How Can I Say? (Chapter 1)

Tittle                : How Can I Say? [ Part 1 ]

Author             : Baby Blue [@whirlkinetics on twitter]

Genre              : Comedy garing, Romance, Gaje.

Length             : Twoshoot

Rating              : PG-14

Main Cast        :

   §  Oh Sehun

   §  Park Hana

Other Cast       : Find it By Yourself ^^~

Cover ff sehun

Disclaimer       : Don’t be a PLAGIATOR. Don’t BASHING. And warning TYPO! Last, enjoy this Fanfic ^^

NB                  : Cuap-cuapnya di akhir aja yaa~~

 

Happy Reading~^^

Aku menyukaimu, tapi kau tidak peka terhadap perasaan ku. Aku tau kau manusia berdarah dingin. Seperti vampire yang selalu menghantui pikiranku. Jika aku memikirkanmu, aku selalu tersesat. Ibarat aku berjalan di jalan setapak yang harus bertemu dengan pepohonan rindang yang ber-efek mempersulit diriku untuk kembali ke jalan asalku. Tapi aku percaya, kau adalah orang baik. Orang baik yang mengerti akan perasaan seseorang.—Hana

 

__ooo__

All of Author POV

“Hana-ya..” Panggil seorang gadis kepada temannya oh, atau mungkin bisa disebut dengan sahabat. Hana langsung menoleh begitu namanya disebutkan. Hana tersenyum dan berjalan mendekati temannya itu.

“Oh, neo wasseo? Wae Geu Young-ah?” Gadis yang bernama Geu Young tersebut tersenyum juga, membalas senyuman yang dilemparkan Hana.

“Kajja ke tempat makan biasa, nan baegopa~” ucap Geu Young sambil menaik-turunkan alisnya. Hana hanya mengerutkan kening, kemudian tersenyum melihat tingkah Geu Young.

“Kajja nado baegopa~” balas Hana.

Mereka berjalan bersama menuju tempat yang dimaksud. Ya. Hana dan Geu Young adalah sahabat. Tepatnya saat mereka masuk kuliah. Hana dulunya gadis pendiam dan tertutup. Tapi dibalik itu semua, Hana termasuk gadis yang aktif, bahkan hiperaktif. Ia juga gadis yang ceria dan tidak gampang menyerah. Geu Young-lah orang yang satu-satunya bisa mengerti dengan keadaan Hana sebelum ia menjadi gadis terbuka dan gampang bergaul. Makanya ia terus mengajak Hana aktif dalam kegiatan apapun. Bahkan Hana menganggap Geu Young adalah sesosok ibu yang selalu ada bersamanya.

Setelah beberapa menit mereka berjalan, sampailah mereka ke tempat yang dituju. Kedai jjangmyeon. Salah satu makanan favorit mereka. Kemudian Hana dan Geu Young duduk di dekat jendela. Tempat duduk favorit mereka.

“Annyeonghaseyo~” sapa pelayan tersebut ramah.

“Ne.. Annyeonghaseyo ahjusshi. Ahjusshi kami pesan seperti biasa, oke?” jawab Hana dan Geu Young ramah. Pelayan tersebut mengangguk.

“Baik, tunggu sebentar ya. Ahjusshi akan kembali.”

“Kamsahamnida Ahjusshi.”

“Ne.. Cheonmaneyo.”

Lumayan lama mereka menunggu, sampai akhirnya pesanan datang. Mereka makan dengan lahap. Bahkan belum sampai sepuluh menit mereka makan, jjangmyeon tersebut telah masuk sempurna ke dalam perut mereka. Suatu kepuasan tersendiri bagi mereka setelah memakan seporsi jjangmyeon.

“Ya! Hana! Bwa, siapa yang duduk di sana? Kau pasti mengenalnya kan?” Ucap Geu Young sambil menunjukkan siapa yang ia maksud dengan dagunya. Hana menoleh dan beberapa saat kemudian matanya membulat sempurna dengan mulut masih penuh dengan jjangmyeon terakhirnya.

DEG-

Jantungnya seakan memompa darah lebih banyak dan bekerja berkali-kali lipat dari biasanya. Darah yang dipompa dari jantungnya seolah-olah sedang berpacu untuk memenangkan siapa yang dapat keluar dari jantung terlebih dahulu. Sungguh, hal ini terus terjadi saat ia sedang melihat orang itu.

“Hana-ya!” Hana terkesiap dengan teguran Geu Young sambil menelan jjangmyeon yang ada di mulutnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Masih tidak percaya bahwa ia datang ke tempat ini. Tempat yang jauh dari kata mewah.

“Ah.. Ne? Mianhae. Ya, dia itu vampire menyebalkan yang selalu menghampiri pikiranku! Heu!” Cibir Hana.

“Haaahh, kau ini, walaupun ia vampire menyebalkan yang selalu mampir dipikiranmu, tapi kan kau tetap menyukainya bukan? Haha.. mengaku saja kau Hana-ya.” Ucap Geu Young sambil berusaha menahan tawanya. Hana hanya memajukan bibirnya. Kesal.

 

__ooo__

 

4.30 KST

Mata kuliah di salah satu Universitas terkenal di Korea Selatan telah usai. Para mahasiswa-pun berbondong-bondong keluar dari kelas masing-masing. Hana pun begitu, ia beranjak dari tempat duduknya sambil sesekali memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Wajar saja ia merasa pusing. Karena mata kuliah hari ini penuh dengan hitung-menghitung. Untungnya kelas mereka baru dimulai pada siang hari tadi.

“Hana-ya.. aku tidak bisa pulang bersamamu. Baekhyun oppa sudah menungguku. Akan ada acara dirumahku nanti, jadi aku harus pulang duluan. Tak apa kan?” Tanya Geu Young. Hana hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Ne, gwenchana. Hati-hatilah.” Geu Young tersenyum. Walaupun jauh di lubuk hatinya ia tidak rela membiarkan sahabatnya itu pulang sendiri. Tapi bagaimana pun Geu Young yakin, Hana adalah yeoja yang kuat.

“Ahh.. baiklah. Sampai jumpa besok.” Ucap Geu Young sambil melambaikan tangannya. Mereka berpisah di depan pintu gerbang. Hana memandang mobil berwarna hitam tersebut sampai hilang di pertigaan jalan. Hana mendesah pelan.

“Ahh.. andai saja ia pulang bersamaku. Aku akan menceritakan bagaimana kribo nya otakku. Apakah aku harus pergi kesalon untuk meluruskan kembali otakku? Apakah ada salon yang menyediakan jasa “Pelurusan Otak”? ” Tanya Hana dengan bodohnya. Ya, bahkan bokongnya pun hampir menipis akibat duduk sangat lama di tempat duduknya. Malang sekali.

Hana berjalan lurus. Sesekali ia menendang kerikil kecil. Bosan berjalan di jalan sepi. Ya. Ia berjalan menuju halte bus yang sangat minim orang datang untuk menunggu. Beberapa saat ia sampai di halte. Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang selalu menghantui pikirannya sedang tertidur menunggu bus datang.

Ia memberanikan diri untuk mendekat. Ia bahkan sangat takut mendekati namja itu. Bisa saja kan ia terbangun, kemudian dengan mata memerah mendekati Hana dan menghisap darahnya. Oh, bahkan memikirkannya saja semua orang yakin kalau Hana mungkin hanya berhalusinasi. Tapi tidak! Ini bukan sebuah halusinasi ataupun fatamorgana melainkan ini adalah nyata orang itu ada. Tak berapa lama, akhirnya bus yang ditunggu datang.

“Oh Sehun-ssi? Ppali ireona busnya sudah datang.” Hana memberanikan diri untuk membangunkan seorang Oh Sehun. Ia hanya menggeliat sedikit kemudian kembali dengan posisi seperti tadi.

“Dasar kebo bule!” Hana mengumpat dalam hati.

“Sehun-ssi, ireona” ucapnya lembut. Sehun tak bergeming. Hana memberanikan diri untuk menyentuh pundak milik Sehun dengan jari telunjuknya.

“Hmmmm……” Gumam Sehun.

“Ck..”  Hana berdecak kesal. Kemudian ia membalikkan badan dan ia terkejut, bahkan sangat terkejut. Bus yang ia tunggu baru saja berangkat. Ia berdecak. Gara-gara Oh Sehun, ia harus kehilangan bus yang ia tunggu. Ia kemudian mencoba mengejar. Tetapi tidak sampai lima langkah ia berjalan, ia terjatuh.

BRUKK

“Aww..” Ringisnya. Ia mencoba berdiri tapi sayangnya, ia susah sekali untuk berdiri. Sepertinya kakinya terkilir. Tiba-tiba saja sebuah tangan terulur dihadapannya. Ia mendongak perlahan. ‘mwo? Sehun-ssi? Benarkah dia Oh Sehun?” ucapnya dalam hati.

“Neo gwenchana?” Tanya Sehun. Ia berusaha membantu Hana berdiri, tapi belum sampai berdiri Hana sudah kembali terjatuh. Kemudian dilihatnya pergelangan kaki milik Hana. Sedikit membengkak. Ia berusaha menyentuh bagian itu, tapi Hana langsung meringis.

“Ya! Kenapa ekspresimu seperti itu? Kan aku belum menyentuhnya.” Ucap Sehun.

“J-jeongmal? T-tapi kenapa rasanya sakit?” Tanya Hana balik dengan terbata. Sehun hanya bisa mendengus kesal. Kenapa ia bisa bertemu orang yang begitu lemot? Oh, tunggu. Bisakah Hana dikatakan lemot? Sepertinya kata bodoh tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini.

“Ya! Kau ini bodoh atau apa? Itu karena memang kau takut jika di sentuh!” jawab Sehun geram. Hana hanya nyengir kuda. Sebetulnya ia juga masih bingung, dirinya yang bodoh dalam hal pelajaran biologi atau Sehun yang bodoh? Ah.. entahlah. Mari lupakan.

“Ja~ naik.” Hana mengerutkan dahi. Bingung dengan maksud Sehun.

“Ayo naik. Kenapa kau melihatku? Ya.. aku tau aku tampan tidak usah memandangiku terus. Hari sudah hampir malam, tidak baik untukmu jika pulang terlalu larut.” Ucap Sehun bijak. Hana tersenyum. Perlahan, ia naik ke punggung milik Sehun.

DEG- DEG- DEG-

Jantungnya berdetak tak karuan.’Hey! kenapa jantungku seperti ini? Apa mereka sedang berlomba?’ Tanyanya entah pada siapa. Ia berusaha mengatur nafasnya. Dan berusaha mengatur detakan jantungnya yang semakin tak karuan. Bagaimana tidak? Tubuh bagian depan milik Hana menempel dengan punggung belakang milik Sehun. Dan tentu saja dibatasi oleh kain pakaian mereka.

“Se-Sehun-ssi. Apa kau tau dimana rumahku?” Tanya Hana terbata.

“Ne. Aku tahu. Bukankah kau adik Chanyeol hyung?” Jawab Sehun enteng. Hana terperangah dengan jawaban dan pertanyaan yang dilontarkan Sehun. Hanya satu pertanyaan yang muncul di benak Hana. Bagaimana ia tahu?. Baru saja ia akan bertanya Sehun sudah berbicara.

“Kau pasti akan bertanya kan bagaimana aku bisa tahu?” Tanya Sehun. Hana mengangguk lemah. Ia masih diterpa Shock Theraphy. Namun sesaat kemudian Sehun tersenyum tipis. Tapi dari  senyuman itu dapat dilihat bahwa ia memberikannya dengan tulus.

“Suatu saat aku akan memberitahukanmu bagaimana aku tahu itu. Nah, kau sudah sampai, kau bisa turun.” Ucap Sehun sambil berjongkok. Hana turun perlahan dan Sehun kembali berdiri. Tiba-tiba suara pintu terbuka. Oh, Chanyeol rupanya. Ia terperanjat kaget bercampur bingung.

“Oh, Sehun-ah. Kenapa kau bisa disini? Dan bersama adikku?” Tanya Chanyeol beruntun. Sehun hanya menanggapinya dengan senyuman. Hana yang merasa aneh dengan keadaan ini. Mencoba menelisik gerak-gerik Sehun dan Chanyeol. Tapi nihil sama sekali tidak ada gerak-gerik mencurigakan.

“Tadi dia jatuh saat mengejar bus. Sepertinya kakinya terkilir, dan ia butuh istirahat untuk beberapa hari. Kau obati dan kompres air hangat. Maaf hyung, aku telah lancang menggendong adikmu.” Hana hanya melongo dengan ucapan Sehun barusan.

‘Benarkah ia seperti ini? Mengapa tampangnya seperti manusia berdarah dingin? Tapi setelah ia berbicara panjang lebar, mengapa kesan ‘manusia berdarah dingin’ itu pudar seketika? Apa aku terlalu mendambakan seorang Oh Sehun?’—Hana

“Ah geurae.. gwencahana, aku percaya padamu Sehun-ah. Gomawo sudah membawa adikku dengan selamat sampai rumah.” Balas Chanyeol. Ia tersenyum penuh arti pada Sehun. Ia percaya, bahkan sangat percaya pada Sehun.

“Geurom.. aku akan pulang. Sepertinya eomma ku sudah menungguku. Annyeong~” ucap Sehun sambil mengangkat  tangannya. Ia tersenyum pada Hana dan Chanyeol. Hana bingung. Kenapa Sehun suka sekali tersenyum? Ah.. biarkan ia berkembang. Tapi satu pertanyaan dengan tanda Tanya besar muncul dipikirannya.

Ia tahu darimana?

 

__TBC__

Author Note’s :

Annyeoooonnnggg^^ gimana nih cerita yang ini? Kagak kaget kan ya liat TBC di atas? Hohohh. Nahhh, disini saya mencoba untuk buat yang hepi-hepi ulalaa~ gitu dan lumayan lah yaa, panjang2 gimanaa gitu.. heheh.. dan saya harap ff ini lebih baik dari ff saya yang pertama. Yang judulnya “The Person I Love”. Dan juga lebih menghibur serta menguras tenaga dalam(?) andaa.. *apaini.

Baiklah segitu dulu cuap-cuap dari saya.. dan saya minta RCL nya. Boleh doong? Hehe..

Annyeoonnggg^^

17 pemikiran pada “How Can I Say? (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s