Endless Love (Part 5)

fhfdj

TITTLE: Endless Love (Part 5)

CAST: Oh Sehun

Amelia Salisbury / Ri Ah (oc)

Krystal Jung

Byun Baekhyun

Author: AAL (@adlnayu / @deerjongin)

Genre: romance, family, friendship

Length: Chapter

Sehun’s POV.

“Se-Sehun?”

“Ri Ah?”

Aku mengerjapkan kedua mataku. Sisa vanilla latte yang tadi masih tercecap dilidahku seketika memudar. Seiring dengan pandangan mataku yang semakin lama semakin jelas, aku bangkit berdiri. Lalu berjalan menuju seorang wanita berambut merah yang sedang berdiri tegak di tengah-tengah Flower Cafe.

“Apa maksud mu-Hei!”

Baru saja aku ingin menghampiri Ri Ah, namun wanita itu tiba-tiba memundurkan langkahnya lalu berlari secepat kilat keluar dari Cafe. Dan secepat kilat juga aku mengangkat kaki lalu ikut berlari keluar untuk mengejarnya.

“Tunggu!”

Aku mecengkram lengan kurusnya. Lalu membalikkan tubuhnya dengan sekali sentakkan, “Lihat aku!”

Poni nya yang panjang menutup sebagian wajahnya, sehingga aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas. Kujulurkan tanganku untuk mengangkat dagunya pelan. Matanya merah.

“Ri Ah kamu…..”

“Sehun.” Potongnya. Wanita itu berusaha melepaskan cengkramanku dari lengannya namun tidak berhasil, “Tolong, anggap yang tadi itu hanya….”

“Apa itu benar?”

“Sehun, aku-”

“Apa itu benar?” Kuulang pertanyaanku. Kini dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya, “Yang kamu katakan tadi. Apa itu benar?”

Wanita itu terlihat sedang menahan nafasnya. Kedua bola matanya sedari tadi sibuk menghindar dari manik mataku.

Saat ia berteriak bahwa ia menyukaiku, dapat kurasakan seluruh suara yang terdengar di Cafe itu kontan melenyap. Hanya ada keseningan canggung yang mengisi udara. Aku sudah menyadari keberadaannya semenjak teman laki-lakinya yang bermata sipit itu berteriak. Sontak saat itu aku menoleh dan terkejut saat menemukan Ri Ah ada di tengah-tengah Cafe.

“Ri Ah, jawablah.” Kataku lagi, “Apa itu ben-”

“SEHUN!”

“Ck, apa lagi sekarang?” Aku memutar kepalaku malas saat mendengar suara Chen dari arah belakang, “Chen, aku sedang sibuk, tolong jangan….”

Pria itu berjalan cepat kearahku. Wajahnya kelihatan sangat pucat, “Captain Alan meninggal Sehun-ah.”

“Ap….” Kini, giliran aku yang memucat. Genggaman tanganku pada lengan kurus Ri Ah merenggang. Captain Alan. Seniorku. Idolaku. Guruku. Sahabatku. Pengganti Ayahku.”Ba-bagaimana bisa?” Tanyaku getir.

Chen menjelaskan dengan nafasnya yang masih memburu. “Serangan jantung. Ia meninggal saat baru saja mau melakukan take off ke Hongkong.”

“Hongkong?!” sedetik kemudian aku baru menyadari sesuatu, “Krystal ada disana!”

“Tenang. Sebelum pesawat lepas landas, kondisi sudah diamankan. Jadi kau tenang saja.” Chen memasukan ponselnya ke dalam saku celana, “Tapi lebih baik kita ke bandara sekarang untuk memeriksa keadaan. Ayo.”

“Tapi……” Aku melirik kearah seorang wanita yang masih berdiri disampingku. “Chen, sepertinya kau duluan saja nanti aku menyu-”

“Tidak.” Ri Ah mengangkat wajahnya, “Kau pergi saja Sehun-ah. Kalau tidak, nanti kau akan menyesal karena tidak bisa melihat Captain mu it-”

“Malah aku akan menyesal jika melepaskanmu sekarang.” Potongku.

Wanita itu langsung bungkam. Namun tak lama kemudian ia kembali membuka mulutnya, “Aku takkan kabur.”

“Apa?”

Wanita itu tiba-tiba merogoh tasnya. Mengambil secarik kertas dan pulpen. Lalu menulis sesuatu disana. Setelah selesai, ia memberikan secarik kertas itu padaku, “Ini nomor ponselku. Hubungi setelah urusanmu selesai.”

“Ri Ah-ya…”

“Dan apa kau lupa bahwa kita ada janji bertemu besok?” Tanyanya berusaha rileks, “Kau bukannya tidak akan bertemu denganku lagi seperti dulu kan?”

Ia menekankan kata ‘dulu’ dengan menaikkan suaranya. Aku akhirnya mengangguk juga, “Baik. Besok. Jangan lari atau aku akan mencarimu.”

Aku memutar tubuhku dan mengisyaratkan Chen untuk kembali ke mobil terlebih dahulu. Baru saja aku ingin melangkah pergi, namun tiba-tiba telingaku mendengar suara wanita itu kembali bicara,

“Aku tak pernah lari.” Wanita itu berkata pelan, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas “The one who always run away from me… From us… Is you Sehun-ah.”

***

Sehun’s POV

Pemakaman Captain Alan dilaksanakan sore harinya. Kerabat dan rekan kerja yang selama ini telah bekerja dan menyayanginyapun ikut mengantar kepergian lelaki paruh baya baik hati itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Disampingku, Krystal meremas ujung jas hitamku kuat-kuat.

“Kalau mau menangis, menangis saja….” Kataku lembut sambil mengelus puncak kepala wanita ini. Krystal bukan orang yang mudah untuk menunjukan ekspresinya. Jadi, sulit baginya untuk mengeluarkan setitik air mata.

“Tidak… Aku baik-baik saja.” Ia menggeleng. Namun wajahnya yang pucat seakan mengatakan bahwa wanita ini telah berbohong. Jadi aku memutuskan untuk membawanya kembali ke mobil dan mengantarnya pulang.

Oppa.” Panggil Krystal saat kami sudah dalam perjalanan menuju rumahnya, “Apa kau pernah kehilangan seseorang?”

“Maksudnya? Kehilangan dalam hal apa?” Tanyaku sambil tetap memusatkan pikiranku pada jalan raya.

“Kehilangan karena…. Kematian. Seperti Captain Alan tadi.” Kata wanita itu pelan. Suaranya terdengar bergetar. Sepertinya sebentar lagi akan terjadi adegan banjir air mata di mobil ini.

Captain Alan dan Krystal memang sangat dekat. Lebih tepatnya, pria setengah baya itu dekat dengan seluruh awak kabin. Ia juga adalah orang yang pertama kali mengucapkan selamat saat aku dan Krystal bertunangan. Pria itu sudah seperti ayah kedua bagiku, dan kematiannya yang mendadak adalah sesuatu yang tidak pernah kusangka dan kuinginkan.

Aku mencoba mengingat-ingat, “Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?”

“Sekalipun tidak pernah? Misalnya, kehilangan sahabat karena meninggal gitu?” Merasa bahwa pertanyaannya berlebihan, Krystal cepat-cepat meralatnya, “Eh, maaf-maaf. Kalau tidak mau dijawab juga tidak apa-apa.”

“Hmmmmmmmmmm.” Aku kembali berfikir, “Kehilangan sahabat karena kematian? Sepertinya tidak pernah.” Entah kenapa aku jadi teringat akan seseorang, “Tapi kalau kehilangan sahabat karena kebodohanku sih…pernah.”

“Oya? Bagaimana bisa?” Tanyanya antusias.

Aku tersenyum mendengar nada suaranya yang sudah kembali ceria. Pikiranku langsung menerawang. Melesat kembali pada kenangan masa lalu tentang kami. Tentang Aku dan sahabatku. Tentang Kai. “Aku dan sahabatku itu sudah saling mengenal sejak lahir. Kami selalu bersama. Kami tahu sesuatu tentang diri masing-masing lebih dari orang lain. Sahabatku itu tahu semua hal-hal jelek yang ada didiriku. Begitu pun sebaliknya. Tapi, kami tidak peduli. Manusia bukanlah mahluk yang sempurna, karena itulah kita membutuhkan orang lain untuk melengkapinya kan?”

Wanita itu mengangguk-angguk mengerti, “Lalu? Apa yang terjadi dengan persahabatan kalian?”

“Kami….” Aku terdiam sebentar, “Ah, tidak. Sebenarnya, aku yang membuat persahabatan kami menjadi seperti ini.”

“Seperti ini itu, maksudnya seperti apa?”

“Ya….” Aku memutar kedua bola mataku. Mencari kata yang cocok, “Yah…. Renggang mungkin?”

“Memang apa yang sudah Oppa lakukan?”

“Aku…ah, maksudnya kami, saat itu menyukai gadis yang sama.” Melihat raut wajah Krystal yang berubah kaku, aku cepat-cepat menjelaskan, “Hei,Hei itu dulu loh. Saat aku SMA. Kalau sekarang sih, tidak lagi.”

Semoga.

“Lalu apa yang selanjutnya terjadi?” Tanya wanita itu lagi.

“Aku… Dia…. Sahabatku itu lalu menjalin cinta dengan gadis itu.”

Krystal membulatkan kedua matanya, “Gadis itu menolak Oppa?”

“Yah…..itu…..” Aku jadi bingung menjawabnya saat mengingat adegan Ri Ah yang berteriak bahwa ia mencintaiku di Flower Cafe tadi. Apa kah itu bohong? Ataukah….perasaan cintanya pada Kai selama ini yang hanya sebuah dusta? Kalau benar begitu….berarti perasaan Kai lah yang selama ini…

Oppa?”

“Ah, kita sudah sampai.” Aku memarkirkan mobilku disamping sebuah gedung apartemen. Lalu membuka sabuk pengaman,”Mau ku antar?”

“Hmmmm nggak usah deh. Oppa pulang saja. Pasti kau masih shock akan kematian Captain Alan kan?”

Aku memutar kedua bola mataku sambil tertawa, “Lihat siapa yang bicara. Bukannya yang sedari tadi menahan tangis itu kau?”

Krystal tertawa. Wanita itu membuka sabuk pengamannya lalu melompat keluar dari mobil. “Oppa besok ada sesi wawancara kan? Kalau begitu, see you tomorrow.” Ia melambaikan tangannya lalu berjalan masuk ke dalam gedung pencakat langit itu.

Aku menghela nafas lega. Untung wanita itu lupa dengan pertanyaannya.

Namun, percakapan kami tadi benar-benar mengingatkanku akan sesuatu. Bahwa aku sangat merindukan sahabatku. Aku rindu dengan Kai. Suara tawanya, kerlingan matanya yang jahil, cerita-cerita serunya yang seakan tak pernah habis, aku rindu semuanya.

Sudah tujuh tahun semenjak kami terakhir bertemu. Sekarang, si bodoh itu seperti apa ya?

***

Ri Ah’s POV

Aku memutuskan untuk memusuhi Baekhyun dan tidak ingin bicara dengannya selama satu bulan penuh. Pria itu bilang aku berlebihan dan kekanak-kanakkan. Tapi, aku tidak peduli. Salah sendiri, mengapa pula ia nekad menjebakku saat di Cafe kemarin.

Baekhyun juga sudah melancarkan aksi sogok menyogok untuk minta maaf. Ia membelikan seloyang red velvet kesukaanku. Dan membelikan Seri boneka beruang super besar. Tapi, sorry ya, aku nggak bisa disogok.

“Oh, Amelia my dear… I’m sorry… I’m so so soooryyyyy. Got it?”

No.” Jawabku acuh. Sebelah telingaku sudah panas karena sedari tadi Baekhyun tidak henti-hentinya meminta maaf padaku via telepon, “Sudah ya, aku harus bekerja.”

Tanpa mendengar omongannya, aku langsung mematikan ponselku lalu  menyusrukkannya ke dalam tas. Ada yang lebih penting daripada sekedar permohonan maaf. Hari ini aku harus menjelaskan semuanya. Semua, yang terjadi kemarin. Tentang ketidak sengajaan itu, dan pernyataan cintaku.

“Kau Amelia kan?”

Aku menolehkan tubuhku, lalu menemukan seorang wanita dalam balutan pramugari berwarna biru tua. Kedua alisku berkerut. Wajahnya terlihat familiar, “Krystal Jung?” Tebakku.

“Ya.” Wanita itu tersenyum, “Kau datang kesini untuk mewawancarai Sehun Oppa?”

“Iya. Apa kau tau dia dimana? Aku sudah menunggu di lounge bandara sejak dua puluh menit yang lalu, tapi dia masih tidak kelihatan.”

“Sehun Oppa bilang ia ada sedikit urusan. Apa kau mau kuantar ke ruangannya saja? Jadi kau tidak usah menunggu disini lama-lama.”

Aku menggeleng sopan, “Tidak usah. Biar aku menunggu disini saja.”

“Jangan begitu.” Wanita itu merangkul tanganku akrab, “Daripada menunggu disini, lebih baik kita ke ruangannya saja. Sambil menunggu dia, aku ingin mendengar cerita tentang dunia jurnalistik yang sedang kau geluti.  sebenarnya daridulu aku tertarik dengan segala yang berhubungan dengan media massa.”

Aku tersenyum hangat sambil mengangguk. Wanita ini ramah sekali, “Oke.”

***

Ri Ah’s POV

Krystal ternyata wanita yang menyenangkan. Sambil menunggu Sehun yang urusannya tidak selesai-selesai itu, kami berbincang banyak tentang diri masing-masing. Ia berwawasan luas dan pintar mencari topik pembicaraan yang menarik sehingga menjadikan sesi obrolan ini tidak membosankan.

“Jadi,  sudah berapa lama kau menjadi jurnalis?” Tanya wanita itu sambil menyesap teh rosellanya.

“Hmm…. Belum lama ko. Baru 4 tahun.” Jawabku, “Suamiku bekerja sebagai pelukis yang bekerja di rumah. Jadi, ia lah yang biasanya menjaga anak perempuan kami.”

“Kau sudah menikah?!” Wanita itu terlonjak, “Dan kau…. Sudah punya anak?”

Aku mengangguk. Sudah terbiasa dengan reaksi keterkejutan seperti ini, “Kami menikah saat masih berumur 20 tahun. Jadi, wajar saja kan kalau sudah punya anak?”

“Iya juga sih.” Wanita itu terkekeh, “Doakan kami bisa menyusul ya.”

Kami?

“Ah, ngomong-ngomong, cincinmu bagus.” Kataku sambil menunjuk cincin cantik berwarna perak yang melingkar di jari manisnya. Dalam liontin cicin itu, terdapat siluet kembar yang saling melengkung satu sama lain. Aku memicingkan mata untuk melihatnya lebih jelas, “Hmm….. Gambar angsa ya?”

Krystal menyentuh cincinnya, “Ah Ini itu gambar dua huruf S. Yang sebelah kanan dibuat menghadap kiri, sehingga terlihat sebagai sepasang angsa yang sedang bermesraan.” Lalu wanita itu tertawa, “Terkadang aku merasa Sehun Oppa itu romantis tapi sedikit bodoh.”

“Hahahaha iyaa dia memang begi….” Kalimatku berhenti. Begitu juga dengan detak jantungku, “Se….hun?”

“Iya.” Wanita itu mengangguk polos. “Huruf ‘S’ ini merupakan inisial nama kami. Sehun dan Soo Jung.” Katanya, “Soo Jung itu nama asliku.”

“Kenapa….. Sehun memberikanmu cincin?” Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya, “Apakah kau ini kekasihnya?”

“Lebih dari itu.” Krystal tersenyum hangat sambil terus menyentuh cincinnya,

 “Aku ini tunangannya.”

-TBC-

48 pemikiran pada “Endless Love (Part 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s