Octopus in Love [Chapter 4]

Title: Octopus in Love [Chapter 4]

Sub-Title : HunJo [Special Honeymoon-1]

Author: Michishige

Cast: Oh Sehun [EXO-K] , Kim Jona and others.

Genre: Romance | Rating : M

 

[…]

Yang sudah terjadi memang tidak bisa diprotes. Menyinggung ini adalah keputusanku sendiri. Mungkin awalnya berat, aku tidak sebegitu yakin tapi akan kuusahakan menjadi yang terbaik. Bukan untuknya ,namun untuk keluarganya.

Ia pria yang tidak diragukan lagi ketampanannya. Soal masa depan ,aku yakin seandainya kami memiliki anak. Laki-laki atau perempuan, anak itu akan bahagia. Tidak perlu memikirkan biaya sekolah, karena dari sekarangpun itu sudah direncanakan sematang-matangnya.

Uang memang segalanya. Pesona wajah juga tak kalah berperan. Aku tidak akan memukul mereka jika mengataiku bahwa aku ini munafik. Karena memang itu kata yang pantas. Aku tidak mau menjadi munafik untuk berbicara bahwa aku ini tidak munafik.

Hidupku membutuhkan uang. Bohong jika orang berkata hidup itu hanya membutuhkan cinta. Jika aku menemukan sekoper uang dengan jumlah banyak dijalan, aku bersumpah tidak akan membawanya kebadan amal atau panti asuhan. Mungkin sedikit, iya. Uang memang sangat memperdayaku. Selama hidupku terus mengabdi pada pulpen dan note kecil serta celemek yang akan mudah menjadi penyatuku.

Aku berjalan mengikutinya. Kukira setelah lepas landas ,tempat tujuan kami sudah dekat. Ternyata tidak. Membutuhkan ketegangan ekstra saat berada diatas kapal. Berkali-kali aku merasa mual dan ingin muntah. Air laut membuatnya bergoyang-goyang. Mungkin aku beruntung atau memang ini sudah dipersiapkan, ia memberiku obat penghilang rasa mual. Dan itu manjur.

Walaupun sepanjang jalan aku hanya diam dan tertidur. Ia berkali-kali membuat lelucon yang menurutku sama sekali tidak lucu. Namun, itulah yang membuatku ingin tertawa. Disaat semua sibuk memotret pemandangan sekitar, pria didepanku malah sibuk memotretku.

“Welcome to Paraty Island !” Sehun berlagak seperti guide yang memperkenalkan tempat indah ini pada wisatawan asing.

Aku melongo. Diam. Takjub.

Bau-bau air laut sangat menjanjikan. Airnya benar-benar jernih dan berwarna biru. Aku bisa melihat wajah bodohku ketika air laut menyapa ujung kakiku. Pasirnya tak kalah indah, teksturnya halus bagaikan bubuk cokelat ditempatku bekerja. Warnanya persis seperti kebanyakan mutiara. Dibelakangku banyak pohon-pohon kelapa yang tingginya minta ampun. Aku berani bertaruh bahwa tak ada yang berani memanjat pohon kelapa itu untuk mengambil buahnya.

“Sehun, Ini benar-benar menganggumkan!” kataku histeris , “Kau membawaku ketempat yang paling luar biasa yang pernah ada!” Aku melompat-lompat ditepi pantai.

Ketika melihat tempat ini, Keangkuhanku seketika meleleh meninggalkan sifat riang dan penuh kekaguman. Melupakan apa yang terjadi dengan kami.

Sehun tertawa melihatku. Matanya menyipit karena sinar matahari. Melihatku yang antusias bermain air sendiri, ia menggulung kemejanya sampai siku dan celana hitamnya sampai kelutut. Kemudian aku sudah merasakan Sehun didekatku. Untung saja semua barang-barang kami sudah dibawa oleh dua orang lelaki asing bagiku. Tapi, sangat dekat dengan Sehun.

“Aku bersumpah, Yoora harus mengunjungi tempat ini! Dia sangat menyukai pantai.” Aku menyendok air laut dengan telapak tanganku kemudian perlahan kubuang lagi.

“Mungkin kau juga harus memberitahunya bahwa pulau ini adalah yang terindah di Brazil.” Ucapnya.

“Benarkah!!?”

“Ya, Noona yang memberitahuku.” Sehun menendang kecil air dikakinya.

“Aku harus berterimakasih pada Reina Eonnie nanti!” Ucapanku terdengar sangat antusias. Ya, setidaknya karena wanita itu aku bisa disini.

“Ya, harus.”

Aku berlari kecil diatas pasir. Mengambilnya dan kucium bau pasir itu. Memeluk badan pohon kelapa. Duduk diatas batu besar. Bermain-main diatas perahu kecil yang terdampar. Menolong kepiting hidup yang terkubur pasir, aneh, siapa orang iseng yang melakukan ini. Dan juga menimpuk kelapa dengan batu kecil, berharap buah segar itu akan jatuh tanpa harus memanjat tubuhnya.

Hampir tidak sadar sejak tadi aku diawasi oleh Sehun. Ia tertawa setiap melihat tingkahku. Ia tidak pernah berhenti memperingatkanku untuk hati-hati ketika berjalan diatas batang pohong kelapa yang meninggi kedepan. Bentuknya seperti membungkuk. Namun ujungnya menjulang tinggi. Jika dilihat seperti huruf J terlentang.

“Hei, manager! Kemarilah, disini pemandangan lebih menakjubkan!” Kulambaikan tanganku sebagai isyarat. Sehun sedikit terkejut dengan perubahan sikapku. Sangat berbanding denganku sebelumnya ketika menolak pernikahan ini.

Membutuhkan waktu lama untuk membuat Sehun menurutinya. “Hati-hati bagian itu, sedikit licin.” Kataku memperingati.

Sehun menaiki batang ini pelan-pelan. Dari jarak yang tak dekat aku bisa melihat ketegangan diwajahnya. Kakinya bergetar ketika berjalan diatas batang ini. Dan ia bernafas lega setelah akhirnya duduk disampingku. Seakan baru saja terbebas dari hukuman neraka yang menghantuinya.

Dari bercampurnya bau laut dengan pasir, aroma tubuh Sehun yang khas bisa sangat tercium oleh hidungku.

“Selamat,” Sehun tersenyum, aku bingung. “Ya, selamat karena kau sudah berhasil membuatku duduk disini.” Ucapnya lagi dan aku masih seperti orang bodoh. “Baekhyun Hyung sering mengejekku karena tidak berani memanjat pohon ini. Dia memang seperti hewan yang pandai memanjat pohon bahkan ia mengalahkan warga asli ketika memanjat yang itu.” Sehun menunjuk pohon kelapa yang paling tinggi disini.

“Jadi ini bukan yang pertama kali?” aku menepikan rambutku karena terbang tertiup angin.

“Seingatku ini yang kelima kalinya.” Jawabnya. Ia menoleh kearahku yang menatapnya. Aku baru menyadari, Pria ini memiliki mata yang indah. Tidak terlalu sipit untuk ukuran orang Korea. Bentuk bibirnya juga manis. Ditambah kulitnya yang putih dan terawat. Merasa waktu sedikit melambat ketika kami bertatapan.

Dia benar-benar pintar membuat suasana hatiku membaik. Maksudku, karena sebelumnya aku bersikap cuek padanya. Tempat ini berhasil membuatku tersenyum pada Sehun.

“Wow, butuh melewati samudera untuk membuatmu tersenyum.” Sehun bertepuk tangan. Ia seperti bangga pada dirinya sendiri.

“Berlebihan. Sejak tadi juga aku terseyum.” Elakku malu dan Sehun tertawa. Kemudian kami terdiam. Menyerap udara segar dari dedaunan segar dibawah dan mendengarkan nyanyian ombak yang bergemuruh. Berusaha mengecilkan bunyi detak jantung kami yang bahkan nyaris tak terdengar.

Diatas sini kami bisa melihat lebih luas. Tepat dibawah kami ada sepasang kekasih berkulit hitam. Wajah mereka cerah yang dihiasi bentuk kasmaran pada keduanya. Dan aku terpaku saat melihat mereka berciuman begitu saja. Apa mereka tidak menyadari bahwa ada orang lain yang melihat?

Oh Tuhan. Tidak ada hal yang bisa mengalahkan kegugupanku sekarang, pengecualian saat di altar bersama Sehun.

Aku dan Sehun saling berpandangan. Seakan wajahnya berbicara ‘Apa kita bisa melakukan seperti itu sekarang?’ Namun dilain sisi, aku seperti melihat malaikat yang diutus untuk menemaniku dan menjagaku. Sehun memiliki pahatan wajah yang sangat sempurna. Aku mrerasa sangat menginginkannya.

Entah apa yang mendorongku untuk lebih dekat dengannya. Kurasa efek mual masih sedikit menempel denganku. Dan ini gila, mengapa bibir Sehun sangat menggoda dan berbicara seperti bisa menhilangkan rasa mualku.

Angin membuat kepala kami sedikit miring. Benarkah? Kami Saling mencondongkan badan seakan angin adalah penyebabnya. Hanya berjarak beberapa senti untuk bisa menajamkan aroma khasnya. Aku berharap kepiting menjalar dibatang ini dan menyadarkan Sehun untuk menjauh dariku.

Bibir kami sedikit lagi bertemu. Aku bersyukur suara ombak laut sangat besar sehingga menutupi bunyi detak jantungku yang tak karuan. Aku menutup mataku tidak berani, karena aku sudah bisa merasakan bibirnya. Menempel dan.. BUGH!

“AAUW!”

Jeritan itu membuatku tersadar sepenuhnya dan mataku dengan jelas melihat seseorang dibawah sana sedang meringis kesakitan. Apa tadi dia terjatuh? Tentu saja.

“Sehun !”

[…]

“Demi apapun Jo, pelan-pelan.”

“Jangan bergerak!”

“Auw! Hei Hei jangan ditekan.” Ia semakin merengek , “Oh Ya Tuhan, kepalaku pusing!”

Aku memelototinya. Seakan wajahku berkata ‘Dasar anak kecil’. Aku mengobati lukanya sambil terus menggerutu sedangkan dia semakin merengek. Apa yang dia rengekkan? Ini hanya luka kecil. “Jangan berisik! Tanganmu tidak usah ikut-ikutan!”

“Aku tidak mau kehilangan kakiku ,Jo.”

“Siapa bilang kau akan kehilangan kakimu, yang ada kepalamu yang akan kutebas jika masih berisik!” Omelku.

“Kenapa galak sekali? Aku hanya ti—“

“Stop doing that! Please!”Aku membungkam mulutnya dengan tangan.

Heran, bagaimana mungkin seorang manager bisa bersikap berlebihan seperti anak kecil. Kalau dilihat memang tidak salah sih, lutut kirinya lecet yang entah kenapa bisa begini padahal jatuh diatas pasir. Lengan kanannya sedikit tergores mungkin saat jatuh batang pohon itu sempat mengenainya.

Tapi jelas saja ini tidak sebanding, saat aku berumur 7 tahun. Mata kakiku bergeser karena jatuh saat bersepeda dengan kecepatan tinggi. Saat itu aku tidak memangis sedikitpun. Padahal hampir dua minggu aku tidak bisa jalan.

“Minumlah,” Aku memberinya secangkir teh hangat , “ini memang tidak menyembuhkan, tapi mungkin bisa menenangkanmu.”

Sehun tersenyum sambil memegang plester yang menempel dilututnya. “Sepertinya tanganku sedang tidak berguna.” Ucapnya manja sambil melemas-lemaskan tangannya. Dasar.

Aku memutar bola mataku dan duduk disampingnya, “Sayang sekali, tanganku juga tidak berguna untuk menyuapimu.” Kataku penuh penyesalan.

Sehun menyeringai, “Oh sangat disayangkan.” Katanya sok prihatin, “Tapi aku berani bertaruh bahwa bibirmu berguna untuk menyuapi teh ini untukku.”

Aku melotot. Seringaian Sehun membuatku merinding. Apa dia serius mengatakan itu? Entahlah aku harus merasa malu atau marah. Kepalaku menggeleng-geleng membayangkan hal itu terjadi.

Well, mungkin kucing itu bisa meminjamkan bibirnya.” Kataku sambil menunjuk kucing dengan ras American Curl yang bertubuh medium serta berbulu panjang dengan warna beraneka ragam.

“Xavier tidak akan membagi bibir selain untuk ceweknya.” Kata Sehun, ia melambai dan kucing itu berlari menghampirinya.

“Kucing ini punyamu? Dan namanya Xavier? Keren!” Ucapku ,terpukau. “Seperti tokoh pada novel yang pernah kubaca.”

Sehun tertawa, “Cewek dan Novel. Perfect!” Katanya mengejek sambil menimang-nimang Xavier “Kau merindukanku, Xav?” Tanyanya, dan Xavier meraung lembut.

“Maaf menganggu acara reunian kalian, tapi apa aku boleh menyentuhnya?”

“Tentu saja.” Sehun memperbolehkanku mengelus Xavier yang dengan manja duduk dipangkuan majikannya. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang melepas rindu. Terlihat dramatis. Aku tersenyum melihat Sehun begitu peduli pada Xavier saat melihat kukunya yang sudah panjang.

“Hai Xavier, aku Bethany.”

“Bethany?” Sehun mengangkat alisnya.

“Jangan bercanda, mereka adalah sepasang kekasih dinovel yang kubaca.” Kataku sambil mengelus Xavier.

“Ya Tuhan.” Sehun memutar bola matanya.

“Bulunya sangat halus, kau pasti merawatnya dengan baik.” Mata kuning Xavier menatapku. Kucing ini terlihat agung dengan kumisnya yang tegak. Ia mengelus hidung ketanganku. Sepertinya aku tidak terlalu berbahaya dimatanya. Baguslah. Karena biasanya kucing tetangga Yoora selalu menggarong ketika melihatku. Kucing itu memang menyebalkan.

“Sayangnya bukan aku,” Sehun mengelus Xavier, “Wow, Xavier menyukaimu.”

“Benarkah? Itu bagus!” Xavier beralih kepangkuanku. Bulu-bulu halusnya sedikit berbekas dicelana jeansku. Xavier berdiri ,kepalanya mengelus pipiku lembut. Kemudian ia menggelitik leherku dengan bulu-bulunya.

“Hentikan Xavier. Aku bersumpah, hentikan ini geli.” Protesku sambil tertawa. Sehun merasa pertunjukkan didepannya adalah suatu hiburan yang sangat menggoda menyibukkan diri membantu Xavier menggelitik leherku. Aku menggelinjang kegelian.

“Kumohon jangan, Sehun hahaha Xavier ,No!”

[…]

Kediaman ini memang tidak persis seperti yang ditulis oleh penulis Stephenie Meyer diseral Breaking Dawn. Bahwa sekedar mengumumkan rumor, banyak yang bilang Pulau Esme itu berlokasi disini, tepatnya Pulau Paraty, Brazil.

Walaupun seperti itu tetap saja membuatku tidak habis-habisnya meneriaki Sehun akan kekagumanku dengan isi rumah ini. Tentu saja barang-barangnya tidak seperti dikamarku atau dirumah Yoora. Disini tampak mewah.

Halaman depannya didominasi pohon elm yang dirambati tumbuhan ivy. Semak hydrangeas tumbuh di sepanjang pagar. Putik-putik bunganya yang berwarna pastel berayun-ayun terimpa angin laut.

Aku suka rumah ini. Kesannya seperti bangunan yang sanggup mengatasi segala kesulitan dan keraguan.

Saat aku memasuki pintu tadi, aku melihat sepertinya rumah ini telah disiapkan dengan baik sebelum kedatangan kami. Segala sesuatu dirumah ini terkesan ringan. Atapnya menjulang tinggi dan ruangan-ruangannya sejuk.

Terdapat pintu-pintu lipat terbuka ke serambi panggung yang terbuat dari kayu merah. Lantai-lantainya dihiasi permadani Persia dan dilengkapi sofa-sofa empuk. Terdapat dua kamar dengan satu kamar mandi utama berdasar dinding marmer dan bak mandinya yang mewah.

“Kita akan menempati yang ini.” Sehun membawaku kesebuah kamar yang langsung berhubungan dengan pantai. Disini aku bisa merasakan baunya dan suara-suara desiran ombak itu. “Bagaimana?”

“Kau tahu, ini kamar terindah yang pernah kulihat.” Aku berjalan kepintu geser. Pintu itu berupa kaca yang diselingi gorden berwarna emas. Sapuan angin membuat rambutku terbang. Desiran ombak seakan memanggilku untuk segera menghampirinya.

Sehun menyamaiku, “Kau pasti lelah, mandilah.” Ia tersenyum hangat, “Aku akan membuatkan makan malam untukmu.”

Bisakah ia tidak memberikan senyuman mautnya itu padaku? Mataku tidak mau menolak untuk melihat. Senyumnya begitu mematikan akal sehatku. Apakah aku mulai menyukainya? Aku pasti sudah gila.

Tatapan kami bertemu dan berusaha saling menyatu. Seketika kami menjadi canggung. Sehun berdeham sambil menggaruk kepalanya.  Aku baru tersadar, kami belum mengganti pakaian sejak tadi. Bajuku tidak terlalu kotor ketimbang kemeja Sehun yang berwarna putih.

“Baiklah.” Hendak pergi ,tapi kemudian berbalik lagi, “Hmm, kamar mandinya dimana?” tanyaku.

“Disana.” Sehun memberitahu, aku mengangguk “Thanks.” Kemudian pergi.

[…]

Harum makanan di ruang seberang sukses membuat perutku meronta. Aku mencium French Toast  bersaman dengan bau kentang dan beberapa manisan kurasa. Membuat gejolak rasa laparku melonjak keluar. Terlebih mengingat bahwa ternyata Sehunlah yang berjuang didapur untuk membuat itu.

Aku mengambil piyama longgar bermotif polkadot berdasar biru didalam koperku. Baik sekali Reina Eonnie masih memberikanku satu piyama. Mengingat isi koperku ternyata telah dibajak olehnya.

Beberapa Lingery tipis dan baju-baju minim serta parfum berlabel mahal membuatku frustasi. Apakah misi Reina eonnie adalah membunuhku perlahan? dengan memakai lingery jaring-jaring ini didepan Sehun? Kuharap Reina eonnie mau mengecek kewarasannya kedokter yang terpecaya.

“Kau sudah selesai?” Sebuah suara yang sangat kukenal mengagetkanku. Aku bergegas memakai piyama itu yang belum sempurna terpakai. Berlama-lama memandangi Lingery-Lingery ini suatu kesalahan besar. Akibatnya aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa memakai piyama sehingga tersungkur kelantai.

“Jona?” Sehun menangkapku sigap, “Kau tidak apa-apa?” suaranya terdengar khawatir.

Aku menggeleng pelan. Mataku terperangkap pada ketegasan di cokelatnya bola mata Sehun. Dibalik wajah wibawanya, Sehun menyimpan kesedihan yang bahkan sudah lama ia pendam. Aku tidak tahu kenapa. Ia terlihat seperti mencoba membuang ingatan memory tentang seseorang. Aku tidak mencoba merubah profesi menjadi peramal tapi itu terlihat jelas. Ia tampak rapuh didalam dengan tubuhnya yang bugar.

Sehun membuka mulut seakan ragu untuk mengucapkan sesuatu yang harus kutahu.

“Jo,” Sehun memulai, “Apa kau menerima ini hanya karena keluargaku?” Ucapannya terdengar dramatis. Aku bisa mellihat kegugupan bercampur rasa penasaran diwajahnya.

Aku bangun dan terduduk bersender dikaki ranjang besar ini. Sehun membetulkan posisinya didepanku. Jarak kami sangat dekat.  Hingga aku bisa merasakan tangannya menyentuh pipiku. Memolesnya dengan aroma kulit yang sangat khas. Aku tipe orang yang sensitive jika disentuh barang sedikitpun. Terlebih ia melakukannya dengan sangat lembut.

“Aku tahu ini terkesan terburu-buru,” Ucapnya, tatapanya sangat dalam membuatku tak bisa berkutik. “Mungkin juga kata ‘maaf’ dariku sudah membuatmu bosan.” Ia tersenyum kecil.

Sehun menepikan rambutku dengan lembut dan penuh ketulusan. Kemudian kembali mengelus pipiku. Seakan menggambarkan bahwa ia sangat menganggumiku. Aku memang tidak tahu apapun tentang hal pribadinya. Tapi aku yakin dia adalah orang yang romantis.

Aku berusaha menemukan kebohongan dimatanya, tapi itu sia-sia. Apa memang seperti ini? hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyukainya?

Jika dipikirkan, Sehun memang tidak salah. Jelas ia berbuat baik dengan menjalankan amanah neneknya. Keadaan terdesaklah yang membuatnya tidak berpikir dua kali untuk menikahiku. Mungkin. Sehun juga sudah menunjukkan keseriusannya sejauh ini.  Jika tidak, mungkin ia sudah menarik salah satu dari beribu-ribu wanita yang mengantri untuk menjadi istrinya. Yang jelas itu bukan aku.

Bukankah seharusnya aku ini berterimakasih?

Pikirkan masa depanku jika hidup dengannya. Well, setidaknya aku tidak usah pusing memikirkan tunggakkan listrik yang sering mengangguku ,juga Yoora. Dan aku bisa dengan mudah mendapatkan makanan kesukaanku sehingga tidak perlu memikirkan kehabisan uang untuk hari esoknya.

Mengerikan! Aku terlihat seperti seorang gadis murahan yang hanya memanfaatkan uangnya.

“Aku tidak mau membuatmu tertekan. Tapi aku menyukaimu.” Sehun terlihat serius. “Dan sepertinya kau sudah mulai membuatku mencintaimu.” Sehun mencium keningku dan aku melongo. Sungguh dramatis.

Aku memang tidak pandai matematika tapi aku bukan idiot. Karena ciuman dikening melambangkan bahwa ia sangat menyayangi orang itu.

“Semua orang menginginkan kehidupan yang sempurna untuk masa depannya” ia menghirup aroma rambutku, “Begitupun aku ,Jo”

Aku masih terdiam kaku. Sebaliknya, karena aku tidak tahu harus berkata apa.

“Aku berjanji akan membahagiakanmu. Besok, lusa, tiga hari, sepuluh hari, 5 bulan dan selamanya.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” desakku, akhirnya. “Sedangkan kita tidak saling memahami karakter satu sama lain?” Tanyaku penuh penuntutan.

Senyum memberikan senyumnya “Well, akan kubuktikan nanti.”

“Mengapa kau sangat seyakin itu?” Usahaku membuatnya menyerah sepertinya gagal.

“Kau akan merasa bahagia jika menjalani hidup dengan keyakinan, bukan?” pertanyaannya seperti ingin menyudahi pembicaraan ini dan memaksaku untuk percaya. Tapi entah mengapa aku suka caranya berbicara.

“Kalau begitu yakinkan aku.” Ucapku begitu saja.

Sehun terlihat tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Namun tak lama ia menyeringai. Bodoh, aku baru saja memberi makan malam untuk singa jantan dengan menyerahkan diri begitu saja. Tak habis pikir aku bisa mengucapkan kata-kata itu. ‘Kalau begitu yakinkan aku’ Ya Tuhan.. mengapa aku berubah menjadi seorang remaja yang sedang kasmaran.

“Kau serius dengan ucapanmu?” Dari nada bicaranya, Sehun seperti meremehkanku dan aku tidak suka itu.

“Tidak pernah seserius ini.” Kataku lantang. Sehun tersenyum ketika aku membusungkan dada seakan menantangnya. Apa yang kulakukan? Bodoh sekali.

“Wow, kau sudah mengeluarkan naluri lelaki.” Katanya mengejek, ia memajukan tubuhnya beberapa senti, “Dan itu sulit untuk dikendalikan” bisiknya tepat ditelingaku.  Kemudian wajahnya bergeser dan semakin menemukan sasaran utama untuk melaksanakan tujuannya.

Tak perlu berlama-lama aku sudah bisa merasakan bibirnya menyentuh milikku. Ia menciumku. Tepat dibibir. Dan gilanya aku menerima saja. Sentuhan Sehun seakan sangat berarti. Ia mengecap bibirku penuh unsur keyakinan.

Aku tidak mau melewatkan sedetikpun pemandangan indah tepat dimataku. Tapi dorongan Sehun membuatku mau tak mau menutup mataku dan menikmatinya. Ia sangat pandai membuatku merasakan seolah ia adalah pangeran pada kerjaan tinggi atau penghulu malaikat yang datang untuk membuatku jatuh cinta padanya.

“Ngghh… ssshh…” aku mendesah seiring kurasakan jemari Sehun menggelitik tengkukku. Terpikir untuk memarahinya karena itu bagianku paling sensitive, tetapi jangan sekarang. Setidaknya aku tidak mau melewatkan sedetikpun saat merasakan ini.

Aku bisa merasakan lidah Sehun menjilati bibir atasku. Memaksanya untuk terbuka. Ternyata dia tidak bercanda dengan kata-katanya.

Lidahnya berhasil masuk kedalam mulutku. Mencoba berkenalan dengan penghuni berwarna putih disana. Tak kurasa kami sudah saling bertukar saliva. Sehun menciumku semakin menjadi. Melumat dan menggigitnya.

Terlintas pikiranku tentang , Apa ia sering melakukan ini sebelum bersamaku? Apa dia pernah memenangkan kontes best kiss diperumahannya? Atau dia memang ahli berciuman tanpa harus mempraktekkannya dengan gadis-gadis?

Karena Sehun begitu meluangkan kesetiaannya pada bibirku. Seakan sulit untuk melepas diri.

Gerakkan tubuhnya seperti memperjuangkan melawan nafsu untuk bertindak lebih dari ini. Seakan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan menggiurkan ini. Apalagi mengetahui bahwa aku yang memajangkannya, ia melihat sebagai sinyal bahwa aku mengizinkan untuk melakukan lebih.

Dengan ragu aku mengalungkan tanganku pada leher jenjangnya. Sehun menggeram lembut ketika aku meremas rambut lurus yang berwarna walnut itu.

Tak disangka ia akhirnya menemukan jawaban yang sedari tadi ditunggu dariku. Yaitu dengan meremas bagian yang satu-satunya menonjol dari fisikku. Kenikmatan ini membuatku terperangkap dalam kepasrahan. Tangannya kirinya memeluk pingganku dan satunya meremas dadaku dengan teratur. Berbeda dengan nafasnya yang tersenggal seperti habis marathon.

Aku tidak menduga akan sampai pada batas ini. Aku gugup dan belum siap. Aku berfikir apakah malam ini akan berakhir diranjang bersama Sehun yang jelas adalah suamiku? Dan apa saja yang akan kami katakan pada saat itu? I love you? Aku milikmu malam ini? Atau kau cantik sekali?

Semua itu membuatku merinding. Apa rasanya akan sakit? Karena ini adalah yang pertama bagiku.

“Sudah mendapat keyakinan, Nona?” Sehun menyudahinya, dan baru kali ini aku merasa kecewa.

Jujur aku kagum. Dengan nafasnya yang menggebu, Sehun bisa melawan nafsunya untuk tidak terburu-buru dalam hal berhubungan seks.  Sangat jelas ia begitu menghormatiku sebagai istri yang bahkan umur pernikahan kami belum ada seumur jagung.

“Ya, kurasa.” Ujarku sebiasa mungkin.

Aku merapikan rambutku asal. Dan aku tidak berani menatapnya. Aku terlalu malu.

Sehun tersenyum puas melihat ekspresiku, “Sepertinya kita melupakan makan malamnya. Cepat rapikan piyamamu. Aku akan memakai baju.” Mendadak ia berdiri dan membuka kopernya. Memilih-milih baju yang akan dipakai.

Apakah ini alasan Sehun melawan nafsunya? Ia tidak mau egois membawaku keranjang untuk bercinta dan melupakan keperihan lambungku yang tidak bisa dibohongi. Apa tadi bunyi perutku terdengar hingga ia menyudahi itu?

[…]

Ini sudah memasuki hari ke-3 kami disini. Dan hubungan kami juga semakin membaik. Dalam arti, aku mulai menerima statusku sebagai istri dari seorang Oh Sehun. Walaupun kami belum melakukan hubungan seks. Hanya sebatas berpelukan, berciuman dan meremas dadaku. Kadang usaha Sehun untuk bersetubuh denganku selalu gagal oleh hal-hal yang tak terduga.

Seperti, bunyi keroncongan diperutku yang sepertinya akan menjadi hal yang biasa. Lalu bunyi ketukan pintu yang ternyata adalah penghuni rumah sebelah yang mau meminjam kamar mandi kami dengan alasan air panas dirumah mereka sedang tidak berfungsi. Yang terakhir, ia selalu membatalkan karena keraguan dari wajahku.

Aku mendapat satu point lagi darinya. Ia pria yang sangat perngertian dan memahami suasana hatiku.

Sejauh ini,  ia memperlakukanku sebagai ratu. Menyiapkan semua makanan, menonton dvd bersama, jogging bersama. Ya walaupun Sehun membutuhkan kesabaran ekstra untuk memaksaku olahraga pagi.

Tidak membohongi rasa sukaku padanya. Sehun berhasil membuatku takluk hanya dalam waktu semalam. Untuk sekarang, jiwa Sehun sudah berhasil masuk dalam daftar orang-orang yang kusayang. Walaupun dia berada diurutan terakhir.

Dan aku tidak menyangka bahwa Sehun adalah alumni SMA Parang. Menyangkut kenyataannya bahwa aku juga pernah bersekolah disana. Tapi anehnya kami tidak saling mengenal.

“Aku hanya setahun disana, setelah itu Eomma mengirimku ke Jepang dan bersekolah di Kyoto Internasional School.”

Aku berperan sebagai pendengar baik ketika Sehun menceritakan hidupnya. Sore ini kami berencana berjalan-jalan disekitar. Sehun tidak mau melihatku kecewa karena lupa memperkenalkan Paraty Island ini padaku lebih dalam.

Kami berencana ke pantai dan kemungkinan melihat matahari terbenam disana. Sehun bilang sunset disini sangat indah. Berhubung aku hanya pernah melihat sunset sekali seumur hidup, so, itu tawaran yang menggiurkan.

Sunset pertamaku bersama Kai. Sudah lama sekali. Dan itu akan selalu kukenang.

“Wow! Kau pasti pintar.” Ucapku ,tersenyum.

“Tidak juga.” Jawabnya sok merendah. “Oh iya, Kau kenal Shin Yukyung?” tanyanya ketika kami sampai ditepi pantai. Aku merasa aneh ketika topiknya berbuah dengan menanyakan satu nama gadis.

“Tentu saja, wanita menjengkelkan itu sangat terkenal disekolah dengan rambut lepeknya dan bibirnya yang berminyak. Kurasa dia memakai seliter minyak untuk mengolesi bibirnya.” Wajahku nampak kesal, bagaimana tidak, dia pernah merusak hubunganku dengan Kai. Dengan mencium pipinya didepan banyak orang. Padahal saat itu aku tepat disamping Kai.

“Wanita apa?” Sehun bingung. Tatapannya seakan mengintrogasi dan meminta pertanggungjawaban atas ucapanku tadi.

“Ya, Wanita murahan yang dengan lancang mencium kekasih orang lain didepan umum.” Kataku terus terang.

Sehun tertawa kecil, wajahnya sangat damai ketika sedang tersenyum. Matanya membentuk eye smile yang lucu. “Dia sahabat baikku ketika disana.” Ucapnya diiringi cekikikan.

“Apa !?” Mataku melotot ,mulutku terbuka lebar. “Bagaimana bisa k-kau..”

“Sebenarnya dia memiliki sifat yang baik, dia sangat menyukai binatang dan dia teman curhatku yang terpecaya.” Kata Sehun membela, “Dia memang suka menggoda pria jika itu bisa melupakan semua masalahnya. Sejujurnya, dia itu lemah dan membutuhkan perhatian.” Ucapnya.

Aku hendak bicara namun tertahan ketika kami memutuskan duduk dipinggir pantai tepat bersebelahan dengan batu mulus besar.  Didepan kami terdapat sebuah papan selancar berwarna biru terang. Terkapar tanpa pemilik.

“Tapi tetap saja menjengkelkan.” Kataku bersikeras, “Kau begitu membelanya ,apa dia mantan kekasihmu?” Aku merasa perbincangan ini sudah membuatku kesal.

“Bukankah tadi sudah kubilang bahwa dia sahabat baikku?” Sehun memberikkan senyumnya. Aku memutar bola mataku ketika mendengarnya.”Kau cemburu?”

“Siapa bilang!”

“Jujur saja.”

“Tidak!”

“Wajahmu tak pandai berbohong.”

“Terserah!”

“Apa Kyungie pernah memeluk pacarmu?” ucapnya tiba-tiba sambil menyikut pinggangku, sedikit mengejek.

“Kyungie !? Oh bahkan Lucifer itu punya panggilan khusus darimu!” dengusku. Aku bisa meraskan wajahku memerah karena menahan amarah. Apa dia gila, bahkan sahabat sialannya itu sudah mencium kekasihku dulu.

“Jangan lupa, yang kau sebut Lucifer itu adalah sahabatku.” Katanya dengan nada bercanda.

“Masa bodo!” geramku, “Aku sangat membenci orang yang kau sebut dengan Kyungie-Woongie-Dongie itu!” kemarahan sudah memuncak dikepalaku. Sehun memudarkan sedikit tawanya.

Tersadar akan perbincangan ini yang membuatku kesal dan membuang tatap, Sehun mengusap rambutku dan merapikannya akibat terhempas angin. Ia juga menusuk-nusuk pipiku dengan telunjuknya. Bukankah ia seperti anak 5 tahun?

Jika sudah seperti ini, aku tidak bisa menahan bibirku untuk tersenyum. Tidak menyangkal memang tadi aku bersikap seperti orang yang sedang terbakar api cemburu. Oh itu mustahil..

“Kamu satu-satunya wanita yang kusayang.” Ucapnya ,aku tersenyum malu. “Jadi jangan cemburu”

“Aku tidak cemburu Tuan gurita!!” pipiku kembung dan bibirku manyun. Sehun tertawa puas dan penuh kemenangan.

Tak lama pasir sedikit merubah menjadi kekuningan. Menandakan sunset tiba. Aku dan Sehun langsung terfokuskan pada satu titik diujung pantai ini. Aku bahkan lupa bahwa Sehun sangat tampan dengan kaos putih pas badan dan celana jeans selututnya. Rambut lurusnya menutupi sebagian alis tebalnya. Matanya memancarkan ketenangan bagi yang melihatnya.

Aku baru menyadari bahwa tak hanya kami yang melihat keindahan Tuhan, ada beberapa orang dan rata-rata mereka berpasangan. Dari penglihatanku kebanyakan dari mereka seorang tourist.

Pasangan lain dengan mesra meminjamkan bahunya untuk tempat bersandar. Tak banyak yang berpelukan dan berciuman. Saling menyatu untuk melihat suatu moment yang indah. Satu-satunya orang yang sendiri disini adalah seorang Pria berbaju kemerahan. Ia terlihat seperti orang sebangsaku yang memiliki kulit coklat. Seorang Pria yang tingginya kira-kira 182. Ia terlalu jauh untukku lihat wajahnya. Terlebih Pria itu menutupi wajahnya dengan sebuah kamera.

Alisku mengangkat menampilkan kesan penasaran.

Aku seperti mengenali caranya berdiri. Kemudian Pria itu mengarahkan kameranya tepat kearahku. Dan aku tidak tahu apa yang membuatnya memotretku karena kurasa pemandangan sunset lebih bagus untuk diabadikan.

Dari caranya memegang kamera aku berani bertaruh, dia bukan seorang yang professional. Ia terlihat kaku dan menganggap kamera itu hanya sebuah mainan canggih.

Aku mencoba mengabaikan Pria asing itu dan menoleh kearah Sehun. Ia sangat serius merekam sunset dengan matanya. Bibirnya membentuk senyuman manis membuat aku terus ingin menatapnya, seakan ia adalah objek yang lebih indah ketimbang sunset itu.

Tak lama aku merasakan sesuatu menggenggam tanganku, “Benar-benar indah ,kan?” Sehun menoleh ,tersenyum. Rasanya seperti tersihir suatu mantra ketentraman ketika melihat senyum itu.

“Ah? Tentu saja.” Ucapku kikuk, ia tersenyum lagi dan kembali menatap lurus. “Sangat indah” gumamku.

TBC

Maaf ya NC-nya dikit dan gagal. Aku gamau terburu-buru. Aku mau menyatukan hati mereka dulu baru menyatukan tubuhnya *apasih.

Tenang aja, episode honeymoon Hunjo Couple masih berlaku untuk next chapter kok hehehe.

Well, kalau sudah baca tidak ada salahnya menulis komen dan menekan ‘Like’ dikotak yang tersedia. Aku mohon sedikit rasa menghargai karyaku walaupun tidak sebagus author-author lain. Aku sangat menghormati reader yang mau menyisakkan sedikit tenaga untuk menulis komen. Aku menerima walaupun itu kritikkan. Terimakasih^^ *bow

Iklan

73 pemikiran pada “Octopus in Love [Chapter 4]

  1. Daebak pisan lah ff ini 😀
    Aaaah sehunie kamu manis bgt :3
    Jona beruntung bgt punya suami kayak sehun, tampan, baik, pengertian, kaya pula! #plak
    Namja yg moto2 itu siapa ya?
    kulit coklat, tinggi 182…. apa itu kai ya?
    Hehehe apa kai hidup lagi? atau dia sebenarnya blm mati? /sok tau/
    Authorrrr next chap cptan yaaa… ff ini masih lanjut kan? harus lanjut loh thor Q^Q

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s