Chapter Of Our Life (Chapter 2)

Chapter of Our Life (Part 2)

Title     : Chapter of Our Life (Part 2)

Genre : Family, Friendship, Angst

Length : Chapter

Rank    : PG-15

Main Cast :

  1. Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo
  2. Byun Baekhyun as Kim Baekhyun
  3. Park Chanyeol as Park Chanyeol

Support cast:

  1. Oh Sehoon as Park Sehun
  2. Lee Youngra (OC)
  3. Cho Seorin (OC)
  4. Park Jungsoo aka Leeteuk as Park Jungsoo
  5. Kim Heechul as Kim Heechul

Author : Han Minra

chapter of our life_ (1)

***

-Youngra

“Tidak ada satupun yang boleh duduk disini kecuali dia. Termasuk kau.”

-Chanyeol

“Tapi, sebenarnya apa alasanku membenci mereka?”

=== CHAPTER OF OUR LIFE===

“Baiklah, kau duduk di kursi yang kosong. Ah, disana. Di sebelah Youngra.” Tunjuk guru itu pada sebuah kursi kosong pada barisan kedua.

“Aku tidak mau duduk dengannya, sonsaengnim.”

“Wae? Di kelas ini hanya kursi di sebelahmu yang kosong Youngra. Jika kalian sebangku, kau bisa berkenalan dengannya dan menambah teman, iyakan? Bukankah itu bagus? Silakan duduk Kyungsoo.”

“Khamsahamnida.” Kata Kyungsoo.

“Nah.. perfect.” Kata Jung sonsaengnim.

“Annyeong. Kyungsoo imnida.” Kini Kyungsoo sudah duduk di kursi kosong di sebelah Youngra.

“Sudah tahu.” Jawabnya dingin.

===

At Class 3-D

“Anak-anak. Hari ini Lee sonsaengnim tidak dapat mengajar kalian jadi beliau menitipkan tugas untuk kalian.” kata seorang guru.

“Yeeeeeeee….” keributan langsung memenuhi seisi kelas.

“Sudah! Diamlah! Ada satu lagi pengumuman, hari ini kalian akan mempunya teman baru. Baekhyun, silakan masuk.”

Seorang namja yang berjalan dengan tongkat dan kaki kanannya diperbanpun masuk ke dalam kelas.

“Annyeonghaseyo. Naneun Park Baekhyun im….” Baekhyun tidak meneruskan kalimatnya karena melihat tatapan tak bersahabat dari Chanyeol yang rupanya sekelas dengannya.

“Imnida. Panggil saja Baekhyun.” Ia meneruskan kalimatnya.

“Baiklah Baekhyun. Terserah kau mau duduk dimana, ada beberapa kursi kosong disini. Carilah tempat yang enak. Aku pergi dulu anak-anak. Kerjakan tugas kalian dengan baik.”

“Arraseo sonsaengnim.” Kata murid-murid serentak.

Baekhyun memutuskan untuk duduk di sebelah seorang namja yang duduk di samping jendela.

“Annyeonghaseyo. Bolehkah aku menjadi teman sebangkumu?”

“Tentu saja. Jangan sungkan bro.”

“Gomapta. Baekhyun imnida.”

“Kim Jongin imnida. Panggil saja aku Jongin.”

“Arraseo.”

.

Baekhyun POV

Sengaja aku duduk disini agar jarakku dengan Chanyeol tidak begitu dekat. Bukannya aku takut, hanya saja mungkin aku akan merasa terganggu jika disela-sela pelajaran dia akan melihatku seperti tatapan tadi. Kenapa aku menjadi GR begini?

“Ya! Jangan menjewer telingaku!!” teriakan seorang yeoja membuyarkan lamunanku.

Yeoja itu, yeoja yang duduk di sebelah Chanyeol… Sepertinya aku pernah melihatnya.

Bingo!

Dia yang kutemui kemarin di dekat taman. Ternyata dia juga bersekolah disini. Pandanganku tak lepas dari mereka berdua. Sekarang mereka terlihat sangat serius untuk ‘berkelahi’. Mereka terlihat imut.

“Hey! Kenapa kalian tidak ada yang melerai mereka?” bisikku pada Jongin.

“Untuk apa? Percuma. Setiap hari mereka selalu begitu. Padahal Seorin adalah yeojachingunya, tapi entah mengapa gaya berpacaran mereka menggunakan sistem anarki.” Jelas Jongin panjang lebar.

Oh, namanya Seorin. Jadi dia yeojachingunya Chanyeol… Chanyeol yang kuketahui sebagai sosok yang dingin entah mengapa image itu menjadi luntur saat melihatnya tertawa bersama yeoja itu.

“Hei! Kenapa senyum-senyum sendiri?” Jongin membuyarkan pikiranku. Tanpa kusadari aku tersenyum melihat mereka berdua.

“Aniya. Hanya saja mereka terlihat…. Sangat cocok.” Kataku.

“Aku setuju. Sama-sama jahil, sama-sama pembuat rusuh, sama-sama anarki, dan mereka King and Queen of lawak.”

“Eh? Lawak? Memang selucu apa Chanyeol?” tanyaku bingung.

“Kalau ingin tahu, buktikan sendiri selama sehari ini. Pasti mereka yang menjadi penangkal ngantuk saat pelajaran. Kelas kami sangat beruntung mempunyai aset seperti mereka.”

“Jinjja? Arraseo…” kataku dengan mata berbinar.

===

“Kau yang kemarin hampir menginjak iPhoneku kan?” Seorin tiba-tiba datang sambil menggebrak mejaku ketika sedang membaca buku catatan milik Jongin.

“Ne. Masih ingat rupanya.”

“Heh yeoja gila! Tidak usah pake acara gebrak meja juga!! Kau kira aku dan Baekhyun tidak punya jantung?!” kata Jongin dengan gak santai.

“Kau pikir aku amnesia? Kekeke… Cho Seorin imnida. Kau bisa memanggilku Seorin.” Katanya tanpa mengindahkan perkataan Jongin.

“Park Baekhyun imnida. Kau bisa memanggilku Baekhyun.”

“Untuk apa kau memperkenalkan dirimu lagi? Tadi kan sudah di depan kelas.” Katanya sambil menali sepatu.

Aku hanya tersenyum garing mendengar kalimatnya barusan. Apa banget orang ini.

“Seorin! Dasar kutil!! Ppali! Jadi ke kantin atau tidak?” teriak Chanyeol dari luar kelas.

“Ya! Berhenti memanggilku kutil!!!” teriak Seorin sambil berlari menghampiri namja itu dan langsung menjambak rambutnya.

Lagi-lagi, aku geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua. Entah sudah berapa kali leherku bergerak untuk sekedar geleng-geleng melihat mereka.

“Jebal, tidak usah kaget dengan kejadian seperti itu. Sudah menjadi makanan bagi kami sehari-harinya.” Terang Jongin dan Baekhyun hanya terkekeh.

===

Kyungsoo’s POV

Sejak tadi yeoja ini sama sekali tak mau bicara denganku. Saat aku bertanyapun, dia tak pernah menjawab. Well, di hari pertama aku sudah mengenal semua teman sekelasku. Tapi aku merasa asing dengan yeoja yang justru menjadi teman sebangkuku. Bahkan sejak tadi aku tak melihat ia berbicara dengan siapapun. Aneh. Pertanyaanku, apa kedepannya aku akan betah duduk di sebelah yeoja sedingin es kutub ini??

“Youngra-ssi. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kau tak suka denganku? Kenapa kau tidak mau aku duduk di sebelahmu dan sampai sekarang kau tidak berbicara denganku?” Kataku yang terkesan seperti menginterogasi.

“Kau tak perlu tahu.” Katanya. Akhirnya dia bicara juga.

“Kenapa aku tak boleh tahu? Kalau kau memang tak menyukaiku, aku akan tukar tempat duduk dengan Soohee.”

“Tidak ada satupun yang boleh duduk disini kecuali dia. Termasuk kau.”

“Nugu?? Siapa yang kau maksud dengan ‘dia’ ??” tanyaku.

Dan, lagi-lagi tak ada jawaban.

“Arraseo. Soohee… kau mau bertukar tempat denganku?” kataku pada yeoja yang duduk di belakangku.

“Shireo! Aku hanya mau sebangku dengan Ririn.”

Sepertinya jika kutanya satu persatu anak di kelas ini tak akan ada yang mau bertukar tempat denganku. Yang benar saja, mana ada yang mau duduk di sebelah yeoja aneh seperti Youngra.

===

At Home

Aku pulang sendirian karena kelas XII ada tambahan pelajaran untuk persiapan menghadapi ujian. Haha… kasihan sekali Baekhyun hyung.

Setelah ganti baju aku langsung menuju kamar Sehun. Aku tak mau kehilangan kesempatan karena sebentar lagi waktunya Sehun untuk istirahat.

Apa yang kulakukan disini?? Aku bercerita macam-macam layaknya mendongeng untuk Sehun.

“Baik, kalau begitu akan kuceritakan bagaimana pengalamanku pertama kali masuk sekolah baru tadi Hun. Tadi aku masuk di kelas…..”

Sedang asik-asik bercerita, seseorang mengetuk pintu. Saat kubuka kenop pintunya, aku sangat terkejut. Terlampau terkejut malah…

“Kau?!” kataku bersamaan dengan orang di depanku.

Untuk beberapa saat kami saling bertatapan.

“Untuk apa kau disini?” tanyanya.

“A… Aku memang tinggal disini. Lalu kau ada urusan apa datang kemari?”

“Kau siapanya Sehun?” katanya dengan muka masam.

“Apa aku harus bercerita padamu? Kau saja belum menjawab pertanyaanku.” Kataku sinis.

“Aku menjenguk Sehun.” Katanya singkat lalu masuk sembarangan ke kamar Sehun dan menaruh bunga di vas dekat tempat tidur.

“Ya! Youngra-ssi! Kau ini yeoja, sembarangan saja masuk ke kamar namja.”

“Kau ini tidak tahu apa-apa. Aku biasa begini sejak dia…. koma.” Katanya dengan nada yang berubah menjadi sedih.

“Jadi kau temannya Sehun? Iya kan?”

“Kami bersahabat sejak kecil.”

“Oh jadi begitu. Enak sekali punya sahabat, aku juga ingin merasakan punya sahabat. Kau sangat setia ya.”

“Maaf. Jadi dialah alasan mengapa aku tak mau duduk sebangku denganmu.” Ia mengubah nada bicaranya menjadi sedikit ramah.

“Em. Aku mengerti. Aku juga minta maaf tadi aku selalu menanyakan hal itu yang pasti membuatmu sedih.”

“Gwaenchana, kau kan tidak tahu apa-apa. Lalu kau, apa kau sepupu Sehun?”

“Bukan, aku saudara angkatnya. Jungsoo-ssi dengan baik hati mau menampungku dan hyungku. Sejak aku dan hyungku datang kondisinya sudah begini.” Kataku yang tiba-tiba menjadi akrab dengan yeoja ini.

“Jadi dia belum pernah melihat kalian?” tanyanya dan kujawab dengan gelengan pelan.

“Pantas saja dia tak pernah cerita.”

“Aku ingin dia cepat sembuh dan menghabiskan waktu lagi denganku. Aku merindukannya.”

“Kami juga berharap serupa.”

Hening…..

“Baiklah Kyungsoo-ssi. Karena kau saudara angkat Sehun, aku mau menerimamu duduk di sampingku. Tapi, saat Sehun sudah sadar kau harus pindah. Kau tak keberatan kan?”

“Aku memang ingin pindah sejak tadi pagi jika ada yang mau bertukar tempat duduk. Kau sangat membosankan. Hahahaha…”

“Aish!! Kau menyebalkan. Padahal tadinya aku akan merekrutmu menjadi bagian dari kami mengingat kau belum pernah mempunyai sahabat. Tapi tak jadi. Kau menyebalkan.”

“Yah? Jinjja?? Kau mau merekrutku?? Aku mau, jebal….”

“Ckckckckck…. hidupmu menderita sekali. Sahabat saja tak punya. Baik, aku pikir-pikir dulu karena aku juga butuh persetujuan Sehun dan kita juga baru kenal. Aku tak bisa sembarangan menerima orang asing.”

“Kau seperti bicara dengan calon pencuri saja.” Kataku dengan muka datar.

Entah mengapa tembok yang menjadi batas antara kami tiba-tiba runtuh. Kami bahkan sangat akrab sekarang. Yeoja di depanku ini, cerewet sekali rupanya.

“Sehun?” katanya. Akupun langsung menoleh kemana arah matanya melihat.

Aku melihatnya… aku melihat jari-jari Sehun mulai bergerak. Ini sebuah keajaiban… Semoga ia bisa cepat sadar. Tanpa disadari aku dan Youngra melompat-lompat kegirangan.

“Ye ye… Sehun sembuh…”

“Sehun fighting!!”

Sesaat kemudian.

Cklek

“Apa yang kau ….. Eh? Dia siapa?” sebuah suara mengagetkanku.

“Sudah pulang hyung? Nah… Youngra-ssi, ini hyungku, Baekhyun hyung. Baekhyun hyung, ini temanku, Youngra.” Kataku dengan senyum yang terus mengembang.

“Lee Youngra imnida.”

“Park Baekhyun imnida. Sebaiknya kalian keluar sekarang, kalian sudah mengganggu waktu istirahat Sehun selama satu jam. Kalian berdua asik sekali…. ckckckck. Apa yang kalian lakukan??”

“Hyung, ada berita bagus hyung.” Kataku setengah berteriak.

“Stttttt….. Berisik! Cepat keluar.”

===

Author’s POV

“Jinjja?! Wah daebak!! Pasti sebentar lagi dia sadar.” Baekhyun ikut heboh mendengar cerita Kyungsoo.

“Ada apa? dari tadi kalian ribut sekali.” Kata Eun ahjumma.

“Ahjumma!!!” Youngra memeluk Eun ahjumma.

“Ya ya!! Ada apa Youngra-ya?”

“Tadi aku melihat jari-jari Sehun bergerak. Itu berarti harapan untuk dia sadar makin besar… Ini bagaikan mimpi ahjumma…”

“Ini berita bagus. Tuan Jungsoo dan Chanyeol pasti senang mendengarnya.”

“Eh, ngomong-ngomong apa kau tidak pulang bersama Chanyeol hyung?” tanya Kyungsoo pada Baekhyun.

“Molla. Tadi dia keluar lebih dulu. Mungkin bersama yeojachingunya.”

===

At Another Place

Chanyeol’s POV

Aku duduk di bangku taman depan sekolah. Ini giliran Seorin untuk membeli es krim jadi aku tinggal bersantai dan menunggu.

Tadi benarkan yang kulihat? Seorin berbicara dengan Baekhyun dan… terlihat sangat akrab. Entah mengapa aku tak suka melihat itu. Aku tak tahu. Apa karena aku tidak menyukai Baekhyun dan dongsaengnya itu?

Tapi, sebenarnya apa alasanku membenci mereka?

“Yeol!” teriakan cempreng membuyarkan pikiranku.

“Ya! Bisa pelan-pelan tidak?? Loh,, kenapa sudah mencair??” kataku pura-pura kecewa.

“Ini gara-gara kau. Jahat sekali menyuruh seorang yeoja membeli es krim.”

“Memang salah jika seorang yeoja membeli es krim? Lagipula ini kan giliranmu. Atau kau mau melanggar janji dan membiarkan uang seratus ribu melayang??” kataku sambil menjilati es krim.

“Huft!! Kenapa dulu ada kesepakatan seperti itu. Kedai es krim yang biasa tidak jualan, akhirnya aku berputar-putar ke seluruh Seoul, ani! Ke seluruh dunia untuk mencari es krim. Jadi jangan salahkan aku jika meleleh. Bukannya berterimakasih!” katanya dengan api membara.

“Sudahlah, jangan memasang wajah dekil seperti itu. Lagipula kau membelinya ikhlas kan? Tentu saja, kau kan membelinya untukku yang rupawan ini… Hahaha…”

“PD!! Ini gara-gara kesepakatan bodoh itu. Ingat! Kesepakatan!” katanya sambil terus menjilati es krimnya. Omo!! Dia imut sekali. Sama seperti aku(?)

Perjanjian itu memang membuat hubungan kami menjadi penuh warna. Setiap hari secara bergantian kami membelikan es krim satu sama lain. Itu juga berdasar kesepakatan karena kami berdua sangat suka es krim. Kalau tidak mau beli saat gilirannya, siap-siap melayangkan uang seratus ribu sebagai denda. Aku saja pernah kena denda 5 kali gara-gara waktu itu lupa tidak bawa dompet.

“Arraseo… Aku juga tahu itu. Gomapta, es krim ini juga enak.” kataku.

“Tentu saja enak. Itukan gratis.” Katanya sambil menjulurkan lidah.

“Oh iya… namja bernama Baekhyun itu. Kau akrab sekali.”

“Kami pernah bertemu sebelumnya di taman dekat rumahmu. Waktu itu ponselku jatuh dan hampir terinjak oleh tongkatnya. Untung aku yang energik ini datang tepat waktu dan berhasil mencegahnya.”

“Oh…” kataku datar.

SKIP>>>

“Sudah selesai? Mari kuantar pulang.” Tawarku.

“Kajja!”

===

“Chanyeol hyung, keadaan Sehun sudah membaik. Tadi jemarinya sudah bergerak.” Kata Kyungsoo menyambut kedatanganku.

Jeongmal? Syukurlah…

“Sejak kapan aku jadi hyungmu?” jawabku datar dan langsung menuju ke kamar Sehun. Dia nampak kecewa dan melanjutkan aktifitasnya menonton TV.

Aku duduk di ranjang tepat di sebelah Sehun. Semakin hari anak ini semakin kurus saja.

“Apakah yang dikatakan anak tadi benar?? Kapan kau sadar? Ha? Kami sangat merindukanmu.”

“Apa kau sudah tahu? Eomma meninggal karena melihat keadaanmu yang seperti ini. Kumohon, segeralah sembuh.” Aku menghela nafas berat.

“Disini banyak orang yang menantikanmu. Termasuk saudara angkatmu. Aku yakin kau akan menyukai mereka karena mereka sangat baik dan peduli kepadamu.”

DEG!

Apa yang kukatakan barusan??

Pernyataanku sangat berlawanan dengan sikapku terhadap mereka. Entah mengapa aku juga tak tahu.

Sekali lagi, aku membenci mereka. Tapi hatiku berkata lain, aku… menganggap mereka.

===

Author’s POV

Tiga hari kemudian

At Seoul High School

“Nanti jadi??!” pekik Kyungsoo.

“Kau pikir?? Tentu saja jadi.” Kata Youngra datar.

“Yah, pasti akan membosankan jika berada di museum.”

“Kau belum pernah kan? Jadi belum merasakan bagaimana asiknya di museum.”

“Bagaimana kalau kita mengerjakan tugasnya di perpustakaan saja?”

“Bukunya tidak terlalu lengkap.”

“Bukan di perpustakaan sekolah. Di perpustakaan Seoul, kan dekat dari sini.”

“Shireo!! Membuatku mengantuk saja. Museum juga dekat, nanti aku akan menjadi guide mu saat di museum.” Youngra membanggakan diri.

“Memangnya kau tahu apa?” kata Kyungsoo dengan tatapan menyindir.

“Jangan panggil aku Youngra jika tidak tahu apa-apa mengenai sejarah Korea Selatan.”

“Jangan bangga dulu. Aku butuh bukti, bukan janji.”

“Arraseo. Jadi, kau harus menurutiku untuk mengejarkan tugas sejarah di museum.”

“Ne. Tapi setelah itu kau harus menemaniku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.” Kata Kyungsoo.

“Untuk apa?”

“Sebentar lagi hyung ku ulang tahun. Jebal… bantu aku mencarikan kado yang pas.”

“Sudah besar masih jaman ya memberi kado?”

Kyungsoo menghela nafas.

“Baru kali ini aku mempunyai uang lebih sepanjang aku bersekolah. Aku ingin sekali saja memberikan sesuatu yang berharga untuk hyungku.”

“Baiklah. Tapi jangan ke pusat perbelanjaan… Aku tahu tempat yang lebih cocok.” Kata Youngra sambil menjentikkan jari.

“Gomapta. Kau jadi tambah cantik saat mau menolongku.” Kata Kyungsoo sambil merekahkan senyum.

“Maksud anda?!” kata Youngra sambil memasang death glare nya.

===

At Another Place

“Jadi, pulpenku?!” kata Seorin menirukan salah satu iklan di Indonesia.

“Sudah ku buang.” Jawab Chanyeol santai.

“Jahat! Pulpenku cuma satu. Kenapa kau buang? Apa salah pulpen itu?!” nada Seorin meninggi.

“Salah pulpen itu? Banyak! Pertama, kau selalu menusukku dengan pulpen itu. Kedua, pulpen itu berwarna pink. Aku jijai dengan warna pink. Ketiga, tintanya sudah akan habis dan dampaknya tulisanmu jadi tidak jelas, kau tahu kan aku selalu mencontek catatanmu. Aku tidak ingin mataku rusak melihat tulisan yang terpotong-potong seperti itu.”

Seorin hanya menggumam tak jelas. “Itu alasan paling tak manusiawi yang pernah kudengar.”

“Sudahlah. Tak usah bertengkar, suara kalian kencang sekali. Ini pulpenku, untukmu saja.” Kata Baekhyun tiba-tiba menghampiri meja Chanyeol dan Seorin.

“Jeongmal? Gomapta, kau baik sekali… Tidak seperti namja di sebelahku. Dia sangat jahat.” Kata Seorin berbisik.

“Kembalikan pulpen itu! Memangnya kau mau menulis dengan apa, Baekhyun?” kata Chanyeol.

“Aku masih punya pensil.” Kata Baekhyun.

“Tidak usah repot-repot. Aku punya banyak pulpen dan kau akan kuberi satu, ani, dua pulpen untukmu Cho Seorin-ssi.”

“Aduh… aku bingung. Siapa yang harus kupilih?” kata Seorin mulai menjelma menjadi manusia alay.

Pada akhirnya Baekhyun membawa pulpennya kembali ke mejanya meninggalkan Seorin yang menggila dengan senyuman garing, sementara Chanyeol mengurungkan niatnya untuk memberi Seorin dua pulpen.

“Baik! Aku pakai spidol!” kata Seorin yang merasa dirinya ditinggalkan.

===

Sepulang sekolah

At Library

“Aku mengantuk.” Kata Kyungsoo.

“Kubilang juga apa. Di perpustakaan sangat membosankan. Ya! Kenapa museum tutup di hari Senin begini?”

“Mungkin petugasnya lupa bawa kunci.” Kata Kyungsoo asal dan meletakkan kepalanya di atas meja.

“Aish! Jangan tidur disini! Arraseo, kita pergi sekarang.” Kata Youngra.

Kyungsoo yang mendengar itu, matanya langsung terbuka lebar dan tidak lagi mengantuk.

“Nah. Begitu lebih baik. Lanjutkan mengerjakan tugas.” Kata Youngra yang ternyata hanya menggoda Kyungsoo.

“Dasar tukang tipu.” Cibir Kyungsoo.

“Aku tidak akan pergi dari sini sebelum tugas ini selesai. Jadi kau lebih baik ikut membantu agar kita bisa segera pergi membeli kado. Ne?”

“Terserah anda.” Kata Kyungsoo pasrah.

===

At Another Place

“Yeobseo…”

“Ne.”

“Tuan Jungsoo… Bisakah anda pulang sekarang?” tanya Eun ahjumma pada orang diseberang telpon.

“Aku baru akan bertemu client. Memang ada apa?”

“Sehun, tuan…. Dia… Sudah sadar, tapi…”

“Benarkah?! Akhirnya… Terima kasih Tuhan. Baiklah, akan kuusahakan untuk pulang sekarang.” Jungsoo memotong kalimat Eun ahjumma.

“Tuan, ada satu hal yang….”

Tut tut tut

Sambungan telpon telah diputuskan secara sepihak oleh Jungsoo.

“Akan lebih baik jika ia mengetahuinya sendiri, bukan dari aku.” Gumam Eun ahjumma.

“Ahjumma…” teriak Baekhyun dari kamar Sehun.

Eun ahjumma langsung berlari ke kamar Sehun.

“Ada apa?” Eun ahjumma terengah-engah.

“Dia mengingat seseorang…. Eommanya.” Kata Baekhyun dengan nada merendah.

.

TOK TOK TOK

Pintu depan diketuk, Eun ahjumma langsung bergegas membukakan pintu.

Nampak seorang namja tinggi dan di belakangnya berdiri seorang yeoja, keduanya masih mengenakan seragam sekolah. Namja itu langsung berlari ke arah kamar di dekat tangga. Sementara sang yeoja berhenti tepat di depan Eun ahjumma.

“Apa benar yang Anda katakan di telfon tadi?” tanya yeoja itu yang tidak lain adalah Seorin.

Eun ahjumma mengangguk pelan.

“Ba… Bagaimana bisa?!” tanya Seorin tak percaya.

“Molla…. Bahkan aku saja yang merawatnya sejak kecil tak diingatnya.” Kata Eun ahjumma dengan nada sedih.

“Bersabarlah ahjumma.” Seorin menggenggam tangan Eun ahjumma.

Kemudian ia langsung menyusul Chanyeol ke kamar Sehun. Sedikit terkejut memang, karena mendapati Baekhyun juga ada disana.

“Yeobseo? Ah, Kwon uisa-nim bisakah Anda kemari sekarang?” Chanyeol menelpon seseorang.

“…..”

“Ne. Khamsahamnida. Tolong cepatlah.” Kata Chanyeol.

“Bagaimana?” tanya Seorin memegang bahu Chanyeol. Sementara Chanyeol hanya mengendikkan bahu.

Di atas ranjang, nampak Sehun masih berbaring dan terus menatap lurus ke langit-langit rumah dengan pandangan kosong.

===

“Sehun positif menderita amnesia. Mungkin saat kecelakaan ia mengalami benturan yang sangat keras. Memang tidak ada keanehan di kepalanya, itulah yang menyebabkan Rumah Sakit terkecoh dan hanya memperhatikan organ-organ dalam lainnya.”

“Apakah ada harapan baginya untuk sembuh??” kata Jungsoo yang lemas mendengar keterangan dokter pribadi keluarga mereka.

“Aku tidak bisa memastikan. Tapi dia dapat mengingat seseorang yang terakhir kali bersamanya. Jadi peluangnya untuk sembuh tidaklah kecil. Namun itu membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan seluruh memorinya.”

Jungsoo menghela nafas berat.

“Jadi aku harus bagaimana? Aku tak mau membuatnya kecewa karena satu-satunya orang yang diingatnya justru telah tiada.”

“Aku rasa anda tahu harus berbuat apa. Ajaklah dia berkomunikasi, ceritakan tentang masa lalu yang indah-indah, hal-hal yang dia sukai dulu. Buat dia secara natural mendapatkan memorinya kembali sedikit demi sedikit. Tapi jangan dulu membuat ia berfikir, terutama tentang eommanya. Intinya, jangan membuat otaknya lelah. Sampaikan dulu hal-hal ringan yang mudah dimengerti.”

“Baiklah uisa-nim. Tapi sejak sadar dia selalu diam dan hanya menyebut istriku saja. Apa ini juga mempengaruhi psikologisnya?” tanya Jungsoo khawatir.

“Dia hanya sedang beradaptasi. Dia menganggap kalian semua adalah orang asing. Jadi dekatilah ia secara perlahan.”

“Arraseo uisa. Khamsahamnida.” Jungsoo lalu membungkuk.

“Ne. Aku pamit dulu Tuan Jungsoo.”

Setelah Kwon uisa meninggalkan kediaman Jungsoo,

“Apa yang harus kita lakukan appa?” tanya Chanyeol dari belakang yanng rupanya mendengar semua pembicaraan Jungsoo dan Kwon uisa.

“Kita rawat dia dengan penuh kasih sayang.” Jungsoo lalu memeluk Chanyeol.

“Ini semua butuh waktu.”

===

At Another Place

Di sebuah jalan pinggir kota Seoul nampak dua orang yang masih mengenakan seragam dengan identitas ‘Seoul Senior High School’ berdiri di antara ratusan orang yang berlalu lalang di tempat itu.

“Hmmm…. Sudah lama aku tak kesini. Tidak banyak berubah rupanya.” Kata Youngra.

“Well… Apa ini masih di Seoul? Aku baru pertama kali kesini.” Kata Kyungsoo.

“Kau kuper sekali. Jalan ini kusebut sebagai ‘jalan kebahagiaan dunia’ karena sepanjang jalan ini kau bisa membeli apapun yang kau mau dan kau butuhkan dengan harga murah namun kualitasnya tak kalah dari barang-barang di mall, distro, ataupun butik-butik.”

“Dari caramu menjelaskan, nampak sekali kalau kau ini seorang shopaholic. Dasar Si Gila Belanja!” hardik Kyungsoo.

“Kau mengejekku?! Kalau iya memangnya kau rugi?! Jadi atau tidak membeli kadonya?”

“Jadi jadi. Tapi ini sudah sore, apa tidak apa-apa?”

“Tenang saja.. Tempat ini buka sampai tengah malam.” Kata Youngra yang sudah mulai melangkah kemudian Kyungsoo menyamakan langkahnya dan berjalan di samping Youngra.

“Aish! Bukan itu maksudku. Apa tidak apa-apa jika kau nanti pulang sampai malam? Tempat ini lumayan jauh dari pusat kota lo… Tadi saja kita naik bis sampai dua jam.” Ceramah Kyungsoo panjang lebar.

“Aku sudah terbiasa begini dengan Sehun.” Jawab Youngra datar.

“Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka tidak khawatir?”

“Mereka sudah mengenal Sehun sejak lama. Jadi mereka percaya saja padaku asal aku bersama Sehun.”

“Tapi sekarang kau tidak bersama Sehun, tapi bersamaku.”

“Oh iya… Aha! kau kan saudaranya Sehun.”

Percakapan mereka terhenti sampai disitu karena terlalu sibuk melihat kanan-kiri mereka.

“Wah… Kalung ini bagus sekali. Hampir mirip dengan yang kulihat di mall kemarin.” Youngra setengah menjerit.

“Sepertinya aku salah mengajak orang. Sebenarnya dia yang menemaniku atau aku yang menemaninya belanja?” gerutu Kyungsoo.

“Yah! Kau kampungan sekali! Tidak usah berteriak. Kau jadi membantuku atau tidak? Kalau tidak aku akan mencarinya sendiri.” Kata Kyungsoo.

“Ne ne… pergilah. Nanti kita bertemu di bawah pohon sakura itu jam 7 malam.” Kata Youngra dengan kilatan sinar di ujung matanya.

“Sudah kuduga dia akan menjawab seperti itu. Memangnya dia mau memborong apa sampai jam 7 malam? Dasar perempuan.” Gumam Kyungsoo dan langsung berlalu meninggalkan Youngra.

SKIP>>>

Kyungsoo’s POV

Mungkin sudah satu jam, ani.. Berjam jam aku duduk di bawah pohon ini untuk menunggunya. Aigoo. Jika semua perempuan seperti ini, apa yang terjadi pada dunia? Padahal tujuan utama kesini kan membantuku. Tapi apa daya, sekali lagi, aku salah besar mengajak orang itu.

Mudah-mudahan Baekhyun hyung suka dengan pemberianku ini. Memang tidak terlalu mahal, tapi jam tangan ini akan membuatku kelaparan saat di sekolah sampai minggu depan.

“Kyungsoo-ya. Kenapa sudah disini? Kau cepat sekali, apa sudah kau dapatkan kadonya?” kata Youngra yang membawa beberapa tas belanjaan.

“Wah wah… Sang putri gila belanja sudah tiba rupanya. Pangeran nan rupawan ini sudah berabad-abad menanti di pohon keramat ini.” kataku dengan muka sinis.

“Hehe… Mianhae. Ini kan masih setengah 8. Tak apalah jika terlambat setengah jam, namanya juga perempuan. Kajja kita pulang. Itu yang kau inginkan kan?” katanya memasang tampang sok innocent.

“Lalu kau pikir?” kataku.

Dengan langkah yang cepat aku segera keluar dari pasar, tanpa memperhatikan Youngra yang berada beberapa langkah di belakangku.

“Hei! Pelan-pelan… Au!!”

BRUK

Aku menoleh, sudah kuduga semua belanjaan yang ia bawa berserakan di tanah.

“Aish! Makanya kalau jalan hati-hati.” Aku menghampirinya.

BRUK

“Mianhae. Aku tidak sengaja.” Kataku sambil membungkuk pada orang yang tidak sengaja kutabrak.

“Gwaenchana.” Katanya kemudian pergi.

“Aish! Kau bikin repot saja. Sini aku bantu.” Kataku.

“Hehe… Gomapta. Kalau berjalan pelan-pelan saja, kita tidak sedang dikejar hantu kan?” katanya sambil berdiri.

“Terserah lah. Ini sudah terlalu malam.”

Ternyata menunggu bis disini tidak sesulit yang kupikirkan, terlalu mudah malah. Baru 10 menit kami menunggu di halte, bis-bis yang menuju segala jurusan sudah lewat silih berganti.

Selama di dalam bis kami hanya diam. Aku terlalu lelah dan lapar untuk berbicara dan kurasa Youngra juga. Aku bersandar di jendela dan melihat jalanan Seoul pada malam hari.

===

“Kalian mau naik sampai mana? Ini sudah pemberhentian terakhir.” Seseorang mengagetkanku yang rupanya telah tertidur.

“Eh?” aku masih belum sadar.

Beberapa detik kemudia aku baru sadar.

“Mwo?!” pekikku dan langsung membangunkan Youngra yang tanpa kusadari sejak tadi tertidur dan bersandar di bahu kananku.

“Youngra! Kita naik terlalu jauh!”

===

“Khamsahamnida ajusshi.” Kataku dan Youngra pada sanga supir taksi dan tanpa basa basi langsung tancap gas meninggalkan kami.

“Dompetmu benar-benar hilang?”

“Molla, seharusnya ada di saku dan saat aku membeli barang, dia masih ada.”

“Jangan-jangan kau dicopet.”

Aku berfikir, mungkin juga, di pasar tadi sangatlah ramai. Saat aku lengah mungkin seseoarang mengambil dompetku. Tapi, kenapa aku tak merasa?

“Tapi aku tak merasakan apapun.”

“Itulah hebatnya pencopet pasar. Mereka sangat profesional, makanya kita harus hati-hati. Apa kau tadi bertabrakan dengan seseorang?”

Aku berfikir sejenak.

“Um…. Iya, tadi saat aku mengahampirimu yang sedang terjatuh. Tapi sudah kubilang aku tak merasakan apapun.”

“Dan aku juga sudah bilang kalau mereka sangat profesional.”

“Seharusnya kau bilang begitu sejak awal.”

“Aku juga tidak tahu akan begini jadinya. Jadi jangan menyalahkanku! Memang isinya apa saja?”

“Isinya… Mmm… kira-kira hanya 1 lembar uang 1000 won dan kartu pelajar.”

“Sudahlah, ikhlaskan saja. Jika mau, maka akan kuganti kerugianmua karena aku merasa bertanggung jawab karena akulah yang mengajakmu kesana dan tidak memberitahumu apa-apa. Mianhae.”

“Aniya. Tidak usah repot, tak apa dompetku hilang. Yang kukhawatirkan malah kartu pelajarku. Jadi sekarang aku harus menghadapi Miss. Hyunja dan memintanya memproses kartu pelajarku lagi? Ahhh… aku tidak suka melihat wajahnya…. Seperti ahjumma pedofilia.”

“Darimana kau mendapat kata itu? Hahahahaha….”

“Dari Tao. Memang ada yang salah?”

“Tidak juga… kau terlihat lucu dan tidak cucok melafalkan kalimat seperti itu. Baiklah, besok kutemani kau menemui Miss. Hyunja.”

“Arraseo.”

“Eh, seharusnya kau tak perlu ikut turun disini. Rumahmu kan masih jauh.” Kata Youngra.

“Gwaenchana. Aku hanya khawatir jika orang tuamu marah.”

“Tidak mungkin… Me….”

“Aigoo… Youngra! Ya! Anak bandel, jam segini baru pulang. Dari mana saja kau? Siapa dia? Namjachingumu?” tanya wanita yang kuduga adalah eommanya Youngra.

“Shireo!” pekik kami berdua secara histeris.

“Sttt… Kalian tahu ini jam berapa? Jangan buat keributan!!”

Kemudian kami menjelaskan semua kejadian tadi.

“Ohh… Kalau begitu mari masuklah, akan kuabutkan teh. Malam ini sangat dingin.”

“Tidak usah repot-repot ahjumma. Aku pulang sekarang, keluargaku pasti sudah menunggu.”

“Arraseo. Hati-hati di jalan.” Kata ahjumma.

“Annyeong….” kata Youngra sambil melambai dan aku hanya membalas dengan mengacungkan jempol.

===TBC===

Iklan

13 pemikiran pada “Chapter Of Our Life (Chapter 2)

  1. Ending chapter ini ga bikin penasaran thor, malah yg bikin penasaran gimana nasib kartu pelajar nya Kyungsoo, n nasib nya Sehun selanjut nya

    Next chapter buruan publish ne ^^v

    • Iya emang sengaja di putus disitu soalnya bosen kalo ending selalu buat penasaran… Biar beda dikit gapapa lah..
      Sebenernya author juga penasaran, kartunya Kyungsoo kemana sekarang? Apakah terbang bersama angin? #loh
      Nasib Sehun selanjutnya… Masih jadi anak keluarga Park kok.. #iyalah

      Arraseo, tunggu aja chingu… gomawo udah baca n comment 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s