When I’m Become a Yeoja (Chapter 6)

Author: minnieasmilkyway & Scandanavia

Title: When I’m Become a Yeoja (Chapter 6)

Main Cast:

– EXO-K’s Baekhyun

– EXO-M’s Kris

– EXO-M’s Tao (Fem!Tao) > Jinri

Support Cast:

– Song MiCha (OC)

– SJ’s Yesung

– EXO-M’s Luhan (Fem!Luhan) > Hanmi

Genre: Romance, Gender Switch, Drama, Humor (Little Bit)

Disclaimer: EXO members belongs to God and they parents 🙂 Story is created by us and pure from our brain. Don’t copy without permission.

Summary: Tao sangat menyukai sahabatnya sejak kecil itu. Namun, men to men atau yaoi itu adalah tindakan yang dilarang. Saat muncul yang berpendar itu, ia berharap menjadi yeoja seutuhnya. Saat harapannya terkabul, akankah Tao berhasil menjalani hidup barunya dan mendapatkan namja incarannya?

READ THIS FIRST:

 

Chapter 1 >> Chapter 2 >> Chapter 3 >> Chapter 4A >> Chapter 4B >> Chapter 5

 wibyyyy6

– oOo –

|| P.R.E.V.I.O.U.S || C.HA.P.T.E.R ||

– oOo –

 

Hari ini aku sengaja membawa sepeda karena sedang malas menunggu bus yang datangnya 15 menit sekali. Kuambil kartu nama yang tadi kuselipkan di kantung celana jeans sebelah kanan kemudian membacanya dengan seksama. Tidak terlalu jauh, gumamku. Kemudian, akupun mengeluarkan sepedaku dan bersiap untuk mengayuhnya.

Udara masih terasa segar karena jam masih menunjukkan 10 a.m. Akupun menelusuri jalanan kampus yang menghabiskan waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai ke gerbang utama. Saat hendak membelok tepat ke gerbang utama tersebut,

CIIIITTTT~!!

 

Aku menarik rem dengan segera. Begitupun pengendara mobil hitam di depanku. Kami merasa shock satu sama lain. Kamipun saling bertatapan satu sama lain. Tatapan itu, tatapan yang bisa dibilang banyak orang sebagai tatapan mematikan. Apa ini saatnya?! Tidak mungkin!!!!

 

– oOo –

|| P.R.E.V.I.O.U.S || C.HA.P.T.E.R || E.N.D ||

– oOo –

 

Kekagetanku terhenti saat sang pemilik mobil menunjukkan wajahnya dari jendela yang ia buka, “Bisakah kau berhati-hati?! Mobilku bisa lecet karenamu, bodoh! Lagipula, kau tidak akan mampu membayar ganti ruginya. Bahkan, dengan sepeda butut yang kau pakai sekarang ini. Aku bisa dengan mudahnya mengirim surat tagihan ke rumahmu atau bahkan menerormu jika kau serta keluargamu tidak bisa membayarnya!” seru namja itu dengan sombongnya dan aku hanya bisa terbelalak mendengarnya.

Namja itu sepertinya sudah ketularan sintingnya Park Chanyeol. Benar-benar grup yang aneh.

“Yaaak! Kau tidak bisa melakukan itu semaumu. Memangnya kau siapa hah?! Berani sekali mengancamku seperti itu!” geramku. Aku hanya melihat Kris -namja itu- tersenyum licik dan meninggalkanku sendiri yang kini sedang merutukinya -Kris tentunya- dari tempatku berada.

Ia benar-benar sudah ketularan sintingnya Chanyeol arghhh!!! Rasanya, sebentar lagi aku yang akan mengikuti jejak mereka. Tidak akan!!!

Aku merogoh tasku dan mengeluarkan ponsel yang berada di dalamnya untuk segera menghubungi MiCha.

“Yeo–,”

“Jinri-ya!!! Eodiga? Aish, kau ini lama sekali -____- cepat kembali dan selesaikan tugas kita,” ujar MiCha sebelum aku menyelesaikan sapaanku.

“Rasanya aku tidak bisa melanjutkannya. Kalau mau, minta bantuan Baekhyun saja. KALAU KAU MAU. Kau kan sangat memuja grup mereka, pasti kau juga ingin merasakan momen bersama Baekhyun kan?” ucapku menekankan kata ‘kalau kau mau’ dalam kalimatku.

“Yaaaak!!!! Kenapa kau bicara seperti itu! Haduuuh, handphonenya sedang ku loudspeaker. Pastinya–”

Flip. Aku memutus hubungan teleponku dengan Micha. Aku tambah pusing mendengar suaranya yang selalu heboh jika sedang membahas tentang aku dan grup yang kini kunamai grup ‘sinting’.

Tiba-tiba handphoneku bergetar, menandakan ada pesan singkat yang masuk. Tidak salah lagi. Pesan tersebut berasal dari Micha. Ia pasti kesal karena aku sudah memutuskan teleponnya.

Fr: Micha

Kenapa malah dimatikan?! Haduh, aku tampak bodoh di depan Baekhyun >< kau sih pakai bicara seperti itu segala. Aku benar-benar malu iiiihh kau ini benar-benar menyebalkan ><

 

Aku tertawa geli membaca pesan singkat yang kudapat dari Micha. Ia benar-benar heboh sekali kkk~ Nampaknya aku tidak akan langsung pulang ke rumah. Mungkin aku akan menenangkan diri terlebih dahulu. Pergi ke kedai kopi sepertinya bukan ide yang buruk. Selain menjadi pelanggan kedai kopi yang akan aku datangi, kurasa pelayanannya ramah dan pemiliknya sangat baik terhadapku. Aku sudah menganggapnya sebagai oppa (sekarang, saat aku menjadi yeoja).

15 minutes later…

Aku sampai di kedai kopi langgananku dan langsung disambut baik oleh salah satu pelayan yang menjadi penyambut tamu yang datang. Aku langsung melangkahkan kakiku ke meja kasir dan mulai memesan. Saat aku telah menerima bill dan kemudian membuka dompetku, ternyata uangku kurang untuk membeli secup white coffee ukuran medium. Aku sempat beradu mulut dengan penjaga kasir. Sampai akhirnya si empunya kedai keluar dari ruangan dalam. Sepertinya baru selesai memeriksa dapur, pikirku.

“Jinri?” sapa namja yang baru keluar itu.

“Ne, Yesung oppa. Bagaimana kabarmu?” tanyaku basa-basi.

“Baik. Kau sendiri?”

“Mungkin sama sepertimu, kekeke~”

“Kenapa mungkin? Kau bisa bawa kopimu ke kursi di balkon lantai 2, dan kita bisa mengobrol disana,” jelas Yesung oppa. Aku hanya saling tatap pada penjaga kasir yang melayaniku.

“Kau bisa membawanya gratis.” lanjut Yesung oppa disertai senyumnya.

“Kau dengarkan? :3 jadi aku bisa membawa white coffee ini dengan gratis, tuan” kutitikberatkan kata tuan sehingga membuatnya risih dan jengkel. Aku tidak menghiraukannya dan malah memasang muka meledek.

Setelah merasa puas, akupun mengikuti langkah Yesung oppa yang selisihnya cukup jauh dari tempatku berdiri sekarang. Setelah sampai, akupun dipersilahkan duduk olehnya.

“Jadi, aku mau dengar ceritamu. Bagaimana tentang sekolahmu?”

“Baik. Sangat baik sebelum aku mengenal grup ‘sinting’ itu. Ups!” refleks kututup mulutku karena aku rasa aku salah bicara pada oppa-ku yang satu ini.

“Sinting katamu?” tanyanya yang kemudian disusul dengan tertawaannya. Akupun ikut tertawa kikuk di depan Yesung oppa. Benar-benar memalukan.

“Sudahlah oppa, aku tidak mau membahas mereka kkk~ oppa sendiri, bagaimana dengan bisnisnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Seperti yang lihat sekarang ini. Aku begitu bersyukur juga usaha kami bisa berkembang pesat.” jelasnya.

“Begitu.” seketika kuangkat jam tangan yang kulekatkan di pergelangan tangan kiriku. Aku harus pulang. Akupun pamit kepada Yesung oppa serta tak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Setelahnya, akupun berdiri meninggalkan bangunan kedai kopi tersebut.

Kukayuh sepedaku secepat mungkin. Aku tidak mau telat sampai ke rumah. Entah apa yang membuatku seperti itu. Biarpun orang tuaku tidak memberikan hukuman jika aku pulang telat, sepertinya pulang tepat waktu adalah kewajiban yang harus kupenuhi.

8 minutes later…

“Aku pulang!” seruku dari depan rumah. Beberapa menit kemudian, appa keluar membukakan pintu, “Masuklah.” suruhnya datar.

Akupun melepas sepatu yang tadi kupakai dan meletakkannya di rak sepatu. Kuikuti langkah appa dan menemui eomma yang tengah menangis di ruang tengah. Kuletakkan tasku di dekat pintu masuk, lalu menghampiri eomma.

Kuusap pundaknya pelan, “Gwaenchanayo, eomma?” tanyaku pelan.

Eomma meraba telapak tanganku yang menyentuh pundaknya. Dengan suara serak akibat tangisannya itu, ia memberiku selembar kertas. “Ini.” ucapnya singkat yang kemudian kembali menangis.

Aku membuka lipatan kertas yang diberikan oleh eomma dan kaget seketika. Kertas ini merupakan surat permintaan ganti rugi. Namja itu benar-benar tidak main-main. Bodoh sekali.

“Aku akan mengurusnya, eomma.” ujarku sehingga membuat semua anggota keluarga menengok ke arahku.

Aku akan membuat perhitungan dengannya, batinku. Kemudian, akupun masuk ke dalam kamar dan menghempaskan diriku di kasur. Aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia bertindak seperti ini. Ia mau menyingkirkanku ya? Hmm…

Tuk.. Tuk.. Tuk..

Beberapa kali kudengar bunyi-bunyian yang berasal dari jendela kamarku. Akupun membuka tirai yang menutupinya dan membuka kacanya.

TUK!, sebuah batu kecil mengenai kepalaku. Aku mau saja mengumpat orang iseng itu habis-habisan jika orang itu bukanlah Baekhyun. Ya, entah apa yang membuat Baekhyun mengunjungi rumahku malam ini.

Ia menunjukkan beberapa buku dan membuatku tersadar. Itu buku-buku yang tadi aku suruh Micha untuk membawanya. Aku memberikan isyarat kepada Baekhyun bahwa aku akan segera turun. Ia kemudian tersenyum mengisyaratkan, okay aku akan menunggumu.

Akupun turun dan kemudian melihat eommaku sudah seperti biasanya. Ia sedang memasak makan malam. Sedangkan Appa dan namdongsaeng-ku sedang asyik mengutak-atik laptop yang baru didapatkannya hasil menang undian kemarin.

Aku tersenyum sebentar lalu berjalan lagi menuju pintu depan. Kubuka, pintu tersebut dan kutemui Baekhyun.

“Ini buku-bukumu, dan ini laporan tugasnya. Kau bisa menyalinnya mulai malam ini,” jelasnya yang kemudian tersenyum.

Aku menerima beberapa buku referensi dan laporan tugas yang diberikan oleh Baekhyun, “Terima kasih sudah mau mengantarkan buku-buku ini. Kalau kau mau, kau bisa masuk sebentar untuk makan malam bersama keluargaku,” tawarku padanya.

“Tidak, terimakasih.” balasnya.

Baru selangkah meninggalkan rumahku, hujanpun turun. Segera kutarik Baekhyun agar masuk ke rumahku untuk berteduh.

“Anggap saja rumah sendiri,” ucapku padanya sembari mengajaknya masuk. “Kau juga bisa menginap di sini. Jangan malu-malu.” tawarku.

“Ba-baiklah.” balasnya kikuk.

Eomma telah menyelesaikan masakannya. Ia dengan senang menyambut kedatangan Baekhyun dan segera menyuruhnya untuk bergabung di ruang makan. Sedangkan aku pamit sebentar untuk menaruh buku-buku dan laporan tugas di kamar.

Setelah selesai, akupun turun dan melayangkan kakiku ke ruang makan. Kamipun makan bersama seperti biasanya. Bedanya, kini dengan adanya Baekhyun yang duduk di sebelahku.

“Jadi, namamu siapa tadi?” tanya appa saat acara makan malam telah usai.

“Byun Baekhyun imnida,”

“Baekhyun-a, sebaiknya menginap saja malam ini. Anggap saja rumah sendiri.” jelas eomma.

“Iya hyung, jangan sungkan-sungkan.” timpal namdongsaengku itu.

Baekhyun terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan aku hanya menyimak pembicaraan mereka dari tempat dudukku. Sampai akhirnya aku dipanggil oleh eomma dan disuruh olehnya mengantarkan Baekhyun ke kamar tamu yang letaknya ada di sebelah kamarku.

Kami berjalan dalam diam. Sampai akhirnya kami sampai dan aku mengucapkan selamat malam kepadanya. Setelah itu, akupun masuk ke kamarku sendiri. Baru saja aku ingin menghempaskan tubuhku di kasur, pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Byun Baekhyun.

“Ada apa? Aku sudah mengantuk,” ujarku beralasan sambil menggaruk-garukkan kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

“Bisa kupinjam bajumu?”

“Maksudmu… kau ingin meminjam baju yeoja?” tanyaku tidak percaya.

“Bu-bukan… tapi baju selain itu.”

Aku tidak bisa menahan tawaku. Baekhyun yang menjadi objek tertawaanku kini hanya memasang wajah jengkelnya. Setelah beberapa menit aku tertawa, akupun berhenti kemudian menatap Baekhyun sambil tersenyum polos. Ia kemudian membalas senyumku sambil mengacak-acak rambutku.

Aku izin sebentar untuk masuk ke kamar. Beberapa menit setelahnya, akupun kembali dengan t-shirt yang sengaja kusimpan karena ukurannya yang terlalu besar. Lagipula modelnya bisa digunakan untuk namja maupun yeoja. Iapun menerimanya dengan senang.

“Kupinjam dulu ya,” ucapnya dan aku hanya mengangguk.

“Selamat tidur.” lanjutnya sambil tersenyum dan kemudian kembali ke kamarnya.

Keesokan harinya…

Aku baru saja selesai membuat sarapan. rencananya, setelah ini aku akan ke kamar Baekhyun untuk membangunkannya sekaligus memberikannya sarapan. Dua potong sandwich dan segelas susu.

Ia sudah tidak ada di tempat tidurnya saat aku masuk. Mungkin sedang menikmati udara pagi di balkon. Begitulah yang ada di dalam pikiranku. Akupun segera meletakkan nampan berisi sandwich dan segelas susu itu ke atas melja yang berada di sebelah tempat tidur. Namun, ada suatu hal yang membuatku kaget saat aku berniat untuk keluar dari kamar tamu tersebut.

“Ahhh!” seruku yang sedetik kemudian sudah terduduk karena kaget. Di pintu kamar, tengah berdiri Baekhyun yang kini sedang menggosok-gosokkan handuknya ke rambutnya yang masih setengah basah. Aku hanya bisa menganga melihat tubuhnya yang memang hanya mengenakan celananya saja.

“Maaf, aku akan berangkat ke kampus sekarang.” ucapku beralasan dan hendak meninggalkan tempat itu.

Baru selisih satu langkah dari dirinya, tubuhku sudah ditarik ke dalam pelukannya. Dalam pelukannya, ia mencium bibirku lembut. Ini yang kedua kalinya ia melakukan hal itu. Tapi, aku masih kaget akan hal yang ia lakukan.

“Morning kiss,” ujarnya sambil terkekeh pelan.

Aku hanya bisa menutup wajahku yang kurasa sudah memerah sekarang. Aku benar-benar tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak seperti itu dari Baekhyun.

“Jangan berangkat sendiri, kau dan aku bisa berangkat bersama.” tawarnya.

“Hanya dalam mimpimu!” seruku membalas tawarannya dan kemudian pergi dari hadapannya untuk bergegas pergi ke kampus.

A Few minutes later…

“Jinri-ya, kau mau pergi ke kampus sekarang?” tanya Eomma dari dapur yang sepertinya sedang mencoba menu masakan terbaru yang ia lihat di televisi.

“Pergi ke kampus,” jawabku sambil mengikat tali sepatu tanpa melihat ke arahnya.

“Tidak bersama dengan Baekhyun? Bukannya dia itu pacarmu?”

“Aku tidak akan berpacaran dengan namja mesum seperti dia! Sudahlah Eomma, aku bernagkat dulu ya!” seruku yang kemudian langsung mengendarai sepedaku menuju kampus. Meninggalkan si namja mesum itu dan Eomma yang sepertinya bingung dengan perkataanku barusan.

At Campus…

Aku sudah terlihat seperti singa yang ingin memakan mangsanya. Aku sedang berada di depan ruangan yang dimiliki oleh grup sinting itu. Dengan bekal surat tagihan, aku benar-benar ingin menempelkan surat tersebut tepat di keningnya. Aku tidak akan membiarkan namja itu bahagia!

Namun, sudah beberapa menit aku menunggu, ruangan itu tidak ada perubahan. Selalu terlihat sepi. Bahkan sangat sepi. Aku dikagetkan oleh sentuhan di bagian pundakku.

“Yaaaak! Kau ini!” teriakku yang reflek memukul tangannya yang tadi menyentuhku. Orang itu adalah Baekhyun.

“Kenapa kau meninggalkanku?” tanyanya tanpa peduli dengan diriku yang sudah menatapnya dengan tatapan seolah aku akan menerkam dirinya.

“Suka-suka aku dong. Memangnya, aku siapamu harus menunggumu begitu?”

“Pacar,” jawabnya singkat sambil terkekeh. Namun kekehannya berhenti karena kini ia malah berteriak kesakitan.

“Jangan asal bicara!”

“Bilang saja kau mau,” ujarnya sambil mencolek daguku.

“Eh, apa itu? Coba kulihat!” ia mencoba mengambil selembar kertas yang merupakan surat tagihan dari Kris. Tapi aku selalu menghalanginya.

“Kau tidak boleh melihatnya!” ucapku kesal sambil memasukkan surat tersebut ke tas dengan tergesa-gesa.

Aku meninggalkan Baekhyun untuk yang kedua kalinya hari ini.

“Jinri-ya!” panggil suara yang familiar di telingaku. Sehingga, akupun membalikkan badan.

“Hanmi!” teriakku histeris dan langsung menghampiri dirinya.

Akupun melihat Hanmi dari atas sampai bawah. Aku dapat menyimpulkan sesuatu dari apa yang kulihat.

“Kau kini kuliah di sini?” tanyaku padanya dan ia tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.

“Kau ingin pdkt dengan Sehun lagi ya?” godaku. Dapat kulihat raut wajahnya yang kini sama dengan warna kepiting rebus.

“Jangan bicara seperti itu. Aku kan jadi malu. Kajja kita ke kelas!” ajaknya.

“Mwo? Kau mengambil kelas hukum?”

“I… Iya, kalau cuma setengah-setengah usahanya, pasti akan sia-sia.” jelasnya sambil tersenyum. Ya, senyuman yang membuatku menatapnya ngeri.

“Baiklah.” Kamipun berjalan menuju kelas kami bersama-sama.

Aku yang hanya selisih beberapa langkah di belakang Hanmi hanya bisa melihatnya berubah menjadi kaku layaknya patung.

“Hanmi-ya, gwaenchanayo?” tanyaku, namun ia tidak menjawab.

Tas yang ia kenakan serta beberapa buku yang ia bawa jatuh berantakan. Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam pikiranku dengan apa yang membuat Hanmi seperti ini?. Akupun berdiri sejajar dengannya dan menemui apa yang membuatnya berubah seperti itu.

– oOo –

|| T.O || B.E || C.O.N.T.I.N.U.E ||

– oOo –

Iklan

31 pemikiran pada “When I’m Become a Yeoja (Chapter 6)

  1. Maaf ya kak author baru komen di chap ini. Mianhamnida *bow.
    Ahh ceritanya seruuuu !! >.<
    Kak author pliss lanjutkan ceritanya keren pake banget !!!
    Kak author saranghamnida !!

    Keep writing kak author !!
    fighting fighting fighting !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s