Hypocrites (Chapter 2)

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 2 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

Poster (1)

 

“Tunggu disini sebentar ya nak, appa akan mengambil mobil dulu, arraseo?” Suji kecil mengangguk seraya tersenyum kepada ayahnya.

Sang ayah pun juga ikut tersenyum dan menatap putri kecilnya dengan penuh kasih sayang. Suji bersumpah bahwa ayahnya memilki mata terindah yang pernah dia lihat.

“Biar aku bantu membawa barang-barangmu yeobo, tunggu disini sebentar ya nak, kami akan segera kembali” Sang ibu tersenyum seraya mengelus kepala putrinya. Suji bersumpah bahwa ibunya memiliki senyum terindah yang pernah dia lihat.

Setelah itu kedua orang Suji pun berjalan ke tempat dimana mereka memarkir mobil mereka. Di malam yang dingin ini, Suji bersama dengan kedua orang tuanya, baru saja keluar dari sebuah rumah makan, mereka memang sering menghabiskan waktu akhir pekan bersama-sama.

Suji menggigil, kemudian dia memasukkan kedua tangannya kedalam sakunya, agar membuat dirinya merasa lebih hangat. Malam ini salju turun dengan lebat, sehingga membuat keadaan disekelilingnya bewarna putih.

Suji mengulurkan tangan mungilnya untuk meraih salju-salju putih yang terus menerus berjatuhan dari atas langit, dia tertawa seraya membiarkan kedua tangannya dipenuhi oleh salju.

Suji melihat mobil orang tuanya yang sedang melaju menghampirinya, ibunya melambai dari balik kaca mobil, Suji pun melambai dan melompat-lompat kearah ibunya, seraya menunggu mereka datang.

Kemudian entah datang dari mana, sebuah truk besar menabrak mobil mereka, sehingga membuat mobil tersebut terdorong jauh, jauh sekali. Suji membelalakkan matanya ketika melihat mobil mereka memutar dan terbalik.

Truk besar itu berhenti sesaat, sebelum akhirnya menggas kembali. Supir yang mengendarai truk tersebut berhasil lari dari perbuatannya.

“Umma … appa …” Suji berbisik pelan.

“UMMA! APPA!” Sambil menangis, Suji berlari menghampiri lokasi kecelakaan.

Pecahan kaca dan logam berserakan dimana-mana. Suji berjongkok dan mengintip kedalam kaca mobil yang telah hancur, “UMMA! APPA!” Suji berteriak.

“Su-suji” Sang ibu mengerutkan kedua alisnya kesakitan, sedangkan ayahnya tidak bergerak sama sekali. Darah segar berceceran dari tubuh mereka.

“UMMA! APPA! AKU AKAN MENGELUARKAN KALIAN DARI SANA!” Suji berteriak.

“Ja-jangan nak. Nanti kau terluka” Sang ibu bergumam, kemudian beliau merintih kesakitan.

Suji tidak peduli. Dia berusaha masuk melalui kaca mobil yang telah pecah, kemudian mencoba mengeluarkan tubuh sang ibu yang tidak berdaya dari sana. Dengan tangan mungilnya, dia berhasil mengeluarkan ibu dan juga ayahnya keluar dari mobil.

Tubuh kedua orang tuanya terluka parah, dan darah segar telah berhasil membasahi pakaian mereka. Tangan dan dengkul Suji juga terluka saat itu, namun dia sama sekali tidak dapat merasakan sakit. Yang ada dipikirannya hanyalah, menyelamatkan kedua orang tuanya yang sekarat.

“Suji,” Ibunya memanggil, “Sepertinya umma tidak mampu bertahan lebih lama lagi, jadi tolong dengarkan permohonan terakhir umma” Ibunya berkata disela rintihannya. “Sirreo! Aku berjanji aku akan menyelamatkan kalian, jadi kumohon jangan ucapkan perpisahan seperti itu umma!” Air mata telah berhasil membanjiri kedua pipi Suji.

“Kumohon, tolong dengarkan ummamu ini” Sebuah senyuman terlukis dari sudut bibir ibunya, kemudian dengan hati yang berat Suji mencoba untuk mendengarkan ibunya, “Berjanjilah untuk selalu tersenyum. Karena senyumanmu, adalah bagaimana kami ingin mengingatmu.” Itulah permohonan terakhir yang berhasil di ucapkan oleh ibunya, sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Suji mengguncang tubuh ibunya sambil menangis, “Umma andwae! Tolong jangan tinggalkan aku sendiri!” Suji memohon sambil menangis terisak-isak, kemudian dia menatap ayahnya yang memang sudah tidak berdaya sejak awal, “Appa jangan tinggalkan aku sendiri! Aku berjanji akan menjadi anak yang baik!” Suji menangis histeris.

Suji berdiri dan menatap sekelilingnya.

Kemudian dia berteriak, “SIAPAPUN TOLONG! KUMOHON TOLONG ORANG TUAKU! MEREKA SEKARAT!” Suji berteriak sekeras mungkin.

Namun tidak ada seorangpun yang datang.

Di usianya yang masih begitu kecil, Suji telah melihat sebuah tragedi yang membuatnya kehilangan orang-orang yang paling dia cintai didunia ini.

—–

“Suji gwenchana? Apa semalaman kau tidak tidur? Matamu terlihat seperti mata panda” Tanya Baekhyun sambil mengunyah makan siangnya.

“Gwenchana, mungkin karena semalam aku mimpi buruk” Jawab Suji.

“Tapi kau tetap yeppo” Baekhyun mengedipkan salah satu matanya, Suji tertawa kecil.

“Jadi saat kau bermimpi buruk, apa suamimu memelukmu?” Goda Minhee.

“S-SUAMI?!” Baekhyun berteriak. Suji membulatkan matanya kearah Minhee. Minhee segera menutup mulutnya, dia tidak sengaja berbicara ditempat dan waktu yang salah.

“Ma-maksudku-” Belum sempat Minhee memperbaiki kesalahannya, tiba-tiba saja datang lima orang pria yang menghampiri meja mereka.

“Can we join with you guys?” Sehun bertanya dengan seringai tampannya.

Baekhyun menatap lima pria dihadapannya dengan mulutnya yang terbuka, sedangkan Minhee seketika berubah menjadi patung. “Oh kalian … tentu” Baekhyun mempersilahkan mereka semua untuk bergabung dengan mulutnya yang masih terbuka, dan anehnya, Kai bahkan juga ikut bergabung dimeja mereka, walaupun dia sama sekali tidak terlihat tertarik.

“T-tentu saja kalian boleh bergabung” Minhee tersenyum canggung sambil menyetuh dagu Baekhyun, lalu membuat mulutnya agar tertutup rapat. Minhee masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, lima murid yang paling diidam-idamkan oleh para gadis disekolah ini, duduk dimeja yang sama dengannya. Baekhyun menatap sekelilingnya, hampir semua murid tengah menatap kearah meja mereka dengan heran. This is it, akhirnya mereka sadar bahwa aku memang keren, dan pantas untuk menjadi bagian dalam Exo, ujar Baekhyun didalam hatinya. Kini dia duduk dengan tegap dan mencoba untuk berpose sekeren mungkin.

“Bagaimana kesanmu mengenai sekolah ini Suji?” Suho memecahkan keheningan dengan memulai pembicaraan.

“Sangat baik, aku suka sekolah ini, murid-murid disini juga sangat baik padaku” Suji tersenyum kemudian menatap kedua temannya, Minhee dan Baekhyun.

“Lalu, apa rasanya menjadi istri bagi seorang Kim Jongin?” Pertanyaan Sehun yang tidak terduga membuat orang-orang disekitarnya terkesiap, terlebih lagi Baekhyun.

“Yah sudah kubilang agar kalian merahasiakan hal ini dari muka umum” Kai berbicara dengan datar. “Oops mianhae” Sehun kembali menutup mulutnya.

“Kau Minhee kan? Yang waktu kelas satu sekelas dengaku?” Chanyeol bertanya kepada Minhee. Seketika detak jantung Minhee mulai berdenyut tidak karuan, “N-ne” Jawab Minhee gagap. Dia tidak percaya bahwa Chanyeol masih mengingatnya.

“Apa kalian sudah mengerjakan tugas aritmatika yang diberikan seongsaenim?” Baekhyun bertanya kepada Sehun, Chanyeol, dan Kai. Mereka adalah teman sekelas, dan sebenarnya mereka memang lumayan akrab. Minhee disisi lain, sedang mengutuk Baekhyun didalam hatinya, berkat pertanyaannya yang tidak penting itu, Chanyeol jadi tidak berbicara kepadanya lagi.

“Aku bahkan belum sampai setengah jalan” Jawab Chanyeol, “Nado” Sahut Sehun. “Lalu bagaimana denganmu?” Baekhyun bertanya kepada Kai, “Aku sudah selesai” Jawab Kai.

“Kalau begitu kami boleh pinjam kan Kai?” Sehun memohon dengan mata puppy eyesnya, “Terserah” Jawab Kai, “Yes!” Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun pun ber high-five.

“Sebenarnya tujuanku kesini adalah untuk memberikan ini kepada adik iparku” Suho tersenyum kearah Suji, kemudian memberikannya sebuah undangan.

“Tunggu tunggu, sebenarnya apa yang kalian bicarakan sejak tadi? Suami? Istri? Adik Ipar? Sebenarnya apa yang terjadi?” Baekhyun bertanya dengan frustasi.

“Suji adalah istri Kai, berarti dia adalah adik iparku” Jawab Suho santai. Kai menutup wajahnya dengan salah satu tangannya, sedangkan Suji hanya dapat pasrah mendengar rahasianya terbongkar.

Perlahan Baekhyun mengalihkan pandangan kearah Suji, dia menatap Suji dengan penuh tanda tanya, sedangkan Suji hanya dapat memberikannya tatapan meminta maaf. Untung saja Minhee duduk tepat disamping Baekhyun, dia pun segera menjelaskan Baekhyun akan apa yang sesungguhnya terjadi. Walaupun akal sehat Baekhyun masih belum bisa mencerna dan bahkan percaya dengan semua hal yang diceritakan oleh Minhee, namun dia berjanji untuk merahasiakan hal tersebut.

Seharusnya sejak awal aku tidak perlu mengundang mereka, Ujar Kai didalam hatinya.

“Undangan apa ini Suho oppa?” Tanya Suji binggung sambil membaca undangan tersebut.

“Kau dan kedua temanmu ini,” Suho menunjuk Minhee dan Baekhyun, “Akan bergabung bersama kami besok malam” Ujar Suho.

“Bergabung?” Suji memberikan Suho tatapan binggungnya sekali lagi

Suho tertawa, “Datanglah ke acara pembukaan bar baru milik ayahku besok malam, aku sudah memesan tempat VIP untuk kalian semua, jadi kalian bertiga harus datang.”

Suji mengedipkan mata mereka berulang kali, dia belum pernah pergi ke bar ataupun club sebelumnya. Suji menatap kedua temannya yang kini terlihat begitu terkejut, sama sepertinya. Dan baru saja Suji ingin mengucapkan sesuatu, Baekhyun telah lebih dulu berhasil memotongnya.

“Tentu! Kami pasti datang!” Sekarang semua mata tertuju pada Baekhyun yang memiliki senyum paling lebar diantara semuanya, sedangkan Suji dan Minhee menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Suho menepuk kedua tangannya lalu tersenyum, “Okay, kalau begitu kutunggu kalian disana” Suho tersenyum, kemudian dia bersama dengan teman-temannya beranjak keluar dari kantin. Kemudian ketika mereka sudah tidak terlihat lagi, Minhee segera melolot kehadapan Baekhyun, sedangkan Baekhyun memberikannya tatapan I-didn’t-do-anything-wrong-why-are-you-looking-at-me-like-that.

“Yah Byun Baekhyun, mengapa kau berkata seperti itu tadi?!” Minhee menggeram, sedangkan Baekhyun melambaikan tangannya, layaknya hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar.

“Yah Lee Minhee, acara itu pasti akan sangat menyenangkan, lagipula sebenarnya kau pasti merasa senang karena bisa melihat Chanyeol diluar sekolah kan?” Baekhyun tersenyum sambil menaikkan salah satu alisnya. Apa yang dikatakan Baekhyun memang benar, namun dia takut jika kedatangannya akan membuat suasana menjadi canggung.

“Jadi apa pendapatmu Su?” Tanya Minhee khawatir, “Mungkin apa yang dikatakan Baekhyun ada benarnya juga, lagipula apa salahnya kita mencoba hal baru” Suji tersenyum meyakini Minhee.

“Kalau begitu baiklah, omo pasti mereka akan terlihat sangat tampan!” Kini Minhee berubah menjadi antusias, Baekhyun memutar bola matanya, sedangkan Suji tertawa melihat perilaku Minhee yang bipolar.

“Tapi kau harus menjemput dan juga mengantarku, arraseo?” Minhee mengancam Baekhyun dengan tatapannya yang tajam, “Ummm, arraseo” Jawab Baekhyun malas.

—–

“Kai, bolehkah umma masuk?” Kai mengangguk mempersilahkan ibunya untuk masuk kedalam kamarnya. Di minggu pagi yang cerah ini, Kai terlihat sedang bermalas-malasan dikamarnya sambil menonton tv.

“Apa rencanamu hari ini Kai? Kalau tidak salah nanti malam Suho mengundangmu ke acaranya bukan?” Nyonya Kim bertanya, dia duduk diranjang Kai sambil mengelus rambut putranya, Kai menganggukkan kepalanya dan menguap.

“Apakah Suji juga diundang?” Nyonya Kim bertanya, Kai mengangguk sambil memfokuskan pandangannya pada layar tv, “Kalau begitu kalian harus berangkat bersama,” Nyonya Kim terdiam sebentar, kemudian dia kembali melanjutkan kalimatnya, “Besok pagi umma dan appa akan pergi ke Jepang untuk beberapa bulan kedepan, tolong jaga Suji dengan baik, arraseo?” Kai hanya diam.

“Apa kau tahu? Dulu orang tua Suji adalah teman baik umma dan juga appamu, sebelum mereka berdua meninggal” Nyonya Kim berkata dengan nada suara yang berbeda, Kai seketika mengalihkan pandangannya dari tv dan menatap ibunya dengan lekat dan penuh tanda tanya.

“Meninggal? Apa maksud umma?” Tanya Kai terkejut.

Nyonya Kim menutup matanya seraya mengingat tragedi yang terjadi pada kedua orang tua Suji dimasa lalu, kemudian dia mulai menceritakan apa yang dia ketahui mengenai tragedi tersebut kepada Kai.

“Dan diusianya yang masih begitu kecil, Suji telah kehilangan kedua orang tuaya.” Nyonya Kim mengakhiri ceritanya, dia segera menghapus air matanya agar tidak terjatuh, kemudian dia kembali menatap Kai.

“Terdapat kisah dibalik setiap orang. Terdapat alasan mengapa mereka menjadi seperti itu. Mereka begitu bukan karena mereka ingin, melainkan karena suatu hal di masa lalu yang telah membuat mereka menjadi seperti itu. Jadi umma mohon, tolong jaga Suji dengan baik, arraseo?” Kai pun hanya bisa mengangguk pelan, setelah itu ibunya mencium kening Kai sebelum keluar dari kamar putranya, dia harus segera menghadiri sebuah rapat penting dikantornya.

Kai perlahan beranjak keluar dari ranjangnya, kemudian dia berjalan menuju balkon yang terdapat didalam kamarnya. Disaat Kai membuka pintu balkon, angin berhembus menyambutnya. Dia menghirup udara pagi yang masih segar, lalu menatap pemandangan dihadapannya, suhu udara pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin akibat musim salju yang akan segera datang, menggantikan musim gugur ini.

Kai menatap kebawah, dia memandangi air terjun yang berada dihalaman rumahnya, satu per satu burung gereja mulai berdatangan kesana, burung-burung gereja itu menghirup air yang berasal dari air terjun tersebut, mereka berkicau dan bernyanyi bersama. Lalu tiba-tiba saja salah satu burung gereja itu terbang tinggi keatas, membuat pandangan mata Kai mengikuti burung gereja itu, kemudian pandangan matanya berhenti jauh keatas langit biru.

Sudah lama Kai tidak menatap langit seperti ini, dia mulai lupa betapa birunya langit dan putihnya awan, gedung-gedung pencakar langit bahkan dapat terlihat jelas dari balkon kamarnya. Mungkin karena dia begitu terbiasa berada diluar, sehingga tidak sadar akan detail keindahannya.

Hal tersebut mungkin yang membuatnya heran, ketika melihat sosok seorang gadis yang tengah melongo menatap apa yang juga dia tatap beberapa saat yang lalu.

Suji baru saja berjalan menuju balkon yang juga berada didalam kamarnya, dan dia tidak sadar akan kehadiran Kai yang saat itu juga sedang berada di balkon kamarnya, disaat kamar mereka memang terletak tidak terlalu jauh diantara satu sama lain.

Berbeda dengannya yang terlihat tidak tertarik, gadis ini justru terlihat tengah mengagumi pemandangan dihadapannya. Apakah hal itu benar-benar istimewa? Hal kecil seperti itu tidak pernah membuat Kai terkesan. Kehidupannya yang selalu berjalan lembut, dan dirinya yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah, membuat segalanya menjadi begitu dangkal, dan kosong, seakan-akan menginginkan sesuatu untuk berubah.

Kai menemukan dirinya menatap gadis itu lagi, kemudian tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang, sehingga membuat helaian rambut panjang gadis itu beterbangan, gadis itu menutup matanya seraya membiarkan angin terus-menerus berhembus diwajahnya. Kemudian gadis itu membuka matanya, dan kini dia bermain dengan suhu udara yang dingin, yaitu dengan cara mengeluarkan kebulan asap abu-abu dari mulutnya, kemudian dia tertawa lepas.

Lagi-lagi, Kai bertanya didalam benaknya, mengapa hal kecil seperti itu dapat membuatnya senang? Terlebih lagi, mengapa dia bisa tersenyum seperti itu, Kai tidak pernah menduga bahwa orang seceria Suji pernah melewati masa yang begitu sulit. Ternyata terdapat sebuah kisah dibalik setiap orang. Sekarang Kai percaya, bahwa senyuman gadis itu memang tidak dibuat-buat, melainkan gadis itu tersenyum demi mengubur masa lalunya yang pahit.

Entah mengapa saat ini Kai merasa begitu buruk. Terdapat sebuah perasaan yang mengguyurnya saat ini, entah perasaan iba ataukah perasaan menyesal, dia tidak mengerti.

Kai segera pergi meninggalkan balkon dan masuk kedalam kamarnya, sepertinya dia harus segera mandi agar pikirannya jernih. Setelah selesai dan berpakaian nyaman, Kai pun beranjak keluar menuju ruang makan, bermaksud untuk mengisi perutnya, dia berjalan dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

“Pagi Kai” Sapa Suji yang sedang berada dimeja makan. Bagaimana bisa dia menyapa seseorang yang telah berkata kejam terhadapnya dengan baik? Namun Kai tidak berkata apapun mengenai hal itu dan hanya duduk disana. Kai meletakkan sebuah roti dipiringnya, kemudian bermaksud untuk mengambil selai kacang kesukaannya.

“Biar aku saja yang membuatkan roti untukmu, bolehkan?” Tanya Suji, Kai hanya diam dan tidak berkata apapun, namun Suji menganggapnya sebagai ya.

Suji duduk disamping Kai dan mulai membuatkan roti untuknya, “Pilih yang mana?” Suji menunjukkan dua toples selai buah yang berbeda kepada Kai, kemudian Kai menunjuk selai kacang yang justru berada di atas dimeja. “Okay” Suji meletakkan kedua selai ditangannya, kemudian dia mulai mengolesi roti Kai dengan selai kacang. Setelah selesai Suji meletakkan roti buatannya dipiring Kai, kemudian Kai pun mulai memakannya.

“Kai,” Suji berkata dengan sedikit gugup, “Apa aku boleh pergi bersamamu ke acara Suho oppa di bar nanti malam?” Kai berpikir sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya, sedangkan Suji membelalakkan matanya terkejut, dia tidak percaya bahwa Kai tidak menolak permintaannya sama sekali.

“Bersiap-siaplah sebelum jam tujuh nanti, aku yang akan menyetir mobil” Kai berbicara dengan datar, “Jinjja?! Jeongmal gomawo Kai” Suji tersenyum lebar.

“Mengapa kau begitu senang? Padahal tidak ada apapun yang menarik disana” Kai berkata dengan dingin. Suji membalasnya dengan senyuman kecil, “Karena malam ini aku akan pergi ke tempat yang belum pernah aku kunjunggi sebelumnya, mencoba hal yang baru itu menyenangkan bukan?” Suji berkata dengan semangat.

Kai berhenti mengunyah rotinya dan menatap Suji, “Lalu adakah hal baru yang kau temukan semenjak kau pindah kerumah ini?”

Suji menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Tentu saja” Jawab Suji.

“Benarkah? Seperti apa?” Kai bertanya, tertarik dengan topik yang sedang mereka bicarakan.

“Seperti …” Suji berpikir sejenak, “Kau lebih suka selai kacang dibandingkan buah,” Suji menunjuk roti yang telah digigit oleh Kai, “Kau tidak banyak bicara. Kau tidak suka tersenyum. Kau memiliki empat orang sahabat. Jika dibandingkan dengan Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun, kau yang paling awal berhasil mengerjakan tugas aritmatika. Kau benci melihatku tersenyum. Kau membenciku. Tapi hari ini, kau mau berbicara denganku.” Suji kembali tersenyum lebar.

“Mengapa semua hal itu mengenaiku?” Kai menaikkan salah satu alisnya.

“Karena orang tuamu jarang berada dirumah,” Suji menjawab, “Dan belakangan ini, satu-satunya orang yang paling sering kutemui hanyalah kau.”

“Yeah, aku tahu kalau hidupku memang menarik” Kai memutar bola matanya.

“Memang,” Suji meyakinkannya, “Hidupmu jauh lebih menarik jika dibandingkan denganku.”

Kai menatap Suji dengan tatapan penuh tanda tanya, seolah Suji telah mengatakan suatu hal yang ganjil. “Memang seperti apa hidupmu?” Kai bertanya dengan datar.

Suji terdiam sejenak, “Seperti …” Suji menggigit bibir bawahnya “Sedikit membosankan. Diberitahu apa yang harus kulakukan, dan apa yang tidak boleh kulakukan.”

“Lalu apa kau membencinya?” Kai kembali bertanya, dia menatap Suji dengan lekat.

“Benci? Tentu saja tidak,” Suji tertawa, “Hidup itu terlalu singkat, dan akan menjadi tidak berarti ketika kita menyia-nyiakannya dengan kebencian dan kekosongan. Just live your life dan nikmatilah hidupmu selagi kau masih bisa bernafas. Bagiku itu sudah cukup. Untuk orang lain. Untuk semua orang. Dan untuk dirimu sendiri.”

Kai menyerap setiap kata yang di ucapkan oleh Suji, dan untuk pertama kalinya pandangan mata Kai melembut. Kini Kai mengerti mengapa dia selalu menjalani hidupnya dengan kekosongan, dan menginginkan suatu perubahan, disaat dia sendiri tidak tahu apa yang seharusnya berubah. Namun kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Suji seolah-olah menjadi jawaban baginya, walaupun dia selalu berpikir bahwa Suji itu terlalu naif dan bodoh, namun nampaknya gadis ini telah berhasil membuat dirinya terdiam sesaat lagi, dan ini merupakan yang kedua kalinya.

Bedanya, kali ini Kai tidak merasa binggung apalagi kesal, dia justru merasa terpukau dengan apa yang dikatakan oleh gadis ini, gadis yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya dan memberitahunya, bahwa hidup memiliki arti. Memberitahunya bahwa hal terkecil pun dapat berubah menjadi sesuatu yang istimewa. Memberitahunya bahwa hanya dengan hidup di dunia, itu sudah cukup, demi diri sendiri, dan demi kebaikan semua orang.

“Sepertinya,” Kai tersenyum kecil, “Kau tidak salah.”

Jantung Suji hampir saja melompat keluar ketika melihat Kai tersenyum untuk pertama kalinya, walaupun senyumannya begitu kecil dan hampir tidak terlihat, namun hal tersebut sudah cukup untuk dapat membuat jantungnya berdenyut tidak karuan.

Nan wae irrae? Suji bertanya didalam hatinya.

—–

Malam pun tiba, Suji baru saja selesai mempersiapkan dirinya sebelum beranjak pergi menghadiri undangan Suho. Dia mengenakan dress putih tanpa lengan yang jatuh hingga atas dengkulnya, kemudian dia memakai cardigan kulit bewarna peach, agar menutupi punggungnya yang terbuka. Suji melapisi bibirnya dengan tint merah jambu yang sesuai dengan kulit putihnya yang pucat, dia tidak suka menggunakan make up yang berlebihan. Terakhir, dia menata rambut panjangnya dengan model fishstyle braids, dan setelah itu dia mengambil tasnya, kemudian beranjak keluar dari kamarnya.

Ketika Suji hendak melangkahkan kakinya turun ke tangga, Kai terlihat baru saja keluar dari kamarnya, kemudian tanpa berpikir panjang Suji segera berjalan menghampiri Kai.

“Kai, aku sudah siap” Ujar Suji sambil tersenyum kecil. Kai menatap Suji dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian dia segera mengalihkan pandangannya ke jam dinding.

“Kajja” Ajak Kai.

Setelah itu mereka berdua berjalan menuju mobil. Suji memperhatikan penampilan Kai, dia mengenakan kaos putih santai dengan jas kulit bewarna hitam diluarnya, rambutnya disisir ke atas, walaupun tidak ditata dengan rapih dan justru terlihat sedikit berantakan, namun semua itu hanya membuat penampilannya menjadi semakin tampan, atau mungkin terlalu tampan.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, akhirnye mereka berdua tiba di bar milik Suho. Pelayan bar membukakan pintu untuk mereka berdua, kemudian dia  mengantar mereka ketempat Suho dan yang lainnya. Suara musik yang keras memenuhi telinga Suji, bar ini terlihat begitu besar, mewah dan elegan, dengan gaya Eropa kuno yang menambah kesan klasik. Suji melihat begitu banyak orang didalam bar ini, mungkin ada yang sedang melangsungkan acara atau event lainnya.

“Suji!” Suji melihat Minhee yang sedang melambai kearahnya, kemudian dia juga balik melambai kearahnya. Semua orang terlihat  telah tiba disana, dan nampaknya hanya dia dan Kai lah yang tiba paling akhir.

Suho berdiri dari tempat duduknya kemudian menghampiri Kai dan Suji, “Welcome” Suho memeluk Kai dan menepuk punggungnya, kemudian dia memberikan sebuah pelukan hangat kepada Suji. Setelah itu Suho membawa mereka berdua untuk bergabung bersama yang lainnya, mereka semua duduk bersama ditempat VIP yang telah dijanjikan oleh Suho. Semuanya menatap kehadiran mereka berdua, pertama mereka melihat Kai, kemudian pandangan mereka berhenti pada gadis disamping.

“Wow Suji, kau benar-benar cantik” Pujian yang diberikan oleh Sehun hanya membuat Suji menjadi gugup dan malu, setelah itu Suji tersenyum canggung menyapa semua orang disana, kemudian dia duduk diantara Minhee dan D.O.

“Aigo kemana saja kau, aku hampir saja mati kutu disini” Ujar Minhee yang setelah itu memeluk Suji dengan sangat erat.

Suji tertawa, “Mianhae, tadi ada sedikit kemacetan dijalan” Suji membalas pelukan Minhee.

“Ummaya! Mereka sexy sekali!” Baekhyun menatap para gadis yang tengah menari di dance floor, kemudian Suji dan Minhee memutar bola mata mereka.

Kini semua orang memiliki kesibukannya masing-masing. Suji dan Minhee terlihat sedang asyik mengobrol sambil mencicipi cemilan. Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun terlihat sedang menggila di dance floor, sehingga menimbulkan perhatian dari orang-orang disekitar mereka. Sedangkan Kai, Suho, dan D.O terlihat sedang mengobrol sambil minum.

“Kalian mau?” D.O menawarkan Suji dan Minhee segelas wine, kemudian mereka menggelengkan kepala mereka dengan cepat sambil tersenyum canggung. D.O pun tertawa saat melihat reaksi mereka berdua.

“Pesan apapun yang kalian mau, semuanya telah ditanggung oleh Suho.” Ujar D.O, kemudian mereka berdua mengangguk pelan.

“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya D.O oppa mau berbicara dengan kita, benarkan?” Minhee berbisik kepada Suji, “Benar sekali” Suji balik berbisik.

Tiba-tiba saja Sehun datang menghampiri mereka berdua dengan tubuhnya yang masih menari-nari mengikuti irama musik, “Come on ladies!” Sehun menarik tangan Suji dan Minhee, kemudian membawa mereka berdua ke dance floor.

Suji dan Minhee membulatkan mata mereka, mereka tidak pernah menari ditempat seperti ini sebelumnya, dan hal itu membuat mereka benar-benar panik.

Terdapat banyak sekali orang yang tengah menari, sehingga membuat tubuh mereka bertabrakan satu sama lain. “Sehun, aku tidak bisa menari” Ujar Suji panik, “N-nado” Ujar Minhee yang tidak kalah paniknya. Sehun memutar bola matanya, “Aww come on beautiful ladies, anyone can dance!” Sehun berkata dengan semangat.

Kemudian tiba-tiba saja DJ berteriak, “Are you guys having fun?!” Setelah itu semua orang berteriak, dan Sehun pun menaikan tangan Suji dan juga Minhee keatas secara bersamaan, “Yes!” Kemudian sang DJ menambah irama beatsnya.

Secara tidak sengaja punggung Minhee menabrak seorang pria di belakangnya, lalu dia pun segera meminta maaf. “Hey gwenchana, ini hanya aku” Chanyeol tersenyum menyeringai. Minhee membelalakkan matanya, dan dalam hitungan detik, jantung Minhee mulai berdenyut tidak karuan.

Suji disisi lain, hanya dapat tertawa sambil bertepuk tangan ketika memperhatikan Sehun dan Baekhyun yang tengah menari dengan gila, kemudian tiba-tiba saja irama musik berganti menjadi irama yang begitu menyenangkan, dan orang-orang mulai menari secara bersama-sama.

Sambil menari mengelilingi tiang yang berada ditengah-tengah dance floor, Sehun menarik tangan Suji, dan secara spontan Suji juga menarik tangan Baekhyun, kemudian Baekhyun menarik tangan Minhee, dan seraya mencari kesempatan dalam kesempitan, Minhee pun juga menarik tangan Chanyeol. Mereka berlima berputar membuat sebuah lingkaran, sambil menari mengelilingi tiang.

Mereka berlima tertawa lepas, menikmati tarian mereka walaupun orang-orang disekitar tengah memperhatikan mereka dengan heran.

“Lihatlah mereka” D.O menunjuk mereka berlima, Suho dan Kai pun mengalihkan pandangan mereka kearah yang ditunjuk oleh D.O.

“Aigo menyenangkan sekali!” Suho tidak dapat menahan tawanya ketika memandangi kelima temannya yang terlihat begitu bahagia dalam dunia mereka sendiri. Disisi lain, Kai tidak dapat memalingkan wajahnya sedikitpun dari Suji, entah mengapa senyum gadis ini telah berhasil membuatnya enggan untuk berpaling.

Musik pun berhenti, dan semua orang kembali ketempatnya masing-masing.

“That was … awesome!” Sehun berteriak kemudian berhigh-five bersama yang lain, dan setelah itu mereka semua kembali ketempat duduk mereka.

“Minhee,” Panggil Suji, “Aku rasa aku harus ke toilet, apa kau mau ikut?”

Minhee menggelengkan kepalanya “Aniyo, aku tidak ingin membasahi tanganku dengan air,” Suji menatapnya binggung, “Aku tidak akan pernah menghapus bekas pegangan tangan Chanyeol ini dari tanganku.” Minhee tersenyum terharu menatap Suji.

Suji tertawa geli, “Kalau begitu biar aku sendiri saja” Suji pun segera berjalan menuju toilet.

—–

Tepat di lobi, sebelum masuk kedalam toilet, Suji berpapasan dengan sepasang kekasih yang datang entah dari mana. Mereka terlihat sedang bergandengan, tertawa, dan bercumbu satu sama lain, mereka terlalu hanyut didunia mereka sendiri, sampai-sampai tidak sadar bahwa punggung sang wanita menabrak Suji dengan cukup keras. “Ouch” Wanita itu merintih pelan.

Kemudian dia menatap Suji dengan sinis, “Yah! Apa kau tidak punya mata?!” Kini wanita itu malah berteriak. Suji menatapnya dengan heran, bukankah dia yang menabraknya lebih dulu? Suji pun kembali melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan wanita itu, mungkin saja dia sedang mabuk. Namun langkahnya terhenti ketika lelaki disamping wanita itu, atau bisa dibilang kekasihnya, menarik lengan Suji dengan kasar, sehingga membuatnya menghadap wanita itu lagi.

“Minta maaf!” Lelaki itu membentak Suji.

Suji dapat mencium bau alkohol yang begitu keras, ternyata dugaannya benar.

“Ayo minta maaf! Atau kau ingin kuberi pelajaran?!” Lelaki itu berteriak, dia mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Suji.

Suji menelan ludahnya, dia mencoba melepaskan dirinya dari ikatan lelaki itu.

“Lepaskan!” Suji memberanikan dirinya untuk menggertak, namun lelaki itu justru semakin mengeratkan ikatan tangannya.

“Lepaskan saja dia yeobbo, sepertinya dia tidak pernah diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuanya” Wanita itu menyeringai, kemudian kekasihnya pun melepaskan ikatan tangannya dari Suji.

“Kau benar, mugkin dia lahir dari seorang pelacur” Lelaki itu mengatakan lelucon yang membuat kekasihnya tertawa, namun tidak bagi Suji.

Jangan pernah sekalipun berkata seperti itu tentang ibuku, kalian tidak mengenalnya, dan kalianlah yang seharusnya belajar akan sopan santun, itulah ucapan yang ingin namun tidak berhasil Suji luntarkan kepada mereka berdua, sekeras apapun dia ingin membalas perkataan kasar mereka, ada suatu hal dalam diri Suji yang tidak membiarkannya melakukan hal tersebut.

“Itu terlalu kasar yeobbo, yang benar itu bahwa dirinya dilahirkan dari seorang perempuan jalang” Wanita itu kembali menyeringai, kemudian dia bersama dengan kekasihnya tertawa terbahak-bahak, nada suara yang mereka keluarkan benar-benar terdengar jahat.

Sesuatu dalam diri Suji retak, namun dia mencoba untuk tetap tenang.

“Lalu bagaimana dengan ayahnya yeobbo?” Pria itu bertanya kepada kekasihnya sambil tertawa mengejek, “Mungkin ayahnya bahkan tidak ingin mengakuinya sebagai seorang anak.”

Hentikan.

“Dan dia tidak lebih dari seorang pecundang” Wanita itu menunjuk Suji, kemudian mereka berdua kembali tertawa dengan gila sambil memeluk satu sama lain.

Mreka terus mengejek, mencemooh, dan menjatuhkan Suji dengan kata-kata kasar mereka.

Dan belum sempat Suji membalas perkataan kasar yang diluntarkan oleh pasangan kekasih gila dihadapannya saat ini, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik lengannya, membalik tubuhnya, dan membawanya kedalam sebuah pelukan.

Perlahan Suji mengangkat wajahnya keatas untuk melihat siapa yang baru saja menariknya, namun langkahnya terhenti, ketika tangan itu menutup telinganya. Tangan besar milik Kai yang kini membuat hatinya berirama dengan cara yang tidak dapat terdefinisikan hanya dengan kata-kata. Tangan besar Kai yang kini memastikannya agar tidak mendengar perkataan kasar mereka lagi. Tangan besar Kai yang kini memastikannya agar tidak terluka.

“Hey,” Kai berbisik ditelinganya, kemudian Suji mengangkat wajahnya, “Jangan dengarkan mereka, arraseo?” Pandangan mata Kai seolah meyakininya untuk percaya, bahwa segala sesuatunya pasti akan baik-baik saja.

Suji hanya bisa mengangguk pelan, kemudian dia menenggelamkan wajahnya ditubuh Kai. Wangi tubuh Kai membuatnya merasa begitu aman, dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, tidak dengan siapapun. Dia merasa, jika saja dirinya terus berada dalam pelukan tubuh Kai yang begitu erat dan hangat ini, dirinya dapat mengatasi masalah apapun.

Kemudian jantungnya kembali bereaksi aneh, jantungnya kembali berdenyut tidak karuan. Ratusan, bahkan ribuan dugaan mengerumuni pikirannya, namun dia tidak dapat berpegangan terhadap salah satu diantara mereka dengan baik.

Suji menatap Kai yang tengah bergumam dihadapan pasangan kekasih itu, namun dia sama sekali tidak bisa mendengarnya. Karena telinga kirinya menempel dengan dada Kai yang bidang, sedangkan salah satu tangan Kai menutup telinga kanannya. Suji dapat melihat bahwa kini pasangan kekasih itu berubah menjadi begitu ketakutan, walaupun dia tidak bisa mendengar apa yang sebenarnya di ucapkan oleh Kai, namun pandangan mata Kai yang tajam dan dingin telah menjelaskan semuanya.

Dan setelah itu, Kai membawa Suji keluar dari lobi, menuju tempat parkir, kemudian Kai melepaskan pelukannya. Dan dalam sekejap, perasaan aman itu telah hilang.

“Mau kemana kita?” Suji memberikan Kai tatapan penuh tanda tanya.

“Tentu saja pulang” Jawab Kai datar.

“Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Aku bahkan belum sempat berpamitan” Ujar Suji.

“Nanti aku akan menghubungi Suho, masuklah dan jangan cerewet” Bentak Kai sebelum hendak masuk kedalam mobilnya.

“Kai” Suji memanggil, dia menatap Kai yang kini mengerutkan dahinya.

“Apa lagi?” Tanya Kai kesal.

Sekeras apapun pikiran Suji memaksanya untuk tidak bertanya apapun, juga sekeras apapun hatinya selalu dapat mengontrol jalan pikirannya, “Mengapa kau menolongku?”

“Karena,” Kai menjawab dengan datar, “Aku hanya muak melihat seorang gadis yang tidak bisa berdiri membela dirinya sendiri, ketika orang-orang dungu itu menjatuhkannya.” Setelah itu Kai masuk kedalam mobilnya.

Suji disisi lain, merasakan nafasnya yang seolah tersendat ditenggorokan ketika mendengar ucapan Kai.

Kau memang benar Kai, aku memang tidak pernah memiliki keberanian untuk dapat membela diriku sendiri. Seperti yang selalu terjadi sebelumnya, Suji bergumam didalam hatinya.

TBC

113 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 2)

  1. Sekeras kerasnya batu kalo di kasi air terus juga pasti ke kikis kan. Gitu juga kaya kai. Sekerasnya dia ttp bisa luluh suatu saat nti. Ini aja udah keliatan kok 🙂 suji neo daebakkkkk!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s