Our Story Begin (Chapter 4)

Author: Rin

Cast(s): Kris, Park Ririn (you), EXO member, etc.

Genre: Comedy Romance (karena entah kenapa kebanyakan reader bilang kalu fic ini bikin ngakak, padahal biasa aja .___.)

Rated: T+ (ada kiss scence yang mungkin belum tepat dibaca oleh anak dibawah umur *lirik umur 15 tahun kebawah)

Disclaimer: Cerita ini murni milik author, dikarang langsung dari imajinasi author yang super liar dan gakjelas. Sedangkan member EXO, sayangnya belum menjadi milik author. T.T

Warn: Long Fic! Super long~ .___.

page

Previews on chapter 3….

Dan sekali lagi, Kris mendorong tubuh Rin ke tempok, menguncinya secara penuh dan menyapukan bibirnya ke bibir Rin. Sekali lagi, scene ciuman panjang mereka terjadi.

Rin bersumpah! Setelah ini, ia akan membenci Kris mati-matian yang telah mempermainkan hatinya.

.

.

OSB chapter 4:

.

.

.

“Hahh…. Hahh….” Kris terengah pelan, menatap Rin dihadapannya. Menatap bibir Rin yang baru saja dia exsplor.

PLAKK.

Kris terkejut, merasakan panas pada pipinya yang baru saja Rin tampar.

“Ka-kau, jahat….” Mata Rin berkaca-kaca, kemudian sekuat tenaga mendorong tubuh Kris di depannya. Berlari sekuat tenaga menuju lift.

Kris hanya terdiam di tempatnya. Otaknya sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Dan detik berikutnya, ia baru sadar betapa bodoh dan fatal tindakannya barusan.

.

.

.

.

3 Maret 2011

“One, two, three, four, fi-“

“Ya! Wu Fan kau seharusnya ke kanan!”

Kris sedikit terkejut, “Ah~ mianhae. Kita ulang lagi ya?”

Lay memutar bola matanya frustasi. “Ini kesalahan ke-12 kalinya selama latihan hari ini. Kita break dulu.”

“Kkamjong, giliran kalian,” Lay mematikan tape recording yang sedari tadi memutar calon lagu debut mereka di China, kemudian menggantinya dengan versi Korea.

“Kau baik-baik saja, Kris?” Luhan beringsut duduk disamping Kris yang sedang duduk menerawang langit-langit sambil menyandar di tembok.

Kris tidak merespons, kehadiran Luhan disampingnya sama sekali tidak disadarinya.

“WU YI  FAN~” Luhan menyenggol bahu Kris sedikit kasar.

“Hmm?” Kris terlihat linglung.

Luhan medesah frustasi. Matanya beralih menatap Kris intens, “Katakan. Ada masalah apa?”

“Masalah mwoya?”

“Aish~ masih mengelak. Kau pikir aku mengenalmu berapa tahun? Katakan!” Luhan memaksa.

“Tapi, aku sama sekali ti-“

“Tentu saja apa lagi kalau bukan tentang gadis itu. Iya kan, Wu Fan?” Lay ikut duduk di depan mereka, melemparkan satu botol air mineral kearah Kris, yang langsung Kris tangkap. Reflek yang bagus.

“Jadi, jelaskan kepada kami ada apa antara kau dan Rin?” Luhan kembali menatap Kris tajam.

Tadinya Kris akan bungkam. Tapi melihat kedua sahabatnya yang menatapnya dengan tajam membuat Kris akhirnya menyerah.

“Aku membuat kesalahan. Kurasa dia sekarang membenciku,” jelas Kris sambil membuka tutup botol yang tadi diberikan Lay, menghabiskannya sekali teguk. Berharap perasaan aneh yang belakangan ini menghantuinya akan hilang bersamaan air yang membasuh tenggorokannya.

Luhan mengangguk pelan, “Memangnya kau apakan dia?”

Kris beralih menatap Luhan. Bagus. Pertanyaan yang bagus sekali.

“Aku….”

“Apa?” kini Lay ikut-ikutan memaksa jawaban darinya.

“Aku menciumnya,” tepat setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Kris menolehkan pandangannya kearah jendela, sedikit salah tingkah.

Sedangkan Luhan dan Lay?

Kalau saja sahabatnya itu sedang tidak dalam mode galau, mereka berdua rasanya ingin tertawa sambil berkeliling gedung SM.

Lay menahan tawanya mati-matian, “Lalu dimana kesalahannya? Kalian kan sepasang kekasih. Tiidak masalah bukan?”

“Kau lupa kalau aku dan dia hanya pura-pura Yixing? Tentu saja dia marah. Aku bukan siapa-siapanya kan?”

“Lalu kenapa kau menciumnya?” Tanya Luhan polos.

Jleb.

Pertanyaan yang menusuk hati Kris. Dia sendiri pun tidak tau kenapa tiba-tiba menjadi lepas control begitu.

“Nan molla~”

Dan jawaban singkat Kris tersebut membuat Lay tersenyum penuh arti.

“Hubungi dia lagi Kris. Kalau perlu datangi rumahnya. Yah~ sebagai lead dancer aku tidak mau kau tidak konsentrasi karena hal seperti ini. Cepat selesaikan, mengerti?” Dan setelah itu, Lay menyeret Luhan mejauh dari Kris.

“Antarkan aku ke supermarket depan Lu.”

“Y-ya, Kris kan sedang dalam-“

“Aku tau dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku malas mencampuri kisah cinta orang lain.”

 

Hubungi dia lagi Kris.

Bahkan setelah kejadian itu Kris sama sekali belum menghubungi Rin. Terdengar sangat pengecut kan?

Kris mengeluarkan I-phone dari saku celana trainingnya. Jarinya menari diatas layar touch sebelum akhirnya menggantung diudara. Merasa sangat ragu.

To: Rin

Rin, bisa kita bertemu?

Untuk sesaat jarinya berpindah ke atas tulisan back. Namun pada akhirnya tulisan berbunyi sending your message memenuhi layar ponselnya.

Yap~ Lay benar. Tidak baik juga menggantungkan masalahnya seperti ini.

.

.

.

.

“Rin-ah, buatkan desainku. Aku frustasii~”

“Mwoya? Katanya kau kesini hanya minta diajari. Kenapa malah sekarang minta dibuatkan? Shireo!”

“Kau tega melihat chingumu ini menderita eoh?”

“Ayolah Hyo, kau pasti bisa. Cobalah dulu. Hei, kenapa malah bermain dengan ponselku?” Rin mencoba merebut ponsel yang baru saja diambil sahabatnya itu. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat ponselnya itu merupakan barang paling privat dibanding dengan barang yang lainnya.

Dan bingo.

“Rin, ada pesan dari…. Namja sialan mwoya?”

Rin tersentak mendengar nama kontak itu disebutkan. Dengan gerakan cepat ia merebut ponselnya, sedikit berdebar membuka pesan tersebut.

From: Namja sialan

Rin, bisa kita bertemu?

Rin menggigit bibirnya. Entah kenapa mendapat pesan darinya saja membuat jantungnya nyaris meledak. Padahal dia sudah berjanji untuk membenci namja kurang ajar itu seumur hidupnya. Membenci dia mati-matian. Tapi toh akhirnya gagal. Ada sesuatu hal yang membuat dirinya tidak bisa membenci namja itu begitu saja.

Namun tetap saja, kenapa setelah sekian lama namja itu baru menghubunginya? Kenapa tidak dari dulu? Pengecut sekali. Rin meletakkan ponselnya kembali ke meja. Tidak berniat membalas pesannya sama sekali.

“Rin, mukamu merah. Kau sakit?” Hyona mencium gelagat tidak beres pada diri Rin.

“Eh? Nan gwencana~” Rin tersenyum kikuk. Sialan. Kris membuatnya begitu terlihat bodoh.

.

.

.

.

6 Maret 2011

Kris memandang ponselnya frustasi. Tiga hari berturut-turut dia mengirimi pesan kepada Rin. Namun selama itu, tidak ada satupun pesannya yang dibalas. Entah kenapa Kris merasa dirinya kini begitu menyedihkan. Kacau hanya karena seorang yeoja.

Aisshhh~ ini tidak ada sama sekali dalam kamus hidup Kris!

“Duizhang, saatnya makan malam,” Chen menyembul dari balik pintu, mengajak Kris untuk makan malam.

Kris menoleh sekilas kearah Chen kemudian mengangguk.

Namun tiga detik selanjutnya ia mengingat sesuatu.

“Chen-chen, boleh aku bertanya?”

Chen menatap Kris sedikit heran. “Malhebwa~”

“Eumm, kau… tau alamat rumah Suho?”

“Kenapa kau tidak bertanya langsung kepada Suho-hyung saja? Nan mollayo~” jawab Chen enteng kemudian meninggalkan Kris duluan.

Kris mendesah lemah.

“Haisshh~ geum yeoja….”

“Jinjja michosoyo!!” Serunya penuh frustasi.

.

.

.

.

Rin menendang-nendangkan kakinya ke tanah. Matanya menatap tanah kosong.

“Rin-ah~”

Rin menolehkan kepalanya kearah sumber suara.

“Kim Ahjumma,” Rin tersenyum ramah, kemudian beranjak mendekati Kim Ahjumma.

“Kau punya waktu luang hari ini?” Rin berfikir sebentar, kemudian dengan mantap menganggukan kepalanya. “Tentu. Ada yang bisa aku bantu, Ahjumma?”

“Ahh~ syukurlah. Begini, kau bisa antarkan ini ke dormnya Joonmyun? Kata Joonmyun kau pernah kesana beberapa kali. Ahjumma tidak bisa karena hari ini Ahjumma ada acara penting,” Kim Ahjumma menyerahkan sebuah tas kertas.

Rin terdiam sesaat. Mengantarkan ke dormnya Joonmyun Oppa? Itu artinya kan . . . .

“Kau tidak bisa Rin? Kalau begitu Ahjumma bisa pa-“

“A-aniya. Nanti sepulang dari kampus, akan aku antarkan Ahjumma. Tenang saja,” jawab Rin mantap.

“Ah jinjja? Jeongmal gomapta Rin.”

Rin tersenyum canggung membalas ucapan terima kasih Kim Ahjumma. “N-Ne, cheonmaneyo Ahjumma.”

.

.

.

.

Dan di sinilah Rin sekarang.

Berdiri seperti patung di depan pintu selama hampir lima belas menit tanpa melakukan apapun. Puluhan kali tangannya terulur untuk menyentuh bel, namun puluhan kali pula niatnya itu ia urungkan.

“Ah jinjja! Ayolah Rin, lakukan! Hanya tekan belnya, berikan, lalu pulang. Ne, Rin hwaiting!”

Rin menarik nafasnya dalam, kemudian dengan mata terpejam, ia tekan belnya.

“Aku mohon jangan dia… jangan dia… jangan dia…” jemari Rin mengenggam tas kertas titipan Kim Ahjumma erat, sementara kepalanya menunduk sambil berdoa.

Ceklek.

“R-rin?”

Rin mengenal betul suara siapa itu. Sangat mengenalnya.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia angkat perlahan kepalanya dan menatap orang tersebut.

DEG.

Saat manik matanya tepat bertemu dengan miliknya, Rin buru-buru menolehkan kepalanya.

“Kau datang untuk . . . . menemuiku?”

“Joonmyun Oppa. Aku datang ingin menemui Joonmyun Oppa,” Rin segera memotong kalimat orang itu-Kris- dengan nada super dingin.

Kris mengangguk pelan, “Ara, Joonmyun. Akan aku panggilkan,” Kris segera pergi dari hadapan Rin, masuk ke dalam memanggilkan Suho.

Tepat setelah Kris membalikkan badannya, Rin menatap penuh luka punggung Kris. “Menjadi serumit ini kah?”

.

.

.

.

“Joonmyun Oppa. Aku datang ingin menemui Joonmyun Oppa.”

Nyut.

Entah mengapa mendengar kata itu keluar dari mulut yeoja dihadapannya membuat hati Kris sangat sakit.

“Ara, Joonmyun. Akan aku panggilkan,” Kris memaksakan sebuah senyum, kemudian berbalik ke dalam.

Padahal tadinya ketika melihat sosok itu Kris senang. Entah untuk alasan apa. Tapi Kris merasa sangat senang.

“Joonmyun, Rin mencarimu di depan,” kata Kris seadanya.

Suho mengamati ekspresi wajah Kris, kemudian tersenyum tipis.

“Jadi aku harus membantu mereka berdua ya,” gumam Suho pelan kemudian beranjak menuju pintu utama dorm mereka.

“Annyeong Rin-ah,” Suho menyambut Rin di depan pintu, tersenyum manis.

“Annyeong Oppa. Kim Ahjumma menitipkan ini untukmu,” Rn menyerahkan tas kertas yang sedari tadi ia genggam kepada Suho.

“Ye~ Jeongmal gomawo Rin-ah. Mau masuk dulu?”

Rin mengigit bibirnya berfikir sejenak. Sebenarnya ia sangat ingin masuk dan melepas rindu pada bocah-bocah random di dalam sana. Tapi di sisi lain ada satu orang yang ia hindari mati-matian.

“Eumm~ aku pulang sa- Whoaaa Joonmyun Oppa!” Rin memekik pelan saat tangannya diseret paksa oleh Suho.

“Anak-anak lihat siapa yang datang,” Suho berteriak lantang di ruang tengah. Membuat seluruh penghuni dorm yang sedari tadi sibuk dengan  kegiatannya masing-masing menoleh penasaran.

“Omona Rin!”

Dan reaksi Baekhyunlah yang paling heboh. Secepat kilat tubuh kecilnya menghambur memeluk Rin gemas, “Aku  kira kau sudah mati.”

“Sialan! Kau mendoakan aku mati Bacon Oppa yang SEKSI?!” Rin menekankan pada kata seksi dengan intonasi mengejek.

“A-aniya~, eumm Rin berhubung kau disini, bagaimana kalau kau memasakkan sesuatu untuk kami?”

“Mwo? Shireo!”

“Oh ayolah Rin, kau tidak lihat tubuh kami mengurus begini? Semenjak persiapan untuk debut, kami jarang makan enak. Setiap hari hanya mi instan terus. Ayolah Rin….” Baekhyun memohon dengan puppy eyesnya yang selalu nampak gagal dimata Rin, terlalu sipit.

“Aku banyak urusan Bacon~”

“Rin~” Kali ini bukan hanya Baekhyun saja yang memohon, tapi yang lainnya turut serta.

Rin mendesah panjang, percuma saja mencoba menolak. “Araso.”

.

.

.

“Dasar bocah-bocah sialan! Sudah menyuruh memasakkan, sekarang masih saja harus mencuci piring kotor mereka,” Rin meggerutu sebalmengingat kejadian lima menit yang lalu dimana dia dipojokkan mati-matian dan akhirnya berakhir di washtafel dapur.

“Mau aku bantu, hn?”

Seketika Rin membatu. Tangan mungilnya yang sedari tadi mengusap piring dengan spons kini menggantung sejenak. Susah payah Rin menelan air liurnhya hingga akhirnya ia beranikan diri untuk menoleh. “Tidak usah,” jawabnya ketus.

“Mari kita selesaikan Rin. Aku minta maaf atas kejadian saat itu. Aku hanya emosi dan berada diluar kendali. Mianhae.”

Tepat setelah kaliamat itu selesai, dirasakannya kedua bola mata Rin memanas memberontak ingin meneluarkan cairan bening.

“Bukan salahmu,” buru-buru Rin menyelesaikan pekerjaannya, kemudian berlalu dari hadapan Kris.

Grep.

“Aku mohon dengarkan aku Rin.”

Rin mendongkak menatap mata Kris. Di dalam sana, entah ada suatu magnet yang membuat Rin tidak mau mengalihkan perhatiannya.

“Bagaimana kalau karena sandiwara kita, aku jadi benar-benar menyukaimu?”Kris menatap Rin lembut. Sungguh, tersirat ketulusan di dalamnya.

“Kau pikir kau bisa mempermainkanku lagi eoh?”

“Aku tidak main-main. Kau tau kenapa aku membongkar semuanya kepada ayahku? Karena aku ingin mengungkapkan kebohongan kita, dan mengawalinya kembali dengan kisah yang nyata. Bukan kisah bohongan Rin.”

Tangan Rin dalam genggaman Kris sedikit bergetar. Jantungnya berdegub lebih cepat tepat kaliamat terakhir itu diucapkan. Benarkah yang diucapkan Kris tadi?

“Maaf Kris, aku akan terbujuk rayuanmu,” Kata Rin mantab. Dihempaskannya tangan dalam genggaman Kris dan meneruskan langkahnya.

Grep.

Rin tersentak ketika menyadari dua buah lengan kekar itu melingkar di lehernya, memeluk dari belakang.

“Kalau pun aku harus mati untuk membuktikannya kepadamu, aku rela,” dieratkanya lengan Kris pada tubuh Rin. Sungguh Kris telah jatuh pada wanita dalam pelukannya ini. Awalnya memang dia ragu, tetapi begitu menyadari tersiksanya Kris tanpa Rin di sampingnya, begitu butuhnya Kris akan Rin layaknya dia membutuhkan oksigen, saat itulah dia menyadari bahwa dia benar-benar telah jatuh pada seorang Park Rin.

Rin menggigit bibirnya kuat. Disisi lain ia sangat senang atas pengakuan Kris tadi yang berarti perasaannya selama ini tidak sia-sia. Namun disisi lain ia merasa ragu luar biasa. Seolah-olah ada sesuatu yang menghalanginya untuk berhubungan dengan Kris. Tapi dia sungguh tidak tau apa itu.

Kris mengendurkan pelukannya pada leher Rin. “Jika kau menolakku,kau bisa pergi sekarang juga. Namun jika kau menerimaku, aku mohon, balaslah pelukanku ini.”

Rin mendesah kecil, secara perlahan ia lepaskan lengan Kris yang melingkar di lehernya. Kemudian ia langkahkan kaki kecilnya menjahui Kris. Dapat dirasakannya perasaan kecewa yang besar dari diri Kris.

Tiga langkah.

Lima langkah.

Sembilan langkah. Hingga ia sudh tidak tahan. Secepat kilat Rin balikkan tubuh kecilnya, menghambur memeluk Kris erat.

“Bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa menolak namja sialan seperti mu?!”

Kris tersenyum lega. Dapat dirasakannya kaos yang hitamnya sedikit basah karena air mata Rin mengingat sekarang dirinya terisak kecil dalam pelukannya. Ditangkupnya kedua pipi Rin, “Kau jelek kalau seperti ini, my lady….” kemudian secara lembut ia usap air mata yang masih membekas.

“Maaf telah mengajakmu dalam sebuah kebohongan,” dikecupnya dengan sayang kening Rin.

“Maaf telah membuatmu menangis,” kini kecupan Kris beralih ke hidung mungil Rin.

“Dan maaf, aku telah menyakitimu,” ditatapnya dengan sayang kedua bola mata coklat itu, sebelum kecupannya beralih menuju bibir merah milik Rin. Awalnya memang hanya sapuan lembut, namun semakin lama sapuan itu berubah menjadi pangutan, kemudian berubah menjadi lumatan. Rin merasakan perasaan aneh pada perutnya. Seperti ada kupu-kupu terbang diatas perutnya. Perasaan ini tentu berbeda dengan saat pertama kali Kris menciumnya. Kali ini lebih berperasaan.

“Enggh~” Rin sedikit mendorong bahu Kris ketika dirasakannya nafasnya telah habis. Namun bukannya melepaskan ciumannya, Kris malah semakin memperdalam ciumannya. Bahkan sampaimembuat Rin hampir terjungkal karenanya.

“Hah… hah… hah… namja gila,” begitu komentar Rin tepat setelah ciuman panjang dan dalam itu berakhir.

“Aku gila karenamu, my lady…. Kajja, kita keluar. Yang lainnya pasti sudah menunggu,” digenggamnya erat tangan Rin. Berjalan keluar menuju ruang tengah.

Ceklek.

BRAK!

Kris dan Rin terkejut melihat segerombolan orang jatuh tepat setelah mereka membuka pintu dapur.

“YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH?!”

“Ehehehe, hmm Chanyeol-ah ayo kita lakukan!” Baekhyun menuntun Chanyeol untuk berdiri, memperagakan sesuatu.

“Bagaimana mungkin aku menolakmu namja sialan~” Baekhyun menirukan Rin.

“Ouwwhhh~ my lady~” Balas Chanyeol dengan nada menjijikan.

“Kiss me Kris oppah~” timpal Baekhyun lebih menjijikan.

“My lady…..”

“Kris oppa….”

BUAGH.

Dengan tiba-tiba dua buah sendal rumah melayang tepat di kedua wajah happy virus itu.

“YA! BOCAH-BOCAH TIDAK SOPAN! LIHAT SAJA AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!” Rin berteriak kalap.

“Owhh… Owh… Oppahh~” Baekhyun semakin menjadi-jadi.

“BACOONNNN!!!”

Kemudian adegan romantis gagal itu berubah menjadi adegan action antara Rin dan BaekYeol. Entah apa saja yang dilemparkan ketiganya. Gelas, bantal, vas, bahkan mungkin meja dan kursi. Sementara dari kejahuan tiga orang pria tampan mengamati mereka.

“Sukurlah akhirnya kalian bersatu, Kris.”

Kris tersenyum tipis, “Xie-xie Luhannie.”

“Jadi kisah kalian berakhir di sini?”

“Tentu saja tidak Yixing. Aku yakin di depan akan masih ada yang harus kami lewati. Statusku sebagai idol, penggemarku nanti, bahkan masalah ibuku pun belum terselesaikan.” Kris menerawang jauh.

Ya. Kisah mereka tidak berakhir disini.

Justru kisah mereka baru akan dimulai.

Their story begin!

=FIN=

AHAHAHAHAHAHA

Author mau ketawa sekenceng-kencengnya sampe kejedot!

APA-APAAN INI? CERITANYA JADI NGAWUR KEMANA-MANA. PAKE HURUF GEDE SEMUA BIAR HEBOH.

Sebenernya ff ini mau aku buang gitu aja ke tong sampah. Tapi melihat apresiasi reader yang selalu menunggu ff nista ini update jadi terharu :’) jeongmal gomawoooo~ 😀

Mianhae, aku baru sempet updatenya. Maklumlah, mahasiswi baru kan biasanya sok sibuk gitu :p Tapi ini bener kok, jadwal kuliah bener-bener padat merayap. Belum lagi bulan depan harus sudah praktik di RS padahal megang suntik aja masih gemeteran -,- #authorsongongcurhat

Maaf kalau ff ini jadi ngawur. Padahal awalnya cerita ini mau aku buat sampai EXO debut. Trs ada konflik lagi gitu… tapi fokusku berubah jadi nyelesain ff ini secepatnya aja. Tapi seneng juga sih akhirnya bisa nyambungin end-nya sama judul gagal yang selalu begin-begin melulu -,-

Aku sebenernya punya projek ff baru gitu. Tentang

 

 

 

Iklan

68 pemikiran pada “Our Story Begin (Chapter 4)

  1. Akhir yg lucu bgt!!!kasihan baekyeol di timpukin trus!!!aduh pengen jd rin dech nich!!bisa ketemu member exo.hehehe
    Thor,ada squelnya gak?kl ada judulnya apa??
    Gomawo udh bikin perut saya sakit gara2 ketawa.wkwkwkwk

  2. Heloooo authorr …..
    Whoaaa demi apa? Ini comedy, sad, happy semuanya ada didlmnya, keren bgt ini ff nya. Pas kena hati, feelnya dapet bgt haha. Keep writing yah 😉
    oia satu lagi. Aku suka banget sama disclaimer nya hohohoh

  3. Their story begin!

    FIN

    Ini yang sarap gue apa gue sih :3 *lah
    Baru aja ceritanya mulai, lu udah fin fin-in aja (?)
    Udah ah, abaikan komentar readers sarap bin sableng ini, salahkan Chanchan T.T
    (sumpah nih readers sarapnya kagak ketulungan-_-)
    Yaudeh deh kak, FF nya bagus! Sogui/? Daebak! Cool! Keyen/? Uwaaa *.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s