Hypocrites (Chapter 3)

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 3 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

Poster (2)

 

Suji terlihat sedang fokus mengerjakan tugas biologinya, semalam dia tidak sempat mengerjakan tugasnya, dan hari ini dia harus segera mengumpulkannya sebelum waktu istirahat berakhir. Namun tiba-tiba saja, Kai memasuki pikirannya bagaikan virus, sebuah virus yang telah membuat jiwanya terinfeksi. Perkataan Kai malam itu memang dijadikannya sebuah pelajaran, walaupun dia sendiri tidak yakin apakah diwaktu-waktu mendatang dia dapat berdiri untuk membela dirinya sendiri.

Mengapa setiap kata yang di ucapkan Kai selalu menetap dipikirannya? Mengapa setiap kata yang di ucapkan Kai seolah-olah memukulnya dengan keras? Lagi dan lagi, Suji tenggelam didalam benaknya akan semua hal yang bersangkutan dengan Kai.

Minhee disisi lain, tidak dapat mengalihkan pandangannya kearah manapun, dia terlalu fokus memandangi Chanyeol dari kejauhan. Kemudian dia membawa dan menatap telapak tangannya yang saat itu menggandeng tangan Chanyeol dengan begitu erat. Minhee berharap jika saja waktu dapat terulang kembali, namun dia sadar bahwa hal tersebut tidak mungkin bisa terjadi. Minhee menggelengkan kepalanya, kemudian dia kembali menatapi Chanyeol dari kejauhan, hanya dari kejauhan.

“So I look in your direction, but you pay me no attention~” Tiba-tiba saja Baekhyun menyanyikan sebuah lagu hanya untuk meledek Minhee.

Suji pun langsung menepuk bahu Baekhyun, dan memberikannya tatapan untuk menutup mulutnya. Kini Suji telah terbiasa dengan segala keusilan Baekhyun, dia juga telah terbiasa dengan betapa bipolarnya perilaku Minhee. Namun Suji juga telah terbiasa dengan kehadiran mereka berdua disisinya, dia telah terlanjur menyukai kedua temannya ini, keberadaan mereka berdua selalu dapat membuat harinya jauh lebih menyenangkan.

“Bukankah itu Hayoung?” Minhee menunjuk seseorang, Suji dan Baekhyun pun mencari arah yang ditunjuk oleh Minhee. Kemudian mereka melihat seorang gadis cantik, dengan rambut panjangnya yang bergelombang dan bewarna pirang, serta pita merah yang disisipkan dirambutnya. Gadis itu terlihat sedang duduk disamping Kai.

“Siapa dia?” Tanya Suji.

“Gadis cantik itu bernama Jung Hayoung, tapi aku aku sama sekali tidak menyukainya.” Minhee berbicara dengan rawut wajahnya yang terlihat begitu jengkel, rasa penasaran Suji pun meningkat.

“Lalu apakah dia temannya Kai dan yang lainnya?” Suji bertanya, kemudian Minhee menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Aniyo, sebenarnya dia hanyalah seorang gadis yang begitu tergila-gila pada Kai” Jawab Minhee. “Dan dia adalah putri dari kepala yayasan disekolah ini” Baekhyun menambahkan.

Suji menatap gadis bernama Hayoung yang kini bergelayutan memeluk lengan Kai. Walaupun rawut wajah Kai terlihat risih, namun entah mengapa dia tidak suka melihat pemandangan Kai bersama dengan gadis lain.

“Aish itulah sebab mengapa aku tidak menyukainya, dia selalu berlagak manja dan manis dihadapan Kai. Padahal sebenarnya, dia tidak lebih dari seorang nenek sihir yang selalu berlindung dibalik punggung ayahnya. Suji lakukanlah sesuatu, kau kan istrinya Kai” Minhee mengerutkan dahinya kesal menatap Suji.

Namun Suji hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia kembali mengerjakan tugasnya yang hampir selesai, dan mencoba menghapus nama Kai untuk sementara waktu dari dalam pikirannya, sekeras apapun itu.

“Oppa~ maukah kau makan malam bersamaku nanti?” Hayoung merengek manja sambil memeluk lengan Kai. Sebenarnya Kai selalu merasa risih setiap kali gadis ini berada disampingnya, begitu juga dengan yang lainnya.

“Lepaskan ikatan tanganmu” Kai menatap Hayoung dengan tatapannya yang tajam, sehingga membuat tubuh Hayoung menggidik. Namun Hayoung tetap bersikeras untuk tidak melepaskan pelukannya dari lengan Kai.

Kai menarik lengannya dari pelukan Hayoung dengan kasar, “Jangan pernah mendekatiku lagi, aku muak melihatmu.” Kai berkata dengan dingin.

Hayoung memanyunkan bibirnya, kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Kai, kemudian dengan langkah kaki yang berat, dia mulai berjalan meninggalkan Kai. Dia benci mengapa Kai selalu menolaknya, padahal dia begitu menyukai Kai.

“Apa kau tidak sedikit keterlaluan Kai?” Tanya Chanyeol.

Kai menggelengkan kepalanya, “Aku tidak peduli.”

“Memang sejak kapan Kai pernah peduli?” D.O berkata dengan datar sambil membalik halaman buku yang sedang dia baca.

“Hyung, kau membuatku terdengar seperti orang jahat” Kai tertawa hambar.

“Aniyo, sebenarnya kau tidak terlalu jahat Kai,” Suho memainkan jari telunjuknya kekiri dan kekanan, kemudian dia menunjuk Kai, “Karena sepertinya kau peduli terhadap Suji.”

Chanyeol, Sehun, dan D.O pun tertawa jahil. Bisa dibilang, belakangan ini hal yang paling mereka sukai adalah menjahili Kai dan Suji dengan segala candaan yang mereka buat.

—–

Setelah sekolah berakhir dan setibanya dirumah, Suji segera beranjak keluar dari dalam mobil, kemudian dia mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah. Namun sebelum mencapai pintu utama tiba-tiba saja langkahnya terhenti, ketika secara tidak terduga, butiran-butiran salju pertama pada musim dingin ini terlihat mulai berjatuhan dari atas langit.

Suji tidak pernah menyangkal bahwa salju merupakan benda terindah yang pernah dia lihat seumur hidupnya, namun putihnya salju juga yang mengingatkannya akan hari kematian kedua orang tuanya. Suji mendongakkan kepalanya keatas, kebulan awan terlihat mulai datang bermunculan, mengusik ketenangan cuaca yang cerah. Angin bertiup dengan kencangnya, sehingga membuat suhu disekitarnya menjadi semakin dingin, dan membuat tubuhnya menggigil.

“Masuklah kedalam agashi, nanti anda kedinginan” Ujar tuan Kang, kemudian Suji mengangguk dan tersenyum kepada tuan Kang, sebelum akhirnya dia masuk kedalam rumah.

Sepanjang hari Suji hanya menghabiskan waktunya didalam kamar, entah karena dia malas keluar, atau karena sejak dulu dia memang telah terbiasa menghabiskan sebagian besar waktunya didalam kamarnya, sehingga hal tersebut telah berubah menjadi sebuah kebiasaan.

Suji menatap keluar jendela, kini salju telah berhasil memenuhi halaman rumah serta jalan, salju juga telah berhasil membuat segalanya berubah menjadi warna putih. Suji berjalan mendekati jendela kamarnya, kemudian dia menatap langit yang kini terlihat mulai gelap.

Suji menutup matanya kemudian dia berdoa didalam hatinya.

Umma … appa … bagaimana kabar kalian? Aku yakin kalian pasti begitu bahagia disana.

Suji tersenyum, namun perlahan senyumannya mulai menghilang.

Aku benar-benar merindukan kalian.

—–

Matahari telah terbenam, dan malam pun datang. Kai baru saja keluar dari kamarnya, perubahan cuaca yang menjadi begitu dingin membangunkannya dari tidur. Dia berjalan memasuki ruang keluarga, kemudian duduk disofa dekat perapian, dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatan istirahatnya yang tertunda, serta menghangatkan tubuhnya.

Kai menatap percikan api yang berasal dari perapian, kemudian dia berpikir. Berpikir tentang apa yang terjadi dimasa lalu, berpikir tentang apa yang terjadi dimasa kini, dan berpikir tentang apa yang akan terjadi dimasa depan nanti.

“Kai” Suara yang berasal dari seorang gadis yang baru saja memanggilnya. Suara yang berasal dari seorang gadis yang baru saja mengusik ketenangannya. Suara yang berasal dari seorang gadis yang tidak lain bernama Suji. Kai menolehkan kepalanya untuk membalas panggilan gadis itu, gadis yang sedang berdiri disudut ruangan dekat pintu.

Dan seperti biasa, Kai selalu dapat menemukan sebuah senyuman yang terlukis pada bibir gadis ini, bukan hanya bibirnya yang tersenyum, namun juga matanya yang selalu mengeluarkan kilauan binar. Hal tersebutlah yang menjadikan ciri khas pada senyuman milik gadis bernama Suji ini.

Kai tidak pernah mengerti mengapa Suji selalu dapat mengeluarkan senyumannya dengan begitu mudah. Kai juga tidak mengerti apakah sebenarnya gadis ini benar-benar bodoh atau tidak, sedangkan Kai sendiri begitu membenci orang-orang bodoh. Namun sekeras apapun Kai ingin membenci gadis ini, entah mengapa ada suatu hal dalam diri Suji yang tidak dapat dipahaminya. Seperti kejadian di bar waktu itu, ketika gadis itu terlihat tidak mampu berdiri untuk dapat membela dirinya. Kai sendiri juga tidak mengerti mengapa saat itu dia menolong Suji, padahal biasanya dia tidak pernah peduli dengan apa yang sedang terjadi disekitarnya.

Namun entah mengapa, ada suatu hal dalam diri Suji yang membuatnya ingin menolongnya saat itu. Ada suatu hal dalam diri Suji, yang telah membuat tubuhnya bergerak tanpa akal sehatnya sadari. Ada suatu hal dalam diri Suji, yang telah membuatnya melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ada suatu hal dalam diri Suji, yang telah menggoyahkan sesuatu dalam dirinya.

“Aku baru saja ingin membuat coklat panas, apa kau juga mau?” Tanya Suji.

“Tidak” Kai mengalihkan pandangannya kembali ke perapian.

“Walaupun kau tidak mau, aku akan tetap membuatkannya untukmu” Ujar Suji.

Kai kembali menatap Suji dengan rawut wajahnya yang kini berubah menjadi jengkel, gadis dihadapannya ini selalu dapat membuat emosinya naik.

“Bagaimana jika aku tidak mau meminumnya?” Kai menaikkan salah satu alisnya.

“Kau harus mau,” Suji menjawab, “Karena kau terlihat seperti membutuhkannya.” Setelah itu Suji segera beranjak kebawah untuk membuat coklat panas, meninggalkan Kai yang belum sempat meluntarkan penolakan lainnya.

Pabo, Kai bergumam didalam hatinya, kemudian dia mengalihkan pandangannya kembali ke perapian.

Malam ini kondisi udara benar-benar terasa dingin, sehingga Suji memutuskan untuk mengenakan pakaian yang hangat, dia mengenakan sweater besar bewarna merah muda yang jatuh hingga dengkulnya, dengan stocking bewarna putih susu yang menutupi hingga telapak kakinya. Dia terlihat sedang menyibukkan dirinya membuat coklat panas didapur. Kemudian setelah selesai membuat dua cangkir coklat panas, Suji segera beranjak keatas menuju ruang keluarga.

Sesampainya disana, kedatangannya disambut oleh rawut wajah Kai yang begitu … lucu. Kai terlihat tengah mengucek-ngucek mata lelahnya, dan wajahnya saat ini terlihat begitu menggemaskan seperti anak kecil.

Ternyata orang menyeramkan seperti Kai, bisa juga menunjukkan rawut wajah yang lucu, Suji bergumam didalam hatinya.

Kai melihat kehadiran Suji yang tengah membawa dua cangkir coklat panas dikedua tangannya, kemudian dia meletakkan cangkir-cangkir tersebut di meja yang terletak disamping sofa. Suji mengulurkan salah satu cangkir tersebut kearah Kai, kemudian Kai mengambilnya tanpa protes. Suji pun tersenyum, lalu dia juga mengambil cangkir miliknya, setelah itu dia mulai meminum coklat panas buatannya.

“Mashita” Suji memuji coklat panas buatannya sendiri. Kai terkekeh pelan, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Suji. Kai pun mulai mencicipi coklat panas buatan Suji, dan betapa terkejutnya dia setelah menegak minuman yang dibuat oleh Suji ini.

Rasa coklat panas buatannya benar-benar nikmat, tidak terlalu manis, namun juga tidak pahit. Dan yang terpenting, coklat panas ini telah berhasil membuat tubuhnya menjadi lebih hangat.

“Apakah rasanya enak?” Tanya Suji.

“Lumayan,” Jawab Kai datar, kemudian dia bertanya, “Bagaimana kau membuatnya?”

Suji mengalihkan pandangannya ke lantai, “Aku tidak bisa memberitahumu.”

“Kenapa?” Kai bertanya, “Apa kau memasukkan sesuatu yang aneh didalamnya?” Kai menatapnya dengan penuh kecurigaan.

Suji menggigit bibir bawahnya, kemudian dia menyelipkan helaian rambutnya dibelakang telinganya. “Karena jika aku memberitahumu, mungkin saja kau akan membuatnya sendiri, sehingga kau tidak membutuhkanku lagi untuk membuatkannya untukmu.” Suji menjawab dengan polosnya, kemudian dia kembali menatap Kai.

Sebuah tawa singkat tergelincir dari mulut Kai, “Terserah kau sajalah” Setelah itu Kai kembali menegak coklat panasnya.

Suji disisi lain, tidak dapat memalingkan wajahnya sedikitpun dari Kai. Dia terlalu terkejut dan terpesona melihat Kai yang untuk pertama kalinya, tertawa tepat dihadapannya. Walaupun tawanya singkat, namun mengetahui bahwa orang yang telah berhasil membuat Kai tertawa adalah dirinya sendiri, hal tersebut sudah cukup untuk dapat membuat jantungnya berdenyut tidak karuan.

“Kai bolehkah aku bertanya suatu hal?” Suji meletakkan cangkirnya dimeja.

Kai memasang wajah malasnya, “Biarpun aku tidak memperbolehkanmu, kau pasti akan tetap bertanya kan?”

Suji tertawa kecil, kemudian dia menggigit bibir bawahnya, “Tadi siang aku melihat seorang yeoja yang duduk bersamamu dikantin, apakah dia juga temanmu?”

Kai berpikir sejenak, seolah mencoba untuk mengingat suatu hal, kemudian dia meletakkan cangkirnya diatas meja. “Oh,” Kai menatap Suji sambil menaikkan salah satu alisnya, “Apa kau cemburu?”

“M-mwo? Tentu saja tidak!” Suji membantah dengan keras, walaupun sebenarnya dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa-bisanya dia mempertanyakan soal Hayoung.

“Lalu mengapa kau bertanya soal itu?” Tanya Kai.

“Aku hanya bertanya, tidak ada maksud lain” Suji menjawab dengan jengkel.

Kai menyeringai, “Semua orang tidak mungkin bertanya tanpa memiliki maksud atau tujuan tertentu.”

“Aish, seterah kau saja mau bilang apa” Suji segera beranjak dari tempatnya, kemudian dia masuk kedalam kamarnya, dan menempelkan punggungnya dipintu. Jika dia berada disana lebih lama lagi, mungkin saja Kai dapat melihat kedua pipinya yang kini mulai memerah. Kai benar-benar telah berhasil membuat dirinya kesal dan juga menyesal, seharusnya dia tidak bertanya apapun pada Kai.

“Yang benar itu terserah, bukan seterah. Pabo”

Suji dapat mendengar suara Kai yang tengah mengejeknya dari balik pintu. Kemudian setelah beberapa saat, Suji mendengar suara pintu kamar Kai yang telah tertutup.

Suji menjatuhkan dirinya diranjang, kemudian dia menenggelamkan wajahnya dibantal.

Pabo! pabo! pabo! Suji menggerang dari balik bantal dengan frustasi. Kini wajahnya benar-benar begitu merah seperti kepiting rebus, rasanya dia ingin mengubur dirinya kedalam lubang yang begitu dalam.

—–

Keesokan harinya, Suji terlihat sedang duduk sendirian dikantin sekolah. Hari ini Minhee tidak datang ke sekolah seperti biasanya dikarenakan sakit flu berat, sedangkan Baekhyun menghilang tanpa kabar entah kemana, mungkin dia sedang membolos atau semacamnya.

Suji menghela nafasnya panjang, rasanya sekolah begitu membosankan tanpa kehadiran mereka berdua. Suji mengalihkan pandangannya ke sebuah meja yang biasa ditempati Kai dan teman-temannya, mereka bahkan tidak ada disana. Bel pun berdering menandakan berakhirnya jam istirahat, dan Suji pun berdiri dari tempatnya lalu berjalan kembali ke kelasnya.

Setelah jam pelajaran usai, dan seluruh kegiatan sekolah berakhir hari ini. Suji segera melangkahkan kakinya berjalan keluar dari dalam kelasnya, namun ketika dia hendak melewati lorong, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja seseorang memblokir jalannya. Suji mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa orang itu.

“Hey, kau pasti Suji kan?” Seorang gadis berambut pirang dengan pita warna merah dirambutnya terlihat sedang tersenyum kearah Suji. Suji memberikannya tatapan bingung dan senyum yang canggung, namun tentu saja Suji sudah tahu siapa gadis ini.

“Perkenalkan namaku Hayoung, kau pasti sudah tahu siapa aku kan?” Hayoung tersenyum sambil mengulurkan tangannya.

“Hey Hayoung, bagaimana kau bisa tahu namaku?” Walaupun masih dalam keadaan yang membingungkan, namun Suji tetap meraih dan menjabat tangan Hayoung.

Hayoung mengabaikan pertanyaan Suji, “Aku melihatmu berdua dengan Kai oppa datang bersama disebuah bar beberapa hari yang lalu, tapi karena aku harus segera pergi jadi aku tidak punya kesempatan untuk menemui oppa” Hayoung berbicara dengan nada suaranya yang terdengar manja, kemudian dia menggulung-menggulung helaian rambut pirangnya dijari tangannya.

“Oh benarkah?” Suji berkata apa adanya, karena dia sendiri tidak mengerti bagaimana dia harus membalas ucapan Hayoung yang menurutnya cukup membingungkan.

“Tentu saja,” Hayoung memutar bola matanya, “Apa sebenarnya hubunganmu dengan oppa?” Rawut wajah Hayoung kini berubah menjadi serius. Sepertinya kedatangan Hayoung bukan hanya untuk berkenalan dengannya.

“Mengapa kau ingin tahu?” Tanya Suji.

“Semua hal yang bersangkutan dengan oppa berarti menjadi urusanku. Karena oppa adalah milikku” Hayoung menatap Suji dengan pandangan matanya yang terlihat begitu tajam dan mengintimidasi. Sekarang Suji mengerti mengapa Minhee sama sekali tidak menyukai gadis dihadapannya ini.

“Kau tidak bisa mengklaim seseorang begitu saja sesuka hatimu, apa kau tahu itu?” Suji mencoba berbicara setenang mungkin, meskipun Hayoung tidak berhenti memberikannya tatapan yang begitu sinis.

“Tapi Kai oppa memang milikku seorang! Jadi jauhi dia dan jaga bicaramu jika kau tidak ingin celaka!” Hayoung berteriak, dan kini semua pandangan mata tertuju kepada mereka berdua.

“Sudahlah Hayoung, jangan membuat skenario seperti ini” Suji memutuskan untuk melangkahkan kakinya kembali agar bisa menghindar dari Hayoung, namun Hayoung tidak membiarkannya pergi begitu saja.

“Skenario?! Yah memangnya kau tahu dengan siapa kau bicara!” Hayoung kembali berteriak, kemudian dia mendorong tubuh Suji dan hampir membuatnya terjatuh kebelakang jika saja dia tidak menjaga keseimbangannya dengan baik.

Suji membulatkan matanya, terkejut dengan perlakuan Hayoung terhadapnya. Kemudian dia menatap orang-orang disekelilingnya yang kini telah benar-benar memusatkan perhatian mereka kepada dirinya dan Hayoung.

Suji tidak tahu dengan apa yang seharusnya dia lakukan disituasi seperti ini. Apakah lebih baik jika dia meminta maaf terlebih dulu? Ataukah pergi dan menghindar saja? Namun dia tidak mungkin membiarkan dirinya dijatuhkan oleh orang lain lagi. Kemudian tiba-tiba saja ucapan Kai terlintas dibenaknya. Kai benar, dia tidak boleh membiarkan orang lain menjatuhkan dirinya lagi.

Dia harus bisa berdiri membela dirinya sendiri. Harus.

Suji kembali menatap Hayoung, namun dengan pandangan matanya yang tetap tenang.

“Aku tidak peduli dengan siapakah dirimu itu. Tapi jika kau menginginkan sebuah keributan,” Suji menyeringai, “Maka aku akan mengabulkannya untukmu.”

Suji balas mendorong bahu Hayoung, lalu menatapnya dengan penuh keberanian. Hayoung begitu terkejut dengan apa yang baru saja Suji lakukan padanya, dia memberikan Suji tatapan tidak percaya, kemudian emosinya pun berubah menjadi semakin tidak karuan.

“Yah! Beraninya kau!” Hayoung mendorong tubuh Suji lagi, namun untung saja Suji bisa menyeimbangkan dirinya agar tidak terjatuh. Suji balas mendorong tubuh Hayoung dengan menggunakan tenaganya, dan tubuh Hayoung pun berhasil tersungkur kebelakang, dengan bokongnya yang terjatuh lebih dulu.

Semua orang disana terkesiap, dan sebagian diantara mereka tertawa mengejek Hayoung. Namun sayangnya, waktu dimana Suji berhasil mendorong tubuh Hayoung, juga bersamaan dengan waktu dimana Suho dan Kai melewati tempat itu.

Suji dapat melihat betapa terkejutnya Suho melihat tindakannya saat ini. Dan walaupun wajah Kai selalu terlihat datar dan tanpa ekspresi, dia tahu bahwa sebenarnya Kai juga sama terkejutnya seperti Suho.

Teman-teman Hayoung berdatangan untuk membantunya berdiri, dan mereka mulai menyalahkan bahkan mencaci maki Suji. Kemudian Suho dan Kai pun berjalan mendekati mereka berdua.

Ketika melihat Suho dan Kai yang berjalan mendekati mereka, Hayoung tiba-tiba saja merintih kesakitan. “Oppa! Lihatlah apa yang dia lakukan padaku” Hayoung berpura-pura merintih kesakitan dihadapan Kai dengan manja. Suji kesal melihat perilaku Hayoung yang tiba-tiba saja berubah menjadi lemah dan manja dihadapan Kai.

“Apa yang kau lakukan?” Kai menatap Suji dengan tatapan yang dipenuhi rasa ketidakpercayaan.

Sebelumnya, entah mengapa rasanya tidak begitu menyakitkan ketika dia mendapatkan tatapan yang sinis dan kejam dari Hayoung. Namun ketika dia mendapatkan tatapan seperti itu dari Kai, satu-satunya orang yang dia harap berada dipihaknya, rasanya begitu menyakitkan.

“Tolong aku oppa, tiba-tiba saja dia datang dan menyakitiku, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya” Hayoung merengek manja dihadapan Kai. Suji disisi lain, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Hayoung.

“Mwo?! Kau lah yang tiba-tiba saja datang dan memulai semua ini!” Suji membalas ucapan Hayoung, dia benci melihat Hayoung dengan segala kepura-puraannya.

“Cukup” Bentak Kai.

Hayoung terkesiap dan diam seketika.

Sedangkan Suji menatap wajah Kai dengan lekat. Seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Apa kau sama sekali tidak mempercayaiku?” Suji bertanya kepada Kai, pertanyaan yang baru saja dia ucapkan seolah keluar begitu saja dari dalam mulutnya.

Kai tidak menjawab pertanyaan Suji, dia hanya diam tidak bergeming ditempatnya, dan hanya menatap Suji dengan tatapan yang sama. Diamnya Kai merupakan sebuah jawaban baginya, jawaban yang menyatakan bahwa Kai memang tidak mempercayainya.

Sesuatu dalam diri Suji retak ketika sadar akan fakta tersebut.

“Arraseo, kau tidak mungkin mempercayaiku,” Suji tertawa kecil, dia tertawa bukan karena dia senang, melainkan karena sebaliknya, “Kau jahat Kai.”

Suji berhasil mengatakan hal yang ingin dia ucapkan kepada Kai sejak awal. Suara yang dia keluarkan terdengar serak, mungkin akibat dari dirinya yang tengah menahan matanya agar tidak mengeluarkan cairan apapun. Meskipun matanya juga tampak begitu jauh dari segala bentuk tangisan, begitu tenggelam dalam ruang dan waktu. Suji tidak pernah menangis dihadapan orang lain, dia bahkan tidak pernah membiarkan orang lain melihatnya menangis.

“Yah! Memangnya siapa kau berani bicara seperti terhadap oppaku!” Hayoung berteriak tepat diwajah Suji. “Diam kau nenek sihir” Suji menghardiknya.

“Apa kau bilang? Nenek sihir?!” Seketika Hayoung berubah menjadi murka.

Kemudian dia meraih rambut panjang Suji, lalu menjambaknya dengan kencang. Suji tidak tinggal diam, dia juga balas menjambak rambut Hayoung.

Dan kini mereka berdua berkelahi tanpa memperdulikan apapun atau siapapun yang berada disekitar mereka.

Semua orang disana membelalakkan mata, terkejut dengan apa yang tengah mereka lihat, terlebih lagi Kai. Dia tidak bisa percaya dengan semua yang baru saja dikatakan dan dilakukan oleh Suji, dia tidak pernah menduga bahwa sebenarnya terdapat sisi pemberontakan pada diri gadis ini. Namun disisi lain, Kai juga merasa terpukau begitu melihat Suji yang kali ini berhasil berdiri untuk dapat membela dirinya sendiri.

Suho sibuk mencoba memisahkan kedua gadis yang tengah berkelahi ini, namun sayangnya dia selalu gagal. Hayoung menjambak rambut Suji sambil terus mendorong tubuhnya, melampiaskan segala kekesal dan amarah yang dia rasakan kepada Suji. Suji juga tidak berhenti menjambak rambut Hayoung, sehingga membuat pita merahnya lepas dari rambutnya yang kini terlihat begitu berantakan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Suji tidak bisa menahan kekuatan dan energi yang perlahan pergi meninggalkannya, hingga akhirnya dia tidak dapat menyeimbangkan dirinya lagi, dan secara tidak sengaja membuat kakinya tergelincir, sehingga tubuhnya tersungkur kebelakang.

Begitu melihat tubuh Suji yang tersungkur, Suho segera menahan kedua tangan Hayoung agar tidak dapat menyerang Suji lebih jauh lagi.

Semua orang disana begitu terkejut ketika melihat tubuh Suji yang telah terjatuh dengan lengan kanannya yang membentur, atau lebih tepatnya menghantam kaca yang berada disampingnya dengan cukup keras, sehingga membuat kaca tersebut pecah dan berubah menjadi jutaan beling.

Kai merasa seluruh tubuhnya lemas saat dia melihat Suji yang terjatuh tidak berdaya, dengan lengan kanannya yang menabrak sebuah kaca yang cukup besar, sehingga menyebabkan kaca tersebut pecah dan melukainya.

Suji masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Suji merasa bahwa semua kejadian ini hanyalah sebuah mimpi, mimpi buruk tentunya. Hingga akhirnya dia terbangun, ketika rasa sakit itu datang membangunkannya, namun tidak membangunkannya dari mimpi buruknya.

Melihat semua kejadian ini, Kai segera berlari dan berjongkok dihadapan Suji, dia menarik lengan Suji yang terluka dan mulai mengeluarkan banyak darah. “Kita harus segera kerumah sakit” Kai panik, kemudian dia mencoba membantu Suji untuk berdiri, namun Suji justru menarik lengannya kembali dari pegangan tangan Kai. Dia tidak memerlukan pertolongan ataupun belas kasihan dari Kai.

“Lihatlah dirimu, kau terluka!” Kai membentak Suji yang enggan menerima pertolongan darinya, seraya memeriksa setiap luka pada tubuh Suji dengan kedua matanya yang tajam.

“Aku tidak butuh bantuanmu Kai. Jika kau ingin mencaciku juga seperti mereka maka lakukanlah sekarang. Setelah itu pergi dan temui kekasihmu yang bernama Hayoung itu” Suji menghardik Kai dengan caranya sendiri, yaitu dengan bagaimana dia selalu bisa menutupi amarahnya dengan segala ketenangan.

Kai tidak pernah bertemu seorang gadis seperti Suji seumur hidupnya. Seorang gadis yang begitu asing. Seorang gadis yang begitu aneh. Seorang gadis yang begitu kuat, namun juga begitu rapuh dalam waktu yang sama.

“Apa yang salah denganmu? Kau terluka parah, tahukah kau?!” Kai meninggikan suaranya tanpa dia sadari, dia tidak habis pikir mengapa Suji enggan menerima pertolongannya, dan hanya diam mematung disana, membiarkan darah segar yang tidak berhenti keluar dari lengannya.

“Aku tanya, apa yang salah denganmu?!” Kai mengguncang bahu Suji yang hingga kini masih mematung ditempatnya. Namun Kai dapat melihat ketakutan yang mulai bermunculan dari dalam matanya.

Suji menatap Kai dengan lekat, pandangan matanya kesana kemari mengikuti kemana arah mata Kai berjalan. Dan untuk pertama kalinya, Suji menemukan sebuah kekhawatiran dalam mata kosong milik Kai. “Itu pertanyaan yang bagus Kai, apa yang sebenarnya salah padaku?” Suara Suji menjadi semakin serak, dia mencoba menahan air matanya yang mulai bermunculan agar tidak terjatuh. Dia bahkan menggigit bibir dengan keras, mencegah dirinya untuk tidak menangis. Suji benci menangis dihadapan orang lain, karena hal itu hanya akan membuat dirinya terlihat lemah. Terlebih lagi dihadapan Kai, dia sudah cukup membuat dirinya dijatuhkan seperti ini, dia tidak tahu berapa lama lagi dia dapat menahan semua ini.

Kai melonggarkan genggaman tangannya dari bahu Suji. Kemudian pandangan matanya turun kearah dimana gadis dihadapannya ini menggigit bibirnya sendiri, hanya demi mencegah agar air matanya tidak terjatuh. Kai menatap Suji dengan lekat, kemudian perasaan itu menghampirinya lagi, perasaan ingin menolong gadis yang terlihat begitu rapuh ini.

“Kau jahat Kai.”

Ucapan Suji bergema didalam benaknya. Ratusan bahkan ribuan pertanyaan melintasi pikirannya. Apakah dirinya telah berlebihan memperlakukan Suji? Perasaan bersalah pun mulai menghampirinya. Akal sehatnya tidak dapat mengontrol jalan pikirnya lagi. Dia tidak dapat memahami segalanya yang tengah terjadi. Hingga akhirnya, dia mendengar suara rintihan yang berasal dari gadis dihadapannya ini.

Lalu tanpa banyak berpikir, Kai segera meletakkan kedua tangannya di bawah dengkul dan punggung Suji, kemudian mengangkat tubuhnya keatas, menggendongnya.

Suji dapat merasakan adanya sengatan ketika tangan Kai menyentuh tubuhnya seperti ini. Suji dapat merasakan percikan api yang berjalan kebawah tulang punggungnya. Suji juga dapat merasakan detak jantungnya yang begitu keras, sampai-sampai dia takut jika Kai dapat mendengarnya. Kai yang untuk kedua kalinya melakukan hal seperti ini lagi. Kai yang untuk kedua kalinya menolongnya disaat-saat memilukan seperti ini lagi.

Suji menyerah.

Dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dia membawa tangannya melingkar dileher Kai, lalu menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Kai. Namun tidak ada satu tetes air mata pun yang berhasil terjatuh, ketika perasaan aman itu kembali menghampirinya. Perasaan aman dalam pelukan Kai.

—–

“Bagaimana keadaan Suji?” Suho bertanya dengan khawatir, dia segera menyusul Kai kerumah sakit setelah membereskan permasalahan Hayoung dan Suji disekolah tadi. Suho mengecam Hayoung agar mau mengakui perbuatannya, karena Suho tahu siapa itu Hayoung yang sebenarnya, begitu juga dengan Kai. Dan pada akhirnya Hayoung pun mengakui segala kesalahannya. Dan karena Hayoung adalah putri kepala yayasan sekolah, Suho pun berhasil membuatnya agar dia mau membujuk ayahnya untuk tidak membiarkan kepala sekolah atau staff guru disana menghukum mereka berdua, terlebih lagi Suji.

“Dia baik-baik saja, lukanya tidak parah” Ujar Kai.

“Syukurlah,” Suho menghela nafasnya, “Masalah Hayoung sudah kubereskan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan” Suho menepuk bahu Kai.

“Thanks” Kai tersenyum lega kepada Suho.

“Hayoung,” Suho mengepal kedua tangannya, “Dia dalang dari semua kejadian ini, Suji sama sekali tidak bersalah, dia hanya-”

“Membela dirinya” Kai melanjutkan kalimat Suho.

Suho menatap Kai dengan penuh tanda tanya, “Aku kira kau tidak mempercayai Suji.”

“Aku,” Pandangan mata Kai melembut, “Mempercayainya. Sejak awal. Aku mempercayainya.”

“Jadi …” Senyum jahil mulai terukir dari ujung bibir Suho, “Sekarang Suji menjadi begitu spesial bagimu kah?”

“Mwo?” Kai menatapnya dengan bingung.

“Aniyo, hanya saja istrimu itu, dia terlihat berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah kau temui bukan?” Suho tersenyum menyeringai.

Kai memutar bola matanya, “Jangan mulai lagi Hyung.”

“Suji itu begitu spesial,” Suho berkata, “Kau hanya belum menyadarinya saja.”

Kai mendengus, “Apanya yang spesial dari seorang istri yang menyebut suaminya jahat dihadapan semua orang.”

“Kau lihat kan?” Suho menunjuk Kai.

“Lihat apa?” Kai menjadi semakin bingung dengan perkataan Suho.

“Kau memanggilnya istri, padahal tidak ada seorangpun disana kecuali aku yang mengetahui hal itu” Suho tersenyum puas.

“Itu hanya spontanitas hyung,” Kai mendengus, “Tidak lebih.”

“Tolong jaga Suji baik-baik Kai,” Suho berkata sambil berdiri dan mulai berjalan meninggalkan tempatnya, “Dia berbeda.” Setelah itu Suho melambai dan menghilang dari pandangan Kai.

Pertama ibunya, kemudian kali ini Suho juga menyuruhnya untuk menjaga Suji dengan baik. Kemudian tiba-tiba saja Kai ingat bagaimana Suji menggigit bibirnya dengan begitu keras saat itu, hanya untuk menahan dirinya agar tidak menangis.

“Kau benar hyung,” Kai mengakuinya, “Dia memang berbeda.”

—–

Suji duduk diranjang rumah sakit, kemudian dia menatap lengan kanannya yang penuh dengan perban, untung saja lukanya tidak terlalu dalam dan tidak mencederainya.

Suji ingat ketika kedua tangan Kai menggendongnya saat itu, perasaan aman itu kembali mengerumuninya lagi.

Saat kejadian berlangsung, untung saja tuan Kang telah tiba disekolah untuk menjemput Suji seperti biasa, kemudian Kai pun segera membawa Suji kedalam mobil lalu mengantarnya kerumah sakit, sedangkan tuan Kang yang membawa motor Kai kerumah.

Suji begitu tenggelam dalam pikirannya, sampai-sampai dia tidak sadar ketika Kai telah berada disampingnya.

“Hey,” Kai menyapa Suji, “Gwenchana?”

Suji mengangguk pelan, kemudian dia turun dari ranjangnya, “Aku lelah Kai, bisakah kita pulang sekarang?”

Kai mengangguk, setelah itu mereka berdua keluar dari rumah sakit dan masuk kedalam mobil. Dalam perjalanan pulang, mereka sama sekali tidak mengeluarkan suara, Kai terlalu fokus menyetir, sedangkan Suji hanya terus melihat keluar jendela, hari ini merupakan hari yang begitu melelahkan baginya. Kemudian tiba-tiba saja matanya mulai mengantuk, dan dia pun tidak bisa membiarkan kedua matanya agar tidak tertutup. Suji tertidur dengan berbagai macam pikiran yang mengerumuninya, dimana sebagian besar dari mereka sama sekali tidak menyenangkan.

Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai kerumah. Kai baru saja hendak keluar dari dalam mobilnya, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat Suji yang telah tertidur pulas.

Wajahnya terlihat begitu lelah, helaan nafasnya membuat tubuhnya naik turun, menandakan dia benar-benar telah tertidur pulas.

Kai menghela nafasnya, dia tidak tega membangunkan Suji, kemudian dia keluar dari dalam mobil, lalu membuka pintu mobil disamping Suji. Kai meletakkan kedua tangannya di leher dan dibawah dengkul Suji, kemudian mengangkat tubuhnya dan setelah itu menggendongnya masuk kedalam rumah.

Tubuh Suji terasa begitu ringan, jika dipikir-pikir hari ini sudah yang kedua kalinya Kai menggendongnya seperti. Sebelumnya dia tidak pernah memperlakukan perempuan manapun seperti dia memperlakukan Suji.

Suji bergeming kecil dalam tidurnya, Kai menghentikan langkahnya sejenak. Kemudian Suji secara tidak sengaja memutar dan menjatuhkan kepalanya tepat dibahu Kai, dengan hidungnya yang menyentuh leher Kai.

Kai dapat merasakan nafas Suji yang berhembus dilehernya.

Deg.

Jantung Kai tiba-tiba saja berdetak.

Kai menolehkan kepalanya agar dapat melihat wajah Suji, lalu dia melebarkan matanya ketika melihat jarak bibir Suji yang hanya beberapa centimeter dari matanya. Kai menelan ludahnya, pikirannya saat ini berubah menjadi kabur. Kai tidak mengerti apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini. Ini adalah pertama kalinya dia pernah memegang seorang gadis dengan begitu erat dan dekat. Kai tidak pernah menyadari betapa ringan dan rampingnya tubuh seorang gadis, dan bagaimana wangi tubuh mereka yang seperti bunga lili dan stroberi.

Melihat wajah Suji dari jarak yang sedekat ini, membuatnya memperhatikan setiap detail yang ada pada wajah gadis ini. Bulu matanya terlihat begitu panjangnya, hidungnya kecilnya terlihat begitu mungil, kedua pipinya terlihat begitu merona, dan warna bibirnya terlihat begitu merah.

Deg.

Jantungnya kembali berdetak.

Kai menggelengkan kepalanya dengan cepat, mungkin dia harus segera beristirahat agar pikirannya dapat kembali jernih. Lalu tanpa banyak berpikir lagi, Kai kembali berjalan menuju kamar Suji, kemudian membaringkan tubuh gadis ini diranjangnya, setelah itu menyelimuti tubuhnya dengan selimut.

Lagi dan lagi, Kai kembali melakukan hal-hal yang tidak pernah dia lakukan terhadap gadis manapun, yaitu menolongnya, menggendongnya, dan menyelimutinya.

“Sebanyak apapun aku ingin membencimu,” Kai berbisik pelan dihadapan Suji yang telah tertidur dengan pulasnya, “Aku hanya tidak bisa, dan aku sama sekali tidak mengerti apa alasannya.”

Tanpa dirinya sadari, Kai mulai mengepal kedua tangannya sendiri.

TBC

143 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 3)

  1. Suji ini kurang lebih kek ane.
    Sok sok kuat padahl di balik itu ada sejuta luka. Wkwkwkwkwk 😂
    Sumpah keren bgt dia brani ngatain nenek sihir kek gtu. Ckck membela diri itu wajib. Gk perlu pke kekerasan. Pke kata kata juga bisa. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s