A Whole New World (Chapter 1)

A WHOLE NEW WORLD (Chapter 1)
Title : A Whole New World (chapter 1)
Author : Song Nana
Genre : romance, AU, angst (di otak sih kayak gitu ._.)
Main Cast : – Oh Sehun
– Cho Mihyun (OC)
– Kim Jong in
– Xi Luhan
Support Cast : – Cho Kyuhyun
– Sisanya liat sendiri aja yah, hehe
Rating : PG 13-15
Disclaimer : Semua di ff ini adalah milik Tuhan, Agensi dan Orang tua mereka.
Kecuali member exo itu punya author#digamparin exotic XD
Ehehemm aannyeoong haseoo *ala baekhyun(?)* ini adalah ff pertamaku yah bisa
dikatakan ff debutku lah. Dikarenakan aku masih sangat pemula, jadi aku minta maaf yang
sebesar besarnya kalo di ff ini masih berserakan typo dan kesalahan yang lain hehe

A WHOLE NEW WORLD COVER
*****************
Author’s POV
Cinta? Atau dirimu sendiri? Mungkin pilihan ini adalah pilihan yang konyol, tapi inilah
hidup tak ada satu orangpun yang tahu akan berakhir seperti apakah kehidupan yang
sementara ini. Hidup ini bukanlah sebuah sandiwara yang sudah mempunyai alur yang
dapat ditebak bagaimana berakhirnya, bukan juga sebuah novel yang sudah diketik
sedemikian rupa sehingga semua orang akan memberikan senyum terbaiknya saat
membaca ending dalam novel tersebut.
Siapa yang menduga bahwa sekarang ini telah terbaring seorang gadis yang dulunya
sangat periang, menjalani hari dengan senyuman manis yang tak pernah sirnah dari wajah
kecilnya. Selalu menjalani harinya dengan tawa dan canda. Bahkan ia tak pernah sadar
bahwa tubuhnya begitu rapuh dan harus dibantu oleh selang-selang yang menempel di
raganya saat ini, menelusuri waktu demi waktu yang telah diberikanPerlahan jemari Kyuhyun mengusap-usap dengan halus puncak kepala
yeodongsaengnya yang tengah terbaring lemah ini. Meminggirkan poni-poni yang sedikit
mengganggu dahinya.
“Selamat pagi, Mihyun-ah! Kau tahu hari ini hari Minggu yang sangat cerah.”
Kyuhyun mengelus pelan wajah Mihyun, di kecupnya lembut dahi gadis itu dan menatap
miris yeoja di hadapannya. Kyuhyun beranjak dari kursinya dan membuka gorden yang ada
di kamar itu. Perlahan cahaya matahari menyeruak masuk dan mulai menghangatkan
ruangan yang dingin itu.
“Lihat! Oppa tidak bohong kan, diluar sangat menyenangkan. Mihyun-ah, cepatlah
sadar agar kau bisa bermain lagi. Kau senang bermain di taman kan? Kalau kau sadar oppa
berjanji akan mengajakmu ke taman setiap hari, kita akan membeli makanan kesukaanmu,
ne? Kita akan beli es krim sama-sama. Kau senang kan Mihyun? Cepatlah sadar Hyunnie.”
Kyuhyun semakin memperat genggaman tangannya. Meski ia tahu Mihyun tak akan
menjawab dan mungkin ia juga tak bisa mendengar perkataanya, tapi seakan tak kenal lelah
setiap hari Kyuhyun selalu mengajak Mihyun berbicara, bercerita ini dan itu berharap adik
kesayangannya ini dapat membuka matanya ‘suatu hari nanti’.
Luhan’s POV
Kulangkahkan kakiku menelusuri lorong demi lorong. Tempat yang sudah tak asing
lagi bagiku. Langkah gontaiku membawa badan ini sampai ke depan pintu bernomor 302.
Kamar yang di tempati Mihyun. Kutarik nafasku dalam-dalam dan memasuki ruangan putih
dengan bebauan obat-obatan yang menyengat, tetesan infus yang terus mengalir memasuki
pergelangan tangan seorang yeoja yang sedang tak sadarkan diri.
“Oh, Luhan-ah kau datang rupanya, ini masih pagi sekali.” Kyuhyun hyung
mendekatiku dan menepuk bahuku pelan.
“Annyeong hyung, mianhae kalau kedatanganku yang lebih pagi ini mengganggumu
hehe, aku hanya ingin melihat keadaan Mihyun.” bola mataku sedikit melirik Mihyun. Tak
ada yang berubah, ia masih terbaring dan belum sadar.
“Aniya, kau tak menggangguku kok. Kebetulan dosenku tiba-tiba memanggilku ke
kampus, kau bisa temani Mihyun sebentar kan?”
“Ne hyung, aku akan menjaganya.” senyuman lega terpancar dari wajah Kyuhyun
hyung dan senyuman itu menambah kemiripannya dengan Mihyun.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, jaga Mihyun baik-baik ne?” “Ne hyung, hati-hati di jalan.” Kyuhyun hyung berlalu sambil menenteng ranselnya.
Sekarang tinggal aku dan yeoja yang sangat kusayangi ini. Cukup lama aku terdiam, jujur aku
tak tahan dengan semua pemandangan ini. Andai saat itu aku tak melakukan hal bodoh, dan
aku benar-benar menyesal. Kuraih telapak tangannya dan mengusap-usapnya.
“Mihyun-ah, apa kau tak bosan hanya tidur terus disini? Ayo bangun, kau suka
bermain kan? Ayo kita bermain lagi.” Sungguh miris mendengar sendiri apa yang barusan
kukatakan, tatapanku berubah nanar.
“Mihyun-ah mianhae, mungkin nanti saat kau bangun kau pasti akan membenci ku,
sekali lagi maafkan aku.”
Andai saja saat itu tak pernah terjadi, bahkan aku masih mengingat tiap-tiap kata yang
dilontarkan Dokter Lee.
[FLASHBACK]
“Bagaimana keadaannya saat ini,Dok?” Kepalaku sudah mau meledak dengan apa
yang terjadi saat ini, degup jantungku yang sudah tak karuan. Firasatku mengatakan bahwa
Mihyun sedang terluka parah.
“Kondisinya masih sangat kritis, benturan Mihyun dengan mobil itu sangat keras
hingga menyebabkan Mihyun koma.”
DEG
Hatiku terasa terinjak-injak, sakit sekali. Ini semua karna kesalahanku yang sangat
konyol dan bodoh.
“Tapi ada satu hal yang lebih penting dari kondisi koma Mihyun..” air wajah Dokter
Lee berubah sedikit kaku dan ragu.
“Apa itu dok?”
Dokter Lee mengambil nafas dalam dan dengan berat hati berkata.
“Mihyun mengalami kebutaan, sepertinya sebelum kecelakaan ia sudah memiliki
tingkat kerabunan yang lumayan parah dan semakin fatal karna kecelakaan ini. Tapi aku
akan mencoba mencari pendonor kornea mata unruk Mihyun, semoga selama dia koma
pihak rumah sakit dapat menemukannya.”
[FLASHBACK END]Kuusap aliran air mata di wajahku, aku tak sanggup menerima apa yang terjadi pada
Mihyun. Meskipun Kyuhyun hyung dan keluarga Mihyun tak pernah menyalahkanku, tapi
aku tetap saja merutuki diriku yang terlalu bodoh.
“Hmm Mihyun-ah, kau ingat tidak saat pertama kali kita bertemu? Lalu
menghabiskan waktu bersama?” Aku berbicara seolah Mihyun tengah sadar dan
mendengarku.
“Saat itu hubunganku dan Sehun belum terlalu baik, aku tak punya teman. Tapi, kau
datang dengan senyuman yang sangat indah.”
[FLASHBACK]
Seharusnya anak seumuranku pergi bermain dengan teman-teman sebayanya,
bermain bola, kejar-kejaran, menangkap capung, seperti yang dilakukan Sehun bersama
Kyuhyun hyung saat ini. Tapi aku tak bisa melakukan semua itu, jika aku melakukan kegiatan
yang terlalu menguras energi aku akan lemas dan jatuh pingsan. Sebenarnya aku sangat
ingin bergabung dengan Kyuhyun hyung dan Sehun tapi aku tahu Sehun tak akan mau
bermain denganku.
“Hei.” tiba-tiba gadis kecil berkacamata duduk di sampingku.
“Siapa kau? Sepertinya aku baru melihatmu ?” kupandangi penampilannya dari bawah
ke atas, hmm dia sangat mirip dengan Kyuhyun hyung.
“Namaku Cho Mihyun, tapi kau bisa memanggilku Mihyun saja.” Dia menampilkan
senyumnya, sepertinya otakku memberitahu bahwa aku tertarik dengannya.
“Luhan imnida.” Kubalas senyumannya.
“Ooh sepertinya kau kebih tua dariku, baiklah aku panggil kau oppa. Kenapa oppa tak
bermain juga?” tanyanya dengan polos.
“Tak apa, aku disini saja.”
“Kalau begitu aku akan menemanimu disini.”
“Mmm, apa kau mau jadi temanku?” Sebenarnya aku sedikit ragu menanyakan ini.
“Tentu saja! Kita akan jadi sahabat!” katanya dengan bersemangat. Baru kali ini aku
mempunyai teman, karna biasanya mereka akan menjauhiku karna aku tak mau bermain
kejar-kejaran, bermain bola atau permainan menyenangkan lainnya.
[FLASHBACK END]“Dan semenjak itu, kita seakan tak pernah terpisahkan. Setiap hari kau selalu
bercerita segalanya yang terjadi di sekolah, kesedihanmu, pengalaman lucu,” Entah
mengapa aku ingin menceritakan segalanya pada Mihyun. Lama sekali aku bercerita ini dan
itu, aku sangat merindukan Mihyun. Hari ke hari, aku selalu menunggunya sadar meskipun
saat sadar ia tak dapat melihatku. Mihyun-ah sekali lagi maafkan aku.
**
“Akhirnya tugasku selesai juga, aigoo lelah sekali.” Kuregangkan tubuhku sejenak lalu
membereskan bukuku yang berantakan. Sepulang sekolah aku berkutat di perpustakaan
karena ada tugas yang belum kuselesaikan. Kumasukkan buku-buku dan alat tulis ku.
DEP!
AAH! Sial sakit ini terasa lagi, kepalaku sangat sakit, pandanganku mulai buyar.
Kupaksakan diriku lalu keluar perpustakaan, langkahku mulai gontai. Oh Tuhan jangan
sampai aku pingsan disini. Kunaiki motor sport ku dan melaju secepat mungkin. Tak butuh
waktu lama, aku segera sampai di rumah. Segera kuparkirkan motorku di bagasi.
“YA! Appa kau curang namanya, haha” suara Sehun terdengar keras dan bahagia.
Kulayangkan pandanganku di sekitar halaman rumah. Hmmm, ternyata appa dan sehun
sedang bermain bola.
“Oh hyung! Kau darimana saja? Ayo bergabung denganku dan appa!” ajaknya
semangat, aku hanya membalas dengan senyuman.
“Hey boy! Ayo fokus atau appa akan mengalahkanmu lagi! Haha” appa kembali
bermain dengan Sehun, aku tahu appa tak ingin aku bergabung dengannya dan Sehun. Tak
apa, ini sudah biasa.
Sesampainnya di kamar, kurebahkan tubuhku dan memejamkan mata sejenak sampai
sakit di kepalaku sedikit hilang. Kubuka kembali amplop coklat yang tergeletak di meja. Ku
baca kembali, dan sungguh menyebalkan, mengapa harus terjadi padaku! Ku remas kertas
itu dan membuangnya sembarang. Aku tak peduli dengan anjuran dokter untuk merawatku
di rumah sakit, toh nanti aku akan pergi juga.
Mihyun.
Hanya nama itulah yang ada dalam fikiranku saat ini, hanya dia orang yang begitu
berarti bagiku setelah eomma. Aku tak tahu jika dulu Mihyun tak hadir dalam hidupku, aku akan terus mendekam dalam kesepian. Tapi saat mengingat kejadian itu, segalanya terasa
sia-sia dan ini karna ulahku.
[FLASHBACK]
“Oppa! Kau nakal sekali! Lihat wajahku sekarang belepotan!” katanya sambil
memukul-mukulku. Haha, wajahnya lucu sekali, aku tak henti-hentinya menjahili Mihyun
dengan es krim. Kulihat dia mulai kelelahan lalu duduk dan mebuka kacamatanya, lalu
mengusap wajahnya dengan tissu.
Wow! neomu yeoppo. tak kusangkka Mihyun sangat cantik. Padahal ia hanya
membuka kacamatanya saja. Tak henti-hentinya aku memandangnya. Sungguh ini bukan
seperti Mihyun yang ku lihat sebelumnya, wajahnya yang putih bersih, ditambah bola
matanya yang kecoklatan. Tak pernah kusadari dirinya begitu berbeda dengan gadis lainnya.
Ide jahil ku datanglagi, kuambil kacamatanya ketika ia sedang sibuk membersihkan
krim yang menempel di wajahnya.
“Kacamataku? Oppa! Jangan menjahiliku lagi, dimana kacamataku?” lihat sekarang dia
merengek, membuat penampilannya semakin manis.
“Andwae. Kalau kau menginginkannya, kau harus menangkapku,” tantangku lalu
memeletkan lidah.
“Oppa! Kembalikan! Aku tak bisa melihat apapun! Jebaal!” katanya dengan jalan yang
sedikit meraba-raba
“Kau harus mengambilnya sendiri Mihyun-ah, ayo ambiiil” ternyata menyenangkan
menjahilinya, haha.
DEP!
Sakit sekali, tubuhku mulai goyah aku mulai berpegangan pada tiang, kepalaku seperti
tertusuk-tusuk. Aku semakin lemas.
“Oppa! Kembalikan ka—”
CIIIITT
BRAAAKK!
“MIHYUN-AH!” dengan sekuat tenaga kudekati Mihyun. Mataku membulat melihat
begitu banyak darah dari tubuh Mihyun. Tuhan maafkan aku, sepertinya memang benar
Mihyun tak bisa melihat tanpa kacamata ini dan karna kelakuanku yang konyol Mihyun jadi
begini. Pengemudi brengsek itu malah kabur. Mihyun-ah bertahanlah!
[FLASHBACK END]
Hatiku kembali sakit mengingat kejadian itu. Sekarang aku hanya bisa meratapi
semuanya. Tidak. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya.
**
Kyuhyun’s POV
Menunggu, tak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini selain menunggu yeodongsaengku
sadar. Kupu-kupu diluar jendela ini seolah mengerti perasaanku yang kesepian.
“Annyeong kupu-kupu manis,” jemariku mendekatinya dan dengan tenang ia
bertengger di telunjukku. Kupu-kupu itu sedikit mengepak-ngepakkan sayapnya, lalu ia
kembali terbang dan aku hanya menatapnya yang terbang bebas kesana kemari. Menghela
nafas, lalu melihat kasur itu lagi.
Tek…tek…
Mataku terbelalak. Apa ini bohong? Kulihat jemari Mihyun sedikit bergerak. Tunggu,
ini bukan mimpi. Sedikit kucubit tanganku. Sakit, benar-benar bukan mimpi! Tuhan
termakasih!
“Dokter! Dokter! Adiikku sadar!” aku berlari keluar mencari dokter. Tak butuh waktu
lama, Dokter Lee datang bersama beberapa orang perawat.
“Baiklah tuan, kau bisa tunggu diluar aku akan memeriksanya dulu,” kata dokter
menyuruhku menunggu diluar. Aku hanya menurut dan menunggu diluar, berputar-putar,
mondar mandir. Kuusap pelan wajahku dan memegang pelipisku, perlahan membuang
nafas menyatukan telapak tanganku didepan mulut. Hatiku sungguh tak tenang, menerkanerka apa yang akan terjadi pada Mihyun selanjutnya. Ah ya, Xi Luhan. Aku harus
menghubunginya.Kurogoh sesuatu berbentuk kotak, dan mulai menekan-nekan layar dan kudekatkan
pada telingaku.
“Yeoboseo Luhan-ah,”
Luhan POV
Sial! Mengapa tak mau berhenti, sudah 10 menit aku membersihkan cairan kental
berwarna merah ini dari hidungku.
“aaah!” aku mengerang dan bersandar di pintu toilet, aku tak dapat melihat apapun
dengan jelas semua terasa berputar dan berbayang-bayang.
Drrrt..drrrtt
Ponselku bergetar, dengan sisa tenaga ku sambil terus menopang kepalaku.
“Yeoboseo Luhan-ah,” suara ini,Kyuhyun hyung.
“Yeoboseo hyung, waeyo?”
“Mmm, bisa kau ke rumah sakit sekarang? Mihyun telah sadar”
Aku tak tahu apa telfonku sudah terputus atau tidak, apalagi sakit di badanku.
Sudahlah, masa bodoh aku ingin melihat Mihyun.
@ Seoul Hospital
Aku berlari, keringat yang bercucuran sudah tak kuhiraukan lagi sampai kakiku tepat
berada didepan Kyuhyun hyung berdiri.
“Hyung…”
“Masuklah,” Kyuhyun hyung mengisyaratkan aku untuk masuk. Jantungku berdebar,
menatap yeoja yang sekarang tengah berdiam diri. Dengan ragu kakiku mendekatinya.
“Mihyun-ah..” kuberanikan memanggilnya. Kepalanya menoleh, mencari-cari sumber
suara yang memanggilnya.“Luhan oppa..” suaranya sangat lemah dan kecil sekali. Semakin kutahan kesedihanku,
semakin mataku memaksa mengeluarkan air asin ini. Meraih tangan kecilnya dan
menaruhnya di pipiku.
“Mianhae Mihyun-ah, jeongmal mianhae,” hanya itu yang hatiku inginkan, hatiku
ingin mulutku mengucapkan kata-kata itu. Memang seharusnya aku mengatakannya.
“Oppa.. k-kau menangis? Gwenchana oppa, walau aku tak dapat melihatmu lagi.. aaku tetap senang masih bisa mendengar mu” ucapnya terbata-bata, keadaannya masih
sangat lemah. Mungkin dokter Lee sudah menceritakan segalanya, hatiku semakin sakit
melihat ini. Semacam gerakan reflek, aku menariknya dan merengkuhkannya dalam
pelukanku. Kuusap puncak kepalanya.
“Tenanglah Mihyun-ah, ini hanya sementara, kau pasti akan bisa melihatku lagi. Aku
janji.” Aku tahu tubuhnya masih terlalu lemah untuk membalas kata-kataku.
Kyuhyun POV
Aku baru kembali dari minimarket, membeli beberapa makanan dan minuman dingin
untukku dan Luhan. Hari mulai gelap, dan sepertinya Luhan belum makan siang. Langkahku
berhenti saat Luhan menutup pintu kamar Mihyun perlahan. Wajahnya sangat pucat. Ani,
ini bukan pucat lagi namanya. Wajahnya hampir seperti mayat hidup.
“Luhan-ah ? Gwenchanayeo? Ada apa denganmu?” aku semakin bingung karena
Luhan malah tersenyum.
“Mihyun sudah tidur, hyung.” tubuhnya terhuyung dan
BRUUKK
“YA! Luhan-ah apa yang terjadi padamu? Luhan-ah ireona! Luhan-ah!”
Luhan’s POV
Samar-samar kupandangi ruangan tempatku berada. Hmm ini kamar rumah sakit.
Penglihatanku yang semula kabur kini mulai membaik. Oh ternyata Kyuhyun hyung yang
membawaku kesini, ke tempat yang sebenarnya paling tak kusukai.
“Mengapa kau menyembunyikan ini semua?” tanya Kyuhyun hyung, begitu to the
point. Pasti dia sudah tahu tentang ini, padahal aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk
menutupi ini dari semua orang. Tapi apa mau dikata, sebuah rahasia sekuat apapun
menyembunyikan pasti akan ketahuan juga.“Mianhae hyung, aku hanya tak mau orang-orang jadi memerhatikanku dan
mencemaskanku.” Jawabku sekenanya.
“Tapi penyakitmu ini sudah terlalu parah, Luhan-ah. Aku tidak mengerti kenapa kau
bisa bertahan selama ini tanpa perawatan sedikitpun. Kalau begitu biar kuhubungi Se—”
“Andwae hyung! Kumohon jangan beritahu Sehun atau appa, kumohon!” sebisa
mungkin kutahan Kyuhyun hyung agar tidak menelpon Sehun. Aku tak ingin Appa semakin
membenciku, biarlah aku jalani sisa nafasku yang ada. Biarlah Sehun tetap menjadi
kebanggaan Appa dan jangan sampai ia sepertiku yang bodoh ini.
Kudengar Kyuhyun hyung hanya menghela nafas berat. Mengusap-usap wajahnya.
Mianhae hyung, sebenarnya aku hanya tak mau merepotkanmu.
“Baiklah, tapi untuk beberapa hari ini sebaiknya kau dirawat disini dulu. Setidaknya
sampai keadaanmu membaik, arasseo ?” ujar Kyuhyun hyung tegas.
“Ne, hyung. Mmm, apa kamar Mihyun dekat dari kamarku?” setidaknya aku masih
bisa melihat Mihyun sesekali.
“Jaraknya empat kamar dari sini. Karna kau tak mau aku menghubungi Sehun atau
appamu, aku akan sesering mungkin menengokmu. Sekarang beristirahatlah, ini sudah
malam.”
“Ne, hyung. selamat malam” jawabku singkat. Sepertinya tubuhku terlalu lemas
untuk menjawab kalimat Kyuhyun hyung.
“Baiklah kalau ada apa-apa hubungi aku, aku ingin ke kamar Mihyun dulu”
Kyuhyun hyung pun keluar, ia menutup pintu dengan sangat pelan, hampir tanpa
suara. Mungkin agar aku tak terganggu. Jeongmal gomawo hyung untuk segalanya.
Sosokmu yang lembut tapi bijaksana seperti seorang Appa, terimakasih telah menggantikan
sosok appa dihatiku.
Mungkin inilah yang telah digariskan Tuhan padaku sejak lahir. Ya dari lahir aku sudah
memiliki kondisi fisik yang sangat lemah. Dan appa sepertinya menginginkan anak lakilaki yang kuat, anak laki-laki yang hebat yang akan meneruskan kejayaannya nanti. Appa
mungkin kecewa karna aku bertumbuh bukan seperti yang ia harapkan.
Hingga suatu hari, eomma melahirkan Sehun. Seiring berjalannya waktu, Sehun
tumbuh menjadi anak yang hebat. Ia kuat dan aktif. Perhatian appa pun semakin lebih
padanya, dan aku jadi semakin jarang diperhatikan lagi. Hanya eomma yang masih
memberiku semangat, menyanyikan aku lagu-lagu sebelum tidur dan mengucapkan selamat
tidur atau mimpi indah atau kata-kata indah lainnya. Yah, setidaknya eomma masih bisa
menambah semangat hidupku.**
Hampir setiap hari aku menjenguk Mihyun. Mengajaknya bercanda, berjalan-jalan
sebentar atau menyuapinya makan. Ditambah lagi kehadiran Seohyun noona, dia
yeojachingu Kyuhyun hyung yang ikut menjaga aku dan Mihyun.
Sampai saat ini aku tidak memberi tahu Sehun, appa atau eomma. Aku hanya bilang
aku menginap di rumah temanku.
DEP!
Kurasakan lagi rasa sakit di kepalaku, dan ini 10 kali lebih sakit dari sebelumnya.
“Argh! Sakit sekalii!” aku jatuh terduduk di depan pintu kamarku sampai kurasakan
seseorang memegangi bahuku dan membantuku berdiri.
“Luhan-ah! Harusnya kau beristirahat saja, tak usah menjenguk Mihyun dulu.
Keadaanmu semakin memburuk!” Seohyun noona membantuku masuk ke kamar dan
membaringkan ku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman manis.
“Cakkaman, aku akan memanggil dokter,” kata Seohyun noona yang kemudian
meninggalkanku.
Tak butuh waktu lama dokter datang memeriksaku, dokter hanya menghela nafas.
“Kau memang orang yang keras kepala,” pria berjas putih ini memberikan senyuman
keprihatinan padaku. Ia keluar sepertinya ingin berbicara pada Seohyun noona.
Kupaksakan diriku berdiri dan mendekatkan telingaku ke pintu.
“haaah, tak ada yang bisa kita lakukan. Kanker otaknya sudah mencapai stadium ke
3. Ditambah lagi dengan dirinya yang bersih keras tak mau di kemotrapi. Biarkanlah dia
melakukan apa yang dia mau sekarang.”
Aku tersenyum mendengarnya
“Sudah kuduga.” aku kembali ke tempat tidur. Kusobek kertas dari sebuah buku yang
tergeletak di atas lemari kecil disamping ranjangku, lalu kuambil sebuah pulpen yang berada
didalam lemari tersebut. Tak lama kemudian aku telah sibuk menuliskan beberapa kata
disana.
**Malam ini mungkin akan menjadi malam yang bersejarah. Sudah tak kupedulikan lagi
dokter yang yang melarangku untuk pergi dari kamar. Mungkin inilah puncak dari segala
penderitaan batin yang kualami. Kubuka pintu kamar Mihyun dengan perlahan, kulihat
Kyuhyun hyung baru selesai menyuapi Mihyun.
“Luhan-ah kenapa kau—”
“Hyung, bolehkan aku mengajak mihyun jalan-jalan di sekitar rumah sakit ini? kali
ini saja“ mungkin aku lancang memotong pembicaraan Kyuhyun hyung, tapi biarkan aku
melakukan ini untuk terakhir kalinya.
Kulihat Kyuhyun hyung mengangguk dengan berat hati.
“Kamsahamnida, hyung.”
“Kajja Mihyun-ah,” aku tersenyum dan menuntun Mihyun keluar dari kamarnya.
@ Halaman belakang Seoul Hospital
“Mihyun-ah! Kau tahu?” nada suaraku terdengar bersemangat, padahal aku sedang
menahan sakit di kepalaku yang luar biasa.
“Tahu apa oppa?” tanya Mihyun yang tengah membaringkan kepalanya diatas
pangkuanku.
“Hari ini bintang dilangit sangat indah. Dan kau seperti ribuan bintang di langit itu,
begitu cantik dan indah,”
“Haha, oppa kau terlalu berlebihan!” memang terdengar geli, tapi aku sedang serius.
“Mihyun-ah, tetaplah menjadi bintang. Bintang yang selalu bersinar di hatiku, ne?
Besok kau akan bisa melihat lagi,” mencoba menahan suaraku agar tidak bergetar, aku tak
ingin Mihyun tahu aku menangis.
“Oppa jinjja ? aku akan melihatmu kembali? Oppa aku sangat senaaang” katanya
begitu riang. Maafkan aku, Mihyun-ah. Kau akan lebih baik jika tak melihatku lagi. Biarlah
mata ini yang akan menemani dirimu, menggantikan posisi jiwaku di dalam sepasang mata
ini. Aku dan Mihyun terdiam dan berkutat dengan pikiran masing-masing. Kuhadapkan diriku ke langit, kurasakan aliran hangat dari hidungku, darah ini keluar lagi. Tak kupedulikan
lagi dinginnya malam yang menusuk sampai ubun-ubun kepalaku.
Aku tersenyum. Tugasku sudah selesai.
Setelah membawa Mihyun kembali ke kamarnya, kini saatnya aku tidur. Aku lelah
dengan semua yang kuhadapi selama ini. Kubuka pintu kamarku, pandanganku sudah buyar
namun masih nampak bayangan appa, eomma, Sehun, Kyuhyun hyung, dan Seohyun noona
yang sedang berkumpul disini. Dengan sisa tenaga ku, aku mulai berbicara.
“Appa, aku tahu aku bukan anak yang apa harapkan,” aku tersenyum getir.
“Mianhae untuk segala kekuranganku aku tidak bisa menjadi anak yang kuat anak
yang hebat yang dapat melindungi keluarga ini. Maafkan aku karna aku tak bisa menjadi
kehormatan dalam hidup appa. Tapi appa tenang saja sehun telah memiliki semuanya ne ?
appa bisa membanggakan sehun” samar-samar kulihat appa menangis, mungkin juga aku
salah lihat entahlah. Kupalingkan wajahku dari appa, kupandang Sehun lalu tersenyum.
“Aish Sehun-ah! Kau semakin tampan saja ya, Haha, jadilah anak yang hebat. Jadilah
kebanggaan appa, ne? Aku tahu appa sangat membutuhkanmu, jangan seperti aku yang
pabbo ini! Teruslah bersemangat!” kurasakan tangan Sehun menggenggam tanganku.
Sekarang eomma. Tuhan, sedikit lagi sampai aku selesai dengan Kyuhyun hyung juga
Seohyun noona.
“Eomma, saranghaeyo. Terimakasih telah menyemangati hidupku. Maafkan aku kalau
aku menyembunyikan penyakit ini pada eomma. Aku memang anak nakal, haha. Eomma
jangan khawatir lagi, aku tidak akan merepotkanmu lagi.” Aku tak mau menangis didepan
eomma, aku tak ingin melihat eomma terpuruk.
Aku menatap Kyuhyun hyung dan Seohyun noona.
“Kyuhyun hyung, terimakasih untuk perlidunganmu perhatianmu padaku, kau
memang hyung yang hebat dan Seohyun noona juga sangat baik padaku, dia juga sangat
cantik hehe. Aku harap kalian bisa selamanya bersama,” aku tersenyum.
“Hyung, berikanlah mataku ini pada Mihyun. Biarlah Mihyun dapat menikmati
indahnya dunia ini. Dia pasti sangat senang.”
Selesai. Selesai sudah aku mengutarakan isi hatiku. Sekarang aku ingin tidur, aku lelah.
Perlahat kupejamkan diriku, selamat tidur semua, maafkan aku yang bodoh ini.
Author’s POVRintik-rintik hujan menemani sekumpulan orang-orang berpakaian hitam. Langit
seolah ikut meneteskan kesedihan, seorang pria dengan tangannya yang sudah berkerut
mengusap pelan nisan yang ada di hadapannya.
“Luhan-ah, bahkan kau belum memberikan appa kesempatan untuk merubah
segalanya. Kau memang anak yang baik anakku, appa memang sangat bodoh, maafkan
appa,”
Punggung pria itu bergetar dihadapan makam anaknya. Tapi ini semua sudah
terlambat, Tuhan sudah meminta Luhan untuk kembali bersamanya. Tak ada yang bisa
menahan ini semua, sekarang Mihyun sudah pasti dapat melihat dunia ini dengan sangat
jelas.
Sehun kembali menatap surat yang diberikan hyungnya, disana tertulis jelas bahwa
ia harus menjaga Mihyun. Dan sekarang Mihyun harus hidup tanpa Luhan, melainkan
bersama Sehun.
END
Akankah ini berakhir ?
Tidak, ini bukan novel atau drama yang berakhir begitu saja, justru kehidupan yang
sebenarnya baru dimulai. Dimana Mihyun harus merasakan segalanya menjadi berbeda,
dimana ia harus terlibat dalam pergumulannya di sekolah dan hidupnya bersama Sehun.
Bukan Luhan yang selalu riang lagi yang akan menemaninya.
TBCProlog next chap
“Luhan oppa? Oppa kau dimana?”
“Dia sangat mirip, tapi berbeda.”
“Sehun-ah, siapa yeoja ini?”
“Pergilah! Jangan menggangguku!”
“Kim Jongin imnida, kau bisa memanggilku Kai”
Huaaa huaa huaa akhirnya selesai juga buatnya dengan susah payah. Hehe gimana ?
kurang sedih ya ? maapin author ya chingu. Karna umur author yang masih belia #ceilaaah
jadi mohon dimaklumi kalau ceritanya kurang mendalam. Oh ya di chapter ini kainya belum
ada yah ? tenang aja di next chap author tampilin deh. Kalau mau comment silahkan author
malah seneng banget, tapi kalo gamau itu hak readers semua kok ;). Mungkin segini dulu
deh, sampai ketemu di chapter 2 annyeeooong! *pergi naik burung phoenix*

18 pemikiran pada “A Whole New World (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s