Bleeding Love (Chapter 1)

Bleeding Love (Chapter 1)

Author: nividiandra

Cast: Kim Jongin a.k.a. Kai, Lee Hyorin (OC), Kim Yura (OC), and other.

Genre: Romance, friendship

Length: Multichapter

Happy Reading^^

Hyorin POV

“Lee Hyorin ireona! Lee Hyorin ireona!” Aku mencoba menggapai benda yang mengeluarkan suara tadi. Benda itu berada tepat di atas meja kecil di sebelah tempat tidurku. Setelah mendapatkan benda yang kucari, akupun mematikannya. Aku tidak berusaha untuk bangun, malah berusaha untuk tidur kembali.

“Yaa Lee Hyorin-ah! Kau yakin kau ingin dihukum?” Seru bibi sambil menggedor pintu kamarku yang berwarna coklat itu.

“Mwo? Aku masih mengantuk!” Seruku sambil menarik selimut hingga menutupi kepalaku.

“Yaa, kau buta atau apa? Lihatlah jam berapa sekarang!” Balas bibi sambil terus menggedor pintu kamarku. Dengan setengah mengantuk, aku meraih benda itu.

“Mwo?! Jam 6?!” Akupun segera meloncat turun dari tempat tidur dan hampir saja terjatuh karena terpeleset selimut yang jatuh di lantai. Tanpa babibu, aku segera membuka pintu kamarku dan berlari menuju kamar mandi sampai-sampai aku hampir terpeleset.

***

“Hyorin-ah, jangan lupa bekalmu!” Seru bibi dari dapur.

“Ne, tunggu sebentar!” Balasku sambil berlari ke arah bibi. Akupun menyambar kotak makan berwarna biru itu dari tangan bibi lalu kembali ke ruang tamu untuk mengambil tas dan akhirnya berlari keluar rumah.

“Annyeonghaseyo bibi!” Kulirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.

“Mwo?! Jam 6.30?! Mati aku! Mana mata pelajaran pertama hari ini Bahasa Inggris pula! Bisa mati aku di tangan songsaenim killer itu!” gumamku sambil terus berlari menuju halte bus. Untungnya, masih ada bus yang berhenti di halte itu. Akupun segera berlari masuk ke dalam bus dan segera duduk di kursi kosong di bagian paling belakang. Aku mencoba mengatur napasku yang tidak berirama, juga jantungku yang berdetak cepat. Setelah itu, aku mengambil ipodku lalu memasang headset di kedua telingaku dan menyetel lagu Sunny & Luna – It’s Me. Kulirik ke arah jendela, langit kota Seoul hari ini rupanya sedang tidak bersahabat. Awan berwarna abu-abu menguasai langit Seoul hari ini. Kulirik ipodku. Pantas saja, gambar ramalan cuaca di ipodku mengeluarkan tetesan air hujan. Seoul hari ini hujan.

***

Akupun berjalan menuju kelasku yang terletak dekat dengan taman belakang sekolah yang penuh dengan berbagai macam bunga. Suasana sekolah cukup ramai pagi itu.

Sesampainya di kelas, aku mendapati Yura sedang melambai ke arahku, dan itu tandanya menyuruhku untuk menghampirinya.

“Yaa, Hyorin-ah, sini duduk di sampingku!” Serunya dari kejauhan. Akupun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Waeyo? Tumben kau segirang ini.” Tanyaku sambil duduk di sebelahnya.

“Ani… Hanya, kau tau, semacam… Ya pokoknya begitu lah.” Jawabnya sambil tersenyum misterius.

“Aish kau ini. Sama sahabat sendiri saja main rahasia-rahasiaan. Yasudah, aku mau mendengarkan lagu dulu.” Akupun mengambil kembali ipodku dan memasang headset di kedua telingaku lalu menyetel lagu EXO-K – Angel. Tiba-tiba saja, mataku menangkap seorang namja yang cukup tinggi, dengan wajah dingin, berjalan masuk ke kelas dan duduk tepat di belakangku dan Yura. Karena penasaran, akupun bertanya pada Yura.

“Yaa, Yura-ah, siapa namja dingin yang dibelakang kita ini?” Tanyaku sambil berbisik.

“Dia? Dia murid baru, namanya Kim Jongin, tapi biasa di panggil Kai. Itu sih yang kudengar kemarin dari perkenalannya.” Katanya sambil tetap terfokus pada novel yang ia baca.

“Mwo? Oh iya, kemarin kan aku tidak masuk.” Kataku sambil menepuk dahiku.

“Waeyo? Kau menyukainya?” Tanyanya.

“Mwo?! Ani!” Seruku.

“Kenapa bertanya tentangnya padaku? Kenapa tak bertanya sendiri padanya?” Katanya mencibir. Alhasil, akupun menjitak kepalanya dengan sepenuh hati (?)

“Yaa, apa-apaan kau yeoja pabo!” Serunya sambil mencubit lenganku.

“Salah sendiri kenapa mencibirku.” Balasku.

“Bisakah kalian dua nona yang di depanku ini tidak ribut sebentar saja?” Tanya seseorang di belakang kami dengan suara datar sambil tetap terfokus menulis entah apa.

“Eh, mianhae Kai.” Serentak kami berdua mengatakan hal tersebut lalu kembali pada kegiatan kami yang sebelumnya. Setelah itu, Jung songsaenim pun masuk dan mulai mengajar.

—–

End~

Author POV

Setelah kelas Jung songsaenim selesai, semua murid yang lainnya berhamburan keluar, tapi tidak dengan 3 murid lainnya, Kai, Hyorin, dan Yura. Mereka lebih memilih diam di kelas sambil tetap melanjutkan aktivitas mereka tanpa saling bertegur sapa sekarang. Kai terfokus menulis entah apa, Yura terpaku pada novelnya, dan Hyorin sibuk menulis di blognya sambil mendengarkan lagu. Suasana kelas begitu tenang dan damai sampai… Jessica dkk masuk kelas.

“Hey lihat, ada anak kutu buku tuh!” Seru Jessica lalu disambut tertawa yeoja lainnya.

“Iya ya, kenapa dia sejelek itu sih?! Apa dia tidak mau menjadi sexy seperti kita?” Celetuk Yoona dan disambut anggukan yeoja yang lainnya. Mendengar hal itu, Hyorin dan Yura hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan kegiatan mereka yang terhenti karena yeoja-yeoja aneh itu. Tiba-tiba, suara bantingan keras mengagetkan Hyorin.

“Hey, kau ini! Tak ada kerjaan lain apa ya?!” Seru Gwen, chingunya Jessica, sambil menutup kasar laptop Hyorin. Hyorin hanya menghembuskan napas panjang dan bersandar di kursinya.

“Apa yang kalian inginkan?” Tanyanya datar.

“Apa yang kami inginkan? Melihat kutu buku ini ditendang dari sekolah!” Celetuk Gwen.

“Yaa, nona-nona pabo! Bisakah kalian tidak ribut sebentar saja?! Suara kalian begitu cempereng, terutama kalian!” Seru Kai sambil menatap sinis Gwen, Jessica, dan yeoja-yeoja lainnya. Yeoja-yeoja yang ditatap Kai hanya tersenyum miris dan mendengus kesal lalu kembali ke tempat mereka.

“Gomawo Kai-ssi.” Kata Hyorin sambil menoleh ke arah Kai. Sementara Kai, hanya diam dan tetap terfokus pada pekerjaannya. Melihat hal itu, Hyorin hanya tersenyum tipis dan kembali menulis blognya.

End~

Hyorin POV

Aish, ada apa sih dengan namja ini? Aneh sekali tingkah lakunya. Tak pernahkah ia mengenal kata senyum dalam hidupnya? Baru pertama kali aku melihat namja seaneh ini menapakan kakinya di muka bumi ini. Tak pernahkah dia tau arti ‘senyum’? Aku mendengus kesal dan menatap ke layar laptopku, tak kusadari, aku menulis semua tentang namja itu. Aku mencoba menoleh ke arah Kai. Bagus. Dia tak melihatnya. Yasudah, karena sudah terlanjur, aku post saja tulisanku yang tadi itu.

—–

“Lee Hyorin-ah, mau pulang atau tidak?” Tanya Yura sambil merapikan isi tasnya.

“Ne, tunggu sebentar ya, aku ke toilet dulu. Nanti kita ketemu di gerbang.” Jawabku. Akupun berjalan keluar kelas dan menuju ke toilet.

Baru sampai di toilet, Jessica dan Gwen masuk dan mengunci pintu toilet. Mereka tersenyum licik ke arahku sambil memamerkan kunci pintu toilet yang sedang Jessica pegang. Apa bagusnya kunci toilet?

“Apa yang kalian inginkan dariku?” Cibirku sambil membasuh wajahku dengan air. Gwen pun menarik kausku dan mendorongku hingga menabrak pintu kamar mandi.

“Kau, kutu buku, bisakah kau tidak macam-macam sekali saja? Kau tau, kami sangat kesal dengan kelakuanmu setiap hari. Kau pikir kami tidak tahu tulisan-tulisan yang telah menghina kami itu, Lee Hyorin-ah?!” Jelas Gwen panjang lebar. Aku hanya bisa terbelalak kaget dan menelan ludah sambil menahan tawaku, lalu membetulkan letak kacamataku.

“Lalu?” Tanyaku singkat sambil menyeringai.

“Kami ingin… Kau dikeluarkan!” Seru Jessica, dan…

PLAK!!!

Sebuah tamparan kasar mendarat mulus di pipi kananku.

“Terus?!” Seruku berusaha memberontak.

“Kami akan menguncimu disini!” Seru Gwen lalu mendorongku hingga terjatuh dan berlari bersama Jessica keluar dari toilet dan mengunci pintu toilet.

“Yaa, yeoja jelek! Buka pintunya!” Seruku dari dalam sambil menggedor-gedor pintu putih itu. Namun, hanya ada gelak tawa dua yeoja gila itu.

End~

Kai POV

Kuajak kedua kakiku ini melangkah ke kamar mandi. Niatku? Hanya cuci tangan. Namun, belum sampai di toilet, kudengar suara teriakan seorang yeoja dan mendapati Gwen dan Jessica sedang tertawa-tawa di depan pintu toilet. Aku tau siapa yeoja itu. Akupun menguping pembicaraan kecil-kecilan mereka.

“Biar tau rasa si kutu buku itu!” Celetuk Gwen dan disambut tawa Jessica. Belum sampai semenit, aku sudah berdiri di depan mereka dan membuat mereka terlonjak kaget.

“Apa lagi yang kau lakukan pada yeoja itu?” Tanyaku sinis yang membuat senyuman mereka lenyap begitu saja, seperti baru dihisap pasir.

“Eh, itu, kami…”

“Cepat berikan kuncinya atau kulaporkan pada kepsek?”

“Tidak akan pernah! Untuk apa kau membantunya?”

“Karena… Dia temanku, tentu saja.”

“Lalu?”

“Baiklah, begini saja. Kuberi kalian tiga pilihan. Pertama, kulaporkan pada kepsek dan kalian selamat. Kedua, berikan kuncinya dan kalian selamat. Atau aku buat kalian babak belur?” Tanyaku sinis.

“Mwoya?! Tak ada kah pilihan lain?!” Seru mereka berdua yang membuatku mengerjap-ngerjapkan mataku.

“Ani! Kalian mau selamat… Atau tidak?” Tanyaku lagi.

“Yasudah. Nih! Selamatkan tuh kutu bukumu!” Seru Gwen lalu mereka berkacak pinggang dan pergi begitu saja.

“Aish, dasar yeoja centil.” Gumamku dalam hati. Diam-diam, aku membuka pintu toilet, mengetuk pintu, dan langsung bersembunyi sebelum dilihat Hyorin.

“Siapa ya tadi yang menolongku? Padahal baru saja aku mau berterima kasih padanya.” Yeoja itupun mendengus kesal sambil meniup poninya lalu berjalan menuju pintu keluar kampus. Akupun berjalan dibelakangnya tanpa ia ketahui.

End~

Hyorin POV

Aish, siapa sih yang mengikutiku? Daritadi aku menoleh ke belakang, tak ada tampak satu batang hidungpun. Apa perasaanku saja atau apa ya? Hiii~ serem~ Akupun mempercepat langkahku dan akhirnya bertemu dengan Yura yang sedang berkacak pinggang di dekat gerbang. Akupun menepuk pundaknya dan membuatnya terlonjak kaget.

“Kenapa lama sekali?” Tanyanya sambil mendengus kesal.

“Mianhae, tadi ditahan sama yeoja-yeoja centil itu. Biasalah, fans heheh.” Jawabku. Alhasil, akupun mendapat jitakan dari Yura.

“Yaa, kau ini terlalu geer atau apa?!” Serunya. Lalu, ia pun menatap ke belakangku.

“Sepertinya, ada yang menjadi penguntitmu tuh.” Katanya sambil tersenyum misterius.

“Mwo? Nugu? Dia hanya menghabiskan waktunya saja membuntuti kutu buku sepertiku.” Akupun menoleh, tapi, tak ada satu orang pun.

“You lie to me, Yura-ah?” Tanyaku.

“Of course not! Tadi benar-benar ada…” Jawabannya terputus dan dia membeku di tempat.

“Ada siapa?” Tanyaku bingung.

End~

Yura POV

“Of course not! Tadi benar-benar ada…” Pandanganku kembali terpaku pada Kai yang mengisyaratkanku dengan tatapannya. Aku yakin dia berkata ‘jangan-beritahu-dia-atau-kubunuh-kau’ begitulah kira-kira.

“Ada siapa?” Tanya Hyorin bingung lalu mengikuti pandanganku ke belakang punggungnya. Aku bisa bernapas lega melihat Kai dengan cepat bersembunyi lagi.

“Ani. Kajja!” Seruku sambil menarik tangannya.

End~

Hyorin POV

Setan apa yang merasuki tubuh Yura? Dan kenapa setan itu mau? Apa yang Yura lakukan sih sebenarnya? Aish, Yura benar-benar so weird hari ini. Apa dia berhalusinasi tadi ya? Ah sudahlah, tak perlu dipikirkan.

***

“Bibi, aku pulang!” Seruku sambil mendorong daun pintu coklat rumahku. Aneh, tak ada satu sahutan pun? Biasanya bibi akan menjawab ‘Ya aku tau itu dirimu, cepat rapikan dirimu.’ atau ‘Yasudah, cepat sana rapikan dirimu.’ Tapi, kali ini benar-benar hening. Tunggu, apa yang kusentuh dengan kakiku barusan? Aku mencoba menoleh kebawah, dan…

“BIBI?!” Aku mencoba mendekap mulutku dengan kedua tanganku lalu berlutut di depan bibiku. Kuletakkan jari telunjukku di depan hidung bibi. Masih bernapas. Syukurlah. Namun, wajah bibi begitu pucat. Akupun berlari keluar rumah untuk mencari taksi. Setelah mendapatkan taksi, aku menggendong bibi lalu membawanya ke rumah sakit.

***

Dokter pun keluar sambil menghembuskan napas lega.

“Dok, bagaimana keadaan bibi saya?” Tanyaku sambil menghampiri dokter.

“Gwaenchanayo. Bibimu hanya sedikit lelah. Tapi, ia harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.” Jelas dokter.

“Baiklah. Bolehkah saya melihatnya sekarang?”

“Tentu saja.”

“Kamsahamnida.” Akupun membungkuk pada dokter dan berjalan menuju kamar tempat bibi dirawat. Kulangkahkan kedua kakiku menuju tempat tidur bibi. Bibi membuka kedua matanya dan kedua ujung bibirnya terangkat, menyunggingkan seulas senyum tulus.

“Bi, bibi istirahatlah. Biar kutemani hari ini.” Kataku sambil duduk di sebelah tempat tidur bibi.

“Tak perlu. Kau pulang saja. Lagipula, rumah tadi begitu berantakan. Kau tak perlu mengkhawatirkan bibimu yang sudah tua ini.”

“Tapi bi…”

“Kau ini mau bibi marahi atau apa?!” Aish, bibi ini, sakit tapi masih saja bisa mengomel-ngomel.

“Ne, bi. Arasheo. Annyeong.” Akupun melangkahkan kakiku keluar rumah sakit.

End~

Author POV

Hyorin melangkahkan kakinya yang mungil di trotoar sambil menikmati suasana kebisingan kota Seoul. Gadis kutu buku itu melangkahkan kedua kakinya menuju halte yang ada di dekat rumah sakit tempat bibinya dirawat. Akhirnya, ia pun duduk di kursi tempat menunggu di halte itu. Manik mata coklatnya tak bisa lepas menatap ramainya kota Seoul sore itu. Hingga seorang namja datang dan duduk disampingnya. Reflek Hyorin pun menoleh dan terlonjak kaget begitu mengetahui namja itu…

“KAU?!”

To Be Continued

Iklan

4 pemikiran pada “Bleeding Love (Chapter 1)

  1. Alahkah indahnya(?)
    kta bibi dignt jd ajhuma.hehehe lbh enak dialognya.hanya saran kok saeng^_^

    Scr keseluruhan dah bagus hbsnya.

    Ditnggu part 2 saeng.jng lama2 ya.
    Authornya pasti dibwh 91linekan.hehehe soalnya akyu 91^_^

  2. annyeong author !
    i like this FF so much !! #gananya
    tp bneran thor, aku suka.. jadi jangan sampe brenti di tengah jalan ya, kudu dilanjutin ! #maksa .. hahahahaha 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s