Power Users (Final Chapter)

final chapter

Power Users

(Final Chapter)

Author:

@ridhoach

Main Cast:

–          Kim Jong Dae (EXO-M)

–          Nam Shin Ra (OC)

–          Do Kyung Soo (EXO-K)

Support Cast:

–          All members of EXO.

–          Kim Jae Hyun (OC).

–          Kim Ah Ra (OC).

Previous Chapter:

Tao berlari mendekati Eguno dan AhRa sambil mengacungkan pedangnya ke udara.

“Huwaa!!!”, teriak Tao.

AhRa dengan sigap menghentakkan tangan kirinya yang diikuti dengan sebuah sapuan pasir yang memukul tubuh Tao dengan keras ke arah kiri. Tubuh Tao terlempar dengan keras dan menubruk sebuah pohon besar dengan cukup keras. Tao tergeletak, tak sadarkan diri. Eguno yang melihat ShinRa sedang berdiri dengan wajah ketakutan itu pun menengadahkan tangan telapak tangan kanannya. Dari atasnya, muncul sebuah bola berwarna gelap yang berukuran sedang. Bola itu diarahkannya pada ShinRa. Dan dalam satu hentakkan, bola itu terbang, menuju ShinRa. Berusaha menembus tubuhnya. CRASHH!!!

 

—–

Author’s POV

Peluru berwarna gelap itu menembus sesosok tubuh manusia yang tengah berlari. Menembus tepat di tengah dadanya dan merusak jantung miliknya. Darah bercucuran keluar dari mulut, dan tentu saja dari dadanya sendiri. Manusia itu terjatuh. Tak ada teriakan kesakitan dari mulut manusia itu. Hanya sesungging senyum tulus penuh arti yang menghiasi wajah itu.

“D.. D.O-yah? D.O-yah?!!”, teriak ShinRa yang melihat sesosok namja sedang terbaring berlumuran darah.

“Ne. Mian.. hae ShinRa-yah. Uhuk… Mianhae. Maaf… kan kebodo… hanku”, ujar D.O terbata – bata.

“Sudahlah D.O-yah. Jangan banyak bicara, kau sudah cukup terluka. Maafkan kelemahanku. Kalau bukan karena aku, kau tidak akan begini”, ujar ShinRa diikuti dengan derasnya aliran air mata dari pelupuk matanya.

Seorang namja berlari mendekati ShinRa yang tengah memegang tubuh tak berdaya D.O. Namja itu JongDae. Mata JongDae terbelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang yang tadinya begitu ingin dibunuhnya itu sekarang malah melindungi yeoja yang sangat ia cintai.

“Ini… semua bukan salah… mu ShinRa-yah. Ini semua salah.. ku”, ujar D.O.

“Tidak D.O-yah. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau tidak boleh mati”, ujar ShinRa mengeras diikuti dengan menderasnya aliran air mata di pipinya.

“Sudahlah ShinRa-yah… aku tau… waktuku tak lama lagi. Mianhae ShinRa-yah… maafkan semua kesalahanku. Dan… JongDae… aku mau kau menjaga… ShinRa-yah. Jangan biarkan… siapapun melukainya. ShinRa-yah… saranghaeyeo”, ujar D.O diikuti dengan menutupnya kedua mata bulat miliknya dengan pelan dan tenang.

Tubuh D.O melemas. Jantungnya berhenti berdetak. Hidungnya berhenti menghembuskan desahan nafas teraturnya. Matanya mengatup, untuk selamanya. Wajahnya menyunggingkan sebuah senyum kecil nan tulus. D.O telah mati dalam keadaan tenang di kelilingi oleh orang – orang yang disayanginya. Tak jauh dari jenazah D.O, ShinRa tampak mematung dalam keheningan. Mulutnya tak mengeluarkan kata – kata apapun, hanya matanya yang berbicara. Bagaimana terpukulnya ia saat ini. Air mata terus bercucuran, membasahi pipinya dan terus mendarat jatuh menuju tanah yang kering.

“Lay-hyung!! Angkat jenazah D.O dan amankan. Jangan sampai ada yang mengganggunya”, ujar JongDae yang berdiri di dekat ShinRa.

“Ne”, jawab seorang namja yang bernama Lay.

“JaeHyun-ah. Bawa ShinRa-yah ke tempat yang aman dan lindungi dia dengan seluruh kemampuanmu. Aku tak akan menganggapmu adikku lagi kalau kau sampai membiarkan dia terluka. Arra?”, ujar JongDae pada namja kayu yang berada tak jauh dibelakangnya.

“Arraseo hyung”, ujar namja bernama JaeHyun yang berlari dan membopong ShinRa untuk menjauh dari tempat pertarungan para Power User itu.

JongDae mengepalkan tangannya. Kepalanya memanas, penuh emosi. Dia memejamkan matanya, memusatkan pikirannya guna untuk mendapatkan energi terbesarnya. Seketika, muncul kilatan – kilatan petir yang menyambar – nyambar mulai menutup permukaan tubuh JongDae. Kilatan itu berkumpul dan menutupi seluruh permukaaan tubuhnya dengan hebat. Aura yang keluar berubah. Menjadi sangat dingin dan berat. Mata JongDae memicing, menatap sosok tubuh besar yang memiliki sayap putih yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan sangat tajam. Dia menghujat dengan sangat hebat di dalam hatinya. Menghujat dan memaki setiap hal yang ada pada namja itu, tuan Eguno.

Eguno yang sedari tadi hanya berdiam berdiri melihat ke arah para lawannya itu bergegas mengambil sebuah gerakan. Dia menggerakkan tangannya membentuk sebuah kepalan yang diangkatnya keatas udara bebas. Matanya terlihat tenang, mukanya datar. Perlahan, aura yang mengelilinginya berubah. Menjadi semakin hebat dan terkesan semakin gelap dan jahat. Seketika kemudian, Eguno menghentakkan tangannya yang terangkat itu ke permukaan tanah yang ada di bawahnya. Bersamaan dengan itu, muncul berpuluh – puluh bakhkan beratus – ratus makhluk hitam besar yang tak memilik wajah, Diroid, dari dalam tanah. Makhluk – makhluk itu menggeliat muncul dan membebaskan tubuh mereka segera ke atas tanah.

“Huwooooo~~!!!!!!”, teriak makhluk – makhluk hitam itu memecah kesunyian.

“JongDae, kau bantu aku mengurus Eguno. Kris dan ChanYeol, kumpulan Diroid itu aku serahkan pada kalian berdua. SuHo dan XiuMin, kau urus yeoja itu. JaeHyun dan Lay, jaga ShinRa dengan sepenuh tenaga kalian. Arra?”, titah tuan Efumo.

“Arra!!”, jawab ketujuh namja muda itu secara bersamaan.

Mereka bertujuh dan Efumo bersiap. Mereka berdelapan membentuk dan mempersiapkan kuda – kuda milik mereka masing – masing. SuHo dengan airnya, Kris dengan api dan naga miliknya, Gyrgant, XiuMin dengan esnya, JaeHyun dengan kayunya, ChanYeol dengan api dan burung phoenix miliknya, JongDae dengan petirnya, Efumo dengan selapis lapisan telepati miliknya dan Lay yang telah bersedia melindungi ShinRa yang sedari tadi hanya meringkuk, berdiam diri.

“Huwaaa~~~!!!!!”, teriak semuanya seraya berlari mendekati kerumunan lawan mereka.

ChanYeol dan Kris bergegas melompat dan menaiki hewan milik mereka masing – masing. Setelah diatas, keduanya lalu menyemburkan api dari mulut mereka masing – masing. Api itu menyembur dengan hebat dan menyapu rata sekumpulan dioid yang mengamuk di bawah. Beberapa Diorid yang berhasil menhindari itu mengambil jarak dan membuka lebar – lebar mulut mereka. Dari dalamnya muncul sebuah bola cahaya kegelapan yang berukuran sedang. Bola – bola itu dilontarkan oleh mereka dalam sekali hentakan, mengarah ke arah ChanYeol dan Kris. Kris dan ChanYeol yang melihat bola – bola itu pun bergerak berpencar ke dua arah. Mereka bersiap dan menyamburkan api dari mulut mereka begitu bola – bola itu berada dalam jarak serang mereka. Dan, bhuss!! Hilang semua bola – bola itu. Kris dan ChanYeol melompat ke arah bawah, lalu bergerak mendekati kumpulan Diroid yang semakin mengamuk. Mereka berdua memukul, menyemburkan api dan menendang kumpulan makhluk hitam itu.

*****

            XiuMin dan SuHo berlari dengan cepat dan menghampiri yeoja yang berdiri di sebelah Eguno. Yeoja itu, AhRa, mengambil posisi bersiaga dengan sejumlah pasir yang melayang – layang di sekitar tubuhnya. Dia menggerakkan kedua tangannya ke depan secara serentak, kearah tempat kedatangan SuHo dan XiuMin. Berpuluh – puluh peluru pasir melayang dan terbang secara keras ke arah SuHo dan XiuMin. SuHo yang melihat itu pun menggerakkan kedua tangannya secara seirama. Bersamaan dengan itu, muncul sebuah aliran air yang menyapu peluru – peluru pasir itu. Belum berhasil, AhRa pun menggerakkan tangannya kembali lalu dalam hentakkan berikutnya dia mengatupkannya. Muncul 2 buah tangan pasir yang cukup besar dan segera bergerak maju, berusaha memukul dan menyapuratakan 2 orang namja yang ada di hadapannya, SuHo dan XiuMin.

XiuMin segera bergegas maju, dia menyilangkan tangannya ke depan dadanya. Dia menutup matanya, berusaha mendapatkan tenaga yang lebih besar. Seketika, kedua tangannya tertutup oleh selapis es yang cukup tebal dan panjang. Ujunganya meruncing dan menipis. Lebih mirip dengan sebuah pedang panjang. XiuMin meloncat, dan mengayunkan kedua tangannya secara horizontal ke arah kedua tangan pasir raksasa itu. Jrashhh!! Kedua tangan pasir itu terbelah seketika dan berjatuhan. Berhamburan menjadi pasir biasa.

Sebuah sosok air muncul dari arah belakang AhRa. Lama – kelamaan sosok itu semakin jelas, menjadi sebuah sosok lawannya, SuHo. SuHo menggerakkan tangan kanannya ke depan. Bersamaan itu, muncul air yang dari bawah tempat AhRa berpijak. Air itu mennggulung tubuh AhRa dan melingkupinya dengan seketika. AhRa seperti dililit oleh sebuah bola air raksasa yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya. SuHo mengepalkan jari – jari tangannya dalam satu sentakan. Bersamaan dengan itu, bola air itu merapat. Tekanan airnya menguat, mencengkeram tubuh AhRa yang tak berdaya di dalamnya. Di depan sana, XiuMin sudah bersiap. Dia melompat ke arah bola air itu. Tangan kanannya di arahkan ke belakang, berusaha mendapatkan jangkauan maksimal dalam tebasannya nanti.

Jrassh!!

XiuMin telah berhasil membelah bola air dan AhRa yang ada di dalamnya menjadi 2 bagian. Tubuh AhRa terpotong, darah berhamburan. Jreshh!! Tiba – tiba tubuh AhRa yang telah terpotong 2 itu berubah menjadi segumpalan pasir yang langsung bergerak dan memukul mundur tubuh XiuMin dengan keras ke arah belakang.

“Huahahaha!! Kalian pikir, kalian sanggup mengalahkanku dengan kekuatan serendah itu?”, ujar sosok pasir itu, AhRa.

“Cih!”, XiuMin berdecih.

*****

            Tak jauh dari keramaian perkelahian itu, sosok ShinRa masih terduduk lemas dengan wajah yang sembap oleh air mata. Dia masih sesenggukan. Tangisnya belum usai untuk kepergian namja yang sedang terbaring tak bernyawa dihadapannya, D.O. Hanya satu kata yang terus diucapkan shinRa sejak tadi. Hanya nama dari D.O. JaeHyun yang melihat keadaan itu merasakan rasa sesak di dadanya. Dia terhenyak melihat keadaan ShinRa yang biasanya ceria itu berubah menjadi sesosok yeoja yang pendiam dan larut dalam duka. Dia bisa merasakan dadanya bergejolak. Ada pedih yang dia rasakan sama seperti yang dirasakan oleh ShinRa dan ada sedikit amarah yang dia rasakan setiap kali dia mendengar mulut ShinRa mengucapkan nama D.O ditengah tangisannya. Dia cemburu.

*****

            JongDae tengah berlari. Sementara di belakangnya, tuan Efumo dengan gagahnya terbang mengikutinya. Di hadapan mereka, berdiri dengan angkuhnya, sesosok namja musuh tebesar mereka, tuan Eguno. Eguno mengembangkan kedua sayap putihnya, lalu terbang dalam satu hentakan. Dia menghampiri JongDae dan Efumo yang sedang menghampirinya. Eguno menghentikan terbangnya, lalu mengangkat satu kakinya ke atas udara. Dan, bruagh!! Dia menumbukkan kakinya ke atas tanah. Bersamaan dengan itu, tanah di sekitarnya bergetar dengan hebat. Gempa terjadi, tanah – tanah terangkat dan melayang di udara.

“Kekuatan itu? Sial!!”, ujar JongDae terkejut melihat aksi yang dilakukan oleh Eguno.

“Ne, kau benar. Ini adalah ekkuatan dari namja yang tadi aku bunh, D.O. Dan ini…”, ujar Eguno yang langsung melihat seketika.

“… adalah kekuatan dari Kai yang dibunuh oleh XiuMin”, lanjutnya yang muncul seketika di belakang tubuh JongDae.

Duagh!!

Sebuah pukulan keras mendarat pada tulang temporal sebelah kanan milik JongDae. Tubuh JongDae terdorong dengan keras ke arah kiri. Pukulan keras dari Eguno. Eguno segera menghilang kembali. Dan muncul dengan tiba – tiba di depan JongDae. Dengan keras, dia memukul telak dada bidang JongDae. JongDae berlutut sambil memegangi dadanya. Ia meringis. Eguno mengangkat tangan kanannya yang langsung terbungkus oleh cahaya berwarna hitam dan lapisan tanah dari permukaan. Dia mengarahkan tangannya ke arah JongDae dan kemudian berusaha untuk memukulkannya. Tetapi sebelum sempat mengenainya, selapis tabir pelindung yang berwarna putih bening muncul dan melingkupi sekitar permukaan tubuh JongDae. Eguno menghentikan gerakannya lalu mengarahkan pandangannya ke arah depan, ke arah Efumo.

Eguno mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke depan dadanya. Dia menghantakkan tenaga dari dalam tubuhnya kearah permukaan tangannya itu, 2 buah bola hitam berukuran besar dengan beberapa serpihan tanah yang mengitarinya muncul dari permukaan tanagnnya dan ditembakkannya dengan lurus serta akurat ke arah Efumo. Efumo mengatupkan kedua telapak tangannya dan memejamkan matanya. Lalu dalam detik berikutnya, dia membuka matanya dan mengarahkan kedua tanagnnya yang terbuka itu ke depan. Sebuah dinding energi terbentang di hadapannya dan menghalau kedua bola milik Eguno itu.

*****

            Chanyeol dan  Kris masih sibuk berkutat dengan sekumpulan Dioid yang terus mengamuk tanpa henti. Jumlah dari Diroid itu sudah berkurang lebih dari separuhnya. Yang tertinggal hanya beberapa Diroid yang memiliki ukuran rubuh 2 kali lebih besar dari ukuran Diroid yang sejak tadi mereka lawan. Kris terbang, di belakangnya Gyrgant tengah terbang dengan mulut menganga. Gyrgant lalu menghembuskan nafasnya yang berapi kearah Kris. Seketika, tubuh Kris terbungkus oleh api. Kris pun terbang dengan cepat ke arah kumpulan Diroid itu. Dan menghamburkan tubuhnya dengan keras kearah Diorid yang ada. Diroid itu lantas terbakar dan lenyap dengan seketika.

ChanYeol menengadahkan tangannya ke udara. Di atasnya, burung phoenix miliknya sedang terbang berputar dengan api yang menyeruak ke udara. ChanYeol menepukkan kedua tangannya dengan keras. Burung phoenix itu pun segera terbang menjauh dan mendekati kerumunan Diroid yang ada di hadapan mereka. Phoniex itu menyemburkan api dengan hebat dan sangat besar. Menyapu seluruh Diroid yang tersisa dan melenyapkannya.

“Ah… ah… Kerja sama yang bagus ChanYeol-ssi”, ujar Kris dengan nafas terengah – engah.

“Ne. Kau juga Kris-ssi”, jawab ChanYeol.

*****

            Sosok pasir itu semakin membesar, membentuk sesosok tubuh bagian atas dari seorang yeoja. Tak memilik wajah, hanya segaris mulut yang sangat lebar dan mengerikan itu. Sosok pasir itu memiliki 4 buah tangan yang sangat besar.

“Arghhhh!!!!!!!!!!”, raung sosok pasir itu, AhRa.

“SuHo-ssi, kau siap?”, tanya XiuMin pada SuHo.

“Ne. Kajja, XiuMin-ssi!”, ujar SuHo.

SuHo dan XiuMin berlari beriringan mendekati sosok AhRa. AhRa yang merasakan itu, lalu menyapukan kedua tangannya yang ada pada sisi kiri tubuhnya ke arah permukaan tanah. Dengan sigap, SuHo dan XiuMin melompatinya dan menghindarinya dengan lincah. XiuMin mendarat diatas salah satu tangan AhRa yang masih ada diatas permuukaan tanah itu. Sedangkan SuHo membuat sebuah pijakan dari air dan melayang mendekati sosok AhRa itu. XiuMin meletakkan tangannya kepermukaan tangan pasir itu. Ia lalu memejamkan matanya, seketika seluruh permukaan tangan pasir itu lalu berubah menjadi lapisan es dan membeku dengan solidnya.

SuHo mengeratkan kedua tangannya dan memejamkan matanya, berusaha mendapatkan konsentrasi dan energi terbesarnya. Seketika, muncul 6 pilar air yang menjulang dengan gagah dari dalam tanah. 6 pilar air itu lalu dengan otomatis bergerak dan mengikat sosok AhRa yang besar itu. AhRa menggeliat, tapi tak banyak yang bisa dilakukannya. XiuMin menjentikkan jarinya. Bersamaan dengan itu, semua air yang ada berubah menjadi es. Sosok AhRa yang semula besar dan mengerikan itu lama kelamaan mengecil dan akhirnya hanya tersisa seonngok gumpalan pasir yang menggumpal diantara es – es yang ada. Gumpalan pasir itu lalu perlahan berubah dan memiliki bentuk. Menjadi sesosok yeoja yang lemah dan terbaring tak berdaya. Yeoja itu, AhRa, menangis dengan sesenggukan.

“Kai…”, ucap AhRa lirih.

“AhRa-yah…”, ujar SuHo prihatin melihat sosok AhRa yang dulunya adalah temannya dan juga teman dari kelima anggota Summer-K yang lain.

“Kenapa kau membunuh Kai, huh?! Wae?! Apa salahnya?!! Bahkan dia tak melakukan apapun pada rasmu, huh!! Kenapa kau membunuhnya? Arghh!!”, suara AhRa mengeras, melancarkakan beberapa pertanyaan pada XiuMin.

“Salahnya? Tak ada. Dia hanya seorang namja yang hidup bahagia diatas penderitaan kami, ras Mystical-M. Kami dibunuh, kami terkucilkan. Dan kalian  hanya bisa tertawa dan hidup bahagia di planet EXO sana. Apa kau pikir kami disini bahagia? Apa kau pikir kami selama ini hidup dengan tenang? Kau salah nona! Kami disini hidup dengan menanggung beban yang sangat berat di pundak kami yang waktu itu masih kecil. Kami hidup dengan keras tanpa mengenal kebahagiaan. Sedangkan kalian hanya bisa tertawa dan seenaknya mau membunuh kami. Kami salah apa? Huh!!”, ujar XiuMin panjang elbar dan penuh emosi.

“Sudahlah AhRa-ya, XiuMin-ssi. Disini tidak ada yang salah dan tidak yang benar. Kita semua sama. Sekarang bukan saatnya kita mempermasalahkan ini. Lebih baik kita melawan musuh kita yang sebenarnya, tuan Eguno. Kau mau kan, AhRa-yah?”, ujar SuHo tenang.

“Melawan tuan Eguno? Membela ras mereka? Cih! Aku tak sudi”, ujar AhRa.

“Sudahlah AhRa-yah. Aku tau, kau membantu tuan Eguno hanya karena kau sedang terpukul akibat kehilangan Kai. Aku tau, kau bukan pribadi seperti ini”, ujar SuHo dengan tenang.

“Tapi…”, bantah AhRa.

“Sudahlah. Kai justru akan merasa terganggu apabila kau menjadi seperti ini AhRa-yah. Kajja, kita satukan kekuatan kita dan melawan tuan Eguno”, bujuk SuHo.

“Baiklah”, jawab AhRa pelan.

*****

            JongDae masih sibuk menembakkan peluru petir ke arah Eguno yang terus muncul – menghilang dengan kekuatan teleportasi milik Kai itu. Efumo sendiri juga tengah sibuk menembakkan tombak energi ke arah Eguno. Dengan cepat, Eguno sudah berhasil berpindah ke arah belakang tubuh JongDae. Eguno menempelkan tangan kanannya ke arah pundak JongDae dan seketika dia menghempaskannya dengan gelombang cahaya berwarna hitam. JongDae terpental dan terseret di atas permukaan tanah selama beebrapa saat. Belum sempat Efumo menolong JongDae, Eguno telah muncul kembali di hadapannya dan menendang ulu ahtinya dengan begitu keras. Efumo terjatuh dengan keras ke bawah tanah.

Eguno mendaratkan tubuhnya. Kedua tangannya mengeras, dan mulai diselimuti oleh cahaya hitam. Dia mengarahkannya ke arah tempat JongDae dan Efumo berada. Dan, whusshh!! Dua buah gelombang cahaya hitam ditembakkannya dari permukaan tangannya dan mengarah dengan tepat ke arah JongDae serta Efumo. Jaraknya sudah sangat tipis. Tapi, sebelum sempat cahaya hitam itu mengenai JongDae dan Efumo, sebuah tembok kayu muncul di depan tubuh JongDae dan melindunginya. Sedangkan tembok es muncul di hadapan tubuh Efumo dan melindunginya.

“JaeHyun-ah?”, ujar JongDae lirih.

“Ne, hyung. Aku ada disini, jadi tenanglah. Kita akan mengalahkan bajingan itu”, jawab JaeHyun disertai dengan sebuah senyum simpul.

“Terima kasih XiuMin”, ujar Efumo.

“Tenang saja tuan Efumo. Kami semua siap meminjamkan kekuatan kami untuk membunuh si brengsek itu”, jawab XiuMin.

Eguno yang melihat hal itu semakin menguatkan tekanan pada gelombang cahaya hitam itu. Gelombang cahaya hitam itu semakin membesar dan memberikan tekanan yang semakin besar pada tembok es dan tembok kayu milik Xiumin serta JaeHyun.

Bruagh!!

Kedua tembok milik XiuMin dan JaeHyun pecah dan menyebabkan JaeHyun, JongDae, XiuMin dan Efumo terlempar ke belakang dengan keras.

“JaeHyun-ah, gwaenchanhaeyeo?”, tanya JongDae pada dongsaengnya.

“Ne, hyung. Tenang saja”, jawab JaeHyun.

2 sosok tingggi menjulang muncul diantara JongDae, JaeHyun, Xiumin dan Efumo. Di atas 2 sosok tinggi itu, Kris dan ChanYeol, terdapat 2 sosok biantang yang terbang dengan gagahnya. Lalu, dalam sekali gerakan, kedua binatang itu menghembuskan nafas api yang panas dan besar ke arah Eguno. Eguno dengan apik, melompatinya dan berhasil menghindari kedua hembusan nafas api itu. Tapi, dari arah belakangnya seorang namja sedang melompat dan memegang sebuah tongkat besi dan berusaha untuk memukulnya. Buagh! Sebuah pukulan keras mendarat pada pinggang Eguno. Pukulan dari Lay. Eguno terlempar ke arah samping.

Jdumm!!!

Sebuah petir dengan sukses menyambar tubuh Eguno dan menghentakkannya ke permukaan tanah. Sebelum sempat membalas, muncul air yang kemudian menutupi seluruh permukaan tubuh Eguno. Dan dengan sigap, Efumo menempelkan tangan kanannya ke arah dahi Eguno.  Efumo memejamkan matanya. Lalu, tubuh Eguno dan Efumo bercahaya dengan terang. Lama – kelamaan, cahaya itu hanya menutupi permukaan tubuh Eguno saja. Tubuh Eguno mengecil, seperti disedot oleh sebuah lubang hitam kecil dari dalam tubuhnya. Dan, bush!! Tubuh Eguno menghilang dari pandangan semua orang yang ada disana.

“He? Apa yang kau lakukan pada tuan Eguno, tuan Efumo?”, tanya ChanYeol kebingungan.

“Dia? Dia aku segel dan aku tempatkan ke dimensi berbeda dengan dimensi kita. Tak akan ada lagi yang bisa menyentuh dan mengganggu kedamaian kita lagi. Eguno sudah berhasil kita kalahkan!”, ujar Efumo mantap.

“YEEE!!!!!!”, teriak semua namja yang ada disitu dengan kencang dan bahagia.

Pluk!

Seorang yeoja langsung meemluk tubuh Efumo dari belakang dengan erat. Yeoja itu ShinRa.

“Nah, ShinRa-yah. Appamu ini akan menceritakan semuanya. Jadi dengarkanlah. Ne?”, ujar Efumo.

“Ne, appa”, jawab ShinRa pelan.

“Kami para Power Users dulunya memiliki kebiasaan atau kesukaan untuk pergi ke planet lain dan menjalani sebuah kehidupan normal selama selang wktu tertentu di planet itu. Appamu pun begitu. Dulu appa pergi ke Bumi dan bertemu dengan eommamu. Kami saling jatuh cinta dan akhirnya melangsungkan pernikahan. Tapi, appa yang bukan makhluk bumi ini, harus kembali ke planet EXO. Tetapi, ternyata setelah kembali ke planet EXO, keadaannya sudah sangat berbeda lagi. Appa sudah tidak dapat bebas pergi ke Bumi sesuka hati appa. Itulah kenapa appa baru bisa bersamamu lagi setelah kau berumur 4 tahun. Dan setelahnya appa menjalani kehidupan seperti biasanya”, jelas Efumo panjang lebar.

“Ahjussi, apa kah itu juga terjadi padaku?”, tanya JaeHyun.

“Ne. Pada dasarnya appamu dan appa JongDae itu adalah orang yang sama. Eomma kalian saja yang berbeda. Eommamu adalah wanita bumi, sedangkan eomma dari JongDae adalah wanita dari planet EXO. Itulah kenapa kau baru bisa menggunakan Special Powermu setelah kamu berumur 17 tahun. Darahmu itu bukan darah Power Users yang murni, tapi adalah darah campuran. Sedangkan ayahmu, dia telah gugur pada saat perang dulu”, jawab Efumo panjang lebar.

“Jadi, apakah aku memiliki kekuatan juga appa?”, ujar ShinRa membuka suara.

“Moella. Appa juga tidak dapat mengetahuinya dengan jelas ShinRa-yah. Hanya ada dua kemungkinan untuk anak yang dilahirkan dari perkawinan darah campuran ini. Apakah dia seorang Hybrid seperti JaeHyun ataukah dia seorang Rare Kind”, jawab Efumo.

“Hybrid? Ah… jadi itu julukanku”, ujar JaeHyun tersenyum lega.

“Rare Kind? Apakah itu tuan Efumo?”, tanya JongDae.

“Rare Kind adalah salah eksistensi yang terunik. Dia bukan manusia, dia juga bukan Power Users. Dia memiliki mental seorang Power Users, tapi dia tak memiliki Special Power. Dan keahlian utamanya adalah untuk menyerap kekuatan kita”, jawab Efumo.

“Wawww…. Daebakkkk”, ujar ChanYeol dan JaeHyun bersamaan.

“Jadi, apa yang akan appa lakukan? Apakah kita akan langsung pulang?”, tanya ShinRa.

“Mianhae ShinRa-yah. Appa akan pulang dengan cara appa sendiri. Bukan ke rumah, bukan juga ke planet EXO. Tapi kesana”, ujar Efumo seraya menunjuk langit yang luas.

“Ap.. apa maksud appa?”, tanya ShinRa.

“Appa akan mengorbankan diri appa dan melakukan teknik tertinggi dari Special Power milik appa. Appa akan melakukan Regeld. Appa akan mengembalikan keadaan semuanya kembali seperti semula. Appa akan memperbaiki semua yang telah dihancurkan oleh peperangan ini”, ujar Efumo.

“Tapi… tapi appa. Bagaimana denganku? Aku tak mau kehilangan orang yang aku sayang lagi. Aku tak mau kehilangan appa”, ujar ShinRa memelas denagn mata berkaca – kaca.

“ShinRa-yah, ini adalah satu – satunya cara. Appa ingin menebus semua perbuatan appa di masa lalu. Jadi, biarkanlah appa”, ujar Efumo.

“Tapi, appa…”, ujar ShinRa.

“Sudahlah ShinRa-yah. Kau masih memiliki kami disini. Kami akan menjaga dan menyayangimu seperti tuan Efumo menyayangimu. Kau punya kami, jadi relakanlah kepergian appamu”, ujar JongDae seraya merangkul pundak ShinRa.

“JongDae-oppa… hiks.. hiks… hiks..”, ujar ShinRa yang langsung memecahkan tangisnya di dada bidang milik JongDae.

“Ehmm… apakah teknik itu… akan menghidupkan kembali… Kai?”, tanya seorang yeoja di belakang, AhRa.

“Mianhae. Tapi aku bukanlah tuhan. Aku hanya bisa memperbaiki keadaan yang kacau balau ini saja. Aku tak bisa menghidupkan mereka yang sudah mati nona. Mianhae”, kata Efumo.

“Nah, ShinRa-yah. Appa akan pergi. Baik – baiklah kamu disini. Mian, appa tak bisa menjaga dan menyayangimu lagi. Tapi percayalah, kua sekarang memiliki orang – orang yang bahkan akan menyayangimu lebih dari apa yang appa pernah lakukan. JongDae, jaga baik – baik ShinRa-yah. Aku mempercayaimu”, ujar Efumo seraya menghilang dalam seberkas cahaya putih yang menyilaukan.

“APPAAAAA!!!!!!!!”, teriak ShinRa pilu melepas kepergian Efumo.

*****

3 Months Later…

Sepasang manusia tengah duduk pada sebuah kursi panjang di tengah taman yang tenang. Yeoja itu adalah ShinRa dan namja yang ada disampingnya adalah JongDae. Mereka berdua tersenyum bahagia sambil menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka. Kesemua Power Users, mulai dari Tao, SuHo, Kris, LuHan, SeHun, BaekHyun, XiuMin, ChanYeol, Lay, AhRa dan JaeHyun tengah asik bermain dan bercanda di tengah taman itu. Mereka sudah bisa melupakan kejadian kelam yang terjadi 3 bulan lalu. AhRa sudah bisa menerima dan diterima olah yang lainnya. Mereka sekarang sudah bershabat dan hidup dengan damai.

“ShinRa-yah…”, ujar JongDae ditengah keramaian itu.

“Ne, wae oppa?”, jawab ShinRa.

“Saranghaeyeo”, ujar JongDae cepat.

“He? Apa maksud oppa?”, ujar ShinRa kebingungan.

“Sarenghaeyeo ShinRa-yah. Will you be my girlfriend?”, tanya JongDae seraya menatap lurus pada sepasang mata emerald milik ShinRa.

“He? Ehmm…”, gumam ShinRa gugup.

“Mau nggak? Oppa ini anak baik loh. ShinRa nggak akan rugi deh kalau jadi yeojachingunya oppa”, ujar JongDae dengan pedenya.

“Hahahaha… oppa bisa aja”, ujar ShinRa tersipu.

“Jadi, mau?”, tanya JongDae kembali.

“Ne, aku mau kok oppa”.

“Jinjja? Saranghaeyeo urri ShinRa”.

“Nado saranghaeyeo JongDae-oppa”.

­-THE END?-

* Wuaaaa~~~~ Mian mian kalau ini telat sekali dipublishnya. Tapi, fiuh *buang keringat* akhirnya selesai juga FF ini. Bagus kah? Dapatkah endingnya? So, RCLnya readers. Author sangat harapkan. Oh ya, gomawo buat semua readers yang sudah setia dan nggak pernah bosan – bosannya ngasih kritik, saran dan pujiannya. Author sangat menyukai dan senang dengan itu semua. Sekali lagi, gomawo readersdul *bow* pai pai~ *

49 pemikiran pada “Power Users (Final Chapter)

  1. thor==”
    kok si Eguno cepet banget matinya==”
    serasa perangnya cepet… apa cuma perasaan saya saja ya??
    trus… kenapa Kyungsoo oppa mati di sini??? WAE?? hiks hiks… :’-(
    oya tadi pas ini ==> “Mereka berdelapan membentuk dan mempersiapkan kuda – kuda milik mereka masing – masing. SuHo dengan airnya, Kris dengan api dan naga miliknya, Gyrgant, XiuMin dengan esnya, JaeHyun dengan kayunya, ChanYeol dengan api dan burung phoenix miliknya, JongDae dengan petirnya, Efumo dengan selapis lapisan telepati miliknya dan Lay yang telah bersedia melindungi ShinRa yang sedari tadi hanya meringkuk, berdiam diri.”
    tu kerjaannya Lay enak banget ya cuma nungguin Shinra… ==”

    yang jelas endingnya bagus… Shinra sama Jongdae Pacaran Yeyy!! o^^o
    eh tapi khan Shinra blasteran tuh… kekuatannya apaan??
    oh ya… di poster jaehyun cakep ^^ hehehehe^^

    akhir kata.. Author Jjang!! keep writhing ne 🙂
    NB: mian panjang comment.nya

  2. jujur ini udah ketiga kalinya aku baca ff ini dan masih terkesan sama cara author bawainnya dan jalan ceritanya XD
    sebenernya alasan aku baca ulang ff ini itu pertama kali baca ff ini adalah saat aku bener-bener baru tau exo jadi masih belum hafal member dan kekuatannya. beberapa minggu kemudian saat aku udah hafal aku bosen dan akhirnya nyari-nyari ff buat dibaca tapi gak ketemu dan akhirnya aku memutuskan buat baca ulang ff ini karena ‘ketidak mengertian’ aku saat pertama baca ff ini. dan sekarang aku baca ulang soalnya power users 2 keluar teasernya sedangkan aku udah agak lupa ceritanya gimana dan akhirnya aku mutusin buat baca ulang ff ini (lagi) hehehe curcol nihh 😀

  3. Author ini keren banget ff nya.. Mian baru sempet komen di part akhir, abisnya ga sabar pengen langsung baca ke part selanjutnya 😀

  4. annyeong.. aku reader baru, nama ku nanda *gak nanya*
    Ehem ehem author sblumnye aku minta maaf, bru skrg komen
    Hehe di last chap :p
    Hem aku sedih napah nae naempyeon mati? Tpi gapape sih, jdi shinra ga ama kyungsoo-ku tpi ama jongdae
    😀 😀 😀
    author yg baik, jgn bikin sequel yeh.. apalgi tentg jongdae-shinra
    okeh 😀
    Yah overall smua bagus, cuma pas fight ama eguno kurg greget gara2 ga ada nae naempyeon *lirik kyungsoo*
    Skali lgi aku minta maaf yah thor bru komen

    Utk kdpannye aku brharap D.O Happy ending ama aku #ApaIni?

  5. huweee…
    sedih knp D.O jd korban jg…
    tp aq ska sma kegentlean D.O…
    ni chapter bnr2 bkn tegang yah pd akhirnya mrka bersatu n bs ngalahin efumo…
    daebaaaakkk… 😉 ❤ ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s