Can I? (Chapter 2)

“Can I?”

Chapter 2

 

Author  : @triZa28

Genre   : you will know if you read this ^^

Cast       :

  • Lee Yoonhee
  • Park Chanyeol
  • Kim Minhee
  • Xi Luhan
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Zhang Yixing

Note      : Halo.. apa kabar?? Sebenarnya ff : ‘Can I?’ ini multi chapter tapi aku lupa nulis, jadinya banyak yang ngira ff ini oneshoot deh~. Maaf ya readers >.<. Ah, aku juga terharu~ banyak yang ngomen. Makasih banyak ya readers~ ^^.

NB          : Harap dimaklumi kalau ada typo ^^

Happy reading… ^^

 

 

(***)

“DUG! DUG!”, Yoonhee menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak. Ahh, kenapa rasanya masih terlalu sakit?

(***)

“ Cuci darah dilakukan setiap bulan. Jika anda melewatkan satu kali saja, ini juga akan berakibat pada tubuh anda. Anda harus mengurangi pekerjaan anda jika ingin sehat”.

Yoonhee membungkukkan badannya sebelum pergi dari ruangan dokter itu. Dia sudah tahu lama tentang penyakitnya, gagal ginjal, tapi dia tak tahu jika ginjalnya separah itu. 5 tahun yang lalu, dia harus menjalani operasi pengangkatan salah satu ginjalnya karena ginjalnya tidak bisa bekerja dengan baik, kalau tidak diangkat bisa-bisa meracuni tubuhnya sendiri. Sudah 5 tahun dia menjalani hidupnya dengan 1 ginjal, dan dia memang terlalu memaksakan diri. Orang yang memiliki 1 ginjal dilarang bekerja keras, bekerja sampai lelah tapi Yoonhee melakukan itu semua. Dan akibatnya, dokter yang sudah mengenalnya dengan baik tadi menyuruhnya cuci darah.

Tak satupun dari sahabat-sahabatnya yang mengetahui penyakit Yoonhee. Bahkan orang tuanya juga tidak tahu. Jadi ketika dia sedang kesakitan di hadapan sahabat atau orang tuanya, dia selalu berbohong dengan mengatakan itu hanya maag.

Apa yang akan dilakukannya sekarang?

(***)

“Kau sungguh-sungguh tidak akan datang? Ini pesta perayaan pernikahanku dan Minhee..”, Yoonhee tersenyum membaca SMS dari HPnya.

“Maaf, sungguh. Aku benar-benar tidak bisa. Ada urusan yang amat penting. Sampaikan salamku pada semuanya.. ah dan juga maaf untuk Minhee”, balasnya.

Beberapa menit kemudian, Perawat ramah menghampiri Yoonhee. Sekarang gilirannya untuk cuci darah..

“Anda terlihat masih muda..”, ujar Perawat itu ramah sambil memasang alat pencuci darah ditubuhnya.

“Terimakasih, saya 34 tahun, sudah mulai tua..”, canda Yoonhee untuk mengurangi kegugupannya.

“Anda tidak datang bersama suami anda?”. Dengan cepat Yoonhee menjawab, “Suster, saya belum menikah..”.

 

Dan akhirnya proses cuci darah pertama Yoonhee dimulai.

(***)

“Kenapa kau selalu menghilang tanpa jejak di akhir bulan?”, tanya Baekhyun sambil menyereput orange juicenya. “Aku selalu sibuk di akhir bulan..”, jawab Yoonhee singkat. “Tapi akhir bulan yang lalu, aku menelepon ke kantormu, sekretarismu bilang kau sedang ke rumah sakit, kenapa ke rumah sakit?”. Yoonhee terdiam sebentar, memikirkan jawabannya, “Itu.. aku sedang mengobati maagku..”, bohongnya.

“Astaga.. sudah kubilang kau harus mengontrol makananmu sebelum maagmu bertambah parah!”, kali ini Kyungsoo yang mengomel sementara Yoonhee terdiam lagi.

(***)

“Chanyeol-ah, bisa bertemu sebentar?”

“Sekarang? Mm, bisa. Oke, aku kesana..”

Luhan menghela nafasnya. Dasar anak bodoh.

Terlalu mencintai pria itu sampai-sampai tidak mau menikah dengan pria lain? Bodoh, benar-benar bodoh.

 

“Jarang-jarang kau menelponku mengajak bertemu.. ada apa?”,Chanyeol menyeret kursi di depan Luhan, kemudian duduk.

“Chanyeol-ah, kali ini saja, lupakan kau pria beristri”. Chanyeol menatap Luhan bingung.

“Kita berbicara antar pria”, jelas Luhan.

Kenapa Luhan serius sekali?

“Baiklah..”.

Luhan menatap Chanyeol serius.

“Bagaimana mnurutmu tentang Yoonhee?”

Yoonhee??

“Yoonhee sahabat yang baik..”, jawab Chanyeol tanpa perlu berpikir keras.

“Hanya itu? hanya sahabat? Kau yakin?”. Chanyeol semakin bingung arah pembicaraan Luhan.

“Maksudmu.. lebih? Tidak.. dia sahabat, sahabat terbaikku di dunia”, jawab Chanyeol dengan tersenyum.

“Jika kau menganggapnya sahabat terbaik, kau pasti tahu kenapa Yoonhee mempunyai kebiasaan menggigit bibirnya kan?”. Chanyeol mengangguk, “Karena dia.. benci menangis”.

“Dan.. apakah kau tahu berapa kali dia menggigit bibirnya 3 tahun yang lalu saat pernikahaanmu dengan Minhee?”, Chanyeol terdiam kemudian menggeleleng.

“Lebih dari 10 kali, dan tahu lagi apa yang kutemukan? Dia menggigit bibirnya sambil melihat kau yang bersandingan dengan Minhee”. Kali ini, Chanyeol terdiam kaget menatap Luhan.

“Bukankah semuanya sudah jelas? Kau ingat ketika dulu sewaktu SMA, sebelum kau dekat dengan Minhee, kalian sangat dekat, seperti sahabat tapi terlihat lebih juga. Tap kemudian setelah kau mendekati Minhee apa kau sadar Yoonhee menghindarimu? dia tahu kau menyukai Minhee, karena itu dia menghindarimu, membuatmu bisa berdekatan dengan Minhee, apa kau mengerti maksudku, Chanyeol-ah?”.

Chanyeol yang terdiam itu menatap Luhan,”Maksudmu, Yoonhee menyukaiku? Tapi kenapa dia tak pernah bilang padaku?”.

“Karena kau adalah sahabatnya, Minhee juga sahabatnya, jadi dia memilih untuk mengalah”, jawab Luhan cepat. “Ah.. dan apakah kau tau dia tak mau menikah? Karena baginya hanya 1 pria yang dicintainya, sekalipun pria itu sudah beristri”.

(***)

“Bagaimana kabar anda, Lee Yoonhee-ssi?”, tanya dokter yang lebih tua beberapa tahun darinya itu.

“Lumayan, seonsaengnim..”.

“Cuci darahnya tidak menakutkan bukan?”, Yoonhee tertawa mendengar perkataan dokter yang bernama Yixing itu.

“Pertama kali iya, kemudian tidak..”

(***)

YIxing tak mau mengakui ini. Tapi mau tak mau dia mengakui, dia jatuh cinta pada pasiennya yang bernama Lee Yoonhee. Mungkin dia harus berterimakasih kepada dokter seniornya, seharusnya yang menangani Lee Yoonhee bukan dia tetapi karena suatu hal, dokter senior itu menyuruh Yixing mengambil tugasnya. Dan sejak pertama kali mereka bertemu, jantung Yixing sudah berdebar-debar tak karuan.

Dia jatuh cinta pada yeoja itu..

(***)

“Ah, Park Chanyeol-nim, anda mencari Lee Sajang-nim?”, sekretaris Yoonhee, Kim Hyerin, membungkuk hormat ketika melihat Park Chanyeol, yang setahunya adalah sahabat sajang-nim nya datang ke kantor.

Chanyeol tersenyum pelan, “Iya, Yoonhee..ada?”. Sekretaris Yoonhee menggeleng, “Lee Sajang-nim sedang keluar, Sajang-nim tidak memberitahu saya kemana, tapi biasanya setelah makan siang dia sudah kembali..”, jelasnya. Chanyeol yang mendengarnya hanya mengangguk2 pelan, dia membungkuk pelan, kemudian kakinya beranjak pergi.

“Tunggu, Park Chanyeol-nim! Sebentar lagi sajang-nim akan datang, apakah anda mau menunggu? Akan saya antarkan ke ruang kerjanya”, cegah Hyerin sebelum Chanyol benar-benar pergi.

Chanyeol terlihat berpikir, “Baiklah.. terimakasih”.

(***)

Yoonhee melangkahkan kakinya melewati lobby gedung kantornya, tepat pada saat itu lift terbuka dan dia langsung masuk.

“TING!”, dia melongo sebentar. Ah ya, ini sudah lantai 16.

“Sajang-nim! Lee sajang-nim!”, Yoonhee menoleh tatkala namanya disebut. Ah, itu adalah sekretarisnya, Kim Hyerin.

“Maafkan saya, tadi sewaktu sajang-nim tidak ada, sahabat sajang-nim, Park Chanyeol-nim datang kesini. Karena kupikir sajang-nim akan segera kembali, saya menawarkannya untuk menunggu anda. Jadi Park Chanyeol-nim sedang menunggu anda di ruang kerja anda”, jelas Hyerin panjang lebar.

Chanyeol? Kenapa tiba-tiba dia disini?

 

Tanpa berbicara banyak, Yoonhee langsung menuju ruang kerjanya.

Dan ya, dia melihat Chanyeol di dalam ruang kerjanya. Dia duduk di sofa dekat meja kerjanya. Posisinya membelakanginya, jadi Chanyeol tak melihat kedatangan Yoonhee.

“Kenapa kau tak bilang mau kemari, Chanyeol-ah?”.

Entah.. dimata Yoonhee, Badan Chanyeol seperti tersentak kaget. Sedetik kemudian dia memutar tubuhnya, menatap Yoonhee. Seketika itupula mata Yoonhee terbelalak.

“A..pa ini, Yoonhee-ah?”, ujar Chanyeol yang terlihat shock, dia mengacungkan selembaran kertas dengan tangan bergetar.

Yoonhee menatap selembaran kertas yang diacungkan Chanyeol kaget.

“Kenapa.. ada di tanganmu?”, tanya Yoonhee yang kaget.

“Ini ada di mejamu.. karena aku sedikit bosan menunggu, kupikir aku akan melihat bagaimana dokumen-dokumen orang gila kerja sepertimu.. aku tak menyangkan menemukan ini di tumpukan dokumen..”, Chanyeol menghela nafasnya yang terasa sesak, “Kenapa? Kenapa kau diam saja? Kenapa tak memberitahuku kau sakit? Kenapa tak memberitahuku kau sakit ginjal? Dan.. apa ini? Jadwal cuci darah? Itukah alasanmu selalu menghilang disaat akhir bulan?”.

Yoonhee menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat. Rahasianya terbongkar sudah..

“Kenapa kau tak menjawabku, Yoonhee-ah?? Apakah diantara Baekhyun, Kyungsoo, Luhan dan Minhee hanya aku saja yang tidak tahu tentang ini?”, suara Chanyeol bergetar hebat. Suaranya terdengar parau karena dia merasa dikhianti… dibohongi..

“Tidak..”, satu kata itu  keluar dari mulut Yoonhee.

“Tidak ada satupun dari mereka yang tahu tentang penyakitku.. bahkan orang tuaku pun tak tahu tentang ini. Kau orang pertama yang mengetahuinya..”, kata Yoonhee sejelas mungkin. Dia tak ingin menunjukkan kelemahannya, dia harus kuat..

“Sejak kapan?”, tanya Chanyeol lagi yang masih terlalu shock.

“5 tahun yang lalu, aku melakukan operasi pengangkatan salah satu ginjal, karena ginjalku tidak bekerja dengan baik. Jadi.. selama 5 tahun aku hidup dengan 1 ginjal. Kau tahu aku suka bekerja, tapi itulah yang membuatku harus cuci darah. Orang yang memiliki 1 ginjal dilarang bekerja terlalu over, tapi aku terlalu over bekerja. Jadi itulah yang kau lihat diselembaran itu. itu adalah jadwal cuci darahku. Aku baru melakukannya 4 kali”.

Bagaimana mungkin wanita itu masih menjawab dengan setenang itu?

“Kau bisa memberitahu yang lain, aku tidak keberatan..”, lanjutnya dengan raut muka yang datar.

“Asal mereka tidak mencampuri urusan tentang penyakitku, tentunya..”.

Apa dia salah lihat?

Tidak Chanyeol tidak salah lihat! Yoonhee tersenyum! Dia tersenyum seolah-olah itu bukan apa-apa baginya!

(***)

Dan sesuai dengan dugaan Yoonhee. Semua sahabat-sahabatnya sekarang sudah mengetahui salah satu rahasia terbesarnya.

Yoonhee menatap datar mereka sambil sesekali menyesap kopi panasnya.

Hey! Itu kopiku!”, teriak Yoonhee karena tiba-tiba saja Kyungsoo menarik paksa kopinya.

“Kau sadar kenapa kita berkumpul seperti ini?”, tanya Kyungsoo serius, Yoonhee menatap mereka semua bergantian dengan senyum getir, “Kenapa? Untuk menatapku dengan mata kasihan kalian itu? aku tak butuh perhatian kalian! Mau kalian perhatian denganku atau tidak.. penyakitku tak akan hilang dan tak butuh lama bagiku untuk mati !”.

Yoonhee segera berdiri dari tempat duduknya, menyeret paksa kedua tas dan mantelnya yang disampirkan ke kursi. Dia berjalan dengan cepat. Tak menghiraukan beberapa teriakan sahabatnya dibelakang sana.

“GREP!”, tubuh Yoonhee seakan oleh kebelakang. Dia ditarik paksa.

“Apa, Park Chanyeol?! Lepaskan tanganmu!”, berkali-kali dia berusaha melepaskan tangan Chanyeol yang menggenggam lengannya kuat-kuat, tapi nihil.

“Berikan aku alasan yang bagus kenapa kau tak memberitahu kami”.

Lagi-lagi Yoonhee tersenyum getir, “Alasan bagus? Bukankah sudah jelas?! Aku tak ingin kalian menatapku dengan mata kasihan! Memangnya kalian punya hak untuk tahu penyakitku? Tidak!! Ini masalah pribadiku! Tidak ada yang boleh mencampuri masalah pribadiku meskipun kau sahabatku sejak kecil!!”, kali ini Yoonhee mendorong kasar tubuh Chanyeol sehingga dia melepaskan genggaman tangannya. Tanpa banyak bicara lagi dia pergi dari tempat itu.

(***)

Yixing berharap dia salah lihat. Tapi tidak..

Wanita yang terlihat sedang melamun itu Lee Yoonhee!! Tidak salah lagi!

Yixing mengikuti kata hatinya, dia keluar dari mobil sedan putihnya, berjalan menyusuri jalan setapak. Kali ini dia sudah tepat berada di depan wanita itu, hanya saja wanita itu tak menyadari keberadaannya. Yixing tak bisa tak tersenyum melihat wanita itu, wanita yang duduk di sebuah bangku panjang ditaman, wanita itu sedang mengetuk-ngetukkan sepatu bootnya ke tanah yang sudah bercampur tanah liat.

“Lee Yoonhee-ssi?”, akhirnya dia memanggil nama wanita itu, kontan wanita di depannya mendongak.

Seonsaengnim?”

(***)

Seonsaeng-nim, apakah seonsaeng-nim pernah berpikir ingin mengakhiri hidup?”. Dengan cepat mata Yixing menatap wanita yang duduk disampingnya heran.

“Aku yakin, semua orang pernah berpikiran seperti itu. tapi, kita hidup untuk suatu hal, dan jika kita mengakhiri hidup sebelum waktunya maka penyesalanlah yang akan kita dapat..”, jawab Yixing tak mengalihkan matanya yang tetap menatap wanita disampingnya.

Seuntai senyum menghiasi wajah Yoonhee, tapi Yixing tahu itu bukan senyum kebahagiaan tetapi senyum kesedihan.

“Apa yang seonsaeng-nim lakukan seandainya menjadi aku? Aku yang hanya punya 1 ginjal, aku yang tak bisa bertahan hidup kecuali dengan melakukan cuci darah rutin, aku yang dokter-dokter selalu memperkirakan aku tak akan lama hidup di dunia. Apa yang akan seonsaengnim lakukan?”. Yixing tahu wanita itu sedang meenahan semua emosinya. Dia menggenggam tangan dinginnya sendiri kuat-kuat sehingga tampak memutih dan dia yang menggigit bibir bawahnya dengan keras seolah menjaga agar dia tak menangis meraung-raung.

“Aku.. tak tahu dengan pasti. Tapi yang pasti adalah aku akan tetap hidup demi orang yang aku sayangi di dunia ini. Aku tak ingin mereka melihatku dengan menyedihkan. Jadi kurasa aku akan tersenyum pada dunia ini yang kenyataanya begitu pahit”. Kali ini Yoonhee balas menatap mata Yixing, perlahan wanita itu tersenyum, kali ini senyumnya terasa begitu lepas dan menenangkan, “Terimakasih, seonsaeng-nim..”.

(***)

Sejak hari itu, Yoonhee tak pernah berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya. Bukannya sahabatnya yang tak menghubunginya tapi karena Yoonhee yang menghindari mereka semua. Yoonhee mematikan HPnya setiap hari, dia hanya akan menyalakan HPnya ketika dia benar-benar butuh.

Seperti hari ini…

“Ada.. 58 pesan tak dibaca?”, gumam Yoonhee sambil membuka kunci HPnya. Wajah kagetnya langsung terganti dengan wajahnya yang datar.

“Oh..mereka”, gumamnya pelan.

Sebagian ada SMS dari Chanyeol, sebagian lagi dari Luhan, Baekhyun dan Kyungsoo. Separuhnya adalah Minhee.

Tapi tiba-tiba dia berhenti dari aktivitasnya dan menatap pesan-pesan yang ada dalam HPnya.

“Jangan lupa kunjungi doktermu hari ini. Hari ini jadwal cuci darah bukan? Chanyeol”.

“Apa yang kau lakukan hari ini? Jangan terlalu memaksakan dirimu bekerja, perusahaan akan tetap stabil kok. Chanyeol”.

“Bolehkan aku jujur? Aku baru merasakannya beberapa hari ini. Ya.. kuakui aku merindukanmu… merindukan setiap omelanmu padaku.. Chanyeol”.

“Yoonhee-ah, hari ini akan ada hujan lebat. Aku sangat kuatir. Hari ini saja, bisakah kau libur dari pekerjaanmu? Jangan keluar apartemen, hangatkanlah dirimu dibawah selimut dan pemanas. Jangan minum kopi, minumlah teh hijau yang pernah aku berikan padamu. Ah.. dan jangan lupa mandilah dengan air hangat. Chanyeol”.

Yoonhee mendesis kecil.

“Dasar anak bodoh. Kau pikir aku masih anak kecil? Aku sudah berumur 34 tahun!”.

Tapi, tak bisa Yoonhee pungkiri. Dia senang.. dia senang mendapatkan SMS sebanyak itu dari Chanyeol. Apalagi semua SMSnya berisi perhatian-perhatian yang pernah Yoonhee terima dulu, jauh sebelum Minhee ada di kehidupan mereka.

 

 

Apakah dia sekarang…boleh berharap?

Bolehkah dia?

 

 

Cepat-cepat Yoonhee menghapus pikirannya tersebut.

“Tidak, tidak boleh. Dia suami Minhee..”, gumamnya pelan.

 

(***)

To be Continue..

Siapa yang penasaran?? Siapa yang mau lanjut??

Ditunggu komentarnya ya ^^. Khamsa hamnida >.<

Iklan

26 pemikiran pada “Can I? (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s