Oh, My Boy! (Chapter 1)

oh my boy

Title    : Oh, My Boy! (part 1)

Author : Han Ahra

Main Cast :

  • Byun Baekhyun (EXO-K)
  • Lee Jun Hee (OC)

Support Cast : Chanyeol (EXO-K), Han Yura (OC), Min Sun Yeon (OC), atc

Genre : Friendship, Comedy (little), Romance

Rated : General

Length : Multi chapter

———————

Anyeong readers, Author buat FF baru nih. Pengen coba buat FF comedy romance. Maaf ya kalo comedinya gagal, kan Cuma sedikit, lagian saya juga bukan pelawak. Yaudah deh kalo saya kebanyakan ngomong nanti panjangan pendahuluannya dari pada ceritanya, kan gak lucu. Silahkan dibaca deh.

Happy Reading ^^

———————-

-THE BOYS-

***

_Jun Hee POV_

Haduh, kepalaku pusing. Dua orang ini berisik sekali sih.

“Yak! Makan saja ramen kalian. Tidak usah berisik didepanku.” Bentakku pada dua orang namja bawel didepanku yang sedang mengganggu waktu istirahat berhargaku ini dengan celotehan tidak penting mereka, membicarakan hal yang bahkan tidak aku mengerti.

Biar kukenalkan dua orang berisik ini kepada kalian terlebih dahulu. Park Chanyeol dan Byun Baekhyun.

Park Chanyeol pria tinggi dengan suara berat yang selalu mengganggu ditelinga, dan mulut yang tidak bisa berhenti menertawakan apa saja yang ada disekitarnya. Orang aneh dan mengganggu.

Dan satunya, Byun Baekhyun. Temanku dari kecil, Ahh tidak lebih tepatnya orang yang hidup denganku dari kecil. Bukan, bukan saudara. Orang tuaku dan orang tuanya sangat dekat. Ummaku dan Ummanya bahkan melahirkan kami diwaktu bersamaan, dengan sengaja.

Aku sangat bosan dengan orang yang satu ini, dari aku masih menjadi bayi yang imut-imut sampai jadi remaja SMA –yang, yaa…masih lumayan imut- hanya wajahnya yang kulihat. Rumah kami berdekatan, dan kami selalu satu sekolah dari Taman kanak-kanak sampai sekarang ini. Tadinya aku sudah memaksanya tidak satu sekolah denganku di SMA ini tapi…

–Flashback–

_Liburan akhir semester SMP, di Rumah Jun Hee_

“Jun Hee, kau mau masuk SMA mana?” tanya Baekhyun sambil mengganti-ganti chanel TV rumahku.

“Molla.” Jawabku singkat, tidak bersemangat.

“Yang pasti aku tidak mau satu sekolah lagi denganmu. Aku bosan.” Tambahku serius, meskipun dengan nada datar.

“Wah, ide yang bagus. Kalau begitu, aku satu SMA dengan mu saja ya?! Dari pada bingung.” Serunya tiba-tiba, membuatku menganga seketika. Dia tidak mengerti bahasa manusia atau apa sih? Sudah dibilang tidak mau kenapa malah bilang begitu, dasar bodoh.

“Yak! Shirro. Aku kan bilang tidak mau satu sekolah lagi denganmu.” Bentakku sambil menghentak-hentakkan kakiku kelantai, kesal.

“Wah, kalian mau satu sekolah lagi ya? Ide yang bagus.” tiba-tiba Ummaku ikut campur saat memasuki ruang TV sambil membawa buah-buahan untukku dan Baekhyun.

“Umma, Shirooooo!!!” Teriakku sambil melompat-lompat kesal.

“Tidak ada salahnya kan? Lagi pula Baekhyun kan sangat membantu nilai-nilaimu yang dibawah rata-rata semua. Dia pintar dan bisa mengajarimu, kalian juga bisa berangkat sekolah bersama setiap hari. Iyakan Baekhyun?” Tanya Umma pada Baekhyun sambil sibuk mengupas kulit apel.

“Ne….Ahjumma!” Jawab Baekhyun bersemangat sambil mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi. Ya tuhan, kenapa ada namja menyebalkan seperti Byun Baekhyun itu???

“Ahhh, Umma… Jinjja!!” Aku terduduk merengek dan menggerak-gerakkan kakiku seperti anak kecil yang sedang marah. Rasanya aku ingin menangis, tapi cukup malu untuk itu.

–Flashback End—

Yaa, begitulah jadi seumur hidup sepertinya aku akan bersamanya. Meskipun sudah kumarahi, kubentak-bentak tapi dia tidak mau menjauhiku. Entah dia kebal, tidak peka, atau dia itu orang yang tidak bisa merasakan penderitaan orang lain, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku sudah menyerah. Biar saja dia melakukan apa yang dia mau.

Sekarang ini aku sudah duduk di kelas 2 SMA. Dulu saat SMP Baekhyun sangat sering mengikutiku, mungkin karna dia tidak punya banyak teman. Sekarang saat SMA dia bertemu dengan Park Chanyeol dan menjadi sahabat sejati -mungkin karna mereka setipe-

Aku sangat bahagia saat itu, karna kupikir Baekhyun akan menghilang dari kehidupanku atau setidaknya jarang muncul dihadapanku. Tapi ternyata tidak, dia dan Chanyeol malah terus menggangguku dan menambah beban hidupku T.T

Yasudahlah, mau bagaimana lagi. Orang sabarkan disayang Tuhan.

“Mian…mian, Jun Hee.” Jawab Baekhyun, sambil menahan tawanya yang dari tadi menggelegar bersama Chanyeol.

“Ahh, kalau tidak mau mendengar kami berisik lebih baik pindah saja sana.” Celetuk Chanyeol sambil merampas susu pisangku dan langsung meminumnya dengan tidak tau malunya.

Aigoo…Namja ini.

“YAK!! KAU YANG DATANG KESINI DAN MENGGANGGU, SEKARANG MALAH MENGUSIRKU. DASAR TIDAK TAHU DIRI….” Teriakku sebelum akhirnya pergi meninggalkan dua namja itu, meninggalkan seisi kantin yang heran melihatku teriak-teriak.

Lama kelamaan seperti ini tekanan darahku bisa naik, lalu terkena Stroke dan mati muda. Aish, Jinjja.

***

“Jun Hee, kau kenapa??” Tanya Yura melihatku yang masuk kelas sambil mengumpat mengutuki dua orang Namja tadi.

“Pasti Park Chanyeol dan Byun Baekhyun lagi ya?” Sahut Sun Yeon dengan tepat. Yura dan Sun yeon adalah teman ku. Temanku saat mulai masuk SMA. Oleh karna itu mereka tahu benar, bahwa aku sangat sering dibuat kesal oleh Byun Baekhyun dan Park Chanyeol.

”Kenapa sih setiap hari memarahi Park Chanyeol, diakan orang yang baik tahu.” Bela Yura. Seketika aku melongo kaget mendengarnya membela si Chanyeol itu. Apa maksudnya orang baik? Cuih..

“YAK, Han Yura.. kenapa malah membela Namja itu?” Bentakku sambil memukul meja.

“ Yura kan sedang…” Timbal Sun yeon terputus sambil melirik Yura yang tersenyum malu-malu dengan wajah memerah. Jangan-jangan Yura dan Chanyeol…

“Sedang apa?? Yura dan Chanyeol kenapa?” tanyaku penasaran.

“Ah, Molla…Molla…” Jawab Yura tersenyum malu-malu menutupi wajahnya.

“Aigoo, jangan bilang kalian pacaran.” Ujarku pelan, hanya sebuah pernyataan tidak serius. Tidak mungkinkan Yura dan Chanyeol berpacaran.

“Tidak.. masih dalam masa pendekatan kok.” Sahut Sun yeon lagi-lagi sambil melirik Yura yang masih malu-malu, dan hal itu seketika membuatku terkejut. Apa-apaan ini?

“MWO?? ANDWEEE…TIDAK BOLEH!!!” Bantahku keras-keras mengejutkan seisi kelas. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak ingin temanku yang sangat baik dan cantik seperti Yura ini berpacaran dengan si Chanyeol yang menyebalkan itu.

“Aish, Waeyo??”

***

Bel pulang berbunyi. Seperti biasa aku akan pulang bersama Baekhyun, seperti biasa saat TK, saat SD, saat SMP selalu pulang bersama Baekhyun.

Kulihat sosok namja itu berdiri didekat gerbang sekolah tertawa-tawa menungguku bersama Chanyeol. Aku berjalan menghampirinya.

“Ayoo pulang.” Ujarku malas sambil menarik tas Baekhyun dan membuatnya berjalan mundur mengikutiku. Aku benar-benar sedang malas melihat Chanyeol saat ini. Melihat namja itu membuatku ingin melempar sepatuku kearah wajahnya, berani-beraninya dia mendekati temanku. Tapi apa yang bisa kulakukan lebih baik pergi saja…

“Anyeong, Chanyeol. Kabarkan aku kalau kau sudah mendapatkannya!” Teriak baekhyun sambil melambai-lambaikan tangannya pada Chanyeol. Langkahku terhenti sejenak, dan membuat Baekhyun yang terus berjalan mundur menabrakku.

“Hey, kenapa berhenti tiba-tiba?” Desis Baekhyun.

“Yak, Apa yang kau maksud ‘mendapatkannya’?” tanyaku penuh selidik. Hipotesisku sih, maksudnya adalah mendapatkan Yura, tapi aku tidak terlalu yakin. Makannya aku bertanya.

“Ahh, itu. Itu urusan namja, kau tidak boleh tahu.” Jawabnya mengejek lalu berjalan mendahuluiku. Aigoo, namja ini! Ku tiup poniku sambil mendesah kesal, lalu ikut berjalan menyusul Baekhyun dibelakangnya.

“Haaah, tidak terasa ya ini sudah di penghujung tahun 2012. Jun hee… tahun ini kau ke Festival tahun baru dengan Yura dan Sun Yeon lagi ya?” Ujar Baekhyun tiba-tiba.

“Hmm, Wae?” balasku singkat.

“Tidak apa-apa. Biasanya kan kita pergi bersama.” Lanjut Baekhyun dengan nada sedikit kecewa. Ya, dia benar dari kecil kami ke festival tahun baru bersama. Tapi aku sudah cukup bosan untuk melakukan itu lagi. Untung sekarang aku sudah punya Yura dan Sun yeon, jadi mulai tahun lalu dan seterusnya aku akan pergi ke Festival tahun baru yang saaaangat kusukai hanya bersama mereka. Tidak dengan namja menyebalkan ini, apa lagi temannya itu.

“Kau kan akan pergi dengan Chanyeol. Masa aku ikut bersama kalian? Malas sekali.”

“Benaaar kau tidak mau lagi pergi ke festival tahun baru bersamaku??” tanyanya mencoba menggodaku. Dasar sok percaya diri, rasanya aku ingin menimpuknya.

“Tch, Aku bosan tau.” Jawabku ketus.

***

_Author POV_

“Umma aku pulang.”  Salam Jun hee saat memasuki rumahnya. Tidak ada orang.

Jun Hee mencopot sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Lalu bergegas masuk kedalam rumahnya. Menyusuri rumahnya sambil celingak-celinguk mencari sosok Ummanya yang biasanya sedang nonton TV di ruang tengah.

“Tidak ada siapa-siapa. Aish…kemana orang-orang?” Desis Jun Hee sambil kembali mengelilingi rumahnya.

Dia sampai di ruang makan sekarang, dia menatap meja makan kosong di sudut ruangan dan melihat sebuah kertas tergeletak rapi disana. Karna penasaran akhirnya dia putuskan untuk mengambil kertas itu.

Untuk : Jun Hee tercinta.

Maaf kalau tidak ada makanan diatas meja makan. Umma dan Appa terburu-buru pergi pagi tadi. Appa baru saja mendapat Voucher tahun baru untuk liburan gratis ke pulau Jeju. Tadinya Umma ingin mengajakmu, tapi Appa bilang itu hanya khusus untuk dua orang saja, dan waktunya terbatas. Kalau tidak pergi pagi tadi maka Vouchernya tidak berlaku lagi, kesempatan sebagus ini kan sayang untuk dilewatkan. Jadi maaf ya Jun Hee, kami harus meninggalkanmu. Oh iya, Umma sudah bilang pada Nyonya Byun soal hal ini, dan dia bilang kau bisa tinggal beberapa hari dirumahnya kalau kau mau.

Ah, sudahlah Umma sangat buru-buru sekarang. Sekali lagi maaf ya Jun Hee,bukannya tidak mau mengajakmu tapi, ini sangat mendesak. Jadi, selamat berlibur Jun Hee!! ^^

Dari : Umma & Appa

“UMAAA!!! APPAAAA!!! APA-APAAN INI?” Teriakan Jun Hee menggelegar seketika setelah membaca surat itu. Dia meremat surat itu dan melemparnya Frustasi. Dia terduduk dilantai dan menggerak-gerakkan kakinya seperti biasa –kayak anak kecil lagi marah-.

“Bilang saja kalian tidak ingin diganggu, kalian ingin bulan madu lagi kan? Keterlaluan…kenapa mereka meninggalkan anak mereka satu-satunya ini?” Celoteh Jun Hee sambil mengacak-acak rambutnya kesal.

*

“Baekhyun-ah, coba kau kerumah Jun Hee. Umma khawatir dengannya.” Perintah sang Umma pada Baekhyun yang sedang duduk bemalas-malasan didepan Televisi.

“Memang Jun Hee kenapa Umma?” Tanya Baekhyun dengan mata yang tidak berhenti menatap layar TV besar didepannya.

“Dia sendirian dirumahnya. Appa dan Ummanya pergi ke Jeju buru-buru tadi pagi. Inikan sudah malam, dia pasti belum makan.” Jawab Ummanya lalu duduk disamping Baekhyun untuk ikutan nonton TV.

“Kenapa dia tidak diajak pergi juga?” tanya Baekhyun lagi, masih tidak mengedarkan pandangan dari Televisi.

“Aigoo, Anak ini…kenapa banyak tanya? Cepat sana pergi. Temui dia dan ajak dia kesini.” Seru sang Umma sambil mendorong-dorong tubuh Baekhyun yang masih tidak mau enyah dari Televisi kesayangannya.

“Iya, iya.. tunggu acaranya sponsor.”

“Aniya, Cepat sana pergi.”

“Aish. Ne…ne Umma.”

*

Kira-kira 10 langkah Baekhyun sudah sampai didepan rumah Jun Hee yang persis bersebrangan dengan rumahnya. Rumah Jun Hee terlihat gelap. Lampu depannya bahkan tidak dihidupkan oleh Jun Hee. Baekhyun sangat tahu kalau Jun Hee –temannya dari kecil- bukanlah orang yang rajin atau pun rapi. Ya, jadi dia bisa memaklumi hal ini, apa lagi sekarang ini hanya ada Jun Hee sendirian  dirumah itu.

Baekhyun menggeleng dan berdecak kagum saat melihat pintu rumah Jun Hee dibiarkan terbuka oleh si pemilik rumah.

“Dia benar-benar sudah gila” batin Baekhyun sambil terus melangkah masuk kedalam rumah itu. Ruangan-ruangan dalam rumah itu juga gelap, hanya beberapa ruangan paling dalam yang diterangi nyala lampu.

Baekhyun sampai di ruang tengah sekarang, dan disitu dia melihat Jun Hee. Sedang tertidur di sofa, ditemani TV yang menyala dengan beberapa bekas bungkusan makanan ringan dan Panci bekas ramen yang berantakan disana-sini.

“Aigoo, Yeoja ini. Belum satu hari ditinggal sendirian sudah jadi begini.” Gumam Baekhyun sambil menyingkirkan sampah-sampah yang dilewatinya.

“Kau sedang membicarakanku?” Seru Jun Hee tiba-tiba seraya membuka matanya dan membuat Baekhyun terlonjak kaget seketika.

“YAK! Kau membuatku terkejut tahu!” Bentak Baekhyun sambil mengelus dadanya menenangkan jantungnya yang baru saja mau copot.

“Ada apa malam-malam kesini?” Tanya Jun Hee. Dia bangkit dari tempatnya tertidur tadi, mengucek matanya dan mengup lebar. Rambutnya berantakkan dan dia masih mengenakan pakaian sekolah.

“Ada apa?? Tentu saja karna orang ini.” Jawab Baekhyun sambil menunjuk Jun Hee yang sedang garuk-garuk kepala masih dengan matanya yang setengah terbuka.

KRUCUK…KRUCUK…DRRRTT #suara perut

“Haduh aku lapar.” Rengek Jun Hee sambil memegangi perutnya.

“Sudahlah, kau kerumahku saja. Berbahaya sekali membiarkanmu sendirian dirumah.”

***

­_Jun Hee POV_

Aku benar-benar lapar saat ini, jadi mau dibilang tidak tahu malupun aku tetap akan makan dengan lahap. Ditinggal orang tua benar-benar menyusahkan. Awas saja kalau mereka berdua pulang, tidak akan kumaafkan.

“Jun Hee-ah, makannya pelan-pelan.” Ujar Bibi Byun sambil menyodorkan minum kearahku.

“Dia benar-benar seperti orang yang tidak pernah makan.” Tambah Baekhyun. Aku langsung memicingkan mataku kearahnya. Apa urusannya bicara seperti itu, dasar menyebalkan!

“Jun Hee, kudengar orang tuamu berlibur ke Jeju. Kalau begitu kau menginap disini saja sampai mereka pulang.” Sahut paman Byun ikutan menimpali pembicaraan.

“Hmm,,,hmm. Terserah saja.” Jawabku masih sibuk dengan makananku yang memenuhi mulut. Aku memang sudah tidak sungkan lagi untuk merepotkan keluarga Byun, karna keluargaku dan mereka sudah sangat akrab seperti saudara. Jadi ya…anggap saja ini rumah sendiri.

“Baguslah. Kalau begitu Baekhyunie setelah makan kau antar Jun Hee ke kamarnya ya!” Perintah paman Byun pada Baekhyun yang dijawab dengan anggukan kepala.

“Kamarnya didepan kamarku itu kan?” Celetuk Baekhyun yang langsung membuatku ingin menyemburkan makananku dari mulutku. Aku akan tidur ditempat yang bersebelahan dengan kamar Baekhyun, Huuuft. Yang ada aku tidak bisa tidur. Asal kalian tahu saja, Baekhyun punya kebiasaan tidur yang buruk.

*

“Ini kamarmu.” Bekhyun membukakan pintu kamar tumpanganku. Tempatnya dilantai dua rumah ini dan ternyata benar-benar persisi di depan kamar Baekhyun. Aku masuk perlahan-lahan kedalam ruangan itu. Tidak buruk, cukup luas dan rapi. Setahuku terakhir kali aku kerumah ini dan menyambangi kamar Baekhyun -karna terpaksa harus minta bantuannya mengerjakan PR MTK- aku melihat tempat ini adalah ruangan tidak terpakai.

“Bukannya ini ruangan tidak terpakai yang selalu ditutup itu?” Tanyaku sambil mengitari pandangangku ke penjuru ruangan.

“Iya. Aku juga heran kenapa ruangan ini sudah jadi seperti ini. Sepertinya Appa dan Umma sengaja membuatnya untukmu.” Jelas Baekhyun sambil ikut memperhatikan pelosok ruangan ini. Kalau begitu jangan-jangan Paman dan Bibi Byun sengaja menyediakan ruangan yang bersebelahan dengan kamar Baekhyun untukku menginap. Ya ampun, mereka mulai lagi.

Biar kujelaskan. Sebenarnya keluargaku dan keluarga Baekhyun itu mempunyai Visi dan Misi menjodohkan kami secara halus. Mereka membuat kami selalu bersama. Itu sudah rencana mereka sejak kami mulai dikandung. Buktinya kami dilahirkan dalam waktu yang bersamaan, itu semua adalah rencana mereka. Konyol. Tapi mereka tidak mengharuskan kami menikah nantinya, mereka hanya berusaha mendekatkan kami, sampai-sampai aku muak.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Kalau butuh bantuanku panggil aku di kamar sebelah.” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya genit lalu melengos pergi meninggalkanku. Menjijikan sekali.

Aku bersandar ditembok sudut ruangan dan memperhatikan ruangan ini baik-baik. Ya, tidak apa-apa beberapa hari tidur disini. Lagipula kalau sendirian dirumah aku akan ketakutan,hehe. Aku berniat beralih menuju ranjang untuk tidur. Tapi…

“Ada apa ini?” Kurasakan Baju hangat yang kupakai tersangkut ditembok dan sangat sulit untuk ditarik. Akhirnya aku harus melepaskan baju hangatku dari tubuhku secara paksa dan membiarkannya tergantung ditembok. Lalu aku melihat kebelakang bagian baju hangatku yang tersangkut. Ternyata ada sebuah paku liar ditembok yang membuatnya tersangkut.

“Aigoo, Ottoke?” gumamku sambil mencoba menarik-narik baju hangatku. Haah, daripada sobek lebih baik digunting saja.

Aku bergegas kearah kamar Bekhyun untuk memijam gunting. Disana kulihat namja itu sedang membaca komik sambil tiduran diranjangnya.

“Ekhm… kau punya gunting tidak?” Tanyaku langsung saat memasuki kamarnya. Meskipun dia itu seorang namja tapi kamar tidurnya lebih rapih daripada kamar tidurku lho.

“Cari saja disitu…di laci itu.” Jawabnya masih sibuk dengan komiknya. Dia menunjuk-nunjuk laci disudut kamarnya dengan kakinya.

Aku mengangguk-angguk dan berjalan menuju laci itu. Kubuka laci itu, dan mengambil gunting didalamnya. Tapi, tunggu dulu… Ini, inikan?

“BAEKHYUUUUNNN!!!” Aku berteriak saat menemukan foto-foto masa kecilku yang memalukan tersimpan rapi didalam laci itu.

“Mwoya??” tanya Baekhyun sok tidak bersalah.

“Aku kan sudah membuang ini, kenapa malah ada disini?!” Seruku. Foto-foto ini adalah foto kecilku yang sangat memalukan sampai aku saja geli melihatnya. Seingatku aku sudah membuangnya beberapa bulan lalu, agar aib ini tidak dilihat siapapun. Tapi kenapa sekarang malah ada disini?

“Ahh itu. Aku suka foto itu, jadi kuambil saat kau membuangnya. Hehehe.” Balasnya sambil nyengir lebar.

“Kalau begitu akan kubuang lagi saja!” Ujarku dan berniat melangkah keluar dari kamar ini.

“Tidaaaak, jangan!” Tapi Baekhyun mencekal tanganku dan merebut foto-foto itu dengan cepat. Aku memelototinya yang sedang menjulurkan lidahnya mengejekku. Dia melihat-lihat foto-foto itu lagi dan terkekeh-kekeh geli. Sudah kuduga dia menggunakan foto memalukan itu untuk bahan tertawaan dasar namja menyebalkan.

“YAK! Sini biar kubuang saja.” Aku merebut foto-foto itu dari tangannya. Tapi dia berhasil menahannya. Aku berusaha menariknya agar kumpulan foto itu terlepas dari tangannya, Tapi dia lebih kuat. Dia balas menariknya, aku tidak mau kalah. Aku menariknya sekuat tenaga sampai aku terduduk dilantai.

“Iiihh, cepat lepaskan.” Ujarku meringis mengeluarkan tenagaku untuk menariknya.

“Shiroooo…” balas Baekhyun tidak mau kalah.

“Hei, kalian sedang apa?” Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan kami. Dengan reflek kami menengok kearah sumber suara. Dan kami lihat chanyeol sudah berdiri bersandar didepan pintu sekarang.

“Chanyeol…”

Hening.

Kami menghentikan aksi tarik menarik untuk sepersekian detik karna kehadiran Chanyeol. Tapi kembali lagi saling tarik menarik saat aku sadar aibku dalam bahaya, bagaimana kalau Chanyeol melihatnya dia bisa menertawaiku sampai terkentut-kentut pasti. Memalukan.

“Berikan padaku Byun Baekhyun! Atau kau akan…” ancamku pada Baekhyun yang terus-terusan tak mau kalah.

“ Akan apa? Haaah?” Balasnya. Dan tiba-tiba…

BYAAARRRR…

Semua fotonya terhempas keudara dan berserakan kemana-mana.

“Apa ini??” Tanya Chanyeol dan langsung membuat nafasku hampir saja berhenti. Mati aku, jangan sampai dia melihat foto-foto itu.

“Apa ini Jun Hee? ” Sial.  Chanyeol meraih salah satu foto yang berserakan itu lalu memperhatikan foto itu seksama. Aku tak bisa mencegahnya. Dan beberapa detik kemudian dengan jelas raut wajahnya perlahan-lahan berubah.

“BUAHAHAHAHAHA. Jun Hee kau lucu sekali…” Tawa Chanyeol menggelegar seketika melihat fotoku. Aigoo, Namja ini…suara tawanya membuatku sakit hati.

***

_Baekhyun POV_

Wajah Jun Hee memerah seketika, dia melihat kearahku sengit sebelum akhirnya keluar kamarku dengan kesal. Yah.. dia ngambek, bagaimana ini?

“Sudah hentikan Chanyeol!” Aku memarahi Chanyeol dan merebut paksa foto kecil Jun Hee yang sedang ditertawai Chanyeol.

Jun Hee sangat membenci foto-foto ini, foto masa kecilnya ini. Dia memang terlihat jelek difoto-foto itu. Rambutnya sedikit nyaris botak karna belum tumbuh sempurna padahal usianya sudah 2 tahun lebih dan wajahnya selalu terlihat marah saat difoto, atau juga menganga lebar karna menangis ketakutan dengan flash kamera. Tapi aku suka melihat itu, bukan karna aneh, tapi itu adalah sebuah kenangan yang bisa kulihat kapanpun kumau.

“Ah, Waeyo?” Rajuk Chanyeol. Aku memunguti foto-foto yang bertebaran, gara-gara ini aku jadi sedikit merasa bersalah pada Jun Hee.

“Dia tidak suka ada orang yang menertawai foto masa kecilnya. Gara-gara kau dia jadi marah kan.” Tambahku pada Chanyeol yang sekarang berubah ikutan merasa bersalah. Dia lalu membantuku memunguti foto-foto itu.

“Mianhae, Baekhyun-ah.”

“Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada Jun Hee sana!”

*

TOK-TOK-TOK

Aku mengetuk pintu kamar Jun Hee ditemani Chanyeol dibelakangku yang sedang ketakutan entah kenapa. Aku juga sedikit merasa cemas, aku sadar aku sendiri sering membuat Jun Hee kesal tapi kalau kesalnya sudah sampai seperti ini aku jadi takut.

“Jun Hee-ah, Mianhae. Aku janji tidak akan menertwainya lagi. Aku janji akan merahasiakannya. Tapi Maafkan aku dulu Jun Hee.” Seru Chanyeol, Jun Hee tidak mau membukakan pintunya jadi terpaksa minta maaf dari luar.

“Uri Jun Hee yang sangat cantik, ayolah maafkan kami.” Tambah Chanyeol merengek-rengek.

“Aish, sudahlah mungkin dia sudah tidur.” Ujarku sedikit kesal dan kecewa. Mau bagaimana lagi, besok juga masih bisa minta maaf.

“Oh iya, kau mendapatkannya tidak?” Tanyaku pada Chanyeol setelah ingat apa tujuan sebenarnya Chanyeol kusuruh kesini.

“Tentu saja dapat. TARAAA” Jawab Chanyeol sambil menyodorkan plastik hitam kedepan mukaku.

“AAAAHHHH!!!” Kami menjerit dan melompat bahagia besama-sama, akhirnya yang selama ini kami usahakan dapat juga.

CKREKK…

Pintu kamar Jun Hee terbuka tiba-tiba. Kami menghentikan aksi celebration kami dan reflek langsung menengok kearah Jun Hee yang kepalanya tersembul dari balik pintu kamarnya.

“Kalian dapat apa?? Dapat Yura ya? Tidak boleh, Chanyeol dan Yura tidak boleh pacaran.” Gerutu Jun Hee marah-marah dan langsung membuat aku dan Chanyeol bertatapan lalu melongo seketika.

“Apa maksudmu?” Tanyaku memasang wajah heran, jujur aku tidak mengerti apa yang Jun Hee katakan.

Jun Hee mengedipkan matanya kikuk, mungkin malu karna marah-marah tapi salah tebak.

“la..lalu dapat apa?” tanyanya lagi, ikut bingung.

“Ini…” Balas Chanyeol sambil menunjukkan plastik hitam bawaannya yang langsung disambar Jun Hee.  Dia membuka bungkusan plastik itu dan tercengang seketika.

“Itu album Jepang SNSD yang diskon 25% hanya untuk 40 orang pemesan pertama bonus 2 Poster SNSD dengan gambar berbeda. Satu untukku dan satu untuk Baekhyun” Ucap Chanyeol menjelaskan dengan cepat dan percaya diri. Jun Hee bengong mendengarnya lalu mengangkat bibir atasnya, takjub mungkin?

“Jadi..bukan..bukan..Yura ya?” tambah Jun Hee malu-malu sambil mengembalikan bungkusan plastik kembali pada Chanyeol.

“Memangnya kenapa kalau Yura? Hehehe^^” Chanyeol nyengir lebar menunjukkan hampir semua giginya, lalu menengok kearahku dan aku ikutan nyengir.

“Aish!”Desah Jun Hee lalu menutup pintu kamarnya lagi.

Hening.

“Yak, Jun Hee bagaimana? Kau belum menjawab, kau mau memaafkan kami kan? JUN HEE!! JUN HEE!!”

Telat, dia sudah mengunci kamarnya lagi.

***

-TBC-

Taraaa, Segini dulu part 1 nya. Kalo diliat-liat ini mah gak ada romancenya. Belum. Masih penjelasan karakter masing-masing tokoh dulu, meskipun secara tersirat. Ntar, part berikutnya baru story begin, hehe. Trima kasih ya yang udah baca dan admin yang udah ngepostin FF ini, aku doain semuanya masuk surga deh. Apa lagi yang komen ^^. Komen ya, jangan lupa!

19 pemikiran pada “Oh, My Boy! (Chapter 1)

  1. Annyeong, aku numpang comment:

    “Setuju sm author, ini blm ada romance ny. Justru malah banyak berantem dan berkelahinya. Ngakak dah bacany. Di tunggu next chapternya. Semangat ya thor nulisny.

    Salam kenal~ ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s