If You Love Me More (Sequel of Love Sick)

Author : @bellasallsa

Title : If You Love Me More (Song Fiction) Sequel of Love Sick

Genre : Romance, School Life, Angst

Rate : 13

Cast :

– Kris Wu

– Im Na Hyun (OC)

Other Cast :

– Rachel Thorne

– EXO Member

  • Sung Yeon Ah
  • Jung Eun Ji

Sebelum kamu baca ini, mungkin kamu harus baca fanfiction ini dulu. Soalnya ceritanya nyambung.

Love Sick : http://bellssalsa.wordpress.com/2012/12/15/love-sick/

Inspired By : If You Love Me More – Kim Ryeowook (Spy Myungwon OST)

Recommended songs :

– If You Love Me More – Kim Ryeowook (Spy Myungwon OST)

– It’s Me – Sunny (Girls’ Generation) and Luna (f(x)) (To The Beautiful OST)

– At Least I Still have You (Zhi Shao Hai You Ni) – Super Junior-M

Wherever I am, I think of you
Whatever I do, I think of you

Kris menghempaskan tubuhnya ke kasur. Semakin lama, semuanya semakin memuakkan. Yang lebih-lebih dari semua itu, sudah beberapa hari ini Na Hyun menjauhinya. Entah karena apa, dia pun masih mencari itu.

“Kau sudah pulang?” Rachel duduk di sebelahnya. Kris bangun dan melirik wanita itu.

“Bisakah kau mengetuk pintu sebelum kau masuk ke kamarku? Kamar pria?” Rachel meliriknya, lalu menyengir.

“Maaf.” Katanya. Lalu menatap Kris yang memilih kembali berbaring. “bagaimana keadaannya?”

Kris meliriknya, lalu memejamkan matanya kembali. “Siapa yang kau maksud?”

“Wanita yang pernah bertemu denganku tempo hari. Siapa namanya? Biar kuingat.. ah, Im Na Hyun.”

Mendengar nama itu disebut, Kris langsung bangun dari tidurnya dan membuka matanya. “Kenapa dengannya?”

Rachel menatapnya kesal. “Kau tidak mendengarkanku, ya? Aku bertanya padamu, bagaimana keadaan.. Im Na Hyun?”

Kris terdiam, lalu mengangkat bahu. “Baik, mungkin?”

“Bukankah kau pacarnya? Mengapa kau tidak tahu keadaannya?”

Kris membuka matanya lebar-lebar, lalu menatap Rachel tajam. “Sejak kapan kau berhipotesis seperti itu?”

Rachel hanya menoleh sekilas kepada Kris. “Memangnya kenapa? Bukankah itu benar? Ah, apa aku salah, ya?”

Kris menutup matanya kembali, lalu bergumam. “Bukankah sudah kubilang di awal, dia sahabatku.”

Kening Rachel menyatu. Bibirnya mengerucut. “Benarkah?” katanya. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia masih tidak bisa menerima kenyataan itu. “Kupikir kau hanya menutupi agar aku tidak meledekimu.”

“Kalau dia pacarku, mengapa kau dengan seenaknya mengatakan bahwa kau pacarku?” Katanya mengingatkan kejahilan Rachel yang membuatnya tersenyum kecil waktu itu saat Na Hyun menatapnya waktu itu, meminta penjelasan.

Kini Rachel menyengir meringis. “Aku hanya becanda. Makanya saat melihat dia bubur-buru pulang, aku ingin minta maaf padanya. Kupikir dia salah paham.”

“Jika kau bertanya tentang itu, berhentilah dan keluarlah dari ruangan ini. Aku perlu istirahat.” Kata Kris tanpa membuka kelopak matanya.

Rachel menatap tajam teman lamanya itu. Ya, teman lama. Teman sedari kecil disebut teman lama, bukan? “Aku tidak tahu dia pacarmu atau tidak. Tapi aku tahu kalau kau menganggapnya lebih.” Katanya lalu keluar dari kamar pria itu.

Setelah dipastikan Rachel telah menutup pintu kamarnya, Kris terbangun. Ia terdiam sejenak, lalu mengacak-acak rambutnya kasar. Tujuannya untuk tidur tadi adalah melupakannya. Tetapi kenapa Rachel malah mendatanginya untuk menanyakannya?

Kira-kira, sudah lebih dari 2 minggu ia merasa dijauhi oleh wanita itu. Im Na Hyun. Entah karena apa, semenjak Na Hyun datang ke rumahnya dan bertemu pertama kali dengan Rachel juga saat Kris menjelaskan tentang Rachel, Na Hyun malah marah-marah dan memilih menjauhinya. Sampai sekarang.

Mengingat itu, ia kembali menjambak rambut keemasannya itu dengan kasar. Kenapa? Kenapa Na Hyun menjauhinya? Apa salahnya?

Kris mendesah berat. Dengan begini, intensitas ia bertemu Na Hyun semakin berkurang. Saat istirahat siang, Na Hyun selalu sudah menghilang dari penglihatannya. Saat berpapasan, ia malah lebih memilih untuk mengalihkan pandangan atau membuang muka. Mereka seperti tidak pernah mengenal satu sama lain. Dan Kris belum memiliki waktu untuk menanyakan penjelasan sikap Na Hyun itu.

Next day.

Kris berjalan di koridor sekolah. Banyak anak-anak yang berlalu lalang di koridor. Ah, mengingat hal ini, ia jadi ingat saat pertama kalinya bertemu dengan Na Hyun.

Kris dengan langkah pastinya berjalan ke taman, mencari kesunyian. Walaupun sudah dua kali diajak oleh Chanyeol dan Baekhyun untuk ke kantin, ia tetap saja menolak. Menolak untuk mengganggu makan siang romantis mereka. Ya, mereka itu lengket sekali. Walaupun sering bertengkar, mereka tetap saja perhatian satu sama lain—

BUK!

Kris terjatuh. iPodnya juga terlempar dari sakunya. Ia meringis kecil, bokongnya terasa sakit karena pendaratan yang tak mulus.

“Oh.. Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak tahu kalau ada kau tadi karena penglihatanku agak tertutup dengan buku-buku ini.” Kris mengadah, menemukan seorang gadis sudah berdiri di depannya dan tengah membungkuk dalam. Jujur, ia tidak teralu mengerti apa ayng gadis itu ucapkan. Yang ia mengerti hanya kata “Mianhaeyo” dan “Jeongmal mianhaeyo.” Selain itu ia tidak mendengarkan karena gadis itu mengatakannya dengan accent seperti orang korea kebanyakan, dan Kris belum bisa menerima accent itu.  

“G-gwenchana..yo. ” Kata kris terbata-bata. Memang, karena sudah lebih dari 3 tahun ia berada di Canada, ia melupakan sedikit bahasa korea. Hanya sedikit, perlu di pertegas.

Gadis itu menatap Kris. Kris terdiam sejenak, gadis itu pun begitu. Lalu saat Kris sadar, ia segera bangun dan membantu gadis itu memungut buku-bukunya.

Gadis itu terdiam. Lalu kaget dan segera berbaur ikut mengambil buku-bukunya yang berserakan. “Tidak usah. Biar aku saja. Maaf karena aku sudah menabrakmu.” Katanya.

Tangan Kris berhenti memungut buku gadis itu, lalu menatap matanya. Mata yang jernih, polos. “Sorry, I don’t know what are you talking about. Can you speak slowly?

Gadis itu mengernyit kecil, lalu tersenyum. Begitu hangat menurutnya, “Kau.. tidak.. perlu.. membantuku. Maaf karena aku sudah menabrakmu.”

Kris yang awalnya mengenyit, lama-lama senyumnya yang menggantikannya. “G-gwenchana. Aku yang ingin menolongmu.”

Gadis itu tersenyum. “Kau murid pindahan?” Tanyanya pelan. Kris mengangguk.

Jantungnya.. ada apa dengan jantungnya? Mengapa berdegup kencang seperti ini saat melihat senyumannya?

Ini kesekian kalinya Kris mendesah berat. Ia tak menemukan Na Hyun di tempat biasa mereka berteduh saat istirahat makan siang. Dengan ditemani iPod yang setia menemaninya, ia menunggu Na Hyun sambil membaca buku. Yang ia pastikan—seperti hari lainnya, Na Hyun tidak akan dating kepadanya seperti biasanya.

Kris melirik jam besar yang berada di dinding universitas itu. Sudah pukul 2 siang, ia tidak ada jadwal lagi. Mau pulang? Ah, tidak tidak. Pasti Rachel mencegatnya dan menanyakan tentang Na Hyun lagi. Sudah sejak 2 hari kemarin Rachel terus-menerus menanyakan hal tentangnya. Apapun.

Ikut bersama Zi Tao dan Yi Xing untuk latihan wushu? Ah, tidak-tidak. Bisa-bisa ia menjadi obat nyamuk jika berada disana. Bersama Lu Han dan Se Hun untuk ke café dan membeli bubble tea? Kris menggeleng cepat. Ia sedang tidak mood untuk meminum minuman manis itu. Jong Dae dan  Min Seok berada di perpustakaan? Walaupun ia tak akan terlalu dipedulikan, ia bisa membaca buku disana. Jadi, lebih baik berada disana.

Kris melepas iPodnya lalu merapihkan tasnya dan pergi.

Mata Kris menerawang. Sekedar untuk mencari keberadaan Min Seok dan Jong Dae. Lalu ia tersenyum kecil menemukan Min Seok sedang menunjuk sebuah halaman buku kepada seorang wanita. Ah, pacarnya mungkin? Lalu, dimana Jong Dae.

“Hei.”

Kris menoleh, menemukan orang yang dicarinya kini tengah tersenyum lebar sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Sedang apa kau disini?”

“Memangnya aku tak boleh kesini?” Tanya Kris dengan wajah pura-pura tersinggung. Jong Dae tertawa, lalu ia tersenyum. “Tumben Min Seok tidak bersamamu. Biasanya kalian selalu bersama. Kau tahu, layaknya amplop dan perangkonya.” Kris terkekeh mendengar perkataannya sendiri.

Jong Dae tertawa kecil. “Ah, kau terlalu melebih-lebihkan. Yang harusnya dikatakan seperti itu adalah kau dengan Na Hyun.” Katanya. “Oh ya, kudengar sudah sekitar 2 minggu ini kalian seperti berjaga jarak. Ada apa?”

Mendengar nama itu disebut, raut wajah Kris berubah mengeras. Lalu ia tersenyum tipis. “Tidak. Kami tidak seperti itu. Darimana kau mendengarnya?”

Jong Dae tertawa kecil. “Aku mendengarnya dari wanita-wanita yang sedang berada disini.”

“Tak kusangka kau ternyata suka menguping juga.” Kata Kris menyindir Jong Dae. Atau lebih tepatnya menggodanya.

Mata Jong Dae membulat, lalu menggeleng cepat. “Tidak. Mereka yang mengatakannya terlalu keras sampai aku mendengar. Hei, jangan mengatakan aku seperti itu. Aku bukan seorang penguping.”

Melihat Jong Dae seperti ketakutan Kris menganggapnya seperti itu, Kris malah tertawa kecil. “Aku bercanda.” Katanya lalu menoleh kepada Min Seok yang sedang tersenyum senang menatap wanita yang berada di hadapannya. “Kau tahu siapa wanita itu? Wanita yang sedang bersama Min Seok-ah.”

Mata Jong Dae mengikuti arah pandangan Kris, lalu tersenyum. “Oh, dia. Ya, aku tahu. Dia adalah Sakurada Yumi. Dia sekelas denganku dan Min Seok, dia murid pindahan dari Jepang katanya.” Katanya. “Dan sekarang ini Min Seok di tugaskan oleh Han-saem untuk membantu Yumi dalam beradaptasi. Ya, begitulah.”

Kris mengangguk kecil. Jong Dae mengalihkan mata menatapnya. “Oh ya. Maaf. Pasti kau terganggu karena aku mengajakmu mengobrol, ya? Pasti dia sudah menunggumu lama. Nah sekarang, pergilah.”

Kris mengalihkan pandangan lalu menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”

“Kau kesini untuk menjemput Na Hyun, kan?” Tanya Jong Dae polos.

Astaga, kenapa semua orang sekarang senang berhipotesis? Tunggu, jika Jong Dae mengatakan seperti itu, berarti disini ada Na Hyun?

“Na Hyun ada disini?” Tanya Kris pelan.

Jong Dae mengangguk. “Tadi sih kulihat dia sedang berada di rak novel.”

Jadi selama ini, ia bersembunyi disini? Kris mulai merasakan kepalanya mulai berkedut. “Sejak kapan ia sering kesini?”

“Yah, sekitar seminggu yang lalu.”

Rasa pening di kepalanya semakin bertambah. Ia memijit pelan pelipisnya. “Tolong jangan katakan jika aku tahu dia sering berada disini.”

Jong Dae mengangguk kecil lalu menatapnya khawatir. “Kau baik-baik saja?”

Kris tersenyum kecil. “Ya.” Katanya. “Boleh tolong antarkan aku sampai aku menemukan taksi?”

Your scent blows over to me

Mata Kris menerawang. Ia menghela nafas. Ia melihatnya. Wanita itu sedang membaca buku di lantai, ia duduk disana. Saking seriusnya ia membaca buku itu, ia tak menyadari bahwa Kris sudah berada di dekatnya. Hadapannya. Kris menatapnya sendu. Sudah berapa lamakah ia tidak melihat secara dekat wanita itu?

Seperti sadar sedang diperhatikan, ia mendongak. Raut wajahnya berubah. Kris tersenyum tipis padanya.

Whenever I thoughtlessly walk and meet you
My mouth hardens

Kris menghela nafas. Tenggorokannya mulai terasa tercekat menatap  wajah polos gadis itu. Lingkaran bawah mata wanita itu agak menghitam, ada apa dengannya? Apakah ia mengerjakan tugas sampai malam?

“Hei.”

Na Hyun menatapnya. Mengerjapkan matanya, lalu tersenyum kaku. “Hei.”

Sepertinya, baru saja beberapa hari yang lalu Na Hyun merangkulnya, ia bisa mencium dengan jelas aroma tubuh wanita itu. Aroma tubuh yang membuatnya kecanduan dengan itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Kris tanpa berhenti menatapnya. Wajah yang selalu ia rindukan. Miss her so bad.

Na Hyun tersenyum tipis lalu mengacungkan buku yang berada ditangannya. “Seperti yang bisa kau lihat.”

Kris menatap sekilas buku yang Na Hyun genggam, lalu kembali menatap Na Hyun dengan tatapan menyelidik. “Mengapa kau tidak pernah menemuiku? Mengapa kau menghindariku?”

Mata gadis itu membulat. “Si-siapa yang menghindarimu.” Katanya lalu menutup akses tatapannya dengan Kris dengan buku genggamannya. “Aku hanya sedang senang membaca buku, dan aku—”

“Bohong.” Potong Kris. Na Hyun tetap dalam posisinya. Karena kesal yang sudah berada di puncak, Kris dengan sigap menarik buku yang menutupi wajah Na Hyun dan menutupnya kasar.

“Kris!” kata Na Hyun tertahan. Ini perpustakaan, jadi ia tidak bisa seenaknya berteriak.

Kris tidak memperdulikan teriakan tertahan Na Hyun. Ia menaruh buku itu sembarang dan menarik kasar pergelangan tangan Na Hyun.

“Kris! Ya! Kris!” Kata Na Hyun setelah keluar dari perpustakaan. Ia meronta-ronta meminta Kris melepaskan tangannya. Namun Kris malah mengeratkan genggamannya.

“Jika kau semakin meronta seperti itu, aku akan semakin mengeratkan genggamanku.” Kata Kris dingin membuat Na Hyun terdiam.

Kris tak peduli orang-orang menatapnya aneh saat ia menarik Na Hyun dan Na Hyun hanya tertunduk. Ia sama sekali tak peduli dengan itu.

Kris melepaskan genggamannya dengan kasar setelah mereka sampai di taman  tepatnya di bawah pohon. Tempat biasanya Kris duduk disana dan Na Hyun mengganggunya. Ah, Kris menghela nafas. Semakin lama ia seperti ini, ia akan mulai gila.

Kris mengacak-acak rambutnya kasar, lalu menatap Na Hyun frustasi. Tatapannya tiba-tiba mulai melembut menatap Na Hyun yang tengah menunduk sambil menggenggan lemah tangannya yang tadi ditarik Kris. Terlihat mulai memerah.

“Appo..” Gumamnya dengan suara berat. Seperti menahan suara tangisnya. Dan Kris pasti tahu sekali saat-saat seperti ini.

“Na Hyun-ah. Mianhaeyo. Aku tidak bermaksud—” Pada saat Kris ingin mendekatinya dan menyentuhnya, Na Hyun merentangkan tangan kirinya yang tidak terlihat bekas merah. Karena memang yang ditarik Kris tadi adalah tangan kanannya.

“Jangan bergerak. Kumohon, tetap disana.” Kata Na Hyun dengan suara beratnya, menahan suara tangisnya.

Astaga, Kris.. kau gila! Kau menyakitinya. Batin Kris menatapnya.

Na Hyun menghapus airmatanya, lalu mendongak menatap Kris. Matanya masih terlihat berkaca-kaca, ingin mengeluarkan cairan laknat itu.

“Kau membawa paksa aku kesini, ada apa?” Tanya Na Hyun dengan tatapan menantang. Tetapi tetap saja tertutupi oleh airmatanya yang kini mulai turun.

“Na Hyun, aku..” Kris menatapnya. Apakah ia harus mengatakannya sekarang?

“Jika tidak ada hal penting yang ingin kau katakan, aku pergi.” Katanya lalu membalikkan badan. Baru beberapa langkah, Na Hyun memberhentikan langkahnya.

“Wu, jangan pernah menarikku paksa dengan seperti itu lagi.” Katanya—tanpa menoleh sedikitpun kepada Kris—lalu berjalan menjauhi taman. Menjauhi Kris. Bahkan Na Hyun menanggilnya dengan marganya, bukan namanya.

Seperti tak memiliki tulang lagi, tubuh Kris perlahan turun. Hingga akhirnya duduk, ia menunduk dalam. Dan menjambak rambutnya keras. Tak peduli rambutnya akan rontok banyak nantinya. Rencananya hancur sudah. Dan ia harus menggulung kembali rencananya ke awal.

Dan juga hatinya.

No one knows these words
Day by day by day I can’t say these words

I love you I love you
More than anyone I know
The person I’m always missing
That person is you
But these sad whispers can only be heard by you
If I love you and love you more

Siang hari ini tidak terlalu terik. Musim semi yang menyenangkan. Namun mengapa mood Kris berkata sebaliknya? Kris menghela nafas. Hari ini sudah terhitung 3 hari setelah kejadian ia menarik tangan Na Hyun, membuat pergelangan tangannya memerah, membuatnya menangis..

Astaga, bisakah memori itu dihapus?

Kris menutupi wajahnya dengan buku dan lagu itu masih mengalun dalam earphonenya. Ya, hanya lagu itu yang terus berulang-ulang. Semenjak itu, Na Hyun terlihat semakin membencinya. Dan itulah yang membuatnya semakin membenci dirinya sendiri.

Ternyata berkata jujur itu susah, ya? Dan saat telah dinyatakan, itu akan terasa sakit jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan Kris sedang memilih untuk memendam segala perasaannya. Sekarang, ia lebih memilih untuk diam.

Walaupun matanya tertutup, otak Kris tetap berjalan memikirkan memori itu. Senyumnya, tawanya, lembutnya saat ia menyentuh tangannya. Degupan yang ia rasakan saat Na Hyun berada di sampingnya. Astaga, semua itu begitu berat untuknya di lupakan.

With each passing look
With each passing touch
My slow heart jumps to a start
When you do not look at me
When you don’t talk to me
My heart becomes heavy

                                                                    —

Kris baru ingin menutup matanya ketika kamarnya diketuk. Ia mengerang, menutupi tubuhnya dengan selimut lalu mengatakan dengan keras.

“Masuk.”

Kris merasakan orang yang masuk ke dalam kamarnya kini duduk di kasurnya. “Ya, Kris. Aku baru saja ingin menanyakan sesuatu padamu.” Ah, mahluk ini lagi. Gerutu Kris.

Kris menyibak selimutnya sedikit, lalu menatapnya malas. “Apa?” Katanya.

“Bisakah kau sopan sedikit terhadap wanita?” Kata Rachel sambil mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya ingin menanyakan, mengapa akhir-akhir ini kau tampak aneh?”

Kris menutup selimutnya malas. “Pertanyaan apa itu?” gumamnya.

Rachel membuka paksa selimut Kris. “Hei! Jawab saja pertanyaanku. Apa itu semua karena Na Hyun?”

Kelopak mata Kris membuka sempurna dan membulat. Ia segera menatap Rachel yang awalnya tampak terkejut, lalu tersenyum. “Benar, rupanya.”

Kris menghela nafas lalu berdiri. Tangan kanannya menjadi tumpuan kepalanya yang mulai berdenyut mendengar nama itu. “Entahlah. Ia mulai menjauhiku.”

“Pasti ada alasan kuat ia menghindarimu.” Gumam Rachel.

“Ya.” Katanya sambil tersenyum singkat. “Aku memaksanya mendengarkanku. Aku melukainya.”

Mata Rachel membulat sempurna. “A-apa? Benarkah? Kapan itu terjadi?”

Kris tersenyum singkat. “Tiga hari yang lalu.”

Raut wajah Rachel mulai berbeda. Ia menggeleng. “Bukankah katamu sebelumnya ia menjauhimu? Berarti bukan itulah masalah utamanya. Masalah itu hanya dijadikan pelampiasan.”

Setelah Rachel keluar dari kamarnya, Kris terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil.

“Pelampiasan? Jadi apa masalah utamanya? Apa yang membuat ia benci padaku? Apa?” Katanya frustasi, lalu tertawa lagi. “Kini ia mulai membenciku, bukan?” katanya diikuti airmata yang kini menuruni wajahnya.

But still I laugh
And then and then tears come

The day when you come to know my heart
Then I wonder if you will say you love me too

Mata pelajaran untuk Na Hyun sudah selesai hari ini. Yeon Ah sudah pulang duluan. Jadi, kemungkinan besar sekali ia akan pulang sendiri.

“Na Hyun-ah!” Na Hyun menoleh, menemukan Eun Ji, teman sekelasnya.

Dia menghela nafas sebentar, lalu tersenyum sambil menyodorkan sebuah benda. “Kupikir ini punya Kris, jadi, tolonglah kembalikan padanya.”

Na Hyun mengernyitkan dahi. “Kenapa harus aku?”

Dia tersenyum. “Karena jika aku yang melakukannya, sebelum aku mengatakan tujuanku pun dia sudah menutup pintunya. Kau masih ingat masa lalu itu, bukan?” katanya sambil tertanya kecil.

Ah, Na Hyun ingat. Kelakuan Eun Ji waktu itu sampai membuat Na Hyun kewalahan dengan tatapan Kris yang mengerikan itu. Tetapi, untunglah, itu hanya terjadi selama satu jam.

“Hyunnie, kau mendengarkanku, tidak?”

Na Hyun mengerjapkan mata. “Apa? Apa yang kaubilang?”

Eun Ji mendesah, lalu tersenyum kecil. Tangannya telah menyodorkan iPod  milik Kris kepada Na Hyun. “Gadis yang paling dekat dengannya hanyalah kau. Malah aku menyangka, kalian telah pacaran. Apa itu benar?”

Mata Na Hyun membulat, lalu menggeleng cepat sambil menggerakkan tangannya di dadanya ke kanan dan ke kiri. “Tidak, tidak. Kami hanya bersahabat. Tidak lebih,”

“Oh, begitu.” Kata Eun Ji sambil menoleh sekilas ke arah lain, lalu tersenyum. “kalau begitu. Ini. Kembalikan padanya.” Tangan Eun Ji terangkat lagi untuk menyodorkan iPod milik Kris.

Na Hyun mendesah. “Apakah tidak ada orang lain yang bisa menggantikanku?”

Eun Ji tampak berpikir, lalu menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Luhan sudah pulang bersama Sehun, mungkin mereka sedang berada di café itu dan meminum bubble tea bersama. Lay sedang berlatih wushu dengan Tao, jadi tidak mungkin aku mengganggu merka, kau tahu pasti alasannya, bukan? sementara Min Seok dan Jong Dae sedang berada di perpustakaan. Dan Suho—”

“Kau terlalu hafal jadwal mereka, Eun Ji-ya. Apakah kau selalu mengintip schedule mereka?” kata Na Hyun lalu tertawa diikuti Eun Ji.

“Rutintas mereka tak bisa jauh dari pandanganku.” Kata Eun Ji, lalu menyodorkan kembali iPod milik Kris. “Aku tahu kau mengulur waktu, Na Hyun-ah. Entah karena alasan apa, aku tak tahu. Tetapi, kau yang harus mengembalikan barang ini.”

Na Hyun menatap Eun Ji. Sepertinya, Eun Ji adalah seorang peramal. Dan seperinya dia telah memiliki pekerjaan saat lulus nanti.

Tetapi, bukan itulah yang Na Hyun pikirkan. Jika Na Hyun mengangguk setuju, maka ia juga harus mengembalikannya. Kepada Kris. Ke rumahnya. Bertemu dengan pacarnya. Mereka bermesraan. Bagaimana Na Hyun bisa tahan dengan itu?

“Sudahlah, berpikirnya nanti saja saat kau mengembalikan iPodnya. Tanganku sudah mulai pegal karena kau terlalu lama berpikir.” Kata Eun Ji sambil menatapnya malas.

Na Hyun menatapnya, lalu mengambil iPod itu. Ya, itu memang punya Kris.  Na Hyun hafal sekali bentuk iPod itu, tetapi sama sekali belum pernah mengutak-atik sedikitpun. Karena di saat dia baru akan melakukannya, Kris buru-buru datang dan mengambil iPodnya. Penasaran sih. Apa saja sih isinya sampai sahabatnya tidak boleh melihat? Bukankah hanya lagu yang berada disana? Kenapa harus ditutupi?

Na Hyun tak mendengarkan saat Eun Ji izin pulang. Daripada mengambalikannya hari ini, lebih baik besok. Dia akan bertemu dengannya di kelas besok. Dan.. akan mengembalikannya… Besok.

“Apakah kau melihatnya, Rachel?” Tanya Kris sambil mengacak-acak kamarnya.  Dan kini kapalnya sudah 11-12 dengan kapal pecah. Tasnya juga sudah ia bongkar, benda itu tetap tidak ada. Dimana-kah?

Rachel berdecak kesal. “Sudah kubilang, aku ingat sekali kau membawanya ke universitasmu itu. Paling-paling, benda itu berada disana.”

Kris berbalik, menatapnya. Lalu menggaruk-garuk kepalanya asal. “Benarkah?” tanyanya. “Berarti aku harus ke sana.” Gumamnya.

“Hey, K.Li. kau tidak tahu waktu, ya? Sekarang sudah pukul 8. gerbangnya pasti sudah ditutup.” Kata Rachel sambil melipat kedua tangannya di dadanya. “Seperti tidak ada hari esok saja.” Gumamnya.

Kris terduduk di kasurnya, lalu menghela nafas panjang. “Bagaimana jika iPod itu hilang?” Katanya cemas. Atau jika.. jika Na Hyun menemukannya? Bagaimana jika Na Hyun membuka aplikasinya?

Rachel menatapnya. “Lalu, memangnya kenapa Na Hyun tidak boleh melihatnya? Ada rahasia apa yang kau simpan disana, K.Li?” Kata Rachel yang seakan tahu pikiran Kris.

Kris menatapnya sekilas, lalu membongkar tasnya kembali. Ia menghela nafas sekian kalinya, tidak menemukan iPodnya. “Mungkin bagimu tidak, tapi itu sangat penting untukku.”

Na Hyun menggosok rambut basahnya diantara handuk kering. Lalu duduk di kasurnya sampil tetap melakukan aktivitas itu. Matanya menerawang kamarnya sendiri, dan menemukan benda asing berada di meja belajarnya. Ya, itu iPod Kris yang Eun Ji temukan dan memintanya mengembalikannya.

Mengingat kejadian Eun Ji yang memintanya mengembalikan barang itu, Na Hyun menjadi bersungut-sungut kesal. Mengapa orang-orang tidak mengerti perasaannya. Ia sedang bertengkar dengan Kris, ingin menjauh dari Kris, malah orang-orang di sekitarnya mendorongnya untuk mendekati Kris kembali.

Kini pandanganya teralih pada pergelangan tangan kanannya. Memang tidak merah seperti 3 hari yang lalu, namun bekas kecilnya masih ada. Apalagi masih membekas dalam ingatannya ini Kris menjadi orang yang aneh saat itu. Perasaan kesal, marah, tapi tatapannya yang melembut juga ada saat itu. Na Hyun menggeleng kepalanya cepat. Kau ini ingin melupakannya, mengapa kini kau malah mengingatnya kembali?

Na Hyun melirik iPod berwarna biru muda itu, lalu dengan langkah pelan ia mendekati meja belajarnya dan tak sadar kini ia tengah menggenggam iPod itu. Disini tidak ada Kris yang akan memarahinya jika ia memegang barang itu. apa sih isinya sampai Kris tidak mengijinkannya untuk mengintip isinya sedikitpun?

Na Hyun mengambil headsetnya dan memasukkannya ke lubang iPod itu. dan menekan tombol play. Ia tertegun sejenak. Ini..

Saranghae saranghae saranghae
cheon beoneul marhaedo mojara
keuriwo keuriwo keuriun
sunkanmada deo keuriwo

I love you, I love you, I love you
Even if I say it a thousand times, it’s not enough
I miss you, I miss you – each moment that I miss you, I miss you more
I call you and call you and call you and your face keeps floating up
If I hope and hope and hope, will you know how I feel someday?

Ya, benar. Ini adalah Voice Notenya waktu itu. Na Hyun pernah mengajaknya untuk bermain sesuatu dalam pesan, dan Na Hyun memintanya untuk mengiriminya Voice Note suaranya sendiri. Dan Kris pun meminta hal yang sama.

ojing neobakke moreuneun geureon naya
neomaneul saranghae jul saram baro naya
neol mannan sesanginaegen
gijeok gateun ilira keureon geoya

ojing neomaneul wonhaneun geureon naya
neomaneul jikyeo jul saramdo baro naya
nigyeote neoman paraboneun
keuge naya miryeonhan naya

It’s me who only knows you – the person who will only love you is me
It’s because meeting you was like a miracle to me
It’s me who only wants you – the person who will only protect you is me
It’s me who is only looking at you by your side, a fool

ojing negeman deullyeo jul sarangyaegi
han sarammaneul saranghaetdan geureon yaegi
honjaman ganjikhae amudo moreuneun
sarangi baro naya

This love story is only for you to hear
A story about how I loved only one person
Keep it for yourself – this love that no one knows about, it’s me

Na Hyun sudah tidak mendengar jelas suaranya lagi. Cairan di matanya menusuk-nusuk untuk keluar, dan akhirnya mereka keluar dengan mulus. Ini adalah lagu yang memang sengaja ia nyanyikan untuk Kris.

Jantung Na Hyun berdegup kencang saat mendengar intro awal lagu itu. Deheman lembut yang Kris buat.

wo pa lai bu ji wo yao bao zhe ni
zhi dao gan jue ni de zhou wen
you le sui yue de hen ji

I’m afraid that time is running out
I want to hold you
Until I can feel your wrinkles, the traces of aging

zhi dao ken ding ni shi zhen de
zhi dao shi qu li qi
wei le ni wo yuan yi

Until I’m sure that you’re real
Until all the energy is lost.
For you, I’m willing

dong ye bu le dong ye yao kan zhe ni
zhi dao gan jue ni de fa xian
you le bai xue de hen ji

Even if I can’t move anymore, I still want to see you
Until I can see that your hair has traces of whiteness

Na Hyun tertawa kecil mendengar suara berat Kris menyanyi. Idenya untuk mendapatkan suaranya saat bernyanyi memang buruk. Tetapi Na Hyun senang, ia memiliki suara Kris, yang disaat kapan pun ia bisa mendengarnya.

            zhi dao shi xian bian de mo hu
zhi dao bu neng hu xi
rang wo men xing ying bu li

Until my sight has become blurry
Until I can no longer breathe
Let’s never be apart

ru guo quan shi jie wo ye ke yi fang qi
zhi shao hai you ni zhi de wo qu zhen xi
er ni zai zhe li
jiu shi sheng ming de qi ji

ye xu quan shi jie wo ye ke yi wang ji
jiu shi bu yuan yi shi qu ni de xiao xi
ni zhang xin de zhi
wo zong ji de zai nali

Even if
I have to give up the whole world
At least there’s still you, who is worth treasuring
And the fact that you’re here, is a miracle in my life
I could forget the whole world,
As long as I don’t ever lose you
I will always know where the mole on your hand is

Na Hyun menahan nafasnya. Airmatanya jatuh begitu saja dari matanya yang sudah mulai berkaca-kaca kembali. Ia tahu arti lagu itu. Ia sangat menyukai lagu itu. ia pernah berharap Kris menyanyikan lagu itu untuknya. Dan Voice Note itu memang untuknya, tapi bukan untuk lagunya, Na Hyun rasa.

Tapi, bolehkah malam ini saja ia menganggap lagu itu untuknya? Bolehkah ia berharap banyak untuk malam ini?

wo pa shi jian tai man
ri ye dan xin shi qu ni
hen bu de yi ye zhi jian bai tou
yong bu fen li

I’m afraid time is passing by too slowly
I’m worried day and night about losing you

Na Hyun menghapus airmatanya. Lalu menghapus airmatanya kembali. Lagu ini memang begitu sedih. Tentang perjanjian kesetiaannya pada pasangannya.

Zai nali

Zai nali

Where it is

Where it is

Na Hyun menghela nafasnya. Ia menghapus airmatanya. Tangannya berhenti tergerak saat suara berat itu kembali bersuara. Di Voice Note yang Kris beri padanya tidak ada bagian ini. Kenapa disini ada? Atau mungkin waktu itu downloadnya tidak berhasil? Ah, tidak mungkin. Ia yakin 100% downloadnya itu selesai.

Hǎi, nà xuàn. A, wèishéme wǒ shì zhèyàng de guàiyì. Shì de, zhèngrú nǐ de yāoqiú, wǒ zuò wǒ de yǔyīn jìshì. Nǐ huì hěn gāoxìng nǐ yǒu ma? Wǒ gǎn kěndìng, nǐ bùshì hěn liǎojiě zhè zhǒng yǔyán, dànshì, nǐ zhīdào, dāng wǒ shuō wǒ ài nǐ ma? I love you? Saranghaeyo? Aishiteru? J T’aime? Wǒ juéde wǒ kuàiyào fēngle. Hǎole, jiù xiàng wǒ shuō.. Wǒ ài nǐ, shènzhì gèng duō

Na Hyun tidak mahu tahu, ia harus menemui orang yang bisa menerjemahkan bahasa ini, dan Kris tidak termasuk dalam daftar.

Na Hyun menatap Yeon Ah takut, memintanya untuk kembali. Eun Ji yang berada di samping mereka hanya tersenyum lebar. Pandangannya terfokus pada 2 mahluk dihadapannya.

“Yeon Ah, apakah kau sadar kelau mereka juga adalah teman baik Kris?” kata Na Hyun menatap Yeon Ah cemas.

Yeon Ah mengernyitkan alisnya. “Itu hanya Voice Note, bukan?”

“Tapi bagaimana jika mereka menyadari kalau suara itu adalah suara Kris?”

“Kau terlalu pesimis, Na Hyun-ah.” Kata Yeon Ah menatap lekat sahabatnya itu. “Jika Luhan berniat membantu, dia akan membantu, bukan? Dan jika tidak, ya sudah. Kita bisa minta bantuan Zi Tao atau Yi Xing?”

“Bagaimana jika dia menanyai siapa pemilik suara ini?” Tanya Na Hyun cemas sambil melirik Luhan ayng tengah tertawa lebar melihat Sehun. Entahlah apa ayng mereka tertawakan, Na Hyun tidak memperhatikan jelas mereka tadi.

“Na Hyun-ah, kau ini ingin menemui mereka atau tidak? Mereka sudah mau keluar.” Kata Eun Ji dengan matanya yang masih focus kepada 2 namja itu.

Yeon Ah menatap Na Hyun. “Ayo.” Katanya sambil mendorong pelan Na Hyun.

Luhan dan Sehun yang sedang berjalan keluar lapangan terkejut karena tiba-tiba ada seorang yeoja tiba-tiba berada dihadapannya.

“Eh, Na Hyun-ah, ada apa kau disini?” Kata Sehun yang mengenali gadis ini. Gadis itu mendongak, lalu tersenyum kecil. Ah, benar. Dia yang selalu bersama Kris itu.

“Ah, Sehun-ah. Aku..” katanya menatap Sehun lalu mengalihkannya kepada Luhan. Luhan yang ditatap gadis itu tampak kaget. Ada masalah apa ia denganku..? pikir Luhan.

“Luhan-sshi.” Panggilnya. Luhan menatapnya. “Bisakah kau mengartikan bahasa ini?” katanya sambil menyodorkan handphonenya yang otomatis sudah berada di bagian Voice Note yang ia ingin tahu artinya itu.

Luhan menatap gadis itu, tampak terkejut. Lalu seperdetik kemudian ia tersenyum. “Baiklah.” Katanya sambil mengambil handphone Na Hyun.

“Hai, Na Hyun. Ah, mengapa menjadi aneh seperti ini.” Kata Luhan dalam bahasa Korea. Na Hyun menatapnya penuh harap, dan Sehun menatap Luhan penasaran. “Seperti yang kau katakan, aku melakukan memo suara saya. Apakah kau senang disana memilikinya?” kata Luhan lagi.

“Aku yakin kau tidak mengerti bahasa ini, tetapi jika aku mengatakan aku mencintaimu?” Kata Luhan lalu terhenti sejenak, ia tidak mengerti bahasa ini. Lalu melanjutkan. “Kurasa aku mulai gila sekarang. Yah, seperti yang saya katakan, Aku mencintaimu bahkan lebih.”

Ucapan Luhan terhenti. Ia menatap Na Hyun yang sudah mulai berkaca-kaca. “Ah, maaf, Na Hyun-sshi. Saat aku tadi diam sejenak, aku tidak mengerti apa yang dia katakan karena sepertinya itu bukan bahasa mandarin.” Katanya.

Luhan mengembalikan handphonenya. Na Hyun mengambilnya lalu dengan cepat menghapus airmatanya. “Tidak apa apa, Luhan-sshi. Ah, Mianhae aku menangis di depan kalian.”

Sehun mengelus rambut Na Hyun pelan. “Gwenchanayo.”

“Maaf aku harus pergi.” Katanya lalu beralih pada Luhan dan membungkuk dalam. “Xie xie, Luhan-sshi.”

Luhan membungkuk kecil, lalu sudah melihat Na Hyun berjalan menjauhi mereka.

“Hyung, apakah kau sadar suara itu adalah suara yang kita kenal?” kata Sehun yang tatapannya masih tertuju pada Na Hyun yang kini dalam pelukan Yeon Ah. Eun Ji juga mengelus pelan punggung Na Hyun.

Luhan yang tatapannya juga tertuju pada Na Hyun menatapnya khawatir. “Ya, aku tahu.”

Kini Sehun menatapnya kaget. “Kau sadar?”

Luhan melirik sejenak Na Hyun, lalu menatap Sehun kesal, agak tersinggung. “Mana mungkin aku melupakan teman suara seperjuanganku dari China?” katanya lalu Sehun terkekeh.

I will wait just a little more until you will come to me
The person that is always lonely
That person is me

Kris membolak-balikkan halaman buku dengan kesal, lalu menutupnya dengan tidak sabar. Ia melepas earphonenya tak sabar, lalu menghela nafas sambil menyandarkan dirinya ke pohon tua yang setia menemaninya. Ya, setia.

Karena iPodnya belum ditemukan, sekarang ini ia memakai handphonenya sendiri untuk mendengarkan lagu. Ah, bukan lagu juga, sih. Tetapi jika kita bernyanyi, pasti menyanyikan sebuah lagu, bukan? Mungkin sebuah data ini bisa disebut sebagai sebuah lagu.

Kris mengutak-atik handphonenya sampai pada most playednya. Yang teratas adalah lagu itu. Selanjutnya adalah lagu kesukaanya yang menurutnya menarik. Ya, semuanya tentangnya. Kris menghela nafas untuk kesekian kalinya. Begitu sulit…

“Kris?”

Kris tersentak dan menoleh cepat.benar dugaannya, aatu ia hanya sedang berilusi? Jika ia sedang bermimpi, tolong biarkan ia menikmati sebuah daydreamnya. Walau hanya sejenak…

“Kris?” Kedua kalinya gadis itu memanggilnya. Ia mengerjap sejenak, lalu tersenyum kecil ia tidak bermimpi, itu adalah salah satu fakta yang ia dapat saat ini.

“Ada apa?”

Gadis itu menunduk, Na Hyun. Kris tersenyum kecil, miris. Baru beberapa minggu yang lalu gadis itu dating padanya dengan santainya duduk di sebelahnya dan melepas earphone dari telinganya, lalu tertawa lebar, terlihat puas. Kini, mendekatinya pun terlihat enggan.

“Aku…” Ia terdiam sejenak, lalu mengeluarkan tangannya yang sedari tadi ia sembunyikan dar tubuhnya. Benda kecil berwarna biru muda berada di tangannya. Kris tersenyum kecil, benar kan, benda itu berada padanya.

“Sudah kuduga.” Katanya sambil mengambil benda kecil itu dari tangan Na Hyun.

Na Hyun mendongak, mulutnya sedikit terbuka, lalu tertutup kembali. Enggan mengatakannya.

“Ah…” Kris menghela nafas. “kau sudah melihat isinya, bukan?” Katanya sambil mengacungkan tangannya yang berisi iPodnya yang tadi Na Hyun berikan padanya.

Na Hyun tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil. “Maaf. Aku terlalu…”

“Penasaran. Ya aku tahu.” Potong Kris cepat.

Gadis itu kembali menunduk, tak tahu lagi harus mengatakan apa.

“Jadi…” Kris membuka suara. Gadis itu menatapnya. “bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana apanya?” Tanya gadis itu polos.

Kris mendesah, lalu tersenyum kecil. “kau pasti sudah mendengar perkataanku itu, bukan?”

“Tapi itu bahasa mandarin!” Sanggah Na Hyun cepat.

“Tapi kau juga sudah mendapatkan translatenya, bukan?” potong Kris cepat.

Mendengar perkataan terakhir dari Kris itu membuat Na Hyun terdiam. Dan sialnya, Ia tidak bisa mengontrol pipinya yang mulai memerah.

Kris menaruh iPodnya asal, lalu berdiri. Di hadapan Na Hyun. Na Hyun mendongak kaget menatap Kris—yang tanpa disadarinya—sudah berada di hadapannya. Kris tersenyum. Begitu hangat.

“Jika aku mengatakannya kembali, apakah kau akan menerimaku?” Tanyanya.

Na Hyun tidak bisa berkata apa-apa. Menatapnya dengan matanya yang membulat kaget. Ia masih tidak percaya kalau yang ada di hadapannya ini Kris.

Dan Na Hyun kedua kalinya di kejutan oleh Kris yang kini mengambil halus kedua tangannya. Menatapnya penuh harap, namun masih dalam senyuman. “I love you, Im Na Hyun. I don’t care if you are careless, acts before thinking, and so much things I couldn’t say here, but, can you love me? Can you see me that I’m here? Can you—

I already seeing you, Kris.” Kata Na Hyun memotong kata Kris. Selanjutnya, gadis itu tersenyum lebar.

Kris menatapnya serius. Ia sungguh tidak main-main saat ini. Ia tidak ingin terlambat. “No, I mean, you seeing me as—

A man? Yes, of course. I’ve done it since three years ago.” Kata Na Hyun sambil tersenyum. Kris menatapnya tak percaya. Ia menggeleng kecil, lalu kembali menatap Na Hyun lekat-lekat. Mencari kebenaran dari matanya.

Na Hyun-ah, I mean as a man…

Who love a girl? And do you believe that i do that from three years ago?

Kris tidak ingin mendengar apapun lagi dari gadis itu. Cukup sudah. Ia mengerti maksudnya. Dan perlu ditegaskan, mereka memilih perasaan yang sama. Tiga tahun yang lalu…

Though I am standing behind you today
I wonder if I will stand next to you tomorrow

“Kris.. lepaskan. Aku-tidak-bisa-bernafas.” Kata Na Hyun dengan suara tertahan. Kris malah makin mengeratkan pelukannya. Seakan tak ingin gadis itu pergi lagi darinya. Na Hyun menghela nafas, lalu tersenyum dan dengan perlahan ia mengangkat tangannya, memeluk Kris erat.

“Kupikir kau akan meninggalkanku.” Gumam Kris.

Na Hyun tersenyum mendengar itu. “Ya, tadinya aku ingin melakukannya.”

Kris melonggarkan pelukannya dengan berat hati, karena mendengar pengakuan yang tidak enak di telinganya.

“Tapi ternyata aku tidak bisa. Di saat aku ingin menjauhimu, di saat itulah aku semakin tidak bisa melupakanmu.” Kata Na Hyun lalu tersenyum.

Kris tersenyum kecil, lalu mencubit pipi gadis itu. Yang dicubit malah mengaduh sambil memegang tangan Kris yang kini mencibut pipinya. Kris tertawa lepas. Deretan giginya yang putih nan rapih itu terlihat jelas.

“Aish.. kau ini suka sekali melihat orang menderita.” Gerutu Na Hyun sambil mengelus-elus pipinya yang dicubit Kris tadi.

“Merah.. apakah itu sakit sekali?” Tanya Kris polos sambil menatap pipi sebelah kanan Na Hyun yang mulai memerah di daerah yang ia cubit tadi.

“Itu sakit, kau tahu.” Dengusnya kesal.

Na Hyun menahan nafasnya saat kris tba-tiba mencium pipinya cepat. Sekilas, namun sangat berarti baginya. Astaga, jangan biarkan Kris melihat wajahnya yang mulai memerah.

“Sekarang bukan hanya di daerah cubitanku saja yang memerah, namun disseluruh wajahmu. Obat penawar rasa sakitku cukup manjur, bukan?” Katanya. Na Hyun menatapnya tajam seakan bersiap menerkamnya. Melihat perubahan itu, Kris memilih kabur daripada harus merasakan cubitan di sekitar pinggangnya.

“Ya, Kris!”

If I love you and love you more

End

Annyeong. Kembali lagi dengan Cast Kris dan Na Hyun, sekarang aku udah bikin sequel “Love Sick”. Dan kali ini Kris’s side. Maaf kalo banyak typo, atau teman-temannya yang lain(?). Maaf kalo nggak nyambung, dan sebagainya. Makasih udah baca ffku ini. RCL sangat dibutuhkan untuk memperlanjut karya-karyaku(?) .__. Kamsahamnida.

Iklan

15 pemikiran pada “If You Love Me More (Sequel of Love Sick)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s