Hypocrites (Chapter 4)

| Title: Hypocrites | Length: Multi Chapter | Chapter: 4 (Ongoing) |

| Author: @zelowifey | Genre: Arranged Marriage, Drama, Romance |

| Main Cast: Choi Suji (You) & Kim Jongin (Kai) |

| Support Cast: EXO (K) & Lee Minhee (OC) |

 Poster (3)

 

Tanpa disadari, waktu berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa sudah hampir dua bulan Suji tinggal bersama dengan keluarga Kim.

Sejak peristiwa yang terjadi diantara dirinya dan Hayoung, entah mengapa Hayoung tidak pernah muncul di hadapannya lagi. Anehnya setiap kali mereka berpapasan di sekolah, Hayoung pasti akan selalu menghindar darinya.

Minhee begitu kesal dengan apa yang telah dilakukan Hayoung terhadap teman baiknya, Suji. Dia juga merasa menyesal karena tidak ada bersamanya ketika peristiwa tersebut terjadi, begitu juga dengan Baekhyun. Walaupun demikian, Suji telah berhasil meyakinkan mereka berdua bahwa dirinya baik-baik saja, lukanya pun sudah mulai membaik. Maka dari itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

—–

“Apa rencanamu di malam tahun baru nanti, Su?” Minhee bertanya sambil memasukkan buku dan tempat pensilnya ke dalam tas. Kelas baru saja berakhir beberapa menit yang lalu.

“Aku tidak tahu, bagaimana denganmu?” Suji balik bertanya, lalu mereka berdua pun berjalan bersama-sama meninggalkan ruang kelas.

“Jangan bohong,” Minhee memicingkan matanya, “Pasti kau dan Kai sudah punya rencana kan?” Dia tersenyum jahil menggoda Suji.

“Aniyo” Jawab Suji datar.

Minhee menatapnya dengan heran, “Apakah Kai bukan orang yang romantis?” Dia melanjutkan kalimatnya, “Omo! Benar juga, aku bahkan tidak pernah melihat kalian berdua berpegangan tangan!”

Suji memutar bola matanya, “Apa kau sudah lupa? Pernikahan kami itu dirahasiakan dari muka umum. Di zaman seperti ini, mana ada pelajar sekolah yang sudah menikah?” Walapun apa yang kau katakan memang benar, Suji bergumam di dalam hatinya.

Minhee terkekeh pelan, sepertinya dia telah lupa akan hal tersebut.

“Romantis atau tidak,” Minhee merangkul bahu Suji, “Yang penting kalian berdua saling mencintai” Suji tersenyum, namun seketika senyumannya pudar setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Minhee.

Kini Suji bertanya-tanya di dalam hatinya.

Mencintai? Mereka tidak saling mencintai. Pernikahan mereka bahkan tidak dilangsungkan atas dasar cinta. Pernikahan mereka adalah pernikahan yang diatur, tanpa seorangpun di luar sana yang mengetahuinya. Lagipula Suji mengerti bahwa Kai tidak mungkin mau mencintai orang seperti dirinya.

Namun entah mengapa fakta akan hal tersebut membuatnya kecewa. Tapi tunggu dulu, apakah seharusnya dia kecewa? Tidak, dia tidak seharusnya kecewa. Ironisnya, rasanya begitu menyesakkan ketika dia mencoba menyangkal sesuatu yang sesungguhnya dia rasakan.

Namun apa sesuatu itu? Apa sesungguhnya sesuatu yang ada dia rasakan dalam dirinya itu?

Mungkinkan sesuatu itu hanyalah perasaannya semata?

Perasaan ketika akalnya memerintah, namun hatinya menikmati.

Perasaan yang sesungguhnya dia ketahui, namun tidak bisa sepenuhnya dia pahami.

Apa perasaan yang seolah merangkulnya setiap kali dia memikirkan Kai? Apa perasaan yang membuatnya terluka setiap kali Kai menyakitinya? Apa perasaan hangat yang dia rasakan setiap kali Kai tersenyum? Apa perasaan aman yang dia rasakan setiap kali Kai berada di dekatnya?

Apa sebenarnya perasaan-perasaan itu? Mungkinkah jauh di dalam sana, dia telah jatuh cin-

“Sarang sarang sarang~” Tiba-tiba saja Baekhyun datang merangkul Suji dan Minhee dari belakang sambil bersenandung, sehingga membuat tubuh mereka berdua terkesiap.

Kemudian Suji pun kembali ke alam sadarnya seketika.

“Yah kau mengangetkanku saja” Minhee membentak Baekhyun, dan Baekhyun pun langsung memutar kepalanya untuk memberikan senyuman manisya kepada Suji.

“Apa lenganmu sudah sembuh?” Tanya Baekhyun khawatir, “Lenganku sudah jauh membaik, gomawo” Suji membalas senyuman Baekhyun.

“Lihat saja nanti, jika aku bertemu dengan Hayoung, aku akan mem- itu dia orangnya!” Minhee menunjuk Hayoung yang kini terlihat sedang berlari kearah mereka bertiga sambil … menangis?

Lalu Hayoung melihat sosok Suji, dia langsung memberikannya tatapan yang tajam, “Semua ini berkat ulahmu! Kau telah membuat Kai oppa membenciku!” Hayoung menghardik Suji disela tangisannya.

Begitu melihat air mata dan juga luka yang terpancar dari kedua mata Hayoung, Suji pun merasa buruk.

Minhee mendengus, “Yah! Apa kau mau kuhajar sekarang juga?! Lihat apa yang kau perbuat pada temanku!” Minhee berteriak sambil menunjuk-nunjuk lengan Suji yang dibalut dengan perban. Suji mencoba menenangkan Minhee, sedangkan Hayoung merasa begitu kesal ketika Minhee mempermalukannya di depan umum seperti ini, namun dia tidak menghiraukannya dan hanya kembali berlari entah kemana, mungkin melanjutkan aktivitas menangisnya yang tertunda.

“Aish nenek sihir itu benar-benar membuatku pusing, dia berlagak seakan-akan dia hidup di dalam drama” Minhee menyentuh keningnya yang sebenarnya tidak pusing sama sekali. Baekhyun tertawa getir, “Yah Lee Minhee, kau juga terlihat seperti nenek sihir ketika kau sedang marah” Ejeknya.

“Mworago?!” Minhee menatap Baekhyun dengan dongkol, kemudian Suji pun segera menggandeng kedua tangan temannya, lalu membuat mereka berdua kembali berjalan sebelum mereka benar-benar berkelahi seperti biasanya.

Namun ketika mereka hendak berjalan melewati lorong, dari kejauhan mereka bertiga melihat para anggota EXO yang terlihat sedang mengobrol bersama di sudut ruangan. Minhee pun segera merapikan rambutnya begitu melihat keberadaan Chanyeol.

Suho, D.O, Chanyeol, Kai, dan Sehun terlihat sedang asyik mengobrol, dengan topik yang entah apa sedang mereka bicarakan. Hingga tiba-tiba saja, datang seorang murid namja bersama dengan kedua temannya yang berjalan menghampiri mereka.

“Yah kau” Murid namja tersebut menunjuk Kai, kemudian perhatian Kai dan yang lainnya pun tertuju kearahnya, “Bisakah kau berhenti mendekati Hayoung? Apakah keahlian yang kau miliki hanyalah membuat perempuan menangis?!” Murid namja tersebut tiba-tiba saja membentak Kai di hadapan semua orang.

“Lalu apa masalahmu Taejun?” Sehun menjawabnya dengan tajam.

“Aku tidak berbicara padamu anak mami, aku berbicara pada temanmu ini” Murid namja yang ternyata bernama Taejun itu kembali menunjuk Kai seraya mengejeknya.

“Mworago? Anak mami?” Sehun mengepal tinjunya dengan erat, kemudian dia berjalan menghampiri Taejun dengan amarah yang mulai menguasai dirinya.

“Hentikan Sehun,” Kai menahan pergelangan tangan Sehun, dengan pandangan matanya yang tetap terfokus kearah Taejun, “Pergilah Taejun, jika kau berkelahi, seongsaenim pasti tidak akan senang.”

Sehun pun menghentikan langkahnya, walaupun begitu dia tetap menatap Taejun dengan tajam.

“Jadi orang sepertimu takut terhadap seongasenim?!” Taejun tertawa meremeh, diiringi dengan tawa teman-temannya yang lain.

“Hentikan omong kosongmu itu Taejun,” Kali ini giliran Chanyeol yang berbicara, “Kami tahu bahwa kau hanya iri karena Hayoung selalu mendekati Kai, dan bukan mendekatimu” Dia menyeringai.

Bisa dibilang Sehun dan Chanyeol memang paling senang masuk ke dalam sebuah perkelahian.

“Mwo?!” Taejun mendengus sengit, kemudian dia berjalan mendekati Chanyeol.

Kai segera berdiri memblokir Taejun, mencegahnya agar tidak menghampiri Chanyeol.

“Cukup Taejun”

“Lalu apa aku harus mendengarkan ucapanmu?!” Taejun kembali berteriak dengan amarahnya yang semakin memuncak.

“Kau membuat dirimu terlihat bodoh. Lihatlah sekelilingmu, semua mata sedang tertuju kearahmu” Kai berbicara dengan tenang.

Sial, Taejun mengepal tinjunya.

“Jadi jangan berlagak seperti seorang brengsek, dan pergilah” Kai memerintahnya.

“Lalu apa urusanmu jika aku ingin menjadi seorang brengsek?!” Namun amarah Taejun justru meledak. Taejun menarik kerah baju Kai, kemudian dia mulai mengangkat tinjunya.

Para gadis tersentak, dan suara bisikan terdengar semakin bergema di udara.

“Suji ottokae?” Minhee mengguncang tangan Suji dengan panik, sedangkan Suji tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti ini.

Sebelum Taejun sempat meninju wajah Kai, Suho langsung mencegahnya. Sebagai seorang senior, Suho punya kendali yang cukup besar terhadap juniornya, dan kebetulan Taejun juga merupakan salah satu dari mereka.

Entah apa yang Suho bisikkan kepada Taejun, namun setelah beberapa saat kemudian Taejun bersama dengan kedua temannya mulai beranjak pergi meninggalkan mereka.

“Tidakkah seharusnya kita memberikannya pelajaran?” Tanya salah seorang teman Taejun.

Kemudian seringai licik mulai terlukis dari bibir Taejun, “Tidak sekarang.”

—–

“Hyung, sebenarnya apa yang kau bisikkan kepada Taejun tadi siang?” Chanyeol bertanya tanpa melepaskan pandangannya sama sekali dari layar televisi, terlalu fokus dengan permainan yang sedang dia mainkan.

“Aku bilang,” Suho menjawab, “Jika kau punya masalah dengan Kai, selesaikan saja di luar sekolah” Chanyeol membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Suho.

“Daebak” D.O berbicara dengan tenang sambil membalik halaman komik yang sedang dia baca.

“Minggir, sekarang giliranku bermain” Sehun menarik stik playstation yang sejak tadi dimainkan oleh Chanyeol.

Sedangkan Kai baru saja keluar dari dalam kamar mandinya setelah mengganti pakaian, kemudian dia langsung mengambil stik lainnya lalu bergabung bermain bersama Sehun.

“Bagaimana jika Taejun menyerangmu lagi, Kai?” Sebenarnya Chanyeol cukup merasa khawatir, dia tahu betul betapa liciknya Taejun.

“Kalau begitu aku terpaksa harus menyerangnya juga” Kai menjawab dengan datar tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari layar televisi.

Chayeol memutar bola matanya, “Dimana Suji?” Chanyeol bertanya, mengganti topik pembicaraan yang menurutnya lebih nyaman untuk dibicarakan.

“Molla, mungkin dia sedang berada di dalam kamarnya” Jawab Kai.

“Mengapa kalian tidak sekamar saja?” Goda Suho.

Kai menghela nafasnya, “Jangan mulai, hyung”

“Arraseo arraseo” Suho terkekeh pelan.

“Suji itu,” D.O bertanya kepada Kai, “Seberapa jauh kau mengenalnya Kai?”

“Dia cantik” Tiba-tiba saja Sehun yang menjawab.

“Aku sangat setuju,” Suho menatap Kai dengan tatapan iri, “Kau beruntung Kai”

Kai mendengus, “Mwo? Beruntung? Kau salah orang hyung” Kai meletakkan stiknya, kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.

“Kalau begitu,” Suho berjalan menghampiri Kai seraya tersenyum menyeringai, “Aku akan mengambil Suji darimu.”

Mendengar hal tersebut, seisi ruangan terkesiap, kemudian Kai memberikan Suho tatapan yang tajam. Suho pun tertawa terbahak-bahak, dia tidak menyangka bahwa orang seperti Kai begitu mudah untuk dipermainkan.

“Yah Kai rawut wajahmu tadi benar-benar tak ternilai!” Suho kembali tertawa sambil menghapus air matanya. Sehun dan Chanyeol menatap satu sama lain, mereka tidak pernah mengerti selera humor hyung mereka.

Kira-kira pukul setengah sepuluh malam teman-teman Kai baru memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun ketika mereka semua hendak turun ke bawah, Suji terlihat baru saja keluar dari kamarnya, dengan piyama dan bandana warna merah muda yang dia pakai.

Suji terkejut begitu melihat mereka semua dalam situasi seperti ini, jadi dia hanya bisa tersenyum canggung kearah mereka.

“Annyeong Suji” Sapa Suho dan yang lainnya.

“Annyeong oppadeul, annyeong Chanyeol, annyeong Sehun” Suji melambaikan tangannya.

Sehun berbisik pelan kearah Kai, “Dia benar-benar lucu” Kai menghiraukan ucapannya, namun bukan berarti apa yang dikatakan oleh Sehun itu salah.

“Apa temanmu juga berada disini?” Chanyeol bertanya sambil melihat sekelilingnya kesana kemari, seolah mencari-cari seseorang.

“Teman yang mana?” Suji bertanya dengan bingung.

“Minhee,” Chanyeol menjawab, “Tidak mungkin Baekhyun”

Minhee pasti akan senang sekali jika dia mengetahui hal ini, Suji bergumam di dalam hatinya.

“Tentu saja dia ada di rumahnya,” Suji berkata, “Sebenarnya dia adalah penggemar rahasiamu Chanyeol.”

“Jinjja?” Chanyeol menaikkan kedua alisnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Suji menganggukkan kepalanya dengan cepat.

Setelah berbicara sejenak dengan mereka semua, Suji pun berjalan mengantar mereka ke pintu utama, setelah itu mereka semua menaikki motor mereka masing-masing lalu beranjak pergi dari rumah Kai. Kemudian Kai segera menutup pintu dan mulai beranjak dari tempatnya.

“Kai” Suji memanggilnya, “Kapan orang tuamu akan kembali?” Tanya Suji.

Kalau dipikir-pikir terakhir kali Suji melihat tuan and nyonya Kim adalah ketika dia baru pindah ke rumah ini, tidakkah mereka terlalu lama berada di jepang? Sudah cukup lama mereka tidak berada di rumah.

Kai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, “Kemarin umma mengabariku kalau mereka baru akan pulang minggu depan nanti” Kai berkata, “Sejak dulu mereka memang jarang berada di rumah.”

Suji menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap Kai dengan perasaan kasihan.

“Jadi apakah kau sering merasa kesepian, Kai?” Suji bertanya dengan intonasi suara yang lembut dan juga iba.

Namun sayangnya, Kai tidak suka ketika orang lain menatap atau mengasihininya seperti itu.

“Bagaimana denganmu? Sepertinya kau jauh terlihat lebih kesepian jika dibandingkan denganku” Kai berbicara dengan datar.

“Tidak juga,” Suji berkata, “Walaupun orang tuaku sudah meninggal tapi aku masih mempunyai seorang kakek.”

Setelah mendengar ucapan Suji, seketika Kai sadar bahwa tidak seharusnya dia berbicara seperti itu kepadanya.

“Kalau begitu aku masuk dulu kedalam kamar,” Suji tersenyum, “Selamat malam, Kai.”

Suji beranjak menaiki tangga, meninggalkan Kai yang masih belum bergeming dari tempatnya. Kai menatap punggung Suji yang semakin jauh dari pandangannya.

Entah mengapa Kai suka bagaimana cara Suji mengucapkan kalimat selamat malam untuknya.

—–

Keesokan harinya, Minhee terlihat sedang sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam loker miliknya, setelah selesai dia segera menutup loker tersebut kemudian berniat untuk melangkahkan kakinya ke dalam kelas, namun tiba-tiba saja seseorang menubruk bahunya dengan cukup keras.

“Yah perhatikan langkahmu” Minhee membentak orang yang menubruknya sambil mengelus bahunya, dia bahkan tidak tahu siapa yang dia bentak.

“Mianhae, aku sedang terburu-buru” Chanyeol meminta maaf, saking terburu-burunya dia berjalan sehingga dia tidak memperhatikan langkahnya.

Minhee membelalakkan matanya, terkejut dengan dirinya yang baru saja membentak seorang Park Chanyeol. Seorang Park Chanyeol yang selalu dia tatap dari kejauhan, dan berdoa agar kegiatan menatapnya tidak ketahuan. Seorang Park Chanyeol yang dia harap bisa melihat dirinya, sebagaimana dia melihatnya. Seorang Park Chanyeol yang selalu berhasil membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan sangat cepat dari biasanya. Seorang Park Chanyeol yang beberapa tahun belakangan ini membuatnya jatuh cinta, walaupun hanya bertepuk sebelah tangan.

“Hey” Chanyeol melambaikan tangannya di hadapan wajah Minhee yang tidak berkedip sama sekali, Minhee nampaknya terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan terhadap seorang Park Chanyeol.

“Ma-maaf! Aku kira kau siapa, joengmal mianhaeyo” Minhee meminta maaf dengan sedikit, atau lebih tepatnya terlalu berlebihan kepada Chanyeol.

Chanyeol pun tertawa begitu melihat tingkah Minhee, “Gwenchana” Chanyeol berkata sambil memeriksa keadaan Minhee, “Apa kau baik-baik saja?”

Tentu saja tidak … hatiku fufufu, Minhee bergumam di dalam hatinya, kemudian dia segera menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Nan gwencahana”

Mereka berdua tersenyum canggung, aura di sekitar mereka berdua pun juga menjadi semakin canggung, namun Chanyeol segera memecahkan suasana.

“Kalau begitu aku harus segera pergi, oh iya ada pertandingan basket sepulang sekolah nanti”

“Apa kau juga akan bermain?” Tanya Minhee dengan tatapan berbinar.

“Tentu saja, seorang kapten harus ikut bermain” Ujar Chanyeol bersemangat.

Minhee membulatkan matanya terkejut, “Jadi kau sudah menjadi seorang kapten?”

Chanyeol menatap Minhee dengan lekat, “Sejak naik kelas dua aku sudah menjadi kapten tim basket,” Seringai pun mulai muncul dari sudut bibir Chanyeol, “Bagaimana bisa kau tidak mengetahui hal tersebut sebagai seorang penggemar rahasiaku?”

Benar juga, bagaimana bisa aku tidak mengetahu- tunggu dulu, mwo?! Penggemar rahasia?! Minhee menatap Chanyeol dengan matanya yang kini terbelalak. Dia dapat merasakan bahwa dirinya sebentar lagi akan mengalami serangan jantung. Nafasnya seolah tersangkut di dalam tenggorokanya, dia tidak bisa berkata apapun lagi dalam situasi ini.

Chanyeol tersenyum jahil menggoda Minhee yang masih mematung di tempatnya, “Jangan lupa datang ke pertandinganku, arraseo?” Setelah itu Chanyeol kembali melangkahkan kakinya.

Minhee disisi lain, dapat merasakan nafas Chanyeol yang berhembus di wajahnya ketika Chanyeol berbisik ke telinganya beberapa saat yang lalu, dan sepertinya dia akan benar-benar mengalami serangan jantung sebentar lagi.

—–

“Kajja Minhee, kau harus melihat Chanyeol bertanding” Suji menarik-narik lengan Minhee yang enggan beranjak keluar dari dalam kelas.

“Huaaa Suji bagaimana bisa kau memberitahu Chanyeol semua rahasiaku? Rasanya aku ingin mengubur diriku ke dalam lubang saja” Minhee merengek frustasi.

“Dengarkan aku,” Suji menatap Minhee dengan lekat, “Sekarang atau tidak selamanya” Minhee memanyunkan bibirnya sambil mengangguk cepat, “Sekarang” Suji tersenyum begitu mendengar jawaban Minhee.

“Kajja” Suji menggandeng lengan Minhee, namun tiba-tiba saja Minhee menghentikan langkahnya “Memang apanya yang sekarang?”

Suji pun tertawa, “Tentu saja kita harus melihat pertandingan Chanyeol sekarang” Setelah itu mereka berdua pun berjalan untuk melihat pertandingan basket yang dilangsungkan di aula sekolah. Karena salju yang turun sangat lebat, maka tidak mungkin bagi para murid bermain di lapangan.

Setibanya di ruang aula yang cukup besar, atau lebih tepatnya sangat besar untuk digunakan sebagai lapangan basket, Suji dan Minhee pun segera duduk di bangku penonton yang berada di barisan depan. Terlihat begitu banyak murid yeoja yang sedang menonton pertandingan basket yang ternyata sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Suho, D.O, dan Sehun pun juga terlihat sedang menyaksikan pertandingan. Para murid yeoja kini sedang asyik meneriakkan nama-nama murid namja yang tentu saja merupakan salah satu pemain basket kesukaan mereka, termaksud Chanyeol. Namun yang membuat Suji terkejut adalah, para yeoja tersebut juga meneriakkan nama Kai.

Suji tidak pernah tahu sebelumnya bahwa Kai juga merupakan salah satu dari pemain basket di sekolah, dia bahkan tidak tahu bahwa Kai dapat bemain basket dengan sangat hebat. Bagaimana cara Kai mengiring dan melempar bola membuat para yeoja yang melihatnya berteriak heboh. Suji mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol yang terlihat sangat lihai memainkan bola basketnya, seolah bola basket tersebut memang diperuntukan baginya. Ketika Chanyeol berlari ke pinggir lapangan, semua yeoja langsung berteriak histeris, termaksud Minhee. Suji tertawa begitu melihat tingkah sahabatnya yang begitu bipolar ini.

Salah satu pemain bola menyikut lengan Chanyeol, dan merebut bola secara kasar. Suji memicingkan matanya dan menatap pemain itu dengan lekat, wajahnya terlihat begitu familiar. Dan setelah beberapa saat mengamati, akhirnya Suji ingat bahwa pemain itu bernama Taejun, seorang murid namja yang waktu itu sempat membuat keributan dengan Kai.

Kai dapat merampas bola basket dari tangan Taejun dengan mudah, kemudian dia menyeringai kearah Taejun, seolah meremehkannya. Kai mengoper bola tersebut kepada Chanyeol, dan pada akhirnya Chanyeol pun berhasil memasukkan bola tersebut ke dalam ring. Wasit meniup peluitnya, dan tim Chanyeol lah yang berhasil menjadi pemenang.

Kai dan Chanyeol pun berpelukan atas kemenangan mereka, dan seketika suara teriakkan para yeoja pun semakin terngiang di udara.

“Good job Chanyeol!” Minhee berteriak kearah Chanyeol, walaupun dia tahu pasti suaranya tidak akan mampu untuk sampai ke telinga Chanyeol, karena terlalu banyak penggemarnya yang juga berteriak disaat yang bersamaan.

Ditengah kemenangannya, Chanyeol membiarkan pandangan matanya kesana kemari, seolah mencari-cari keberadaan seseorang. Kemudian setelah dia menemukan siapa orang yang sedang dia cari, dia langsung tersenyum kearahnya walaupun dari jarak yang lumayan jauh.

Minhee mengalihkan pandangannya kebelakang, melihat kearah siapa Chanyeol tersenyum, namun ternyata saat dia berbalik lagi menatap Chanyeol, namja itu justru sedang menunjuk-nunjuk dirinya. Jadi seorang Park Chanyeol lah yang sejak tadi tersenyum kearahnya. Tidak ada satupun kata yang dapat menggambarkan betapa senangnya Minhee saat ini.

Suji disisi lain, sedang sibuk menatap Kai dari kejauhan, dia dapat melihat betapa bahagianya wajah menawan Kai saat ini. Dia tidak menyangka bahwa orang dingin seperti Kai juga dapat mengeluarkan ekspresi seperti itu, dan tentu saja hal tersebut sudah cukup untuk dapat membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Namun setelah beberapa saat kemudian, Kai berjalan meninggalkan tempatnya, dan mulai beranjak keluar dari aula.

Kau hebat Kai, Suji bergumam di dalam hatinya.

Punggung Kai terlihat semakin jauh dari pandangan mata Suji, namun dia dapat melihat Taejun yang kini mengikuti Kai dari belakang. Tiba-tiba saja perasaan Suji menjadi tidak enak, dia pun memutuskan untuk mengikuti Kai dan Taejun, meninggalkan Minhee secara diam-diam.

—–

Suji melangkahkan kakinya secara diam-diam, mengikuti Taejun dan Kai dari belakang. Dia mengikuti mereka berdua menaiki tangga ke tangga, hingga pada akhirnya mereka berdua tiba di atap sekolah. Suji mengintip dari balik pintu atap, mereka berdua terlihat sedang berhadapan satu sama lain dengan senggit. Salju juga terlihat sedang turun dengan cukup lebat, sehingga dapat membuat tubuh siapapun menggigil.

Kemudian dua orang teman Taejun datang entah dari mana, mereka berdiri tepat di samping Taejun dan juga menatap Kai dengan senggit.

“Jadi, kau ingin main keroyokan Taejun? Fine” Suji dapat mendengar suara Kai dari balik pintu.

Ya Tuhan, apakah mereka akan berkelahi? Suji bertanya-tanya di dalam hatinya, pantas sejak awal perasaannya tidak enak. Dia benar-benar bingung dengan apa yang seharusnya dia lakukan saat ini, apakah seharusnya dia segera memanggil teman-teman Kai, atau justru memanggil seongsaenim?

Namun dia terlambat menyadari, bahwa pertandingan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

TBC

96 pemikiran pada “Hypocrites (Chapter 4)

  1. Daebak.. ternyata pertandingan basket itu semacam formalitas yal 😂 omegatssssssssss
    Mending panggil sonsaengnim aja. Biar kelar urusannya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s