The Legend of The Knights : The Tree of Live (PART 4)

exo-k-mama_s뻵£¼

The Legend of The Knights :

The Tree of Live PART 4

Cast: Pokoknya semua member EXO ada!

Lee Yoon Hee (OC)

Kwon BoA as Lee BoA

Kangta as Lee Kangta

Lee Soo Man as Lee Aboji

Genre: Action, Sci-Fi, Fantasy, Romance, Friendship, dll

Author: @riezka03

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Disclaimer: The Story isn’t all mine, maybe inspired by Exo’s MV MAMA and some other stories. The casts belongs to SMEnt. If you want to copy, make sure you have my permit! No SIDERS! No PLAGIARISM!

Seseorang berdiri di depan klinik Yi Xing sambil memandang Yi Xing lekat. Pandangan mereka saling bertemu. Dan saat itu juga Yi Xing berdiri. Yoon Hee mengikuti arah pandang Yi Xing.

“Appa.” Ujar gadis itu.

“Ayo pulang.” Pinta pria yang tak lain adalah ayah Yoon Hee.

“Ah. oppa, gamsahamnida membolehkanku menginap.” Ujar Yoon Hee pada Yi Xing. Namja itu tersenyum ke arah Yoon Hee.

“Luhan oppa. Semoga kau cepat sembuh.” Ujar Yoon Hee lagi pada Luhan yang duduk di sofa tak jauh dari mereka. Luhan mengangguk.

“Ah. aku akan mengambil tasku dulu.” Yoon Hee lalu berlari menuju kamar dia tadi tidur. Sementara Yi Xing dan Kangta masih beradu pandang. Tak bisa dijelaskan apa makna pandangan mereka.

“Sejauh mana dia tahu?” Tanya Kangta mengawali pembicaraan diantara mereka.

“Hanya tentang kalungnya dan tentang ibunya. Selebihnya, dia belum tahu.” Jawab Yi Xing datar. “Ada waktunya sampai ia tahu tentang dirinya. Sebelum itu, jangan bicara apapun tentangnya.” Balas Kangta dengan nada bicara yang serius dan mengancam.

Sementara Luhan yang duduk sambil mendengarkan percakapan mereka hanya terdiam. Ia sudah tahu apa yang mereka bicarakan.

“Kajja!” Yoon Hee datang diantara mereka. Membuat Kangta merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria.

“Kajja.” Ujarnya lagi lalu berpamitan pada Luhan dan Yi Xing. Sementara Yi Xing hanya melihat mereka berdua memasuki mobil hingga hilang dari pandangannya.

“Kau kenapa Yi Xing?” tanya Luhan yang sedari tadi memperhatikan Yi Xing.

“Aku punya firasat buruk setelah ini.” Balas Yi Xing.

“Itu sudah kebiasaanmu mempunyai perasaan buruk.” Goda Luhan.

“Aku tak bercanda Luhan-ah.” ujar Yi Xing serius. Ia lalu pergi ke ruangannya.

~~~~~~~

Sebuah mobil terparkir manis di depan rumah sederhana bercat krem itu. Pagi itu, hanya terdengar suara seseorang dari dapur.

“Appa! Ada tamu!” pekik Yoon Hee pada ayahnya yang sedang asik membaca koran di ruang tengah.

Dengan langkah malas, Kangta menutup korannya dan berjalan menuju pintu rumahnya.  Kaget, itulah reaksi Kangta begitu melihat seorang pria tua beserta seorang wanita cantik di belakangnya.

“A..aboji..” gumam Kangta. Sementara pandangannya tak lepas dari sosok wanita cantik berbalut dress katun berwarna gelap. “BoA..”

“Appa, nugu-ya?!” Yoon Hee berjalan tergesa menuju pintu begitu melihat ayahnya yang tak berekspresi sejak membukakan pintu. Gadis itu melihat siapa yang sedari tadi dipandang oleh ayahnya. Dengan reaksi sama, gadis itu kaget dan terdiam.

“Eomma…” gumamnya.

Kini mereka berlima –Yoon Hee, Kangta, BoA, Sooman, dan Jungsoo- duduk di ruang tengah rumah itu. Masih diselimuti perasaan canggung. Kelimanya terdiam. Tak ada yang mau memulai pembicaraan, sampai terdengar deheman Sooman.

“Kami kemari ingin berbicara dengan putrimu.” Ujarnya pada Kangta. Pria itu mengalihkan pandangannya ke putrinya yang duduk bagaikan tak bernyawa setelah melihat ibunya.

“Yoon Hee-ah..” Kangta memegang tangan Yoon Hee yang bergetar ketakutan itu. Pandangannya lurus ke depan. Ke arah seorang wanita cantik yang ia anggap sudah meninggal.

“Tak perlu takut, sayang. Ini ibu.” Ujar BoA dengan nada yang lembut dan pelan. Yoon Hee tersentak dibuatnya. Gadis itu kini merasakan dadanya sesak dan sakit. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengatasi itu. Namun semua itu malah membuat matanya panas. Serasa akan ada banyak cairan tumpah dari kedua mata indahnya.

“Eomma..” ujarnya lagi dengan nada bergetar. Ia masih belum bisa mengumpulkan kesadarannya mendengar suara bak malaikat ibunya.

BoA berjalan pelan menuju Yoon Hee. Ia berjongkok untuk menyelaraskan posisi duduk anaknya itu. Ia mengelus pipi lembut Yoon Hee, merasakan kulit lembut putrinya, dan memeluknya.

Tangis keduanya pecah. Yoon Hee membalas pelukan ibunya dengan erat. Sangat erat. Seolah ia tak ingin siapapun mengambil kembali ibunya. Ia hanya ingin bersama ibunya. Ya, tak akan rela jika pelukan itu mengendur atau bahkan terlepas.

“Maaf, eomma membuatmu takut.” Ujat BoA dengan nada lembut khasnya. Yoon Hee menggeleng dan menyentuh pipi ibunya. “Ani. Yoon Hee senang, eomma kembali.” Ujarnya.

Belum tuntas rasanya kejutan menyenangkan dari ibunya. Kini, kakeknya membawa kejutan tak mengenakkan dari kalimatnya. “Kita harus berbicara.” Ujarnya menginterupsi scene mengharukan ibu dan anak itu.

“Wae-yo.. aboji?” sahut  Kangta. “Kau tahu jika istrimu kembali, berarti akan ada hal buruk, bukan?” balasnya dengan nada angkuh.

“Sebenarnya ada apa?” tanya Yoon Hee bingung. Ia terus memegangi kedua tangan ibunya. Mengamati kakeknya dan tidak menemukan jawaban, Yoon Hee-pun ganti memandang ibunya. Berharap wanita itu memiliki jawaban atas kebingungannya.

“Anakku. Kau masih memiliki batu permata biru itu, kan?” tanya BoA lembut. Yoon Hee mengangguk dan mengeluarkan kalungnya.

“Ibu harus mengakui tentang suatu hal. Dan ibu harap kau tidak marah.”

“Apa itu tentang ibu yang seorang dewi? Atau tentang kalung ini?” ujar Yoon Hee polos. Sooman dan BoA tersentak. Mereka saling pandang lalu melemparkan pandangan curiga pada Kangta.

“Yi Xing memberitahunya. Dia sudah menemukan dua orang. Salah satunya Yi Xing.” Jawab Kangta menjawab tatapan penuh selidik dari kedua orang itu.

“Itu berarti.. kau sudah tahu tentang…”

“Tidak! Dia hanya tahu bahwa dia bertanggung jawab menemukan kedua belas dari mereka. Dengan bantuan batu ini. Lalu tentangmu. Sisanya, tidak.” Ujar Kangta memotong kalimat BoA. BoA sedikit bernafas lega meskipun ada ganjalan dihatinya. Ganjalan yang harus ia lepaskan sesegera mungkin.

“Aku mohon jelaskan padaku apa yang terjadi.” Sahut Yoon Hee tak sabaran. BoA memandang Sooman dan mendapat anggukan dari pria itu.

“Sayang. Kau tahu keluarga kita terikat akan sebuah legenda dan mitos?” tanya BoA pada Yoon Hee. Gadis itu menggeleng.

“Semua berawal dari eomma. Terlarang bagi para dewi untuk menikah bahkan memiliki anak dengan manusia. Namun karena cinta, eomma melanggarnya.”

“Dan kini. Kau, sebagai satu-satunya anak gadis yang eomma miliki terikat erat akan takdir itu.” Suara BoA melemah mengatakan kalimat terakhir.

“Maksud ibu?”

“Legenda pohon kehidupan. Mereka mengatakan bahwa dunia akan hancur karena keserakahan manusia itu sendiri. Hingga sifat mereka menciptakan sebuah kekuatan yang dapat menghancurkan pohon kehidupan. Pohon yang menjaga, memberi kekuatan, dan menghidupi bumi.”

“Banyak orang bilang bahwa pohon itu adalah ‘jiwa’ dari dunia ini.” Yoon Hee mengernyit. Ia makin tidak mengerti arah pembicaraan ibunya.

BoA mengambil nafas panjang lalu melanjutkan penjelasannya. “Karena kekuatannya. Pohon kehidupan menjadi incaran banyak pihak. Satu alasan, karena mereka ingin mendapatkan kekuatan mahadahsyat pohon itu. Namun mereka tidak sadar, ketamakan mereka yang perlahan melemahkan pohon itu.”

“Hingga para dewa memisahkan kekuatan pohon itu dan mengamanatkannya kepada keduabelas kesatria penjaga pohon. Namun selain memecahnya menjadi duabelas. Jiwa inti pohon itu kembali dipisah menjadi tiga. Yaitu kalungmu, kalung eomma dan…”

“Cukup!” sela Sooman. ia bangkit dari duduknya dan memandang garang BoA. “Hentikan cerita itu. Cukup itu yang dia tahu.”

BoA lalu berdiri. “Tapi dia harus tahu takdirnya?!” sergah BoA. “Takdir yang kau buat?! Tidak! Dia tidak harus tahu!” balas Sooman lagi.

“Sudahlah. Ini tidak harus terjadi. Tidak usah mempermasalahkan hal ini.” Lerai Kangta. “Tapi lihatlah. Dia anak kita. Dia harus tahu garis kehidupannya!” ujar BoA lagi. Kini ia memberikan pandangan memohon pada Kangta.

“Tidak mengetahui akhir dari ceritanya adalah jalan terbaik. Semakin ia tahu, semakin ia merasa sakit!” bisik Sooman tepat di telinga BoA. Bermakasud agar Yoon Hee tidak mendengarnya.

“Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku?!” sahut Yoon Hee dengan kesal. Ia semakin bingung akan agrumen ketiga orang itu.  “Apa kalian akan bermain teka-teki dan membiarkanku mati penasaran?!” pekik gadis itu lagi. Ia terlihat kesal dan jengkel, bercampur bingung tentu saja.

“Tunggu, dengarkan haraboji..”

“Tidak!” sela Yoon Hee. Ia sudah tak bisa lagi mendengar obrolan tanpa arah ketiga manusia dewasa itu.

“Kalaupun ada hal yang tak harus kuketahui. Biarkan, tapi jika hal itu menyangkut hidupku. Biarkan aku menelan hal pahitnya.” Ujar Yoon Hee lalu berjalan meninggalkan rumah.

“Yoon Hee, tunggu!” Kangta berlari menyusul anaknya. Namun Yoon Hee berjalan cepat mengehentikan taxi dan pergi entah kemana.

~~~~~

“Tunggu, jadi kau menolak untuk pergi jalan dengannya?” seru Baekhyun ketika mendengar curhatan kawannya, Suho. Sedangkan Suho hanya duduk manis sembari menyeruput coffe lattenya.

“He ehm…” jawab Suho disertai anggukan. Baekhyun mendengus. “Jadi, kau tidak tertarik pada gadis itu? Hey! Dia cantik loh!” komen Baekhyun lagi.

Suho memandang malas pada temannya sejak SMA ini. Lalu kenapa kalau dia cantik? Batin Suho.

“Aku berani bertaruh dia menghabiskan uangnya untuk pergi ke salon atau operasi plastik.” Jawab Suho singkat. Tawa Baekhyun meledak. Membuat seluruh pasang mata pengunjung cafe itu menoleh pada mereka.

“Ya! Pelankan tawamu. Lihat semua orang memandangi kita!” ujar Suho kesal. Sedangkan Baekhyun masih terkikik meskipun pelan. “Kau tahu. Banyak pria yang mengincar gadis itu. Dan ketika dia menyukaimu, aku pikir suatu keberuntungan bagimu. Lihat, kau tampan, pintar, memiliki segalanya. Bandingkan dengan gadis itu, cantik, kaya, meskipun tidak pintar sih!” ujar Baekhyun kemudian.

Suho memutar bola matanya lalu menatap Baekhyun garang. “Coba sebutkan berapa kalimat ‘euh’ yang dikeluarkan gadis itu ketika dia melihat makanan seperti ddeokboki. Berapa kali dia menghina apartement lusuhmu itu dan berapa kali dia menggertak bahkan menghina teman-teman yang tidak sederajat dengannya?” jawab Suho dengan mantap lalu meninggalkan Baekhyun tanpa menunggu jawaban namja itu.

Baekhyun hanya melongo mendapatkan pertanyaan-tak-perlu-dijawab dari Suho. Ia memiringkan kepala mencoba meningat. “Banyak.” Gumamnya kemudian.

Suho melajukan motornya ke suatu tempat yang sangat ingin ia kunjungi jika sedang penat. Yaitu sungai han. Berharap suara gemercik air sungai itu dapat menentramkan kembali suasana hatinya.

Namja itu memarkirkan motornya dan berjalan menyusuri pinggiran sungai yang membelah kota Seoul itu. Matahari semakin naik, mengukuhkan posisinya tepat di atas kepala. Membagi sinar dan kehangatannya pada seluruh penghuni planet ini. Suho memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di pinggiran sungai. Tak jauh di depannya adalah jembata Mapo. Jembatan yang menghubungkan distrik Yeongsan dan distrik Seocho.

Dalam hati Suho membayangkan jika dia datang ke tempat ini pada malam hari. Pasti rainbow fountain yang indah itu dapat ia saksikan. Ditengah hiruk pikuk kota, ditengah kegelapan malam. Pasti nyaman jika melihat air mancur berwarna warni bak pelangi yang keluar dari jembatan Mapo.

Sneyum perlahan terukir di wajah tampan Suho. Dirinya mencoba untuk menutup mata dan merasakan derak air yang menenangkan. Lama, ia mencoba mendengar air ‘berbicara’, mencoba untuk merasakan kenyamanan yang dihasilkan oleh gemercik air mengalir. Dan benar saja, suasana hatinya mendadak tentram dan nayaman. Seolah ada seseorang yang menenangkan dirinya.

Namun, tiba-tiba ada sebuah suara yang menganggu. Suara tawa pelan seorang gadis. Suho membuka mata dan mendapati seorang gadis yang familiar baginya berdiri di depannya sembari tertawa pelan. Suho mengernyitkan dahinya berusaha mengingat siapa gadis itu.

“Ya! Kenapa kau tertawa?” keluhnya kemudian. Gadis itu menghentikan tawanya meskipun tidak bisa. “Kau seperit orang gila. Duduk sendiri disini lalu tersenyum. Apa tugas dari Lee songsaenim membuatmu gila?” ejek gadis itu.

Suho mberenggut. Dia berdesis pelan lalu mengalihkan pandangannya dari gadis itu. “Cih, marah nih?” goda gadis itu. Ia lalu duduk di samping Suho yang tak bergeming. Tak ada gunanya meladeni gadis yang satu ini. Batinnya.

“Ah.. kurasa menggodamu seperti itu akan melepaskan rasa galauku. Tapi rupanya ‘sang pangeran’ sedang tak ingin digoda! Jadi membosankan!” ujar gadis itu seolah menyindir. Suho berdecak lalu mencubit pipi gadis itu keras.

“Aw…” erang sang gadis memegangi pipinya. Suho melepaskan cubitannya lalu tersenyum evil. “Kau menggodaku di saat yang tidak tepat, Yoon Hee-ah..” Sambung Suho. Gadis itu meringis memegangi pipinya yang memerah karena cubitan Suho.

Dilain hal, Suho merasa ada yang aneh pada dirinya setelah mencubit Yoon Hee. Entah hanya perasaannya saja atau memang dia serasa seperti kesetrum. Sejak kapan gadis itu bisa menyetrum orang? Suho berusaha berpikir kapan terakhir kali dia terasa kesetrum –dalam konteks yang sebenarnya- saat menyentuh seseorang dan bukannya alat listrik.

“Ya tapi kenapa harus mencubit pipiku segala? Sakit, tahu..” gerutu Yoon Hee. Suho mencibir lalu mengacak-acak rambut Yoon Hee.

“Ekspresimu lucu tahu..” ujar Suho sembari tersenyum. Yoon Hee terdiam. Tunggu, dia baru saja tersenyum. Entah serasa waktu terhenti atau memang sentuhan namja di depannya yang menghentikan kerja otaknya. Tepatnya kerja seluruh anggota tubunya. Karena sekarang gadis itu merasa aneh.

Ya, ini pertama kalinya Suho tersenyum semanis itu padanya. Dan dia baru tahu jika senyum Suho sangaaat manis bahkan menenangkan baginya. Mendadak, dia lupa akan masalah yang menimpanya. Serasa satu senyuman dari namja itu dapat menendang jauh-jauh ganjalan menyakitkan dihati Yoon Hee.

“Hei!” Yoon Hee tersentak oleh panggilan dari Suho. Dia baru sadar jika dirinya terdiam melongo selama beberapa saat.

“Kau lapar?” tanya Suho pada Yoon Hee. Yoon Hee semakin tidak enak pada namja ini. Kenapa sebentar saja jadi seperti ini? Batinnya.

“N..ne..” jawab Yoon Hee terbata. Ia masih belum mengumpulkan kesadarannya.

“Kalo begitu, kita makan yuk! Aku tadi melewatkan sarapanku. Jadi, aku merasa sangat lapar sekarang.” Ujar Suho lagi lalu bangkit.

Yoon Hee masih mematung. Suho baru saja berbicara dengan nada yang pelan, halus, dan normal. Ia lalu ingat kejadian saat Suho memboncengnya untuk mengantarkannya pulang tempo hari. Saat itu, dalam keadaan entah bagaimana. Jantungnya serasa berlomba untuk keluar dari rongganya. Entah perasaan apa itu. Yang jelas Yoon Hee belum pernah merasakan hal sedemikian sebelumnya.

“Hei, kau mau menunggu cacing diperutku berdemo lebih lama?”. Sentakan Suho membuyarkan lamunan Yoon Hee. Gadis itu segera tersenyum canggung lalu berdiri.

“Tapi kita mau kemana?” tanpa perlu menjawab pertanyaan Yoon Hee. Suho menarik tangan gadis itu menuju motornya.

“Aw!” Suho segera melepaskan gandengan tangannya ketika ia merasa ada aliran listrik yang menggelitik tangannya dan menjalar ke seluruh anggota tubuhnya. “Waeyo?” tanya Yoon Hee melihat Suho meringis kesakitan.

Suho lalu merasa ada sesuatu yang menjalar dari tangannya ke seluruh bagian tubuhnya. Menyetrumnya dan melemaskan ototnya. Suho merasa pandangannya kabur sementara kepalanya terasa berdenyut.

“Kau?” tuding Suho susah payah ditengah kesakitannya. Antara otak dan tubuhnya tidak bekerja secara sinkron sekarang. Ia ingin berteriak. Namun mulutnya terkunci rapat dan hanya bisa mengeluarkan erangan kecil. Yoon Hee panik begitu melihat Suho yang menggeliat tak karuan. Ia bingung apa yang terjadi pada nmja itu?

“Suho-ssi. Jangan bercanda!” ujarnya berusaha mengendalikan rasa paniknya. Namun Suho tak bercanda. Iapun tak menjawab. Mendadak, suasana sungai Han menjadi sepi dan senyap. Tak ada orang. Namun riakan air sungai yang semula tenang kini membuncah hebat. Aliran air terlihat berputar dan berpusat pada satu titik. Seolah ada sebuah lubang yang menghisap seluruh debit air.

“A..apa itu?” tanya Yoon Hee panik. Ia menoleh pada Suho. Masih kesakitan. Apa ini? Ia lalu melihat kalungnya bersinar. Sangat terang, seperti saat terakhir kali dia menyentuh Yi Xing dan Luhan.

“Seolma? (Jangan-jangan)” mata Yoon Hee membulat. Ia kembali merasakan air dibelakangnya berdiri dan beriak hebat. Yoon Hee merinding dibuatnya. Ia bertanya dalam hati apakah orang lain melihatnya juga. Namun ia tidak melihat adanya orang lain selain mereka berdua.

“Suho-ssi. Kuasai dirimu.. kalahkan rasa sakit itu..” desak Yoon Hee pada Suho. Namja itu masih meringis. Seluruh badannya serasa tersetrum listrik dengan voltase besar. Mendadak, lutunya terasa lemas. Rasa sakit dikepalanya perlahan menghilang, begitupun dengan keasadarannya.

~~~~~~

Drtt drtt..

Ponsel Kris berbunyi ketika namja itu hendak menaiki kereta bawah tanah. Ia hendak pulang setelah perjalanan kerjanya selama beberapa hari.

Kris melihat ID caller dan mengernyit ketika nama Yoon Hee tertera disana. Ia lalu mengangkatnya dan mendapati suara panik adiknya.

“Oppa! Cepat datang ke klinik Yi Xing oppa! Ppaliwa!!” ujar Yoon Hee terburu-buru dari seberang sana. Kris semakin bingung.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya tak kalah panik. Tak perduli pandangan orang disekitarnya yang memandangnya heran.

“Sudahlah! Cepat kesini.. aku butuh bantuanmu! Dan jangan telepon appa!” dan Yoon Hee memutuskan sambungannya. Kris memandang ponselnya lalu segera pulang.

Kris tiba 2 jam kemudian. Yoon Hee duduk di sudut ruangan periksan dimana Suho tergeletak lemas. Yi Xing masih setia memeriksa keadaan Suho.

“Ada apa ini? Kenapa kau meneleponku dengan panik?” tanya Kris begitu ia sampai di klinik Yi Xing. Kris lalu mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang terbaring di ruang periksa Yi Xing.

“Siapa dia?” tanyanya pada Yoon Hee. Yoon Hee tidak menjawab. Ia sedang gelisah sekarang. Ia tahu ia harus terbiasa akan keadaan yang aneh seperti waktu pertama kali ia melihat kekuatan tiga orang tadi. Dan itu akan terjadi di 9 orang selanjutnya. Namun Yoon Hee merasa panik dan takut akan kejadian diluar nalarnya tadi. Siapa yang tidak takut akan air yang tiba-tiba berdiri membentuk wajah seseorang. Terlebih hanya dia yang dapat melihatnya.

“Kris-ssi. Aku perlu bicara padamu.” Ujar Yi Xing. Ia membawa Kris ke ruangannya.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” ujar Kris serius ketika Yi Xing membawanya ke ruangannya. “Adikmu sudah kuberitahu tentang kelebihannya.” Ujar Yi Xing mengawali pembicaraan.

“Maksudmu, tentang takdirnya?”

“Ya, tapi hanya sebatas yang dia perlu tahu. Kau tahu jika dia menemukan kalung ibunya tempo hari saat berkunjung ke rumah aboji. Kau tahu jika tangan takdir sudah bertindak dari sini.” Lanjut Yi Xing.

“Lalu? Apa dia juga sudah tahu tentangmu?” tanya Kris lagi.

Yi Xing mengangguk. “Ya, kemarin. Aku memberitahunya tentang kalungnya, dan ibumu.”

“Hanya itu?” Kris bertanya dengan nada dingin. Ekspresi wajahnya terlihat kaku dan marah. Yi Xing mendesah.

“Dia tidak perlu tahu segalanya. Itu akan makin menyulitkannya.” Ujar Yi Xing menjawab ekspresi kecewa Kris.

“Bahkan jika itu menyangkut nyawanya?” sahutnya. Dia memandang Yi Xing lekat.

“Kris, kita semua sudah membuat perjanjian. Biarkan tangan takdir bertindak. Kau harus tahu jika kita tidak bisa berbuat apa-apa? Bahkan untuk menariknya keluar dari takdirnya sendiri.” Jelas Yi Xing. Kris masih tka bergeming dengan ekspresi dinginnya.

“Takdir? Heh, takdir yang menyedihkan!”

“Memang takdir itu menyedihkan. Tapi juga menyenangkan. Kau tahu, jika takdir berkata lain. Kau mungkin tak akan ditemukan oleh Kangta hyung dulu. Aku mungkin tak akan diadopsi oleh Sooman aboji. Dan BoA noona tak akan menikah dengan Kangta hyung. Takdir memang manis, namun pahit di saat yang bersamaan.” Tutur Yi Xing. Kata-kata bijaknya perlahan dapat meluluhkan Kris. Meskipun rasa penyesalan besar ada di hatinya.

“Harus ada yang mati agar yang lainnya hidup.” Lanjut Yi Xing. Kris tersenyum miring. Ia lalu mendengus pelan.

“Harus ada yang mati agar yang lainnya hidup.” Ulangnya akan perkataan Yi Xing. “Indah namun menyakitkan.” Lanjutnya.

TBC

Oke, part 4 terselesaikan. Agak lama karena terhalang Ujian Semester yang baru saja author lewatin. Jadi break nulis dulu. Doakan agar nilai ujian author tidak mengecewakan. Amin.

Bicara tentang FF ini. Author akan meluruskan #eciye bahasanya. Beberapa hal yang sempat buat bingung readers.

  1. 1.     Yi Xing siapanya Yoon Hee? Jawabannya, sebenarnya antara Yi Xing dan Yoon Hee tidak ada hubungan darah. Dikisahkan Sooman yang baik hati mengadopsi Yi Xing beberapa tahun yang lalu dan membesarkannya. Dikisahkan juga Yi Xing seumuran dengan Kris. Jadi gak pake panggilan ‘Ge’ atau ‘hyung’ segala.
  2. 2.     Kenapa Sehun dan Kris tidak bereaksi ketika disentuh Yoon Hee. Sedangkan Suho, Yi Xing dan Luhan iya? Jawabannya adalah karena Sehun tidak tahu akan kekuatannya. Dan dia benar-benar clueless. Dia tidak membiarkan kekuatan itu memenuhi tubuhnya dan pikirannya. Jadi kalung itu tidak bisa bereaksi banyak. Kalo Kris, memang sejak Yoon Hee memakai kalung itu, dia belum menyentuh Kris secara langsung. Jadi belum bereaksi. Lalu Suho, disini maunya Suho belum tahun tentang kekuatannya. Tapi dia sudah pernah merasa menyatu dengan air. Jadi dia bisa langusng bereaksi ketika menyentuh Yoon Hee karena dia sudah membuka pikirannya akan kekuatan itu.

 

FF ini sebenernya berputar tentang takdir, legenda, dan mitos. Jadi kalo sedikit bingung ya maklum. Karena author sendiri bingung #leh! Tapi author berterimakasih pada readers yang setia menuggu FF ini meskipun gajenya luar biasa. Terima kasih untuk readers yang mau komen dan like. Terimkasih deh buat siders meskipun nggak komen. Tapi usahain komen dong. Biar author merasa diharagain, oke! Author menerima berbagai pertanyaan dari readers dengan senang hati. Kritik dan saran tentu perlu, karena author masih amatir dan pertama kali nulis FF. Akhir kata, termakasih dan wassalam!

8 pemikiran pada “The Legend of The Knights : The Tree of Live (PART 4)

  1. aku agak2 lupa sama jalan ceritanya krn kebanyakan baca FF yg kyak gini,jd kurang fokus juga bacanya… Tapi bagus thor,udah lama lo aku nungguinnya,next chapter jgn kelamaan ya thor.. Aku do’a_in deh hasil ujiannya nggak mngecewakan.. Author Hwaitiiiiiiiiiinggg…

  2. Oalahh itu knpa yixing bisa jdi paman
    *nganguk1*
    Dan kris aman .___.
    ok next chapp ^^
    di ending dy harus mati kan ya??
    Ngorbanin nyawa ._.
    n 12 org itu juga
    Trus kalung 1 lagi ama siapaa o.O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s