Hypocrites (Chapter 1)

Poster

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 1 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

Description: Suji tidak pernah memiliki kesempatan untuk dapat memahami arti dari dunia luar yang sesungguhnya. Kai disisi lain, mulai lupa akan sinar dunia yang dia singgahi dan hidup dalam kekosongan. Kemudian ketika dua mahluk yang berbeda ini dipertemukan dalam suatu ikatan yang sakral, tidak ada seorangpun yang dapat menghindar darinya. Dan sebanyak apapun mereka menyangkal bahwa mereka tidak menginginkan ikatan tersebut, juga sebanyak apapun mereka memang ditakdirkan untuk terikat. Suji dan Kai, kedua mahluk ini memutar, membungkuk, menabrak dan menjadi sesuatu yang tak satu pun dari mereka berdua pahami. Namun sedikit mereka sadari, bahwa hari esok tidak akan pernah lagi sama dengan hari kemarin.

Note: Annyeong chingu! I’m back with my second fanfic featuring the almighty Kai! And yeah, this fic is pretty much different from my previous one. This time I’m going to use simplier style of writing, but I hope you will give this fic a chance. Sorry for the typos, weirdness storyline, and etc. I’m still amateur and not deserve being called as an author. Enjoy and don’t forget to tell me what you’ve thought about it.

FF OST (Just for fun): Raspberry Field – Saturday Afternoon & Ailee – Evening Sky.

“Dengan ini kunyatakan kalian berdua sebagai sepasang suami-istri.”

Kalimat terakhir yang di ucapkan oleh pendeta itu berulang kali terngiang dibenak Suji. Apakah semua ini benar-benar terjadi? Apakah benar aku telah menikah dan menjadi seorang istri? Suji bertanya-tanya didalam hatinya. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap orang-orang disekitarnya demi mendapatkan sebuah jawaban. Tidak terdapat banyak orang yang hadir disana, karena pernikahannya dilaksanakan secara tertutup dan bahkan dirahasiakan dari muka umum.

Waktu seolah-olah berputar dengan sangat lambat, Suji menatap satu-persatu wajah orang-orang dihadapannya saat ini, mereka semua terlihat sedang tersenyum seraya bertepuk tangan, termasuk kakeknya.

Wae? Mengapa mereka tersenyum ketika perasaanku hancur? Suji mengalihkan pandangannya lagi kearah lain, masih mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya. Lalu secara tidak sengaja dia menatap mata itu lagi. Mata yang selalu terlihat kosong dan diselimuti oleh bayangan hitam, mata yang sungguh cocok menggambarkan seorang pria dihadapannya saat ini, satu-satunya pria yang tidak tersenyum, pria yang beberapa detik yang lalu baru saja menjadi suaminya, Kai.

Hanya itu yang dia ketahui tentang diri Kai. Pernikahannya dengan Kai memang berbeda dengan pernikahan lainnya yang berlangsung atas dasar cinta. Mereka tidak saling mencintai. Hubungan mereka bahkan tidak lebih dari sekedar orang asing. Namun ketika kakeknya dan kedua orang tua Kai mengatur semua pernikahan ini dengan tujuan agar hubungan kerja sama diantara perusahaan mereka menjadi semakin erat, siapa yang dapat menduga bahwa segalanya telah berubah dengan drastis.

Aneh bukan? Namun sesungguhnya hal seperti ini tidak aneh, dan memang biasa dilakukan oleh kebanyakan darah biru seperti mereka.

Suji mengalihkan pandangannya ke sebuah cincin berlian yang kini melingkar anggun dijari manisnya, dan pada akhirnya dia pun berhasil mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi. Jawaban yang menyatakan bahwa memang benar dia telah menikah dan menjadi seorang istri bagi pria bernama Kai, seorang pria yang begitu asing baginya.

—–

“Chukkae Kai, aku tidak pernah menyangka kau akan menikah secepat ini dan kehilangan masa remajamu” Goda Sehun yang setelah itu mendatangkan tawa jahil dari teman-temannya yang lain.

“Shikkereo” Jawab Kai malas, dia sudah merasa lelah akibat terlalu lama berada ditempat ini, apalagi karena sejak tadi dia terus-menerus menjawab semua ucapan selamat yang diberikan oleh para tamu.

Kai dibesarkan dengan sendok perak dimulutnya, dia adalah seorang putra tunggal yang berasal dari pasangan suami-istri Kim. Kedua orang tua Kai memiliki perusahaan yang amat sukses didalam maupun luar negeri, dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mereka berdua memanglah orang yang sangat sibuk. Namun Kai tidak pernah mengeluh akan kesibukan orang tuanya, karena dia tahu bahwa mereka melakukan hal tersebut demi menghidupinya.

Kai memiliki empat orang sahabat yang bernama Suho, D.O, Chanyeol, dan Sehun. Mereka berlima telah menjalin persahabatan sejak kecil, hubungan mereka bahkan sudah seperti saudara, dan oleh karena itu Kai sama sekali tidak keberatan mengundang mereka ke acara pernikahannya yang terkesan tertutup ini, asalkan mereka dapat menutup mulut mereka dengan baik.

Tampan, kaya raya, cerdas, pemuda sukses, semua hal itu jelas mendeskripsikan seorang Kai, namun sayangnya Kai memiliki sifat yang sangat dingin, dan juga angkuh. Dia jarang berbicara kecuali terhadap kerabat terdekatnya, dia jarang tersenyum ataupun menunjukkan emosi-emosi lainnya. Segala hal yang dia inginkan selalu ia dapatkan dengan mudah, hidupnya selalu berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan, hingga suatu saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan orang yang begitu asing baginya. Kedua orang tua Kai mengancam akan menyita seluruh fasilitasnya dan bahkan memindahkannya bersekolah ke luar negeri jika dia menolak akan pernikahannya ini, dan pada akhirnya, Kai pun berhasil terjerumus kedalam perangkap yang telah dibuat oleh kedua orang tuanya.

“Hyung, kau bawa mobil kan? Tolong antar aku keluar dari tempat ini” Ujar Kai sambil melonggarkan ikatan dasinya.

“Wae? Acaramu bahkan belum selesai,” Ujar Suho dengan tatapan penuh tanya, “Dan bagaimana dengan istrimu? Apakah akan baik-baik saja jika kau meninggalkannya sendiri?” Suho mengedipkan salah satu matanya, sehingga menimbulkan tawa-tawa jahil dari yang lainnya lagi.

“Terserah kalian mau bilang apa, tapi yang jelas aku mau pulang.” Kai mulai berjalan melangkahkan kakinya mendekati pintu keluar, meninggalkan teman-temannya dibelakang.

“Aish changkaman!” Suho segera berjalan menyusul Kai, dan meninggalkan ketiga temannya yang lain.

“Jinjja, apa ada orang lain selain Kai yang meninggalkan tamunya pada acara pernikahan mereka sendiri?” Chanyeol menggelengkan kepalanya, “Lebih baik kita susul saja mereka” Saran D.O, Sehun mengangguk setuju, dan mereka bertiga pun berjalan menyusul Kai dan Suho.

Sebelum Kai mencapai pintu keluar, dia memastikan agar kedua orang tuanya tidak melihatnya pergi dari gedung ini, dan untung saja mereka terlihat tengah sibuk berbincang dengan para tamu. Lalu tanpa banyak berpikir lagi, Kai segera beranjak keluar.

—–

Mau kemana dia? Suji bertanya didalam benaknya ketika menangkap Kai, bersama dengan beberapa orang pria dibelakangnya pergi meninggalkan acara.

Suji menghela nafas panjang, dia sudah begitu lelah dengan apa yang terjadi hari ini, kakinya mulai mati rasa akibat heels yang dia pakai. Rasanya ingin sekali dia kembali ke kamarnya dan tidur diranjangnya yang hangat, namun tentu saja dia tahu bahwa kakeknya tidak mungkin mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut.

Suji lahir dalam kehidupan yang baik, dia berasal dari keluarga yang begitu disegani oleh banyak orang, kakeknya merupakan seorang pejabat tertinggi dalam suatu perusahaan yang sangat sukses di Korea. Suji tumbuh dengan segala kemewahan disekitarnya, dia bagaikan seorang putri dalam dongeng, dimana setiap gadis bermimpi untuk dapat menjadi seperti dirinya.

Suji adalah seorang gadis yang penurut, dia sopan dalam berbicara maupun berperilaku, namun sayangnya, dia masih terlalu polos bahkan naif bagi seorang gadis seusiannya. Jika dilihat dari kejauhan, Suji memang berada dalam kehidupan yang amat baik, namun jika kita melihat lebih dalam lagi, sesungguhnya dia tidak lebih dari seorang gadis periang yang selalu tersenyum, ketika hati kecilnya menjerit.

Sepuluh tahun yang lalu kedua orang tua Suji tewas dalam sebuah tragedi kecelakaan yang tragis, sebuah tragedi yang telah mengubah hidupnya, sebuah tragedi masa lalu yang tidak mungkin dapat dia lupakan, dan akan terus melekat dalam dirinya.

Sejak tragedi itu terjadi, Suji tinggal bersama kakeknya. Sang kakek memiliki sifat yang sangat keras, beliau juga selalu mendidik dan mengawasi Suji dengan cara yang begitu ketat, dan Suji harus selalu mematuhi apa yang dikatakan, dan apa yang diperintahkan oleh kakeknya.

Poor little rich girl, julukan seperti itulah yang diterima oleh Suji ketika dia masih kecil, berbeda dengan kebanyakan gadis kecil seusianya, Suji memang tidak mendapatkan perhatian, dan juga kasih sayang yang sempurna dari kedua orang tuanya. Buruknya, sang kakek tidak pernah membiarkannya untuk melakukan hal yang dia inginkan, dan karena perlakuan kakeknya yang terlalu ketat itu, Suji jarang bahkan hampir tidak pernah keluar dari rumahnya.

Sejak kecil Suji selalu selalu belajar dan bermain didalam rumahnya. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya didalam kamar, dimana dia membuat temannya sendiri, dan belajar untuk menghibur dirinya. Suji telah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, semua hal datang darinya, dan semua hal juga kembali kepadanya. Walaupun demikian, terdapat hal lain yang paling dia inginkan didunia ini, yaitu mendapatkan kasih sayang, tanpa harus mengemis terlebih dulu untuk dapat meraihnya.

Hari demi hari berlalu, sang kakek menjadi semakin tua dan sering sakit-sakitan, sehingga hal tersebut membuatnya mengambil sebuah keputusan yang paling penting baginya sebelum ajal datang menjemputnya, yaitu menikahkan cucu semata wayangnya dengan seorang pria yang menurutnya pantas, dan pria itu tidak lain adalah Kai.

Suji tahu bahwa dirinya sama sekali tidak dapat menolak, apalagi lari dari keputusan kakeknya yang begitu memaksa dan mengikat. Suji tahu bahwa dia tidak dapat berbuat apapun kecuali menerima pernikahannya yang telah direncanakan ini. Suji juga tahu bahwa dirinya tidak lebih dari sebuah boneka yang selalu diatur dan dimainkan oleh majikannya sesuka hati mereka.

Dan sepahit apapun hidupnya, Suji tidak pernah membuat dirinya lemah, apalagi menangis.

Lalu bagaimana perasaannya? Perasaan tidak penting.

Perasaannya tidak pernah penting.

—–

Pada sore hari yang sedikit berawan ini, Suji dengan perlahan turun dari mobil setelah tuan Kang, supir keluarga Kim membukakan pintu untuknya. Hari yang dia pikir tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya telah datang. Hari dimana dia akan tinggal bersama dengan keluarga Kim.

Kakeknya dan kedua orang tua Kai sepakat, bahwa akan lebih baik bagi Suji jika dia pindah dan tinggal bersama dengan mereka, mereka bahkan telah memindahkan Suji ke sekolah yang sama dengan Kai.

“Kau sudah sampai rupanya, selamat datang Suji” Tiba-tiba saja nyonya Kim muncul dan berjalan menghampirinya, sedangkan Suji membungkuk memberikan hormat kepadanya.

“Kalau begitu langsung saja kita masuk, kajja” Suji mengangguk, dan setelah itu nyonya Kim segera mengantar Suji untuk masuk kedalam.

Suji membiarkan matanya menyelusuri setiap ruangan yang terletak dirumah besar ini, kediaman keluarga Kim memang benar-benar besar, walaupun tidak lebih besar jika dibandingkan dengan rumahnya terdahulu. Semua yang dia lihat bewarna putih, mulai dari lantai, dinding, hingga tangga. Suji membiarkan matanya menyelusuri setiap bagian dirumah ini, hingga suatu ketika pandangan matanya jatuh pada sebuah foto keluarga yang terletak begitu besar didinding. Tuan dan nyonya Kim terlihat sedang tersenyum bahagia dalam foto itu, terkecuali Kai. Rawut wajah Kai pada foto itu sama dengan terakhir kali Suji melihatnya, matanya kosong, dan dia bahkan tidak tersenyum.

Suji membiarkan nyonya Kim terus berjalan dan membawanya menyulusuri setiap bagian yang ada pada rumah mereka, hingga pada akhirnya mereka berdua berhenti disebuah pintu kayu yang juga bewarna putih.

“Kamarmu berada tepat dibelakang pintu ini Suji, beristiratlah sejenak, biarkan para pelayan yang membereskan barang-barangmu nanti” Ujar nyonya Kim.

“Ne kamshahamnida …” Suji berpikir sejenak, mencoba memilih panggilan yang cocok untuk nyonya Kim. “Aku akan merasa senang jika kau mau memanggilku serta memanggil suamiku sama seperti kau memanggil kedua orang tuamu sendiri” Suji tersenyum mendengar perkataan nyonya Kim, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia menyebut nama-nama itu.

“Ne, kamshahamnida … umma” Nyonya Kim tersenyum setelah mendengar Suji memanggilnya seperti itu. “Ah matta, umma dan appa sangat jarang berada dirumah, jika kau butuh sesuatu, ketuk saja pintu kamar Kai” Nyonya Kim menunjuk sebuah pintu kamar Kai yang terletak tidak jauh dari kamar Suji, Suji mengangguk pelan. Setelah itu nyonya Kim beranjak pergi dari tempatnya, dan Suji pun masuk kedalam kamarnya yang baru.

Suji membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dan ternyata dugaannya benar. Seluruh material dikamarnya juga bewarna putih, mulai dari tempat tidur, lemari, meja rias, kamar mandi, bahkan balkon yang berada didalam kamarnya semua bewarna putih. Sepertinya keluarga ini begitu menyukai warna putih, Suji berbicara didalam hatinya. Kemudian dia merebahkan tubuhnya diranjang, dan beristirahat sejenak.

Suji tahu bahwa seharusnya dia merasa senang, senang karena akhirnya dia tidak lagi terjebak didalam kamarnya seorang diri, senang karena dia dapat pergi ke sekolah layaknya pelajar lain pada umumnya, senang karena mulai detik ini, sebuah awal baru telah dimulai. Namun mengapa justru dia merasakan hal yang sebaliknya? Dia merasa bahwa dirinya tidak layak berada ditempat ini.

Dingin dan asing, kedua hal itu yang dirasakannya saat ini. Dibanding dengan ranjangnya yang hangat, tempat ini terasa jauh lebih dingin, dan juga asing. Dia terbiasa melihat dinding dikamarnya yang bewarna merah jambu, lantai serta pintu kayu, dan lukisan-lukisan warna-warni pada dinding kamarnya, namun tempat ini? Semuanya terlihat sama, putih. Dia tidak terlalu menyukai warna putih, karena warna putih mengingatkannya dengan salju, dan salju itu sendiri mengingatkannya pada suatu hal dimasa lalu.

Suji segera mengubur pikirannya dalam-dalam, dan membuat dirinya untuk selalu percaya, bahwa terdapat setiap makna dibalik setiap peristiwa. Perlahan, Suji pun mulai memejamkan matanya, lalu mengucapkan doa yang biasa dia ucapkan sebelum mengakhiri harinya.

“Semoga apa yang terjadi hari ini, adalah yang terbaik.”

—–

Keesokan harinya, setelah bersiap-siap dan sebelum berangkat ke sekolah untuk yang pertama kalinya, Suji bersama dengan tuan dan nyonya Kim terlihat sedang menikmati sarapan mereka bersama. Sebenarnya tuan dan nyonya Kim sangat jarang memiliki waktu luang untuk dapat sarapan dirumah seperti ini, namun mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, apalagi ketika mereka baru saja mendapatkan seorang anggota keluarga baru.

“Morning Kai” Nyonya Kim menyapa putranya yang baru saja tiba dimeja makan, dia baru saja selesai mandi dan hendak sarapan. Kai sedikit terkejut saat melihat kedua orang tuanya sarapan bersama dirumah pagi ini, biasanya mereka bahkan tidak memiliki waktu luang untuk melakukan hal semacam itu, lalu pandangan matanya jatuh kapada Suji. Oh.

Suji tersenyum kecil saat melihat Kai, kemarin malam dia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kai, dan kini dia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan kai, maka dari itu dia tidak dapat melakukan apapun kecuali tersenyum. Kai disisi lain, tidak membalas senyum yang diberikan oleh Suji kepadanya, dia bahkan menghiraukan kehadiran Suji.

Suji secara diam-diam mengintip kearah Kai, dan melihat bagaimana pria itu tetap terlihat tampan dengan seragam sekolahnya yang terkesan tidak ditata dengan baik. Rambutnya bahkan terlihat berantakan, namun hal tersebut justru yang membuatnya terlihat semakin tampan, atau mungkin terlalu tampan.

“Suji, jangan sungkan dan makan yang banyak, arraseo?” Ujar tuan Kim sambil mengisi gelas Suji dengan lebih banyak air mineral, Suji segera mengalihkan pandangannya dari Kai, kemudian tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada tuan Kim. “Aigo yeppoda” Nyonya Kim memuji Suji, sehingga menimbulkan rona merah dikedua pipinya.

Kai disisi lain hanya sibuk mengoleskan selai kacang pada rotinya, entah mengapa saat ini dia merasakan suasana yang begitu aneh dan asing baginya, dan hal itu sama sekali tidak membuatnya senang. Sejak awal yang dia lihat hanyalah senyuman Suji yang menurutnya terkesan dibuat-buat, dan hal itu cukup untuk dapat membuatnya merasa muak.

“Suji, apa pendapatmu mengenai Kai?” Kai memutar bola matanya ketika mendengar ibunya mempertanyakan hal yang seharusnya tidak perlu untuk ditanyakan. Suji terdiam sejenak, dia merasa binggung dan tidak tahu harus berkata apa.

“Kai?” Suji mencoba mencari jawaban yang tepat, “Kai, dia … dia adalah orang yang baik.” Jawab Suji, walaupun dia tidak mengenal siapa itu Kai yang sebenarnya, namun perasaannya mengatakan bahwa Kai adalah orang yang baik, sama seperti kedua orang tuanya.

“Apa kau menyukainya?” Pertanyaan nyonya Kim benar-benar membuat Suji pusing dan tidak tahu harus berkata apa lagi, maka dari itu dia hanya memutuskan untuk mengangguk pelan. Walaupun sebenarnya dia tidak (belum) menyukai Kai, namun dia juga tidak memiliki alasan yang rasional untuk membenci dapat Kai.

“Aku permisi dulu, aku sudah kenyang” Kai tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya, kemudian membungkuk dihadapan kedua orang tuanya sebelum beranjak pergi. Belum sempat nyonya Kim melarangnya pergi begitu saja, dia telah lebih dulu berhasil meninggalkan ruang makan.

“Aish anak itu, dia bahkan melupakan ponselnya” Nyonya Kim memberikan tatapan meminta maaf kepada Suji, kemudian bermaksud mengejar Kai untuk memberikan ponselnya yang tertinggal.

“Biar aku saja yang memberikan ponsel ini kepada Kai, lagi pula sepertinya aku juga harus berangkat kesekolah sekarang” Ujar Suji, dan dengan senang hati nyonya Kim menerima tawarannya.

“Aigo uri Suji memang benar-benar baik” Puji nyonya Kim, tuan Kim pun tersenyum setuju.

Suji mempercepat langkahnya berjalan menuju pintu utama, dan untung saja dia menemukan Kai yang belum sempat naik ke motornya, atau lebih tepat motor balapnya.

“Kau melupakan ponselmu Kai” Suji tersenyum sambil mengulurkan ponsel milik Kai, sedangkan Kai sedikit tersentak saat melihat kehadiran Suji. Kai menyerjitkan kedua alisnya.

“Bisakah kau hentikan semua ini?” Kai mendengus dan merampas ponsel miliknya dengan kasar. Suji mengedipkan matanya berulang kali, “Apakah aku melakukan suatu kesalahan?” Suji bertanya, dia benar-benar merasa binggung.

“Sejak awal … sejak awal kau memang sudah salah karena telah menyetujui pernikahaan ini” Kai berkata dengan dingin, dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, kemudian bersender pada motornya.

“M-mwo?” Tidak mungkin bagi Suji untuk berbicara secara normal, disaat kedua mata itu menatapnya dengan lekat.

“Kau sendiri tahu bahwa kau membenciku bukan? Kau tidak perlu berpura-pura menyukaiku, aku bahkan tidak pernah menyuruhmu untuk melakukan hal semacam itu.” Kai berkata dengan sinis, namun tatapan matanya tidak pernah berubah, kosong dan seolah-olah diselimuti oleh bayangan hitam.

Suji benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kai, mungkinkah seharusnya dia tidak menjawab pertanyaan nyonya Kim diruang makan tadi, namun hal itu sangat tidak sopan baginya. “Tapi aku sama sekali tidak berpura-pura,” Suji menggigit bibir bawahnya, “Dan aku tidak membencimu Kai,” Suji menundukkan kepalanya karena merasa malu, tatapan mata Kai yang mengintimidasi benar-benar telah membuatnya takut dan merasa kecil. “Mianhe jika perkataanku tadi membuatmu kesal, aku sama sekali tidak tahu.” Suji memberanikan dirinya untuk meminta maaf dan tersenyum kepada Kai, mungkin akan lebih baik jika dia melakukan hal itu.

“Berhenti tersenyum seperti itu. Berhenti berpura-pura seperti itu. Aku membencinya,” Kai menatap lurus kearah mata Suji, kemudian dengan nada suara yang datar dia berkata,

“Dan aku membencimu.”

Suji mengerti apa yang dimaksud dengan rasa sakit. Bertahun-tahun perasaan itu telah menjadi bagian dari dalam dirinya, dan perasaan itu juga yang selalu dia hindari beberapa tahun belakangan ini. Namun ketika kalimat itu keluar dari dalam mulut Kai, pengalamannya mengenai semua rasa sakit, benar-benar telah terdefinisi ulang.

“Aku juga membenci diriku sendiri” Suji berbicara dengan suara yang begitu pelan seolah berbisik, namun Kai tetap dapat mendengar suaranya dengan cukup baik.

Ya, Suji memang sudah lama membenci dirinya, dia telah benci terhadap dirinya semenjak tragedi kematian orang tuanya dimasa lalu. Dia benci terhadap dirinya yang tidak dapat berbuat apapun saat itu, dia benci terhadap dirinya yang begitu lemah saat itu, dan saat ini, dia benci terhadap dirinya yang telah berhasil membuat orang lain membencinya.

“Kau … juga?” Perkataan Suji telah berhasil membuat Kai binggung.

“Aku benci terhadap diriku karna telah membuatmu membenciku” Suji sama sekali tidak berniat untuk mengatakan kata-kata yang terkesan klise atau semacamnya, namun nampaknya kata-kata itu telah keluar begitu saja tanpa dia sadari.

“Apa maksudmu?” Kai tidak lagi bersender pada motornya, dia justru berjalan mendekati Suji.

“Kau membenciku bukan?” Suji menatap kai tanpa rasa takut seperti yang dia alami beberapa saat yang lalu, walaupun sebenarnya dia tahu jika dia menatap Kai lebih lama lagi, mungkin dirinya bisa hancur berkeping-keping.

“Ya … tentu” Kai berkata tanpa tagu.

Dari jarak mereka yang tidak terlalu jauh ini, Kai dapat melihat dengan jelas bola mata Suji yang begitu bulat dan bewarna coklat. Kai tidak bisa menyangkal bahwa gadis dihadapannya ini memang benar-benar cantik, namun sayangnya semua yeoja dimatanya adalah sama, sama-sama menyebalkan.

“Lalu apa yang harus kulakukan agar kau tidak membenciku?”

Kai terdiam.

Rupanya gadis ini masih begitu naif. Tidak … lebih tepatnya, dia sangatlah bodoh, Pikir Kai.

Pertanyaan yang di ucapkan oleh Suji masih bergeming dibenaknya. Faktanya adalah, pertanyaan yang diajukan oleh seorang gadis yang dia klaim bodoh telah berhasil membuatnya terdiam sesaat, dan hal itu sama sekali tidak membantunya untuk tidak merasa binggung, dan juga kesal.

“Kalau begitu,” Kai menjawab, “Jauhi aku, dan saat disekolah nanti, jangan pernah bertingkah seolah-olah kau mengenalku. Mungkin kita memang sudah menikah, namun hal itu sama sekali tidak membuat posisimu lebih berarti dimataku. Kau hanyalah orang asing.”

“Baiklah,” Suji mengangguk pelan, “Hal itu lebih baik, asalkan kau tidak membenciku.”

Suji tersenyum.

Senyumannya kali ini adalah senyum kesedihan. Terdapat sebuah penyesalan dibibirnya, namun binar kebahagian terlukis jelas dikedua bola matanya.

Melihat Suji yang seharusnya tidak tersenyum setelah apa yang telah dia katakan kepadanya, membuat Kai menjadi semakin binggung dan juga kesal, kemudian tanpa banyak berpikir lagi, dia segera menyalakan gas motornya kemudian beranjak pergi meninggalkan Suji yang belum bergeming dari posisinya.

Suji menghela nafas panjang, dia menjatuhkan pandangan matanya kebawah, kemudian dia menatap seragam sekolah yang dia pakai untuk pertama kalinya. Ah matta, sekolah!

Perasaan Suji berubah menjadi senang seketika, dia bahkan terlalu bersemangat, karena untuk pertama kalinya, dia bisa pergi kesekolah layaknya pelajar normal lain seusiannya. Dan setelah itu tuan Kang segera mengantar Suji untuk pergi kesekolah.

—–

Sesampainya disekolah, Suji segera berjalan menuju ruang informasi untuk mendapatkan jadwal pelajarannya, dan setelah itu dia segera bergegas menuju kelasnya.

“2B … 2B …” Suji terus menerus bergumam kepada dirinya sendiri sambil mencari-cari kelasnya. Sebagian murid yang berada disana mengalihkan pandangannya kearah Suji, namun Suji tidak menyadari pandangan mata mereka karena terlalu sibuk mencari kelasnya, dan akhirnya dia pun berhasil menemukan kelasnya.

“Permisi” Suji membuka pintu kelasnya, lalu dia membungkuk kecil dihadapan seorang pria tua yang terlihat sedang menulis sesuatu dipapan tulis, dia pasti seorang guru.

“Ah kau pasti murid baru bukan?” Tanya guru tua itu, Suji mengangguk. “Kalau begitu masuklah dan perkenalkan dirimu didepan kelas” Pak guru itu mempersilahkan Suji untuk masuk kedalam.

Kini semua perhatian para murid didalam kelas tertuju pada Suji, sebagian dari mereka terlihat sedang berbisik satu sama lain, sebagian tersenyum kecil, dan sebagian lagi terlihat tidak peduli. Suji meneguk liurnya kemudian mencoba membuat dirinya setenang mungkin.

“Annyeong haseyo, choneun Choi Suji imnida,” Suji membungkuk dan tersenyum canggung dihadapan teman-teman kelasnya, “Mulai hari ini aku akan belajar disekolah ini, maka dari itu mohon atas bantuan kalian semua.” Suji mengakhiri sesi perkenalannya, kemudian pak guru pun mempersilahkannya untuk duduk.

Tempat duduk Suji berada tepat disamping seorang gadis yang memiliki wajah yang begitu lucu, dengan rambut bob miliknya yang justru membuat wajahnya terlihat semakin lucu.

“Anyyeong,” Gadis itu menyapa Suji sambil mengulurkan tangannya, Suji pun meraih tangan gadis itu dengan senang hati. “Aku Minhee, senang berkenalan denganmu” Minhee tersenyum.

“Senang berkenalan denganmu juga Minhee” Suji pun juga ikut tersenyum.

“Dimana sekolah asalmu? Dan mengapa kau pindah ke Seoul High School ini?” Minhee sedikit berbisik agar suaranya tidak terdengar oleh pak guru.

“Dulu aku hanya mengikuti program Home Schooling, aku pindah karena-” Suji binggung bagaimana dia menjawab pertanyaan Minhee, dia tidak mungkin bilang kepadanya bahwa dia pindah kesekolah ini agar tidak berada jauh dari suaminya, namun untung saja pak guru tua itu berhasil memotong ucapannya.

“Lee Minhee dan Choi Suji, kalian bisa melanjutkan perbincangan kalian seusai pelajaran, bukan?” Tanya pak guru tua itu sambil melipat kedua tangannya didepan, tatapan matanya terlihat begitu tajam dan menakutkan.

“Ne seongsaenim” Suji dan Minhee meminta maaf, kemudian mereka pun mengakhiri perbincangan mereka. Tidak lama setelah itu, Minhee memberikan sebuah kertas kepada Suji, dan setelah itu Suji pun mulai membaca surat pemberiannya.

Dear Suji
Setelah pelajaran seongsaenim tua bangka yang menyebalkan ini, apa kau mau makan siang dikantin bersamaku?
From Minhee

Dear Minhee
Dengan senang hati aku menerima tawaranmu, gomawo.
From Suji
PS kau baik sekali

Dear Suji
Cheonmanyo~ Chingu?
From Minhee
PS kau cantik sekali

Dear Minhee
Chingu!
From Suji

Setelah itu mereka berdua tersenyum layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan sebatang coklat. Seusai pelajaran, Suji dan Minhee pun segera beranjak kekantin sekolah, setelah itu mereka berdua pun memesan makan siang mereka. Minhee menjelaskan berbagai macam hal tentang keadaan sekolah kepada Suji, keduanya juga berbincang-bincang mengenai diri mereka masing-masing, dan hal tersebut membuat mereka berdua menjadi semakin akrab.

“Aigo disini kau rupanya Minhee” Tiba-tiba saja datang seorang pria yang memeluk leher Minhee dari belakang, atau lebih tepat mencekik lehernya.

“Yah Byun Baekhyun lepaskan aku dan duduklah dengan tenang!” Bentak Minhee, Suji menatapnya dengan penuh tanya. “Ah matta, Suji perkenalkan ini temanku, namanya Byun Baekhyun” Minhee memperkenalkan pria yang kini duduk disampingnya.

“Anyyeong, kau bisa memanggilku Baekhyun atau Baek atau Khyun, terserah kau sajalah” Baekhyun tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Suji, Suji pun ikut tersenyum.

“Kau juga bisa memanggilnya Bacon” Ejek Minhee, “Jangan pernah memanggilku seperti itu ahjumma” Ujar Baekhyun.

“Ahjumma? Siapa yang kau panggil ahjumma hah?!” Kini dua orang dihadapan Suji terlihat semakin asyik bertengkar satu sama lain. Suji tidak dapat menahan tawanya ketika melihat mereka berdua bertengkar dengan begitu lucu, Suji dapat melihat dengan jelas keakraban dari bahasa tubuh mereka.

“Suji help me!” Baekhyun berhasil lolos dari ikatan tangan Minhee, kemudian dengan sangat cepat dia bersembunyi dibalik tubuh Suji, layaknya Suji adalah pelindung baginya.

“Yah Bacon kemari kau!” Minhee menggenggam garpu ditangannya dengan erat, lalu menyodorkannya kearah tubuh Baekhyun, layaknya pria malang itu adalah makan siangnya.

“Shirreo!” Baekhyun masih menggunakan tubuh Suji sebagai pelindungnya, sedangkan Suji hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

“Aish! Kemari kau- oh my freakin’ bull!” Tiba-tiba saja Minhee menjatuhkan garpu ditangannya, kemudian dia kembali duduk dikursinya dengan rapih, dan anehnya, sekarang dia justru terlihat sibuk merapikan rambutnya.

“Apakah dia seorang bipolar?” Suji memberikan Baekhyun tatapan penuh tanda tanya, Baekhyun pun tertawa terbahak-bahak.

“Bisa dibilang begitu, tapi sebenarnya dia hanya merasa grogi karena melihat mereka” Baekhyun menujuk lima orang murid pria yang baru saja memasuki kantin, kedatangan mereka membuat sebagian besar murid berteriak histeris.

Suji mengenali kelima wajah itu, dan dia kenal salah satu diantara mereka dengan sangat baik. Bukankah itu Kai dan teman-temannya yang saat itu datang dalam pesta pernikahanku? Suji menundukkan wajahnya agar tidak terlihat oleh mereka, apalagi Kai.

“Siapa mereka?” Suji pura-pura bertanya, “Bisa dibilang mereka adalah idaman para yeoja disekolah ini, tapi mereka juga sangat terkenal diluar sekolah, mereka adalah Exo” Minhee berkata dengan matanya yang kini berbinar-binar. “Exo?” Suji kembali bertanya, dia mengira bahwa hal-hal semacam ini hanya ada dalam sebuah drama-drama klise, namun ternyata dugaannya salah.

“Exo adalah nama kelompok mereka, kau lihat namja itu, namanya Do kyungsoo tapi dia biasa dipanggil D.O” Ujar Minhee sambil menunjuk satu persatu anggota Exo.

“Kalau yang itu namanya Kai, dia sangat tampan bukan? Dia adalah namja yang sangat misterius, jika dibandingkan dengan teman-temannya yang sering bercanda satu sama lain, hanya dialah yang tidak pernah menunjukkan rasa sukanya pada suatu hal, tapi justru hal itu yang membuat para yeoja tergila-gila padanya” Jelas Minhee. Suji memutar bola matanya, dia tidak menyangka bahwa namja sedingin Kai dapat memiliki penggemar yang begitu banyak.

“Kalau yang itu namanya Suho, bisa dibilang dia adalah leader dalam kelompok mereka, dia dan D.O merupakan senior kita, sedangkan yang lainnya junior, sama seperti kita. Kau lihat namja cute disampingya? Dia bernama Sehun, dia yang paling muda diantara mereka berlima. And last but not least, kau lihat namja tinggi itu?” Kedua pipi Minhee tiba-tiba saja merona seketika, “Namanya Chanyeol, dia sangat keren dan juga hebat dalam olahraga, apalagi bermain basket” Minhee mengalihkan pandangannya kebawah sambil tersenyum malu, senyumannya kali ini terlihat begitu berbeda, layaknya seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

“Apa kau menyukai namja bernama Chanyeol itu?” Suji bertanya dengan polosnya, namun siapapun juga dapat menebak hal tersebut dari wajah Minhee dengan sangat jelas. Minhee membulatkan matanya menatap Suji, bahkan kini pipinya terlihat semakin merona.

“Yup Minhee menyukai Chanyeol. Aniyo, lebih tepatnya … dia MENCINTAI Chanyeol, dulu mereka sempat sekelas, dan sejak saat itu, Minhee benar-benar telah tergila-gila padanya” Celoteh Baekhyun.

Suji mengangguk, Minhee memutar bola matanya seraya memberikan Baekhyun tatapan shut-your-mouth-before-I-kill-you, namun sayangnya apa yang dikatakan oleh Baekhyun memang benar.

Bel pun berdering, menandakan berakhirnya waktu istirahat. Semua murid mulai berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Suji dan Minhee berjalan bersama menuju kelas mereka, dengan Baekhyun yang berjalan santai didepan mereka. “Bye guys” Baekhyun melambaikan tangannya kemudian masuk kedalam kelasnya.

“Jadi Baekhyun adalah murid kelas 2A?” Tanya Suji, Minhee mengangguk. “Apa kau tahu? Dia mendapatkan kelas yang sama dengan Kai, Sehun, bahkan Chanyeol, dan hal itu sangat tidak adil untukku” Minhee berkata dengan nada suara yang terdengar begitu frustasi, kemudian Suji mengelus pundaknya pelan.

“Excuse me ladies, you’re on my way” Tiba-tiba saja terdengar suara pria berbicara kepada mereka berdua, nada suara pria yang dikeluarkan pria tersebut terdengar berat. Suji dan Minhee menolehkan kepala mereka kebelakang untuk mencari tahu asal suara tersebut, lalu setelah mereka mengetahuinya, tubuh mereka membeku seketika. Sehun dan Chanyeol berdiri tepat dihadapan mereka berdua.

“Kau Suji kan?” Tanya Sehun terkejut. “A-aniyo” Suji segera menundukkan wajahnya, lalu tanpa banyak pikir dia segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun kegiatannya terhenti ketika Sehun menarik tangannya, dan membuat dirinya menatapnya.

“Kau memang Suji” Ujar Sehun sambil menatap Suji dengan lekat, layaknya seorang detektif yang tengah memata-matai.

“Jadi kau pindah kesekolah ini?” Tanya Chanyeol. Minhee terkesiap, dia berada pada tahap kebinggungan maksimal.

“Jadi kau mengenal mereka?!” Tanya Minhee terkejut. “A-aniyo biar a-aku jelaskan du-” Kalimat Suji terpotong oleh Sehun yang kini memeluknya erat.

“Bicara apa kau kakak ipar? Selamat datang disekolah kami” Ujar Sehun, setelah itu dia melepaskan pelukannya.

“Kakak ipar?!” Minhee berteriak, Suji semakin binggung harus berkata dan berbuat apa, untung saja Kai sedang tidak bersama mereka.

“Kalau begitu kami masuk dulu” Chanyeol tersenyum kepada Suji dan juga Minhee, setelah itu dia dan Sehun masuk kedalam kelas mereka.

“Oh my gosh, Chanyeol baru saja tersenyum kearahku, ternyata setelah betahun-tahun menjadi penggemarnya, bertahun-tahun memperhatikannya secara diam-diam, dan bertahun-tahun berdoa agar dia bisa melihatku, akhirnya kerja kerasku tidak sia-sia” Ujar Minhee terharu, dia benar-benar merasa senang saat ini.

“Chukkae Minhee” Suji berusaha mengalihkan pembicaraan namun gagal, karena Minhee kembali memusatkan perhatiannya kepada Suji. Suji menelan liurnya ketika melihat Minhee yang sedang menatapnya dengan sangat lekat.

“Kau harus memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi” Ujar Minhee dengan nada suara yang mengintimidasi, sambil meletakkan kedua tangannya dipinggang. Setelah itu Suji tidak dapat berbuat apapun kecuali memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Minhee disisi lain, hampir saja jatuh pingsan setelah mendengar perkataan Suji, namun dia berjanji untuk tidak memberitahu siapapun akan hal tersebut.

—–

Setelah sekolah berakhir, dan setelah berpamitan dengan kedua teman barunya, Minhee dan Baekhyun, Suji pun akhirnya kembali tiba di kediaman keluarga Kim. Tidak ada seorang pun yang berada dirumah kecuali seorang pelayan wanita.

“Agashi anda sudah kembali?” Sapa pelayan tersebut, “Tuan dan nyonya bilang kalau malam ini mereka tidak akan pulang kerumah, anda bisa memanggil saya jika anda membutuhkan sesuatu, saya selalu bekerja dirumah ini hingga petang” Jelas sang pelayan wanita tersebut. Suji hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

“Apakah agashi sudah makan? Atau ada hal lain yang agashi butuhkan?” Suji menggelengkan kepalanya, “Gwenchana” Setelah itu Suji pun melangkahkan kakinya kekamar. Sepertinya mereka memanglah orang yang sangat sibuk, pikir Suji mengingat perkataan nyonya Kim akan kesibukan dirinya dan juga suaminya.

Malam pun tiba, setelah mengerjakan seluruh PR-nya, Suji memutuskan untuk turun kebawah dan membuat makan malam untuknya, karena sudah lewat waktu petang, pelayan wanita itu pasti telah pulang kerumahnya. Dan baru saja Suji hendak pergi kedapur, tiba-tiba saja dia melihat Kai yang baru saja kembali dari sekolah, atau lebih tepatnya, kembali dari aktivitas bermain bersama teman-temannya.

“Kau sudah kembali” Sapa Suji, Kai hanya berjalan kedapur lalu mengambil air minum, menghiraukan keberadaan Suji.

“Apa kau ingin makan sesuatu? Pelayan wanita yang bekerja dirumahmu bilang kalau orang tuamu tidak akan pulang malam ini” Kai menegak minumannya, dia tidak mengubris perkataan Suji sama sekali.

“Apa kau lapar? Ataukah kau menginginkan sesuatu?” Kai meletakkan, atau lebih tepatnya membanting gelasnya kebawah meja, sehingga suara yang ditimbulkan gelas tersebut membuat tubuh Suji terkesiap.

“Shut up” Hardik Kai.

Suji segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mengisyaratkan Kai bahwa dia akan diam.

Kai duduk dimeja makan, kemudian dia mengambil salah satu buah apel yang terletak diatas meja, lalu mulai memakannya. Suji duduk berhadapan dengan Kai, kemudian dia juga mengambil salah satu buah apel, dan juga mulai memakannya.

Rawut wajah Kai seketika berubah menjadi kesal ketika melihat Suji yang tengah mengikuti kegiatannya, namun dia hanya melanjutkan kegiatan makannya tanpa memperdulikan kehadiran Suji.

Suji mengunyah apelnya sambil melihat-lihat keadaan disekelilingnya, kemudian pandangan matanya jatuh kepada namja tampan dihadapannya. Kalau dipikir-pikir aku tidak pernah melihatnya tersenyum, apakah dia memang tidak pernah tersenyum? Atau justru dia memang tidak suka tersenyum. Kira-kira, rawut wajah seperti apa yang akan terlukis diwajahnya ketika dia terseyum? Suji tenggelam dalam pikirannya akan semua pertanyaan mengenai Kai.

Kai disisi lain, merasa tidak nyaman dan risih, seakan-akan ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya, lalu ketika dia menatap Suji, dan disaat kedua mata mereka bertemu, Suji tidak tahu harus melakukan apa setelah kegiatan menatapnya tertangkap basah oleh Kai, jadi dia memutuskan untuk tersenyum.

Kai memutar bola matanya, gadis ini benar-benar telah membuatnya merasa tidak nyaman berada dirumahnya sendiri. “Kenapa kau selalu melakukan hal seperti itu?” Tanya Kai tanpa menoleh kearah Suji, Suji menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Melakukan apa?” Suji balik bertanya.

“Tersenyum” Jawab Kai. Suji membulatkan bibirnya, kemudian dia tersenyum kecil.

“Karena aku ingin tersenyum,” Jawab Suji, “Oh iya, aku tidak pernah melihatmu tersenyum. Apa kau tidak suka tersenyum? Atau memang kau tidak bisa tersenyum? Kalau begitu aku bisa mengajarimu.”

“Tidak perlu,” Kai mendengus kemudian beranjak dari tempatnya.

“Oh ya, sejak tadi teman-temanku tidak berhenti membicarakanmu, kau bertemu dengan mereka bukan?” Suji membulatkan matanya terkejut, dia benar-benar mati kutu saat ini.

Kai menyeringai, “Dan satu lagi. Tersenyum, tertawa, dan melakukan hal lain semacam itu, hanya akan membuat dirimu terlihat lemah dan bodoh.” Kai berkata dengan dingin sebelum mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Suji.

“Mengapa kau begitu membenciku Kai?” Kai menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Suji ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh gadis itu. Matanya yang gelap dan dingin berhasil membuat  tubuh Suji menggidik.

“Karena aku ingin membencimu.” Setelah itu Kai benar-benar beranjak pergi dari tempatnya, meninggalkan Suji yang masih belum bergeming sama sekali.

Saat ini Suji merasakan suatu hal yang aneh pada dirinya, atau lebih tepatnya, pada jantungnya. Jantungnya berdenyut tidak karuan, layaknya sebuah mesin yang tidak bekerja secara normal, layaknya setangkai lili yang enggan untuk bermekaran, layaknya sebuah luka yang ditaburkan dengan garam. Akal sehatnya tidak mampu memberikan jawaban atas apa yang sebenarnya dia alami. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa kedua tangannya tengah meremas roknya dengan begitu erat.

Suji bangkit dari kursinya, kemudian berjalan menaiki tangga, dengkulnya menabrak salah satu anak tangga namun dia sama sekali tidak bisa merasakan sakit, dia terlalu fokus dengan apa yang tengah dialami oleh jantungnya saat ini. Dia membuka pintu kamarnya dengan tangan yang gemetar, kemudian dia pun berhasil mencapai ranjangnya. Suji merebahkan tubuhnya, dia membawa tangannya menyentuh jantungnya yang hingga kini masih berdenyut tidak karuan.

Mengapa jantungku selalu bereaksi seperti ini setiap kali Kai mengatakan kalimat kejamnya itu?  Suji bertanya-tanya didalam hatinya. Dia mencoba untuk menutup matanya, namun pikirannya tidak membiarkan untuk melakukan hal tersebut. Kalimat kejam Kai masih bergema didalam pikirannya, dan enggan untuk berhenti menghantuinya.

Dia kembali dan memaksakan kedua matanya agar mau tertutup, namun tetap saja gagal. Dia mencoba lagi, kemudian gagal. Mencoba dan gagal. Lagi dan lagi.

Malam ini kesunyian menyelimuti dirinya, dan hanya suara detak jam yang menjadi pendampingnya, hingga pagi datang.

TBC

Iklan

156 thoughts on “Hypocrites (Chapter 1)

  1. Ahhh kzl bgt sma si suji udah tau kai orgnya kek gitu msh aja senyum senyum ke kai pdahal kai slalu nyakitin dia ughhh rasanya pngen nonjok suji yg terlalu polos😩

  2. ksian bgt suji… >< udh dr kcil hdpnya menderita,bhkan stlah nikah pun dy dijutekin trs ma suaminya alias ma kai…
    smgt ya,suji!!!mdh2n kai bkal berubah nnti.. 🙂

  3. Daebak!!!!!
    Jinjja daebak.
    Kai klo kaga senyum gmna jadinya yak? Serem keknya…
    Btw aku reader yang sangat baru 😂 ijin baca ya authornim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s