We were In Love (Chapter 9)

hhhoho

“WE WERE IN LOVE”

  • Title: “We were In Love”
  • Author:            Radtnha Anggraini (facebook.com/ bbuingbbuing.virus)

에피아 (facebook.com/JoUpin.stoleMyheart)

  • Main Cast:

               – Kim Jong In

                      – Park Chanhee (OC)

                     – Kim Yae In (OC)

                     – Park Chanyeol

                     – Byun Baekhyun

  • Support Cast: EXO member
  • Genre: Romance
  • Length: Chaptered
  • Rating: Teen

Author : No Author POV xD

 

Part 9

“YA!! Park Chanhee! Tolong seseorang tolong dia” aku tersenyum mendengar teriakan Yae In dari atas sana. Tak lama kurasakan seseorang mencoba menarik tanganku ke permukaan. Seperti tangan seorang perempuan, mungkinkah ??. Dadaku semakin sesak, sudah dekat pikirku.

Dapat kurasakan sebuah kehangatan menjalar dari tubuhku. Ku kerjapkan mataku berkali kali mencoba membiasakan dengan cahaya. Ku tolehkan wajahku ke samping kanan dan mendapati seseorang tengah menatapku dengan teduh.

“Sudah bangun eoh ?” tanyanya memecahkan keheningan.

“Ini surga ?” tikk  satu sentilan mendarat mulus dikeningku. Tangannya kini merengkuhku kedalam pelukannya. Hangat dan aku suka.

“Jangan pernah berbuat seperti ini lagi, ara! Kau harus melanjutkan hidupmu dengan baik. Lupakan aku, dan mulailah hidupmu yang baru dengannya”

“Jong In-ah..” jari telunjuknya seolah menyuruh diriku untuk diam.

“Aku tidak akan tenang jika kau terus melakukan hal berbahaya disini.”

“A-aku..” ucapku sembari mempererat pelukannya seolah tak ingin ini berakhir.

“Aku tahu..Nado, sekarang tidurlah..semua sedang menunggumu”

“Sudah bangun ? ahh…kau senang sekali membuat Oppa mu ini jantungan”

“Jong In kemana ?” tanyaku

“Aku tahu kau sangat terpukul. Jernihkan dulu pikiranmu. Malam ini kita kembali ke Seoul”

Jadi tadi benar-benar mimpi ? tapi terlihat sangat nyata bagiku. Tak berapa lama Baekhyun datang dan berhambur memelukku. Pria ini..kenapa dia begitu baik padaku ? padahal aku sering sekali menyakitinya.

“Oppa…Pernikahan kita..”

“Kita bisa menundanya jika kau mau.” Hatiku berdesir mendengarnya. Pria ini, terbuat dari apa hatinya. Kenapa dia sama sekali tak marah.

“Anira, Pernikahan kita tak akan diundur. Kita akan menikah lusa. Dan oppa bisakah kita kembali ke Seoul sekarang ?”  Kedua lelaki yang berada di hadapanku terlihat kaget mendengar kata-kataku.

—–

 

Chanyeol POV

Selesai membayar semua administrasi, kusempatkan diriku menengok keadaan Yae In. dari luar pintu terlihat dia sedang tidur, ditemani oleh ummanya.

 

Flashback

“Terimakasih sudah datang nak. Maafkan semua perlakuan anakku padamu selama ini” Ucap Tuan Kim.

“Ne, Tuan Kim. Saya sudah memaafkannya”

“Jangan terlalu formal padaku. Panggil saja aku Ahjusshi.” Saat kami tengah berbincang serius, terdegar suara teriakan dari arah taman belakang.

Baekhyun yang baru saja datang setelah selesei menelpon pun tak kalah kagetnya dengan diriku. Tanpa ba bi bu aku dan baekhyun terjun ke kolam renang guna menyelamatkan Chanhee dan Yae In. saat aku hendak menarik tengan Chanhee ternyata Baekhyun sudah menariknya duluan dengan cepat kutarik lengan Yae In dan berenang menuju permukaan.

Aku tak memperdulikan keadaan Yae In yang kukhawatirkan sekarang adalah adikku. Dia sama sekali tak bisa berenang dan penyakitnya baru saja sembuh, bahkan belum terlalu sembuh. Dan sekarang dia menenggelamkan dirinya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran mereka berdua. Aku juga tak tahu.

“Uhukk…uhukk..” sedikit merasa lega karena  Chanhee masih bernafas, tapi kenapa dia terus memegangi dadanya. Dan mulutnya membiru.

“Kkaja! Bawa mereka berdua ke mobilku, kita kerumah sakit sekarang” Tuan Kim.

Dokter bilang mereka berdua baik baik saja. Bibir Chanhee membiru karena dia sudah terlalu lama di dalam air dan asmanya juga kambuh. Maka dari itu dia mendapatkan perawatan sangat intensif dari para dokter. Kedua orang tua Yae In langsung mengecek keadaan putri mereka.

“Kau..kenapa kau tadi tak langsung memompa dada Yae In supaya airnya keluar huh!!” Baekhyun membuka suara saat kami hanya berdua di ruang tunggu.

“Wae ? Kenapa kau marah padaku ? seharusnya kau memikirkan Chanhee adikku, CALON ISTRIMU bukan wanita lain yang tak ada hubunganya denganmu!”

 

Bukk Baekhyun meninju tembok yang ada dihadapannya. “Maaf” ujarnya “Tak seharusnya aku seperti ini. Aku hanya…aku hanya merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan Jong In..”

Ku hampiri dirinya yang tengah menunduk. “Dwesseo. Semalam murni kecelakaan, dan untuk Yae In aku tau aku salah. Aku tadi hanya terlalu takut kehilangan adik semata wayangku.”

 

Flashback end

 

“Kau tak ingin melihatnya ?” sebuah suara berat membuyarkan semua lamunanku.

“Ah..aniyo ahjusshi. Sebentar lagi kami akan kembali ke Seoul, saya permisi dulu”

Kuhampiri Baekhyun dan Chanhee yang sudah menungguku di pintu keluar. Saat kami kembali ke Seoul kami akan membuat sebuah lembaran baru yang indah. Tak akan ada lagi tangisan diantara kami.

Ku lirik di kursi penumpang Chanhee sedang bergurau dengan Baekhyun. Ya begini seharusnya semuanya akan baik-baik saja dimulai sekarang. Dan tentunya aku akan mencari pendamping hidup, hehehe.

“Oppa kenapa kau tersenyum sendiri ? kau gila ?” pertanyaan polos Chanhee sedikit menghancurkan moodku. Tapi mendengar tawa renyahnya saat melihat ekspresiku mampu merubah segalanya.

——

 

Chanhee POV

“Oppa, saat aku masuk ke rumah sakit. Kurasa aku mimpi bertemu dengan Jong In” ucapku saat kami-aku&Chanyeoloppa- sarapan. Hanya berdua tentunya.

“Sudahlah, kita sudak tak ada hubungannya dengan dia dan juga keluarganya. Sekarang focuslah pada pernikahanmu besok. Kau yakin semuanya sudah beres?” Tanya Chanyeol oppa memastikan.

“Absolutely. Kami sudah mngecek semuanya saat dalam perjalanan pulang.” Memang saat sampai dibandara, aku dan Baekhyun oppa memutuskan untuk berpisah dengan Chanyeol oppa dikarenakan ingin memastikan persiapan pernikahan kami.dan semuanya beres.

“Kau juga harus segera mencari Kekasih oppa!”

“Ya! Kau sudah berani menghinaku?” ucapannya memang terkesan marah, tapi tampangnya terlihat seperti anak kecil yang sedang mogok makan. Hahahaha

 

Ting…tong

“Ah itu pasti Baekhyun oppa” ucapku dan beranjak ke depan pintu.

“Annyeong Haseyo”

“Yae In ? Mwohaneungoya ?” kenapa pagi-pagi sekali sudah berada di sini. Bukankah seharusnya dia di Jeju.

“Kami ada keperluan mendadak di Seoul dan aku hanya ingin mampir sebentar kesini”

“Masuklah,” ku persilakan dia duduk dan membuatkannya minuman di dapur. Sekembalinya dari dapur aku membawa embel-embel berupa seekor (?) manusia. Siapa lagi jika bukan kakakku, awalnya dia menolak menemui Yae In tapi degan seribu ancaman akhirnya dia mau.

“Minumlah..” ku senggol lengan kakakku satu ini.

“Annyeong Haseyo” Yae In menundukkan kepalanya membalas sapaan dari oppaku. Setelah meminum air yang kubawa –ya walau hanya seteguk- Yae In berdiri dan memberiku sebuah bingkisan.

“Ini gaun yang dulu dibeli Jong In oleh tabungannya untuk pernikahan kalian. Untukmu” aku hanya terbengong sendiri melihat bingkisan itu. “Take it, its yours” dengan ragu ku ambil bingkisan itu.

“Sorry for coming late, but wish u happy tomorrow”

“Annyeong, Eh? Yae In-sshi kau disini ?” Suara Baekhyun mengalihkan perhatianku dari bingkisan ini.

“Sunbae wajahmu..”  aku baru menyadari bahwa ada sedikit memar di sudut bibir Baekhyun oppa.

“Apa yang terjadi ?” Tanya Chanyeol oppa.

“Hanya sedikit salah paham tadi dengan seseorang” jawabnya.

“Aku pamit dulu kalau begitu” saat Yae In melewati Baekhyun oppa, dia terlihat seperti membisikkan sesuatu. Dan itu sedikit membuatku tak suka.

“Apa yang dia bisikkan tadi ?” tanyaku saat Baekyun oppa duduk disampingku. “Jangan mencoba berbohong atau aku akan sangat marah”

“Dia hanya bilang….. ”

——

 

Yae In POV

ku tarik nafasku perlahan sebelum memasuki rumah yang penuh dengan kenangan bersamanya.

“Sudah selesai ?” Tanya umma padaku

“Ku pikir urusan kalian belum selesai. Makanya aku tidak langsung kesini” ucapku sembari memijit kaki umma.

“Ani…sekarang sudah selesai. Umma sudah terlalu lelah. Hanya appamu yang masih disana”

“Ah…bagaimana jika hari ini aku yang masak ? sudah lama sekali umma tidak mencoba masakanku..”  sebuah senyuman mengembang di bibirku melihat anggukan dari umma.

Setelah berkutat dengan segala macam peralatan dan bahan dapur makan siang yang kubuat pun jadi. Hanya menunggu Appa yang belum kembali.

“Apa masih lama ?” aku hanya menggidikan bahu mendengar pertanyaan umma.

“Kurasa Appa mu masih betah disana. Kkaja kita makan duluan lalu kita antar makanan ini kesana. Umma takut appa tak sempat makan disana”

“Umma sudah semua ?” aku kembali  mengecek makanan yang akan kami bawa.

“Semoga belum berakhir” aku ikut menyetujui perkataan Umma. Karena kakiku yang belum sembuh umma memutuskan untuk menyetir kali ini.

“Ini tempatnya ?” tanyaku pada Umma saat kami telah sampai di sebuah rumah.

“Kau belum pernah kesini ?” Umma seakan terheran mendengar perkataanku. Dan aku hanya menggeleng.

“Maaf nyonya, semua orang telah pergi” itulah kata pekerja yang kami temui tadi. Jika semua pergi, lalu dimana Appa sekarang.

“Sudah ada kabar ?” sudah sejak setengah jam yang lalu Umma  menanyakan hal yang sama. Dan kini kami harus berputar-putar di kota Seoul.

“Umma, aku minta maaf tentang….”

“Sudahlah ini semua takdir. Bukan salah siapapun, Umma menangis sekeras apapun takdir tak akan mengembalikannya…”

“Ara…tapi aku masih tetap merasa bersalah”

“Jika kau merasa bersalah, jangan pernah ucapkan kata-kata itu” ucapan Umma kali ini benar-benar tegas.

“Mianhae…”

“Umma memang sedih, tapi bukankah hidup itu harus terus berjalan ? jika kita hanya berhenti dan tetap menangis, kita akan terpuruk. Apa kau mau Umma dan Appa seperti itu ?” aku hanya menggeleng mendengar jawaban umma.

“Lebih baik kita kembali kerumah, siapa tau Appa sudah kembali”

“Umma, aku ingin ke suatu tempat. Bisa turunkan aku di depan ?” Umma sedikit tak rela menurunkanku di sini, jika aku tak bilang bahwa aku sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat ataupun kursi roda mungkin umma tak mau menurunkan aku.

Semua masih sama, tak ada yang berubah. Bisakah aku kembali ke masa itu ? saat kami bertiga tak mengerti apa itu cinta dan hanya mengerti sebuah persahabatan. Saat kami masih bisa tertawa lepas dan masih bertiga. Saat salah satu terluka yang lainpun ikut terluka, saat persahabatan diatas segalanya. Ya semua kini hanya kenangan indah yang tak kan ku lupa.

Ku telusuri lagi koridor sekolahku yang dulu, berjalan perlahan demi mengingat semua yang pernah terjadi. Merasakan udara yang dulu kuhirup selama bersekolah disini. Langkahku berhenti tepat diatap gedung, tempat yang sering kami -aku,Chanhee,Jong In- kunjungi saat istirahat atau saat kami bosan dengan pelajaran, juga saat Chanhee keluh kesah tentang Jong In.

Bodoh…hanya kalimat itu yang mampu menggambarkan diriku. Bodoh karena aku telah jatuh cinta pada Chanyeol. Bodoh saat aku memilih mengabaikan Chanyeol. Bodoh saat aku ikut pergi. Bodoh saat aku menyutujui pertunangan itu. Bodoh saat kecelakaan itu terjadi. See ? betapa bodohnya aku ini.

Kakiku kembali melangkah menuruni tangga, meninggalkan sekolah ini dan entah pergi kemana. Sedikit menahan rasa ngilu pada lututku, Umma benar tak seharusnya aku pergi hari ini. Tak terasa sudah terlalu jauh kakiku melangkah.

Bibirku melengkungkan sebuah senyuman saat mendengar seorang penyanyi jalanan. Suaranya sangat merdu. Sangat ingin aku ikut menyanyi. Tanpa sadar kini aku sudah berada di hadapan penyanyi perempuan itu.

“Chogi..boleh aku meminjam gitarmu ? err…aku ingin menyanyi..” kataku sedikit gugup. Coba kalian pikir saat kalian bekerja mendadak ada orang asing yang datang dan meminjam gitarmu.

“Eh ? eumm baiklah..”

 

Tring…(emang suara gitar kayak gini?)

——

 

Chanyeol POV

“Daripada kita berdiam diri saja dirumah, lebih baik kita pergi ke taman kota bersama bagaimana ?” tawar Baekhyun pada Chnahee.

“Berdua ?”

“Jika sang pangeran jomblo ingin ikut juga tak apa…”

“Ya apa maksudmu dengan pangeran jomblo, huh ?” ku potong perkataan Baekhyun yang jelas-jelas meledekku.

“Memang begitukan oppa ?” jawab Chanhee polos. Hahh…sebenarnya dia ada  dipihak siapa sih ?

“Isshhh..Kkaja. Ah Chanhee kali ini kau duduk di bangku belakang. Karena aku tak mau melihat kalian pamer kemesraan di hadapanku.” Dapat ku dengar kekehan  mereka berdua saat aku pergi menuju mobil.

Keadaan taman kota hari ini cukup ramai dibandingkan biasanya.mungkin ini karena ada seorang makhluk tampan (?) sepertiku yang datang kemari. Hahahaha.

“Oppa, jangan tertawa sendiri kau membuatku takut” Chanhee mengacungkan dua jarinya berada V padaku saat ku tatap dengan death glareku.

“Bagaimana jika kita berkeliling menggunakan sepeda? Bukankah disekitar sini ada penyewaan sepeda ?” ada sedikit perubahan ekspresi Chanhee setelah mendengar usulan dari Baekhyun.

“Wae ? kau tak bisa naik sepeda ?” tanya ku. “Ahh..kau ingin dibonceng Baekhyun kan ?” godaku padanya. Tapi ekspresinya tetap saja murung, tak seperti biasanya.

“Ne ? ah ani..kita naik sendiri-sendiri aja..” syukurlah dia sudah sedikit tersenyum.

“Wae ? Ah..padahal aku sudah membayangkan ingin memboncengmu…” tawaku dan Chanhee pecah melihat ekspresi ngambek (?) dari Baekhyun.

Setelah sedikit lama kami berputar-putardi taman, dan memutuskan untuk beristirahat di dekat air mancur. Lagi – lagi aku menangkap ekspresi Chanhee yang sedih. Apakah dia punya suatu kenangan disini bersamanya ??

 

sangsanghaesseosseo mudaee oreuneun geu sunganeul

 

♫ ttatteutan haessal maikeureul jabeun nae wiro ssodajil geu bicheul ♫

 

♫saramdeurege deullyeojugo sipeun noraega naneun neomuna manha

 

nae maeumi dakireul neoreul bol su itgireul

 

kkumman gata neoui ape seon i sungan

 

neoreul utge hal i norae

Samar-samar aku mendengar seseorang bernyanyi, suaranya memang tak begitu bagus tapi dia sungguh menghayati lagu ini. Itu yang membuatku ingin mendengarnya lagi.

 

Oh I dream nae moksorireul tago neoreul umjigil i norae deutgo inni

 

geu jiteun eodum soge honja gachiji anke

 

♫ yeongwonhi neoreul wihae noraehalge ♫

 

♫ ije sijakhae ne mameuro ganeun gingin yeohaeng ♫

Ku langkahkan kakiku untuk mencari dimana sumber suara itu. Entahlah sedikit penasaran saja.

 

♫oerowojimyeon nunmul nal geot gateumyeon neoui soneul jabeulge woueo

 

♫ Oh I dream nae moksorireul tago neoreul umjigil i norae jigeum neodo deutgo inneunji ♫

♫ geu jiteun eodum soge honja gachiji anke ♫

 

♫ yeongwonhi neoreul wihae noraehalge….. ♫

Ketemu. 2 orang sedang menyanyi bersama, seorang dari mereka bernyanyi sangat bagus. Dan seorang lagi memetik gitar sekaligus bernyanyi. Jadi suara yang tak begitu indah itu dia. Aku masih diam  mematung di tempatku sekarang tak peduli dengan orang-orang yang maju untuk memberikan beberapa koin untuk mereka.

Dapat kulihat dari sini dia pamit mengundurkan diri, apa aku harus mengejarnya ? setelah berperang (?) batin dengan perasaanku. Ku putuskan untuk membiarkannya pergi saja, aku sudah tak memiliki urusan dengannya.

“Kim Yae In ?” dia menghentikan langkahnya saat seseorang menyerukan namanya. Tapi siapa ? oh tidak, 2 orang yang datang bersamaku kini tengah menghampirinya. What’s wrong with them huh…kenapa mereka memanggil Yae In?

Aku sama sekali tak berniat bergabung dengan percakapan mereka bertiga. Ada sedikit kecangguangan diantara mereka ah ani tepatnya Chanhee dan Yae In. Tapi Baekhyun berusaha mengaburkan kecanggungan itu.

Setelah merasa cukup Baekhyun dan Chanhee memutuskan pergi terlebih dahulu dan meninggalkan Yae In sendiri -lagi.

 

——-

 

Chanhee POV

“Chanyeol oppa eodisseo ?” Baekhyun oppa ikut bingung mendengar perkataanku. Pasalnya kami sama sekali tak tau bahwa oppaku satu itu telah pergi. Kami putuskan untuk mengelilingi taman kembali dengan berjalan. Toh oppaku sudah besar tak mungkin kan dia hilang.

“Kau lelah ?” aku hanya menggeleng. Memang capek, tapi aku tak ingin mengecewakannya yang tengah bersemangat.

“Mwoya ?” tanyaku saat mendadak Baekhyun oppa jongkok di depanku.

“Menggendong mu tentu saja..cepat naik!” eh ? apa yang dia bilang? Apa dia tak malu dilihat banyak orang. Terjadi keheningan di antara kami beberapa saat.

“KYAAAA!!!” jeritku saat Baekhyun oppa menggendongku. Banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Aigoo…wajahku sudah dipastikan memerah kali ini. Beberapa kali aku mendengar bahwa kami adalah pasangan yang romantis. Begitukah ??

“Aigoo anak muda kau sangat pintar memperlakukan kekasihmu…” begitulah kira kira yang ku dengar.

“Oppa, kau boleh menurunkanku jika kau lelah” pintaku.

“Geuge anira..”

“Sudahlah aku akan marah jika kau tak menurunkanku” ucapku sangar. “Benarkan, kau terlihat sangat lelah..” ku usap peluh yang ada di dahinya menggunakan punggung tanganku.

“Aku tak selemah itu..” hahaha dia pintar merajuk sekarang.

“Oppa, bukankah itu Yae In ?”

“Yae In..!” Ucapku dan Baekhyun oppa bersamaan.

“Kau disini ?” dia hanya mengangguk. “Kau….bertemu dengan kakak ku ?” jujur aku sangat penasaran akan ini. Oppa ku menghilang dan sekarang aku bertemu dengannya. Tidakkah ini telalu kebetulan ?

“Ani…aku baru saja akan pergi!” wajahnya sangat aneh.

“Ah..besok kau datang ke pernikahan kami kan ?” Tanya Baekhyun oppa dengan sedikit malu.

“Geurae…aku tentu tak akan melewatkan hari esok, benarkan Chanhee-sshi?”

“Eh…ne, aku sangat berharap kau bisa datang” jawabku tersenyum.

“Jong In, pasti sangat senang besok” kami semua terdiam mendengar kalimat terakhir dari Yae In. Benarkah dia bahagia ? benarkah ini yang selama ini dia inginkan ?

“Ah…Yae In-sshi kami pergi dulu ne. Sudah sore, Chanhee harus istirahat dan kami masih belum menemukan Chanyeol. Jika kau bertemu dengannya tolong sampaikan padanya kami pulang duluan.” Masih sedikit canggung antara aku dan Baekhyun oppa. Hufft apa yang harus aku lakukan…

“YA!! Yaedura…kalian kemana saja ? aku mencari kalian tahu!!!” seorang pria jangkung menghampiri kami yang akan masuk ke dalam  mobil.

“Ya..oppa, justru kami yang lelah karena mencarimu!” ucapku memandangnya horror.

“Isshhh…kau menghancurkan kencanku!” kami semua terkekeh kembali mendengar keluhan Baekhyun oppa. Dia benar benar pria yang lucu pikirku.

“Ya…tidak bisakah kalian diam ? ini bahkan sudah sampai di kediaman mu” Baekhyun oppa masih bersungut ria (?) kepada kami.

Aku kembali terkekeh mengingat kelakuan Baekhyun oppa hari ini. Dia benar benar menghiburku.

“Ya, ini punya mu ?” Tanya Chanyeol oppa saat melongok ke dalam kamarku.

“Ah, ne itu bingkisan yang dibawa Yae In tadi..” eh, bingkisan ? aku bahkan belum membukanya. Daripada penasaran lebih baik aku  segera membukanya.

Gaun ini…sepertinya sangat familiar untukku…aigoo bukankah ini gaun yang waktu itu ? tapi..bagaimana bisa ?

 

Flashback on

“Ya…apa yang kau lakukan ?” seorang namja berkulit gelap datang menghampiriku yang sedang duduk di meja belajar.

“Hanya menggambar, wae ? kau sudah selesai bermain game dengan Oppa ?”

“Eoh, dan aku menang..” ungkapnya bahagia “Ya!! Kau tak mendengarku ?” tanyanya lagi saat aku masih berkutat dengan pekerjaanku.

“Aishh diam kau!” sentakku “YA! KIM JONG IN APA YANG KAU LAKUKAN KEMBALIKAN!” teriakku membahana saat kertas gambarku direbut olehnya.

“Apa ini ?” ku gapai kertasku yang berada di tangannya tapi selalu gagal -_- “Wahh Park Chanhee aku baru tau bahwa kau pintar menggambar..” imbuhnya dengan wajah polos.

“Kau membuat moodku memburuk” saat aku ingin menyimpan gambarku ini, dengan gesit dia menyambarnya dan memandanginya.

“Wahh…ini gambar yang bagus.” seulas senyum mengembang di bibirku. “Kau ingin memakai ini saat kita menikah nanti ?”

“Jangan berharap terlalu tinggi Tuan Kim!!” ucapku sewot

“Yeppuda, aku berjanji kelak saat kita menikah kau akan menggunakan gaun  ini!” dengan bangganya dia berdiri di atas ranjangku dan berbicara layaknya proklamator yang sedang membacakan naskah kemerdekaan.

“Turun dari ranjangku!!” ku pukuli dirinya dengan boneka ku. “Ya…kubilang turun kau!” apa anak ini sudah menjadi patung ? karena putus asa akupun duduk bersila di bawah tempat tidurku.

“Kau harus berjanji padaku jika kita menikah kau akan menggunakan gaun ini!” ucapnya lagi sambil bersandar di pundakku.

“Kau yakin ? tapi…bagaimana jika kita”

“Sssst…aku janji akan selalu ada disampingmu. Menggenggam tangan ini” dia berucap sembari mengeratkan tautan tangan kami.

“Baiklah, aku akan tetap memakainya untukmu”

“Ku pegang janjimu..” satu kecupan hangat mendarat di puncak kepalaku.

 

Flashback off

Sial…kenapa hanya airmata yang datang saat aku mengingatmu Kim Jong In. Ani…aku harus tersenyum, ya tersenyum. Dia bilang tak ingin melihatku bersedih sekarang. Jong In-ah kau benar, aku harus bahagia. Gomawo. Ah iya sekarang aku harus melakukannya..

“Yeoboseyo..”

“Oppa…boleh aku meminta sesuatu padamu ?” aku sedikit takut mengatakannya mengingat pernikahan kami hanya tinggal menghitung hari.

“Wae ? apa ada masalah ?” terdengar nada khawatir dari dirinya

“Eumm ”

 

“Mwoya… ?”

“Pernikahan kita….” Eumm  bagaimana membicarakannya aku sangat takut dia marah. “Pernikahan…eumm Gaun yang akan kugunakan boleh aku memakai gaun yang tadi dibawa Yae In ?” ku gigit bibir bagian bawahku setelah mengungkapkan semuanya. Ku dengar dia menghela nafas lega.

 

“Ku kira kau akan membatalkannya, joha kau boleh menggunakannya asal pernikahan kita tak dibatalkan”

ku pandangi lagi gaun itu. Sungguh suatu kenangan yang tak akan bisa aku hapus. Jantungku berdegub kencang mengingat aku akan menikah besok. Tuhan restuilah hubungan kami ini.

TBC—

Pesan dari author : makasih buat yang udah setia baca FF kami ini. Di butuhkan kritik dan sarannya ya ^.^. oh iya makasih juga buat komennya 😀

 

13 pemikiran pada “We were In Love (Chapter 9)

  1. Thor.. Kau harus tanggung jawab. Udah buat aku nangis, mataku sembab. Satu kata untuk author DAEBAAAAAAAAAAAAAKK.
    Emang sih, agak nggak suka sama cast jongin yang udah meninggal. Padahal dari utama kan jongin yang dinomor satuin. Huhuhuhhhh…*udah?*
    Lanjut terus thor. Buat chanhee happy dengan bacon oppa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s