Him…(It’s Hurt)

Him…[It’s Hurt]

 

Author :: Sandini Mochi

Cast ::

®    Kris Wu (Wu Yi Fan)

®    Park Min Rae

®    Lee Jin Ah

®    Park Chan Yeol

Genre :: AU, Sad, Romance, Friendship, Family

Length :: Oneshot

Rating :: PG-13

 

Annyeong… masih ingat dengan Sandini Mochi? Hehe~ gak ingat gpp. Kalau dulu saya bawa ff My Birthday, dengan main cast Sehun. Sekarang saya membawa ff dengan main cast bias utamaku di EXO Kris hahaha~ #abaikan. Di ff ini, saya nyoba-nyoba buat bikin genre sad yang bener-bener mewek(?)-_-“.  Tapi waktu bikin ff ini saya gak yakin klo feel-nya dapet. Tapi, aku nangis kok pas baca ini. (*mungkin juga lagi galau #curcol) dan diakhir mungkin juga agak ruwet(?) dan gj.

Ff ini pernah dipublish di blogku http://sandinimochi.wordpress.com
klo kalian berkenan, mampir dong.. lupa, makasih buat adminnya yang udah ngepublish ff ini.

Kepanjangan ya, happy reading aja deh!!!

 Morning Kiss...

~oOo~

 

Dialah yang membuatku melayang tatkala melihatnya tersenyum..

Dialah yang membuatku hanya menatap kearahnya..

Dialah pusat perhatianku..

Dialah semangatku disetiap hari yang kulalui..

Dialah kekuatanku menghadapi semua kejadian di setiap hariku..

Dialah yang menghantui mimpiku, hadir dalam mimpiku..

Dialah orang pertama yang kupikirkan setiap membuka mata dipagi hari..

Dia yang kudambakan..

Dia yang kucinta..

Dia yang kusayang..

Dia yang kuinginkan..

Dialah yang membuat semua ini indah..

Dan…

Dia jugalah yang menorehkan rasa sakit ini begitu dalam..

 

Kututup buku harianku dengan berlinang air mata. Lelaki itu.. entah sudah keberapa kali aku menangisinya.

 

Lelaki itu..

 

Dialah Kris Wu. Dialah kekasihku. Tapi dia seperti tidak pernah menganggapku ada dalam hidupnya. Aku tidak pernah benar-benar merasakan kehadirannya disisiku. Dia lebih mementingkan urusannya dibanding aku. Dia dingin padaku. Dia acuh tak acuh padaku. Apa arti kehadiranku dihidupnya sebenarnya?

 

Banyak orang berujar bila kami pasangan yang serasi. Yah, aku cukup senang statement itu. Tapi banyak yang mereka tidak tau, semua itu hanya kepalsuan belaka. Hanya akulah yang senang dengan statement tersebut. Kris.. entahlah aku tidak tau apa yang dirasakan.

 

Kecuali Jin Ah, sahabatku. Dia tidak pernah menganggapku dan Kris pasangan serasi. Dia tau semua tentang hubungan kami – aku dan Kris –. Berkali-kali Jin Ah, menyuruhku meninggalkan Kris.

 

‘Aku tidak mau dan tidak ingin meninggalkannya. Aku akan tetap bertahan disisinya, walau aku tau itu akan menyakitiku lebih dari ini. Satu hal yang perlu kau tau, Aku mencintainya dan akan selalu bertahan disisinya.’

 

Itulah jawabanku. Konyol? Memang. Kerap kali aku berpikir, lelaki seperti apa Kris itu? Apa kekuatan yang ia punya? Kenapa dia mampu membalikan kehidupanku 180derajat?. Sempat terbayang dibenaku untuk mengakhiri hubunganku dengan Kris. Tapi, aku selalu tidak sanggup melakukannya. Aku selalu luluh dengan tatapan matanya.

 

Next day…

 

Lagi dan lagi aku melihatnya tengah makan berdua dengan gadis lain. Aku sudah berkali-kali melihat pemandangan seperti ini dan berkali-kali pula aku merasakan sakit hati ini. Aku tidak tau jelas apa hubungan mereka. Pernah sekali aku menanyakan hubungan Kris dengan gadis itu. Tapi Kris hanya menjawabnya ‘Just friend’. Simple kan? Awalnya aku percaya dengan hubungan Kris dengan gadis itu. Tapi, makin lama kepercayaanku luntur secara perlahan.

 

Cemburu? Tentu saja!

 

Aku masih berstatus kekasih Kris. Wajar saja aku cemburu. Tapi kurasa kecemburuanku itu tidak memberi efek pada Kris untuk menjauhi gadis itu.

 

“Rae-ya, apa yang kau lihat? Apa kau tau apa yang barusan kukatakan?” tanya Jin Ah. Aish~ aku sampai melupakan Jin Ah yang sedang duduk disampingku.

 

“Eh, mianhae Jin Ah.” Ucapku.

 

“Jangan dilihat jika itu akan membuatmu sakit hati.” Ujar Jin Ah tiba-tiba. Pasti dia mengerti kemana arah pandangku sekarang.

 

“Apanya? Aku tidak melihat apa-apa.” elakku.

 

“Jangan bohong. Aku tau kau sedang memandang kearah Kris yang sedang berduaan dengan gadis itu.” tunjuk Jin Ah pada arah Kris dan gadis itu. Tepat dugaanku Jin Ah selalu mengerti kemana arah pandangku.

 

“Nappeun namja!!! Seharusnya Kris tidak pantas mendapatkan cinta darimu.” Desis Jin Ah.

 

“Dia harus diberi pelajaran!!!” tukas Jin Ah lalu segera berdiri.

 

“Kumohon jangan.” Cegahku.

 

“Wae? Dia tidak pantas mendapatkan cintamu Rae-ya!!”

 

“Kumohon jangan. Jangan lakukan itu.”

 

“Sampai kapan kau tetap mengharapkan lelaki bodoh itu? Itu hanya akan menyakiti hatimu saja, Rae-ya!!!!”

 

“Arra. Tapi, kumohon jangan!” ujarku mulai menangis. Perlahan Jin Ah duduk dikursinya.

 

“Kumohon jangan lakukan itu Jin-ya.” Lirihku.

 

“Arra, aku tidak akan melakukannya. Cukup, jangan menangis.”

 

Akupun mengusap air mataku. Hatiku terasa sakit kali ini. Pertahananku runtuh, hatiku sakit. Aku tidak tau sampai kapan aku harus bertahan seperti ini.

 

“Rae-ya, lebih baik lupakan lelaki bodoh itu. Aku tidak mau melihatmu tersakiti seperti ini. Aku juga wanita, aku tau persis apa yang kau rasakan. Tinggalkan Kris. Bukalah hatimu untuk lelaki lain. Banyak lelaki diluar sana yang mau menjadi kekasihmu.”

 

“A..ku tidak.. bisa..” isakku. “A..a..ku men..cintainya..” tambahku disela isakanku.

 

“C’mon Rae-ya. Lelaki bukan hanya Kris Wu!!”

 

“Aku mencintainya..”

 

“Apa karena manusia bodoh itu kau jadi bodoh seperti ini?”

 

“Mianhae, aku tidak bisa meninggalkannya.”

 

Night…

 

Malam harinya, aku masih teringat kata-kata Jin Ah siang tadi. ‘Lebih baik lupakan lelaki bodoh itu. Aku tidak mau melihatmu tersakiti seperti ini. Aku juga wanita, aku tau persis apa yang kau rasakan. Tinggalkan Kris. Bukalah hatimu untuk lelaki lain. Banyak lelaki diluar sana yang mau menjadi kekasihmu.’ Haruskah aku melakukan apa yang dikatakan Jin Ah. Aku tau maksud Jin Ah baik, tapi aku tidak bisa melakukannya.

 

‘Just friend’

Benarkah hubungannya dengan gadis itu hanya teman?

Aku mulai bimbang dengan hubunganku.

Haruskah aku meninggalkannya, dan mencari cinta lain?

Aku terlalu banyak tersakiti..

Aku sadar. Disini hanya akulah yang mencintainya, dia tidak akan pernah mencintaiku.

Jika saja kau tau apa yang kurasakan..

 

Kembali air mataku meleleh. Kembali luka itu terbuka. Hatiku sakit. Sampai kapankah aku bertahan seperti ini. Tidak adakah orang yang menolongku menyelesaikan semua ini?

 

A week later…

 

Kemana perginya?

 

Kris eoddi?

 

Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya di sekitar taman kampus ini, biasanya dia sering berkeliaran disini. Kemana perginya Kris? Apa dia sudah kabur dengan yeoja itu. Mungkin dan tidak mungkin. Apa dia hilang ditelan bumi. Ah, itu benar-benar tidak mungkin.

 

“Annyeong, Rae-ya.” Sapa Jin Ah.

 

“Annyeong Jin-ya.”

 

“Sepertinya kau sedang mencari sesuatu? Apa yang sedang kau cari?”

 

“Aniya..”

 

“Kau mencari Kris?”

 

“A..a..niya..”

 

“Jinjja. Berarti kau sudah tau?”

 

“MWO?”

 

“Kau belum tau?”

 

“Apa? Apa yang belum kutau? Apa menyangkut Kris?”

 

“Yup,”

 

“Ada apa dengannya? Marhaebwa!”

 

“Aish~ Sabar. Kris sakit sejak kemarin dia tidak masuk kelas. Hah~ aku tidak menyangka lelaki bodoh itu bisa sakit juga.” Sindir Jin Ah. “Kukira dia bisanya hanya menyakiti orang lain, ternyata dia juga manusia.” Sindir Jin Ah sekali lagi. Jadi maksudnya? Jin Ah tidak menganggap Kris manusia selama ini? keterlaluan.

 

“JIN AH!!” bentakku.

 

“Wae? Kenapa kau membentakku?”

 

“Apa maksud kata-katamu ‘ternyata dia juga manusia’? Kau kira Kris bukan manusia? Kris manusia, Jin-ya. Kris MANUSIA!!!!”

 

“YA! Kau ini kenapa?”

 

“Kau yang kenapa Jin Ah? Kenapa kau berstatement seperti itu?”

 

“Benarkan apa yang kukatakan. Kris sering menyakitimu. Hatinya bukan seperti hati manusia, lebih seperti hati iblis.”

 

PLAKK…

 

Tanpa sadar aku sudah menampar pipi kanan Jin Ah dengan tanganku sendiri. Mianhae,  Jin Ah. Tuhan, kau pantas menghukumku seberat-beratnya atas perbuatanku ini.

 

“Mi..mi..mianhae Jin Ah. Aku terbawa emosi.” Ucapku menyesal.

“Lupakan. Kenapa kau membela lelaki bodoh itu ha?! Kenapa kau jadi bodoh begini Park Min Rae? Kemana otak pintarmu selama ini?. Dia sudah menyakitimu berkali-kali. Kenapa kau tetap membelanya, ha?. Aku tidak tau bagaimana jalan pikiranmu apa. Kau terlalu berlebihan membela Kris.”

 

“Mi..mi..mianhae…”

 

“Kau tau? Aku tidak terima kau diperlakukan seperti itu oleh Kris. Aku benci sahabatku menangis hanya karna lelaki bodoh seperti Kris itu. Aku peduli padamu, Park Min Rae.”

 

“Sekarang terserah padamu, Park Min Rae!!! Jika kau tetap membela dan tetap bertahan dengan Kris, aku tidak akan perduli. Aku tidak akan perduli lagi dengan hubunganmu dan Kris. Aku sudah kewalahan menghadapi sikapmu yang selalu membela Kris. Aku pergi.” Tukas Jin Ah.

 

Oh Tuhan, apa lagi ini? Jin Ah marah padaku. Hanya karna seorang Kris, keadaan jadi kacau begini.

 

Kuputuskan untuk kerumah Kris sore ini. Aku hanya ingin melihat keadaannya. Walau dia tidak pernah menganggapku, aku akan tetap perduli padanya.

 

Tok..tok..tok..

 

Ceklek..

 

“Annyeong nunna Park..” Yeah, seperti biasa. Yang menyapa dan membukakan pintu untukku selalu Jung Ahjumma. Pembantu dirumah Kris. Sebenarnya Kris tinggal sendiri disini. Orang tuanya sibuk mengurus bisnis mereka di Canada, alhasil anak mereka terlantar seperti Kris. Bahkan mungkin orang tuanya tidak tau jika Kris sekarang sedang sakit.

 

“Annyeong Jung Ahjumma. Kris ada?”

 

“Ne. Tuan muda tengah sakit, dia tidur dikamarnya.”

 

“Boleh aku masuk?”

 

“Ne, nunna. Tuan muda bilang jika kau datang, kau boleh masuk menemuinya.”

 

MWO? Benarkah dia mengatakannya? Benarkah itu Kris yang mengatakannya.

 

“Jinjja, Ahjumma?”

 

“Ne.”

 

Akupun mulai memasuki rumah besar milik keluarga Wu ini. Rumah ini begitu besar dan.. sepi.

 

“Nunna..” panggil Jung Ahjumma lirih.

 

“Ne, Ahjumma?”

 

“Apa terjadi sesuatu pada kalian?”

 

“Maksudnya?”

 

“Akhir-akhir ini Ahjumma sering melihat Tn muda melamun. Apa hubungan kalian baik-baik saja?”

 

Baik-baik saja? Jauh sekali dari kata itu. Sejujurnya aku ingin sekali mengatakan ‘baik-baik saja’ tapi entah kenapa lidahku terasa kelu, dan air mataku menetes dengan sendiri. Luka itu terbuka lagi.

 

“Nunna, gwaenchana?”

 

“Ahjumma…” lirihku sambil memeluk Ahjumma. Aku sudah kenal akrab dengan Jung Ahjumma.

 

“Ada apa, nunna? Uljimma..”

 

“Se..sebenarnya aku ingin mengatakan ‘baik-baik saja’ tapi hatiku tidak bisa memungkiri semuanya. Hubunganku dengan Kris jauh dari kata ‘baik-baik saja’. Aku tidak kuat bertahan disamping Kris. Aku tidak kuat Ahjumma. Aku merasa Kris tidak pernah menganggap keberadaanku. Aku merasa, aku sama sekali tidak berguna dalam kehidupan Kris. Aku sudah tidak kuat menghadapinya. Aku lelah mencintai Kris seorang diri. Aku..” ucapanku terputus karena tangisanku yang semakin menjadi.

 

“Uljimma..”

 

“Hanya..hiks aku yang..hiks.. mencintainya. Dia tidak mencintaiku.” Ungkapku.

 

“Nunna kenapa kau berpikir seperti itu?”

 

“A..ku..sering melihatnya dengan yeoja lain.”

 

“Nunna..” lirih Jung Ahjumma sambil mengelus kepalaku. “Sebaiknya kau temui Tuan Muda. Kau pasti bisa nunna.”

 

Kuusap air mataku dan segera menuju kamar Kris. Aku sampai didepan pintu kamar Kris. Pintu tidak ditutup hanya dibuka sedikit, memberiku celah untuk melihat kedalam kamar Kris. Aku mulai memasuki kamar Kris. Tampak ia tengah tidur nyenyak dibawah selimut tebalnya. Tiba-tiba air mataku kembali menetes. Setiap kali melihat wajah tenangnya hatiku selalu sakit. Tuhan, kuatkanlah hambamu ini.

 

Kubelai lembut kepala Kris. Air mataku semakin deras menetes. Hatiku benar-benar sakit kali ini. Tuhan, aku benar-benar tidak kuat. Haruskah aku menyerah sekarang?

 

Kris, aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Setiap melihatmu dengan wajah tenang seperti ini, hatiku selalu sakit. Apa yang telah kau perbuat padaku? Apa kekuatan yang kau punya?

 

Kris jika saja kau tau, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Walau kutau kau sama sekali tidak mencintaiku. Aku senang karna kau pernah menjadi bagian dari hidupku.

 

Kuedarkan pandanganku keseluruh kamar ini. Kamar ini benar-benar menyiratkan semua tentang Kris. Damai.. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada selembar photo yang terdapat dinakas samping tempat tidur Kris. Perlahan kuambil photo itu, gadis ini.. bukankah gadis ini, gadis yang sering bersama Kris. Apa yang kupikirkan selama ini benar? Kris memiliki hubungan special dengan gadis ini.

 

Hatiku hancur. Tuhan, cobaan apa yang kau berikan padaku? Kenapa ini begitu berat kuterima?. Air mataku mekin meluncur dengan derasnya. Sungguh, hatiku benar-benar sakit. Kulihat disampingnya ada sebuah kotak kecil berwarna merah. Kubuka pelan kotak itu. cincin?  Apa Kris akan melamar gadis itu?

 

Akupun langsung mengembalikan photo dan kotak cincin itu ketempatnya lalu segera pergi dari kamar Kris.

 

“Nunna, apa terjadi sesuatu?” tanya Jung Ahjumma bingung.

 

Tanpa menghiraukan pertanyaan Jung Ahjumma aku langsung melesat pergi meninggalkan rumah Kris. Kuarahkan mobilku menuju tepian sungai Han. Inilah tempatku menenangkan diri.

 

Ditepian sungai Han ini aku menumpahkan semua kesedihanku. Aku meluapkan semua kesakitan yang mendera hatiku selama ini. Sakit.. sungguh sangat sakit.

 

Siapa lagi orang yang bisa membantuku meringankan beban ini? Jin Ah. Apakah ia masih marah padaku. Dengan nekad kuputuskan untuk menelpon Jin Ah.

 

Tuut..tuut..tuut..tuut

 

‘Yoboseyo..’

 

“Jin-ya..”

 

‘Waeyo Rae-ya? Kenapa kau menangis? Katakan padaku!!!’

 

“A..ku.. su..dah tidak kuat lagi.”

 

‘Waeyo?’

 

“Aku sudah tidak kuat mencintai Kris seorang diri. Hatiku sakit Jin-ya..”

 

‘Uljimma, Rae-ya. Tenangkan dirimu. Aku tau akhirnya akan seperti ini. Lebih baik lupakan semua tentang Kris. Aku tidak mau melihatmu menangis lagi.’

 

“Jin-ya..”

 

‘Ne..’

 

“Maafkan aku karena telah menamparmu.”

 

‘Ne, memang sakit,sih. Tapi aku tau kalau kau hanya terbawa emosi. Gwaenchana. Sekarang apa yang akan kau lakukan?’

 

“Aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran Appa untuk bersekolah di Paris, dan akan berangkat secepatnya. Siapa tau kepergianku ke Perancis bisa membuatku dengan mudah melupakan Kris.”

 

‘MWO? YA!!! Apa kau gila? Lalu bagaimana dengan kuliahmu disini? Bagaimana denganku?’

 

“Untuk kepindahan kuliah biar appa yang mengurusnya. Kita kan bisa bertemu lagi.”

 

‘Tapi.. aish~ terserah padamu saja. Sudah ya.. eomma menyuruhku membantunya memasak. Annyeong!!!”

 

Tuut..tuut..tuut

 

Memang luka dihatiku belum sembuh sempurna. Tapi aku sedikit lebih tenang. Ada Jin Ah disampingku dia benar-benar sahabat yang baik. Aku ingat, aku harus memberitahu appa tentang keputusanku.

 

Tuut..tuut..tuut…

 

‘Yoboseyo..’

 

“Yoboseyo, appa. Appa aku menerima tawaran appa bersekolah di Perancis.”

 

‘Ne. Kenapa tiba-tiba? Bukankah kemarin kau menolaknya.’

 

“Aku berubah pikiran, appa. Appa masih maukan menyekolahkanku di Perancis?”

 

‘Ne, tentu saja. Kau mau berangkat kapan?’

 

“Secepatnya appa.”

 

‘Arraseo, appa akan mengurus visa dan kepindahanmu dari Inha sekarang. Ticket sudah appa siapkan. Appa tau kalau kau akan menerima tawaran appa. Besok kau sudah bisa berangkat. Gumawo, yeobo.’

 

“Ne, appa cheonma..”

 

Tuut..tuut..tuut..tuut..tuut..

 

Huft~ siapkan dirimu Park Min Rae…

 

Next day…

 

Semua barang-barangku sudah siap dan sekarang aku sudah berada dibandara Incheon. 20 menit lagi pesawatku akan take off. Ada eomma, appa, Chanyeol oppa, dan Jin Ah. Lalu Kris? Aku sama sekali tidak mengharapkan kedatangannya karena aku sendiri tidak memberitaunya.

 

“Kau yakin dengan keputusanmu?” tanya Jin Ah.

 

“Aku sangat yakin, Jin Ah. Wae?”

 

“Syukurlah kalau kau yakin dengan keputusanmu. Kuatkan dirimu disana. Ah ya, jika disana kau bertemu namja tampan. Mintakan nomor ponselnya untukku, eo?”

 

“Aish~ kau ini!!!!”

 

Kamipun tertawa bersama. Hah, kurasa aku akan merindukan kebersamaanku dengan Jin Ah.

 

“Adikku sayang.” Panggil Chanyeol oppa manja. Aish~ ekspresinya itu. Rasanya aku ingin muntah.

 

“Wae? Kenapa kau memasang ekspresi sok imut seperti itu? Menjijikan.” Tanyaku sambil mencibirnya.

 

“Aku memang imut sayang, dan kenyataan kalau aku imut sudah dipatenkan. Terima saja dengan lapang dada, adik kecilku!!!”

 

“Aish~ YA!!! Mana ada seperti itu? Apa maumu, ha?”

 

“Kalau kau bertemu dengan gadis cantik dan sexy disana, mintakan aku nomor telponnya, eo? Kudengar gadis-gadis Perancis cantik-cantik!!!”

 

PLETAKK…

 

“Kau ini..”

 

Semua tertawa bersama melihatku aksiku dan Chanyeol oppa. Ah, aku akan benar-benar merindukan mereka semua. Tiba-tiba terdengar suara yang saat ini benar-benar tidak ingin kudengar. Suara tanda keberangkatan pesawat tujuan Perancis. Aku benci saat-saat berpisah seperti ini.

 

“Pesawatmu akan take off, yeobo. Jaga dirimu baik-baik disana.” Ujar eomma sambil memelukku. Kurasa eomma menangis, dan aku..akupun juga ikut menangis.

 

“Hati-hati disana, yeobo. Appa bangga padamu.” Ucap appa memelukku.

 

“Kita akan bertemu lagi, Rae-ya. Aku akan sangat merindukanmu.” Ucap Jin Ah sambil memelukku. Hey, dia menangis? Aku tidak menyangka seorang Lee Jin Ah bisa menangis.

 

“Nado..Jin-ya. Uljimma kau jelek saat menangis.” Cibirku.

 

“Kau juga!!!”

 

Chanyeol oppa. Hanya dia yang belum mengucapkan selamat tinggal padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya erat. Sungguh dia oppa terbaikku selamanya. Walaupun dia begitu jail dan usil padaku. Tapi dia tetaplah oppa terbaikku SELAMANYA!!!

 

“Sebenarnya aku benci mengatakan ini. Aku menyayangimu, adik kecilku. Selamanya kau akan tetap menjadi adik kecilku yang manis. Jaga dirimu baik-baik disana.” Ucapnya.

 

“Ne, oppa. Oppa juga akan tetap menjadi oppa-ku yang terbaik SELAMANYA. Jaga juga diri oppa baik-baik. Aku menyayangimu, oppa.”

 

Kami semua pun berpelukan hingga suara itu berbunyi untuk kedua kali. Akupun segera melepas pelukan ini dan menghadap mereka semua. Huh, sebenarnya aku benci saat-saat seperti ini.

 

“Aku berangkat.”

 

“Ne, hati-hati.” Ucap mereka bersamaan.

 

Akupun mulai melangkah ke gerbang keberangkatan. Petugas sudah mengecek visa dan passportku. Dalam pesawat aku masih tetap menangis.

 

Selamat tinggal appa, selamat tingga eomma, selamat tinggal Chanyeol oppa, selamat tinggal Jin Ah dan.. selamat tinggal Kris.

 

_Kris POV_

 

Pagi ini aku bangun dengan keadaan yang masih menyedihkan. Keadaanku belum pulih sepenuhnya. Badanku masih lemas. Apa aku salah makan? Biasanya jika hanya demam mungkin sehari dua hari sudah sembuh. Tapi ini, sudah 3 hari aku belum pulih benar.

 

Kulihat ponselku. Biasanya setiap aku bangun pagi selalu ada pesan dari gadis itu. Setiap pagi aku selalu mengharapkan pesan selamat paginya. Kalian tau siapa? Dia Park Min Rae.

 

Sudah 15 menit aku menunggu pesannya, tapi sampai sekarang belum ada satu pesanpun yang masuk ke inbox ponselnya. Kemana perginya dia?

 

Tok..tok..tok..tok..

 

“Tuan muda, apakah anda sudah bangun?” tanya Jung Ahjumma dari luar.

 

“Ne ahjumma, masuklah.”

 

Jung Ahjumma masuk ke kamarku sambil membawa sebuah kotak berwarna biru yang cukup besar. Apa itu? BOM? Apa Jung Ahjumma berniat mengebom rumah ini. Ah, maldo andwae. Jung Ahjumma menyerahkan kotak itu padaku.

 

“Iget mwoya?” tanyaku.

 

“Itu kotak, Tuan Muda.”

 

“Aish~ aku tau Ahjumma kalau ini kotak. Tapi apa isinya?” aku dan Jung Ahjumma memang sudah biasa bercanda seperti ini. Jung Ahjumma sudah mengasuhku sejak aku kecil. Dan dia juga kuanggap sebagai orang tuaku selama appa dan eomma pergi. Beliau begitu baik padaku.

 

“Nan molla, Tuan Muda. Tadi pagi Min Rae nunna yang menitipkan pada Ahjumma untuk diberikan padamu.”

 

“Rae? Kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku?”

 

“Molla. Sudah, ahjumma kembali ke dapur dulu. Kalau kau mau sarapan, sudah ahjumma siapkan dia ruang makan.”

 

“Ne, ahjumma. Gamsahamnida.”

 

Aku penasaran dengan kotak ini. Segera kubuka kotak lumayang besar ini. Kutemukan didalamnya, terdapat surat, boneka dan album photo. Hey, bukankah boneka ini pemberianku. Kenapa ia kembalikan?

 

Akupun mengambil album photo yang ada didalamnya. Kudapati banyak photoku yang entah kapan diambil. Apa dia mengambilnya diam-diam dariku. Aku terus membuka halaman demi halaman album photo ini. Di halaman terakhir tampak photoku yang tengah tertidur. Kapan photo ini diambil. Dan dibawahnya terdapat tulisan yang rapi, ciri khas tulisan Min Rae

 

‘If he knows. I always love him.

Although it’s hurt.

But I still love him.

Love you Kris Wu ©

 

Apa maksudnya ‘Although it’s hurt’? Apa selama ini aku menyakitinya?

 

Selanjutnya aku melihat sebuah surat dengan amplop berwarna biru. Warna favorit Min Rae. Kubuka surat itu. Aku menemukan dua lembar potongan kertas dari buku diary kurasa dan selembar kertas lain.

 

Diary paper first page

 

 Dialah yang membuatku melayang tatkala melihatnya tersenyum..

Dialah yang membuatku hanya menatap kearahnya..

Dialah pusat perhatianku..

Dialah semangatku disetiap hari yang kulalui..

Dialah kekuatanku menghadapi semua kejadian di setiap hariku..

Dialah yang menghantui mimpiku, hadir dalam mimpiku..

Dialah orang pertama yang kupikirkan setiap membuka mata dipagi hari..

Dia yang kudambakan..

Dia yang kucinta..

Dia yang kusayang..

Dia yang kuinginkan..

Dialah yang membuat semua ini indah..

Dan…

Dia jugalah yang menorehkan rasa sakit ini begitu dalam..

 

Oh Tuhan, apa maksudnya ini?

 

Diary paper second page

 

‘Just friend’

Benarkah hubungannya dengan gadis itu hanya teman?

Aku mulai bimbang dengan hubunganku.

Haruskah aku meninggalkannya, dan mencari cinta lain?

Aku terlalu banyak tersakiti..

Aku sadar. Disini hanya akulah yang mencintainya, dia tidak akan pernah mencintaiku.

Jika saja kau tau apa yang kurasakan..

 

‘Gadis itu’? Apa yang dia maksud Shin Ji. Oh Tuhan, pasti dia salah paham dengan hubunganku dengan Shin Ji. Oh ayolah, kami hanya teman!

 

Kubuka selembar kertas yang dilipat ini. Apa ini isinya?

 

Annyeong Kris!!!

 

Kuharap kau mau membaca suratku ini

 

Bagaimana keadaanmu? Bukankah kau sedang sakit? Kuharap sekarang kau sudah baikan. Kemarin aku kerumahmu untuk menjengukmu. Tapi kau malah tidur, aku tak tega membangunkanmu. Jadi kuputuskan untuk pulang saja.

 

Aku ingin mengungkapkan apa yang ada dihatiku selama ini padamu. Walau aku tau, ini sudah terlambat. Apa arti kehadiranku dihidupmu? Apa arti diriku bagimu?. Kau tau? Aku merasa kau tidak pernah menganggapku ada. Kau dingin padaku, kau bersifat acuh tak acuh padaku. Oke, untuk itu aku bisa sabar. Tapi untuk hubungan dengan gadis –aku tidak tau namanya- itu aku tidak bisa sabar. Kesabaranku sudah diujung. Awalnya aku memang biasa saja. Karena aku percaya padamu kalau kalian ‘just friend’

 

Tapi perlahan-lahan kepercayaanku mulai meluntur. Aku tidak yakin dengan hubungan ‘just friend’ kalian. Aku tau, kalau aku berlebihan. Tapi, bukankah aku pantas melakukannya. Aku masih berstatus kekasihmu.

 

Aku sudah lelah mencintaimu seorang diri. Di hubungan ini hanya aku yang mencintaimu, kurasa kau sama sekali tidak mencintaiku. Yeah, aku tau itu. Dan aku sangat tau itu. Kau pasti lebih memilih gadis itu daripada aku. Jadi, lebih baik kita mengakhiri hubungan ini.

 

Let’s break up…

 

Mianhae, aku mengungkapkannya lewat surat ini. Jujur, aku tidak sanggup menatap matamu secara langsung. Mianhae. Juga, karena hari ini tepat pukul 7, aku harus berangkat untuk melanjutkan kuliahku di Perancis. Aku tidak bisa menentukan seberapa lama aku disana. Mungkin sampai hatiku benar-benar siap untuk kembali ke Korea.

 

Semua yang menyangkut tentangmu perlahan akan kulupakan. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih telah mewarnai hari-hariku selama 1 setengah tahun ini. Jeongmal gumawo. Kenangan bersamamu adalah kenangan terindah yang tidak akan pernah kulupakan.

 

Selamat tinggal, Kris Wu. Saranghae ©©©

 

Park Min Rae

 

Min Rae..

 

Dia salah paham. Jadi sungguh kemarin yang mengelus kepalaku lembut adalah Min Rae.  Dan dia akan pergi ke Perancis tanpa berpamitan langsung padaku.

 

“Jam berapa sekarang?”

 

Kulirik jam yang ada di nakas samping tempat tidurku. MWO? Jam Sembilan. Pesawat sudah take off 2 jam yang lalu.

 

Oh Tuhan.. inikah hukuman karna aku telah mengacuhkan gadisku?. Min Rae, kenapa kau meninggalkanku. Sekarang tinggal aku dan penyesalan yang menyelimutiku.

 

Rae-ya…

Aku mencintaimu.

Maafkan aku yang mengacuhkanmu.

Kau tau? Aku juga mencintaimu.

Tapi bodohnya aku yang tidak pernah mengungkapkannya padamu.

Jika saja ada gelar orang terbodoh didunia.

Mungkin akulah yang berhak mendapatkan gelar itu.

I’am stupid boy, right?

Maafkan aku Rae-ya.

Seberapa lamanya kau disana aku tidak perduli, aku akan tetap menunggumu.

Aku tetap mencintaimu.

Cepatlah kembali…

_Kris_

 

 

 

Iklan

57 pemikiran pada “Him…(It’s Hurt)

  1. Ommo.. Nggak kuat thor bacanya
    So sad 😥
    Huaaa… Kenapa sad bgt thor ceritanya mereka saling cinta tapi kenapa harus putus
    Salah krisnya jg sih yang nyuekin minrae jadinya kan si minrae nggak tau kalo kris sebenernya jg sayang sama dia
    Thor aku ngakak deh pas bagian pembantunya kris ngasihin kotak dari minrae itu,sumpah kocak bgt 😀
    Keep writing and hwaiting ya thor ^^

  2. Huaaaaa😭…sedih banget.critanya…kak authpr…tapi knpa yg di pajang ftonya baekhyun…kak???padahal castnya kris..tapi no ploblem lah…ceritanya tetep keren😊👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s