Absolutely Yours (Chapter 1)

kai sulli poster ff - absolutely yours

Title     : Absolutely Yours (1.3)

Author : LNara

Main Cast :

  • EXO Kai as Kim Jongin/Kai
  • F(x) Sulli as Choi Sulli

Support Cast :

  • SNSD Hyoyeon as Hyoyeon
  • SHINee Taemin as Lee Taemin

Length : Trilogy

Genre : Romance, Friendship

Rating : General

A/N:

Hai~! Langsung aja. HAPPY READING! ENJOY~~ Jangan lupa komen! ^^v (FF ini pernah di publish di wp ku: yummyfict.wordpress.com. Main-main kesana, ya! XD )

.

.

                                                                        .

‘Cobalah jujur pada diri sendiri meski hanya satu kali’

(Satsuki Noda – Namida Usagi Vol. 9)

.

.

 

 

 

 

KAI POV

“Kai-”

“….”

“Kaaai!-”

“….”

“Yaa! KAI!”

“….”

“KIM JONGIN!!”

“Ah, ne? Waeyo, Noona? Tidak usah teriak-teriak begitu, dong. Aku dengar, kok!”

Wajah cemberut Hyo Noona, Kakak perempuan yang lebih tua dua tahun dariku, terpampang jelas dihadapan wajahku. Malahan sekarang bertambah masam.

“Dengar apanya!” Hyo Noona memukul kepalaku dengan penggaris panjang yang dipegangnya, “Aku memanggilmu dari tadi, tahu! Dasar tukang melamun!”

“Aish! Noona, appo!”

Aku mengusap kepalaku pelan. Sementara Hyo Noona menghempaskan tubuhnya disebelahku, diatas sofa empuk berwarna krem. Tangan kiri Hyo Noona mendekap banyak sekali kertas. Entahlah, jangan tanya aku. Karena aku juga tidak tahu kertas-kertas apa yang dibawanya. Sedangkan tangan kanan Hyo Noona menggenggam sebuah penggaris yang tadi digunakannya untuk memukul kepalaku.

Mulut Hyo Noona bersenandung kecil. Dia tampak asyik sendiri dengan kertas-kertas dan penggaris yang ia bawa. Seakan melupakanku yang berada di sampingnya.

“Noona, kertas-kertas apa itu?” Tanyaku ingin tahu. Mulut Hyo Noona berhenti menyenandungkan lagu. Ia menatapku sebentar, lalu merubah posisinya menjadi berhadapan denganku.

“Ini…surat cinta” Bisik Hyo Noona, lantas tertawa. Aku membelalak.

“Su-surat cinta?”

“Ne!” Hyo Noona mengangguk, “Aku menemukan ini semua di dalam lokerku kemarin”

“La-lalu…Noona mau membacanya satu persatu? Dengan jumlah yang sebanyak itu?”

“YAA!” Penggaris panjang di tangan Hyo Noona kembali mengenai kepalaku, “Bagaimana mungkin aku bisa membaca semuanya? Membaca satu saja rasanya mual sekali”

“Lalu, mau diapakan?”

“Kau tahu sedikit lagi akan diadakan festival budaya, kan?”

Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

“Aku ingin menjadikan kertas-kertas ini kerajinan tangan daur ulang! Bagaimana? Bukankah itu ide yang bagus?” Hyo Noona menatapku dengan ceria, lalu mulai menyenandungkan sebuah lagu lagi. Sementara aku menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin Noonaku satu-satunya ini punya ide gila semacam itu?

“Noona… tapi, apakah hasilnya akan…”

“Yaa.. jangan khawatir..” Hyo Noona menghela nafas sejenak, “Kau akan melihatku sebagai pemenangnya nanti. Tenang saja!”

Aku menghembuskan nafas. Ya, terserahlah. Hyo Noona memang kadang punya ide yang aneh-aneh. Aku menyandarkan kepala dengan kedua tangan sebagai bantalan. Hari libur begini memang enak sekali digunakan untuk tidur-tiduran di rumah.

“Yaa, Jongin-a..”

Aku menoleh begitu mendengar suara Hyo Noona.

“Ne?”

“Cepatlah cari pacar”

“M-MWO?” Seketika aku merasa seperti tersedak. Aneh, padahal aku sedang tidak minum atau makan apapun.

“Kau kenapa, eoh?” Hyo Noona menatapku bingung, “Ada yang aneh dengan perkataanku?”

“Soal kata-kata Noona tadi…ma-maksudnya apa?”

“Jadi kau tidak mengerti?”

Aku terdiam sejenak, lalu dengan ragu menggeleng.

“Aigooo” Hyo Noona meletakkan tumpukan surat cinta yang sebagian telah berubah bentuk, “Maksudku, kau cari yeoja yang kau sukai, setelah itu jadikan dia pacar! Arraseo?”

“Memangnya harus?”

“OMONA, KIM JONGIN!”

Penggaris panjang Hyo Noona sukses mendarat di kepalaku untuk yang ketiga kali. Aku hanya meringis sambil mengusap kepalaku. Kenapa Hyo Noona marah? Memangnya kata-kataku salah?

“Kau membuatku pusing, Jongin-a!” Hyo Noona meraih tumpukan surat cintanya, lalu bangkit dari duduk.

“Noona, mau kemana?” Aku menahan lengan kanan Hyo Noona.

“Kemana saja, asalkan bukan disini! Aigoo, apa yang terjadi pada dongsaengku?”

Aku menatap heran Hyo Noona yang berjalan pergi sambil sibuk mengoceh sendiri. Bukankah justru kelakuan Hyo Noona yang aneh? Aku berdecak. Biar sajalah.

Drrt..drrt

Aku mengambil ponselku yang tergeletak diatas meja kecil disamping sofa yang sedang kududuki.

One message received.

From: Sulli

Subject: KAI!!

Kai, temani aku beli hadiah untuk ulang tahun Eomma, ya. Bagaimana? Kalau kau setuju, jam 3 sore aku tunggu di halte biasa ^^

P.S: Aku tidak ada teman -_- Krystal pergi dengan Eonninya.

            Aku tersenyum. Bagaimana bisa aku menolak?

*

AUTHOR POV

“Kai, kau telat!”

Seorang gadis dengan blouse panjang berwarna biru dan rambut yang di ikat kanan kiri merengut sebal ke arah Kai yang baru datang sambil berlari-lari.

“Mianhae, Sulli-ya. Tadi aku..”

Tiba-tiba gadis bernama Sulli itu tertawa. Membuat Kai menatapnya bingung.

“Kai, kau pikir aku benar-benar marah?”

“Jadi, kau…?”

Sulli tertawa lagi, “Tentu saja, tidak! Paboyaa!”

“YAA! Kau sebut aku apa tadi?”

“Aku hanya bercanda, Kai” Sulli meleletkan lidahnya. “Tapi harus ada hukuman untuk ketelatanmu”

“Mwoya?” Kai menatap Sulli sebal, “Hukuman apa?”

“Eum.. traktir aku makan sandwich dan minum kopi di Handel & Gretel Café, ya?”

Kai memutar matanya, “Arraseo. Lalu sekarang kita mau kemana?”

“Ah, iya!” Sulli menepuk keningnya. “Besok Eomma ulang tahun. Setelah beli hadiah, baru kita ke Handel & Gretel, ottohke?”

“Ne, arraseo..arraseo”

“Jangan lupa, kau yang traktir!”

“YAA!”

*

Handel & Gretel Café, 16:45 KST

“Ne, Gamsahamnida”

Sulli tersenyum ramah dan mengangguk sedikit kepada seorang pelayan Handel & Gretel yang baru saja mengantarkan pesanannya dan Kai, satu sandwich isi tuna dan dua iced moccacino. Gadis itu segera menyeruput iced moccacino yang ia pesan sambil tersenyum cerah.

“Kai, kau tidak pesan makanan?”

Kai menggeleng, “Aku tidak lapar”

“Geurae?” Sulli tertawa, membuat Kai menatapnya bingung. “Bukan karena mentraktirku, kan?”

“Itu salah satu penyebabnya juga, sih”

“YAA!” Sulli menepuk pelan lengan Kai, lantas cemberut pura-pura marah. Membuat Kai tersenyum geli melihat tingkah gadis yang telah bersahabat dengannya sejak umur 7 tahun itu.

Kai dan Sulli. Keduanya mulai saling mengenal sejak 18 tahun yang lalu, saat keduanya sama-sama duduk di kelas dua sekolah dasar. Mereka sama-sama suka menari, yang membuat mereka mendaftarkan diri ke sebuah akademi dance yang sama, dan sering membuat berbagai video dance cover. Entah hal apa yang pertama kali membuat keduanya menjadi dekat. Yang sama-sama mereka tahu, bahwa mereka bersahabat dan merasa nyaman satu sama lain.

“Kai? Kau mendengarku?”

Sulli melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Kai. Membuat namja itu terlempar keluar dari lamunan sesaatnya.

“Ah, ne. Tentu saja”

Sulli tersenyum jahil, “Bohong. Kau pasti tidak tahu kalau sandwich tunaku sudah hampir habis”

Kai tergeragap sesaat, lalu nyengir lebar. Perkataan Sulli sesungguhnya memang benar. Walaupun raganya ada di hadapan Sulli, tapi pikiran namja itu tidak. Pikirannya melayang-layang kembali pada berbagai kenangan indah yang ia lewati bersama seorang Choi Sulli. Kai tidak tahu apa yang ia rasakan, tapi ia selalu senang berada di dekat Sulli. Rasanya berbeda saat ia dekat dengan yeoja lain. Perasaan nyaman dan hangat yang menyelubungi hatinya. Membuat Kai menjadikan Sulli sebagai yeoja yang selalu mendapat tempat khusus selama 18 tahun ia hidup.

Kai menyukai Sulli? Mana mungkin! Meski pertanyaan itu sering berkelebat dalam pikiran Kai, tapi ia segera menepisnya jauh-jauh. Mereka bersahabat baik. Tidak lebih.

“Kai, kau tahu Lee Taemin, tidak?” Sulli membuka pembicaraan. Kai terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Lee Taemin, sunbae mereka di SMA dan akademi dance, partner dance paling menyenangkan bagi Kai, setelah Sulli tentunya. Mana mungkin Kai tidak kenal?

“Kudengar dia diterima audisi di SM Entertainment. Memangnya ada apa dengannya?”

Pipi Sulli mendadak memerah, “Dia meneleponku kemarin”

Kai mengerutkan dahi, “Untuk apa?”

Sulli dan Taemin memang saling kenal, tapi tidak terlalu dekat. Setidaknya itu yang Kai perhatikan dari keduanya selama ini.

“Dia memberi tahuku soal dirinya yang diterima audisi SM Entertainment, lalu…”

“Lalu?”

“Taemin Oppa mengajakku berkencan hari minggu nanti”

“AP-APA?” Tanpa sadar kedua tangan Kai menggebrak meja café tempat keduanya duduk. Membuat beberapa pengunjung dan pelayan memperhatikan mereka.

“Ssst.. Kai! Kau kenapa, sih? Malu tahu!” Bisik Sulli sebal. Gadis itu benar-benar kaget dengan reaksi Kai yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Kenapa harus pakai menggebrak meja segala, sih?

“Mi-mianhae” Kai menunduk malu. Namja itu menghela nafas dalam, mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Entahlah, tapi Kai merasa tidak senang gadis di hadapannya ini berkencan dengan Taemin. Dan- hey! Sejak kapan Sulli mulai memanggil Taemin dengan sebutan ‘Oppa’? Padahal Sulli tidak pernah memanggilnya begitu. Memang, umur mereka hanya bertaut tiga bulan, tapi kan…

“Lalu bagaimana?”

“Apanya?” Tanya Sulli heran.

“Kau menerima tawaran itu?” Kai balik bertanya. Mudah-mudahan jawabannya bukan…

“Ne! Aigooo, Kai! Aku saaangat bahagia! Rasanya benar-benar tidak sabar, aku ingin cepat-cepat hari minggu” Celoteh Sulli riang, tanpa menyadari perubahan ekspresi namja yang duduk berhadapan dengannya.

“Sulli-ya, kau…menyukai Taemin Hyung?”

Sulli terdiam sejenak, menatap bola mata Kai dalam-dalam. Beberapa detik kemudian, ia tertawa. Menunjukkan senyuman lebar yang paling Kai sukai.

“Sepertinya, sih”

“Sepertinya?”

“Kai, kau tahu? Sejak dulu aku mengagumi Taemin Oppa. Caranya menari, kehebatannya dalam pelajaran matematika, sifatnya yang supel dan ramah, senyumnya, ah! Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Dan tanpa kusadari, aku menghubunginya beberapa minggu yang lalu. Awalnya aku ragu dia akan membalas email yang kukirim saat itu. Tapi dia membalasnya, Kai! Sejak saat itu kami…”

Kai mengalihkan pandangannya. Fakta apa ini? Kenapa banyak yang ia tidak tahu tentang Sulli? Gadis itu…menyukai Taemin?

“Tapi tenang saja” Sulli menatap Kai lembut. “Kami belum jadian, kok”

Kai melengos. Belum? Berarti tidak menutup kemungkinan, kan?

Sulli membuka mulutnya, kembali berbicara, “Aku tahu kau khawatir aku disakiti Taemin Oppa, kan? Kurasa semua orang tahu jika dia adalah namja yang baik. Jadi tidak usah terlalu khawatir, eoh?”

Kai menatap Sulli. Gadis itu tersenyum, kelihatan sangat bahagia. Tanpa sadar Kai mengangguk dan ikut mengguratkan senyuman di wajahnya.

“Kurasa…aku memang terlalu khawatir, Sulli-ya. Mianhae”

***

KAI POV

“Darimana saja?”

Hyo Noona mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang ia baca saat aku memasuki ruang tamu.

“Menemani Sulli beli hadiah untuk Eommanya” Aku melepas jaket hijau tua yang kupakai saat pergi tadi. Meletakkannya di gantungan jaket yang terletak di pojok ruangan.

“Sulli? Maksudmu Choi Sulli?”

Aku mengangguk, “Ne, waeyo Noona?”

“Ah, tidak. Sulli gadis yang manis, ya? Sepertinya cocok untukmu”

Deg.

Aku menghela nafas. Seketika bayangan Sulli bercerita tentang kekagumannya terhadap Taemin Hyung, wajahnya yang begitu bahagia saat bercerita melintas dalam ingatanku. Aku benci mengingatnya.

“Kalian kan, teman sejak kecil. Kau tak pernah merasa tertarik padanya?”

“Kami hanya bersahabat, Noona. Lagipula…”

“Lagipula?” Hyo Noona membeo, menunggu kelanjutan kata-kataku.

“Ah! Lagipula dia temanku sejak kecil. Masa semudah itu aku menjadikannya pacar?” Aku duduk di depan televisi, mengganti-ganti channel tanpa niat menonton sedikitpun. Sebenarnya aku berusaha menyembunyikan wajah kikukku dari Hyo Noona. Tapi sepertinya Noonaku itu bisa membaca apa yang kupikirkan.

“Jongin-a, biar kutebak. Choi Sulli menyukai namja lain. Aku benar, kan?”

Tuh, kan. Tebakan Hyo Noona seratus persen benar.

“Eum.. ani. Dia tidak menyukai siapapun”

“Jangan bohong padaku” Hyo Noona menyeringai, membuatku bergidik. “Kau tidak pandai berbohong, adikku Kim Jongin”

Baiklah, aku menyerah.

“Ne, Sulli menyukai Taemin Hyung. Mereka akan berkencan hari minggu nanti”

“Jinjja?” Hyo Noona membulatkan matanya. “Aish! Kau ini bagaimana, sih? Kenapa bisa keduluan? Tapi.. kalau dipikir-pikir Lee Taemin memang manis, sih”

“YAA! NOONA!”

Hyo Noona tertawa. Kedua kakinya melangkah menuju kalender yang tergantung di dinding. “Hari minggu, ya? Aku juga akan berkencan, sih. Hmm.. susah juga kalau begini”

“Noona? Kau akan berkencan dengan siapa?” Aku menatap Hyo Noona penuh curiga. Ya ampun, Noonaku berpacaran? Kenapa aku tidak tahu?

“Eh? Kau belum tahu, ya?” Hyo Noona balik bertanya sambil tersenyum. Menambah kecurigaanku, “Aku baru jadian seminggu yang lalu dengan Lee Hyukjae. Kau ta-”

“LEE HYUKJAE? Aish! Kenapa Noona tidak memberitahuku?”

“Ehehe, mianhae, Jongin-a. Habisnya kau..”

“Sudahlah” Aku melempar remote televisi dengan asal. “Aku ke kamar dulu, Noona”

“Yaa! Jongin-a? Ada apa denganmu?”

Aku tidak mempedulikan panggilan Hyo Noona dan terus melangkah menaiki tangga menuju kamarku di lantai atas. Apakah aku marah karena Hyo Noona berpacaran dengan Hyukjae Hyung? Tidak, itu sih urusan mereka. Aku tidak berhak mengatur. Lagipula Hyukjae Hyung, sunbaeku di SMA, terkenal sebagai pria yang baik. Kurasa cocok dengan Noonaku. Lalu apa yang membuatku marah? Tidak tahu. Aku sendiri bahkan tidak tahu.

‘Kai, kau tahu? Sejak dulu aku mengagumi Taemin Oppa’

Aish! Kenapa aku serasa ingin meledak saat mengingat apa yang diucapkan Sulli tadi?

***

Tok tok

Aku membuka mata, lalu mengerjap perlahan. Ah, jam berapa sekarang? Aku ketiduran rupanya.

Tok tok

“Jongin-a? Kau masih tidur?”

Suara Hyo Noona terdengar di balik pintu kamarku. Rasanya tadi aku telah berlaku kurang pantas pada Hyo Noona. Membanting remote televisi dan meninggalkan Hyo Noona dengan wajah kusut. Bahkan aku tidak mempedulikan seruan Hyo Noona yang memanggilku.

Aku beranjak dari tempat tidur. Melangkah cepat menuju pintu, memutar handelnya perlahan, lalu….

“Jongin-a! Maafkan aku..”

Aku terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari Hyo Noona. Astaga, harusnya aku yang minta maaf!

“Noona, kau tidak salah. Aku minta maaf karena-”

“Aniyo. Aku khawatir sekali. Kau tidak marah, kan?”

Aku melepaskan pelukan Hyo Noona, “Ya ampun, aku bahkan tak punya alasan untuk marah pada Noona”

“Bukan karena aku berpacaran dengan Hyukjae?”

“Noona berpikiran begitu?” Aku tertawa, membuat Hyo Noona memanyunkan bibir, “Aku malah merasa bersalah karena belum memberikan selamat pada kalian! Noona, chukkaeyo!”

Hyo Noona kembali memelukku. Ah, apa yang sudah aku perbuat pada satu-satunya anggota keluarga yang tersisa dalam hidupku ini? Padahal, dulu saat pemakaman Eomma dan Appa, aku sudah berjanji tak akan berlaku kasar pada Hyo Noona.

“Jongin-a, Sulli dan Taemin belum jadian, kan?”

Aku terkesiap mendengar pertanyaan Hyo Noona, “Eh? Eum.. belum”

“Kalau begitu, nyatakan perasaanmu pada Sulli. Secepatnya”

Deg.

“Noo-noona? Tapi aku.. dan Sulli.. kami..”

“Jongin-a, jujurlah. Kau menyukai Sulli, kan?”

“……”

“Pahami perasaanmu sendiri, Jongin-a. Sudah kubilang kan, kau tak pandai berbohong?”

Aku terdiam. Kata-kata Hyo Noona berputar-putar dalam pikiranku. Benarkah aku menyukai Sulli? Jadi perasaan yang selalu meluap-luap saat mengingat Sulli namanya adalah ‘suka’?

Hyo Noona menepuk bahuku dan tersenyum, “Rasa sakit karena di tolak bahkan tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit ketika melihat orang yang kau sukai bahagia bersama orang lain. Sedangkan kau tidak melakukan apapun untuk memperjuangkannya”

Aku menatap Hyo Noona. Sial, kenapa yang dikatakan Hyo Noona semuanya benar?

“Jongin-a! Fighting!!!”

Baru kali ini aku mendapat suntikan semangat yang begitu besar, membuatku tak sabar untuk segera menemui Sulli. Mudah-mudahan ini benar. Mudah-mudahan semua langkah yang akan kuambil adalah benar.

***

Part 1 nya kenapa jadi gaje beginiiiii? >< apalagi bagian akhirnya. Mudah-mudahan masih ada yang minta kelanjutan part 2 nya *merasa hopeless*. Eh iya, Kai sama Hyoyeon mirip gak, sih? Ahahaha. Aku cuma nyari yang marganya sama, dua-duanya suka ngedance. Dapetlah Kim Jongin dan Kim Hyoyeon~ *digetok* yaudahlah ya, anggap aja mirip 😉 Sampai jumpa di Part 2!! Wush! *Ceritanya menghilang*

20 pemikiran pada “Absolutely Yours (Chapter 1)

  1. ff nya daebakk ..
    ijin copas bagian ini ya aku suka kata2nya ‘“Rasa sakit karena di tolak bahkan tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit ketika melihat orang yang kau sukai bahagia bersama orang lain. Sedangkan kau tidak melakukan apapun untuk memperjuangkannya”
    tapi atas nama ff ini kok .. gomawo 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s