutan di ff ini, tp tetep ngarep bakal jadi cast di ff mu selanjut nya, hahaha

    Baekhyun kenapa?
    yg dimaksud Ah Rin(author) dengan “Seandainya dia tahu kalau aku harus membayarnya…” nyawa kah??
    waduh, banyak deh pertanyaan2 yg mau aku tanyain, banyak juga nama/kata2 aneh yg ga aku ngerti -___-”

    disini Kai sama D.O yg ga ada, apa jangan2 mereka ber2 yg termasuk Jalur Dewa???
    maka nya Luhan bilang cuma bersepuluh..

    hahaha, aneh deh, Suho jadi penyihir api, Xiumin jadi penyihir tanah, Kris piara buaya???
    haha okeh, itu masih termasuk binatang keras dan berbahaya, hehe

    • Gapapa, tidak ada kata terlambat untuk membaca (kecuali baca undangan)

      ya mau bagaimana lagi? yang daftar juga banyak, agak susah milihnya. tapi tenang, ini bukan karya terakhir!

      Baekhyun? di part selanjutnya.
      membayarnya? akan tahu nanti, sabar saja…
      kalau masalah kata-kata aneh, kamusnya ada di wp pribadi author. ke sana aja kalau mau tanya…

      Kai sama D.O? Ohoho, ada di part selnjutnya… bersepuluh itu yang pasti ada Luhan. di part ketiga bakal muncul.

      ya mau gimana lagi, udah dibagi secara rata dan diperhitungkan dengan teliti. lagian, buaya itu hewan sakral buat Mesir.

      gomawo udah mau komen! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s