Appa (Chapter 2)

Appa (Story 2): LayMinChen

Author: kim_mus2

Main Casts:  Lay, Xiumin, Chen

Support Casts:

Other EXO-K and EXO-M Members

Length: Multi Chapter

Genre: Brothership, Family, Comedy

Rating: General

Summary:

Setelah memenangkan penghargaan

The best newcomer/rookie award 2012,

SMENT memberikan hadiah liburan selama satu minggu

pada member EXO-K & EXO-M di sebuah villa di pulau Jeju.

 Kata liburan seharusnya menyenangkan. Tapi, apa jadinya

 Jika member EXO berlibur sambil merawat anak?

Let’s check this out in “APPA” the series

Prolog | Story 1

=APPA=

Appa Story 2

“Hyung, berapa hari lagi kita tinggal disini?” Ujar Chen sambil meletakan kepalanya di atas meja makan dengan wajah yang pucat mengenaskan.

“Lima Chen… Lima… ini baru hari kedua. Sabarlah.” Tutur Xiumin dengan nada suara yang tenang dan terdengar sok bijak.  Orang tua kan memang harus bijak.

“Aku tak tahan! Bisa gila! Bisa gila aku!” Chen mengacak rambutnya frustasi.

“Oy Chen! Gak usah pake nada tinggi dong. Berisik ah!” Protes Lay yang dengan santainya meninggalkan Xiumin dan Chen sambil memangku gitar kesayangannya.

Rasa kesal berkecamuk di dada Chen dan Xiumin. Namun, keduanya hanya bisa kembali terduduk lemas di kursi meja makan. Betapapun lezatnya masakan D.O yang terhidang di depan mata dan betapapun merontanya cacing-cacing yang ada di dalam perut Xiumin dan Chen, raganya sudah tak bisa berdaya upaya. Jiwa mereka seakan – akan mengambang, tak menyatu dengan raganya. *Well, author lebay*

“CHEN HYUNG!” Teriakan dahsyat bu D.O, maksudnya mas Kyungsoo terdengar nyaring dari dalam kamar. Chen sudah tahu apa maksud dari panggilan itu, bahkan mungkin sudah sangat paham.

“Chen, pergilah. Selamat berjuang.” Xiumin merangkul pundak Chen yang duduk di sebelahnya dan kemudian menepuknya pelan. Lelaki berperawakan kurang tinggi itu hanya berharap dapat menyalurkan sedikit tenaga positif pada si Main Vocalist EXO-M.

“XIUMIN HYUNG!” Teriak Baekhyun dan Chanyeol secara bersamaan. Sepertinya suara mereka berasal dari ruang tengah.

“Hyung, mari kita pergi bersama.” Kini giliran Chen yang merangkul Xiumin dan kemudian mengajaknya bangkit dari kursi meja makan untuk segera pergi menuju sumber suara.

“LAY!” Kali ini teriakannya terdengar sangat lembut dan menyejukan hati. Kenapa? Karena yang berteriak adalah Luhan. Alhasil, seorang namja berlesung pipit yang manisnya semanis kecap Black Gold itu malah semakin sejahtera dalam mimpinya. Tapi, semuanya tak berhenti sampai di sini saja. Chen dan Xiumin yang tak terima karena akan mendapatkan ribuan protes dari member EXO lainnya sudah siap dengan dua buah pinset di tangannya masing-masing.

“Hana… dul… set!”

“Aaaaaaaaaa!” Teriakan Lay membahana di seluruh penjuru villa. Respon yang cukup pantas saat helaian-helaian rambut nan lembut dipisahkan dengan paksa dari kaki berkulit putih mulus yang merupakan asset berharga sang main dancer EXO-M.

Setelah puas melihat Lay yang sudah terbangun, Chen dan Xiumin kembali melanjutkan perjalanannya.

=APPA=

Di sebuah ruangan kamar yang harum dengan aroma therapy itu, seorang namja merasakan ketidakadilan. Dirinya dipaksa berlutut dan memohon ampun atas kesalahan yang tak pernah diperbuatnya. Namun, apalah daya. Mungkin ini adalah takdir yang tersurat untuknya.

“Oak… oak… oak….” Tangisan si bayi mungil Jihyun terdengar sangat memilukan dalam pangkuan Suho appa.

“Chen hyung!” D.O alias Kyungsoo memulai pembicaraan.

“Kyungsoo hyung! Buatkan aku telur goreng dong!” Sesosok namja kurang pemutih menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar bayi asuhan Kyungsoo.

“Aku gak ada waktu Kai. Ini lagi ada masalah penting. Minta masakin sama BaekYeol aja sana!” Kyungsoo mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Kai.

“Ok! Fine! Mulai sekarang kita pisah ranjang hyung! Aku pindah! Lebih baik aku tidur sama Baekhyun dan Chanyeol hyung, daripada sakit hati begini hyung!” Kai pun pergi dengan emosi yang bergejolak di dadanya. Kita sedikit lupakan masalah Kai dan hatinya. Kyungsoo pun sepertinya tak terlalu peduli ko. Buktinya, dia malah melanjutkan interogasi pada Chen.

“Chen hyung! Kau becus atau tidak sih mengurus anak?” Tantang Kyungsoo yang geram karena makanan dan susu formula yang telah ia persiapkan untuk bayi kesayangannya raib seketika. Diduga kuat, pelaku dari tindak criminal itu adalah Byun Eunji. Gadis kecil berumur empat tahun yang seharusnya ada dalam pengawasan Chen, Xiumin dan Lay.

Kyungsoo sangat yakin dengan dugaannya ini karena beberapa bukti kuat. Satu, sejak tadi pagi Eunji mengganggunya di dapur dengan memecahkan satu lusin piring. Dua, 45 menit yang lalu, gadis itu terlihat dengan bibir belepotan. Tiga, Kyungsoo mencium aroma kimchi dari tubuh si gadis kecil. Penciuman chef Kyungsoo tak akan mungkin salah.

“Chen! Kau sudah membuat martabat EXO-M menurun.” Tersirat kekecewaan di wajah Kris.

“Chen hyung! Kalau sudah begini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kau harus bertanggungjawab atas hilangnya makanan Jihyun.” Sambung Tao yang juga menunjukan wajah kecewanya. Maknae yang satu ini sebenarnya hanya meniru ekspresi abang Kris. Abaikan saja.

“Jeosonghamnida. Jeongmal jeosonghamnida. Aku akan segera membelikan gantinya. Maafkan kelakuan anaku yang kurang berkenan.” Pinta Chen dengan raut wajah yang teramat menyedihkan.

“Bangunlah Chen. Ini bukan salahmu. Lagi pula, Jihyun sudah tertidur. Kau punya banyak waktu untuk membelikan susu dan bahan makanan untuknya.” Tutur Suho dengan suara lembutnya yang seketika membuatnya terlihat seperti malaikat bersayap putih di mata Chen.

“Hyung. Aku padamu.” Mata Chen mulai berkaca-kaca.

“Stop! Hentikan semua ini. Sebaiknya kau segera pergi Chen hyung!” Kyungsoo dengan seenaknya menghancurkan momen indah Chen. Dengan begitu banyaknya sayatan luka di dalam hatinya, Chen pun pergi dari kamar itu untuk membeli susu.

Chen’s Side

Hadirin yang berbahagia. Inilah hidup. Orang bilang, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tapi, apa ini berlaku untuk hidupku saat ini? Aku rasa tidak. Semua kesulitan terus datang bertubi – tubi. Ingin rasanya aku berteriak, tapi tak bisa. Suara emasku ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Apakah kisahku ini akan berakhir dengan bahagia? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Ini hidupku. Bagaimana hidupmu?

=APPA=

Suara televisi di ruang tengah dengan volume yang poll tak lebih keras dari teriakan Baekhyun dan Chanyeol kala itu. Keduanya benar-benar murka. Mereka tak terima atas perlakuan gadis kecil bernama Eunji pada anak asuhnya Cha Eungyeol. Gadis itu sudah membuat anak kesayangannya menangis.

Kejadian itu berawal saat Eun Gyeol tertidur di sofa ruang tengah setelah merasa sedikit bosan menonton Spongebob Square pants yang ternyata disiarkan dalam bahasa Inggris, pagi itu. Saat mata Eun Gyeol terbuka karena silaunya sinar matahari yang mulai memasuki ruangan itu, ia langsung merasakan keganjilan pada tubuhnya. Namja kecil itu dengan refleks mengambil cermin berbentuk hati dengan bingkai berwarna pink kesayangannya yang tergeletak di atas meja. Saat melihat pantulan dirinya di dalam cermin. “Kyaa!” Namja imut itu berteriak histeris. Mendengar suara buah hati kesayangannya, BaekYeol pun datang dengan segera, dan apa yang terjadi?

“Kyaa! Kenapa rambutku seperti medusa? Aku tak mau rambut ikal seperti ini! Sama sekali tidak cantik!” Pekik Eun Gyeol sambil mengacak rambutnya. Diduga kuat, pelaku pengkritingan rambut Eun Gyeol adalah Eunji. Hal ini dapat dibuktikan dengan analisis sederhana.

Satu, bayi kecil Jihyun belum bisa menggunakan roller untuk mengkriting rambut. Dua, Kang Taejun, anak asuhan HunHan sama sekali tak tertarik dengan ilmu hairstyling. Tiga, si gadis nakal Eunji itu sekarang ini tengah tertawa renyah di belakang tubuh Xiumin, sedikit pun tak prihatin dengan keadaan appanya yang mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari BaekYeol.

“Yaa! Kau gadis jahat! Kemari Kau!” Geram Baekhyun yang terus memberontak pertahanan Xiumin.

“Argh! Kau membuat uri Eun Gyeol menangis! Awas kau!” Ujar Chanyeol geregetan sambil meremas-remas pipi Xiumin.

“Jeongmal mianhae. Aku minta maaf atas kelakuan Eunji. Sungguh, aku yakin anak ini tak bermaksud jahat pada anak kalian. Dia hanya menyalurkan bakatnya. Mungkin sesekali dia bisa membantumu mengkeriting rambut, yeol.” Xiumin memohon-mohon dengan ekspresi yang tak bisa dideskripsikan karena ulah Chanyeol tentunya.

“Euuh! Hyung menggemaskan!” Chanyeol dan Baekhyun malah tertarik mengotak-atik pipi Xiumin.

“Jadi, kalian sudah melepaskan anaku kan?” Tanya Xiumin.

“Asal hyung tetap jadi mainan kami.” Jawab Baekhyun.

“HAHAHAHA.” BaekYeol tertawa setan.

“Bolaku, fighting! Annyeong!” Eunji pun pergi dengan santai, membiarkan appanya menderita di tangan dua makhluk tak berperike-bapao-an.

Xiumin’s Side

Sebulat itukah diriku di hadapan anak gadis kecil itu? Aku manusia. Aku bukan bola seperti yang ada dalam penglihatan anak itu. Aku juga bukan baozi seperti yang selalu dikatakan Luhan. Mungkin selama ini aku selalu terlihat bahagia dan tegar saat Luhan mengatakan pada dunia kalau aku ini baozi.

Tapi, sungguh, dalam lubuk hatiku yang terdalam. Aku terluka. Aku ini tampan. Kenapa aku dipaksa bersikap sok cute? Aku juga member yang paling tua di EXO. Aku layak dihormati. Batin ini terasa perih. Apa kalian merasakan apa yang aku rasakan readers? *Yaelah bang Umin curhat –o-*

=APPA=

Di sebuah ruangan yang didominasi dengan beberapa lemari tinggi yang terisi penuh dengan buku – buku itu, Lay terpaksa harus menghadapi kemarahan dua namja imut yang sama sekali tak menakutkan. Sudah hampir dua jam kedua namja itu menceramahi Lay, tapi ia sama sekali tak dapat menangkap intinya.

“Lay!” Bentak Luhan dengan lembut.

“Yixing gege!” Rengek Sehun.

“Mwo?” Lay memajukan bibirnya dan mengeluarkan suara panjang yang lebih terdengar seperti suara sapi.

“Kau mendengarkan atau tidak sih?” Kesal Luhan yang kemudian mengerucutkan bibirnya.

“Intinya saja deh.” Jawab Lay singkat.

“Anakmu menghilangkan buku-buku Taejun, anak kami. Kau harus bertanggung jawab.” Tegas Sehun yang tumben-tumbennya ngomong tegas. Demi sang anak, Sehun akan berusaha menjadi dewasa. Itulah janji dalam hatinya.

“Ya sudah, nanti aku belikan yang baru.” Lay bangkit dari kursi hendak pergi meninggalkan HunHan. Ia rasa jalan keluarnya sudah ditemukan. So, time to go!

“Lay! Masalahnya tidak semudah itu. Anak kami mogok makan kalau buku itu tidak ditemukan sekarang. Buku itu juga limited edition, kau tidak bisa lagi menemukannya di pasaran. Kalau masih ada pun, harganya bisa mencapai jutaan won.” Jelas Luhan yang dengan otomatis menghentikan langkah Lay.

“Mwo? Jinjjayo?” Lay terkaget-kaget dengan perkataan Luhan. Lay tak akan rela mengorbankan hasil jerih payahnya selama ini hanya untuk mengganti buku anak HunHan. Never. Uang yang ia dapatkan hanya akan ia persembahkan untuk orang tua dan keluarga kecilnya kelak.

Setelah meyakinkan HunHan, Lay pun langsung beranjak pergi untuk mencari si Trouble Maker.

“Aish! Dimana sih anak itu?” Gerutu Lay sambil berjalan tanpa tujuan di dalam villa yang cukup besar itu.

Di tengah keputusasaan dirinya untuk menemukan Eunji, Lay menemukan sesuatu yang semakin membuatnya emosi tingkat dewa.

“Hyaa! Gitarku! Siapa yang merusaknya?” Teriak Lay seraya mengangkat badan gitar yang sudah terputus sempurna dari gagangnya.

Chen dan Xiumin yang rupanya ada di hadapan Lay hanya menunjuk seorang gadis kecil tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Gadis kecil yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna abu-abu, jeans senada, sepatu kets dan topi yang bertengger di kepalanya itu hanya duduk di sofa sambil menopang dagu memperhatikan Lay.

“Neo jinjja!” Lay menunjuk si gadis kecil sambil menatapnya dengan mata yang berapi-api.

“Wae?” Tanya sang gadis dengan wajah datar.

“Kau merusak gitarku.”

“Gitarnya jelek.”

“Terus? Masalah buatmu kalau gitarku jelek? Jangan main rusak-rusak aja dong!” Protes Lay yang semakin mendekati Eunji.

“Lay… sabar Lay….” Xiumin bijak lagi.

“Iya hyung! Gak usah pake nada tinggi dong. Berisik ah!” Ucapan yang sungguh familiar, pikir Lay.

“Kalian juga. Kenapa tidak mengurusnya dengan benar huh?” Lay melemparkan kesalahan pada duo manusia kurang tinggi yang tak lain adalah MinChen. Lay belum sadar kalau dia juga kurang tinggi.

“Yaa! Hyung! Kau bisanya menyalahkan saja. Jangan seenaknya menyalahkan orang dong.” Timpal Chen tak mau kalah.

“Sudah… sudah….” Xiumin merentangkan tangannya di antara Lay dan Chen yang nampaknya mulai naik darah.

“Jadi, kau menyalahkanku, Chen?”

Lay mendorong Xiumin ke arah Chen.

“Ya memang faktanya begitu. Suaraku sampe serak begini ngurus anak itu dari kemarin-kemarin. Hyung kemana aja huh? Aku capek hyung, capek. Tahu gak sih?”

Kini giliran Chen yang mendorong Xiumin ke arah Lay.

“Ya gimana aku tahu. Kamunya gak bilang kalau kamu capek. Salah sendiri.”

Xiumin kembali didorong ke arah Chen.

“Hyung gak peka! Lihat dong mukaku aja sampai babak belur begini ngurus anak itu. Kemarin kecebur kolam renang. Tadi kepeleset di kamar mandi. Semua member juga nyalahin kita. Harga diriku sudah melayang. Hyung sama sekali gak kasihan sama aku dan Xiumin hyung!”

Chen mengungkapkan semua deritanya dan Xiumin pun kembali didorong ke arah Lay.

“Aduh. Jangan nangis dong Chen. Kan aku jadi gak enak bikin anak orang nangis.”

“Aku yang nangis! Aku! Kalian dongsaeng paling menyebalkan sedunia!” Geram Xiumin yang sudah terkapar di lantai karena dorongan Lay yang terakhir rupanya terlalu kuat.

“Hyung! Gwenchanayo?” Panik Lay dan Chen.

“Apa aku terlihat baik-baik saja huh? Gendong aku!”

Chen dan Lay saling menatap. Lalu, hening.

“Yaa! Aku bilang gendong aku! Kalau kalian tak mau, aku akan mengutuk kalian menjadi bapao. Kalian telah durhaka pada orang tua.”

Dengan ogah-ogahan, Lay dan Chen pun mengikuti kemauan Xiumin. Lay mengangkat bagian atas tubuh Xiumin sedangkan Chen tubuh bagian bawahnya.

“Hyung mau ditaruh dimana?” Tanya Lay.

“Sofa. Sofa.” Jawab Xiumin santai sambil bersiul-siul tak jelas.

“Ok!”

Tiba-tiba Eunji yang sejak tadi sibuk menggali sebuah lubang mendekati Chen dan Lay dan mengoleskan sesuatu di kedua tangan namja tampan yang sedang bergotong royong itu.

Sensasi dingin dan kenyal. Apakah gerangan ‘sesuatu’ itu? (silahkan direnungkan wkwkwk, ntar kasih tahu author ya jawabannya ^^)

“Kyaa!” Koor Chen dan Lay yang langsung melepaskan kedua tangannya dari tubuh Xiumin.

BRUK!

Lalu, Xiumin pun pingsan, pemirsa.

“Hyung!”

“Ireona!”

“Jangan tinggalkan kami hyung. Nanti tak ada lagi orang bulet di EXO-M. Jebal hyung. Ireona.”

“Waeyo? Appa, bola ini kenapa?” Tanya Eunji pada Lay.

“Menurutmu?” Lay yang sudah sangat tak ingin bersahabat dengan anak yang satu itu menjawab dengan intonasi yang datar.

“Kalau bolanya ada di lantai, berarti aku boleh menendangnya kan?”

“Andwae!” Lay dan Chen memadukan suara untuk mencegah kejadian mengerikan yang mungkin terjadi. Tapi, terlambat sudah.

BUG

Lalu, Xiumin pun siuman, pemirsa.

“Aku ada di mana? Siapa aku?” Sok lupa ingatan nih bapao satu.

=APPA=

Lay, Xiumin dan Chen yang perlahan mulai memasuki fase stress tingkat akhir memutuskan untuk melakukan rapat internal. Ketiga appadeul yang teraniaya itu berkumpul di salah satu kamar di lantai dua. Pintu kamar itu dikunci dengan puluhan kunci, bahkan semua lemari pun diletakkan di depan pintu sebagai penahan untuk mengantisipasi kalau Tao tiba-tiba mendobrak pintu dengan tekhnik wushunya.

Setelah pembicaraan cukup panjang, mulai dari identifikasi masalah hingga beberapa perumusan tahapan problem solving, diskusi pun berakhir. Ketiga appadeul itu akan berjuang dengan semangat baru. Sebuah semangat untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak asuhnya.

“Kalian siap?” Tanya Xiumin sembari menatap Lay dan Chen secara bergantian.

“Emh!” Kedua dongsaeng Xiumin itu pun mengangguk mantap.

“EXO!”

“Saranghaja!”

LayMinChen pun tersnyum puas, kalau saja salah satu di antaranya tak melontarkan kalimat tanya yang menyakitkan.

“Hyungdeul, tadi kunci pintunya ditaruh dimana ya?”

=APPA=

Operasi bertema pendidikan dari LayMinChen akan segera dimulai. Sebelum Eunji bangun dari tidurnya, ketiga appadeul itu sudah berada di kamar si gadis kecil yang ada di lantai dua. Chen sudah duduk di salah satu sudut ruangan sambil menenteng sebuah kitab berisi lirik lagu-lagu K-POP terpopuler.

Di sudut ruangan lainnya, Xiumin sudah siap dengan kaca besar dan handycam yang tertancap di atas tripod. Handycam itu sudah tersambung dengan televisi layar datar berukuran 21 inch yang memang sudah tersedia di dalam kamar.

Sementara itu, Lay yang duduk di atas kursi tepat di depan pintu kamar sudah siap dengan gitar lain miliknya. Rupanya Lay membawa dua gitar. Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah lemari di samping Lay. Lemari itu berisi banyak pakaian yang khusus dibelinya bersama Xiumin dan Chen tadi malam pasca berhasil keluar dari kamar.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 waktu Korea Selatan. Nona kecil Byun Eunji mulai membuat gerakan-gerakan kecil seperti menggeliat dan menguap di atas kasur empuknya. Dengan perlahan, gadis itu membuka mata dan kemudian terduduk lesu, mungkin masih mencoba mengumpulkan nyawa. Setelah beberapa menit menyadarkan dirinya, akhirnya Eunji mulai merasakan bahwa dirinya tengah berada dalam marabahaya.

“Apa yang ingin kalian lakukan padaku?” Teriak Eunji pada ketiga appadeulnya.

“Kami hanya ingin membantumu berubah.” Jawab Chen dengan nada selembut mungkin.

“Benar. Sekarang kau mandi dulu saja ya Eunji.” Xiumin pun menunjukkan senyuman imutnya.

“Iya sayang. Hari ini kita semua akan bersenang-senang. Apa kau mau?” Eunji yang sebelumnya sangat jengkel pada Lay yang pemarah akhirnya terlihat sedikit luluh. Apalagi saat melihat lesung pipit appanya yang mampu mengalihkan dunia itu.

Tak cukup lama menunggu Eunji selesai mandi. Tapi, waktu itu sudah cukup bagi Lay, Xiumin dan Chen untuk menyiapkan pakaian bagi anak asuhnya itu. Sebuah dress berwarna biru turquoise lengkap dengan pakaian vital lainnya sudah tersedia di atas kasur.

Eunji pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuhnya dari dada hingga ke lutut.

“Eunji-ya. Pakaianmu sudah ada di atas kasur.” Tutur Xiumin sambil menutup mata. Lay dan Chen pun melakukan hal yang sama.

“Aku tak mau pakaian jelek seperti itu! Aku mau kaos dan Jeans!” Tolak Eunji mentah-mentah.

“Tapi, tak ada jeans di dalam lemarimu.” Jujur Lay yang sebenarnya sedikit tidak jujur karena dia sudah menukar isi lemari itu dan menyimpan pakaian asli Eunji di suatu tempat.

“Jangan bohong! Aku tak mau memakai yang seperti ini!” Gadis kecil ini sangat teguh dengan pendiriannya. Ia berjalan ke arah Lay, hendak membuka lemari pakaiannya. Entah kenapa, Lay merasa gugup dengan kedatangan gadis kecil itu. Padahal dia kan anak-anak. Tapi, mungkin memang lain kondisinya kalau gadis kecil itu hanya mengenakan handuk.

“Ugh! Baju-bajuku dimana?” Kesal Eunji.

“Kalian pasti menyembunyikannya ya?” Pertanyaan yang amat menusuk, terutama bagi Lay.

“Aniyo.” Jawab ketiganya yang untungnya serempak dan sedikit meyakinkan Eunji.

“Ya sudah. Aku pakai baju jelek ini saja. Argh!”

LayMinChen hanya tersenyum mendengar ucapan Eunji. Mata mereka masih terpejam. Eunji selamat. Tenang saja ya. ^o^

=APPA=

“Aku mau keluar! Buka pintunya!” Jerit Eunji sambil menendang-nendang pintu tak sabaran.

“Maafkan appa Eunji-ya, appa lupa menyimpan kuncinya. Sepertinya hilang. Ottokhae?” Sedih Chen yang meskipun hanya acting, wajahnya tetap menyedihkan. #ditabok fansnya Jongdae, Peace ah! 😀

“Huaaa…. Aku mau keluar!” Tiba-tiba si gadis kecil yang selalu menyebalkan itu terduduk lesu di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Tak biasanya ia seperti ini. Tangisannya terdengar sangat menyakitkan. Lay, Xiumin dan Chen yang mulai panik langsung menghampiri Eunji untuk menenangkannya.

“Eunji-ya, ulljima. Appadeul ada disini.” Bujuk Lay yang entah sejak kapan mendudukan anak gadisnya itu di atas pangkuannya.

“Iya Eunji-ya. Appadeul akan menemanimu sampai ada yang membukakan pintu. Tenang saja.” Sambung Chen yang malah ikut-ikutan berlinang air mata.

“Eunji-ya. Bbuing… bbuing….” Xiumin berusaha menghibur Eunji dengan segenap potensi yang ia miliki. Wajahnya terus dibuat selucu mungkin dengan menunjukkan berbagai ekspresi seperti manyun, menggembungkan pipi, tersenyum sambil meletakkan kedua jari telunjuk di pipinya hingga dia tak tahu lagi harus berekspresi seperti apa.

”Ahahahaha. Appa bola lucu sekali. Hahaha.” Eunji tertawa nyaring sekali, bahkan melebihhi suara Chen yang konon luar biasa. Senyuman Eunji pun sangat manis. Dia memiliki lesung pipit yang sama menawannya dengan Lay. Sebuah fakta yang sangat mengejutkan memang.

“Lagi dong appa. Lagi… lagi… lagi….” Pinta Eunji kegirangan.

“Kau bilang ‘appa’? Aku tidak salah dengar kan Lay, Chen?”

Xiumin hanya mendapat anggukan dari keduanya pertanda pendengaran Xiumin masih bagus.

“Hyungdeul, ngomong-ngomong aku memang menghilangkan kuncinya. Bagaimana cara kita keluar dari sini ya?” Celetuk Chen tiba-tiba.

“Yaa! Yang benar saja? Kita benar-benar terkurung di sini? Begitu?” Tanya Lay bertubi-tubi.

“Huaaa…. Aku tak mau terkurung. Aku benci terkurung di kamar!” Tangisan Eunji semakin menjadi-jadi.

“Ssst. Tenanglah Eunji. Kau harus percaya pada appa. Appa pasti akan melindungimu.” Ucap Lay dengan mantap.

Entah kenapa, perkataan Lay kali ini mujarab. Eunji hanya terdiam dan kemudian memeluk Lay dengan erat dengan badan yang terus gemetaran. Dengan gesit, Chen dan Xiumin mencari si kunci ke seluruh penjuru ruangan. Namun hasilnya adalah nol besar. Kunci itu benar-benar sirna ditelan bumi.

Merasakan tubuh Eunji yang tak hentinya bergetar di dalam pelukannya, Lay menjadi sangat khawatir. Ia pun meminta Xiumin dan Chen menghentikan usaha pencariannya.

“Baiklah, semuanya tenang dulu. Eunji-ya, apa kau mau menceritakan pada appadeul kenapa kau bisa setakut ini? Mungkin appadeul bisa membantumu.” Kali ini Lay mengucapkan kata-kata yang tulus pada Eunji. Tulus dari hatinya, bukan buatan.

“Aku. Aku pernah terkunci sendiri di gudang. Aku tak bisa bertemu eomma dan appa. Aku takut. Orang itu tak mau aku keluar. Aku benci orang jahat. Huaaa….” Eunji kembali menangis kencang setelah mengungkapkan semua perasaannya.

Kini Lay, Xiumin dan Chen memahami sesuatu yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Anak ini, Eunji, sebenarnya bukan anak yang nakal. Dia hanya butuh lebih banyak kasih sayang. Tingkah tomboynya hanyalah sebuah tameng untuk menyembunyikan rasa takutnya dari kesendirian dan sebagai sebuah simbol bahwa dirinya adalah orang yang kuat, bukan penakut. Tingkah jailnya juga hanyalah sebuah motif yang ia gunakan untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang, sehingga ia tak merasa sendiri.

“Tenanglah Eunji. Kita akan keluar dari kamar ini.” Tegas Lay, terdengar sangat meyakinkan.

“Aku rasa aku tahu caranya.” Susul Xiumin yang mendadak brilliant.

“Sepertinya aku tahu idemu hyung.” Sambung Chen yang melihat arah mata Xiumin.

“Kajja!”

LayMinChen pun kemudian bergotong royong mengangkat kasur besar di kamar itu. Dengan usaha yang cukup berat selama beberapa menit, kasur tersebut dapat dilempar keluar jendela dan mendarat dengan selamat di tanah berumput samping villa mereka.

Xiumin yang memang jago taekwondo dipercayakan untuk membawa Eunji saat melompat ke atas kasur di bawah sana. Kemampuan tetua EXO yang satu itu memang tidak usah diragukan, pendaratan keduanya benar-benar mulus. Selanjutnya, Lay dan Chen pun mendarat dengan baik meskipun tak sebaik Xiumin karena setelah mendarat di atas kasur badan mereka terpental hingga terduduk di atas tanah.

“Appadeul gomawoo.” Eunji mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi wajah yang amat sangat tulus. Ketiga appadeul yang tersentuh pun langsung mendekat dan semuanya berpelukan.

CLING

Beberapa kunci dengan gantungan berbentuk kuda pun terjatuh dari salah satu saku celana Eunji appadeul.

=APPA=

Setelah kejadian yang cukup fenomenal itu, LayMinChen melanjutkan misi pendidikan mereka pada si nona kecil. Pagi hari, Eunji akan melakukan jogging dan kemudian latihan vocal bersama Chen.

Siang harinya, Lay akan mengajak Eunji duduk di bawah pohon rindang di samping villa untuk berlatih memainkan gitar.

Pada malam harinya, sebelum tidur, Xiumin akan mengajarkan cara berimut ria di depan cermin besar dan di depan kamera. Untuk urusan pakaian, Eunji terpaksa harus membiasakan diri memakai dress karena Lay masih menyembunyikan baju-baju kasual gadis kecil itu.

“Selamat Pagi appadeul!” Sapa Eunji dengan riang sambil berlari ke pelukan ketiga appadeulnya.

“Sudah siap?” Tanya Lay yang kemudian mendapat anggukan cepat dari Eunji.

Chen dan Xiumin yang sudah mengerti apa yang harus dilakukannya segera pergi menuju beberapa tempat berbeda di villa itu. Hanya dalam waktu lima menit, Xiumin dan Chen pun kembali dengan segerombolan namja yang mengikuti di belakangnya. Setelah semua member EXO berjejer rapi, Lay pun angkat bicara.

“Eunji-ya, minta maaf pada appadeul ya.” Lay mendorong bahu Eunji pelan.

Setelah itu, Eunji maju ke hadapan semua member EXO dan membungkuk 90 derajat.

“Jeosonghamnida. Eunji benar-benar minta maaf. Eunji tidak akan nakal lagi. Eunji tak akan membuat Jihyun dan Eun Gyeol menangis atau membuat Taejun marah besar lagi karena menyembunyikan bukunya. Aku akan patuh pada appadeul. Jeosonghamnida.”

Suasana menjadi hening. Semuanya takjub dengan hasil didikan LayMinChen. Mereka appa yang sukses. Eunji yang merasakan kecanggungan kemudian menyambung perkataannya.

“Apa appadeul mau memaafkanku?”

“Ne!” Ucap semua member selain LayMinChen berbarengan dengan senyuman yang merekah di setiap bibir namja tampan itu. Eunji beserta ketiga appadeulnya pun tersenyum lega.

GREP

“Neomu yeppeo Eunji-ah.” Eun Gyeol tiba-tiba memeluk Eunji sambil cengengesan tak jelas.

“Eh?” Koor semua member dengan mata yang dibuat bulat dengan paksa.

=APPA STORY 2 ENDS=

Cingcongan Author:

Mau ketawa evil dulu ya…

Hohohohohohohohohohoooho

Authornya kebangetan kan?

Publishnya udah kayak siput banget kan?

Author udah siap diprotes deh.

Tapi protesnya di komen dong ya kkk 😀

Mudah-mudahan memuaskan

Story 2 ini agak sedikit serius nampaknya

Menyangkut pendidikan anak soalnya hehe

Sok iye bgt dah authornya

Oke deh, time for commenting.

Chuseyo! 😀

 

77 pemikiran pada “Appa (Chapter 2)

  1. Lanjut thor, penasaran kyk mana baekyeolkai ngurus eungyeol
    wah, marga eunji byun pantas aj di jail kyk byun baekhyun hahaha
    lanjut y thor

  2. Chap 2 semakin bagus!
    Eunji, siapa yg ngunciin dia di gudang?
    Wah! Didikannya layminchen baneran mujarap!
    Itu yang terakhir…. Ko eun gyeol meluk eunji yah?
    Next! Keep writing!!!!

  3. HahaXD daebakk!! Si bakpao xiu mah kasian didorong2 gitu sama chenlay;( tapi syukurlah mereka berhasil menjadi appa yang baik👍👍. Curhatan xiuchen jugaXD. Good job author!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s