Absolutely Yours (Chapter 2)

Title     : Absolutely yours  (2.3)

Author : LNara

Main Cast :

  • EXO Kai as KimJongin/Kai
  • F(x) Sulli as ChoiSulli

Support Cast :

  • SNSD Hyoyeon
  • SHINee Taemin as LeeTaemin
  • F(x) Krystal

Length : Trilogy

Genre : Romance, Friendship

Rating : General

A/N:

Annyeoooong! Adakah yang masih inget ff ini? *seketikahening*. Selamat menikmati part 2!! Warning: Kegajean cerita bertambah 90%. HAPPY READING~!! ((FF ini pernah di publish di wp ku: yummyfict.wordpress.com. Main-main kesana, ya! XD )

kai sulli poster ff - absolutely yours

.

.

‘Aku berkata seperti semuanya biasa saja. Tapi ada yang muncul di kepala, lalu hilang, terbayang lagi, dan hilang lagi. Sebuah perasaan yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Membuat kepedihan jadi susah dikendalikan’

 

(TakahiroNarumi – Namida UsagiVol. 9)

.

.

            “Besok? Jam berapa?”

“Jam 3 sore. Kau bisa?”

“Hmm.. ah, mianhae. Besok sore aku ada les piano”

“Lalu, kapan kau bisa?”

“Entahlah. Mungkin hari sabtu”

“Hari sabtu?”

“Ne.Senin sampai jumat aku ada les sampai malam”

“Baiklah. Nanti kutelepon lagi. Kututup, ya”

“Ne”

*

 

KAI POV

 

Aku mempercepat langkah menuju apartment. Sejak jam pelajaran terakhir tadi, HyoNoona meneleponku terus-terusan. Yang membuatku penasaran, HyoNoona tidak mau memberi tahuku apa yang membuatnya menelepon. Aku hanya disuruh pulang cepat, itu saja. Mudah-mudahan tak ada hal buruk yang terjadi pada HyoNoona. Dan mudah-mudahan juga, aku tidak menjadi korban kejahilan Noonaku itu hari ini.

Aku memasukkan magnetic card sebagai pengganti kunci apartment. Magnetic card itu ada dua, masing-masing dipegang olehku dan HyoNoona.

“Aku pulaaang! Noona? Kau dimana?”

Sepi. Aku berputar-putar ke seluruh penjuru ruangan apartment mencari sosok HyoNoona, tapi hasilnya nihil. Noonaku tidak ada dimanapun. Sial, sepertinya firasatku benar. Aku dikerjai. Dengan malas-malasan aku melangkahkan kaki menuju kamarku. Satu-satunya ruangan yang tadi belum kumasuki untuk mencari HyoNoona. Hey! Jangan-jangan…

Kreek

            “KEJUTAN!! KIMJONGIN, SARANGHAEYOOO!!”

Aku terkejut setengah mati. Begitu pintu kamarku terbuka, HyoNoona menghambur kearahku sambil berseru kencang. Kamarku pun kini dihiasi pita warna-warni. Lho, tanggal berapa sekarang? Bukankah ulang tahunku sudah lewat?

“Jongin-a! Kau tidak membalas ucapanku?”

“Ucapan…yang mana?”

“KimJongin, saranghaeyo!”

Aku tersenyum lebar, “Nado saranghaeyo, Noona. Tapi hari ini, kan bukan ulang tahunku”

HyoNoona tertawa, menepuk bahuku berulang kali. “Memangnya siapa yang merayakan ulang tahunmu, eoh?”

“Ta-tapi kamarku…pita-pita ini…”

“Tadaaa!” HyoNoona menyodorkan sebuah brosur berwarna biru cerah. Sepertinya brosur tempat wisata. Aku mengambil brosur tersebut dari tangan HyoNoona, membacanya sekilas, lalu menatap HyoNoona bingung.

“Noona, kau mau pergi ke pulau Jeju?”

“Ne!” AnggukHyoNoona bersemangat, “Bukan hanya aku, tapi Hyukjae dan keluarganya juga”

Aku tercengang mendengar kata-kata yang terlontar dari HyoNoona barusan. SementaraHyoNoona memandangku sambil senyam-senyum.

“Noona? Omonaa! Chukkae!”

Aku memeluk HyoNoona erat. Rasanya senang sekali melihat Noonaku satu-satunya ini telah menemukan kebahagiaannya sendiri.

“J..jong..in..-aaah..aku..t..tida..k..bis..aah..bern..nafassh..”

“Ah, mianhae Noona” Aku melepas pelukanku, yang langsung membuat HyoNoona memukul lenganku gemas.

“Aku bisa mati lemas jika kau peluk seperti tadi, pabo!”

Aku hanya bisa memamerkan cengiran lebar sekaligus memasang wajah tanpa dosa.

“Jadi, kapan Noona akan berangkat?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Hmm.. Hyukjae bilang lusa”

Lagi-lagi aku tercengang, “Jinjja? Cepat sekali!”

“Molla” JawabHyoNoona sambil mengangkat kedua bahunya, “Ah, berhubung aku sedang bahagia hari ini, bagaimana kalau kita makan malam di luar? Biar aku yang traktir”

“Yak! Setujuuu!” Aku segera melempar tas ransel yang masih tersampir di bahuku, lalu segera menarik tangan HyoNoona.

“Yaa! Jongin-a! Aku tidak mau makan malam dengan namja bau! Sana, bersihkan dulu tubuhmu!!”

 

*

AUTHOR POV

 

“Sulli-ya, kau belum pulang?”

Gadis tinggi berambut panjang sebahu itu menoleh, lantas tersenyum. Wajahnya sedikit pucat. Sepertinya ia terlalu lelah.

“Menunggu hujan reda. Lagipula tadi Eommaku bilang akan datang menjemput”

“Ooh, kalau begitu aku duluan, ya! AnnyeongSulli-ya!”

“Ne, annyeong!” Sulli melambai pelan sambil tetap tersenyum. Satu persatu teman-teman les pianonya telah pulang. Beruntung hujan yang sedari tadi begitu deras mengguyur kotaSeoul, akhirnya reda. Menyisakan titik-titik air yang menggantung di ujung atap tempat Sulli berteduh. Gadis itu melihat kembali jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Hampir pukul sembilan malam.

“Eomma.. kenapa belum datang?” GumamSulli pelan, sangat pelan hingga nyaris seperti berbisik. Suasana di sekitar situ mulai sepi. TubuhSulli menggigil perlahan. Jemari kurusnya menekan speed dial 1 di ponselnya. Meski berulang kali terdengar nada sambung ‘tuut-tuut’ yang menandakan sambungan telepon, tapi panggilan itu tak kunjung terjawab. Sulli mengulang kembali panggilan ponselnya. Tapi hasilnya sama saja.

Ia mendesah keras. ChoiSulli pabo! Kenapa begitu pelupa hingga tidak membawa uang sepeserpun? Percuma jika Sulli naik bus, ia tidak akan bisa membayar. Sebuah pilihan lain melintas dalam pikiran Sulli. Jalan kaki? Ah, Sulli akan melakukannya jika ia tahu rute yang harus ia tempuh. Sayangnya tidak.

Sulli kembali mencoba melakukan panggilan ke ponsel Eommanya. Nihil. Ke ponsel Appanya. Sama saja. Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan semua orang? Apa mereka lupa bahwa Sulli masih ada disini sendirian?

Tiba-tiba Sulli teringat sesuatu. Mungkin kali ini bisa membantu.

JemariSulli menekan speed dial 3 di ponselnya. Kembali terdengar nada sambung ‘tuut-tuut’. Ayolah, kali ini harus berhasil.

“Yeoboseyo?”

Gadis itu hampir terlonjak begitu mendengar sebuah suara yang menjawab panggilannya. Sulli tahu pemilik suara ini memang bisa diandalkan.

“To-tolong aku…Kai”

 

*

            Kai tercekat mendengar sebuah suara yang tersambung dengannya melalui panggilan telepon. Suara itu terdengar sangat lemah, tanpa tenaga sedikitpun.

“Yeo-yeoboseyo? Sulli-ya? Apa yang terjadi?!”

“Kai..tolong aku… aku takut”

HatiKai berdesir kencang. Bayangan hal-hal buruk segera berkelebat dalam pikiran namja itu. Ia harus menyusul Sulli.

“Sulli-ya, tenanglah. Aku akan segera kesana-”

“Hiks..”

Kai kembali tercekat mendengar suara isakan samar. Gadis itu menangis? Kai harus kesana sekarang juga.

“Sulli-ya, kau menangis? Tenanglah, aku menjemputmu sekarang!”

Tuut..tuut..

Kai memasukkan ponselnya asal ke saku celana. Pikirannya hanya satu. Sulli.

“Jongin-a? Apa yang terjadi?” TanganHyoyeon menahan lengan kanan Kai. Membuat gerakan namja itu terhenti sesaat.

“Noona, maaf aku harus pergi sekarang. Sulli membutuhkanku. Sekali lagi maaf, tidak bisa menemanimu sampai selesai”

Setelahnya, Kai segera melesat meninggalkan kedai ramen tempatnya dan Hyoyeon makan malam. Hyoyeon menatap punggung Kai yang semakin menjauh dengan tatapan khawatir.

“Jongin-a, hati-hatilah” GumamHyoyeon pelan. Sejenak kemudian ia tersenyum tipis. Semoga kejadian ini bisa membantu mendekatkan perasaan keduanya.

*

            Sulli menggigil kedinginan. Tubuhnya terasa lemas sekali. Untuk sekedar bangun berdiri saja rasanya tidak kuat. Gadis itu duduk meringkuk sambil bersedekap menahan hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk tulang. Sulli tiba-tiba ingat ia belum makan apapun sejak siang tadi. Benar-benar bodoh. Sekarang harapannya tinggal menunggu-

“ChoiSulli? Itukah kau?”

TelingaSulli menangkap sebuah suara. Ia kenal suara ini. Bukan, ini bukan suara Kai. Ini suara…

“Astaga, apa yang terjadi padamu?! Aigoo, badanmu panas sekali!”

Sulli merasa sangat pusing. Dengan sisa-sisa kekuatan tubuhnya, gadis itu mendongak. Berusaha mencari tahu siapa yang berada dihadapannya. Sedetik kemudian ia terkesiap.

“Op-oppa?”

Seorang namja berambut kemerahan menatap Sulli dengan cemas. Sulli benar-benar tidak pernah membayangkan akan bertemu namja yang sangat dikaguminya di saat-saat seperti ini.

“Omona! Kau mimisan, Sulli-ya!”

MataSulli melebar. Benar, perkataan namja dihadapannya ini terbukti benar. Tetes demi tetes darah berwarna merah pekat mengalir keluar dari hidung Sulli.

“Aku akan membawamu ke rumah sakit!”

Tangan namja itu dengan cekatan menggendong Sulli di punggungnya, membuat gadis itu kagum. Padahal tangannya kurus sekali, tapi sangat kuat. BibirSulli terbuka, hendak mengucapkan terima kasih sekaligus maaf. Ia merasa sangat merepotkan. Tapi tidak bisa. Sulli terlalu lemah saat ini. Kedua mata gadis itu terpejam.

Ia lupa jika namja ini juga sangat bisa diandalkan.

 

*

SeoulSenior high school, 09:35 KST

 

“Yaa! Kai, kau kenapa, sih? Aku bicaranya disini, bukan disana!”

Dengan gemas Krystal memutar kepala Kai dihadapannya. Tak peduli saat namja itu melihat Krystal dengan tatapan terkejut campur sebal.

“Apa sih? Aku dengar kok, apa yang kau bicarakan!” KilahKai sambil memutar matanya. MembuatKrystal mendengus kesal.

“Kalau begitu, ayo jawab! KenapaSulli absen sejak tiga hari lalu tanpa kabar?”

Kai menatap Krystal dengan malas, “Mana aku tahu? Aku kan, bukan EommanyaSulli”

“Ish, kau ini!” Krystal mendengus lagi, “Kau sahabat dekatnya Sulli, kan? Ayolaaah, tidak mungkin kau tidak tahu!”

Kai mencibir, “Terserahlah. Sudah kubilang kan, aku tidak tahu”

“Huh!” Krystal menghentakkan kakinya kesal, “Yasudah. Dasar menyebalkan”

Kai menatap Krystal yang berbalik pergi sesaat, kemudian menghela nafas. SebenarnyaKai sangat tahu apa yang terjadi pada Sulli. Gadis itu sakit sejak beberapa hari lalu. Itu yang menyebabkannya absen dari sekolah. TapiKai tidak tahu apa yang membuat Eomma Sulli tidak memberi kabar sendiri pada HanSeonsaengnim, wali kelas Kai dan Sulli, seperti yang biasa dilakukannya saat Sulli absen. Kai juga tidak tahu jenis penyakit apa yang menjangkiti tubuh Sulli. Lalu kenapa Kai tidak memberitahu Krystal atau yang lainnya? Penyebabnya adalah kejadian beberapa hari yang lalu. Malam sebelum Sulli sakit seperti sekarang ini.

 

FLASHBACK

 

“Jongin-a? Ah, syukurlah kau akhirnya pulang. Kau sudah mengantar Sulli ke rumahnya?”

“Aniyo, Noona”

“La-lalu? Memangnya apa yang terjadi?”

“Tidak ada”

“Yaaa! Aku tahu ada sesuatu yang terjadi jika sikapmu begitu, Jongin-a. Ayo ceritakan pada Noona”

“Kubilang tak ada yang terjadi, Noona. Sulli sudah baik-baik saja”

“Benarkah?”

“Ne”

“Kau bohong, Jongin-a. Ada sesuatu yang membuatmu bad mood. Iya, kan?”

“Tidak. Aku baik-baik saja”

“Hem… bagaimana kalau kutebak jika sesuatu yang terjadi ini disebabkan oleh… LeeTaemin?”

“…….”

Gotcha! Apa yang terjadi? Kau melihat LeeTaemin memeluk Sulli? atau jangan-jangan kau menyaksikan mereka berciu–”

“NOONA!”

“Makanya, ayo ceritakan!”

“Sebenarnya… saat aku sampai disana Sulli sudah tidak ada, lalu..”

“Waeyo? Bagaimana bisa?”

“Noona, jangan potong ceritaku dulu!”

“Ah, mianhae”

“Aku berputar-putar mencari Sulli, hingga akhirnya aku melihatnya bersama seseorang. Seseorang itu… TaeminHyung. TaeminHyung menggendong Sulli, lalu membawanya pulang dengan mobil. Sulli terlihat bahagia dan nyaman sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat, jadi…aku hanya…”

“Jongin-a, aku mengerti. Tidak usah diteruskan..”

“Noona, dengan begini aku sudah kalah, ya?”

“…….”

 

FLASHBACK END

Drrt..drrt..

Kai mengambil ponselnya yang bergetar. Panggilan dari Hyoyeon.

“Ne, Yeobose–”

“JONGIN-A!!”

Kai sedikit terlonjak begitu mendengar seruan Hyoyeon yang begitu bersemangat. Sejenak kemudian Kai tersenyum. Ia rindu pada Noonanya itu. Sudah tiga hari ini Hyoyeon pergi wisata ke pulau Jeju bersama Hyukjae dan keluarganya.

“Ne, Noona. Apa kabar?”

“Yaa!” Terdengar suara tawa Hyoyeon di seberang sana, “Kenapacara bicaramu jadi aneh begitu, eoh? Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?”

“Aku baik” Jawab Kai singkat.

“Ah, Jongin-a! Es kacang merah di Apgujeong yang kau ceritakan ternyata memang enak sekali!”

“Memang, selain itu harganya juga mu– tunggu dulu. Noona, kau berada di Apgujeong?!”

“Hihihi, ne”

“Ba-bagaimana bisa? Bukankah jadwal kepulanganmu dari pulau Jeju itu besok?”

“Memang benar” SuaraHyoyeon lagi, “Tapi dipercepat karena kedua orangtua Hyukjae, ingin segera memilih perlengkapan untuk penikahanku dan Hyukjae”

“MWO?” Kai merasa seperti tersedak. Noonanya akan menikah?

“Jongin-a? Kau baik-baik saja?”

“NOONACHUKKAEYOOO!!” Kai tersenyum lebar. Rasanya benar-benar bahagia mendengar Noona satu-satunya yang ia punya akan menikah. Itu artinya akan ada seseorang yang menjaga Noonanya dengan sepenuh jiwa, tentu saja selain dirinya.

“Ne, ne. Aku dan Hyukjae sudah memilih undangan pernikahan kami. Nanti aku akan mengirim fotonya ke ponselmu. Sudah, ya. Hyukjae sudah kembali dari toilet. Kami harus pergi ke butik untuk memilih baju pengantin. Annyeong, Jongin-a!”

“Ne.Annyeong, Noona” Kai tersenyum sendiri. Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Ah, ini pasti foto undangan pernikahan yang dijanjikan Hyoyeon tadi pada Kai.

One message received.

Ah, salah. Sebuah pesan biasa. Dari…Sulli?

From: Sulli

Subject: Kai, ini aku.

   Kai, kau hari ini sibuk, tidak? Aku ingin bertemu sepulang kau dari sekolah nanti di taman dekat rumahku. Kau tahu, kan? Ada hal yang ingin kubicarakan. Aku akan menunggumu.

 

*

Kai berjalan sedikit tergesa. Walaupun dengan melihat Sulli akan membuatnya kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, tapi hatinya menuntun kedua kaki Kai menuju satu-satunya taman yang sering dikunjungi Kai dan Sulli semasa kecil. Kai menghela nafas dalam begitu melihat seorang gadis dengan jaket pink tebal tengah duduk di sebuah ayunan sendirian. Gadis itu melamun, tatapannya kosong. Wajahnya juga pucat dan sepertinya ia semakin kurus.

“A-annyeong, Sulli-ya” SapaKai sedikit gugup. Sulli mendongak, sedikit terkejut menyadari kedatangan Kai. Perlahan segurat senyum merekah pada wajah Sulli. tangan kirinya menepuk-nepuk ayunan kosong disebelah ayunan yang ia duduki.

“Annyeong, Kai. Duduklah disini”

Kai menurut. Hening menguasai keadaan ketika Kai selesai menempatkan tubuhnya diatas ayunan dengan nyaman. Tidak biasanya mereka begini. Biasanya, salah satu diantara mereka akan segera memulai percakapan, lalu satunya lagi ikut menimpali, hingga akhirnya terjadilah obrolan yang seru dan hangat.

Tapi kali ini situasinya berbeda.

“Ehm” Sulli berdehem pelan, mencoba memulai. “Kai, maaf aku memanggilmu kesini. Aku tahu kau pasti lelah dan ingin segera istirahat di rumah. Tapi kupikir jika tidak disampaikan sekarang, aku tak akan memiliki kesempatan lagi untuk memberitahukannya padamu”

SejujurnyaSulli terkejut bisa berbicara sepanjang itu hanya dalam dua kali helaan nafas. Apakah ia gugup?

Kai melirik Sulli sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kearah lain dan tersenyum, “Tidak apa-apa. Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?”

Hening lagi sebentar.

“Aku akan pergi ke England besok”

Kai tersentak. Sekarang retina matanya benar-benar menatap Sulli lekat.

“England? Tapi…kenapa?”

Sulli ikut menatap Kai dalam-dalam. Ia tidak ingin Kai tahu hal ini. TapiSulli tidak ingin berbohong pada namja yang selalu mengisi hari-harinya sejak 11 tahun yang lalu, saat pertama kali mereka duduk sebangku di kelas dua sekolah dasar.

“Menurut diagnosa dokter.. aku…mengidap kanker darah. Memang masih dalam stadium rendah. TapiEomma bersikeras untuk segera menyembuhkannya. Eomma memiliki teman seorang dokter yang biasa menangani penyakit seperti ini di England”

Helaan nafas Kai terhenti sesaat.

“Bohong”

“Aku serius Kai”

Kedua pipi Sulli mulai dialiri air mata. Ia sering menangis dihadapan Kai. Saat kelinci kesayangannya mati, diganggu anak lain yang nakal, terjatuh dari sepeda, dan sebagainya. Tapi tangisan ini lain. Tangisan yang sekarang ini rasanya sangat perih. Membuat dada Sulli sesak, membuatnya menjadi kesulitan bernafas.

Kai tersenyum pahit, “Sulli-ya, jangan berkata yang tidak-tidak. Kau sehat, kau baik-baik saja, dan aku tahu itu”

“KAI!” Sulli berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Gadis itu semakin terisak. Ia memejamkan mata. Tanpa sadar tangan kanan Sulli memegang bagian dada.

Sesak. Sesak sekali. Tidak, rasanya lebih dari sesak. Perasaan ini benar-benar sakit.

Sulli membuka matanya yang terpejam, ketika merasakan sebuah lengan merangkul tubuhnya. MenarikSulli kedalam sebuah pelukan yang hangat…dan menenangkan.

Lengan berseragam itu milik Kai. Namja itu kini berdiri dihadapan Sulli, mendekap gadis itu dalam-dalam.

“Sulli-ya….mianhae”

Sulli kembali memejamkan mata. Pelukan ini ajaib. Perlahan-lahan perasaan perih yang Sulli rasakan menguap, seiring terbenamya matahari senja sore itu.

 

***

Lanjut ke part 3!! Penting atau engga, tadinya ff ini twoshot, lho. Tapi aku jadiin trilogy, karena kalau twoshot, ceritanya jadi terlalu maksa dan takutnya jadi anti klimaks *Reader: sekarang juga udah anti klimaks thor*. Sampai ketemu di part selanjutnya ^^ DON’T FORGET TO COMMENT! KEEP RESPECT!! Annyeoooong~~!

Iklan

21 pemikiran pada “Absolutely Yours (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s